Friday, February 29, 2008

Review: Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil - E. Frankweiler



Sebagai satu satunya anak perempuan di keluarga Kincaid, Claudia merasa dialah yang memperoleh tugas yang paling besar. Dari tugas mengosongkan seluruh tempat sampah di rumahnya,menata meja makan sampai pemotongan uang saku bila ia lupa membereskan tempat tidur, sementara itu semua adik-adiknya terbebas dari segalanya. Semua hal hal tersebut dirasakan Claudia sebagai ketidakadilan yang membuatnya mantap untuk meninggalkan rumah. Semua itu hanya dengan satu tujuan untuk membuat orang tuanya sadar dan memahami ketidakadilan yang telah mereka berlakukan selama ini.

Rencana ini telah dibuatnya dengan matang dan hati – hati karena ia tak ingin semua hanya berakhir dengan kerugian dipihaknya. Museum Seni Metropolitan, New York menjadi tujuannya, bahkan Jamie, salah satu adik laki-lakinya, diajak untuk ikut. Bukan karena ia takut sendiri, namun karena ia tahu bahwa Jamie memiliki lebih banyak uang dibandingkan dan bisa dipercaya bisa membiayai perjalanan mereka

Hari rabu dipilih sebagai waktu yang tepat untuk menjalankan rencana. Semua baju dimasukkan dalam tas dan kotak peralatan musik. Tanpa halangan berarti dan sesuai rencana, kedua Kincaid bersaudara tiba di Museum yang tak pernah sepi dari pengunjung. Claudia memutuskan untuk menjadikan museum ini sebagai tempat tinggal mereka. Masalah keuangan untuk makan pagi sampai malam diatur dengan ketat oleh Jamie

Setelah melihat dan memahami keadaan museum, petualangan mereka pun dimulai. Jamie boleh memilih galeri mana yang akan mereka kunjungi pertama kalinya. Galeri Renaissance Italia menjadi pilihan anak laki laki yang sebenarnya tak tahu apa arti Renaissance. Pada saat yang sama, seribu orang mengante untuk melihat benda-benda di ruang yang sama. Hal ini membuat Claudia menjadi penasaran terhadap benda yang membuat orang – orang rela berbaris seperti itu. Claudia hanya sempat melihat sekilas. Benda itu adalah patung malaikat yang sangat cantik dan angun.

Seperti yang diduga mereka sebelumnya, berita tentang patung ini muncul di koran Times keesokan harinya. Sangat mengejutkan, ternyata patung malaikat itu dibeli dengan harga sangat murah dari Mrs. Basil E. Frankweiler. Hanya seharga $255 Oleh sebagian para pakar, patung itu dipercayai sebagai salah satu buatan Michelangelo. Namun belum ada bukti yang pasti. Mengetahui hal tersebut, Claudia memutuskan untuk memecahkan misteri yang menyelimuti patung malaikat itu dan berjanji tidak akan pulang sebelum semuanya terungkap.

Cara kabur yang menyenangkan. Tapi kalau harus dilakukan di makassar, rasanya saya akan mencari tempat yang lain. Karena mendengar kata museum, yang terlintas adalah gedung tua gelap yang dipenuhi dengan benda – benda bersejarah yang berdebu dan tak lagi terawat. Setidaknya itu yang saya lihat di Museum di Makassar. Rasanya ingin cepat – cepat keluar. Hehehe..Benar benar berbeda dengan Museum Seni Metropolitan yang dikunjungi oleh Claudia dan Jamie. Setiap galeri rasanya mempunyai daya tarik tersendiri. Ikut berpetualang bersama mereka pasti menyenangkan. Asal jangan seperti museum yang dijaga oleh Ben Stiler di A Night In Museum. Semua benda jadi hidup.

Catatan tambahan dari pengarang membuat buku ini semakin menarik. Ternyata banyak hal yang telah berubah ketika E.L. Konigsburg menuliskan cerita tentang Claudia dan Jamie. Dari sana saya juga bisa tahu bahwa perhatian mereka terhadap benda – benda museum sangat besar. Tidak seperti di sini. Yah, mungkin pemerintah kota makassar masih butuh waktu untuk membenahi semuanya.

Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler
Penulis: E.L. Konigsburg
Penerjemah: Cuning K. Goenadhi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April, 2007
Tebal: 200 hlm

Thursday, February 28, 2008

Review: Lembah Berduri - Patrick Carman



Setahun setelah kejadian yang melibatkan para narapidana, Alexa dan ayahnya kembali ke Bridewell. Tak banyak yang berubah dari kota ini termasuk perpustakaan tempat yang paling disukainya. Bahkan kursi empuk, tempat ia menghabiskan waktu sampai masih berada di tempat yang sama. Tempat inilah yang ia kunjungi sehari setelah tiba di Bridewell

Buyi ketukan tiba-tiba terdengar ketika Alexa baru saja hendak menekuni buku yang dipilihnya dari rak. Bunyi ketukan berulang –ulang itu ternyata berasal dari belakang kursi, dari balik pintu rahasia.

