Wednesday, March 5, 2008

Saudagar Buku dari Kabul


Saudagar Buku Dari Kabul
Penulis: Åsne Seierstad
(The Bookseller of Kabul)
Penerjemah: Sodia Mansoor
Penerbit : Qanita
Cetakan I : Januari 2005
Tebal: 456 hlm

Pergantian penguasa di Afghanistan memberi banyak perubahan pada peraturan yang berlaku. Dari Pemerintahan Raja Zahir Shah, Komunix, Taliban sampai akhirnya di pimpin oleh Hamid Karzai. Peperangan mewarnai setiap perubahan tersebut yang memakan ribuan korban dan memaksa banyak warga mengungsi ke negara tetangga.

Semua warga yang tetap tinggal di atas tanah yang hampir sepenuhnya kering dan berdebu tak dapat berbuat banyak. Selain mengikuti semua peraturan yang berlaku
Termasuk Sultan Khan, sang Saudagar buku. Selama hampir 20 tahun bergelut dengan toko buku miliknya, tak terhitung berapa kali ia harus menyaksikan para serdadu membakar buku buku miliknya di jalanan..

Pada saat pemerintahan Raja Zahir Shah, tak ada masalah berarti yang dihadapi oleh bisni buku milik Sultan Khan, namun begitu Afghanistan dikuasai komunis, larangan menerbitkan buku berbau teologi diberlakukan. Walaupun demikian, secara sembunyi sembunyi buku –buku terlarang tetap diperjual-belikan. Penjara dan siksaan adalah akibat yang harus ditanggungnya ketika penggerbekan dilakukan.

Peraturan kembali berubah ketika kekuasaan jatuh di tangan Taliban. Semua buku bergambar disita secara paksa dan akhirnya musnah menjadi debu karena jilatan api. Tak hanya mengenai masalah buku bergambar, hampir semua karya seni yang dianggap bertentangan dengan hukum islam hancur lebur, rata dengan tanah.
Namun itu tak membuat kecintaannya pada buku surut. Ia terus berjuang membangun bisnis yang menghidupi diri dan keluarganya.

Tak hanya Sultan Khan yang terkena imbas dari pergantian pemerintahan itu. Wanita dalam keluarganya pun tak luput semua perubahan tersebut. Sejumlah aturan yang sangat ketat membuat mereka harus membawa burqa yang menggelembung ketika mereka meninggalkan rumah. Walaupun pemakaian burqa telah dilakukan sejak dulu oleh beberapa wanita namun begitu taliban berkuasa semua wanita wajib menutupi wajahnya dengan enda tersebut. Pada saat yang sama mereka juga harus ditemani oleh muhrim mereka. Berpakaian seronok tentunya akan membuahkan hukuman berat. Selain itu para wanita dilarangkeras untuk bekerja di luar rumah. Bahkan untuk mengecap pendidikan sekali pun. Kewajiban wanita hanyalah mengurus rumah, menyediakan makanan dan pakaian.

Aturan dalam keluarga yang telah menjadi tradisi turun temurun pun sama ketatnya dengan pemakaian burqa. Anak perempuan layaknya benda yang dibarter ataupun dijual. Mereka tidak dibenarkan memilih jodoh mereka sendiri. Pernikahan mereka atur oleh kesepakatan keluarga. Harga mereka dinilai dengan sejumlah barang seperti beras, daging, minyak dll, yang mampu dibayar oleh keluarga calon suami. Itu hanya sebagian cerita dari hal –hal yang harus dialami oleh wanita wanita di sekeliling Sultan Khan. Yang mungkin menjadi gambaran bagi seluruh wanita yang berada di Afghanistan saat itu.


**

Untuk pertama kalinya saya membaca buku yang tidak hanya berfokus pada satu tokoh. Buku ini mengangkat beberapa tokoh sekaligus. Sehingga dengan membacanya saya bisa melihat dari banyak sisi.

Setelah Kite Runner yang membuat saya terisak saat membacanya, ini adalah buku kedua yang mengambil setting Afghanistan, negara yang selama ini mendapat perhatian dari seluruh dunia sejak insiden11 September.
Tak seperti Kite Runner, buku ini membuat saya sedikit marah mengetahui semua perlakuan yang didapatkan para wanita di sana saat . Apalagi mengetahui bahwa banyak di antara mereka yang tidak diperkenankan bersekolah. Allah dan Rasulullah sama sekali tidak melarang wanita untuk mengecap pendidikan. Bahkan Rasulullah tidak membatasi perkataan “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri China” hanya untuk kaum pria.

Paad saat yang sama para wanita juga harus terkungkung dalam burqa yang membuat mereka kesulitan untuk berjalan. Hukum islam memang mengharuskan wanita untuk menutupi auratnya. Namun tidak ada larangan untuk memperlihatkan wajah dan telapak tangan. Semua itu jelas dipaparkan dalam hadis Rasulullah saw. “Wahai Asma’, seseungguhnya seorang wanita, apabila telah balig, tidak layak tanpak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)” (HR Abu Dawud).

Sampai sekarang saya masih tidak mengerti alasan apa yang menyebabkan Taliban memberlakukan aturan yang membuat para wanita Afghanistan diselimuti kebodohan.
Ilmu saya mungkin belum sampai ke sana. Saya memang masih harus banyak membaca tentang masalah yang satu ini.