Monday, December 29, 2008

The Last Concubine


The Last Concubine
Penulis:Lesley Downer
Penerjemah: Yusliani Zendrato
Editor: Nadya Andwiani
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, November 2008
Tebal: 658 hlm


Buku yang menceritakan sejarah Jepang selalu menarik perhatian saya. Kebanyakan dari lembaran – lembaran itu berisi kisah yang dituturkan melalui sudut pandang seorang pria. Bagaimana tingkah laku dan pola pikir seorang samurai menghadapi perselisihan kecil ataupun pertempuran besar seperti perang tidak lagi menjadi hal yang asing. Sehingga ketika tahu The Last Concubine berisi kisah yang diceritakan oleh seorang perempuan, tak perlu berpikir dua kali untuk segera melahapnya. Terlebih lagi ketika perempuan itu menjadi bagian dari kehidupan sang seorang shogun.

Memang bukan buku pertama yang memberitahu saya bagaimana kisah seorang wanita Jepang di masa lalu. Namun inilah buku yang membuka pintu istana sang shogun lebih lebar sehingga semua bisa melangkahkan kaki ke dalam lingkungan yang selama ini dibatasi tembok yang tebal. Bahkan merasakan apa yang dirasakan para penghuninya.

Sachi, begitulah nama perempuan yang beruntung itu. Melalui matanyalah, semua terungkap dengan jelas. Segala hal yang terjadi pada klan Tokugawa sebelum dan sesudah pemberontakan terjadi.

Tak sekalipun pernah terlintas dibenak Sachi, suatu hari ia akan menjalani kehidupan istana di Edo. Karena awalnya ia adalah seorang gadis desa yang dibesarkan oleh keluarga petani di lembah Kiso. Hidup bersama Jiroemon dan Otama, Ayah-ibunya, sudah lebih dari cukup. Ia tak punya waktu untuk merajut satupun mimpi untuk masuk ke lingkaran orang – orang terhormat itu. Tak hanya disibukkan bersama teman sepermainannya dengan hal – hal yang menyenangkan, namun juga karena sibuk membantu ayah-ibunya mengurusi penginapan yang selama ini selalu digunakan oleh para bangsawan saat menelusuri jalur Nakasendo, jalan yang menghubungkan Edo dan Kyoto.

Sehingga iring – iringan orang terhormat dengan ratusan pasukan pengiring tidak lagi menjadi hal asing bagi Sachi. Puluhan aturan dipahaminya dengan baik. Termasuik ritual berlutut dan menundukkan pandangan sedalam mungkin ,menghadap tanah, ketika rombongan itu melintas tak pernah sekalipun diabaikan.seperti yang lain, Sachi tak mau mengambil resiko kehilangan nyawa hanya karena melanggar aturan itu.

Namun semua aturan itu segera saja dilupakannya ketika yang melintas adalah iring –iringan Yang Mulia Putri Kazu. Rasa penasaran memang telah lama menggelitiknya sejak pertama kali mendengar berita bahwa mereka adik sang kaisar itu akan melewati jalan Nakasendo terlebih lagi beristirahat di penginapan ayahnya. Ia tak pernah meohat seorang putri pun seumur hidupnya. Dari hari ke hari menjelang kedatangan sang putri, rasa penasaran Sachi pun semakin besar. Terlebih karena cerita demi cerita tentang sang putri yang rasanya tidak berhenti dibicarakan orang-orang disekitarnya.

Sampai akhirnya iring – iringan besar itu datang. Sachi yang saat itu memakai kimono berwarna biru-nila telah mengambil tempat dan duduk membungkuk bersama yang lain. Awalnya Sachi melihat dari sudut matanya, joli demi joli indah yang membawa para perempuan terhormat terus berdatangan. Namun tak lama kemudian,Sachi benar –benar tak dapat menahan untuk tidak mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sang putri. Mendadak tatapan seorang perempuan muda bertemu dengan tatapannya. Tak butuh waktu lama untuk membuat para perempuan lain menoleh ke arahnya. Suasana yang awalnya sunyi mendadak menjadi ribut. Sedetik kemudian bayang – bayang kematian membayangi pikiran Sachi karena satu pelanggaran yang fatal.

Namun suratan takdir berbicara lain. Alih- alih mendapat hukuman mati atas kelancangannya, Sachi mendapat kesempatan untuk melangkahkan kaki di kastel Edo. Sejak hari itu. Sachi belajar banyak hal, sebagai dayang-dayang pengiring putri Kazu, ia harus mengerti cara berjalan sampai berbicara layaknya perempuan terhormat, menulis puisi, membaca, seni bela diri dan tentunya beratus aturan istana.

