Saturday, January 19, 2008

Review: Alice The Brave - Phyllis Reynolds Naylor


Alice the Brave
(
Alice Sang Pemberani)
Phyllis Reynolds Naylor

Alih Bahasa:Vina Damajanti

PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1, Desember 2007
Tebal : 144 hal
Buku kali ini bercerita tentang liburan musim panas Alice. Liburan yang dihabiskan bersama Elizabeth dan Pamela sebelum masuk kelas delapan. Pacarnya,Patrick, menghabiskan waktu dengan berlibur di Kanada.
Liburan kali ini cukup seru bagi Alice. Di mulai dari Kisah 1001 malam Edisi tidak disensor yang dibaca Elizabeth, menerima surat berantai dari St. Jude dan mengirimnya kepada Ms. Summer sampai menghabiskan waktu di kolam renang milik Mark, pacar Pamela. Sebenarnya ia tak pernah merasa nyaman ketika berada di sana. Sayangnya Pamela dan Elizabeth malah terlihat menikmati kegiatan renang itu.
Alice punya alasan tersendiri mengapa ia tak merasa nyaman. Ia tak seperti Pamela dan Elizabeth yang dengan mudah menggerakkan badan mereka di atas papan loncat. Terlebih kolam renang milik Mark cukup dalam. Kalau air kolam masih sepinggang, mungkin tidak akan menjadi kekhawatiran dan ketakutan yang berlebih bagi Alice, tapi kali ini berbeda. Sehingga ketika teman –temannya mencoba melemparkannya ke dalam air, Alice berubah menjadi sangat kalap.
**
Ally pengen teriak ke telinganya Alice, kalau dia tuh nggak sendiri. Ally juga nggak bisa berenang. Hiks...hiks...hiks...Pengalaman berapa kali tenggelam di laut waktu SD dan tidak sekalipun diijinkan ikut berenang sama kakak2 waktu TK mungkin menjadi dua faktor kenapa sampai sekarang saya tidak bisa berenang. Yah, tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai. Tapi masalahnya di sini nggak ada kolam renang khusus wanita. Kolam renang yang ada semua terbuka untuk umum. Kapan yah di Makassar ada kolam yang diperuntukkan hanya untuk perempuan.? Bisa berenang dah jadi resolusi bertahun-tahun.
Balik tentang Alice, Anak perempuan yang satu ini mulai menanyakan hal hal yang membuat abang dan ayahnya kaget. Mereka tak menyangka kalau Alice ternyata telah beranjak dewasa. Hihi...mungkin pengaruh buku yang dibaca ma Elizabeth yah? Di buku ini juga, saya jadi makin suka dengan Lester. Karena terbukti bahwa Lester benar – benar sayang ma adiknya. That’s what a sibling is for.
Desain covernya manis.

Review: The Golem’s Eye by Jonathan Stroud


The Golem Eye
(Mata Golem)
The Bartimaeus Triology #2
Jonathan Stroud
Alih Bahasa : Poppy Damayanti Chusfani
PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Juli 2007
Tebal : 624 hlm


