Friday, May 30, 2008

Chocolat


Chocolat

Penulis: Joanne Harris

Penerjemah: Ibnu Setiawan

Penerbit: Bentang

Cetakan: I, Oktober 2007

Tebal: 374 hlm


Cokelat Dipuja Sebagai Obat Pahit Kehidupan

Kegembiraan Yang Dibawanya Dahsyat Dan Mengerikan

Ketika berbicara tentang cokelat, saya yakin akan banyaknya pendapat yang beragam. Apalagi kalau membahas bagaimana lezatnya makanan yang satu ini. Dari dark cokelat, milk sampai white cokelat sampai yang telah diramu menjadi cake, pudding, ataupun minuman hangat, semua punya cita rasa tersendiri. Kata-kata tak akan mampu mengungkapkan kelezatan yang terkandung di dalamnya.

Namun apa jadinya jika aroma dan kelezatan cokelat menjadi hal yang dihindari oleh hanya karena pemilik toko cokelat memiliki pemahaman yang berbeda dengan masyarakat sekitar?

Setrlah lama mengembara tanpa arah dan tujuan yang jelas, akhirnya Vianne Rocher dan anaknya Anouk memutuskan untuk menetap di sebuah kota. Mereka tiba di Lansquenet-sous-Tannes saat itu sedang merayakan Pesta Karnaval. Sehingga saat itu suasana suram sedikit tertutupi dengan keramaian yang berada hampir disetiap sudut.

Membuka toko cokelat adalah keputusan yang diambil Vianne untuk menyambung hidup, berbekal kemampuan yang dimilikinya sejak bertualang bersama ibunya dari satu tempat ke tempat lain. La Celeste Praline menjadi nama yang diilih untuk tokonya. Bersama Anouk, Vianne mulai membenahi bangunan yang dulunya adalah sebuah toko roti.

Tak butuh waktu lama bagi La Celeste Praline menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut. Dekorasi yang benar benar memikat dan tentu saja cokelat cokelat jualan yang dipajang dengan beragam bentuk yang menggoda selera.

Sayangnya penduduk Lansquenet-sous-Tannes bukanlah orang-orang yang dengan mudah menerima pendatang baru. jangankan menyambut Vianne, yang terjadi mereka malah mencemooh. Apalagi setelah mengetahui bahwa Vianne dan anaknya tak akan pernah bergabung di satu misa pun yang diselenggarakan oleh pihak gereja. Terlebih ketika Vianne tetap membuka tokonya di hari minggu.

Aroma cokelat yang datang dari toko Vianne kini harus bersaing dengan gelombang kebencian oleh beberapa orang. Beruntung ada beberapa pelanggan setianya yang tetap membuatnya bertahan. Seakan tak peduli dengan serangkaian serangan maupun boikot, Vianne memutuskan untuk membuat festival cokelat.. Kegeraman orang-orang yang tidak menyukai Vianne dan toko cokelatnya kini tak dapat lagi dibendung.

Cerita yang menarik. Apalagi dibumbui dengan beragam bentuk cokelat yang dengan mudah membantu para pembacanya merasakan kelezatannya.

Sayangnya sampul dari buku ini tidak benar – benar mampu memperlihatkan kelezatan cokelat yang ada. Secangkir cokelat yang di sampul depan itu terlihat dingin dan tak lagi menggugah selera. Benar-benar tak sebanding dengan gambaran hot chocolate yang dihidangkan Vianne di tokonya.

Dari wikipedia, saya mengetahui bahwa buku yang telah difilmkan pada tahun 2000 silam ternyata memenangkan beberapa penghargaan dan dinominasikan dalam banyak penghargaan film bergengsi. Mungkin para juri tak hanya menilai dari cerita ataupun karakter yang berperan di dalamnya, namun karena terpikat dengan semua cokelat yang memang jauh lebih menggiurkan. Saya sendiri yang hanya melihat sedikit cuplikan filmnya berhasil dibuat lapar karenanya.

Wednesday, May 28, 2008

Review: Artemis Fowl: The Eternity Code - Eoin Colfer



Berbulan –bulan lamanya berlalu sejak insiden besar yang menimpa keluarga Fowl dannyaris merenggut nyawa Fowl senior. Banyak perubahan yang terjadi setelahnya. Tidak hanya kepribadian sang ayah, Artmeis juga tak dapat menolak ketika ia dikirim ke sebuah asrama. Namun aturan seketat apapun nampaknya tak dapat menghalangi anak laki-laki cerdas yang IQnya tidak diragukan lagi merancang sebuah alat yang dengan kemampuan yang mampu membuat dunia tercegang. 