Tak hanya itu, Sachi juga mempelajari ritme kehidupan di Istana Para Perempuan, yang seakan memiliki dunianya sendiri. Sachi tahu benar bagaimana persaingan antar satu dengan yang lain tak lagi dianggap sebagai hal yang aneh, bahkan jika satu pembunuhan terjadi sekali pun. Sehingga tak heran jika ia diingatkan untuk tetap waspada. Terlebih ketika akhirnya ia diangkat menjadi selir sang shogun. Sekali lagi perubahan besar terjadi pada hidup Sachi. Kini statusnya berganti menjadi Nyonya Rumah Samping. Para pelayan mengerumuninya dan siap untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Kimono – kimono yang digunakannya kini jauh lebih indah dari sebelumnya. Ditambah lagi setiap bulannya, ia menerima ryo emas yang dapat digunakan untuk membiayai kehidupannya yang baru sebagai selir berikut fasilitas lain untuk keluarganya. Rasanya seumur hidup, tak ada yang lebih baik dari ini. terutama ketika ia mendapat perhatian khusus dari sang shogun.

Sayangnya kehidupan menyenangkan itu tak berlangsung lama. Semua berawal dari kejadian buruk yang menimpa sang shogun. Pemberontakan pecah. Keadaan menjadi sangat kacau. Pertumpahan darah tak terelakkan. Seakan tak ada tempat bagi siapa saja yang dicurigai sebagai pendukung shogun. Semua menjadi porak poranda. Bahkan di benteng pertahanan terakhir klan Tokugawa, tak terkecuali Istana Para Perempuan. Tak satu pun tempat yang aman bagi mereka sekarang dan satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah meninggalkan istana. Sachi tak punya pilihan lain. Karena ia juga tahu bahwa tak pernah ada jaminan bahwa kehidupan di luar akan lebih baik selama perang masih berkecamuk.

Perjalanan baru dimulai. Sekali lagi melalui mata Sachi, peristiwa demi peristiwa menjelang runtuhnya Kastel Edo terekam dengan jelas.

Tidak seperti buku – buku yang juga mengambil sejarah jepang di dalam lembarannya, buku ini memberikan kepuasan tersendiri. Setiap fakta yang ada di dalam buku ini memberikan jawaban – jawaban atas beberapa pertanyaan saya.Dari berakhirnya pemerintahan shogun yang erat kaitannya dengan Restorasi Meiji, dua kata yang sebelumnya tak pernah saya pahami, sampai bagaimana kekaisaran jepang mengambil alih kekuasaan. Yang tak kalah menarik, tentu saja fakta seputar kehidupan para wanita yang mengelilingi sang shogun. Ini benar – benar hal baru buat saya. Suatu kejutan begitu tahu bahwa nyaris semua yang dituliskan oleh sang penulis adalah sesuatu yang benar- benar terjadi di masa lalu. Tentunya bagi penggemar fiksi sejarah, buku ini tak boleh dilewatkan.

Friday, December 26, 2008

Review: Chicken With Plums - Marjane Satrapi


Nasser Ali Khan dan Tar adalah dua hal yang benar – benar asing bagi saya. Setidaknya sebelum menyelesaikan novel grafis ini. Nama Nasser Ali Khan tak pernah saya dengar sama sekali. Begitu pula dengan tar, yang ternyata adalah salah satu alat musik.


Namun tidak demikian dengan orang – orang Iran saat itu. Semua pasti langsung tahu begitu nama pria itu disebut. Tidak perlu heran, karena Nasser Ali Khan adalah salah satu musisi yang sangat piawai memainkan tar. Namun buku ini tidak banyak bercerita tentang kesuksesaannya. Sebaliknya, bercerita tentang hari – hari terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Walau begitu lembaran demi lembaran buku ini lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa Nasser Ali Khan dan tar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.


Mengejutkan, ketika suatu hari, tar itu bisa patah dan rusak. Tidak ada kemungkinan untuk memperbaikinya. Perjalanan mencari tar baru pun di mulai.


Bukan hal yang sulit untuk menemukan tar baru. Namun begitu memcoba memainkannya, nada yang dihasilkan ternyata tak seindah tar miliknya terdahulu. Sehingga pencarian berikutnya pun dimulai. Tak peduli jauhnya jarak yang harus ditempuh ataupun berapa banyak uang yang harus ia keluarkan. Semua rela dilakukan demi mendapatkan musiknya kembali. Sayangnya, nada-nada indah itu tetap tak didapatkannya. Ternyata tak ada tar lain yang bisa memberikan kebahagian bermain musik. Semangatnya pun menguap dalam sekejap. Putus asa segera menyelubunginya. Parahnya, ia pun memutuskan untuk mati.


Hari – hari terakhir, dihabiskannya dengan berbaring. Berbagai hal terlintas di benaknya. Termasuk semua cara untuk mengakhiri hidup. Dari hal – hal tersebutlah terungkap mengapa musik indah dari tar yang dipetiknya tak pernah kembali


Setelah membaca Embroideries (Bordir) yang mengungkapkan kehidupan pribadi beberapa wanita Iran, rasa penasaran kembali menggelitik untuk mengikuti kisah yang dituturkan Marjane Satrapi di buku ini. Namun dibandingkan dengan Bordir, Chicken With Plums dikemas dalam goresan – goresan yang lebih rapi. Tak terlihat lagi pria – pria mengerikan. Tentu saja tidak ketinggalan selipan humor kecil ada di dalamnya.