Dua tahun berlalu sejak insiden yang mengungkap pemberontakan Lovelace, penyihir yang berusaha merebut kekuasaan dari perdana menteri. Insiden yang juga mengubah kehidupan Nathaniel. Kini ia bukan lagi penyihir ingusan. Master sekarang adalah Miss Jessica Whitewell dan otomatis tinggal bersama wanita yang juga Menteri Pertahanan ini. Sayangnya hubungan mereka ternyata hanya sebatas master dan muridnya. Tidak lebih. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Nathaniel. Karena dirinya sendiri diberi jabatan sebagai asisten Mr Julius Tallow, Kepala Departemen Urusan Dalam Negeri.
Menjadi bagian dari pemerintahan tak hanya mengubah kepribadian dan watak Nathaniel, bahkan penampilannya. Itu yang dilihat oleh Bartimaeus ketika akhirnya dipanggil lagi oleh anak ini. ia diminta untuk menyelidiki kejadian yang akhir –akhir membuat pemerintah kalang kabut. Kerusakan terjadi dimana-mana. Dari ceritanya Jin yang berumur lebih dari ribuan tahun itu mengetahui Mr Tallow tanpa bukti menyimpulkan bahwa Kelompok Resistence patut dicurigai sebagai dalang utama. Namuan Nathaniel berpendapat lain. Ia yakin ada kekuatan lain yang berada dibelakang semua ini. dan untuk itulah ia mengikat Bartimaeus untuk kedua kalinya. Kembali terlibat dengan anak ini membuat Bartimaeus kesal bukan kepalang namun ia tak bisa menolak. Lagipula Nathaniel berjanji tugas kali ini hanya selama 6 pekan.
Penyelidikan pun dimulai. Semua bukti yang di temukan Bartimaeus mengarah pada satu kesimpulan. Golem adalah biang kerok dari semua kerusakan yang timbul. Walau hasil penemuan itu disangsikan, namun akhirnya mereka sepakat untuk mengirim Nathaniel ke Praha, negara asal Golem.
Tidak mudah untuk menyelesaikan tugas yang diembannya di Praha, negara yang dulu pernah mengalami masa kejayan namun kini jauh terpuruk. Tak sedikit insiden yang hampir membuat nyawa Nathaniel terancam. Beruntung, ia berpergian bersama Bartimaeus. Sayang Ia tak pernah tahu sampai saat ia kembali ke inggris.
Para kelompok Resistence berhasil mengobrak – abrik kuburan milik penyihir terkenal, GladStone Bukannya menuju titik terang, masalah yang ada malah semakin berat dan tak lupa tekanan dari semua atasan. Walau sempat membuat mereka berdua kewalahan, toh akhirnya kebenaran tetap terungkap
**
Saya nggak begitu suka dengan semua penyihir yang ada di dunia Nathaniel. Perlakuan mereka terhadap Commoner benar – benar keterlaluan. Satu demi satu keburukan mereka terungkap. Dunia sihir yang saya pikir menarik menjadi semakin gelap karena ulah mereka. sama sama bermungkin di Inggris, namun dunia penyihir di kota ini benar benar berbeda jika dibandingkan dengan dunia Harry potter. Ya iyalah, pengarangnya beda. Hihihi...kalau muggle selalu saya pandang sebelah mata, namun dibuku ini saya lebih mendukung commoner.
Eh dibuku kedua ini ada bonus pembatas buku yang lumayan tebal. Di buku pertama koq nggak ada yah?

Tuesday, January 15, 2008

Review: The Liebermann Papers: A Death In Vienna - Frank Tallis


Charlotte Lowenstein, seorang wanita ditemukan tewas dengan luka tembak di ruangan yang terkunci dari dalam. Pesan terakhir yang ditulis oleh Fraulein Lowenstein memberi kesan bahwa wanita cantik ini bunuh diri. Namun dalam sekejap semua kesimpulan tersebut menguap, karena senjata yang seharusnya berada didekat mayat wanita cantik ini tidak ditemukan. Satu demi satu orang dekat Fraulein Lowenstein mulai diinterogasi untuk mencari tahu lebih lanjut siapa pembunuh wanita cantik ini.

Di tengah kebingungannya, Inspektur Oskar Rheinardt meminta bantuan sahabatnya, sang psikiater muda Max Liebermaann dikenalnya memiliki ketajaman analisis. Penyelidikan terus berlangsung sementara otopsi terhadap mayat Fraulein Lowenstein. Penyebab kematian adalah sebuah peluru yang menembus jantungnya. Yang mengejutkan adalah tak satu pun peluru yang ditemukan dalam tubuh korban.

