Monday, March 24, 2008

Review: For One More Day - Mitch Albom



Buku ini saya pilih ketika pikiran saya sedang kalut. Semua itu karena berkaitan dengan M . Kalau meminjam istilah Charley dan merubahnya sedikit, saat itu adalah Saat Saat Ibu Tidak Membelaku.

Resensi di belakang buku inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk membawanya pulang.

Charley tahu betul, Pauline Benetto, ibunya, sangat sayang padanya. Namun ketika diminta oleh sang ayah untuk memilih menjadi anak mama atau anak papa, Charley malah memutuskan untuk memilih ayahnya. Tak ada hal yang tidak dilakukan Charley ketika ayahnya angkat bicara. Padahal ia tahu balasan yang diterimanya adalah ayahnya memutuskan untuk menceraikan ibunya dan pergi meninggalkan mereka.

Bersama adik perempuannya, Charley dibesarkan seorang diri oleh ibunya. Charley tahu ibunya kehilangan banyak hal, namun tak pernah berhenti meyakinkan anak laki-lakinya bahwa ia tak akan pernah kehilangan kasih sayangnya. Bahkan sampai Charley memulai hidup baru dan membentuk keluarganya sendiri.

Suatu malam, diam-diam Charley meninggalkan ibu untuk bertemu ayahnya. Tak disangka dimalam yang sama ibunya meninggal. Kejadian ini benar benar menjadi pukulan yang menyakitkan bagi Charley.

Sejak saat itu. Charley tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya. Hampir setiap hari sejak pemakaman, dihabiskan dengan bermabuk-mabukan. Seakan minuman keras akan membantunya menghilangkan perasaan bersalah itu. Tentu saja bukan menyelesaikan masalah, masalah-masalah baru pun timbul baik dari keluarga maupun pekerjaan. Istri dan anak perempuannya memutuskan untuk meninggalkannya.Bahkan ia pun dipecat dari tempat ia bekerja. Semua hal itu membuat Charley memilih untuk bunuh diri.

Di saat ia yakin telah berhasil mengakhiri hidupnya, mengejutkan ia bertemu Ibunya di rumah lama mereka. Bahkan membantu Charley mengobati luka-lukanya. Dari pertemuan ajaib ini Charley tahu bahwa hanya sedikit hal yang ia tahu tentang ibunya. Rahasia demi rahasia pun terungkap.

Buku Mitch Albom yang selesai hanya dalam beberapa jam ini sukses membuat saya sesegukan. Terlepas dari masalah yang membebani saya saat itu. Tidak hanya Posey Benetto yang mencintai kedua anaknya hingga rela mengorbankan apapun. Saya tahu M juga telah melakukan hal yang sama. Untuk menuliskan Saat-Saat Ibu Membelaku mungkin catatan setebal apapun tak akan pernah cukup.

Oleh Oprah Winfrey, For One More Day ternyata dijadikan semacam FTV di stasiun TV ABC.

Selesai melahap buku ini, saya teringat lagu milik Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas

M, Love U

For One More Day
(Satu Hari Bersamamu)
Penulis: Mitch Albom
Alih Bahasa: Olivia Gerungan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan:I, Desember 2007
Tebal: 248 hlm

*Lirik Credit: Iwan Fals

Review: Gelang Giok Naga by Leny Helena

Gelang Giok Naga
Penulis: Leny Helena
Penerbit: Qanita
Cetakan : I, November 2006
Tebal: 316 hlm

Buku ini sebenarnya sudah lama berada dalam rak buku saya. Setelah sekian lama menunggu akhirnya sabtu kemarin saya pun mulai melahapnya. Padahal saya pernah berjanji pada diri sendiri setelah membaca Snow Flower, buku ini akan menjadi buku berikutnya. Setidaknya kedua buku itu punya latar belakang yang sama, kehidupan perempuan China. Di luar dugaan, buku ini hampir sama menariknya dengan Snow Flower. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan setiap lembaran di dalamnya.

Giok dan naga menjadi dua kata yang menarik perhatian saya saat melihat sampul depan buku ini.

Selama ini saya selalu menginterpretasikan Giok dengan sebuah batu berharga berwarna hijau. Semua hal itu terlihat di film silat berseri seperti 8 dewa dkk yang ngetop ketika saya masih SD. Dari buku ini, saya akhirnya tahu giok tak hanya didominasi oleh warna hijau, lebih jauh lagi ternyata giok dijadikan sebagai lambang kemewahan.

Berpindah ke Naga,walau hanya hidup dalam sebuah legenda, naga tetap dianggap penting. Setidaknya di China, Naga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya mereka. Naga yang dimaksud jauh dari kesan mengerian yang kapan saja mampu mengeluarkan api, dari mulut mereka. Sebaliknya, Naga yang ada dalam legenda China dikenal sebagai sosok yang memastikan bahwa tak satupun roh jahat yang akan membuat kekacauan di tahun baru. dijadikan sebagai simbol kekuatan Bahkan dipercaya bahwa para naga sangat berjasa karena merekalah yang membantu menurunkan hujan disaat manusia mengalami kekeringan. Yang terakir adalah cerita yang tertulis dalam prolog di buku ini yang telah diceritakan secara turun temurun.

Seperti legenda, gelang giok naga ini pun diturunkan dari saat Negeri China diperintah oleh kekaisaran sampai ketika akhirnya setiap jengkal daerah tersebut dikuasai oleh pemerintahan komunis.

