Thursday, June 12, 2008

Alice The Series


Outrageously Alice
(Alice yang Luar Biasa)
Penulis: Phyllis Reynolds Naylor
Alih Bahasa : Vina Damajanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Desember 2007
Tebal: 144 hlm



Tiba – tiba Alice merasa hidupnya begitu membosankan dan biasa- biasa saja. Ia membutuhkan sesuatu yang baru ataupun apa saja yang bisa membuatnya tidak menjadi orang terbelakang. Seperti biasa, Lester dan ayahnya pun menjadi tempat menumpahkan segala uneg-unegnya

Perasaan senewen yang dirasakan Alice sebenarnya dikarenakan ia belum memilih kegiatan apapun untuk ekstrakurikulernya. Padahal pada saat yang sama kedua sahabatnya Elizabeth, Pamela, bahkan Patrick, pacarnya telah memutuskan dan memilih satu atau dua klub.

Di tengah keputusasaannya, akhirnya Alice memilih untuk mendaftarkan dirinya menjadi anggota Klub Kamera dan Klub Petualangan. Hari pertama di klub petualangan bukanlah awal yang menyenangkan. Alice merasa cerita perjalanannya ke Chicago tidka berarti apa – apa bagi anggota klub yang lain.

Bergabung di Klub Kamera berarti setiap anggotanya diharuskan kamera. Beruntung, Lester masih menyimpan kamera yang dikembalikan Crysta, saat mereka memutuskan untuk berpisah. Sehingga Alice tak perlu membeli yang baru. terlebih ia tak akin ayahnya akan meminjamkan kamera miliknya. Tugas pertama yang harus dilakukan Alice adalah mengambil subjek foto dengan menangkap bayangannya, memotretnya dari sudut berbeda, dan yang paling utama menangkap perasaan, jiwa, suasana, gerakan dan drama. Mereka diwajibkan menghabiskan satu rol film untuk memotret satu subjek saja.

Bergabung dengan dua klub yang di dalamnya tak ada Elizabeth, Pamela maupun Patrick. Satu perubahan yang membuatnya merasa sedikit kesepian sekaligus diakuinya sebagai suatu yang baru yang juga mengasyikkan.

Tak berhenti melakukan perubahan dengan mengikuti beberapa Klub, Alice juga mulai memakai riasaan wajah heboh ke sekolah. Bersama Pamela, ia mulai menghiasi rambut dengan gaya yang benar- benar aneh. Sayang, ketika ia menanggap hal itu adalah yang keren, orang – orang malah menganggap sebaliknya.




Achingly Alice
(Prioritas Alice)
Penulis: Phyllis Reynolds Naylor
Penerjemah: Vina Damajanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal: 128 hal

Pikiran Alice masih disibukkan dengan pikiran tentang hubungan Ayahnya dah Miss Summers- guru cantik bermata biru dan berambut cokelat muda. Alice sangat menginginkan Miss summers menikah dengan ayahnya dan tentu saja menjadi ibunya. Alice berharap paling tidak hubungan mereka menuju pada hubungan yang lebih seius. Toh, mereka telah berkencan selama setahun

Ia tahu bahwa pernikahan bukanlah suatu yang mudah. Keinginannya untuk membuat Miss Summers menjadi bagian keluarganya juga dipicu oleh sedikit gangguan dari luar. Ada pria lain yang juga mencintai Miss Summers. Pria itu tak lain adalah wakil kepala sekolahnya, Jim Sorringgers. Pria ini kembali setelah setahun mengejar gelar Ph.D-nya. Alice takut jika akhirnya Miss Summers kembali menjalin hubungan dengan pria yang selalu ditemani asistennya ini

Alice semakin senewen ketika mengetahui bahwa Miss Summers hanya akan menghabiskan waktu bersama mereka di malam natal dan hari natal. Di malam tahun baru, ayanya berkata ia akan menghabiskannya bersama Jim Sorringers.

Tak ada jalan lain selain mengarang sedikit cerita bohong demi menyelamatkan hubungan ayahnya dan Miss Summers. Sayangnya semua rencananya hanya membawa ke suatu hal yang tak pernah diduganya.




Alice On The Outside
(Sedihnya jadi orang pinggiran)
Penulis: Phyllis Reynolds Naylor
Penerjemah: Vina Damajanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal: 160 hal

Banyak hal yang dipelajari Alice menjelang usiannya yang ke empat belas. Tidak hanya pelajaran mengenai hubungan sex dari sepupunya Carol yang keren dan dewasa, Alice juga mendapat banyak pelajaran berharga dari peringatan Hari Internasional Pemberantas Prasangka Rasial yang diadakan di sekolahnya

Pekan Peningkatan Kesadaran(PPK) begitu nama kegiatan yang diselenggarakan oleh uhak sekolah. Setiap murid akan dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan warna rambut mereka. Kelompok A adalah anak anak yang memiliki rambur cokelat tua atau hita, yang berambut cokelat muda, mera atau pirang tua masuk kelompok B, dan kelompok C untuk murid – murid yang rambutnya pirang muda atau abu – abu.

Banyak peraturan baru yang harus mereka taati. Semua fasilitas sekolah tiba – tiba hanya boleh digunakan oleh anak anak kelompok A. Dari keran air minum, toilet, tangga, sampai makanan di kantin.Yang paling menderita adalah anak – anak di kelompok C. Walau Alice masuk kelompok B, namun tetap saja situasi di sekolah seperti ini tidak menyenangkan. Walau hal itu hanya berlangsung beberapa hari, perasaan sebagai orang pinggiran mencuat di mana – mana. Akhirnya semua mengerti bahwa prasangka dimulai dari berbagai cara berbeda. Salah satunya adalah diberitahu bahwa diri kita istimewa, atau lebih rendah dan kita mulai mempercayainya

Tak hanya dari PPK, Alice juga belajar bagaimana merasakan perasaan orang lain saat merak pada posisi orang-orang yang terpinggirkan. Karena beberapa pekan terakhir dia juga merasa menjadi bagian dari orang – orang tersebut