Ada apa sebenarnya dibalik semua peristiwa ini? Benarkah semua hal ini disebabkan oleh kekuatan supernatural? Semuanya coba ditepis oleh Inspektur Rheinhardt dan Dr Liebermann. Satu demi satu tersangka, yang tidak lain adalah orang-orang yang menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Lowenstein setiap kamis malam di apartemennya, diinterogasi. Semua bukti dan jawaban-jawaban dari para tersangka yang terkumpul dianalisa dengan hati – hati. Dan ketika semua masih jauh dari kesimpulan, secara mengejutkan korban lain berjatuhan. Semua membuat Inspektur Rheinardt dan Dr Liebermann dipaksa berlari lebih cepat untuk mencari kunci dibalik semua misteri ini.
Selain dipusingkan oleh masalah kematian di ruang tertutup ini, Dr Liebermann juga harus menghadapi atasannya yang terlihat tak menyukai caranya menangani pasien. Bahkan mengatasi perasaan yang tiba-tiba timbul ketika berhadapan dengan pasiennya, Miss Lydgate dan menimbulkan setumpuk keraguan terhadap keputusan yang telah dibuat sebelumnya.

**

Tidak mudah untuk menuliskan review buku yang satu ini. Banyak hal yang membuat saya menunda selama beberapa bulan untuk menyelesaikannya. Tak ada masalah dengan terjemahan karena saya benar-benar menikmati setiap kalimat yang tertulis di setiap lembaran dan tentu saja membuat saya penasaran dengan semua musik klasik yang mengalun. Atau mungkin karena kekuatan supernatural yang membuat tangan saya menjadi kaku? 

Misteri pembunuhan ruang tertutup ternyata bukan hanya milik Conan/ Shinichi dan Kindaichi. Semua bahkan tampak lebih rumit dibandingkan semua trik yang telah dipecahkan oleh keduanya. Sebelum menyelesaikan buku ini sampai lembaran terakhir saya mulai membayangkan cara –cara yang mungkin saja ditempuh oleh sang pembunuh dengan semua hal yang dijelaskan oleh kedua detektif muda itu. Walau ternyata semua jauh berbeda. Soal tebak menebak saya memang sedikit payah.

Buku kedua dari perjalanan Dr Libermann sudah menunggu. Apakah cerita berikutnya akan serumit misteri yang menyelubungi kematian seorang cenanyang atau malah sebaliknya? Semua itu hanya bisa terjawab dengan melahap semua kata disetiap lembarannya
.
The Liebermann papers : A Death In Vienna
Penulis: Frank Tallis

Penerjemah: Esti. A. Biduhabsari

Penerbit: Qanita

Cetakan: I, Maret 2007

Tebal: 580 Hal.

Sunday, January 6, 2008

Review: Enchanted Inc. - Shanna Swendson

Katie Chandler selalu mendengar bahwa New York adalah kota yang ajaib, tapi cewek kota kecil ini tak pernah menyangka sampai ia tinggal di sana. Ke mana pun matanya memandang, ia melihat sesuatu yang ganjil, dan Katie takut ia jadi gila.

Tahu-tahu, Katie mendapat tawaran pekerjaan dari Magic, Spells, and Illusions, Inc., perusahaan yang memproduksi mantra untuk dunia sihir. Barulah Katie tahu bahwa dunia sihir memang nyata. Dari atasannya yang monster sungguhan, peri bersayap, kepala departemen yang superganteng, sampai cowok-cowok yang disihir menjadi kodok.

Semua nyata.

No such thing like magic.

Kalimat itu sepertinya yang terus diucapkan Kathleen Chandler berulang ulang setiap kali melihat hal-hal ganjil saat berada di luar. Ia tak pernah memberikan reaksi berlebihan ketika seorang wanita bersayap seperti peri ataupun pria dengan telinga lancip milik elf melintas di depannya. Walau ia mengakui sedikit kaget ketika melihat gargoyle tersenyum kepadanya. Tak satupun hal – hal aneh itu yang diceritakan kepada teman – temannya, karena Katie tidak ingin dianggap gila. Lagipula ia tak punya banyak waktu untuk memikirkan hal itu. Tugasnya sebagai asisten Mimi, boss yang dianggapnya berkepribadian ganda itu, sudah cukup membuatnya pusing. Bukan sekali dua kali ia berpikir untuk mengundurkan diri, namun ia belum menemukan pekerjaan lain.