Alexa hanpir tak percaya ketika Yipes berdiri dihadapannya. Kedatangan kurcaci bukanlah kunjungan biasa. Pria kecil ini membawa surat untuk Alexa dari Warvold, pria pemimpin Bridewell yang meninggal tahun lalu. Surat itu menawarkan petualangan baru. Tentu saja bagi Alexa sungguh sayang untuk dilewatkan begitu saja, walau ia tahu petualangan ini jauh dari hal-hal yang menyenangkan. Setelah mempersiapkan segala yang diperlukan, Alexa pun meninggalkan Bridewell menuju bukit-bukit kelam

Perjalanan bersama Yipes membawanya pada seorang pria mantan narapidana bernama John Christopher, Odessa sang Serigala, Murphy si tupai dan tentu saja elang yang bernama Squire. Surat lain dari Warvold membuat semuanya semakin jelas. Kerajaan kecil bernama Castalia menjadi tujuan mereka. Tak hanya letaknya yangs sangat jauh yang menjadi rintangan, namun raksasa buruk rupa, gerombolan pencuci otak, segerombolan anjing liar yang sangat ganas dan kelaparan harus mereka hadapi. Dan tentu saja yang utama adalah menghadapi abaddon sang iblis pengendali pikiran.

Petualangan yang benar benar menegangkan. Bahkan menimbulkan teror berlebihan bagi Alexa. Kejutan demi kejutan datang silih berganti. Semua itu membuatnya sadar bahwa kelompok mereka harus bergerak lebih cepat sebelum pihak musuh berhasil dengan niatnya menghancurkan Negeri Elyon.

***

Tidak seperti buku pertama, buku ini menyisakan misteri yang membuat semua pembaca harus membaca buku ke tiga, Kota Kesepuluh. Sayangnya sampai review ini saya posting, belum ada kabar tentang penerbitan buku ini. padahal buku pertama dan kedua terbit dua tahun lalu. Semoga saja penerbit tidak seperti Alexa yang menghadapi ribuan makhluk mengerikan sehingga menghalangi mereka menerbitkan buku yang satu ini. Saya sebagai pembaca benar benar berharap pada buku ketiga ini. Petualangan Alexa benar benar harus diselesaikan.

Lembah Berduri
(The Land of Elyon book 2: Beyond the Valley of Thorns)
Penulis : Patrick Carman
Penerjemah : Widati Utami
Penerbit : Little K
Cetakan I: Juli 2006
Tebal : 308 hlm

Friday, February 15, 2008

Review: Bukit-Bukit Kelam - Patrick Carman



Liburan menjadi hal yang paling ditunggu, setelah beberapa lama melakukan aktifitas yang memeras tenaga dan pikiran. Satu demi satu rencana disusun sehingga setiap detik dari waktu yang ada benar benar bisa dinikmati dan dilalui dengan hal-hal yang menyenangkan.

Hal yang sama juga dialami oleh Alexa. Liburan musim panas setiap tahunnya adalah waktu yang paling dinanti-nantikannya, Bersama ayahnya,James Daley, ia menginggalkan Lathbury menuju Bridewell. Bridewell adalah sebuah kota yang dikelilingi tembok termasuk semua jalan menuju kota ini. Hal ini adalah ide dari pemimpin Bridewell dan kota –kota lain, Warvold, seorang pria yang mengisi masa mudanya dengan berbagai. Petualangan. Dengan bantuan para narapidana dari kota Ainsworth, dalam beberapa tahun dinding dinding itu berdiri dengan kokoh.

Penginapan Renny adalah tempat Alexa dan ayahnya menginap. Penginapan ini bukan hanya seperti penginapan biasa. Di bangunan yang dulunya penjara disulap menjadi perpustakaan, dua pengadilan, ruangan para ahli niaga, ruang rapat, dapur besar, ruang makan, dll.

Tentu saja yang menjadi tempat yang paling disukainya adalah perpustakaan, dimana pria tua yang menyenangkan, Grayson, yang bertugas untuk membuat dan mempebaiki sampul buku yang rusak. Pria ini jugalah yang menjadi penjaga ribuan buku yang berada di perpustakaan tersebut. Terlebih ketika Warvold wafat sehingga Bridewell dipenuhi oleh orang – orang yang ingin memberi penghormatan terakhir, tempat itu menjadi semacam persembunyian yang memberinya perlindungan.