Komputer super canggih itu yang diberi nama C-Cube. Dikembangkan dari teknologi yang “dipinjamnya” dari dunia peri. Dengan bantuan Butler, pengawal pribadinya yangs angat profesional, ia mampu mengumpulkan beberapa barang barang milik kepolisian LEP, hasil beberapa kali berinteraksi dengan mahkluk mahluk dunia bawah. Yang ada di kepala Artemis saat itu adalah bagaimana mengumpulkan lebih banyak pundi – pundi emas dengan menjualnya ke pasaran. Karena tak diragukan lagi kemampuan C-Cube akan membuat semua orang tergiur. Sayangnya tak pernah terpikir oleh Artemis, bahwa alat hasil modifikasinya ini akan membawa ancaman yang tak hanya membahayakan nyawanya namun seluruh umat manusia. 

Suatu hari di sebuah restoran yang disepakati, Artemis bertemu dengan seorang pengusaha dari Chicago , Jon Spiro. Maksud untuk memamerkan komputer super canggih pada pria yang memiliki banyak perusahaan di Amerika ini ternyata berakhir dengan kecelakaan tragis. Tidak hanya mencuri C-Cube, Butler sang pengawal setia pun terluka hingga nyaris membuat dirinya kehilangan nyawa. Semua rencana yang telah disusunnya hancur berantakan. Artemis seperti tak sadar bahwa Jon Spiro adalah pria yang bejat, yang tidak pernah ragu menempuh cara apa saja untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Walau harus mengorbankan nyawa seseorang. 

Tak kehilangan akal, Artemis segera menghubungi kaum peri. Memohon pertolongan. tak hanya untuk menyelamatkan Butler namun juga untuk memperoleh kembali C – Cube.
Setelah berunding,akhirnya diputuskan kaum peri setuju untuk membantu Artemis. Karena C- Cube diakui Artemis mampu memberi tahu pada Jon Spiro tentang keberadaan dunia bawah tanah. Kapten Holly Short pun kembali diturunkan untuk masalah ini dengan satu syarat, jika misi ini berhasil, maka semua ingatan Artemis tentang kaum peri akan dihapus. Artemis tak punya pilihan lain. Butler benar –benar dalam keadaan sekarat. Persyaratan yang sangat berat itupun disetujuinya.
Rencana penyusupan pun disusun. Namun di luar dugaan Jon Spiro telah mempersiapkan sambutan yang luar biasa. 

Petualangan Artemis dibuku ketiga ini tak kalah serunya dengan buku-buku sebelumnya. Yang menarik adalah sikap Artemis yang sekarang tumbuh menjadi sedikit lebih dewasa. Dan tentu saja yang paling menarik adalah perjanjian pengapusan ingatan. Obsesi Artemis akan kaum peri dan dunianya semakin besar sejak mengetahui seluk beluk mereka beberapa tahun lalu. Tidak sabar rasanya membaca petualangan Artemis berikutnya. Otak kriminal milik artemis yang juga membuat buku ini menjadi menarik. 

Artemis Fowl: The Eternity Code
Judul Indonesia: Sandy Abadi
Penulis: Eoin Colfer
Alih Bahasa: B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Desember 2006
Tebal: 424 hal