Saya memang tak mengenal Nasser Ali Khan. Bahkan tak sekalipun mendengar musik yang dimengalun melalui tar yang dimainkannya. Namun begitu menyelesaikan buku ini, saya bisa mengerti mengapa nada – nada indah itu tak pernah lagi didapatkannya, mengapa tak satupun tar bisa mengantikan tar miliknya, tak peduli semahal apapun harga yang harus dibayarnya. Saya mengerti. Saya sungguh mengerti.


Chicken With Plums

Judul Indonesia: Ayam Dengan Plum

Karya: Marjane Satrapi

Penerjemah: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Agustus 2008

Tebal: 88 hlm

Sumber: Koleksi Pribadi

Wednesday, December 17, 2008

Review: The Miraculous Journey of Edward Tulane - Kate DiCamillo


Dahulu kala, hiduplah seorang putri yang sangat cantik. Ia gemerlapan bagai bintang – bintang di langit tanpa bulan. Sayangnya ia putri yang tidak menyayangi siapa pun dan tak peduli pada rasa sayang, meskipun banyak yang menyayanginya.

Pada suatu hari, sang Raja, ayahnya berkata bahwa sang putri harus menikah. Tidak lama kemudian, datanglah pangeran dari kerajaan tetangga. Ia melihat sang putri, dan segera, jatuh cinta padanya. Ia memberi sang purti sebuah cincin dari emas murni. Dipasangnya cincin itu di jari putri. Ia mengucapkan kata- kata ini padanya:’aku cinta padamu.’ Tapi sebagai balasan, sang putri melepas cincin dari jarinya dan menelannya dan berkata, ‘Itulah pendapatku tentang cinta’. Dan ia berlari meninggalkan sang pangeran. Ia pergi dari istana dan masuk jauh ke dalam hutan dan tersesat.

Setelah berhari hari berkelana, akhirnya ia menemukan pondok kecil dan mengetuk pintunya. Ternyata pondok itu milik seorang nenek sihir yang nampaknya tak menaruh sedikit pun perhatian padanya. Sikap acuh tak acuh itu membuat sang putri kesal. Sampai akhirnya si penyihir bertanya “ Siapa yang kau cintai?”. Dengan bangganya sang putri menjawab “ Aku tidak mencintai siapa-siapa”. Sayangnya ocehan sang putri hanya membuat wanita tua itu marah dan akhirnya menyihirnya jadi babi hutan. Terkejut dengan sosoknya yang mengerikan, putri babi hutan pun berlari keluar dan menemukan para prajurit Raja.

Para prajurit yang melihat babi hutan, dengan sigap menembaknya. Dan membawa babi itu kembali ke istana dan juru masak memotong motongnya untuk disajikan sebagai malam malam. Begitu membelah perut babi, tentu saja sang juru masak menemukan cincin emas. Tanpa pikir panjang, cincin itu disematkannya ke jarinya dan meneruskan memotong si babi hutan.


Ketika Pellegrina menceritakan dongeng di atas, Edward Tulane, si kelinci persolen, tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya menganggap bahwa dongeng itu memiliki akhir yang aneh. Walau sempat memikirikan nasib sang putri, namun ia tetap tak ambil pusing. Kisah tragis itu hanya terjadi pada sang putri. Ia tak mau repot memikirkannya.

Mungkin tak salah jika Edward berpikir seperti itu, karena saat itu ia dimiliki anak perempuan Abilene, yang memperlakukannya dengan penuh kasih dan amat sangat menyayanginya. Setiap malam sebelum tidur Abilene selalu membisikan kata – kata ditelinga Edward dan seakan tak pernah bosan mengungkapkan bagaimana ia sangat menyayangi kelinci itu. Walau memiliki emosi, Edward ternyata tak merasakan apa pun, kecuali rasa bosan.

Sampai suatu hari, Abilene menghilang dari hidupnya. Jam demi jam berlalu, berhari – hari, berminggu – minggu, hingga berbulan – bulan lamanya, namun Abilene ternyata tak juga kembali. Yang ia tahu dirinya terkurung di dasar laut.

Beruntung, suatu malam di lautan terjadi badai yang membuatnya dirinya terempas naik-turun, maju-mundur sampai akhirnya ditemukan oleh seorang nelayan, yang membawanya pulang. Di rumah sang nelayan, Edward dirawat oleh Nellie, seorang perempuan tua dengan penuh kasih. Edward diperlakukan layaknya anak mereka. Anehnya tak seperti di rumah Abilene, Edward menikmati semua hal tersebut.

