Friday, July 18, 2008

Review: Mitsuko-Kara Dalkey



Fujiwara No Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Seperti gadis bangsawan lainnya di istana kekaisaran, Mitsuko hidup di balik tirai kesopanan, memakai kimono berlapis-lapis untuk menutup bentuk tubuhnya dan — bila di hadapan umum — menyembunyikan wajahnya di balik lengan kimono.

Tetapi Mitsuko bukan gadis biasa. Ketika desanya diserang bandit, kakak ipar laki-lakinya terbunuh, dan keluarganya dibawa pergi seorang pemimpin militer, Mitsuko mendapatkan keberanian untuk memasuki dunia bawah. Dengan bantuan tengu — makhluk berwujud burung gagak — dan makhluk-makhluk fantastik lainnya, Mitsuko melakukan perjalanan demi memulihkan harta dan kehormatan keluarganya

Novel yang mengambil Jepang sebagai settingnya selalu punya daya tarik tersendiri. Tidak heran begitu melihat judul buku dengan seorang gadis mengunakan kimono sebagai covernya, saya segera memasukkannya ke keranjang belajaan tanpa sempat melihat lagi resensi di belakangnya.

Mitsuko, kata yang menjadi judul buku, yang juga adalah nama seorang gadis bangsawan yang menjadi tokoh sentral dan sebagai narator yang mengisahkan perjuangannya untuk bebas dari bencana yang nyaris membuat keluarganya hancur berantakan.

Sungguh disayangkan memang. Karena sebelumnya kehidupan keluarga Mitsuko sangat menyenangkan. Bersama ayah, ibu, ketiga kakak peremuan serta adik laki-lakinya, mitsuko sungguh menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama. kehidupan sebagai gadis bangsawan dirasakannya sangat nyaman.nyaris tidak ada keluhan di dalamnya. semua kebutuhan mereka dengan mudah terpenuhi. Terlebih ketika ayah Mitsuko mendapat jabatan tinggi dalam pangkat kekaisaran. Rentetan keberuntungan mulai memasuki keluarganya. Salah satunya adalah ketika kakak sulungnya, Amaiko menikah dengan Yugiri, seorang pria terhormat yang punya masa depan yang gemilang.

Namun layaknya roda, kehidupan juga berputar ke atas dan ke bawah. Keadaan menyenangkan yang terjadi di keluarga Mitsuko mendadak berganti dengan sebuat traged. Biarawan dari gunung Hiei dan Kuil Chizuko adalah penyebabnya. Dari seorang gadis penjaja mochi,Mitsuko mengetaui bahwa para biarawan masuk ke kota dan mulai membakar rumah para bangsawan. Tak perlu menunggu lama hingga akhirnya ibu Mitsuko memutuskan untuk membawa anak-anaknya meninggalkan kediaman mereka yang entah kapan akan menjadi sasaran pembakaran berikutnya. Ayah mitsuko sendiri tak jelas keberadaannya.

Sayangnya, malang tak dapat di tolak, mujur tak dapat diraih. Di tengah perjalanan menuju tempat pengungsian, kereta mereka dicegat oleh sekelompok biarawan. Perkelahian tak dapat dielakkan. Biarawan memang berhasil diusir. Namun Yugiri, suami Amaiko tewas karenanya.

Kesedihan yang mereka rasakan kini semakin bertambah. Semakin menumpuk ketika tahu bahwa tempat mengungsi yang disediakan bagi mereka tidak layakuntuk ditempati. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka pun memilih untuk tinggal.

Masalah seakan tidak berhenti. Kehilangan suaminya ternyata memberi pukulan yang amat dalam bagi Amaiko. Kakak perempuan yang dulu selalu dibanggakan oleh Mitsuko kini layaknya mayat hidup. tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terpancar di kedua matanya.
Karena tak ingin kehilang satu anggota keluarga lagi, Mitsuko akhirnya memutuskan untuk menyembuhkan kakaknya. Walaupun itu berarti harus meninggalkan anggota keluarga lainnya.

Tanpa rencana matang dah arah tujuan yang jelas, keraguan mulai melanda mitsuko. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang Tengu – manusia gagak- dan makluk lain dalam mitos jepang di sebuah kuil. Beruntung salah satu tengu bersedia membantunya. Walau bersama seseorang dengan kemampuan di atas rata- rata manusia biasa, perjalanan menyelamatkan Amaiko bukanlah hal yang mudah.

Petualangan yang cukup menarik. Tempat – tempat yang disinggahi oleh Mitsuko membuat saya teringat dengan beberapa tokoh yang perna muncul di serial Monkey King. Sehingga tidak ada kesusahan untuk membayangkan perawakan mereka. Tapi satu hal yang membuat saya tetap penasaran adalah sosok sang Tengu. Karena buku inilah yang pertama kali membahas tentang tengu. Pernah sih sekali melihatnya di komik tapi itu juga tidak hanya sebagai tokoh yang numpang lewat. Bahkan di serial manapun tidak ada yang membahas manusia gagak ini. Semoga di Search Engine Google nanti akan mudah mendapatkannya.


Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Juni 2007
Tebal: 247 hlm