Yang Kuei Fei, seorang selir kaisar China, mendapatkannya langsung dari tangan sang putra langit sebagai hadiah. Sebagai selir, Yang Kuei Fei termasuk salah satu yang beruntung karena diantara ratusan selir yang ada, ia mampu menarik perhatian kaisar. Keadaan yang berubah dalam waktu sekejap, membuatnya harus meninggalkan istana

Beratus tahun berlalu, A Sui, seorang wanita memutuskan untuk menyusul suaminya yang bekerja di indonesia. Di tangannyalah gelang giok naga tersebut kini berada. Tahun - tahun pertama di negara yang masing masing ini dilaluinya tanpa hambatan yang berarti. Kendala bahasa dapat hanya masalah waktu.

Gejolak politik di indonesia dengan cepat membuat kehidupan A Sui dan keluarganya berubah. Usaha suaminya akirnya bangkrut. Harta yang tadinya lebih dari cukup sedikit demi sedikit habis bahkan dengan terpaksa gelang warisan ibunya digadaikan pada seorang wanita rentenir, A Lin.

Pertemuan singkat yang diharapkan A Lin menjadi yang terakhir itu berlanjut menjadi pertalian keluarga. kedua anak bungsu mereka secara diam –diam menjalin hubungan. Padahal dengan keras A Lin telah mewanti-wanti anak-anaknya untuk menjauhi keluarga A Sui yang miskin. Nasib berkata lain.

Dari kedua anak mereka, lahirlah Swanlin. Cucu perempuan yang lahir di tahun naga dengan cepat menyadari bahwa kedua neneknya, popo Sui dan popo Lin,tak pernah berhenti bersaing dalam berbagai hal. Ia tumbuh menjadi perempuan yang percaya bahwa sosok wanita yang kuat,yang tak pernah letih berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu bertahan hidup diantara orang –orang yang tak henti-hentinya mengecam kelompok hanya karena mereka warga keturunan.

Seakan menjadi saksi biksu, gelang giok naga hadir ditengah kehidupan perempuan-perempuan yang berusaha bertahan hidup di jalan terjal yang telah digariskan oleh takdir.

Tokoh-tokoh yang ada di dalam buku ini sungguh membuat saya kagum. Sosok mereka terlihat begitu kuat padahal kehidupan yang mereka hadapi tidaklah ramah.

Tak diperlukan badan seperti Xena untuk bertahan hidup.

Monday, March 17, 2008

Review: Perempuan Terluka - Qaisra Sharaz



Siang itu di Desa Chiragpur diadakan Kacheri, pengadilan terbuka. Ruangan saat itu dipenuhi oleh warga desa. Tak peduli jarak yang mereka harus tempuh untuk sampai ke madrasah tempat Kacheri dilangsungkan. Karena pengadilan seperti ini jarang terjadi. Mereka ingin menjadi saksi atas hukuman yang akan dijatuhkan oleh Siraj Din, seorang tuan tanah yang dituakan, untuk Haroon dan Naghmana, dua orang yang didakwa telah melakukan perbuatan tak senonoh.

Perkataan kasar yang menyakitkan pun tak berhenti dilontarkan oleh warga desa kepada keduanya. Semua memberikan tatapan penuh penghinaan. Naghmana tak berbuat banyak kecuali menunduk untuk menghindari semua sorot mata yang seakan siap menerkamnya kapan saja sampai akhirnya kebenaran terungkap.

Sayangnya keadilan tak juga didapatkan Naghmana ketika setiap orang di dalam madrasah itu mengetahui cerita yang sebenarnya. Ketika tahu bahwa tak banyak yang dapat ia perbuat, Naghmana hanya bisa mengangguk sebagai tanda setuju atas keputusan yang diambil oleh Siraj Din.Kata talak dari mulut Haroon pun terdengar, Bukan satu kali ataukah dua kali tapi tiga kali. Dunia Naghmana seakan berhenti saat mendengar kata kata tersebut. Semua kini berakhir.

Semua tercengang. Tak terkecuali Hajra, perempuan yang meminta Siraj Din untuk melaksanakan Kacheri. Perempuan tua itu tak pernah mengira Kacheri yang awalnya ditujukan untuk menghukum Haroon menantu laki-lakinya dan Naghmana, seorang perempuan asing yang baru bertandang selama dua hari di Desa Chiragpur berakhir dengan rasa bersalah yang berkepanjangan.

Rasa bersalah itu tak hanya dirasakan oleh Hajra. Semua orang yang hadir di gedung madrasah saat itu merasakan hal yang sama bahkan Siraj Din sekalipun. Hal itu seakan tak pernah hilang dari ingatan mereka. Bahkan ketika kejadian di siang hari yang panas itu telah berlalu selama 20 tahun. Seakan kutukan itu menghantui semua langkah mereka. Sehingga tak satupun yang mampu melupakan kejadian yang menyisakan luka yang mendalam dan tak kunjung kering.

Buku sekuel dari Perempuan Suci, yang menurut saya lebih tepat disebut prekuel ini, memang tak kalah tragis dari buku yang pertama. Kembali, keegoan pria telah mengorbankan cinta dan perasaan seorang perempuan. Seakan tersihir, tak satupun yang berusaha menghentikan ataupun menolong. Sekali lagi hati perempuan berdarah dibuatnya. Tak heran jika Perempuan Terluka menjadi dua kata yang dipilih menjadi judul buku ini.

