Tuesday, April 22, 2008

Review: Animal Farm - George Orwell



Buku ini pertama kali saya lihat di Bukune, salah satu majalah yang awalnya fokus membahas tentang buku. Tidak adanya resensi apapun tentang buku yang satu ini membuat saya semakin ingin memilikinya. Apalagi mengetahui kalau pengarangnya adala George Orwell yang merupakan pengarang yang sama untuk buku yang berjudul 1984. Akhirnya beberapa bulan lalu, buku ini resmi jadi penghuni rak buku saya. 

Dari judul, sampul depan dan resensi singkat dibelakang sampul, dengan mudah saya mengetahui buku ini berkisah tentang binatang - binatang di sebuah perternakan milik Tuan Jones yang diberinya nama Perternakan Manor. Mereka yang hidup di pertenakannya ini sangat beragam. Dari sekumpulan ayam, babi sampai kuda penarik kereta.

Bertahun – tahun mereka hidup dalam penderitaan. Semua jerih payah yang mereka berikan pada tuan Jones tak pernah seimbang dengan makanan yang mereka dapatkan. Lihat saja telur – telur milik para ayam yang diambil begitu saja tanpa sempat melihat mereka menetas. Bahkan semua tahu cepat atau lambat hidup mereka akan berakhir di pemenggalan. Terlebih ketika mereka tak lagi berguna. 

Setelah sekan lama menunggu, sebuah suara lantang akhirnya terdengar. Menjelang akhir hidupnya, Mayor Tua mengumpulkan para penghuni peternakan dan mulai berpidato. Mayor yang dihormati ini berusaha menyakinkan para binatang agak menyusun kekuatan untuk melepaskan diri dari belenggu manusia yang selama ini membuat mereka menderita.

Tak butuh waktu lama untuk memahami maksud sang Mayaor. Karen amereka pun tak ada yang ingin hidup lebih lama di bawah cengkraman Tuan Jones yang memang tak pernah peduli dengan binatang ternaknya dan dengan sengaja membuat mereka kelaparan.
Tak lama setelah pidato terakhir sang mayor, kemarahan para binatang ternak tidak lagi dapat dibendung. Di awal bulan juni, pemberontakan pun terjadi dan dengan mudah mereka menyingkirkan Tuan Jones yang tak pernah mengira akan terusir dari perternakannya sendiri. Perternakan Manor kini berada di bawah kekuasaan para binatang. 

Hal yang pertama mereka lakukan adalah menyingkirkan hal-hal yang berhubungan dengan manusia. Dari tali kekang, tali leher kuda sampai cincin hidung semua dibiarkan dilalap api dan menjadi abu. Mereka berusaha untuk melenyapkan segala sesuatu yang mengingatkan mereka pada Tuan Jones.

Adalah Snowball dan Napoleon yang sejak awal pemberontakan menjadi pemimpin, kembali mengumpulkan semua binatang untuk membahas kelanjutan hidup mereka. Aturan demi aturan pun dibuat. Setelah didiskusikan akhirnya semua penghuni peternakan Manor menyetujui 7 peraturan. Tidak ada binatang yang boleh membunuh sesama binatang lainnya adalah salah satunya. 

Setelah aturan selesai, hal berikutnya yang dipikirkan adalah bagaimana bertahan hidup. rencana demi rencana pun dijalankan. Awalnya semua berjalan dengan mulus sampai insiden demi insiden terjadi. Manusia memang tak ada yang hidup di perternakan, namun nampaknya tirani kembali menyelimuti kehidupan mereka. 

Buku ini benar-benar membuat emosi saya turun naik. Awalnya saya mendukung pemberontakan namun akhirnya menjadi kesal karenanya. Tokoh – tokoh awalnya saya eluk-elukan akhirnya menjadi yang paling saya benci. Tidak salah jika ada kalimat yang selalu menyatakan bahwa, Tak Ada Yang Abadi Kecuali Kepentingan Pribadi.

Tak di duga, ketika mencari informasi tentang buku ini di wikipedia, banyak hal yang mengejutkan. George Orwell ternyata menuliskan buku ini sebagai refleksi dari kondisi pemeritahan di Uni Soviet saat Stalin berkuasa. Setiap binatang di dalam buku ini seperti Napoleon, Snowball, Mayor Tua bahkan Mr Jones juga ternyata mewakili orang –orang yang menghiasai kancah politik saat itu. Walaupun tidak diakui secara langsung oleh George Orwell mengenai hal tersebut, namun dengan mudah diinterpretasikan oleh beberapa pihak.

Buku yang dipilih oleh Majalah Times sebagai satu dari 100 buku berbahasa inggris terbaik (1923 – 2005) dan berada pada urutan ke 31 untuk Modern Library List of Best 20th Century Novels, ini memang cerdas.Masih dari wikipedia, buku ini ternyata telah diadaptasi ke dalam film animasi atapun film layar lebar. 

Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerjemah : J. Fransisca
Penerbit : Fresh Book
Cetakan I: 2006
Tebal : 207 Hal

Tuesday, April 15, 2008

Review: Drunken Monster - Pidi Baiq




Sejak bisa membaca huruf tanpa terbata - bata , ketertarikan saya terhadap catatan seseorang cukup besar. Tidak peduli catatan berisi pelajaran ataupun tentang kesehariannya. Satu dua kalimat yang ditorekan di bagian paling bawah buku catatan pun tak luput dari pandangan saya. Apalagi kalau sudah bercerita suatu petulangan yang belum pernah saya lakukan maupun rasakan.

Tak heran jika buku yang berisi catatan pak Pidi Baiq ini saya pilih untuk menjadi sala satu penghuni baru rak buku saya di bulan April. Padahal sampul depannya sudah tertera beberapa peringatan seperti Kumpulan Kisah Tidak Teladan ataupun Ini Buku Berbahaya. Bahkan ilustrasi yang dipilih pun seperti gambar anak SD yang baru belajar menggambar. Yah, saya bukan orang yang menilai buku dari sampulnya.
Alasan lain selain paragraf pertama diatas adalah karena semua tulisan di buku ini adalah tulisan yang diposting di multiply.com. Tepatnya, Drunken Moster adalah blog yang dibukukan. Semua buku sejenis ini memang membuat mata saya kalap.

Buku ini selesai saya baca dalam beberapa jam setelah membuka plastik yang tadi membungkusnya. Walau tak mampu membuat saya terpingkal-pingkal ketika seperti membaca buku Raditya Dika, namun dengan mudah saya simpulkan bahwa bapak yang dulunya dekan ini jauh lebih gokil.

Lihat saja tingkah lakunya di semua kisah yang tertulis lengkap dengan ilustrasi yang tak kalah aneh. Tak peduli perempuan ataupun pria, tua maupun muda, tukang becak maupun tukang ojek semua sudah jadi korban kejailannya. Bahkan orang yang sama selalui tidak dikenalnya. Seakan tak pernah kehabisan ide, selalu ada hal baru yang mengejutkan dan membuat saya akhirnya tersenyum simpul bahkan kadang terpingkal tiba-tiba di setiap babnya.

Bayangkan saja, saat itu pak Pidi yang sedang mengendarai motor. Entah apa yang merasuki dirinya, diperjalanan menuju rumah, ia segera meminta seorang tukang becak untuk membawa motornya, sedangkan ia akan mengayuh becak sampai ke rumah. hal – hal seperti itu sepertinya terjadi dengan spontan. Tak ada perencanaan sama sekali.

Di antara kekonyolan-kekonyolan yang sepertinya tak pernah lepas dari diri Pak Pidi, ada satu, dua mungkin tiga yang membuat saya tiba-tiba terenyak dengan perubahan emosi yang begitu tiba – tiba.

Selain gokil, bapak yang satu ini juga sangat pandai berkelit. Ketika kedapatan melakukan hal-hal aneh, dia pasti akan segera mencari alasan apa saja agar semua perbuatan anehnya itu bisa tertutupi. Hanya orang – orang dekat ataupun kawan lama yang mengetahui bahwa pak Pidilah otak dari suatu insiden.

Bahkan ketika jatuh sakit pun, masih saja ada yang konyol yang dilakukannya,seperti menyuruh pembantunya emanggil tetangga hanya untuk mendengarkan ring tone Hpnya sampai membalikkan posisi TV , bahkan menulis surat cinta konyol kepada istrinya.

Dari semua hal-hal aneh yang tertuang dalam buku ini, ada satu yang membuat saya berdecak kagum. Pak Pidi terlihat sangat murah hati. Dengan mudah uang mengalir dari tangannya ke saku orang lain. Seperti hanya kejailan, ia pun tak sungkan untuk memberi rezeki yang dimilikinya kepada orang lain

Yang sedikit mengganggu adalah terkadang saya sedikit bingung dengan cara Pak Pidi bercerita, karena tak ada sensor EYD ataupun mungkin dibiarkan begitu saja oleh sang editor. Sehingga terasa ada keganjilan dalam kalimat-kalimatnya. Hmm...walaupun mungkin ini juga yang menjadi bagian dari keanehan Dan kekonyolan sang penulis itu. Melihat ini, membuat saya berpikir, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak lagi blog-blog yang dibukukan.

Buku ini memang berbahaya, ada virus tak nampak yang disebarkannya. Virus hanya akan bisa dideteksi begitu buku ini berada di tangan. Yah, jangan sampai Anda adalah korban kejailan Pak Pidi berikutnya.

Drunken Monster
Penulis : H. Pidi Baiq
Penerbit: Dar! Mizan
Cetakan: I, Januari 2008
Tebal: 204 hlm