Thursday, July 24, 2008

Review: Edgar & Ellen: Under Town _ Charles Ogden

Seakan tak pernah merasa lelah ataupun puas, Edgar & Ellen kembali menyusun rencana yang tak kalah gelap dibanding semua kekacauan yang telah mereka timbulkan saat parade besar-besaran dilaksanakan di Nod’s Limbs beberapa waktu lalu. Mengandalkan Pemakaman Gadget, mereka selalu menemukan benda yang berguna yang dibutuhkan dalam merealisasikan ide-ide gila yang dituliskan Edgar dalam beberapa lembar kertas.
Rasa bersalah tak sekalipun muncul diwajah keduanya. Yang ada hanyalah senyum pertanda rasa puas ketika berhasil membuat orang –orang menggerutu. Sampai suatu hari tibalah giliran si kembar, yang selalu mengenakan piama kemanapun mereka pergi, merasakan hal yang sama. ide – ide kenakalan mereka telah diwujudkan oleh seseorang. Tak berhenti sampai disitu, rencana yang seharusnya hanya diketahui oleh Edgar dan Ellen ini juga membubuhkan nama Mason. Seakan digunakan untuk mematenkan semua kekacauan yang menyebabkan kemacetan luar biasa adalah miliknya seorang.
Belum juga sembuh dari kejutan menyakitkan dan rasa kesal karena belum juga mendapatkan orang dibalik sosok Mason, Edgar & Ellen harus menelan pil pahit ketika mengetahui bahwa rencana Walikota Knightleigh tetap menjalankan rencananya membangun Hotel di atas tanah Tempat Pembuangan Sampah.
Penyelidikan demi penyelidikan pun dimulai. Saluran pembuangan bawah tanah yang gelap dan kotor pun mereka susuri. Tak disangka, saluran – saluran yang berabad-abad lalu selalu bersih, terang dan terawat itu memiliki banyak cabang yang cukup membingungkan. Namun itu tak mematahkan semangat keduanya untuk mencari sang biang kerok yang berulang kali mencuri ide milik Edgar & Ellen.
Penyusuran mereka tak sia-sia. Beberapa barang bukti berhasil ditemukan. Sampai kesimpulan mengarah pada seseorang yang tak pernah mereka duka. Seseorang yang mereka takuti. Jebakan pun dibuat untuk menangkap sang pengkhianat. Namun pada saat mengetahui bahwa kekacauan lain terjadi. Mereka sadar bahwa orang yang mereka tangkap bukanlah Mason. Di luar sana Mason yang asli masih berkeliaran dan dengan bebas menjalankan satu lagi ide milik mereka.
Tak hanya Edgar dan Ellen, semua orang pun akan merasa geram jika mengalami hal yang sama. Pencurian ide oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab merupakan gangguan pada semboyan Schadenfreude mereka. Gangguan yang lebih tepat disebut sebagai ancaman. Karena kini ada satu warga kota Nod’s Limbs yang mengetahui rahasia kelam mereka. Entah apakah ini akan menjadi hal yang mempengaruhi langkah mereka berikutnya. Semuanya hanya akan terjawab diseri Edgar & Ellen berikutnya.
Berbeda dengan buku – buku sebelumnya, buku ini terasa sedikit menyedihkan. Selain itu di buku ini terdapat misteri yang tidak kunjung terjawab sampai di akhir halaman.
Berbicara tentang terjemahan, ada penamaan yang berubah. Kuburan Perkakas, dua kata yang pada buku pertama dan kedua digunakan oleh Edgar dan Ellen untuk menyebut tempat pembuangan sampah kini berubah menjadi Pemakaman Gadget. Sesuatu yang mungkin luput dari perhatian penerjemah dan editor. Walaupun tidak mempengaruhi jalannya cerita, ada baiknya tidak ada perubahan apaun terhadap nama tempat. 

Edgar & Ellen: Under Town
Penulis: Charles Ogden
Penerjemah: Theresia dewi
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal:176 hlm