Tak ada air mata untuk buku yang satu ini. Amarah telah lebih dulu menguasai diri saya. Perempuan –perempuan di dalam buku ini terlihat sangat lemah. Tak ada yang dapat mereka lakukan selain melarikan diri. Setiap babnya hanya membuat saya ingin melompat ke bab berikutnya.

Cerita yang ada di dalam buku ini mungkin hanya fiksi. Tapi saya tahu di luar sana beribu hati perempuan terluka. Tak terhitung tetesan air mata yang terbuang karenanya. Bahkan banyak yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup karena tak tahan menanggung sakit akibat luka yang tak kunjung sembuh. Apakah karena perempuan adalah mahkluk yang begitu lemah hingga tak mampu memberikan sedikit pun perlawanan?

Perempuan Terluka 
Penulis: Qaisra Sharaz
Penerjemah: Atta Verin
Penerbit: Mizan
Cetakan: 1, Mei 2007
Tebal: 410 hlm

Sunday, March 16, 2008

Review: Lizzie Si Mulut Terkunci - Jacqueline Wilson





Lizzie telah terbiasa tinggal berdua dengan ibunya. Semua hal dikerjakan berdua bersama dari menonton bola, makan segelas besar es krim, ataupun berdansa mengikuti irama musik. Bahkan Lizzie berbagi tempat tidur bersama ibunya. Hal itu ia lakukan sejak mereka berpisah dengan dua pria jahat, baik ayah kandung Lizzie maupun ayah tiri pertamanya.

Tentu saja semuanya menjadi berbeda ketika ibunya memutuskan untuk pindah bersama seorang pria yang menjadi ayah tiri keduanya. Semua hal tak lagi dilakukan berdua. Karena tak hanya berbagi dengan sam, ayah tiri barunya tapi juga berbagi segala hal dengan Rory dan Jake, dua anak lelaki Sam.

Lizzie tak dapat menerima keputusan yang diambil ibunya. Semua protes yang dilontarkan oleh Lizzie tak satupun yang ditanggapi. Mereka pun akhirnya meninggalkan flat menuju rumah baru mereka, rumah Sam,Rory dan Jake.

Tak kehabisan akal, Lizzie akhirnya mengambil tutup mulut sebagai jalan terakhir. Ia tak sekalipun mengucapkan sesuatu ketika Sam, Rory ataupun Jake mengajaknya bicara. Tak ada yang dapat membuatnya berbicara bahkan ketika ibunya membujuknya sekalipun.

Sampai suatu saat Lizzie memutuskan untuk menghentikan aksinya mogok bicara. Hari itu ia bertemu seseorang yang tak hanya membuatnya berbicara bahkan memaksanya memohon.

Kelakuan Lizzie membuat saya teringat masa kecil. Kalau ngambek saya juga sering membuat M jadi bingung karena semua pertanyaan beliau saya jawab dengan bertingkah seperti Lizzie. Hihi..Anak yang nakal *jitak

Saya tahu saat itu tak hanya M yang merasa sakit. Di dalam hati saya pun rasanya ingin menangis ketika melihat kekecewaan di wajah M. Entah mengapa semua kata kata itu tersangkut di kerongkongan. M, Maafin Ally. Ngga lagi-lagi deh.

Mengenai ilustrasi, sampai sekarang saya tak pernah suka dengan semua gambar itu. Sebenarnya saya hanya terganggu dengan gambar mata setiap tokoh yang hanya digambarkan dengan satu titik. Mungkin karena terbiasa dengan mata yang lebar seperti di komik jepang. 

Lizzie Si Mulut Terkunci 
(Lizzie ZIPMOUTH) 
Penulis: Jacqueline Wilson 
Alih Bahasa: Listianan Srisanti 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan: II, Desember 2003 
Tebal: 96 hlm

Wednesday, March 12, 2008

Perempuan Suci


Perempuan Suci
Penulis: Qaisra Shahraz
Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin
Penerbit: Mizan
Cetakan V: Desember 2007
Tebal: 520 hlm

Buku ini sudah masuk wishlist sejak pertama kali terlihat di salah satu rak gramedia. Apalagi melihat tulisan Winner of Jubilee Award 2002 yang tertera disampulnya benar-benar membuat saya penasaran. Namun entah mengapa semua pundi-pundi emas itu tidak pernah saya tukarkan untuk membawa pulang buku ini. Rasa penasaran terus menghantui saya ketika satu demi satu review tentang buku ini muncul. Tak satupun kalimat yang saya baca. Karena saya ingin mengetahui bagaimana kisah Perempuan Suci ini mengalir dengan mata kepala sendiri. Yang jelas saya tahu tak ada penyesalan meluang waktu untuk membaca buku dengan ketebalan dan font yang menantang.

Semua buku yang telah saya jadwalkan untuk saya lahap akhirnya harus menyingkir beberapa hari karena buku ini akhirnya berhasil berada digenggaman saya senin pekan lalu. Apalagi beberapa belakangan ini saya sedang mengumpukan semua hal yang terkait dengan seorang perempuan.

