Sunday, August 3, 2008

Tiga Sekawan Wright



Tiga Sekawan Wright
Judul Asli: The Wright 3
Penulis: Blue Balliett
Ilustrasi: Brett Helquist
Penerjemah: Edrijani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Maret 2007
Tebal: 365 hlm + xviii

Tidak diragukan lagi Blue Balliett adalah seorang pengagum seni. Setidaknya itu terbukti dari dua bukunya yang telah terbit di Indonesia. Setelah mengambil lukisan A Lady Writing karya Vermeer sebagai tema sentral di Chasing Vermeer, kali ini Blue Balliett mengambil sebuah rumah yang memiliki nilai historis di Chicago. Robie House begitu bangunan yang dirancang oleh Frank Lloyd Wright.

Walau di belakang buku Blue Barriett menyertakan gambar rumah tersebut dan Brett Helouist telah menggambarkan sketsanya, namun rasanya ada yang kurang. Perlu bantuan Wikipedia untuk menjawab semua rasa penasaran ini.

Mengagumkan. Begitu melihat gambar aslinya, nyaris tidak ada perbedaan sama sekali. Semua ilustrasi yang digambarkan Brett Helouist sangat detail. Dari gambar depan sampai kaca jendela. Melihat beberapa bagian rumah yang pembangunanya selesai bulan januari 1911 itu memang terlihat unik. Sayang, hanya bagian luar saja yang diperlihatkan. Padahal di dalam buku juga digambarkan beberapa hal yang menarik.

Dari sumber yang sama, terdapat sejarah yang panjang tentang pada penghuni Robie House dan gaya arsitekturnya.sayangnya tak dapat saya pahami.

Jadi ada apa dengan Robie House di petualangan Calder dan Petra?
Ternyata saat itu diputuskan oleh pemerintahan Chicago untuk membongkar Robie House. Yang nantinya akan dibagi menjadi beberapa bagian dan ditempatkan di beberapa Museum. Ada apa dengan pemerintah? Tidakkah mereka menghargai karya seni. Ternyata semua itu berawal dari banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk merawat bangunan tersebut.

Tentu saja banyak pihak yang tidak menyetujui keputusan tersebut. termasuk diantaranya Miss Hussey, guru kelas mereka. beberapa rencana disusun untuk menggagalkan usaha pembongkaran. Sebuah aksi besar yang melibatkan Cadler, Petra serta teman – teman sekelas pun dilaksanakan.

Anehnya, sejak diumumkannya keputusan pemerintah setempat, kejadian demi kejadian aneh terjadi di Robie House. Desas-desus terbentuk dengan cepat. Bahkan terdengar selintingan tentang keberadaan sosok gaib yang menghantui Robie House.

Calder dan Petra kembali beraksi. Tim mereka ditambah lagi dengan Tommy, sahabat lama Calder. Sayangnya ada konflik internal yang terjadi. sehingga konsentrasi mereka terpecah. Tak hanya harus memikirkan Robie House namun hubungan persahabatan diantara ketiganya yang juga berada diujung tanduk.

Seperti di Chasing Vermeer, kata kebetulan, pentomino, buku bekas, sandi rahasia masih menjadi bagian buku ini.

Pentomino kini hadir dalam bentuk tiga dimensi. Walau telah melihatnya beberapa kali, tetap saja saya tidak dapat benar-benar menghapal polanya. Mungkin butuh ketekunan seperti Calder.

Kehadirnya Tommy juga memberi sesuatu yang baru. Beberapa hal saya pelajari dari tokoh yang satu ini. Sifatnya membuat saya teringat dengan kata perubahan. Sesuatu yang mutlak terjadi dalam kehidupan. Siap atau tidak.

Hanya bagian Petra saja yang tidak menimbulkan kesan apa-apa. Bahkan terasa membosankan.

Dari bagian ilustrator sendiri, kembali memberi tantangan bagi para pembaca untuk memerhatikan dengan teliti semua ilustrasi yang dibuatnya. kali ini untuk sangat mudah untuk mendapatkan jawabannya. Lain halnya dengan tantangan yang pertama. Sampai terakhir kali, saya tidak mendapatkan kode apapun.

Kode lain yang dibuat oleh ketiga anak –anak itu juga tidak kalah menarik. Saya butuh beberapa lama untuk memecahkannya. Rasanya akan menjadi cara yang bagus untuk memnyembunyikan rahasia di journal harian.

Jika membandingkan dengan Chasing Veermer saya cenderung lebih menyukai buku ini. Buku pertama terasa sangat berat. Dari wikipedia, buku ketiga yang berjudul The Calder Game telah diterbitkan pada bulan April lalu. Semoga pihak Qanita tidak akan melewatkan serial berikutnya.