Tuesday, July 29, 2008

Review: New Moon - Stephenie Meyer



New Moon, inilah buku berikutnya dari kisah Isabella Marie Swan alias Bella. Sungguh menyenangkan, karena tak butuh waktu lama untuk menunggu kelanjutan Twilight. Tidak seperti buku sebelumnya, kini buku ini diberi judul Indonesia. Dua Cinta adalah dua kata yang dipilih, yang membuat saya semakin penasaran. Sebenarnya bisa saja saya langsung membalikan buku dan sehingga bisa membaca resensi singkat yang tertera di belakang buku. Namun saya sudah bertekad untuk mengetahui jalan cerita langsung membaca halaman demi halaman. Karena bagi saya membaca resensi di sampul belakang hanya akan mengurangi asyiknya mengikuti petualangan sang tokoh.

Tak hanya judul, sampul yang didominasi dengan warna biru kehitam –hitaman ini terlihat jauh lebih menarik. Benar – benar memberi kesan akan suasana yang kelam. Dibandingkan dengan sampul Twilight ataupun sampul New Moon yang asli, sampul ini terlihat lebih manis.

Jadi apa yang terjadi dengan Bella kali ini? Apakah judul dan sampul depan itu memberi gambaran hari –hari berikutnya?

Tak terasa berminggu-minggu berlalu meninggalkan musim semi dan waktu beralih ke bulan September, bulan ulang tahun Bella. Bukannya senang ataupun bersyukur karena selamat dari insiden yang nyaris merenggutnya nyawanya, Bella malah mengawali pagi hari saat usianya bertambah dengan keluhan. Bukan hanya karena mimpi buruk yang dialaminya semalam tapi juga ia kesal karena menjadi setahun lebih tua dibanding Edward. Apalagi sampai sekarang Edward tak kunjung mengabulkan satu-satunya keinginan terbesar Bella.

Walau Edward menyakinkan bahwa tak perlu mengkahwatirkan semua hal-hal yang tak penting itu, Bella tetap merajuk. Bahkan ia nyaris menolak untuk mendatangi pesta yang diadakan khusus oleh keluarga Cullen untuknya.

Rumah keluarga Cullen malam itu sangat berbeda. Di atap teras terdapat deretan lentera Jepang yang terang bergelantungan. Bahkan banyak mangkuk-mangkuk berisi unga mawar merah jambu berjajar sepanjang tangga yang menuju pintu. Di dalam ruang duduk tak kalah indah. Mangkuk – mangkuk berisi mawar itu lebih banyak. Sebuah kue tart pink diletakkan di atas grand piano beserta tumpukan piring kaca dan tak lupa gundukan kecil kado terbungkus kertas warna perak.

Melihat semua hal tersebut nyaris membuat Bella melupakan semua keluhannya pagi ini. Apalagi sambutan hangat yang ditunjukan oleh Mr dan Mrs Cullen. Bahkan Emmet dan Rosalie pun menyempatkan diri untuk hadir dalam pesta itu. Sayangnya semua keceriaan tiba – tiba sirna ketika Alice meminta Bella membuka kado. sekan tak cukup terluka hanya karena kertas pembungkus yang mengiris tangannya, Bella malah mendapat luka yang jauh lebih parah. Mr Cullen memberikan beberapa jahitan pada lengannya. Pesta yang diharapkan tadinya berjalan menyenangkan berganti dengan suasana yang menegangkan.

Merasa bersalah atas hal buruk yang menimpa Bella di rumahnya membuat Edward mengambil keputusan yang membuat Bella berantakan. Edward punya alasan kuat untuk itu, ia tak ingin membahayakan hidup gadis yang sangat dicintainya.

Berhari bahkan berbulan – bulan berlalu sejak itu. Di mata Charlie, Bella terlihat seperti mayat hidup. Bahkan karena tak tahan melihat anak perempuannya dalam keadaan yang nyaris tanpa kehidupan, ia memutuskan untuk mengirim Bella ke Florida. Namun dengan keras semua usul Charlie ditolaknya mentah – mentah. Terlalu banyak kenangan di Fork yang membuatnya enggan dilepaskannya.