Adalah Zarri Bano yang menjadi tokoh sentral yang digambarkan sebagai wanita matang yang memiliki keistimewaan membuat banyak wanita iri, bukan hanya karena wajahnya yang menarik banyak pria. Tak terkecuali adik perempuannya Ruby dan sepupunya Gulshan. Berita pernikahannya sendiri telah banyak ditunggu oleh orang. Semua ingin tahu siapakan pria yang berhasil membuat perempuan ini bertekuk lutut karena telah brkali kali lamaran yang datang ditampiknya. Semua hal itu dilakukan seperti rutinitas lainnya.

Sampai akhirnya, Sikander, seorang pria dari Karachi memikat hatinya pada padangan pertama. Lamaran pria itu pun diterimanya. Berita gembira yang telah lama ditunggu itu tak bertahan lama. Karena gaungnya terpaksa tertutupi oleh kematian adik laki-lakinya, Jafar. Kehilangan adik laki-lak satu satunya bukanlah hal paling buruk minggu itu. Sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya ternyata telah menunggunya.

Keputusan sepihak oleh sang ayah pun tak dapat dicegah oleh siapa pun. Setelah merundingkan dengan Siraj Din, Habib Sahib, sang ayah memutuskan untuk menjadikan Zarri Bano sebagai Shahzadi Ibadat, perempuan suci, perempuan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan, dengan maksud menjadikannya sebagai ahli waris keluarga. Keputusan ini membuat Zarri Bano benar-benar terpukul. Walau terluka, harga dirinya terlalu tinggi untuk dikorbankan. Satu demi satu keinginan untuk menjadi istri Sikander pun dikuburnya dalam – dalam.

Zarri Bano pun memulai lembaran baru dengan menjadi seorang perempuan yang hidup di balik burqa hitam yang sederhana. Berbagai ilmu barupun dipelajarinya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menyembunyikan kesedihan dah amarahnya. Walau tak bisa membohongi diri sendiri akan kenangan masa lalu yang masih mengikatnya di beberapa tempat yang akhirnya kembali ketika mengetahui bahwa Sikander akan menikahi adiknya Ruby. Mendengar kabar langsung dari mulut adiknya itu membuat dinding yang telah susah payah dibangungnnya akhirnya runtuh menjadi puing – puing. Kali ini air mata tak mampu lagi dibendungnya.

Beberapa Pertanyaan kembali menghantui bnak saya. Yang paling mengganggu adalah masalah Sikander, bagaimana pria bisa mencintai dua wanita berbeda pada saat yang sama?

Walau tak sampai sembab, buku ini berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Bukan hanya menangisi kisah Zarri Bano tapi lebih pada nasib yang harus dialami oleh perempuan-perempuan yang harus menyerah pada tradisi dan budaya.
Ternyata tak hanya di Afghanistan ataupun di Pakistan pun perempuan tak akan pernah bisa menanyaingi kedudukan para pria yang dipuja-puja dan dianggap sebagai harta yang tak ternilai bahkan di atas semua kekayaan duniawi. Dari sumber yang ada ternyata di negara belahan lain, perempuan mendapat perlakuan yang sama.

Setelah buku ini selesai, Perempuan Terluka telah menunggu saya di salah satu sudut rak. Wajah dan tatapan sendu yang sarat dengan kesedihan di sampul depan membuat saya luluh dan akhirnya kembali menyingkirkan buku –buku lain

Saturday, March 8, 2008

The Secret Life of Bees(Rahasia Kehidupan Lebah)


The Secret Life of Bees
(Rahasia Kehidupan Lebah)
Penulis: Sue Monk Kidd
Penerjemah: Wita :estari
Penerbit: PT Transmedia
Cetakan II: 2006
Tebal: 434 hlm

Hampir 15 tahun Lily Owens tinggal bersama T-Ray, ayahnya. Di mata Lily pria itu tak pantas untuk dipanggil dengan sebutan ayah. Karena T-ray pun tak pernah memperlakukannya seperti anaknya. Tak jarang perlakuan kejam dan kata kata kasarT-ray yang menyakiti Lily. Dibandingkan mengurus Lily, T-ray lebih peduli pada bisnis buah persiknya. Lily tak pernah punya kesempatan untuk menyampaikan protesnya dan semua hal itu membuat kerinduan Lily pada sosok ibunya semakin membesar setiap harinya. Sayangnya kenangan tentang wanita itu tak banyak tersisa dibenak Lily. Saat ibunya meninggal, ia baru berumur empat tahun.Yang tersisa hanyalah foto ibunya dan sarung tangan katun putih yang disimpannya dalam sebuah kaleng

Adapun Rosaleen, wanita keturunan Afrika-Amerika yang menjadi pengasuh sejak kecil tidak bis adibilang sebagai ibua asuh yang baik. Ada hal-hal yang membuat Lily terkadang benci padanya. Mungkin karena pembawaan Rosaleen yang angkuh dan blak-blakan yang tak kunjung berubah. Sofatnya ini pula yang menyebabkan insiden dengan tiga pemuda berkulit putih tak terelakkan. Kejadian ini tak hanya membuat dirinya dipenjara ia bahkan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit dengan pengawasan langsung dari polisi. Melihat hal yang terjadi pada pengasuhnya, Lily merasa harus mengambil tindakan. Dengan rencana liciknya, Rosaleen pun berhasil dibujuknya untuk kabur. Mereka meninggalkan T-Ray menuju Tiburon, South Carolina.

