Sunday, May 25, 2008

Review: Aku Hendak Pindah Rumah - M. Aan Mansyur




Terima kasih adalah dua kata yang spontan terucap ketika 101 puisi di buku ini selesai saya lahap. Mengapa hanya dua kata? Apakah saya pelit memberikan pujian ataukah stok kalimat saya habis untuk buku-buku lain. Tidak sama sekali. Kedua kata itu malah menjadi apresiasi terdalam saya terhadap semua kata kata yang terajut di dalamnya. Karena tidak seperti buku kumpulan puisi yang telah saya review sebelumnya, yang membuat saya pusing karena memaksakan diri untuk memahami makna yang tersirat. Puisi-puisi di dalam buku ini seakan mengerti masalah yang saya hadapi saat bertatapan dengan permainan kata tersebut. Pilihan kata yang sederhana membantu mata saya melihat keindahan yang dijanjikan oleh setiap puisi.


Aku Hendak Pilih Rumah, judul buku yang juga merupakan judul salah satu puisi yang tertulis di dalamnya, dikemas menjadi sebuah perjalanan singkat menelusuri setiap sudut di sebuah rumah. Di mulai dari taman depan sampai taman belakang, melalui beberapa pintu berlainan.


Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan
Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
agar makna sajakku tidak lenyap diperangkap ungkapan


Kata-kata di atas menjadi jaminan, saya tidak akan tersesat didalamnya dan tanpa ragu saya pun mulai melangkah masuk melalui pintu pertama, pintu lama, pintu kenangan. Tetesan hujan dan pepohonan menyimpan banyak cerita tentang para penghuninya. Dengan mudah saya memahami setiap rasa yang tersimpan dalam setiap kisah yang penuh kenangan berarti. Terdapat cerita tentang kepergian beberapa orang terdekat yang menimbulkan rasa haru bahkan cerita yang sering kali membuat saya tersenyum simpul. 


Berpindah ke pintu berikutnya, pintu hati, pintu persembunyian. Pohon dan tetesan hujan masih ada di dalamnya. Cerita kini berkisah tentang seorang sosok wanita yang terlihat sangat tegar walau luka dan rasa sepi seperti tak berhenti merajam di setiap detik kehidupannya. Yang tak berhenti membuat saya kagum adalah kasih sayang yang tak pernah pupus pada orang-orang di sekelilingnya, seakan tak peduli dengan semua kepedihan. Membuat saya teringat lagu Iwan Fals yang bertajuk Ibu.


Pintu baru, pintu kegaduhan mempunyai beberapa cerita yang unik. Pengemasan kata-kata yang beragam membuat semua puisi seakan berbicara bahkan tak sedikit yang meneriakkan sesuatu yang selama ini telah lama dipendamnya.


Pintu berikutnya adalah pintu waktu, pintu perjalanan. Terdapat beberapa baik singkat yang ditulis di setiap kot ayang disinggahi Aan dalam beberapa kesempatan dan dirangkain menjadi satu puisi. Tak banyak yang dapat saya ceritakan mengenai mengenai tulisan tulisan di dalamnya. Mungkin karena terlalu lama bermain di ruangan sebelumnya. Sehingga saya menjadi benar-benar kesusahan untuk mengeja setiap kata di dalamnya.


Dan sampailah saya di taman belakang. Saya kembali tersenyum membaca kalimat yang memang tersusun dari kata-kata yang sederhana namun menjadi penutup yang manis. Tak salah jika dalam salah satu puisi dalam buku ini tertulis:
“Kalimat yang suka berdandan tidak pernah cantik, bukan?”

Aku Hendak Pindah Rumah
Penulis: M.Aan Mansyur
Editor: Hasan Hapsahani
Penerbit: Nala Cipta Litera
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: 180 hal