Sunday, December 16, 2007

Review: Stardust - Neil Gaiman



Di suatu masa ketika para peri, goblin, naga, basilisk, ribuan makhluk aneh dan tentu saja penyihir jahat masih berkeliaran, berdiri sebuah desa kecil selama enam ratus tahun di atas tonjolan batu Granit. Desa itu disebut Desa Tembok. Nama yang diambil karena di bagian timur desa tersebut terdapat sebuah tembok batu klabu yang sangat tinggi. Merentang dari hutan dan kembali memasuki hutan. Hanya ada satu celah dari tembok itu. Padang rumput luas menghijau terlihat jelas melalui celah itu. Sayangnya tak mudah untuk masuk celah itu. Karena secara turun temurun, ratusan bahkan ribuan tahun, celah itu diawasi oleh dua penjaga. Mereka benar benar tahu apa yang harus dilakukan pada orang –orang yang nekat melanggar aturan. Walaupun penjagaan sedikit dilonggarkan ketika perayaan musim semi berlangsung, perayaan yang hanya diselenggarakan selama sembilan tahun sekali di padang rumput dibalik tembok

Tristran Thorn, bayi yang lahir beberapa bulan setelah pesta musim, tumbuh menjadi seorang pemuda yang tak bisa melepaskan padangannya sedikitpun dari Victoria Forester, gadis yang diyakininya sebagai perempuan yang tercantik. Untuk masalah yang satu itu, Tristran tentunya tak sendirian, semua lak laki di Desa Tembok juga mengagumi kecantikan Victoria Forester. Wanita ini sendiri tak pernah menanggapinya serius siapapun yang mendekatinya. Sampai suatu malam di bulan oktober, Miss Forester berjanji akan memenuhi semua yang diinginkan Tristran asalkan ia berhasil mendapatkan bintang jatuh. Arah jatuhnya ternyata ke sebelah timur dan itu berarti Tristran harus melewati celah yang dijaga ketat.. Dengan memegang janji Miss Forester, Tristan nekat mencarinya di antara lebatnya hutan misterius

Di saat Miss Forester melihat bintang jatuh, ternyata di tempat yang lain, ada tiga wanita tua yang juga menyaksikan hal yang sama. Seperti wanita yang dikagumi Tristran, mereka tak lain adalah para penyihir, yang tak hanya menginginkan bintang jatuh, mereka bahkan telah lama menunggu peristiwa ini. Bintang jatuh ini ternyata mempunyai khasiat tersendiri. Yang jelas mampu membuat mereka kembali menjadi muda.

Tristran nampaknya harus berburu dengan waktu. Karena tak hanya tak memiliki arah maupun petunjuk di mana tepatnya bintang tersebut jatuh. Namun ia juga harus berhsaing dengan salah satu penyihir yang memiliki kekuatan yang tidak dapat dianggap enteng. Tak hanya itu, karena masalah sendiri pun datang dari sang bintang jatuh yang ternyata bentuknya tak seperti yang ia bayangkan.

**

Kalau bukan karena postingan Echan tentang film Stardust, mungkin buku ini akan tetap tidak saya selesaikan. Mengingat buku – buku lain yang lebih menggiurkan membuat saya mampu berpaling setelah membaca buku ini beberapa bab. Thanks Echan. Semoga filmnya ga kalah dengan bukunya. Ally pengen lihat scene yang memperlihatkan perayaan musim semi setiap sembilan tahun sekali itu. hehehe

Stardust adalah buku Neil Gaiman yang pertama kali saya baca. Tidak ada komentar yang lebih untuk buku yang satu ini. Yang jelas, saya sangat menyukai caranya menuturkan cerita. Sayangnya mahkluk hutan yang muncul masih kurang. Walau begitu tetap membuat saya jadi penasaran dengan ANANSI BOYS. Banyak yang bilang buku yang satu ini jauh lebih menarik. Satu – satunya cara untuk mengetahuinya tentu tidak lain adalah dengan segera melahapnya. Fuh..semoga tidak harus menunggu buku ini difilmkan terlebih dahulu. 


Stardust
Judul Indonesia: Serbuk Bintang
Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardiyanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2007
Tebal : 256 hlm