Mengapa memilih Tiburon? Kota inilah yang tertulis dibelakang foto ibunya. Lily yakin kot aini pernah dikunjungi oleh ibunya saat muda dulu. Tidak hanya itu, dari foto ibunya jugalah yang membawanya ke rumah tiga kakak beradik, August, June dan May yang memelihara lebah. Beruntung, mereka bersedia menampung Lily dan Rosaleen yang menyembunyikan identitas aslinya dan mengarang sedikit cerita.

Di rumah inilah Lily mengenal dunia lebah, madu dan Black Madonna. Kehidupan baru yang membuatnya terpikat. Dengan cepat ia menyesuaikan diri dengan semua dengungan para lebah dan semua kegiatan rutin yang dilakukan oleh kakak beradik. Perlahan satu demi satu rahasia tentang ibunya terungkap.

Novel ini ditulis dengan latar kehidupan Amerika, musim panas tahun 1964 saat diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam terjadi di mana-mana. Satu insiden yang melibatkan Rosaleen hanyalah satu dari banyak perilaku yang harus dialami oleh warga Amerika keturunan Afrika-Amerika saat itu. Dari artikel-artikel di Wikipedia, orang-orang kulit berwarna masih banyak hal-hal kekejaman rasisme yang terjadi. Berangkat dari dari rasa geram melihat semua ketidak-adilan tersebutlah, Sue Monk Kid berjanji “membalas dendam” melalui tulisannya. Buku ini juga yang membuat saya kembali membuka file –file lama tentang rasisme sampai artikel tentang Martin Luther King.

Tokoh-tokoh di dalamnya memiliki keunikan masing –masing. Baik Lily sampai T-Ray sekalipun. Mereka semua memiliki peran yang memainkan emosi saya sebagai pembaca.. Adapun Rosaleen adalah tokoh yang membuat saya tidak jarang tersenyum dengan semua celutakannya. Membuat saya teringat semua pengasuh yang ada di buku maupun di telenovela yang pernah diputar di TVRI jaman SD.

Yang tidak kalah menarik adalah kisah mendalam tentang lebah yang membungkus kisah Lily di setiap babnya. Setelah beberapa bab berlalu akhirnya saya mengerti setiap kutipan tentang lebah adalah gambaran dari isi di setiap bab.

Di luar alur lambat yang sedikit mengganggu, buku ini tetap asyik untuk dibaca. Akhir cerita yang membuat saya ingin mengarang versi lainnya.


Friday, March 7, 2008

Not Just A Witch (Bukan Sembarang Penyihir)


Not Just A Witch
(Bukan Sembarang Penyihir)
Penulis: Eva Ibbotson
Alih Bahasa: Indah S. Pratidina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan 1: Agustus 2003
Tebal: 224 hlm


Seperti satu kalimat dalam lirik sebuah lagu lamayang menuliskan kalimat Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu, seperti itu pulalah dunia penyihir yang disajikan oleh Eva Ibbotson di setiap bukunya. Dunia penyihir tidak selamanya gelap. Tidak semua penyhir memiliki tampang seram dagu runcing dan kumpulan kutil yang menjijikan yang bisa membuat seseorang berubah jadi kodok ataupun hal hal kejam lainnya. Walaupun tetap dengan mantera dan sihirnya, Eva mencoba memberitahu dunia masih ada penyihir yang berniat menjadikan dunia tempat yang lebih baik.
Seperti Heckie dan sahabatnya, Dora.

Heckie dan Dora adalah dua sabahat yang bertemu di sekolah khusus para penyihir yang menjunjung tinggi kata-kata PENYIHIR ANTI KEKERASAN. Setelah 30 tahun di sekolah penyihir membuat Hecki dan Dora menjadi penyihir handal. Jika Heckie dapat merubah siapa pun menjadi hewan apapun yang diinginkannya dengan menyentuh mereka, Dora bisa mengubah seseorang menjadi batu hanya dengan memincingkan mata. Mereka bersumpah akan berbuat kebaikan dan menumpas kejahatan. Sayangnya,.masalah sepele membuat mereka memutuskan untuk tinggal terpisah. Walaupun begitu Heckie tetap memutuskan untuk melakukan tujuannya untuk membuat dunia menadi tempat yang lebij baik. .

Kota Wellbridge menjadi pilihan Heckie dan Ditemani oleh familiar yang dibuatnya sendiri, Daniel, Sumi dan para penyihir lain, dibentuklah Kelompok Pemburu Penjahat. Semua orang – orang tak peduli wanita ataupun pria, semua akan diubah menjadi hewan bila diketahui melakukan tindak kejahatan. Semua hewan-hewan itu kebanyakan diberikan kepada Kebun Binatang. Karena toko hewan miliknya tak mungkin menampung semua hewan tersebut.

Tak seorang pun yang mengetahui rahasia ini sampai perampokan di Bank tempat Heckie menyetor penghasilannya setiap minggu. Seorang pria yang mengenalkan dirinya sebagai Mr Knacksap mengetahui rahasia Heckie. Kunjungan rutin pria yang cukup tampan membuat Heckie tak segan menceritakan semua rahasia termasuk pertengkarannya dengan Dora. Tawaran Mr Knacksap untuk membantu Heckie berdamai dengan Dora membuat penyihir ini jatuh hati. Sehingga tanpa berpikir panjang, Heckie menyanggupi semua keinginan Mr Knacksap yang sangat aneh. Daniel dan Sumi telah berusaha membuka mata Heckie, sayangnya cinta telah menutup mata wanita penyihir yang satu ini.