Hari –hari berlalu menuntunnya pada hal-halmemancing rasa penasarannya. Dari dunia luar sampai Jocasta, sebuah etsa kecil yang detail pada batu nilam merah delima yang menyimpan banyak misteri. Satu demi satupun ditelusurinya dan membawanya ke penjelajahan lorong-loroing sempit dan gelap. Sungai yang dingin bahkan mereka menemukan binatang-binatang yang dapat berbicara. Bahkan kurcaci pun berdiri di hadapannya. Semua itu bukan mimpi.

Beribu pertanyaan muncul di benak Alexa dan menuntunnya pada satu kenyataan yang mengerikan. Beberapa orang yang bersembunyi di bukit-bukit kelam merancanakan penyerangan ke Bridewell. Yang sangat mengejutkan, ternyata ada pengkhianat yang tinggal di Bridewell dan siap melaksanakan semua rencana tersebut. Alexa harus berpacu dengan waktu. Tak ada pilihan lain kecuali memberitahu semua hal yang dialaminya kepada para petinggi Bridewell yang juga berarti memberitahu rahasia kepada sang pengkhianat.

~~~

Satu lagi buku yang hampir dua tahun lamanya tergeletak di rak buku yang berhasil saya selesaikan. Yaiy!! Buku ini sebenarnya telah beberapa kali saya baca. Namun karena alasan tertentu akhirnya saya kembali membacanya dari bab pertama. Entah untuk yang keberapa kalinya.

Buku anak-anak memang menyenangkan untuk dilahap. Apalagi yang bertema petualangan. Sayangnya buku ini sangat minim dengan ilustrasi.

Bukit – Bukit Kelam
The Land of Elyon : The Dark Hills Divide
Penulis: Patrick Carman
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Little K
Cetakan 1: Maret 2006
Tebal: 328 hlm

Monday, February 11, 2008

Review: I Was A Rat or The Scarlet Slippers - Philip Pullman


Anak laki laki berseragam pesuruh itu benar-benar kehilangan ingatannya. Ia tak ingat apa pun kecuali satu, dulu ia seekor tikus. Itulah yang ia katakan pada Bob dan Joan ketika ia tiba-tiba muncul di depan pintu rumah mereka. Tentu saja pasangan suami – istri itu tak percaya. Namun mereka tetap membiarkannya masuk bahkan memberikan nama Roger padanya

Perilaku roger sangat aneh. Ia tak tahu cara makan yang benar. Bahkan ia menggerogoti seprai, selimut, bantal, bahkan pakaiannya sendiri. Roger sungguh membuat Bob dan Joan penasaran tentang asal-usulnya. Mereka pun memutuskan untuk mencari tahu.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Balai Kota di urusan anak hilang. Mungkin saja ada orang tua yang kehilangan anak laki-lakinya. Mengejutkan, ternyata tak ada laporan dari siapa pun. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari keterangan di panti asuhan, kantor polisi bahkan sampai ke rumah sakit. Hasinya nihil. Latar belakang kehidupan Roger tetap menjadi misteri. Karenanya Bob dan Jon memutuskan untuk membiarkan Roger tinggal bersama mereka. Apalagi sejak dulu mereka mendambakan kehadiran seorang anak

Keesokan harinya, Joan mengantar Roger ke sekolah. Mereka merasa Roger perlu mendapat pendidikan. Sayangnya masih banyak hal dasar yang belum diketahuinya. Sehingga yang ada hanyalah kekacauan. Sehingga Roger harus berurusan kembali dengan pria yang ditemuinya di kantor polisi kemarin

Berita tentang anak yang mengaku dulunya sebagai tikus segera menyebar dan menarik perhatian filsuf Royal. Dengan berat hati Bob dan Joan melepas Roger untuk penyelidikan filosofi yang akan dilakukan oleh pria ini. sayangnya salah satu percobaannya membuat Roger terpaksa kabur.

Lepas dari Filsuf Royal, Roger bertemu dengan Mr TapScrew , pria jahat yang menjadikannya sebagai tontonan di pasar malam. Kemudian diselamatkan oleh Billy yang ternyata memintanya untuk membantu kelompoknya menyatroni rumah orang kaya. Akhirnya kembali ke gorong – gorong dan dianggap monster. Nasib Roger benar – benar di ujung tanduk, karena seluruh warga kota menuntuk pemerintah untuk segera memusnahkan monster tersebut.

~~~

Tak hanya Joan dan Bob, Roger membuat saya penasaran dari bab pertama. Sehingga rasanya ingin segera melompat ke bab terakhir untuk mengetahui siapa anak laki –laki aneh ini. Saya terus bertanya apakah ada unsur sihir didalamnya ataukah memang ada kelainan yang diderita Roger.