Sayangnya, saat – saat menyenangkan itu tak berlangsung lama. Edward kembali dihempas dan dijejalkan di tempat sampah. Tak ada lagi sosok nelayan dan Nellie. Malam itu keanehan kembali terjadi, karena Edward merasakan sakit yang teramat sangat.

Petualangan Edward ternyata tak berakhir di pembuangan sampah. Takdir membawanya kepada seorang gelandangan dan seekor anjing kemudian berpindah ke tangan anak perempuan yang sakit keras, ke jalan – jalan kota Memphis sampai akhirnya berakhir di sebuah toko reparasi boneka. Sedikit demi sedikit Edward pun paham makna kata – kata yang dulu selalu diucapkan Abilene.

Sayangnya semua perjalanan itu ternyata membuat Edward kelelahan. Dan akhirnya memutuskan untuk berhenti berharap. Sampai suatu hari ia bertemu sebuah boneka tua.

Dibandingkan Because of Winn-Dixie dan The Tiger Rising, cerita tentang Edward Tulane inilah yang paling saya sukai. tidak hanya karena ilustrasi penuh warna namun tentu saja karena perjalanan Edward memahami sesuatu yang selama ini tak pernah dipedulikannya sama sekali.

The heart breaks and breaks
And lives by breaking

The Miraculous Journey of Edward Tulane
Judul Indonesia: Perjalanan Ajaib Edward Tulane
Penulis: Kate DiCamillo
Ilustrasi: Bagram Ibatoulline
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, November 2006
Tebal: 208 hlm

Saturday, November 29, 2008

Review: Embroideries - Marjane Satrapi




Sudah menjadi ritual bagi Marji untuk menyiapkan Samovar, teh yang dicampur sedikit larutan sisa opium yang mesti dimasak selama tiga perempat jam, bagi neneknya. Namun malam itu, Marji menyiapkan dalam jumlah yang cukup banyak. Karena saat itu ada acara kumpul- kumpul bersama setelah jamuan makan malam yang juga dihadiri oleh ibu, bibi, teman serta tetangga yang semuanya wanita. Acara kumpul- kumpul yang lebih tepatnya di sebut diskusi untuk melepaskan unek – unek dan tentunya menjadi kegiatan favorit mereka.

Satu demi satu pun mulai bercerita dan akhirnya setiap kisah yang berangkat dari masa lalu itu pun terungkap. Dari masalah cinta, pengkhianatan dan keegoisan para pria, pernikahan yang kebanyakan berakhir dengan cerita yang menyedihkan, ataupun masalah keperawanan, wanita sampinan dan tak ketinggalan operasi plastik, dibahas dengan detail.

Seakan tak ada rasa canggung, semua cerita mengalir dari mulut mereka. Bahkan ketika kisah itu adalah pengalaman pahit mereka. Anehnya hampir semua cerita diakhiri tawa menderai. Walau tetap saja ada cerita yang membuat air mata meleleh dan tentu saja hal itulah yang sewajarnya terjadi. Karena hampir semua kisah yang diutarakan para wanita itu sungguh tragis. Mungkin cerita ini hanyalah sebagian kecil dari beribu cerita pahit yang dialami oleh para wanita di luar sana.

Yang menarik, semua kisah tragis itu tidak dituliskan dalam paragraf demi paragraf serius namun dituliskan dalam balon – balon percakapan dan tentunya setiap halaman penuh dengan ilustrasi. Setiap tokoh digambarkan dengan bentuk yang sangat simple, yang menurut saya sebagai pengemar komik jepang sedikit aneh. Sehingga tak heran jika para pembaca juga bisa ikut tersenyum ataupun tertawa terbahak bersama para wanita yang menuturkan kisah mereka.

Selesai melahap buku ini saya tidak hanya mendapat hiburan namun juga beberapa pelajaran penting tentang para pria dan terutama tentang kehidupan pernikahan. Walau sedikit miris namun tak sampai mengubah persepsi saya tentang hubungan sakral itu.

Dan tentu saja saja saya jadi lebih mengerti mengapa buku ini diberi judul Embroideries atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Bordir. Bahkan ketika melihat gambar benang dan jarum yang tempatkan di sampul belakang. Marjane Satrapi memang patut diacungi jempol. Sehingga tidak heran jika keahliannya mengolah cerita dan gambar membuatnya karya-karyanya digemari banyak orang. setidaknya Novel Grafis yang berjudul Persepolis menjadi Best Seller international. Sayangnya tidak hingga saat ini belum diterbitkan di indonesia. Namun buku lainnya Chicken With Plum telah terbit dan menurut beberapa review kisahnya tak kalah menarik dengan kisah yang dituturkan di Bordir. 