Sihir memang punya kekuatan tersendiri yang membuat saya tetap terpikat walau disajikan dalam bentuk cerita apaun termasuk cerita yang cukup ringan ini. kalau Heckie ada di Indonesia, dijamin setiap kota pasti punya kebun bintang. Kekuatan yang dimiliki Heckie ini juga bisa meringankan tugas para polisi. setiap kota di Indonesia bisa lebih aman. Hihi...

Review: The Edge Chronicles :Beyond the Deepwoods





Hutan Deepwood adalah dalah wilayah dari Negeri Edge. Wilayah ini sangat gelap, seselimuti misteri dan tentu saja bahaya membanyangi di setiap sudut. Makhluk-makhuk yang hidup di dalamnya tidak hanya menyeramkan, tetapi juga siap meremukkan korbannya yang tidak mawas diri dalam sekejap. Dari binatang besar maupun kecil samai pepohonan sanggup melakukannya.

Di salah satu sisi hutan inilah Twig menghabiskan hampir 13 tahun bersama keluarganya. Awalnya Twig sangat menikmati kehidupannya, namun begitu beranjak remaja, ia menyadari ada yng salah dengan dirinya. Bentuk badannya jauh berbeda dengan kelompoknya, para woodtroll. Sehingga tak jarang ia menjadi bulan-bulanan teman temannya. Walaupun ayah dan ibunya berusaha menyemangatinya namun ia tetap saja merasa berbeda

Sampai suatu hari tibalah waktu bagi Twig untuk memulai petualanganya sendiri. meninggalkan rumah, ibu dan ayahnya sesuai dengan tradisi bagi keluarga woodtroll. Tak ada bekal yang dipersiapkan Twig. Ibunya hanya berpesan agar tidak keluar dari jalur karena tak pernah ada yang bisa mengetahui kapan makhluk-makhluk ganas itu muncul.

Petualangan pun dimulai!
Satu persatu makhluk di Deepwoods muncul. Tak hanya ingin melukai Twig mereka juga berniat menjadikan anak laki-laki itu sebagai mangsa yang dilumat ataupun ditelan bulat-bulat. Cacing terbang, pohon Hammelhorn dan Rotsucker hanyalah sebagian dari para pemangsa yang mengincar Twig.

Petualangan ini mengajarkan banyak hal pada Twig. Menggunakan pisau yang dibawanya sejak meninggalkan rumah sampai lari sekencang-kencangnya. Walau tak berlangsung lama, perjalanan ini menuntun Twig bertemu beberapa penghuni Deepwoods yang menjadi teman perjalanannya. Banderbear adalah salah satunya.

Jarak yang ditempuh ole Twig benar benar panjang. Saya jadi sering membolak balik peta yang ditempatkan di halaman depan memastikan bahwa Deepwoods benar-benar luas. Dari ilustrasi yang ada, makhluk –makhluk mengerikan yang ditemui Twig dalam hitungan beberapa detik, membuat saya terus berharap agar Twig segera keluar dari wilayah yang sangat sepertinya tak pernah berujung dan bertemu dengan orang –orang normal. Setidaknya yang tidak punya niat untuk menyantap setiap benda yang nampak di depan mata mereka.

Sungguh melelahkan mengikuti petualangan yang mengerikan sekaligus seru ini. Tak pernah ada buku seperti ini sebelumnya yang menyajikan begitu banyak makhluk tak berperasaan. Dari bentuk yang kecil sampai yang paling besar. Jika dibandingkan, mungkin Amazon saja kalah.

The Edge Chronicles :Beyond the Deepwoods
Teks dan Ilustrasi: Paul Steward & Chriss Riddell
Penerjemah: Meithya Rose Prasetya
Penerbit: Penerbit Matahari
Cetakan I: Mei 2007
Tebal: 502 hlm

Thursday, March 6, 2008

Review: Out - Natsuo Kirino




Gaji yang tinggi mungkin menjadi faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memilih pekerjaan. Ketika berkecimpung di lingkungan kerja yang memberikan nilai tersebut, ternyata masih banyak hal lain yang tidak kalah penting. Nyatanya gaji tersebut belum tentu membuat seseorang merasa nyaman.


Karena alasan itu jugalah yang membuat Masako memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah perusaahaan. Dan entah dengan pertimbangan dari sisi mana, ia akhirnya memilih untuk bekerja shift malam di pabrik makanan kotak. Pekerjaan yang sangat berbeda dari pekerjaan sebelumnya.


Di tempat kerjanya, ia mengenal dengan baik seorang wanita muda bernama Yayoi. Dari ceritanya, Masako tahu bahwa akhir-akhir ini Yayoi kerap berselisih dengan suaminya. Tak heran ketika suatu hari Yayoi menelpon dan memberitahunya bahwa baru saja ia membunuh suaminya, ketika tahu bahwa semua uang tabungannya selama ini digunakan untuk berjudi dan main perempuan. Yayoi meminta Masako menyingkirkan mayat itu.


Perjanjian pun dibuat. Di bantu oleh Yoshie dan Kuniko, dua wanita yang juga bekerja di tempat yang sama, masako dengan mudah menyingkirkan mayat suami Yayoi. Sayangnya karena kecerobohan Kuniko, bagian – bagian tubuh mayat itu ditemukan. Segera, pihak kepolisian melakukan pelacakan. Semua orang terkait pun diselidiki.


