Monday, August 4, 2008

Life’s Golden Ticket


Life’s Golden Ticket
Judul Indonesia: Tiket Emas Kehidupan
Penulis: Brendon Burchard
Penerjemah: Lanny Murtihardjana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2008
Tebal: 320 hlm

Bagaimana seandainya Anda diberi tiket ajaib yang dapat membuat Anda menjalani hidup dari awal lagi? Apakah Anda akan mengulangnya kembali?

Kalimat di atas berada di halaman pertama ketika membuka buku dengan sampul yang tampil dengan warna mencolok ini. Otak saya langsung bereaksi dan sampai pada praduga bawa buku yang diberi tag Novel Dewasa ini sejenis dengan buku karangan Mitch Albom , Five People You Meet In Heaven ataupun One More Day.

Melangkah ke Prolog, praduga itu berubah menjadi keyakinan dan akhirnya menyisakan pertanyaan, Apakah buku ini akan membuat saya sesegukan seperti kedua buku di atas? Di akhir paragraf terdapat kalimat bijak yang tak asing
“ Akan tiba saatnya ketika Anda percaya semuanya sudah berakhir. Justru itulah permulaannya”. Walaupun sering diucapkan ole beberapa orang namun hingga kini saya tak kunjung saya mengerti maknanya.

Begitu menyelesaikan buku ini hingga ke halaman terakhir, saya baru sadar bahwa tak sekalipun nama pria yang menjadi tokoh utama di buku ini disebut. Kiddo, begitu akhirnya saya memanggilnya. Setidaknya dalam beberapa kali ia disebut seperti itu.

Cerita bermula dari Kiddo yang mengetahui bahwa tunangannya, Mary Higgins akhirnya ditemukan, setelah menghilang selama beberapa pekan. Sayangnya saat ditemukan kondisinya sangat parah dan menyebabkannya harus mendapat perawatan medis. Kiddo yang sampai akhir cerita ini tak juga disebut namanya merasa lega sekaligus cemas. Lega karena ia bisa keluar dari daftar tersangka sang detektif yang menganggapnya terlibat dalam kasus hilangnya Mary. Cemas, karena keadaan Mary sangat kritis.

Keajaiban akhirnya datang ketika Mary membuka mata. Ia menyuruh tunangannya mengambil amplop yang berada di jaketnya. Ia juga harus mengunjungi Bowman’s Park, taman hiburan di daerah pegunungan. Tempat itu telah lama ditutup karena seorang anak laki laki jatuh dari kincir angin. Anak laki – laki itu tak lain adalah saudara Mary. Walau merasa aneh, akhirnya Kiddo memutuskan untuk berangkat saat itu juga.

Sepi, suram dan mengerikan. Itulah suasana yang ditangkap oleh Kiddo saat memasuki Bowman’s Park. Hanya dalam beberapa menit mengitari tempat tersebut, Kiddo mendapat banyak hal yang membuatnya tersentak dan terkejut. Ia nyaris tak mempercayai apa yang dilihat dan didengarnya. Namun janji pada Mary tak memberi pilihan lain. Ia harus menyerahkan amplop tersebut pada seseorang yang berarti dalam hidup Mary. Walau itu berarti ia harus menjelajai wahana demi wahana.

Sepi, suram dan menakutkan?
Apakah ini buku horor? Jangan salah sangka dulu. Tak akan ada pertumpahan darah dalam buku ini. yang ada hanyalah uraian air mata. Seperti yang terjadi pada saat saya membaca setiap bab di buku ini. Banyak hal mengharukan didalamnya. Itu juga yang menjadi satu alasan mengapa saya mengaitkan buku ini dengan Five People You Meet In Heaven dan One More Day karya Mitch Albom. Tidak hanya dari setting tapi isi cerita. Tidak persis sama. tapi kalau ditarik benang merah, mereka saling terhubung

Tak hanya dari Setting, kata Golden Ticket atau Ticket Emas adalah kata yang tidak asing. Charlie and The Chocolate Factory, beberapa reality show ataupun adu bakat di TV juga menggunakan istilah ini. Walau masing – masing memiliki fungsi yang berbeda, namun isinya satu memberikan hak istimewa bagi setia pemegangnya. Seperti itulah yang terjadi pada Kiddo.

Membaca buku ini layaknya membaca sebuah buku motivasi atau pun seminar-seminar kepribadian yang pernah saya ikuti. Bedanya Brendon Burchard, sang penulis, mengemas dengan cerita yang menarik. Dari epilog maupun lembaran terakhir, tertulis bahwa Brendon Burchard mengalami kecelakaan hebat yang nyaris merenggut nyawanya yang sekaligus menjadi titik balik bagi kehidupannya. Hampir seluruh waktunya digunakan untuk membantu orang lain dan tak butuh waktu lama untuk menjadi motivator. Dari www.lifesgoldenticket.com, website miliknya, ia tak hanya mempromosikan buku ini namun ia memiliki seminar-seminar yang terbuka untuk umum. Sekali lagi perasaan saya tidak salah.

Jadi bagi yang anti dengan buku-buku pembangkit semangat yang ditulis dengan gaya yang serius, mungkin buku ini bisa dijadikan pilihan.

Masih dari website yang sama, saya juga melihat sampul asli dari Life’s Golden Ticket yang setidaknya memberi gambaran tentang setting yang digunakan dalam buku. Sayangnya itu tidak terlihat dalam sampul versi bahasa indonesia. saya benar-benar tak menangkap apapun dari gambar itu. Nampaknya satu lagi pertanyaan yang timbul.