Friday, January 4, 2008

Review: The Bookaholic Club - Poppy D. Chusfani


Des tak memiliki seseorang yang bisa dipanggilnya sahabat ataupun teman. Ia membuat dinding pembatas dan tak membiarkan satu pun orang untuk mendekat. Malahan ia sengaja bersikap jutek kepada semua orang yang nekat Alasannya sederhana, ia tak ingin sampai statusnya sebagai penyihir diketahui orang lain yang jelas akan berdampak sangat buruk. namun itu bukan masalah besar bagi Des. Baginya dukunagn ayah dan ibunya, kucingnya Spunk serta tumpukan buku –buku cuku baginya.

Namun semua berubah ketika ia bertemu Erin, Tori dan Chira. Erin adalah murid pindahan yang cantik dan tak heran jika dalam sekejap langsung populer. Tori sendiri adalah gadis remaja yang sangat gugup, itu yang dilihat Des ketika mereka tak sengaja bertabrakan di koridor sekolah. Lain lagi dengan Chira, salah satu murid di sekolah Des yang pandai walau pembawaannya sedikit aneh dan semua itu dikarenakan kemampuannya melihat mahluk halus. Des tidak peduli dengan semua hal itu, karena seperti halnya Des, ketiga temannya itu sangat mencintai buku. Tak heran jika perpustakaan sekolah menjadi salah satu tempat favorit mereka.

Adalah Lim Bibliophilia Antiqua, sebuah toko buku antik di sekitar pecinan yang menjadi tempat Des dan Chiara mencari buku – buku lama. Suatu saat Des mengajak ke tiga teman barunya untuk mengunjungi toko tersebut sekaligus memperkenalkan Kakek Lim,sang pemilik kepada Erin Dan Tori. Setalh puas berkeliling dan memutuskan untuk membeli beberapa buku akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Tiba tiba Kakek Lim memanggil Des dan menyerahkan sebuah buku bersampul hitam , agak tebal dan amat lusuh. Ia juga menceritakan masalah yang berkaitan dengan buku usang tersebut dan menjadi tanggung jawab Des untuk menyelesaikannya. Awalnya Des tidak sedikitpun mempercayai setiap kata yag diucapakn Kakek Lim, namun di sisi lain ia tahu pria tua ini tidak mungkin berbohong. Di luar dugaan masalah yang itu ternyata masalah tersebut menghadapkan mereka pada situasi mati dan hidup. Mereka harus bergerak lebih cepat sebelum korban-korban berjatuhan.

**
Bertemu dan berkumpul bersama orang – orang yang mencintai buku memang sangat menyenangkan. Apalagi kalau koleksi buku buku mereka ternyata tidak ada di rak buku kita di rumah.

Perpustakaan di rumah Des maupun perpustakaan sekolah mereka benar-benar bikin ngiler. Ally juga pengen baca buku buku mereka. Nyesel waktu kecil dulu nggak sering sering main ke perpustakaan. Waktu SD dulu perpustakaan wilayah di Kendari nyediain tempat khusus untuk anak-anak dan tentu saja isinya beragam. Sayang waktu sd dulu tempatnya lumayan jauh. Setiap liburan pasti main ke sana dan kebetulan dekat dari kantor mama. Sayangnya librariannya agak galak. Waktu smp juga gitu. Andai mereka seperti Deria mungkin bakal betah. Hehehe..sayangnya begitu pindah ke makassar, Saya tidak tahu harus main ke perpustakaan mana. Perpustakaan kampus sih lumayan besar. Sayangnya semua koleksinya tahun 2. Nggak pernah diupgrade. Jadi nggak heran kalau perpustakaan tuh cuman jadi tempat untuk tidur siang setela semalam tuh begadang menyelesaikan gambar teknik. Hehehe....

Nanti nanya ah ma anak anak angingmamiri. Siapa tahu ada tempat yang setidaknya senyaman perpustakaan pribadi milik keluarga dan sekolah Des. 

The Bookaholic Club
Poppy D. Chusfani
PT Gramedia Utama

Cetakan 1, Oktober 2007

Tebal : 192 hal