Review: Heretic - Sarah Singleton


Selalu menjadi hal yang menarik perhatian saya ketiak sebuah buku diangkat dengan latar belakang sejarah. Walau cerita didalamnya hanya pengembangan fakta di masa lalu, namun memberi nilai tersendiri pada setiap babnya. apalagi yang menjanjikan petualangan yang menegangkan . Seperti yang ditulis oleh Sarah Singleton dalam buku yang satu ini. Dengan sampul berwarna coklat dengan gam,bar yang cukup suram seperti menjadi gambaran bagaimana cerita yang ada di dalamnya.
Tahun 1527, pemasalahan antara Gereja dan kerajaan Inggris mencuat ke permukaan. Hal ini disebabkan karena permintaan Raja Henry VIII pada Paus, pemimpin Gereja Katolik Roma, mengabulkan permintaan cerainya kepada istirinya karena tidak bisa memberinya putra, ditolak. Sejak saat itu, Raja Henry memutuskan dengan Gereja Katolik. Bahkan menutup delapan ratus biara. Bertahun tahun setelah itu pergolakan terus terjadi. Di masa pemerintahan berikutnya, sekitar dua ratus pastor dan umat Katolik dieksekusi.
Elizabeth, anak perempuan yang besar dikeluarga yang memeluk agama yang bertentangan dengan kerajaan tentu tak bisa bernafas dengan lega. Ayah memutuskan untuk meninggalkan rumah demi kepentinagn bisnis dan kakaknya Robert belajar di Universitas. Otomatis kehidupan keluarganya tidak berjalan seperti bagaimana mestinya. Terlebih karena mereka harus membayar denda pada kerajaan. Mau tak mau mereka harus menghemat untuk dapat terus hidup. Elizabeth pun memutuskan untuk membantu keluarganya bekerja di sebuah rumah bangsawan
Beruntung Lady Catherine, wanita bangsawan sekaligus majikan di tempat Elizabeth bekerja, menyukainya. Tugas yang dilakukan Elizabeth tidaklah seberat pelayan umumnya. Terkadang yang perlu dilakukannya hanyalah mengobrol dengan sang Lady.
Setiap hari Elizabeth berjalan setengah kilometer untuk sampai di bukit Spirit, rumah bangsawan itu berada. Suatu hari dalam perjalanan pulang ia menemukan makhluk berkulit hijau di hutan. Tak disangka ternyata ia adalah seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis itu mengenalkan diri sebagai Isabella.
Dari cerita Isabella, Elizabeth tahu bahwa gadis itu bersembunyi dari kejaran orang- orang yang menuduhnya sebagai penyihir. Banyak hal yang mengejutkan dari cerita Isabella. Seperti halnya gadis misterius ini, Elizabeth juga sebenarnya memiliki satu rahasia besar yang jika terbongkar akan berakibat fatal bagi keselamatan ibu dan adiknya. Tentu saja dirinya sendiri. Bersama Isabella, Elizabeth pun mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Setelah The Century, ini buku kedua Sarah Singleton yang saya baca. Tak berbeda dengan buku sebelumnya, cerita kali ini pun sangat gelap. Bakan dari sampul depan buku hal tersebut tergambar denga jelas. Sayangnya warna sampul yang tidak jauh berbeda dengan buku sebelumnya. Seakan tidak ada variasi di dalamnya. entah apakan ingin memberi tahu kepada para pembaca bahwa cerita yang ada di kedua buku sama – sama memberikan al yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Seperti halnya The Century, terdapat beberapa bagia dalam buku ini yang menceritakan sesuatu yang cukup mengerikan untuk divisualisasikan. Sehingga tentunya saja klimaks dari buku juga bergenre fantasi ini tetap menjadi hal yang menarik untuk dituntaskan.

HERETIC
Penulis: Sarah Singleton
Alih Bahasa: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Oktober 2007
Tebal: 328 Hal

Tuesday, May 27, 2008

Gadis Yang menikahi Seekor Singa


Gadis Yang menikahi Seekor Singa
Judul Asli: The Girl Who Married a Lion
Penulis: Alexander McCall Smith

Penerjemah: Sari Kusuma

Penerbit: Bentang

Cetakan: I, November 2005

Tebal: 198 hlm + xiv


Pada zaman dahulu di sebuah desa, seorang pria bernama Kumalo baru saja menikahkan anak perempuannya dengan seorang pria yang tak hanya tampan namun juga sanggup memberikan banyak ternak yang diinginkannya. Hilang sudah kekhawatirannya akan kehidupan anak perempuannya setelah menikah. Terlebih lagi anak perempuannya juga terlihat begitu bahagia menikah dengan pria yang begitu baik dan kuat.

Hampir semua orang dikeluarga Kumalo meras senang dengan pernikahan ini. namun tidak demikian dengan saudara lelaki anak perempuan itu. Ia merasa bahwa ada yang salah dengan suami saudara perempuannya. Bahkan dengan lantang berkata bahwa saudara perempuannya menikahi seorang singa. Tidak hanya itu, ia juga berkata bahwa singa itu menyamar sebagai seorang lelaki.

Tentu saja tak seorang pun percaya. Bahkan anak perempuan itu tidak menganggapi semua perkataan saudaranya dengan serius. Namun tetap saja saudara laki – lakinya berkeras dengan pendapatnya. Bahkan mengambil jarak dengan saudara iparnya.

Beberapa tahun berlalu, anak perempuan tersebut memiliki dua anak laki laki yang sama tampan dan kuatnya dengan ayahnya. Semua orang semakin yakin bahwa ucapan pria itu hanyalah bualan. Terlebih lagi pria itu tak dapat membuktikan ucapannya.

Sampai suatu hari, saudara perempuannya mengeluh mengenai bau aneh yang berasal dari suaminya. Penyelidikan pun dimulai. Mulai dari memeriksa barang barang milik iparnya bahkan sampai menguji apakah saudara iparnya benar benar seekor singa. Tak butuh waktu lama untuk melihat kebenaran dari semua ucapannya beberapa tahun lalu.

