Tuesday, May 27, 2008

Gadis Yang menikahi Seekor Singa


Gadis Yang menikahi Seekor Singa
Judul Asli: The Girl Who Married a Lion
Penulis: Alexander McCall Smith

Penerjemah: Sari Kusuma

Penerbit: Bentang

Cetakan: I, November 2005

Tebal: 198 hlm + xiv


Pada zaman dahulu di sebuah desa, seorang pria bernama Kumalo baru saja menikahkan anak perempuannya dengan seorang pria yang tak hanya tampan namun juga sanggup memberikan banyak ternak yang diinginkannya. Hilang sudah kekhawatirannya akan kehidupan anak perempuannya setelah menikah. Terlebih lagi anak perempuannya juga terlihat begitu bahagia menikah dengan pria yang begitu baik dan kuat.

Hampir semua orang dikeluarga Kumalo meras senang dengan pernikahan ini. namun tidak demikian dengan saudara lelaki anak perempuan itu. Ia merasa bahwa ada yang salah dengan suami saudara perempuannya. Bahkan dengan lantang berkata bahwa saudara perempuannya menikahi seorang singa. Tidak hanya itu, ia juga berkata bahwa singa itu menyamar sebagai seorang lelaki.

Tentu saja tak seorang pun percaya. Bahkan anak perempuan itu tidak menganggapi semua perkataan saudaranya dengan serius. Namun tetap saja saudara laki – lakinya berkeras dengan pendapatnya. Bahkan mengambil jarak dengan saudara iparnya.

Beberapa tahun berlalu, anak perempuan tersebut memiliki dua anak laki laki yang sama tampan dan kuatnya dengan ayahnya. Semua orang semakin yakin bahwa ucapan pria itu hanyalah bualan. Terlebih lagi pria itu tak dapat membuktikan ucapannya.

Sampai suatu hari, saudara perempuannya mengeluh mengenai bau aneh yang berasal dari suaminya. Penyelidikan pun dimulai. Mulai dari memeriksa barang barang milik iparnya bahkan sampai menguji apakah saudara iparnya benar benar seekor singa. Tak butuh waktu lama untuk melihat kebenaran dari semua ucapannya beberapa tahun lalu.

Kisah singkat di atas adalah salah satu dari beberapa cerita –cerita rakyat di dua negara di Benua Afrika tepatnya di Zimbabwe dan Botswana. Cerita – cerita dari mulut ke mulut itu di rangkum sang penulis ini memiliki beberapa kesamaan dengan dongeng – dongeng yang juga populer di negara lain. Hanya saja dikemas berdasarkan tradisi yang membuatnya menjadi sedikit berbeda. Lihat saja tingkah si kelinci yang tak pernah berhenti melakukan segala trik untuk mengalahkan sang raja hutan. Ataupun cerita ketika manusia dan para binatang di hutan dapat memahami satu sama lain.

Tema yang diangkat pun tak jauh –jauh dari kedengkian, tipu muslihat, dan ambisi yang berlebihan. Walau tak jarang beberapa cerita berakhir dengan kisah sedih, namun banyak nilai – nilai moral yang terkandung dalamnya. Mungkin saja kalau cerita rakyat dari Indonesia dikumpulkan tak akan kalah menggugahnya dengan kumpulan dongeng maupun fabel dari Afrika ini. Karena yang namanya dongeng ataupun fabel akan tetap menarik dibaca kapan pun.