Walaupun pun dicurigai, namun pihak kepolisian tidak punya bukti yang cukup untuk menjadikan Yayoi sebagai tersangka. Akhirnya semua dakwaan dijatuhkan pada seorang pemilik kelab malam. Selama di penjara, ia kehilangan banyak uang. Bahkan yang membuatnya terpukul, bisnis yang dirintisnya mengalami kerugian. Walau akhirnya ia dibebaskan karena terbukti tidak terkait dengan pembunuhan tersebut.


Kini tak hanya pihak polisi yang mengejar Masako dan teman temannya. Karena pria pemilik klub yang berniat membalas dendam juga membayangi hari-hari mereka dengan teror juga memberi mereka mimpi yang sangat buruk.


***


Tidak banyak novel Jepang yang saya lahap apalagi novel bergenre kisah kriminal seperti ini. Saya tidak punya pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan rasa yang timbul ketika membaca setiap Masako dan kawan-kawannya beraksi. Namun seperti tersihir, saya tidak dapat menutup buku ini. Tidak heran jika buku yang satu ini memenangkan Japan’s Grand Prix for Crime Fiction.


Banyak hal yang bisa saya ambil dari buku yang satu ini. Salah satu adalah jangan pernah berutang. Karena sekali terperosok di satu lubang, di luar sana lubang – lubang yang lain tak kalah dalamnya telah menanti. Tak seorang pun yang ingin mati konyol karena terjerat utang.


OUT
Judul Indonesia: Bebas
Penulis : Natsuo Kirino
Alih Bahasa : Lulu Wijaya
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I: April 2007
Tebal : 576 hal

Wednesday, March 5, 2008

Saudagar Buku dari Kabul


Saudagar Buku Dari Kabul
Penulis: Åsne Seierstad
(The Bookseller of Kabul)
Penerjemah: Sodia Mansoor
Penerbit : Qanita
Cetakan I : Januari 2005
Tebal: 456 hlm

Pergantian penguasa di Afghanistan memberi banyak perubahan pada peraturan yang berlaku. Dari Pemerintahan Raja Zahir Shah, Komunix, Taliban sampai akhirnya di pimpin oleh Hamid Karzai. Peperangan mewarnai setiap perubahan tersebut yang memakan ribuan korban dan memaksa banyak warga mengungsi ke negara tetangga.

Semua warga yang tetap tinggal di atas tanah yang hampir sepenuhnya kering dan berdebu tak dapat berbuat banyak. Selain mengikuti semua peraturan yang berlaku
Termasuk Sultan Khan, sang Saudagar buku. Selama hampir 20 tahun bergelut dengan toko buku miliknya, tak terhitung berapa kali ia harus menyaksikan para serdadu membakar buku buku miliknya di jalanan..

Pada saat pemerintahan Raja Zahir Shah, tak ada masalah berarti yang dihadapi oleh bisni buku milik Sultan Khan, namun begitu Afghanistan dikuasai komunis, larangan menerbitkan buku berbau teologi diberlakukan. Walaupun demikian, secara sembunyi sembunyi buku –buku terlarang tetap diperjual-belikan. Penjara dan siksaan adalah akibat yang harus ditanggungnya ketika penggerbekan dilakukan.

Peraturan kembali berubah ketika kekuasaan jatuh di tangan Taliban. Semua buku bergambar disita secara paksa dan akhirnya musnah menjadi debu karena jilatan api. Tak hanya mengenai masalah buku bergambar, hampir semua karya seni yang dianggap bertentangan dengan hukum islam hancur lebur, rata dengan tanah.
Namun itu tak membuat kecintaannya pada buku surut. Ia terus berjuang membangun bisnis yang menghidupi diri dan keluarganya.

Tak hanya Sultan Khan yang terkena imbas dari pergantian pemerintahan itu. Wanita dalam keluarganya pun tak luput semua perubahan tersebut. Sejumlah aturan yang sangat ketat membuat mereka harus membawa burqa yang menggelembung ketika mereka meninggalkan rumah. Walaupun pemakaian burqa telah dilakukan sejak dulu oleh beberapa wanita namun begitu taliban berkuasa semua wanita wajib menutupi wajahnya dengan enda tersebut. Pada saat yang sama mereka juga harus ditemani oleh muhrim mereka. Berpakaian seronok tentunya akan membuahkan hukuman berat. Selain itu para wanita dilarangkeras untuk bekerja di luar rumah. Bahkan untuk mengecap pendidikan sekali pun. Kewajiban wanita hanyalah mengurus rumah, menyediakan makanan dan pakaian.

Aturan dalam keluarga yang telah menjadi tradisi turun temurun pun sama ketatnya dengan pemakaian burqa. Anak perempuan layaknya benda yang dibarter ataupun dijual. Mereka tidak dibenarkan memilih jodoh mereka sendiri. Pernikahan mereka atur oleh kesepakatan keluarga. Harga mereka dinilai dengan sejumlah barang seperti beras, daging, minyak dll, yang mampu dibayar oleh keluarga calon suami. Itu hanya sebagian cerita dari hal –hal yang harus dialami oleh wanita wanita di sekeliling Sultan Khan. Yang mungkin menjadi gambaran bagi seluruh wanita yang berada di Afghanistan saat itu.


**

Untuk pertama kalinya saya membaca buku yang tidak hanya berfokus pada satu tokoh. Buku ini mengangkat beberapa tokoh sekaligus. Sehingga dengan membacanya saya bisa melihat dari banyak sisi.