Di tengah keputusasaannya, Bella akhirnya memutuskan melakukan hal –hal yang menurutnya akan membuat suara-suara yang menghilang selama beberapa bulan ini kembali. Semua ini dirahasiakan pada siapapun kecuali Jacob, anak laki –laki Billy,sahabat Charlie.

Kehadiran Jacob tenyata mampu membuat semangat hidup Bella kembali secara perlahan. Hampir seluruh waktu dihabiskan bersama Jacob. Walau tetap bersikeras bahwa hanyalah satu-satunya yang ia cintai, Bella sadar bahwa ada rasa ketergantungan pada Jacob. Tak heran jika Matahari menjadi julukan yang diberikan pada anak laki – laki yang usianya dua tahun lebih muda. Akhirnya Bella memilih untuk tidak peduli terhadap rasa bimbang yang dirasakannya. Selama Jacob dan suara-suara itu masih ada.

Sampai suatu hari Bella menyadari ada yang berubah dengan diri Jacob. Ia mendadak menghilang dari kehidupan Bella. Jacob menjadi susah dihubungi. Bella yang telah kehilangan separuh nafasnya, merasa harus melakukan sesuatu. Karena ia tak lagi ingin merasakan perihnya kehilangan kebahagian dan bertekad untuk membuat Jacob kembali. Tanpa peduli bahwa mencoba mendekati Jacob saat ini sama berbahayanya dengan semua hal-hal yang ia lakukan untuk mendengarkan suara –suara di kepalanya.

Sama seperti Twilight, tak butuh waktu lama untuk menyelesaikankan New Moon. Bahkan ketika buku ini lebih tebal. Walau entah bagaimana kalau membaca versi aslinya.

Kota kota yang dijadikan latar dalam buku ini membuat saya semakin penasaran dengan suasana aslinya. Sebasah apakah Fork, seramai apakah Port Angeles ataupun keadaan di La Push.

Sebenarnya tak ada hal yang mengganggu kecuali satu, sikap Bella. Terkejut, turut merasakan kesedihannya bahkan rasa simpati berubah menjadi rasa kesal dan benci. Lihat saja ketika ia kehilangan sesuatu yang berharga. Memang menyakitkan namun bukan berarti semua hal menjadi berakhir karenanya. Setidaknya saya bisa sedikit mengerti apa yang dirasakan oleh Charlie, Ayah Bella. Dan membuat saya mengerti akan kata – kata bijak Louis L’Amour “ Ketika percaya bahwa semuanya sudah berakhir, justru itulah permulaannya”

Tak berhenti sampa di situ, saya juga tak menyukai tingkah sembrono Bella yang sengaja dilakukannya. Seakan ingin membuat julukan “Danger Magnet” semakin melekat pada dirinya. Tak hanya kekanak – kanakan, Bella bahkan terlihat sangat egois.

Terakhir adalah perasaannya terhadap Jacob. Saya akui semuanya dikarenakan saya merasa bahwa Bella melakukan pengkhianatan kecil pada Edward. Walau awalnya sempat sedih karena keputusan yang diambil Edward sedikit ekstrim, toh itu semua dilakukan demi keselamatan Bella. Sayangnya rasa sakit menutup mata Bella untuk semua kasih sayang yang dimaksud. Bella memang benar – benar mengesalkan kali ini.

Semoga hal yang sama tak akan terulang di New Eclipse, Buku Stephenie berikutnya.

New Moon
Judul Indonesia: Dua Cinta
Penulis: Stephenie Meyer
Penerjemah: Monica Dwi Chresnayani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2008
Tebal: 600 hlm

Roadl Dahl's

Jika dihadapkan pada pertanyaan “Siapa penulis favoritmu?“ , tanpa berpikir lagi yang akan saya ucapkan adalah Roald Dahl. Cerita yang ditulis oleh bapak yang satu ini memang menyenangkan untuk dibaca. Tidak peduli kebanyakan cerita yang ditulis untuk anak – anak. Dibandingkan dengan penulis lainnya, jumlah buku Roald Dahl di rak buku jauh lebih banyak. Beruntung beberapa karyanya telah diterjemahkan ke bahasa indonesia. Rasa terima kasih juga tak henti – henti saya ucapkan pada Kobo yang selama dua tahun berturut-turut selalu menjadi buku-buku Roald Dahl yang belum diterjemahkan sebagai kado ulang tahun.