Sampai suatu hari ada dua orang pria, yang memperkenalkan diri sebagai Rod dan Owen, menawarinya pekerjaan di Magic, Spell and Illusions, Inc, sebuah perusahaan yang memproduksi mantra dan memasarkannya di toko-toko sihir. Selama ini ternyata mereka mengetahui bahwa Katie kebal terhadap sihir dan merasa Katie adalah orang yang akan sangat membantu kelancaran bisnis mereka. Tak ada alasan lain bagi Katie untuk menolak , apalagi melihat tingkah Mimi yang semakin keterlaluan.

Hari pertama kerja di MSI membuat Katie sadar bahwa ia harus terbiasa dengan peri, gnome, elf dan berbagai mahluk sihir lainnya, berkomunikasi dengan bola kristal dan hal-hal lain yang berhubungan dengan sihir. Hari berikutnya Katie baru mengetahui CEO MSI adalah Merlin yang selama ini hanya dikenalnya melalui buku. Dari autobiografi yang dibacanya ia akhirnya tahu bahwa satu-satunya alasan mengapa Merlin kembali ke MSI adalah karena perusahaan ini menghadapi masalah serius.

Saya mau kerja di MSI. Setidaknya para tenaga para muggle juga dibutuhkan di perusahaan ini. Sayangnya tidak punya kemampuan seperti Katie dan beberapa orang yang kerja di bagian verifikasi. Hiks...yah, yang dibilang ma pamannya Harry Potter memang benar, no such thing like magic. Tapi membayangkan jadi bagian dari dunia sihir sangat menyenangkan. Setidaknya itu yang saya rasakan setiap kali membaca buku yang berkaitan dengan sihir. 
Walau setiap buku menciptakan dunia penyihir yang berbeda beda dan kadang tak berhubungan sama sekali namun tetap saya akui bahwa sihir memiliki daya tarik tersendiri. Saya percaya kalau Shanna Swendson, sang pengarang juga merasakan hal yang sama.
Berbicara mengenai cerita ini sendiri, bab – bab pertama menarik banget tapi begitu masuk pertengahan saya jadi nggak begitu semangat bacanya. Rasanya ada hal yang tiba – tiba menghilang. Sayangnya lagi tidak ada satupun spell yang dituliskan padahal ada adegan yang memperlihatkan kebolehan para penyihir. Tapi untuk tahu nambah referensi tentang dunia sihir di kota New York buku ini tetap layak untuk dibaca. Setidaknya buku ini tetap membuat saya ingin menjadi bagian dunia sihir. Hihihi..

Enchanted Inc.
Penulis: Shanna Swendson
Alih Bahasa : Pepi Smith
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2007

Tebal : 408 hlm

Saturday, January 5, 2008

Review: One of Those Hideous Books Where The Mother Dies - Sonya Sones


Pindah ke Los Angeles bukanlah pilihan Ruby. Ia tak pernah bermimpi akan meninggalkan semua yang dimilikinya diboston. Ia tak hanya kehilangan sahabatnya Lizzie, cowok pertamanya Ray, Aunt Duffy tapi juga tak bisa sering-sering mengunjungi makam ibunya di Boston.

Kehilangan ibu yang telah merawatnya sejak kecil sudah menjadi mimpi buruk bagi Ruby. Semuanya semakin parah ketika tahu ia harus pindah ke Los Angeles dan melanjutkan hidup bersama ayahnya, Whip Logan. Ruby merasa ia punya alasan kuat untuk membenci Aktor Hollywood yang film filmnya telah dinontonnya sejak kecil. Bagaimana tidak, pria ini telah menceraikan ibunya sejak ia masih dalam kandungan Dan seingatnya tak pernah menunjukkan dirinya selama 15 tahun dihadapannya untuk menunjukan sedikit pun rasa sayang. Dalam hati Ruby berjanji akan melakukan hal yang sama.

