Saturday, February 9, 2008

Review: Herr Der Diebe - Cornelia Funke




Orang dewasa tidak lagi ingat, bagaimana rasanya, menjadi anak-anak.
Walaupun mereka mengaku begitu
Mereka tidak tahu lagi
Percayalah padaku
Mereka sudah lupa semuanya
Betapa dunia dahulu berkesan lebih besar bagi mereka
Betapa repotnya memanjat ke atas kursi
Bagaimana rasanya kalau harus selalu mengengadah?
Lupa
Mereka tidak tahu lagi
Kau pun akan melupakannya
Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak
Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi
Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak
Tahukan kau?
Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa


Akhirnya buku yang sudah hampir dua tahun berada di rak buku ini berhasil saya lahap. Saya selalu menunda untuk membaca buku ini karena takut akan bahasanya yang rumit. Ternyata saya salah besar. Buku ini benar benar ringan. Tanpa sadar dalam tiga puluh menit saya telah membaca beberapa bab dan rasanya tak ingin meninggalkan petualangan seru yang ada didalamnya.


Seperti yang tertulis di halaman 7 dari buku ini, sewaktu kecil saya juga ingin cepat-cepat dewasa. Paling tidak seusia kedua kakak saya. Karena seingat saya, saat itu mereka tidak pernah sekalipun dilarang melakukan hal hal yang saat itu menurut saya sangat menyenangkan. Seperti main air saat hujan turun, belajar berenang, ikut pramuka, piknik dengan teman-teman sekelas, dan hal-hal lain menyenangkan lainnya.
Sayangnya ketika menjadi dewasa, larangan itu masih saja ada. Apa mereka tidak juga sadar saya bukan anak kecil lagi? Orang dewasa memang benar – benar sulit dimengerti.


Beberapa anak-anak dibuku ini juga berpikiran yang sama. Mereka benar-benar ingin menjadi orang dewasa lebih cepat. Mereka berpikir, menjadi orang dewasa akan membuat semua masalah yang ada didepan mata mereka akan menguap sekajap mata.


Buku ini bercerita tentang petualangan Prosper dan Bo, dua kakak beradik. Sejak ibu mereka meninggal, hak asuh jatuh pada paman dan bibinya. Sayangnya mereka tidak cukup baik,bahkan bisa dibilang kejam, membuat keduanya memutuskan untuk melarikan diri ke Venezia. Kota yang telah mereka kenal dari cerita ibunya semasa hidup. Kota yang penuh dengan gedung –gedung tua dan dikelilingi oleh kanal-kanal
Tanpa perencanaan yang matang dan jauh dari rumah tentu menjadi kesulitan bagi keduanya. Nyaris saja Prosper menyerah bahkan berniat mengembalikan Bo kepada bibinya ketika uang dikantongnya tak cukup lagi untukmembeli makanan. Untunglah mereka bertemu Tawon. Anak perempuan ini mengajak mereka ke bioskop yang telah lama tutup. Di sana mereka berkenalan dengan Mosca, Riccio dan tentu saja, Scipio,sang Pangeran Pencuri.


Melalui “keahlian” Pangeran Pencuri inilah kelima anak itu bisa bertahan hidup. Tak ada pintu yang tidak dapat dibuka olehnya. Pangeran Pencuri selalu membawa pulang barang –barang berharga yang diperolehnya dari rumah-rumah orang kaya yang sebelumnya telah diintai oleh Mosca dan Riccio. Barang –barang tersebut kemudiandijual kepada seorang penadah sekaligus penjual barang antik, Ernesto Barbarossa.


Walaupun kehidupan nya sekarang penuh resiko, namun Prosper merasa tinggal bersama teman-teman barunya jauh lebih baik daripada tinggal bersama paman dan bibinya yang ternyata telah menyewa jasa seorang detektif. Dengan berbekal selembar foto yang tangan, Viktor sang detektif pun mulai melakukan pencarian. Pria yang memiliki banyak cara untuk melakukan penyamaran ini tak butuh waktu yang lama untuk menemukan keduanya. Bahkan berhasil mengambil gambar keduanya.


Mengetahui ada seorang penyelidik, Prosper dan kawan-kawannya pun semakin waspada. Jangan sampai rahasia mereka terbongkar. Terlebih lagi sekarang mereka sedang mengadakan kerjasama dengan seorang bangsawan yang menjanjikan upah yang pantas untuk barang yang harus mereka curi.


Begitu banyak kejutan yang mereka hadapi bahkan yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Namun tak menghalangi mereka meneruskan petualangan mereka menyusuri kanal-kanal gelap.


Buku yang menyenangkan. Entah apa yang menyelubungi pikiran saya dua tahun yang lalu sehingga tak bisa merasakan kelezatan buku ini bahkan aroma yang dikatakan oleh beberapa orang pun tak dapat saya cium. Yang jelas satu lagi buku yang berhasil keluar dari rak khusus untuk buku-buku yang belum tersentuh.


Herr Der Diebe
Judul Indonesia: Pangeran Pencuri
Penulis: Cornelia Funke
Alih Bahasa: Hendarto Setiadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret, 2006
Tebal: 420 hal