George Marvellous Medicine

Penulis: Roald Dahl

Ilustrator: Quentin Blake

Penerbit: Penguin Group

Cetakan: 2007

Tebal: 122 hlm


Di hampir semua buku yang bercerita tentang seorang nenek dan cucunya, dapat dipastikan kasih sayang tak henti – hentinya dicurahkan kepada sang cucu. Sayangnya hal itu tidak terjadi pada nenek George. Tak sekalipun perempuan tua yang menghabiskan seluruh waktunya dengan mengeluh dan menggerutu ini menunjukkan rasa pedulinya pada cucu satu-satunya, George. Karena ia hanya memperhatikan dirinya sendiri. Jangankan menanyakan kabar, mengajak George bermain saja tak pernah. Tak heran jika George pun tak pernah menyukai neneknya.

George tak daat berbuat banyak untuk menghadapi kelakuan neneknya yang menjengkelkan. Sampai suatu hari ketika di rumah hanya ada George dan neneknya. Seperti biasa celotehan demi celotehan yang menyakitkan telinga terdengar dari mulut neneknya. Bahkan hari itu nenek George terlihat sangat menyeramkan dan berhasil membuat George ketakutan.


Tingkah nenek yang keterlaluan membuat George semakin benci padanya dan akhirnya memutuskan bahwa neneknya harus diberi pelajaran. Setelah beberapa saat memikirkan berbagai rencana, George pun mengambil satu yang paling aman. Secara sembunyi – sembunyi ia mengumpulkan semua bahan yang akan di ramu menjadi obat yang benar-benar dahsyat dan tentu saja mujarab. Sebegitu dahsyatnya sehingga dijamin sang nenek tak akan berkutik.




Fantastic Mr. Fox

Penulis: Roald Dahl

Ilustrator: Quentin Blake

Penerbit: Penguin Group

Cetakan: 2001

Tebal: 200 hlm



Di sebuah lembah, terdapat tiga peternakan yang masing – masing dimiliki oleh Mr. Boggis, Mr. Bunce dan Mr. Bean. Mr. Boggis memiliki peternakan Ayam, Mr. bunce memelihara bebek dan angsa sedangka Mr. Bean tak hanya memelihara kalkun namun juga memiliki kebun apel yang luas. Sayangnya mereka bukanlah pria yang dermawan. Lebih parah lagi mereka adalah pria-pria yang tidak jujur. Bahkan semua orang sepakat bahwa mereka adalah sekumpulan peternak jahat.

Berkumpul bersama setiap malam menjadi suatu rutinitas bagi mereka. masing – masing dari mereka memengang senjata api yang akan digunakan untuk berburu Mr. Fox, yang telah lama menjadi musuh bebuyutan mereka. Tindakan mereka beralasan. Mr. Fox selama ini selalu berhasil mencuri hasil ternak dan kebun mereka.

Awalnya mereka tak pernah berhasil menjebak Mr. Fox. Karena Mr. Fox adalah rubah yang sangat pandai. Namun suatu malam, mereka berhasil melukai Mr. Fox. Tak hanya itu, mereka bahkan merusak sarang Mr. Fox sehingga memaksa seluruh penghuni pindah untuk mencari tempat yang lebih aman.

Selama beberapa hari setelah kejadian , Mr. Fox tidak keluar dari sarang. Karena ia tahu bahwa ketiga petani jahat itu masih menunggunya. Sayangnya persediaan makanan makin menipis dan memaksanya memikirkan cara lain untuk memperoleh hasil ternak dan kebun para petani jahat.