Tingkah Roger juga tak kalah lucu. Kalau anak laki-laki ini muncul di depan pintu rumah, saya tak akan pernah mengijinkannya masuk. Yah, tak pernah ada yang tahu ia akan mengerogoti koleksi buku buku yang saya miliki.

I Was A Rat! or The Scarlet Slippers
Judul Indonesia: Dulu Aku Tikus atau Sepatu Merah
Penulis : Philip Pullman
Alih Bahasa : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : Desember 2007
Tebal : 256 hal

Saturday, February 9, 2008

Review: Herr Der Diebe - Cornelia Funke




Orang dewasa tidak lagi ingat, bagaimana rasanya, menjadi anak-anak.
Walaupun mereka mengaku begitu
Mereka tidak tahu lagi
Percayalah padaku
Mereka sudah lupa semuanya
Betapa dunia dahulu berkesan lebih besar bagi mereka
Betapa repotnya memanjat ke atas kursi
Bagaimana rasanya kalau harus selalu mengengadah?
Lupa
Mereka tidak tahu lagi
Kau pun akan melupakannya
Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak
Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi
Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak
Tahukan kau?
Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa


Akhirnya buku yang sudah hampir dua tahun berada di rak buku ini berhasil saya lahap. Saya selalu menunda untuk membaca buku ini karena takut akan bahasanya yang rumit. Ternyata saya salah besar. Buku ini benar benar ringan. Tanpa sadar dalam tiga puluh menit saya telah membaca beberapa bab dan rasanya tak ingin meninggalkan petualangan seru yang ada didalamnya.


Seperti yang tertulis di halaman 7 dari buku ini, sewaktu kecil saya juga ingin cepat-cepat dewasa. Paling tidak seusia kedua kakak saya. Karena seingat saya, saat itu mereka tidak pernah sekalipun dilarang melakukan hal hal yang saat itu menurut saya sangat menyenangkan. Seperti main air saat hujan turun, belajar berenang, ikut pramuka, piknik dengan teman-teman sekelas, dan hal-hal lain menyenangkan lainnya.
Sayangnya ketika menjadi dewasa, larangan itu masih saja ada. Apa mereka tidak juga sadar saya bukan anak kecil lagi? Orang dewasa memang benar – benar sulit dimengerti.


Beberapa anak-anak dibuku ini juga berpikiran yang sama. Mereka benar-benar ingin menjadi orang dewasa lebih cepat. Mereka berpikir, menjadi orang dewasa akan membuat semua masalah yang ada didepan mata mereka akan menguap sekajap mata.


Buku ini bercerita tentang petualangan Prosper dan Bo, dua kakak beradik. Sejak ibu mereka meninggal, hak asuh jatuh pada paman dan bibinya. Sayangnya mereka tidak cukup baik,bahkan bisa dibilang kejam, membuat keduanya memutuskan untuk melarikan diri ke Venezia. Kota yang telah mereka kenal dari cerita ibunya semasa hidup. Kota yang penuh dengan gedung –gedung tua dan dikelilingi oleh kanal-kanal
Tanpa perencanaan yang matang dan jauh dari rumah tentu menjadi kesulitan bagi keduanya. Nyaris saja Prosper menyerah bahkan berniat mengembalikan Bo kepada bibinya ketika uang dikantongnya tak cukup lagi untukmembeli makanan. Untunglah mereka bertemu Tawon. Anak perempuan ini mengajak mereka ke bioskop yang telah lama tutup. Di sana mereka berkenalan dengan Mosca, Riccio dan tentu saja, Scipio,sang Pangeran Pencuri.


Melalui “keahlian” Pangeran Pencuri inilah kelima anak itu bisa bertahan hidup. Tak ada pintu yang tidak dapat dibuka olehnya. Pangeran Pencuri selalu membawa pulang barang –barang berharga yang diperolehnya dari rumah-rumah orang kaya yang sebelumnya telah diintai oleh Mosca dan Riccio. Barang –barang tersebut kemudiandijual kepada seorang penadah sekaligus penjual barang antik, Ernesto Barbarossa.


Walaupun kehidupan nya sekarang penuh resiko, namun Prosper merasa tinggal bersama teman-teman barunya jauh lebih baik daripada tinggal bersama paman dan bibinya yang ternyata telah menyewa jasa seorang detektif. Dengan berbekal selembar foto yang tangan, Viktor sang detektif pun mulai melakukan pencarian. Pria yang memiliki banyak cara untuk melakukan penyamaran ini tak butuh waktu yang lama untuk menemukan keduanya. Bahkan berhasil mengambil gambar keduanya.