Embroideries
Judul Indonesia: Bordir
Penulis: Marjane Satrapi
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret 2006
Tebal: 136 hlm

Wednesday, November 26, 2008

Review: Resep Cherry - Primadonna Angela


Resep Cherry
Penulis: Primadonna Angela
Penerbit: PT Gramedia Utama Pustaka
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 272 hlm

Bicara tentang masak memasak, saya masih sering mengeluh karenanya. Bukan hanya karena ada rasa yang kurang, baik karena bumbunya ga pas ataupun karena merasa ada yang salah dengan ukuran garamnya. Sehingga kadang semangat untuk masak jadi surut karenanya. Sering akhirnya saya merasa bosan karena harus memasak dengan resep yang itu – itu saja. Tidak heran kalau akhirnya keahlian memasak saya tidak pernah terupgrade

Namun untuk seorang Cinnamon Cherry, masalah seperti itu tak pernah dialaminya. Memasak sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Memasak memberikan kesenangan terdiri bagi Cherry. Cherry bisa tenggelam dalam waktu yang lama kalau sudah asyik dengan semua bahan. Apalagi kalau sedang berkreasi dengan resep baru. rasanya tak perlu di ragukan. Ayah, ibu, adiknya Lavie, termasuk semua pelanggan di Resep Cheery, toko kue mungil miliknya, mengakui bawa brownies ataupun cup cakes yang dijual di sana memang tak ada duanya. Buktinya pesanan seakan tak berhenti.

Dalam usia semuda Cherry, ia memang termasuk beruntung. Usaha bakery yang dirintisnya didukung penuh oleh ayah dan ibunya. Sehingga tak perlu repot mencari pinjaman modal awal. Walau sebenarnya tak perlu heran, karena kedua orangtuanya sendiri mengolah usaha restokafe. Bakat memasak dan bisnis mungkin sudah diturunkan dan mengalir dalam darah Cherry.

Kalau melihat ke masa lalu, rasa cinta Cherry pada memasak ini tidak dimulainya sejak kecil. Masuk ke dapur dan serius menekuni dunia masak memasak baru dimulainya dua tahun belakangan ini. itu juga karena seorang cowok bernama Basil. Ia bahkan rela ikut adu masak demi Basil. Sampai akirnya satu demi satu kedok jahat Basil terbuka. Sakit hati, tentu saja. Namun akhirnya rasa itu tergantikan dengan rasa cinta yang sangat dalam pada semua makanan yang dimasaknya.

Namun walau tidak bermasalah lagi dengan segala hal yang masalah bahan masakan, bumbu dan sejenisnya, bukan berarti semua dalam hidup Cherry, semua berjalan dengan mulus. Lihat saja masalah yang ditimbulkan adiknya Lavie yang kerap kali membuatnya pusing. sampai terkadang Cherry berharap ia dapat mengaingkan diri agar bisa jauh dari celoteh Lavie.

Ataupun masalah dengan sahabatnya, Eva, yang tiba – tiba berubah drastis sejam memutuskan untuk berpacaran dengan seorang cowok yang memberikan apapun yang diinginkannya. Yang paling parah adalah ketika Eva memutuskan untuk menjauhi Cherry hanya karena Aidan, pacar Eva, menganggapnya hanya memberi pengaruh buruk.

Terakhir yang tidak kalah membuatnya pusing adalah kehadiran pria yang juga tetangga barunya bernama Kenichi Kobayashi. Di awal pertemuan dengan pria yang memiliki seorang anak laki-laki bernama Kaza ini tidak bisa dibilang menyenangkan. Bahkan bisa dibilang, Cherry membenci sikap Kenichi yang sangat angkuh dan tidak pedulian. Walaupun dibalik amarah yang meluap – luap yang reda dalam waktu tak singkat itu, Cherry masih sempat mengakui bahwa ada sesuatu dalam diri Kenichi yang sangat memesona. Bahkan setelah insiden dengan Aidan, Cherry memastikan bahwa ia jatuh cinta dengan pria beranak satu ini. Sayangnya Cherry harus kembali menelan pil pahit ketika mengetahui bahwa Kenichi hanya menganggapnya Baby Sitter. Ahhh..

Ada sesuatu yang istimewa dengan teenlit kali ini. Bukan hanya karena rasa iri yang muncul pada sang tokoh utama, tapi lebih pada rasa lapar yang timbul setiap kali Cherry mulai mengola satu masakan. Rasanya ingin segera berlari ke dapur dan ikut memasak. Namun langsung kecewa begitu melihat bahan – bahan yang dibutuhkan tak tersedia di kulkas. Sehingga yang tersisa hanya rasa kecewa. Tapi setidaknya dengan kehadiran Cherry keinginan untuk menjadi ratu di dapur seperti wanita-wanita di luar sana kembali ke permukaan. Sambil terus berharap lidah ini tak akan lagi kelu dengan segala macam rasa.

Wednesday, November 19, 2008

Review: Half of A Yellow Sun- Chimamanda Ngozi Adichie


Half of A Yellow Sun
Penulis: Chimamanda Ngozi Adichie
Penerjemah: Rika Iffati
Penerbit: Hikmah
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 765 hlm

Spoiler Alert!!!