Kisah singkat di atas adalah salah satu dari beberapa cerita –cerita rakyat di dua negara di Benua Afrika tepatnya di Zimbabwe dan Botswana. Cerita – cerita dari mulut ke mulut itu di rangkum sang penulis ini memiliki beberapa kesamaan dengan dongeng – dongeng yang juga populer di negara lain. Hanya saja dikemas berdasarkan tradisi yang membuatnya menjadi sedikit berbeda. Lihat saja tingkah si kelinci yang tak pernah berhenti melakukan segala trik untuk mengalahkan sang raja hutan. Ataupun cerita ketika manusia dan para binatang di hutan dapat memahami satu sama lain.

Tema yang diangkat pun tak jauh –jauh dari kedengkian, tipu muslihat, dan ambisi yang berlebihan. Walau tak jarang beberapa cerita berakhir dengan kisah sedih, namun banyak nilai – nilai moral yang terkandung dalamnya. Mungkin saja kalau cerita rakyat dari Indonesia dikumpulkan tak akan kalah menggugahnya dengan kumpulan dongeng maupun fabel dari Afrika ini. Karena yang namanya dongeng ataupun fabel akan tetap menarik dibaca kapan pun.

Sunday, May 25, 2008

Review: Aku Hendak Pindah Rumah - M. Aan Mansyur




Terima kasih adalah dua kata yang spontan terucap ketika 101 puisi di buku ini selesai saya lahap. Mengapa hanya dua kata? Apakah saya pelit memberikan pujian ataukah stok kalimat saya habis untuk buku-buku lain. Tidak sama sekali. Kedua kata itu malah menjadi apresiasi terdalam saya terhadap semua kata kata yang terajut di dalamnya. Karena tidak seperti buku kumpulan puisi yang telah saya review sebelumnya, yang membuat saya pusing karena memaksakan diri untuk memahami makna yang tersirat. Puisi-puisi di dalam buku ini seakan mengerti masalah yang saya hadapi saat bertatapan dengan permainan kata tersebut. Pilihan kata yang sederhana membantu mata saya melihat keindahan yang dijanjikan oleh setiap puisi.

Aku Hendak Pindah Rumah, judul buku yang juga merupakan judul salah satu puisi yang tertulis di dalamnya, dikemas menjadi sebuah perjalanan singkat menelusuri setiap sudut di sebuah rumah. Di mulai dari taman depan sampai taman belakang, melalui beberapa pintu berlainan.


Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan
Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja
agar makna sajakku tidak lenyap diperangkap ungkapan


Kata-kata di atas menjadi jaminan, saya tidak akan tersesat didalamnya dan tanpa ragu saya pun mulai melangkah masuk melalui pintu pertama, pintu lama, pintu kenangan. Tetesan hujan dan pepohonan menyimpan banyak cerita tentang para penghuninya. Dengan mudah saya memahami setiap rasa yang tersimpan dalam setiap kisah yang penuh kenangan berarti. Terdapat cerita tentang kepergian beberapa orang terdekat yang menimbulkan rasa haru bahkan cerita yang sering kali membuat saya tersenyum simpul. 

Berpindah ke pintu berikutnya, pintu hati, pintu persembunyian. Pohon dan tetesan hujan masih ada di dalamnya. Cerita kini berkisah tentang seorang sosok wanita yang terlihat sangat tegar walau luka dan rasa sepi seperti tak berhenti merajam di setiap detik kehidupannya. Yang tak berhenti membuat saya kagum adalah kasih sayang yang tak pernah pupus pada orang-orang di sekelilingnya, seakan tak peduli dengan semua kepedihan. Membuat saya teringat lagu Iwan Fals yang bertajuk Ibu.

Pintu baru, pintu kegaduhan mempunyai beberapa cerita yang unik. Pengemasan kata-kata yang beragam membuat semua puisi seakan berbicara bahkan tak sedikit yang meneriakkan sesuatu yang selama ini telah lama dipendamnya.

Pintu berikutnya adalah pintu waktu, pintu perjalanan. Terdapat beberapa baik singkat yang ditulis di setiap kot ayang disinggahi Aan dalam beberapa kesempatan dan dirangkain menjadi satu puisi. Tak banyak yang dapat saya ceritakan mengenai mengenai tulisan tulisan di dalamnya. Mungkin karena terlalu lama bermain di ruangan sebelumnya. Sehingga saya menjadi benar-benar kesusahan untuk mengeja setiap kata di dalamnya.

Dan sampailah saya di taman belakang. Saya kembali tersenyum membaca kalimat yang memang tersusun dari kata-kata yang sederhana namun menjadi penutup yang manis. Tak salah jika dalam salah satu puisi dalam buku ini tertulis:
“Kalimat yang suka berdandan tidak pernah cantik, bukan?”