Mengetahui ada seorang penyelidik, Prosper dan kawan-kawannya pun semakin waspada. Jangan sampai rahasia mereka terbongkar. Terlebih lagi sekarang mereka sedang mengadakan kerjasama dengan seorang bangsawan yang menjanjikan upah yang pantas untuk barang yang harus mereka curi.


Begitu banyak kejutan yang mereka hadapi bahkan yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Namun tak menghalangi mereka meneruskan petualangan mereka menyusuri kanal-kanal gelap.


Buku yang menyenangkan. Entah apa yang menyelubungi pikiran saya dua tahun yang lalu sehingga tak bisa merasakan kelezatan buku ini bahkan aroma yang dikatakan oleh beberapa orang pun tak dapat saya cium. Yang jelas satu lagi buku yang berhasil keluar dari rak khusus untuk buku-buku yang belum tersentuh.


Herr Der Diebe
Judul Indonesia: Pangeran Pencuri
Penulis: Cornelia Funke
Alih Bahasa: Hendarto Setiadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret, 2006
Tebal: 420 hal

Friday, February 8, 2008

Review: The Worry Website - Jacqueline Wilson




Masalah tak pernah butuh diundang untuk hadir dalam kehidupan seseorang. Tak peduli besar ataupun kecil, masalah menjadi ibarat duri yang terinjak oleh kaki yang telanjang. Bahkan tak jarang menyisakan tumpukan beban. Apalagi kalau harus menanggungnya sendiri. Namun diakui bukan hal yang mudah untuk berbagi masalah dengan orang lain. Apalagi untuk hal-hal yang memalukan.


Mr Speed mengerti benar tentang hal tersebut. Karena tidak mungkin melakukan hypnosis seperti yang dilakukan Sigmund Freud pada pasien-pasiennya, maka dibuatlah sebuah Situs Masalah untuk murd-murid kelasnya. Di situs itu, mereka bisa menulis masalah apa saja, tanpa harus merasa malu karena mereka tak perlu menuliskan nama. Cukup mengetikan masalah dan menunggu komentar – komentar dari murid-murid lain. Walaupun mungkin saja komentar-komentar itu tak dapat membantu , Mr Speed yakin beban yang dirasakan oleh murid-muridnya berkurang dengan adanya Situs Masalah ini.


Satu persatu murid di kelas pun menuliskan masalahnya. Dari masalah mengenai ibu tiri sampai mimpi buruk di malam hari. Setiap kali ada masalah yang muncul di Situs Masalah, setiap murid mencoba mereka-reka siapa yang telah menuliskan masalah tersebut. Tentunya mereka tak lupa untuk menuliskan komentar walau banyak dari kata-kata itu tak membantu menyelesaikan masalah. Namun Mr Speed selalu punya cara tersendiri untuk membantu murid-muridnya keluar dari permasalahan mereka.


Walau berbagi masalah dengan orang lain mungkin bisa meringankan beban di pundak, namun ada sesuatu yang lebih baik disimpan untuk diri sendiri. Itu yang dipikir oleh Lisa , salah satu murid Mr Speed. Ketika membacanya, tanpa sadar saya menitikkan air mata. Tanpa menceritakan masalah kepada orang lain pun sebenarnya ada yang selalu mendengarkan. Bahkan sebelum mengucapkan satu katapun, Dia telah mengetahuinya.


Masalah dalam hidup tak pernah habis. Ada yang menyebabkan detak jantung lebih cepat dari biasanya dan tidak jarang yang membuat air mata mengalir. Bahkan menimbulkan reaksi yang lebih dari dua hal tersebut. Namun tidak berarti harus menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan masalah tersebut. Apalagi harus merasa terpuruk berkepanjangan. Karena bukannya mendapat penyelesaian, sebaliknya malah memperpanjang atau mungkin akan mengundang masalah baru.


Saya sendiri tak lepas dari masalah. Beruntung, saya punya teman-teman yang tak peduli apapun masalah yang saya ceritakan, mereka selalu memberi komentar yang menenangkan. Tanpa pernah takut akan tertular ion-ion negatif yang terpancar dari masalah yang saya ceritakan. Thanks for always be there.


The Worry Website
Judul Indonesia: Situs Masalah
Penulis : Jacqueline Wilson
Alih Bahasa : Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I : Oktober 2007
Tebal : 160 hlm

Monday, February 4, 2008

Review: Anansi Boys - Neil Gaiman


Dewa sudah mati. Kenalkan, anak-anaknya.

