Thursday, June 19, 2008

The Bartimaeus Triology: Ptolemy’s Gate



Mengikuti petualangan Bartimaeus sungguh melelahkan. Seperti Bartimaeus, saya juga membutuhkan jeda sejenak. Sehingga ketika petualangan berikutnya di Ptolemy’s Gate telah sampai di rak buku, saya memutuskan untuk membiarkan tak tersentuh. Saya yakin Bartimaeus membutuhkan istirahat sejenak. Karena petualangan yang terakhir tidak hanya menguras energi dalam jumlah yang besar, bahkan nyaris merenggut nyawa jin berumur lebih dari 5000 tahun.

Berbulan-bulan berlalu. Ternyata jeda sejenak itu memakan waktu yang cukup panjang. Sampai akhirnya saya yakin siap untuk melanjutkan petualangan berikutnya. Hari selasa kemarin, saya pun mencoba untuk memasuk kembali ke dunia Bartimaeus. Warna hijau bercampur corak kehitaman adalah warna yang dipilihnya sekrang. Di depan, Batimaeus dalam wujud singa dengan tatapan khas dan membentuk senyum yang rasanya tak pernah berubah dari dua penampakan sebelumnya.

Seperti biasa, Bartimaeus mengajak saya kembali ke masa lalu. Tepatnya ke tahun 125 SM, di Alexandria. Jin yang satu ini memang tak pernah bosan memperlihatkan kemampuannya. Tak dipungkiri Rekhyt, begitu ia dipanggil saat itu, memang pantas untuk diberi decak kagum. Dari cerita singkatnya itu, Ptolemy adalah nama masternya yang berusia sangat muda.

Mengejutkan, ketika kembali, Bartimaeus tidak lagi sekuat Rekhyt. Ia terkapar tak berdaya hanya oleh sebuah bangunan roboh. Bartimaeus yang dulu mampu membuat badai pasir yang dahsyat, merobohkan hutan dalam satu embusan nafas, yang mampu bergerak seceat cheetah bahkan lebih, dan hal – hal hebat lainnya kini tak punya kekuatan tersisa. Yang memalukan, bangunan yang menimpanya adalah WC umum.

Tak berhenti sampai disitu, yang melakukannya adalah jin level tiga, yang biasanya dianggap sebelah mata. Oh ada apa dengan makhluk yang biasanya tak berhenti menyombongkan diri ini? Jeda yang saya berikan dari petualangan sebelumnya tidak bisa disebut singkat. Karena dalam jangka waktu itu saya telah berhasil menghabiskan beberapa petualangan di tempat yang berlainan. Tak cukupkan waktu yang saya berikan untuk mengembalikan semua energi yang terkuras akibat masalah yang ditimbulkan oleh Mata Golem?

Selidik punya selidik, orang yang bertanggung jawab atas semua rasa malu yang harus ditanggung oleh Sakhr Al jinni, N’gorso yang Hebat, dan sang Ular dari Silver Plumes, tak lain tak bukan adalah Nathaniel atau yang sekarang dikenal dengan nama Mr John Mandrake. Penyihir yang dua tahun lalu diangkat sebagai Menteri Penerangan ini tak sekalipun memberikan istirahat bagi Bartimaues. Mandrake memang punya alasan kuat untuk menahan Bartimaues. Mengingat kedudukannya yang tinggi ini banyak mengundang musuh di mana-mana, ia tak ingin jika suatu saat melepaskan Bartimaeus, nama kecilnya akan tersebar. Tak ada jaminan kalau mulut Jin ini akan tetap tertutup.

Selain itu, Nathaniel harus menyelesaikan banyak masalah dalam satu waktu. Salah satunya adalah masalah yang belum juga tuntas sejak dua tahun lalu. Nathaniel membutuhkan lebih banyak bantuan untuk menyelidiki siapa saja yang berdiri di balik pengkhianatan dua tahun lalu. karena hingga kini ia tak juga mendapatkan bukti apapun yang menyatakan bahwa pria yang bernama Mr Hopkins ini terlibat insiden di makam Gladstones. Belum lagi usahanya meyakinkan masyarakat London untuk semua tindakan yang diambil pemerintah. Sehingga tak sadar bahwa ia telah menahan Bartimaues di bumi untuk waktu yang sangat lama. Tak heran mengapa energi Bartimaeus memudar dengan cepat.

Sampai akhirnya dalam keadaan sangat buruk, Nathaniel dengan terpaksa melepaskannya. Ia tak punya pilihan lain. Walau ia tahu musuh yang dihadapinya kini, tak main-main akan memporak-porandakan kementrian sihir.

Terlepas dari mantera pengikat, membuat Bartimaeus sedikit merasa lega. selain karena dapat kembali menghirup udara kebebasan, ia juga dapat memulihkan tenaganya. Disayangkan, kebebasan yang dirasakannya kembali terenggut. Seseorang telah memanggilnya bahkan di saat kekuatannya belum seutuhnya pulih.

Terkejutlah Bartimaeus ketika mengetahui bahwa kali ini bukan Nathaniel yang memanggilnya. Yang nyaris membuatnya syok, masternya kali ini adalah seorang commoner yang tak asing lagi, Kitty Jones. Dari percakapan keduanya, ternyata selama dua tahun belakangan ini, Kitty melakukan penelitian mengenai dunia sihir dan para demon. Tak perlu terkejut jika ia mengetahui masa lalu Bartimaes dan masternya, Ptolemy

Di tempat lain, Nathaniel gelisah karena tahu bahwa ada seseorang yang telah memanggl Bartimaeus. Belum lagi dipusingkan oleh tuntutan dari perdana menteri.

Baik Kitty Maupun Nathaniel tak tahu bahwa sebuah skenario jahat telah disusun. Sebuah konspirasi yang sangat mengerikan yang melibatkan para penyihir dan jin. Tak tanggung – tanggung jin yang digunakan adalah Jin sekelas Afrit bahkan lebih. Sejarah sihir akan mencatatanya sebagai ancaman paling berbahaya.

Tak perlu bercerita lebih panjang lagi mengenai seram dan kacaunya petualangan kali ini. Bukan tak sanggup menceritakan apa yang terjadi. Tapi rasa sesak yang meruak secara tiba tiba menghalangi saya untuk menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Saya benar- benar tidak siap dengan akhir yang diberikan sang penulis. Sesegukan adalah jalan terakhir untuk menghilangkan semua rasa. Sempat terbersit kata protes, namun mungkin ini akhir yang terbaik.

The Bartimaeus Triology: Ptolemy’s Gate
Judul Indonesia: Gerbang Ptolemy
Penulis: Jonathan Stroud
Alih Bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I: September 2007
Tebal: 576 hlm