Aku Hendak Pindah Rumah
Penulis: M.Aan Mansyur
Editor: Hasan Hapsahani
Penerbit: Nala Cipta Litera
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: 180 hal

Tuesday, May 6, 2008

Review: Read Really Fast - Roy Townsend


Membaca bagi saya bukan lagi menjadi sebuah hobby. Kegiatan yang satu ini tarafnya sama dengan makan dan minum. Tak satu haripun saya biarkan berlalu tanpa membaca. Baik itu buku berbagai genre, koran, komik, potongan artikel ataukah postingan di blog seseorang sekalipun.

Sayangnya kegiatan membaca ini terkadang masih terpengaruh dengan mood. Dalam keadaaan normal, sepekan saya mampu menyelesaikan beberapa buku. Namun kalau kondisi saya tidak fit, beruntung jika dalam satu pekan ada buku yang berhasil saya lahap. Padahal tumpukan buku-buku saya setiap bulannya pasti bertambah. Saya pun segera mengiyakan sebuah kalimat yang dikutip dari lagu milik Arkarna , So little time, so much books to read

Awalnya saya tidak menganggap hal ini sebagai suatu masalah. Namun ketika mengetahui bahwa seseorang ternyata mampu menyelesaikan 200 buku dalam setahun membuat saya terkejut. Dari kuesioner singkat yang saya buat di salah satu forum, ternyata ada yang pernah membaca 40 buku dalam sebulan. Hal ini membuat saya berpikir, pasti ada yang salah dengan cara saya membaca. Walaupun tidak lagi terbata-bata, setelah saya amati, ternyata masalah terletak pada kecepatan saya membaca.
Read Really Fast, akhirnya menjadi pilihan saya. Buku ini relatif lebih tipis dibandingkan dengan buku-buku yang memberikan tips yang sama dan telah terbit sebelumnya.

Seperti biasa, untuk mengubah kebiasaan, tentunya kita perlu meluruskan niat. ^_^V
Membaca cepat di sini tentu saja bukan hanya sekedar menelusuri kata-kata tanpa mengerti apa yang hendak disampaikan sang penulis.

Bacalah Dalam Hati-Jangan Bersuara

Karena membaca dengan bersuara ternyata memperlambat kecepatan baca. Membaca dengan mengeluarkan suara hanya akan menimbulkan rasa lelah. Bahkan membuat proses untuk menyampaikan pesan yag terdapat dalam sebuah kalimat/paragraf menjadi lebih lama diproses oleh otak. Fokus kita tidak hanya pada apa yang kita baca, namun juga pada suara yang kita hasilkan.

Kedua, Jangan Pernah Mengulang
Yah, terkadang karena tidak yakin benar terhadap apa yang kita baca, mengulang kerap kali dilakukan. Hal ini hanyalah membuang-buang waktu. Teruslah baca sampai kalimat terakhir. Jangan pernah berhenti di pertengahan kalimat. Kalau perlu gunakanlah jari untuk membantu menelusuri kalimat-kalimat tersebut.

Ambilah Penggalan Yang Lebih Besar
Berlatihlah dengan mengelompokkan beberapa kata yang terdapat dalam satu baris. Cara ini adalah cara yang menurut saya paling efektif dibanding ketiga tips diatas. Untuk meningkatkan kecepatan membaca.

Cukup Baca Sebagian Kata Saja
Tips ini bisa diterapkan saat membaca koran. Tak jarang berita utama di letakkan pada kalimat awal. Karena kalimat kalimat selanjutnya kebanyakan hanya merupakan “bumbu” Bacalah hanya kata-kata yang bermaksa saja. Hal ini bisa diterapkan saat membaca koran.

Masih ada beberap tips yang tidak saya tuliskan di sini. karena alangkah baiknya kalau buku how to sepert langsung Anda baca sendiri

Buku ini sendiri dapat saya selesaikan dalam waktu beberapa jam. Seperti yang saya inginkan, buku ini memang memberikan jalan keluar yang saya cari bagaimana dengan mudah membaca cepat. Tak ada masalah dalam penerjemahan. Walau kadang keterkaitan antara satu paragraf dengan paragraf lain terasa janggal

Yah, secara keseluruhan dapat saya mengerti. Sekarang yang diperlukan saya lakukan adalah melakukan latihan terus menerus. Sehingga tak hanya menghemat waktu namun yang paling penting adalah dapat mengurangi tumpukan buku-buku yang belum tersentuh sama sekali itu. Target untuk menyelesaikan 3 buku setiap pekannya tentu bukan hal mustahil. 

