Thursday, August 28, 2008

Samurai : Kastel Awan Burung Gereja


Samurai : Kastel Awan Burung Gereja
Judul Asli: Cloud of Sparrows: An Epic Novel of Japan
Penulis: Takashi Matsuoka
Penerjemah: Esti Ayu Budihabsari
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Januari 2005
Tebal: 820 hlm


Sekitar tahun 1861, masa transisi terjadi di pemerintahan Jepang. Tak sedikit perubahan yang terjadi. Salah satunya adalah adanya perjanjian dengan pemerintahan bangsa lain. Hal yang selama puluhan tahun tak pernah dilakukan. Perjanjian ini juga yang mempermudah bagi orang asing termasuk para misionaris untuk masuk dan menginjakkan kaki ke negeri matahari terbit ini, tanpa harus tunduk pada hukum yang berlaku di Jepang.

Kebijakan ini menimbulkan keresahan bagi beberapa pihak. Apalagi melihat sepak terjang para misionaris yang seakan dengan mudahnya membuat penduduk di beberapa bagian Jepang beralih dari agama yang bertahun – tahun mereka anut.

Dulu sewaktu Shogun Takugawa I, Ieyasu, memegang tampuk kekuasaan. Masalah yang ditimbulkan oleh para misioanaris dengan mudah diatasi. Dengan keras ia melarang semua individu untuk memeluk agama kristen. Bahkan dengan lantangnya mengusir para pendeta asing, menyalib puluhan ribu rakyat yang dicurigai telah berpindah agama. Sehingga dalam jangka waktu 200 tahun, agama kristen tak berhasil masuk ke Jepang.

Namun keadaan kini berubah. Para misionaris diperlakukan dengan lebih sopan. Bahkan seorang Genji Okumichi, Daimyo Akaoka, Bangsawan Agung pun memberikan perlindungan dan menjamin keselamatan pada tiga misionaris yang baru saja menapakkan kaki mereka ke Jepang.

Bagi orang – orang asli Jepang yang membenci para pendatang menjadi semakin gerah. Bukan suatu hal yang mengherankan jika Kepala Polisi Rahasia Shogun, Kawakami Eiichi membenci sikap yang terkesan sangat lemah Genji. Kawakami menganggap tindakan Genji sungguh keterlaluan. Rencana demi rencana pun disusunnya untuk menyingkirkan pria yang tidak pantas dianggap seorang samurai. Semua tercermin dari sikap Genji, yang terlihat sangat feminin, hanya mememntingkan kesenangan dunia, merusak citranya dengan wanita dan sake.

Bagi Genji sendiri, ia punya alasan kuat mengapa memutuskan untuk mengambil tindakan demikian. Semua bersumber dari ramalan. Ia tak perlu pendapat seseorang untuk mengetahui keakuratannya. Karena kemampuan mengetahui masa depan telah menjadi warisan turun temurun di keluarganya. Lihat saja Pamannya, Lord Shigeru, kakeknya, Lord Kiyori dan tentu saja para leluhurnya. Walau mengikuti ramalan yang bertujuan untuk menyelamatkan dirinya tidak berarti bahwa bahaya berhenti mengancam.


Buku yang menarik. setidaknya dari sisi sejarah pemerintahan Jepang yang dicampur dalam cerita fiksinya. Buku ini tidak hanya membuat saya semakin penasaran dengan pergantian demi pergantian yang terjadi pada sistem politik Jepang di masa lalu.

Puluhan artikel tentang Negeri Matahari Terbit ini telah saya download. Namun entah mengapa tidak satupun yang membuat saya mengerti tahapan pergantian yang terjadi hingga menjelma menjadi negeri Jepang yang modern seperti sekarang ini. Semua hanya berupa potongan – potongan yang saya kumpulkan dari beberapa novel, animasi ataupun film seperti The Last Samurai.

Saya juga jadi tertarik memahami bagaimana sosok seorang pria yang pantas disebut seorang samurai. Tentunya tidak dapat sepenuhnya melihat Genji sang tokoh utama yang disebut – sebut tidak memiliki ciri-ciri tersebut. yang jelas dari buku ini saya mengetahui bahwa kata kehormatan dan kesetiaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sikap mereka. Beberapa kawan mengatakan bahwa sosok itu bisa terlihat pada Miyamoto Musashi. Sayangnya Novel yang memuat kisah hidupnya tak kunjung hadir di rak buku saya.

Dibalik asyiknya menelusuri cerita Samurai ini, saya sedikit terganggu dengan bentuk dan desain buku. Tidak hanya menjadikan buku ini menjadi sangat tebal namun juga ketidaknyamanan saat memegangnya. Entah apakah karena seperti itulah bentuk aslinya ataukah Qanita membuatnya agar seragam dengan semua desain buku – buku yang telah diterbitkan sebelumnya.