Semuanya terasa asing di rumah Whip Logan yang begitu mewah. Yah, Ruby di beri kamar tidur yang telah lama di impikannya, namun kamar mandinya yang modern cukup merepotkan. Tak lupa diperkenalkan dengan semua karyawan yang bekerja untuk Whip. Tapi apa peduli Ruby. Yang paling penting baginya sekarang adalah komputer dan koneksi internet yang memungkinnya menulis email untuk Lizzie dan Ray. Beberapa pekan pertama komunikasi dengan keduanya lancar. Namun entah apa yang terjadi di Boston yang menyebabkan tak satupun email baru dari Ray. Untunglah email dari Lizzie memberitahu semuanya. Sayang itu juga tak bertahan lama, karena lizzie seakan mnghilang ditelan badai salju. Padahal ia benar benar membutuhkan mereka berdua, apalagi Aunt Duffy juga ternyata memutuskan untuk ikut dalam ekspedisi arkeologi dan tentu saja karena semua usaha Whip untuk mendekatinya hanya membuat Ruby semakin gerah.

**

Untuk keseribu kalinya Don’t Judge The Book By Its Cover. Soalnya belum pasti cover dan judul yang membuat tergiur menjamin isinya akan seru. Itu mungkin kata kata yang pantas untuk Ruby dan tentu saja saya sebagai pembaca.

Aura gelap yang menyelubungi buku ini (halah) dan judul yang panjang membuat saya penasaran dengan isinya. Begitu melihat setiap lembaran yang ditulis berbait bait seperti puisi membuat saya semakin penasaran.Sayangnya begitu membaca sampai pertengahan rasanya ada yang kurang.

Yah, hidup di LA tidak buruk, apalagi setiap saat bisa bertemu dengan artis papan atas. 

One of Those Hideous Books Where The Mother Dies  
Judul Indonesia: Salah Satu Buku Mengerikan Yang Tokoh Ibunya Mati)
Penulis: Sonya Sones
Alih Bahasa : Rosi & Lianita Simamora

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
J
Cetakan: I, Oktober 2007

Friday, January 4, 2008

Review: The Bookaholic Club - Poppy D. Chusfani


Des tak memiliki seseorang yang bisa dipanggilnya sahabat ataupun teman. Ia membuat dinding pembatas dan tak membiarkan satu pun orang untuk mendekat. Malahan ia sengaja bersikap jutek kepada semua orang yang nekat Alasannya sederhana, ia tak ingin sampai statusnya sebagai penyihir diketahui orang lain yang jelas akan berdampak sangat buruk. namun itu bukan masalah besar bagi Des. Baginya dukunagn ayah dan ibunya, kucingnya Spunk serta tumpukan buku –buku cuku baginya.

Namun semua berubah ketika ia bertemu Erin, Tori dan Chira. Erin adalah murid pindahan yang cantik dan tak heran jika dalam sekejap langsung populer. Tori sendiri adalah gadis remaja yang sangat gugup, itu yang dilihat Des ketika mereka tak sengaja bertabrakan di koridor sekolah. Lain lagi dengan Chira, salah satu murid di sekolah Des yang pandai walau pembawaannya sedikit aneh dan semua itu dikarenakan kemampuannya melihat mahluk halus. Des tidak peduli dengan semua hal itu, karena seperti halnya Des, ketiga temannya itu sangat mencintai buku. Tak heran jika perpustakaan sekolah menjadi salah satu tempat favorit mereka.

Adalah Lim Bibliophilia Antiqua, sebuah toko buku antik di sekitar pecinan yang menjadi tempat Des dan Chiara mencari buku – buku lama. Suatu saat Des mengajak ke tiga teman barunya untuk mengunjungi toko tersebut sekaligus memperkenalkan Kakek Lim,sang pemilik kepada Erin Dan Tori. Setalh puas berkeliling dan memutuskan untuk membeli beberapa buku akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Tiba tiba Kakek Lim memanggil Des dan menyerahkan sebuah buku bersampul hitam , agak tebal dan amat lusuh. Ia juga menceritakan masalah yang berkaitan dengan buku usang tersebut dan menjadi tanggung jawab Des untuk menyelesaikannya. Awalnya Des tidak sedikitpun mempercayai setiap kata yag diucapakn Kakek Lim, namun di sisi lain ia tahu pria tua ini tidak mungkin berbohong. Di luar dugaan masalah yang itu ternyata masalah tersebut menghadapkan mereka pada situasi mati dan hidup. Mereka harus bergerak lebih cepat sebelum korban-korban berjatuhan.