Read Really Fast
Penulis: Roy Townsend
Penerjemah: Woro Vidya Ayuningtyas
Penerbit: Andi
Cetakan: I, 2007
Tebal: 112 hal

Saturday, May 3, 2008

Review: The Penderwicks - Jeanne Birdsall


Tak banyak buku yang menerima penghargaan. Sehingga setiap kali melihat di sampul depan sebuah buku terdapat kata-kata Award Winner saya pasti akan berusaha untuk membawanya pulang dan menjadikannya salah penghuni rak buku di rumah. Tak heran jika akhirnya buku yang di depannya tertuliskan kata-kata National Book Award Winner for Young People’s Literature menjadi pilihan saya bulan ini.

Apa yang istimewa dari buku ini? Menjadi pertanyaan saya berikutnya ketika buku ini telah berada di tangan saya.

Dari judulnya, dapat diketahui bahwa buku ini mengambil liburan musim panas sebagai settingnya. Saya langsung teringat buku lima sekawan milik Enyd Bliton. Terbayang semua petualangan yang mereka lakukan dan tentu saja makanan yang disediakan untuk sarapan pagi hingga makan malam. Yang tak kalah penting adalah waktu minum teh di sore hari.

Rosalind, Skye, Jane dan Batty, keempat kakak beradik di keluarga Penderwick yang sangat resah memikirkan liburan musim panas mereka. Jika liburan sebelumnya selalu mereka habiskan di Cape Cod, namun kali ini nampaknya mereka tak lagi dapat lagi menghabiskan hari – hari bermain di rumah pantai yang biasanya mereka sewa. Beruntung mereka tak harus menghabiskan masa liburan di rumah mereka, karena tiba-tiba saja ada kabar baik dari teman Mr Penderwick. Ada sebuah vila yang dapat ditempati oleh mereka di Berkshire Mountain bernama Arundel. Merasa tak perlu membuang waktu untuk melihat kondisi vila, Mr Pendewick lantas mengajak ke empat putrinya dan Anjing mereka, Hound untuk segera berangkat.

Terkejutlah mereka ketika melihat Arundel Cottage yang akan mereka tempati bukanlah vila biasa. Tempat ini sangat luas di kelilingi oleh pepohonan. Tamannya pun sangat luas. Ada sebuah mansion yang sangat besar. Vila yang mereka tempati berada di belakang mansion. Walau tak sebesar mansion di depan, namun vila yang dulunya digunakan vila tamu rumah utama memiliki banyak kamar. Setiap anak perempuan Penderwick sangat menyukai kamar pilihan mereka.

Petualangan pertama dilakukan oleh Skye. Dialah yang pertama kali melihat sang pemilik mansion, Mrs Tifton. Seperti yang diceritakan sebelumnya oleh Cagney, sang tukang kebun, wanita ini memang sedikit menakutkan. Skye jugalah yang pertama kali bertemu dengan anak laki-laki yang bernama Jeffrey. Merasa sangat lega menemukan teman sebaya, Skye pun segera memberikan peringatan pada Jeffrey tentang Mrs. Tifton. Satu kesalahan besar telah dibuatnya. Karena anak laki-laki itu adalah anak Mrs Tifton.

Untung saja perkataan Skye tentang ibunya tak membuat Jeffrey menjauhi ke empat bersaudara pendewick. Sebaliknya Jeffrey menjadi teman yang sangat menyenangkan. Bahkan bagi Batty yang sangat pemalu sekalipun. Semua itu berawal dengan sebuah insiden yang hampir saja merenggut nyawa.

Petualangan demi petualangan pun mereka lalui.kebanyakan skye dan Jane menghabiskan waktu bersama Jeffrey. Sedangkan Rosalind dan Batty asyik bersama Cageny dan kelincinya. Namun tak jarang mereka semua berkumpul bersama. sepeti saat perayaan ulang tahun Jeffrey. Banyak hal yang terungkap dari kejadian hari itu. salah satunya berkaitan dengan masa depan Jeffrey. Tak hanya itu, dari pesta ini juga, mereka semakin tidak menyukai Mrs Tifton.

Cerita tentang liburan musim panas memang punya daya tarik tersendiri. Hampir di semua novel anak-anak yang menceritakan al ini pasti menyajikan petualang yang seru. Dari sana saya melihat bahwa liburan bagi anak-anak di dunia buku harus dihabiskan dengan berpergian ke suatu tempat yang jauh dari rumah. mungkin saja itu juga yang menjadi gambaran bagi liburan musim panas.