Jika ayah Fat Charlie menamai sesuatu, nama itu pasti melekat. Misalnya julukan "Fat Charlie". Sekarang pun, dua puluh tahun kemudian, Charles Nancy masih tak bisa melepaskan diri dari nama itu, salah satu dari banyak "hadiah" memalukan yang diberikan ayahnya--sebelum ayahnya roboh dan mati di panggung karaoke dan menghancurkan kehidupan Fat Charlie.

Mr. Nancy mewariskan beberapa hal untuk Fat Charlie. Misalnya, pria asing jangkung dan tampan yang muncul di ambang pintu Charlie. Rupanya dia saudara yang belum pernah diketahui Charlie. Saudara yang bertolak belakang dengan Charlie bagai langit dan bumi, saudara yang akan menunjukkan cara bersantai dan bersenang-senang sedikit... persis Ayah Tercinta. Dan tiba-tiba, hidup mulai menjadi sangat menarik bagi Fat Charlie.

Soalnya, ayah Charlie tidak seperti ayah kebanyakan. Dia Anansi, dewa jail, dewa laba-laba. Anansi adalah semangat pemberontakan, mampu menjungkirbalikkan tatanan sosial, menciptakan kekayaan dari ketiadaan, dan membingungkan sang Iblis. Konon dia bahkan mampu mengecoh Maut.

Anansi Boys adalah karya dengan kecerdikan memukau, perjalanan kaleidoskopis jauh ke dalam mitos mencengangkan, mengerikan, menggairahkan, dan sangat lucu--novel yang benar-benar menakjubkan, sampai-sampai Stephen King menjuluki penulisnya "peti harta karun kisah-kisah, dan kita beruntung memiliki dia.

Mendengar kata laba-laba, yang terbersit dalam kepala saya tentu saja sebuah hewan mungil berkaki 8 dengan jaring-jaringnya yang rapuh. Jaring yang bergelantungan di pagar terkadang bercampur dengan embun pagi dan membuat saya tidak tahan untuk menyentuhnya. Dalam sekejap sarang itu tak lagi berbentuk dan sang pemilik segera menyingkir. 

Beberapa tahun kemudian, bayangan itu berubah menjadi Mr Peter yang mengenakan kostum merah birunya dengan opening theme lagu rap yang tak kunjung saya hapalkan. Bergnti dengan Mr Peter dalam wujud manusia dan terakhir kembali menjadi hewan disebuah perternakan yang bertahan sampai akhir tahun lalu. Karena sekarang laba-laba yang baru adalah seorang pria yang sangat jail. Seakan tak peduli, anak sendiri bahkan menjadi korban kejailannya. Dia Anansi, Dewa Jail, Dewa Laba-Laba.

Karena dirinyalah, tak seorang pun memanggil Fat Charlie dengan nama aslinya. Waktu kecil memang bertubuh gemuk, namun itu hanya beberapa tahun. Sayangnya julukan itu seakan tak mau lepas darinya. Yah, jika sesuatu telah dinamai oleh ayahnya, Anansi, nama itu pasti melekat. Entah apalagi yang dilakukan Anansi yang membuat Fat Charlie akhirnya memutuskan untuk tinggal sejauh mungkin dari ayahnya. 

Suatu hari ia mendapatkan kabar dari Mrs. Higgler, bahwa ayahnya meninggal dunia. Sebagai anak, Fat Charlie merasa wajib terbang menuju Florida.untuk memberikan penghormatan terakhir. Dari wanita tua itu juga, ia mengetahui bahwa dia memiliki seorang saudara laki-laki. Ia yakin Mrs. Higgler bercanda, karena seingatnya ia adalah anak tunggal. Namun Mrs. Higgler bersikeras bahwa ada pria itu benar-benar nyata. 

Pria jangkung dan tampan itu bernama Spider. Muncul di depan pintu apartemen Charlie tak lama setelah ia mengucapkan keinginannya kepada seekor laba-laba. Tak ada kecurigaan sama sekali pada pria yang mengajaknya keluar untuk sedikit bersenang-senang pada suatu malam. Sampai ia mengetahui bahwa Spider mulai melakukan sesuatu yang sangat buruk pada pekerjaan. Bahkan dengan berbagai alasan, Spider mulai berusaha merebut Rosie, tunangannya. Charlie seakan tak punya kekuatan untuk mencegah semuanya bahkan untuk mengusir Spider dari apartemennya sekalipun.

Novel kali ini berhasil membuat saya merasa geram pada dua tokoh sekaligus, ayah dan kakak Fat Charlie. Mungkin karena keduanya memiliki sifat yang mirip. Tak sanggup rasanya menjalani hidup jika punya saudara seperti Spider apalagi Ayah seperti Mr Nancy. Fat Charlie yang malang. 