**
Bertemu dan berkumpul bersama orang – orang yang mencintai buku memang sangat menyenangkan. Apalagi kalau koleksi buku buku mereka ternyata tidak ada di rak buku kita di rumah.

Perpustakaan di rumah Des maupun perpustakaan sekolah mereka benar-benar bikin ngiler. Ally juga pengen baca buku buku mereka. Nyesel waktu kecil dulu nggak sering sering main ke perpustakaan. Waktu SD dulu perpustakaan wilayah di Kendari nyediain tempat khusus untuk anak-anak dan tentu saja isinya beragam. Sayang waktu sd dulu tempatnya lumayan jauh. Setiap liburan pasti main ke sana dan kebetulan dekat dari kantor mama. Sayangnya librariannya agak galak. Waktu smp juga gitu. Andai mereka seperti Deria mungkin bakal betah. Hehehe..sayangnya begitu pindah ke makassar, Saya tidak tahu harus main ke perpustakaan mana. Perpustakaan kampus sih lumayan besar. Sayangnya semua koleksinya tahun 2. Nggak pernah diupgrade. Jadi nggak heran kalau perpustakaan tuh cuman jadi tempat untuk tidur siang setela semalam tuh begadang menyelesaikan gambar teknik. Hehehe....

Nanti nanya ah ma anak anak angingmamiri. Siapa tahu ada tempat yang setidaknya senyaman perpustakaan pribadi milik keluarga dan sekolah Des. 

The Bookaholic Club
Poppy D. Chusfani
PT Gramedia Utama

Cetakan 1, Oktober 2007

Tebal : 192 hal



Thursday, January 3, 2008

Review: Somewhere, Home - Nada Awar Jarrar



Walau waktu berlari dengan kencangnya menyisakan tumpukan kenangan yang memiliki arti tersendiri bagi Maysa, Aida dan Salwa. Mereka tidak mempunyai ikatan darah namun satu hal yang mengikat mereka dengan , sebuah rumah di gunung Lebanon serta kenangan yang terus menerus memaksa benak mereka untuk kembali ke masa lalu.


Maysa memutuskan untuk kembali ke lebanon setelah sekian lama menetap di Beirut. Ia punya alasan kuat untuk meninggalkan kota yang tengah mengalami pertikaian yang panjang, Maysa tengah mengandung janin yang telah lama ditunggunya. Walau itu berarti ia harus meninggalkan suaminya yang berekras untuk tetap tinggal.


Di rumah tua yang dikelilingi pegunungan. Setiap sudut mencoba menceritakan hal hal yang masih diingatnya dengan jelas. Kenangan tentang nenek, paman, bibi dan tentu saja orang tuanya. Sambil menunggu kelahiran bayinya, Maysa pun memutuskan untuk menuliskan kehidupan beberapa wanita yang pernah menghiasi rumah itu. berawal dari neneknya Alia, Saeed bibinya, dan akhirnya berakhir dengan kisah tentang ibunya. Semua tertulis rapi disebuah buku catatatn yang rencananya akan diberikan pada anak perempuannya, Yasmeen.


Aida dan kedua saudaranya mengenal Amou Mohammed sejak mereka kecil. Pria yang memberikan kasih sayang seperti ayah itu mempunyai tempat tersendiri di tempat mereka. Sayangnya kondisi politik yang semerawut memaksa mereka meninggalkan Lebanon dan Amou Mohammed.


Walau hidup jauh dari Beirut, namun Aida tak bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. ia tetap saja mencari hal sesuatu yang tak juga ditemukannya. Sampai suatu hari akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke kota temapat ia dan saudaranya menghabiskan masa kecil bersama Amou Mohammed. Ia yakin kali ini akan menemukan sesuatu yang telah ama hilang.


Salwa sangat menikmati masa kecil bersama adiknya Matildhe. Mereka terbiasa hidup hanya bersama ibu karen ayahnya sangat jarang pulang karena bisnis yang seperti jauh lebih penting.