Novel yang menarik untuk anak anak. Tidak hanya dari segi cerita tapi juga karena didukung oleh tokoh-tokoh yang ada didalamnya. Dari kakak beradik Pernderwick, Jeffrey bahkan Mr Penderwick sendiri pun punya andil dalam hal ini. sekali lagi petualang didalamnya membuat saya sedikit iri.

The Penderwicks
(A summer Tale of Four Sister, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy)
Judul Indonesia : Keluarga Penderwicks: Kisah Musim Panas Empat kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan seorag Anak Laki-lai yan Sangat Menarik)
Penulis: Jeanne Birdsall
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I,  Maret, 2008
Tebal: 292 hal

Friday, May 2, 2008

Review: The Heart is A Lonely Hunter - Carson McCullers


Buku ini menjadi salah satu hadiah yang saya terima setahun yang lalu. Saat Qanita menggelar lomba menulis resensi melalu milisnya. Dari catatan singkat di belakang buku saya mengetahui bahwa novel yang disampul depannya terdapat cap dari Book Oprah’s Club : The Brand New Selection ini, berkisah tentang kehidupan orang – orang di Amerika, saat rasialis masih menjadi masalah yang mencuat dipermukaan.

Adalah John Singer, seorang pria bisu tuli menjadi toko sentral di buku ini. Pria bisu tuli ini dulunya tinggal bersama sahabatnya, Spiros Antonapoulos, yang juga bisu. Berbeda dengan sahabatnya yang urakan dan hanya memikirkan makanan, John Singer adalah seorang pria yang sangat rapi dengan paras yang selalu terlihat cerdas. Tak hanya dari penampilan, bahkan tingkah laku pun mereka sangat jauh berbeda. Entah berapa kali Antonapoulos melakukan keonaran. Dan setiap kali keonaran itu terjadi dengan segera Pak Singer melakukan sesuatu agar sahabatnya tak perlu mendekam di penjara. Sampai di halaman terakhir saya terus bertanya apa yang membuat Pak Singer terlihat begitu perhatian terhadap Antonapoulos yang selalu bertindak seenaknya. Bahkan tak sekalipun Antonapoulos menunjukkan hal yang sama terhadap Pak Singer.
Dan bukannya sadar, kelakuan Antonapoulos semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya diputuskan bahwa pria tambun ini harus mendapat perawatan khusus di rumah sakit jiwa.

Sejak ditinggal sabahatnya, Pak Singer pun memutuskan untuk meninggalkan rumah yang mereka tinggali bersama selama sepuluh tahun terakhir. Setiap sudut dirumah itu membawa mempunyai kenangan yang hanya membuatnya kembali teringat pada Antonapoulos. Ia menyewa salah satu kamar di sebuah gedung kumuh, tak jauh dari pusat kota dan Kedai yang diberi nama New York Cafe menjadi pilihannya untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam.

Bermula dari Cafe inilah, ia mulai mengenal dekat beberapa orang selain Antonapoulos. Mick Kelly, seorang gadis yang sangat menyukai musik, Jake Blount yang tak pernah berhenti berbicara mengenai ideologi dan membuat orang-orang disekitarnya yakin akan pemahamannya itu. Ada pula Biff Brannon sang pemilik New York Cafe dan terakhir Benedict Copeland, seorang dokter kulit hitam yang tak menentang adanya diskriminasi rasial.

Mereka secara rutin mengunjungi Pak Singer. Seakan dengan menceritakan segala hal pada pria ini membuat mereka lega. Lihat saja Mick, anak perempuan ini tak pernah bosan menceritakan obsesinya pada piano ataupun hal –hal yang terjadi di keluarganya. Cerita tentang Mick ini menjadi salah satu bab yang paling saya sukai.
Lain cerita dengan Jake Blount yang mengutarakan hal – hal yang tak pernah saya mengerti. Belum lagi kisah yang keluar dari mulut sang dokter. Hanya Biff Brannon yang tidak begitu banyak mengeluarkan kata-kata saat ia bertandang ke rumah. Walaupun tak dapat berbicara dan mendengar layaknya manusia normal, namun mereka sangat yakin Pak Singer mengerti setiap kata yang mereka sampaikan. Tak heran jika pertengahan musim panas, kamar Pak Singer hampir selalu terdengar suara-suara

Yang anehnya, tak sekalipun Pak Singer mencoba terbuka kepada empat orang ini tak pernah sekalipun. Tak sedikitpun cerita tentang Antonapoulos yang diceritakan kepada mereka. Bahkan ketika tiba waktu untuk mengunjungi sahabatnya itu, Pak Singer tak sekalipun mengucapkan sesuatu kepada para tamunya itu. Mereka pun mengira bahwa Pak Singer sedang melakukan perjalanan bisnis.