The BFG

Penulis: Roald Dahl

Ilustrator: Quentin Blake

Penerbit: Penguin Group

Cetakan: 2001

Tebal: 88 hlm


Sophie adalah satu dari puluhan anak yang tinggal di panti asuhan. Tinggal di tempat itu bukanlah hal yang menyenangkan. Sophie tahu ia tak punya banyak pilihan. Namun ia tak pernah berhenti berharap suatu hari ia akan meninggalkan panti asuhan, tempat ia di besarkan.


Tak dinyana, suatu malam keinginannyaterkabul. Di saat semua penghuni panti asuhan telah tertidur pulas, Sophie malah terjaga. Suasana saat itu memang sedikit berbeda dari malam – malam sebelumnya. Dari kejauhan, Sophie dapat mendengar suara aneh yang membuatnya penasaran. dengan hati – hati ia meninggalkan tempat tidur dan menuju jendela untuk mengintip. Ia dapat melihat dengan jelas seorang pria dengan ukuran tubuh yang sangat besar mengendap-endap disalah satu jendela milik tetangganya. Ia tak sedang bermimpi dan yakin bahwa pria yang dilihatnya adalah raksasa.


Sophie tak dapat menyembunyikan rasa takutnya. Bahkan dibalik selimutnya ia masih saja gemetaran. Tiba – tiba dari luar jendela, satu tangan raksasa menjulur masuk. Meraih badannya yang kecil.. Raksasa itu ternyata tahu bahwa Sophie telah melihat gerak geriknya. Sophie memang ingin meninggalkan tempat itu. Namun tidak dengan cara seperti ini.

Review: Simply Alice - Phyllis Reynolds Naylor



Kali ini Alice benar-benar sibuk. Tak hanya karena tumpukan pr, kegiatan di dua klub sekaligus, tapi juga tanggung jawab baru di Melody Inn. Diakui Alice, ia sedikit kewalahan, tapi itu jauh lebih baik dari ada tidak melakukan apa pun dan membuatnya kembali memikirkan Patrick.


Baik Klub Drama maupun Koran Sekolah memberinya tanggung jawab besar. Di Klub Drama, ia berperan sebagai kru panggung. Mereka akan mengadakan pementasan besar. Mencari semua perlengkapan yang dibutuhkan bukanlah hal yang mudah. semua itu nyaris menyita hampir semua waktunya. Di The Edge, koran sekolah pun ia diberi tugas untuk menulis artikel tentang perannya di Klub Drama. Alice tak boleh telat mengumpulkan tulisannya. Ia dihantui oleh tenggat waktu.


Bergabung di Klub Drama dan Koran Sekolah memang melelahkan namun juga menyenangkan. Karena kini teman –teman Alice bertambah. Sayangnya pada saat yang sama, kedua sahabatnya Elizabeth dan Pamela memilih untuk menjauhinya. Mereka merasa Alice banyak berubah sehingga tak lagi punya waktu untuk menghabiskan sedikit waktu untuk mereka bahkan tak jarang Alice menolak ajakan mereka. Alice menjadi sedih karenanya.


Satu masalah seakan tak cukup. Alice kembali dipusingkan oleh beberapa hal seperti surat misterius dari seseorang yang menamai dirinya CAY, sikap senewen ayahnya saat menyiapkan segala sesuatu menyambut Miss Summers, Abangnya Lester yang ditangkap polisi sampai peristiwa pelecehan yang terjadi padanya.


Tidak seperti serial sebelumnya, kali ini terasa jauh lebih menyenangkan mengikuti kegiatan Alice yang padat. Senag rasana bisa melihatnya bertahan menghadapi masalahnya dengan Patrick ataupun menghadapi sikap permusuhan dengan kedua sahabatnya. Tentunya yang tidak kalah menarik adalah kebersamaan bersama Lester dan Ayahnya.


Sisi lain dari Alice pun terungkap di buku ini. Lihat saja kemampuannya menulis yang tidak hanya mengundang decak kagum dari para murid. Ataukah keberaniannya dalan mengungkapkan beberapa hal seperti meminta maaf lebih dulu pada Liz dan Pamela ataupun ketika ia mengusulkan pada The Edge untuk mengangkat masalah pelecehan yang ternyata banyak terjadi di sekolahnya.