Nigeria, tidak banyak yang saya ketahui tentang negara ini, kecuali bahwa negara tersebut berawalan dengan huruf N dan terletak di salah satu benua Afrika, lain tidak. Sehingga Half of A Yellow Sun benar – benar membuka mata saya. Walau disajikan dalam bentuk fiksi namun latar belakang kejadiannya sungguh pernah terjadi. Dulu ada satu perang antara suku yang menelan begitu banyak korban. Seakan nyawa seseorang tak berarti sama sekali. Kelaparan dan ketakutan tak berhenti menyelimuti mereka yang tersisa.mereka bertahan hidup melindungi orang – orang yang mereka sayangi, dengan sedikit harapan bahwa semua pertikaian akan segera berakhir. Setidaknya itu yang saya lihat Ugwu, salah satu tokoh di buku ini.

Siapa Ugwu?
Sebelum perang terjadi, Ugwu hanyalah anak laki – laki berusia tiga belas tahun yang memutuskan untuk mengambil tawaran bibinya untuk bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah seorang profesor universitas.

Dari cerita bibinya, Ugwu mengetahui bahwa Tuan, pria yang membutuhkan pelayan laki – laki untuk bersih – bersih ini, agak sedikit sinting, sering berbicara sendiri di kantornya, tak pernah menjawab ketika di sapa karena tenggelam dengan tumpukan buku di hadapannya. Namun begitu berdiri langsung di hadapan Tuan, Ugwu tahu ia akan menyukai pria yang memaksa untuk dipanggil dengan namanya, Odenigbo. Tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa Tuan adalah pria yang baik seperti yang dikatakan bibinya. setidaknya dari perlakuan istimewa terhadap dirinya tidak didapatkan oleh para pelayan di rumah lain.

Berminggu – minggu Ugwu mempelajari ritme kehidupan Tuan dengan cermatnya. Mengambil Daily Times dan Rennaissance yang ditaruh disebelah teh dan roti tuan, mencuci kendaraan sebelum Tuan berangkat dan pergi ke lapangan tennis, memastikan bahwa air panas tersedia untuk membuat teh, menyikat lantai, bahkan berusaha untuk menyajikan makanan lezat setiap harinya. Ugwu benar – benar menikmati kehidupannya melayani Tuan. Ia bahkan bertekad untuk berbuat lebih, sehingga Tuan akan merasa punya alasan kuat untuk terus mempekerjakannya. Termasuk menyimak setiap obrolan teman – teman Tuan yang berkunjung pada akhir pekan. Walau awalnya tak pernah benar – benar mengerti apa yang mereka diskusikan. Dari obrolan demi obrolan setiap pekannya, Ugwu mulai mempelajari karakter mereka. Sehingga ia tahu bahwa tak perlu khawatir akan ada yang menggeser kedudukannya.

Sayang perasaan aman itu hanya berlangsung singkat, karena empat bulan kemudian, seorang wanita hadir dalam kehidupan Tuan. Ollana begitu wanita yang namanya, namun Tuan lebih sering memanggilnya nkem,milikku.Dari panggilan itupun Ugwu tahu bahwa Ollana tidak hanya menguasai pikiran Tuan, tapi juga menguasai daerah kekuasaannya selama ini dan harus siap diperintah untuk melakukan ini itu. Rasa sedih segera mengerubungi Ugwu, karena ia tak pernah berpikir untuk membagi tugas melayani an mengurus Tuan. Namun itu hanya terjadi dalam waktu singkat. Karena ia segera tahu bahwa Ollana tak pernah berniat menyingkirkan dirinya. Bahkan banyak hal yang baru yang dipelajari dari nyonya yang baru ini. Tak butuh waktu lama untuk melihat kebaikan hati Ollana.

Beberapa tahun berlalu, bertiga bersama Tuan dan Ollana, yang kemudian disusul dengan kehadiran Baby, anak perempuan lucu, Ugwu semakin menyukai kehidupannya baru bersama mereka. Sampai hari itu datang. TV dan Radio tak henti – hentinya mengabarkan berita tentang Kudeta. Situasi di pemerintahan berangsur menjadi morat-marit. Bandara dan bebrapa kantor pemeritahan mendadak ditutup. Ketegangan menyebar di hampir setiap sudut. Tak terkecuali di rumah Tuan. Tak hanya dari diskusi kerabat Tuan, bahkan Ollana pun semakin gusar memikirkan paman, bibi dan sepupunya di Kano ataupun ayah, ibu dan saudara kembarnya, Kainene bersama suaminya Richard, di Lagos. Apalagi setelah kudeta kedua yang beberapa minggu berlalu, korban – korban mulai berjatuhan. Pembantaian seakan serentak dilakukan di beberapa tempat.