Setelah Coraline dan Stardust, novel Neil Gaiman ini jauh lebih menarik. Salah satunya karena adanya sisipan dongeng tentang sisi lain Anansi. Semoga cerita Neverwhere akan semenarik novel yang satu ini. Yang jelas, dari resensi yang ada disampul belakang, Neil akan membawa sang tokoh menjelajahi dunia lain. Seperti yang dialami tokoh-tokoh lain. 

Anansi Boys (Anak-Anak Anansi)  
Penulis: Neil Gaiman 
Alih Bahasa: Femmy Syahrani Ardianto 
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama  
Cetakan: 1, Agustus 2007 
Tebal: 432 hlm

Review: A Dog's Life - Ann M. Martin


Sejak ditinggal oleh ibu, Squirrel dan kakaknya, Bone, memutuskan untuk memulai petualangannya sendiri. Mereka pun meninggalkan gudang milik keluarga Merrion.
Mencari makanan untuk mengenyangkan perutnya sampai mencari tempat untuk berlindung ternyata tak semudah yang dipikirkannya. 

Kehidupan di luar ternyata tak cukup ramah menyambut anjing-anjing kecil. Mereka hanya bertahan beberapa hari bersama Marcy dan George sebelum akhirnya dilemparkan dengan kasar ke jalanan. Dua wanita yang melihat kejadian itu segera menghampiri mereka berdua. Sayangnya mereka hanya mengambil Bone. Squirrel berusaha menyusul kedua wanita yang membawa kakaknya, namun kondisi tubuh tak kuat akibat menumbuk aspal dengan keras saat dibuang oleh George tadi. Kini ia benar –benar sendiri. 

Haus dan lapar ternyata jauh lebih besar dari rasa kesunyian dan kesepian yang menghantuinnya. Dengan mengandalkan penciumannya, bunyi yang berasal dari perutnya dapat diredam. Walau itu berarti Squirrel harus mengorek-orek tempat sampah. Penciumannya jugalah yang menentukan kemana kakinya harus melangkah.
Suatu hari ia bertemu dengan seekor anjing bernama Moon. Pertualangan barupun dimulai bersama anjing yang wajah dan bulunya sama seperti Bone, dari mengais-ngais makanan sampai berkelahi dengan sekelompok anjing. 

Sayangnya seperti ibu dan Bone, Moon juga akhirnya meninggalkan 
Squirrel. Sepertinya ia ditakdirkan untuk hidup sendiri. Ia sempat berpikir, keluarga Becker akan menjadi tempat terakhirnya. Sayangnya keluarga ini tak benar – benar memperhatikannya. Tak jarang ia harus mencari makan dan minum sendiri karena nyonya Becker lupa memberinya makan. Ketika musim panas berakhir, ia memutuskan untuk kembali mengembara.
 
Ternyata tak hanya kucing liar yang susah untuk dijinakkan. Hal yang sama juga terjadi pada anjing. Setidaknya itu yang saya ketahui setelah membaca petualangan Squirrel dalam usahanya untuk bertahan hidup. Mungkin juga karena mereka terlalu banyak dikecewakan oleh manusia.

Wajar saja jika saya sudah melupakan bagaimana karakter seekor anjing. Karena dibandingkan dengan kucing, anjing hanya beberapa tahun menjadi peliharaan keluarga saya. Banyak dari mereka yang hilang, kami mencurigai diculik oleh pria-pria yang bersenjatakan karung goni dan pentungan. Saat itu penculikan anjing memang sedang marak. Anjing tetangga juga banyak yang raib. Yang paling menyedihkan adalah salah satu dari mereka mati karena kecelakaan. Sejak kehilangan anjing berwarna coklat itu, tak ada lagi suara guk-guk yang terdengar di rumah. 

Petualangan Squirrel benar – benar menyedihkan. Mungkin seperti itulah hidup anjing-dan kucing liar. Dunia ini memang sangat kejam untuk hewan-hewan seperti mereka. Beruntunglah kucing dan anjing yang bertuan. Karena tak perlu mengais – ngais makanan di tumpukan sampah yang banyak terlihat di jalan-jalan. 

Walaupun mungkin saja anjing dan kucing liar di luar sana tak pernah punya pikiran seperti Squirrel, tapi tetap saja menyedihkan. 