Tak kalah anehnya, ke empat orang ini juga tak pernah dekat satu sama lain. Padahal mereka tahu bahwa mereka kerap kali mengunjungi pria yang sama untuk menceritakan hal yang sama. Memang ada di antara mereka yang memasang dinding tebal seakan tak membiarkan yang lain untuk mendekat. Padahal sadar atau tidak, mereka terkait satu sama lain oleh dua hal. Kesendirian dan Kesepian.

Walau terasa agak berat, terutama bab yang bercerita tentang Jake dan Copeland, namun banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam buku ini. Setidaknya Carson McCullers, sang penulis, membantu saya memahami kalimat “ Hidup adalah Pilihan”. Menjadi bahagia atau menderita semua ada di tangan kita.

The Heart is A Lonely Hunter
Penulis: Carson McCullers
Penerjemah: A. Raharti Bambang Haryo
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Februari 2007
Tebal: 494 hlm

Review: Lotta - Astrid Lindgren



Astrid Lindgren adalah salah satu dari banyak penulis novel anak-anak. Di rak buku saya sudah berjejer buku-buku karyanya yang telah diterjemahkan. Lotta, begitu judul buku dengan sampul depan yang menggambarkan seorang anak kecil yang terlihat marah. Apa yang membuatnya sedemikian marah? 

Lotta adalah satu dari tiga anak yang tinggal di keluarga Nyman. Sebagai anak paling kecil, Lotta tak dapat melakukan banyak hal sebebas kedua kakaknya, Jonas dan Maria. Semua hal itu membuatnya ingin tumbuh besar lebih cepat. Karena selama ini hanya Jonas ataupun Maria yang diperbolehkan keluar rumah untuk membeli permen di lapangan depan rumah saat hujan turun. Hingga ketika mendengar bahwa hujan membantu tumbuhan untuk tumbuh menjadi besar, ia pun memutuskan untuk membiarkan tubuhnya basah diguyur hujan. Benar- benar anak yang lugu.

Tak ada hari yang berlalu tanpa dihabiskan dengan bermain bersama kedua kakaknya. Walau terkadang banyak permainan yang dibuat kedua kakaknya terasa konyol. Dari bajak laut sampai menjadi dokter. Jonas dan Maria tahu bahwa Lotta tak paham dengan peran yang harus ia jalankan,sehingga tak jarang permainan harus berakhir hanya karena Lotta menolak meneruskan permainan. 

Tak hanya keras kepala, Lotta adalah anak kecil yang hanya mengikuti kata hatinya.
Lihat saja ketika ia diajak ibu mengunjungi Dokter Gigi. Saat itu ada gigi yang berlubang. Tak sekalipun ia membuka mulut saat dokter hendak memeriksanya. Hanya karena ia pernah mendengar bahwa Ayah, Mr Nyman melarangnya membuka mulut untuk orang yang tak di kenalnya. Benar benar anak yang lugu.

Dari kejadian di rumah sakit berlanjut sampai ke rumah Bu Berg, wanita yang tinggal di sebelah rumah mereka. Rumah Bu Berg menjadi salah satu tempat favorit mereka. Tak hanyakarena ia mengijinkan meeka masuk ke rumah dan membuka laci – laci miliknya, namun juga karena Bu Berg selalu membuatkan kue – kue yang lezat. Bu Berg sangat senang dengan kedatangan mereka dan dua kali lebih senang ketika akhirnyaketiga anak itu memutuskan ulang. Bu berg hanya ingin melanjutkan rajutannya yang tadi sempat diurai kembali oleh Lotta. 

Masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Lotta yang tak jarang membuat saya tersenyum simpul. tidak hanya karen kenakalan, sifat keras kepala, namun juga karena keluguannya. 

Novel anak-anak punya keistimewaan tersendiri. Sayangnya semua itu baru dapat saya nikmati saat usia saya beranjak jauh meninggalkan masa-masa itu. Masalahnya hanya satu. Saat kecil dulu, tidak mudah untuk mendapatkan bacaan semacam ini. Seingat saya perpustakaan yang kerap saya kunjungi di waktu libur hanya menyajikan komik Asterix, Smurf, dan tentu saja beberapa bundel tebal majalah bobo. Tapi, tak pernah ada kata terlambat untuk membaca sebuah buku. Kata-kata yang dikatakan oleh seseorang yang membuat saya tak pernah malu membaca buku bergenre anak-anak ini. 

Lotta
Penulis: Astrid Lindgren
Penerjemah: Listiana Srisanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, September 2007

Tebal: 184 hlm