Tuan, Ollana, Ugwu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekerasan yang tak mengenal rasa kemanusiaan itu terjadi. Bahkan trauma nyaris melumpuhkan Ollana dalam waktu lama. Ketakutan terus menghantuinya, bahkan saat orang – orang yang menguasai Nigeria Timur mendeklarasikan Republik Biafra. Karena seperti dugaan banyak orang, ini adalah awal sebuah perang.

Ironis memang, walaupun Biafra telah berdiri, namun orang – orang harus tetap mengungsi karena kenyataannya tentara Biafra tak sanggup menghalau gempuran balik dari pihak militer Nigeria. Tak terkecuali Tuan, Ollana, dan Ugwu. Mereka harus meninggalkan Nsukka. Meninggalkan rumah mereka untuk lari menyelamatkan diri. Mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Karena saat itu, seakan tak ada tempat yang aman untuk berlindung dari pembantaian. Korban – korban baru terus berjatuhan. Seakan peperangan itu tak akan pernah berhenti. Bahkan kelaparan menjadi momok yang yang menakutkan untuk setiap orang yang bertahan di Biafra.

Dengan tertatih – tatih, masing-masing dari mereka berusaha untuk saling melindungi dan menjaga. Sambil terus berharap keadaan akan menjadi lebih baik. Walau hanya tidak banyak yang selamat, namun tak sedikit yang akhirnya berhasil melewati tiga tahun yang sungguh melelahkan itu.

Tak heran jika buku ini menerima Orange Priza di tahun 2007. Setiap bab didalamnya memiliki sesuatu yang menarik perhatian. Tak hanya mengenai hubungan setiap tokoh namun juga mengenai latar belakang Perang Biafra- Nigeria tahun 1967-1970.
Adichie, sang penulis, memiliki cara yang unik untuk membelah – belah cerita. Walau begitu para pembaca tidak akan kehilangan track bahkan ada sedikit sisipan yang membuat semuanya mengerti apa yang sebenarnya terjadi di Nigeria. Bahkan saat sebelum perang saudara itu terjadi.

Sata tak perlu banyak komentar lagi, yang jelas satu lagi buku yang pantas dan seharusnya ada di salah satu rak buku di rumah.

Wednesday, November 12, 2008

Review : Spring-Heeled Jack - Phillip Pullman




Panti Asuhan Alderman Cawn-Plaster Memorial bukan tempat yang menyenangkan bagi siapa pun. Tidak hanya bubur yang tidak enak atapun selimut tipis yang tidak mampu menghalau rasa dingin, tempat itu juga dikepalai oleh Mr Killjoy dan asistennya Miss Gasket yang jahat. Semua anak – anak panti mengenal baik bagaimana watak kedua orang yang hanya mengincar uang pembayaran panti setiap bulannya.

Tak heran jika suatu malam Rose , Lily dan Little Ned akhirnya memutuskan untuk kabur dari tempat mereka tinggal selama 18 bulan lamanya. Mereka tak bisa bertahan lebih lama lagi.Pelabuhan menjadi tempat tujuan mereka. Mereka berencana untuk naik Kapal Indomitable dan meninggal London. Rose berkata akan menjual kalung peninggalan ibu mereka untuk membeli tiket kapal.

Sayangnya rencana yang telah disusun rapi itu akhirnya berantakan. Mack si Pelempar Pisau , penjahat paling jahat di London mendengar rencana mereka. Tak butuh waktu lama untuk membuat ketiga anak itu ketakutan. Walau tak dapat mengambil kalung ibu mereka, namun Little Ned berhasil diculiknya. Rose dan Lily bisa mendapatkan Ned kembali, asalkan mereka mau menukarkannya dengan harta terakhir yang mereka miliki.
Keadaan mereka benar – benar menyedihkan. Sekarang mereka tak hanya dihantui oleh Mack si penjahat, karena Mr Killjoy dan Miss Gasket yang tak kalah jahatnya, yang telah menyadari bahwa tiga anak telah kabur, mulai melakukan pencarian bahkan telah menghubungi polisi setempat.

Belum juga mereka keluar dari satu masalah, tiba-tiba di hadapan mereka muncul sosok asing. Rose dan Lily tak dapat mengeluarkan kata kata , kecuali berteriak sekencang mungkin.

Satu lagi novel anak – anak karya Philip Pullman. Seperti buku yang lain, buku ini juga di lengkapi dengan ilustrasi. Namun kali ini ilustrasinya jauh lebih menarik. Karena ditampilkan menjadi bentuk komik yang menjadi bagian dalam cerita.

Bagian yang tidak kalah menarik adalah kalimat pertama setiap bab yang ternyata diambil sang penulis dari buku – buku terkenal seperti milik Charles Dicken dan Herge. Sehingga setiap kali memulai bab berikutnya, rasa penasaran menggelitik saya untuk mengetahui kata – kata milik siapa yang dikutip Mr. Pullman. 