Setelah Kite Runner yang membuat saya terisak saat membacanya, ini adalah buku kedua yang mengambil setting Afghanistan, negara yang selama ini mendapat perhatian dari seluruh dunia sejak insiden11 September.
Tak seperti Kite Runner, buku ini membuat saya sedikit marah mengetahui semua perlakuan yang didapatkan para wanita di sana saat . Apalagi mengetahui bahwa banyak di antara mereka yang tidak diperkenankan bersekolah. Allah dan Rasulullah sama sekali tidak melarang wanita untuk mengecap pendidikan. Bahkan Rasulullah tidak membatasi perkataan “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri China” hanya untuk kaum pria.

Paad saat yang sama para wanita juga harus terkungkung dalam burqa yang membuat mereka kesulitan untuk berjalan. Hukum islam memang mengharuskan wanita untuk menutupi auratnya. Namun tidak ada larangan untuk memperlihatkan wajah dan telapak tangan. Semua itu jelas dipaparkan dalam hadis Rasulullah saw. “Wahai Asma’, seseungguhnya seorang wanita, apabila telah balig, tidak layak tanpak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)” (HR Abu Dawud).

Sampai sekarang saya masih tidak mengerti alasan apa yang menyebabkan Taliban memberlakukan aturan yang membuat para wanita Afghanistan diselimuti kebodohan.
Ilmu saya mungkin belum sampai ke sana. Saya memang masih harus banyak membaca tentang masalah yang satu ini.

Tuesday, March 4, 2008

Review: James and the Giant Peach - Roald Dahl


 
Dahulu kehidupan James Henry Trotter sangat menyenangkan. Selain tinggal bersama kedua orang tuangnya di pinggir laut, Ia juga memiliki teman yang dapat diajak bermain. Semuanya berubah ejak kecelakaan tragis yang menimpa kedua orang tuanya di London ketika sedang berbelanja. James Henry Trotter harus tinggal bersama kedua bibinya, Bibi Sponge dan Bibi Spiker, di rumah reyot yang aneh di puncak bukit di selatan inggris.

Kehidupan James di puncak bukit ini jauh berbeda saat tinggal di pinggir laut. Bibi Sponge dan Bibi Spiker benar benar kejam. Makhuk kecil menjijikan, anak jorok, bocah menyebalkan adalah panggilan mereka untuk James. Tak jarang mereka memukul bahkan membiarkan James kelaparan. Selama tiga tahun l tinggal bersama mereka, hidup James benar – benar sengsara.

Tak banyak yang berubah dari kehidupan James sampai suatu hari ketika ia bertemu seorang pria tua. Pria itu memberikannya sebuah kantong berisi benda kecil berwarna hijau. Tak lupa ia memberitahu apa yang harus dilakukan James dengan isi kantung yang akan memberikannya keajaiban yang mengubah hidupnya, seakan tahu bahwa selama ini hidup anak laki laki dipenuhi kesengsaraan.
Mendengar semua yang dikatakan sang pria tua, James segera berlari ke arah dapur. Sayangnya di tengah jalan, kakinya tergelincir sehingga semua isi kantong itu jatuh berserakan. James tak sempat menyelamatkan satupun karena dengan cepat benda benda kecil itu menghilang di dalam tanah. Ia tak dapat berbuat banyak. 

Walaupun keajaiban tak terjadi pada dirinya, ia tahu benda hijau itu akan bereaksi pada sesuatu. Tak butuh waktu lama untuk melihat hasilnya. Buah persik di halaman tiba-tiba saja berubah menjadi sangat besar. Tentu saja semua itu tidak luput dari perhatian kedua bibinya. Awalnya Bibi Sponge berencana untuk memakan buah raksasa itu, tapi oleh Bibi Spiker, buah raksasa itu dijadikan sesuatu untuk meraup uang dari penduduk sekitar. Dalam sekejap uang pun mengalir dalam kantung- kantung mereka. Karena buah persik raksasa itu benar benar membut banyak orang penasaran. 

Walau berlimpahan uang, James dibiarkan kelaparan. Bahkan anak laki laki itu diusir keluar karena mereka tak ingin mendapat gangguan saat menghitung hasil yang mereka dapatkan hari itu. 

Di luar rumah, ia dapat melihat buah persik raksasa itu menjulang tinggi melibih segalanya. Seakan memiliki daya sihir, James mulai berjalan perlahan ke arah buah persik. Ketika menempelkan pipinya pada kulit lembut bua persik, saat itulah ia melihat lubang besar pada sisi bawah. Dengan perlahan ia pun masuk ke dalamnya. Ketika sampai dibagian tengah, dengan jelas ia mendengar suara seseorang. tak pernah disangka, suara itu ternyata berasal dari seekor belalang yang ukurannya jauh lebih besar dari ukuran normal. James ssangat terkejut melihat serangga itu tidak sendirian, disamping belalang, ada laba-laba besar, Kepik raksasa, Lipan dan cacing tanah, bahkan ulat sutera. Dan yang membuatnya semakin ketakutan adalah ketika mengetahui bahwa semua binatang itu kelaparan

James and the Giant Peach
(James dan Persik Rasasa)
Penulis: Roald Dahl
Alih Bahasa: Popy Damayanti Chusfani
Penulis: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I: September 2006
Tebal: 192 hlm