Sayangnya serial ini bukanlah akhir dari petualangan Alice. Karena masih banyak hal yang belum terselesaikan. Salah satunya adalah pernikahan Ayahnya dengan Miss Summers. Semoga tak perlu menunggu lama untuk membaca buku berikutnya.


Simply Alice
Judul Indonesia: Waktunya Ngejomblo
Penulis: Phyllis Reynolds Naylor
Penerjemah: Vina Damajanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2008
Tebal: 224 hlm

Thursday, July 24, 2008

Review: Children Of The Lamp: The Akhenaten Adventure - P.B Keirr

Semua hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata dengan mudah terwujud di dunia fantasi. Tidak heran jika ratusan cerita bahkan mungkin saja kini jumlahnya mencapai ribuan bermunculan. Imajinasi setiap orang dengan dibiarkan bebas menciptakan karakter demi karakter yang dilengkapi dengan keistimewaan yang mengundang decak kagum.

Setidaknya semua yang saya tuliskan diatas ada pada karakter di buku ini. Lihat saja Layla, wanita cantik yang menikahi Edward Gaunt, seorang pria baik hati dan kaya rayaserta memiliki anak –anak yang cerdas dan sehat, John dan Philipa. Seakan ingin melengkapi keberuntungan yang dimilikinya, di rumah ia memilii dua ekor anjing yang benar- benar luar biasa. Saya pikir tak satupun orang di dunia ini yang sepandai Alan dan Neil, yang bisa memahami keinginan tuannya untuk mengganti saluran televisi, pergi ke toko kue dan mengambilkan sekantong bagel tanpa memakannya, mengisi meteran parkir, dan yang pergi sendiri ke dokter hewan. Dari semua anggota keluarga,hanya Mrs gauntlah yang dengan mudah membuat keduanya patuh. Rasanya akan membuat paragraf ini menjadi lebih panjang jika membahas kelebihan – kelebihannya yang lain. Fuh...

Hal ini tak hanya membuat saya bertanya-tanya. Bahkan John dan Philipa, anak-anaknya,  kadang – kadang tak habis pikir dengan keistimewaan yang dimiliki ibunya itu. Namun rasa bangga yang  jauh lebih besar dibandingkan  rasa penasaran membuat mereka lama kelamaan menganggap semua itu adalah hal yang wajar.

Berbicara tentang John dan Philipha, mereka adalah dua anak kembar yang berusia dua belas tahun. walau kembar, tak satupun kemiripan yang tampak dari wajah keduanya. Hal – hal yang mereka sukai pun berlainan. Dari postur tubuh, warna sampai hobby yang mereka geluti pun berbeda. Walau Yang anehnya, walau memiliki begitu banyak perbedaan, mereka sering memikirkan hal yang sama dan keduanya juga mengidap Claustrophobia, ketakutan berada di ruang kecil yang tertutup. Tak heran mereka selalu menghindari lift.

Selain lift, John dan Philipa juga tak pernah suka dengan kunjungan rutin mereka ke dokter gigi di awal musim panas. Tak seperti kunjungan sebelumnya, kali ini ada sesuatu yang cukup membuat keduanya khawatir. Mister Larr, dokter gigi mereka, menemukan beberapa geraham bungsu di gusi mereka. Hal ini tidak wajar bagi anak seusia mereka. Karena dianggap membahayakan, maka diputuskan bawa John dan Philipha harus menjalani operasi dengan bius total.

Keanehan yang terjadi karena memiliki geraham bungsu ternyata berlanjut ketika operasi berlangsung. Baik John maupun Philipa mengalami mimpi yang sama. Mereka bertemu seorang pria aneh yang mengenalkan dirinya sebagai Nimrod, paman yang sengaja tak pernah dikenalkan oleh ibu mereka karena suatu alasan. Sebelum berakhir ia berpesan agar meminta kedua orang tuanya mengirim mereka ke London untuk menghabiskan liburan musim panas, bukannya ke Alembic House seperti yang direncanakan sebelumnya.