Spring - Heeled Jack
Judul Indonesia: Jack si Pelompat
Kisah Tentang Keberanian Dan Kejahatan
Penulis: Philip Pullman
Penerjemah: Yashinta Melati F.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Septermber 2008
Tebal: 128 hlm

Wednesday, September 17, 2008

Review: Konrad Si Anak Instan - Christine Nostlinger



Bertahun – tahun lamanya, Mrs. Bartolotti terbiasa hidup sendiri. Tidak ada lagi rasa sedih yang tersisa sejak kepergian Mr Bartolotti bertahun – tahun lalu. Karena kini Mrs Bartolotti punya banyak hal yang harus dikerjakan. Dari bisnis tenunan permadani, jadwal yang di tetapkan bersama Mr Egon, sang pemilik Apotek untuk saling mengunjungi di hari selasa dan sabtu, sampai kebiasaannya berbelanja dan memesan barang – barang.

Khusus yang terakhir memang menjadi hal yang tidak terpisahkan dari Mrs. Bartolotti. Semua itu bersumber dari kegemarannya pada kupon, formulir pesanan, penawaran gratis dan penawaran istimewa. Saking sukanya pada kesemua hal tersebut, ia bahkan tidak sadar sering memesan barang barang yang bahkan tidak dibutuhkannya. Bukan hanya sekali Mrs Bartolotti menyesal bahkan menangis ketika sadar bahwa ia tak memerlukan sejumlah kaus kaki katun pria berwarna kelabu, sembilan kincir doa dari Tibet dan sejumlah barang tak berguna lainnya. Namun keesokan harinya, ia kembali berkutat dengan kebiasaanya mengisi kupon dan formulir baru.

Suatu hari seorang tukang pos datang ke rumahnya mengantar sebuah paket yang sangat besar. Paket tersebut berbentuk kaleng dan isinya sangat berat. Rasa penasaran segera menyelimutinya. Ia berusaha untuk mengingat-ingat, kapan terakhir kali memesan Sayangnya Mrs. Bartolotti tak bisa ingat lagi.

Sambil menerka – nerka isi kaleng, Mrs. Bartolotti akhirnya memutuskan untuk membuka tutup kaleng. Begitu melihat isinya,. ia langsung jatuh terduduk, saking kagetnya. Dari dalam kaleng, muncul seorang anak laki – laki. Dari surat keterangan yang disertakan bersama kaleng, anak laki – laki itu bernama Konrad dan berumur tujuh tahun. ia adalah anak instan buatan suatu pabrik.

Tak butuh waktu lama bagi Mrs. Bartolotti untuk menyukai Konrad si Anak Instan. Karena sikap dan tingkah Konrad sangat sopan, manis, menyenangkan dan tentu saja sangat pintar untuk anak – anak seusianya. Seluruh kebutuhan Konrad segera dipenuhinya. Pakaian, mainan bahkan tak lupa ia mendaftarkan Konrad ke sekolah.
Konrad merasa sangat beruntung. Hingga tak heran kalau ia juga sangat menyayangi wanita yang dipanggilnya Ibu.

Sayangnya kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Karena tiba-tiba tukang pos kembali mengetuk rumah mereka dan memberikan sepucuk surat. Surat yang memberitahukan bahwa Konrad ternyata bukan ditujukan untuk Mrs Bartolotti. Pabrik ternyata telah melakukan kesalahan. Mereka bermaksud untuk mengambil Konrad kembali dan mengirimkan ke orang tua sesungguhnya. Tentu saja hal ini membuat Mrs Bartolotti dan Konrad menjadi gelisah. Sehingga tak ada cara lain kecuali menyusun suatu rencana rahasia.

Kalau Konrad benar- benar ada di dunia nyata, tentunya pabrik tersebut telah mendulang keuntungan berlipat ganda. Karena tidak hanya memberikan solusi bagi mereka yang tidak dapat memiliki keturunan tapi juga dapat menghibur single parent seperti Mrs. Bartolotti. Apalagi sikap anak – anak seperti Konrad adalah harapan semua orang tua.

Namun rasanya akan membosankan kalau semua anak di dunia seperti Konrad. Tidak akan ada lagi intrik yang sebenarnya menjadi penghias dunia. Untung saja semua itu hanya terjadi di buku. Dunia nyata memang memerlukan keseimbangan .

Konrad adalah buku dengan cerita ringan yang cukup menghibur. Karakter – karakter di dalam bukunya juga unik dan menyenangkan. Tak jarang saya tersenyum simpul di setiap babnya. Ilustrasi dalam buku ini tentu juga menjadi bagian yang memberikan nilai lebih.

Sayangnya ini hanyalah satu – satunya buku Christine Nöstlinger yang diterbitkan di Indonesia. 

Konrad Si Anak Instan
Judul Asli: Konrad
Penulis: Christine Nöstlinger
Penerjemah: Agus Setiadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2003
Tebal: 168 hlm