A Dog’s Life
Judul Indonesia: Kisah Seekor Anjing; Autobiografi Anjing Terlantar
Penulis: Ann M. Martin
Penerjemah : Tanti Lesmana
PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Agustus 2006
Tebal : 216 Hal

Friday, February 1, 2008

Review: Kupu - Kupu Dalam Kotak Kaca





Kupu-Kupu Dalam Kotak Kaca. Kata-kata yang tertera di sampul depan buku ini membuat saya penasaran dengan penulis yang ternyata berjumlah 9 orang ini. Sehingga tidak heran jika profil singkat setiap penulis menjadi bagian pertama yang menjadi perhatian saya. Mengingat buku ini adalah karya para penulis Makassar yang saya baca untuk pertama kalinya


Dari daftar isi terlihat bahwa mereka masing-masing menuliskan dua cerpen


Awalnya saya berpikir semua penulis akan menulis kupu-kupu sebagai tema cerpen mereka. Mengingat kata-kata tersebut yang dijadikan judul. Namun saya keliru. “Kupu-Kupu Dalam Kotak Kaca” ternyata adalah judul salah satu cerpen yang ada dalam buku ini


“Kupu-Kupu dalam Kotak Kaca”, cerpen milik Rahmat Hidayat, adalah benda yang menjadi sumber permasalahan seorang pria. Kupu –kupu yang diawetkan tersebut diterimanya sebagai hadiah penikahan yang diberikan oleh seorang sahabat. Seperti memiliki kekuatan sihir, pria tersebut menghabiskan hampir seluruh waktunya memandangi kotak tersebut. Tak heran jika istrinya mulai memberikan komentar tak sedap dengan nada penuh kemarahan dan merasa bahwa kupu-kupu dalam kotak kaca tersebut harus disingkirkan sebelum pernikahan mereka berantakan.


Selesai membaca cerpen tersebut pertanyaan pun muncul dibenak saya. Atas dasar apa para penulis ataupun penerbit memilih cerpen tersebut menjadi judul yang mewakili semua cerita yang ada? Mengapa mereka tidak memilih satu judul yang menggambarkan seluruh cerpen yang ada? Ataukah hal tersebut wajar dalam sebuah kumpulan cerpen? Untungnya pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab hingga saya menuliskan review ini, tak membunuh rasa penasaran saya pada cerita-cerita yang lain


Kebanyakan dari cerpen-cerpen yang ada ternyata benar-benar pendek. Hampir semua cerita yang ada kembali membuat saya menyusun beberapa pertanyaan. Saya memang jarang membaca sebuah kumpulan cerpen. Tapi beberapa buku tersebut tidak sampai membuat saya harus mengernyitkan alis karena kebingungan. Karena belum juga saya memahami cerita yang disuguhkan, ternyata mata saya telah sampai pada paragraf terakhir dan membuat saya harus membaca ulang hanya karena ingin mendapatkan inti dari cerita tersebut


Walaupun tak jarang dari cerita-cerita itu yang membuat saya tersenyum simpul. Salah satunya adalah “Jen”, karya Muh. Fauzan Mukrim (Ochan) yang menggambarkan seorang pria yang sangat membenci dengan segala hal yang berbau militer bahkan menyimpan trauma masa kecil. Senyum simpul saya kembali mengambang ketika membaca “Telepon” milik D. Hendiyanto dan “Tahi dan Tikus” karya Bouraq Cambuq


Diantara ke 18 belas cerpen tersebut, “Gwendollyn” karya Shanti Yani Natsir menjadi cerita yang paling saya sukai. Cerpen ini memiliki bentuk penyajian yang berbeda. Dan mampu menimbulkan rasa gemas dengan tokoh Gwen. Berulang kali saya meneriakkan kata “Lawan!“ dalam hati pada Gwen ketika sang ibu berusaha menorehkan warna biru pada bagian tubuh anak perempuannya melalui cubitan, pukulan kemoceng dan sapu, sampai cambukan ikat pinggang. Yang terasa aneh, tak satupun trauma yang dialami oleh Gwen,walaupun bertahun tahun hidup dengan kekerasan fisik yang diterimanya, nampaknya t. Yah, dari semua buku yang saya baca, tindakan kasar seperti yang dilakukan oleh ibu Gwen pasti menyisakan luka mendalam.


Garis merah yang saya tarik setelah melahap setiap kata, sadar atau tidak setiap penulis seperti menyepakati beberapa kata . Takut adalah salah satunya. Tema lain mungkin akan anda ketahui ketika membaca buku ini. Kesimpulan ini berdasarkan dari sudut pandang saya sebagai orang yang benar – benar awam pada karya sastra. Yang tentu saja tidak dapat dijadikan acuan.



Kupu – Kupu Dalam Kotak Kaca
Penulis: Rahmat Hidayat, M. Aan Mansyur, Asha Ray, Muh. Fauzan Mukrim, Shanti Yani Natsir, Al Ilham , R. Rachomi, D. Hendiyanto, Bouraq Cambuq, Wahyu Chandra, 
Penerbit:  Ininnawa
Cetakan:  1, Januari 2005
Tebal : 168 hal