Sunday, August 3, 2008

Vienna Blood


Vienna Blood
Penulis: Frank Tallis
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Juli 2007
Tebal: 592

Setelah A Death In Vienna, serial yang ditulis Frank Tallis kembali lagi dengan Vienna Blood. Judul yang memiliki bau yang “sama”. Sehingga dapat dipastikan, seperti sebelumnya, di buku ini juga terdapat beberapa kejadian yang menelan korban dan bersama sahabatnya, Inspektur Detektif Oskar Rheinhardt, sang dokter dengan psikoanalisisnya kembali beraksi memecahkan misteri.

Insiden berdarah dibuka dengan ditemukannya anakonda yang tidak bernyawa di Tiergarten. Yang mengerikan, binatang dengan ukuran raksasa itu terpotong menjadi beberapa bagian. Tak ada barang bukti yang terdapat disekitar lokasi kejadian. Sang pawang juga tak dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena ia dipukul oleh sang pelaku hingga kehilangan ingatan.

Belum juga berhasil mendapatkan motif maupun tersangka dari insiden di kebun binatang, kejadian yang menelan korban kembali terjadi. Tak hanya satu namun empat sekaligus. Semua daerah kejadian disisir tanpa sisa oleh Inspektur Rheinhardt beserta asistennya. Beberapa nama masuk dalam catatannya.

Tak dinyana, saat sibuk dengan interogasi yang dilakukannya, korban- korban lain kembali berjatuhan. Geram, tentu saja. Karena tak hanya dibuat pusing oleh tingkah sang pelaku. Inspektur Rheinhardt juga harus berhadapan dengan tuntutan atasan untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut, seakan tak mengerti kesulitan yang dihadapinya

Tentu saja bantuan Maxim Liebermann sangat berarti, walau tetap tak yakin pada beberapa teori yang diungkap oleh sahabatnya. Seperti kasus sebelumnya, Miss Lydgate, wanita kenalan Liebermann kembali dilibatkan. Berpacu dengan waktu, ketiganya berusaha keras untuk mengumpulakn bukti – bukti sebelum lebih banyak korban yang berjatuhan. Butuh beberapa lama untuk menyadari bahwa ada satu hal yang menghubungkan semua rentetan pembunuhan yang terjadi.

Kisah kali ini sungguh menarik. tak hanya dari kasus yang ditangani oleh sang inspektur. Bahkan kehidupan pribadi Maxin Liebermann pun rasanya sayang untuk dilewatkan. Sayangnya ketika buku ini sampai ada halaman terakhir, kisah Lieberman masih sedikit menggantung. Semoga saja dibuku berikutnya semua rasa penasaran ini bisa terjawab.

Beberapa pertanyaan berkisar pakaian transportasi, hingga konser-konser musik semua terjawab di buku ini. Walau beberapa hal masih harus mengandalkan Wikipedia. Terlebih untuk mengerti keadaan kota Vienna beserta gedung – gedung yang digunakan Frank Tallis sebagai setting. Rasanya menyenangkan melihat tmpilah depan gedung – gedung yang dikunjungi Lieberman, terlebih ketika akhirnya isa melihat makanan yang digambarkan sangat lezat oleh Inspektur Rheinhardt

Yang tak kalah mengejutkan adalah Liebermann hidup dimasa yang sama dengan salah satu tokoh besar dalam sejarah dunia. Beberapa teori yang diungkapkan dalam buku ini sedikit membuat bingung. Namun setidaknya bagaimana prinsip dasar psikoanalisis dengan jelas tergambar dalam buku ini.

Sedikit membuat saya kewalahan adalah nama- nama tokoh – tokoh tambahan yang membingungkan. Mungkin dikarenakan penggabungan huruf – huruf itu bukan hal yang lazim digunakan. Butuh waktu lama bagi saya untuk dapat membedakan satu toko dengan tokoh lainnya.

Musik juga mengambil bagian besar dalam buku ini, baik dari piano yang dimainkan Liebermann ataupun dalam konser juga tak dapat saya nikmati. Saya menyukai lagu klasik namun tidak sampai membuat saya hapal luar dalam. Apalagi jumlah mereka ribuan.

Namun diluar dari kekurangan-kekurangan itu, buku ini layak dibaca bagi pencinta novel detektif. Semoga buku berikutnya dapat segera diterbitkan.