Sema hal itu diingatnya dengan jelas. Termasuk semua kunjungan pertama Adnan, pria yang menjadi suaminya. Ia juga tak pernah lupa hari dimana Adnan membawanya pergi jauh dari rumah, kota sekaligus negeri yang menyimpan beribu kenangan.


**


Perempuan-perempuan yang aneh. Mungkin saya memang tidak mengerti apa yang mereka pikirkan. Mereka terkesan sangat lemah dan kuat dalam waktu yang sama hanya karena kenangan masa lalu.Yah tidak ada salahnya membuka buku lama namun tidak berarti terus menerus menoleh ke belakang. Masih banyak hal lain yang jauh lebih penting. Mungkin saya memang tidak mengerti jalan pikiran dan perasaan Maysa, Aida dan Salwa.



Somewhere, Home
Penulis: Nada Awar Jarrar
Penerjemah: Catherine Natalia
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Januari 2007
Tebal : 284 hal

Tuesday, January 1, 2008

Review: Century - Sarah Singleton



Mercy dan adiknya tinggal di dunia yang remang-remang: tidur saat matahari terbit, dan bangun saat matahari terbenam. Rumah mereka pun diselimuti musim dingin tak berkesudahan.

Mercy tidak pernah bertanya pada ayahnya tentang cara hidup mereka---dan penyebabnya---sampai suatu hari ia menemukan di bantalnya sekuntum bunga snowdrop, tanda pertama musim semi.

Pertemuannya dengan Claudius yang misterius mengguncang Mercy dan memulai perjalanan berlikunya menyusuri sejarah keluarga, mengungkapkan fakta-fakta tentang kematian ibunya dan rumah mereka yang membeku dalam waktu
Melihat hantu yang berkeliaran disekitar rumah usah menjadi hal yang biasa bagi Mercy. Hal itu bukan hal yang aneh bagi ia dan keluarganya. Karena ia tak sendiri.Ayah dan beberapa anggota keluarga terdahulu juga memiliki kemampuan istimewa ini.

Mercy tinggal di rumah yang disebut Century bersama adiknya Charity dan Ayah mereka, Trajan, Galatea, pengasuh yang juga mengajarinya bahasa latin, dan Aurelia yang memasak msakan lezat setiap harinya.

Menjalani rutinitas yang sama setiap harinya membuat Mercy merasa ada yang salah dengan kehidupan keluarganya. Mereka tak pernah melihat matahari dan yang paling aneh mereka tak pernah merasakan sinar matahari yang hangat. Karena saat itu waktu bagio mereka untuk tidur. Selain itu tak satupun kenangan masa lalu yang ia ingat. Termasuk kenangan tentang mendiang ibunya. Yang ada hanyalah musim dingin yang entah kapan berakhir. Pertemuannya dengan Cladius di gereja membuat Mercy semakin yakin ada sesuatu dibelakang semua misteri yang menyelubungi diri dan keluarganya. Hari berikutnya, ada hantu anak perempuan yang menarik perhatiannya. Anak peremuan itu membawa Mercy menembus permadani dinding. Di sana ia melihat sesuatu yang membuatnya semakin yakin ada hal yang ditutup-tutupi oleh ayah maupun Galatea.

Seakan tahu apa yang terjadi, Trajan berkali-kali memperingatkan anaknya. Tapi Mercy tidak semudah itu untuk menyerah begitu saja walau harus terkurung sekalipun. Ia benar – benar ingin keluar dari semua lingkaran hitam yang menyelimuti keluarganya.

Buku yang benar – benar terasa kegelapannya. Hal yang sebenarnya telah tergambar dari sampulnya. Mengerikan adalah kata yang pantas untuk menggambarkan petualangan Mercy. Tapi justru hal itu yang menarik dari buku ini. dan membuat saya penasaran dengan buku Sarah Singletton selanjutnya. Akankah segelap dan sesak CENTURY? Let’s see. Yang jelas saya tidak pernah mau terperangkap di rumah yang satu itu dan menjalani kehidupan seperti Merry. Ihh...

Century
Penulis: Sarah Singleton
Alih Bahasa : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juli 2007
Tebal : 248 hal