Tak disangka, ketika John dan Philipha menyampaikan keinginan mereka, serta merta Mr Gaunt menyanggupi keinginan mereka. bahkan menawari tiket pesawat British Airways kelas utama. Keanehan kembali berulang. Setidaknya tingkah ayahnya, Mr Graunt menambah daftar keanehan pasca operasi. Itu juga setelah menambah hilangnya jerawat di pipi John dan tinggi badan mereka yang bertambah hanya dalam beberapa hari. Keanehan terus menerus terjadi bahkan ketika mereka berada di atas pesawat sekalipun.

Untunglah segala sesuatunya akhirnya terjawab oleh penjelasan Paman Nimrod. Sebagai tambahan Paman Nimrod juga memberitahukan satu rahasia besar yang merupakan awal dari petualangan yang berbahaya yang kapan saja bisa membahayakan jiwa mereka..

Rahasia apakah itu?
Rahasia yang tentu saja hanya akan diketahui dengan menyelesaikan buku yang ternyata masih memiliki beberapa seri. Setidaknya ada 4 buku yang terlihat di http://www.childrenofthelamp.web.id. Sayangnya website tersebut belum rampung seluruhnya.

Masih penasaran?
Mungkin bisa sedikit terjawab dengan memperhatikan sampul buku ini. Walaupun sebenarnya tak banyak membantu. Lampu yang bentuknya sama dengan lampu ajaib milik aladdin yang didalamnya berisi jin. Lampu, Jin, John dan Philipha? Bagaimana menghubungkan keempatnya? Semua ada di dalam buku ini. Gaya bahasa yang terkadang lucu dan konyol membuat buku dengan ketebalan 416 ini terasa lebih ringan. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskannya. Walau di dalamnya terdapat beberapa lembaran yang cetakannya begitu tebal hingga berpengaruh ke halaman selanjutnya, yang saya akui sedikit menganggu.

Yang jelas buku ini membuat saya semakin mengenal lebih banyak sosok jin, walaupun dalam versi dunia fantasi. Terlebih di halaman terakhir di buat lampiran khusus yang menjelaskan secara mendetail mengenai makhluk yang diciptakan dengan beragam kemampuan yang tak dimiliki manusia. Setidaknya mengingatkan kembali bahwa jin berada di sekitar kita bahkan tak menutup kemungkin hanya berjarak beberapa cm.

Dan yang tak kalah menarik adalah kalimat yang diucapkan oleh salah satu tokoh
“Berhati-hatilah dengan apa yang kau inginkan. Bukan karena kau akan mendapatkannya, tapi karena kau tidak terlalu menginginkannya bila sudah mendapatkannya”, membuat saya berpikir. Entah berapa banyak keinginan yang sebenarnya tak pernah sungguh –sungguh saya butuhkan. Walau semua akhirnya terucap begitu saja.

Sekarang tinggal menunggu kisah John dan Philipha yang berikutnya.

Children Of The Lamp: The Akhenaten Adventure
Penulis: P.B Kerr
Penerjemah: Utti Setiawati
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal: 416 hlm

Review: Edgar & Ellen: Under Town _ Charles Ogden

Seakan tak pernah merasa lelah ataupun puas, Edgar & Ellen kembali menyusun rencana yang tak kalah gelap dibanding semua kekacauan yang telah mereka timbulkan saat parade besar-besaran dilaksanakan di Nod’s Limbs beberapa waktu lalu. Mengandalkan Pemakaman Gadget, mereka selalu menemukan benda yang berguna yang dibutuhkan dalam merealisasikan ide-ide gila yang dituliskan Edgar dalam beberapa lembar kertas.
Rasa bersalah tak sekalipun muncul diwajah keduanya. Yang ada hanyalah senyum pertanda rasa puas ketika berhasil membuat orang –orang menggerutu. Sampai suatu hari tibalah giliran si kembar, yang selalu mengenakan piama kemanapun mereka pergi, merasakan hal yang sama. ide – ide kenakalan mereka telah diwujudkan oleh seseorang. Tak berhenti sampai disitu, rencana yang seharusnya hanya diketahui oleh Edgar dan Ellen ini juga membubuhkan nama Mason. Seakan digunakan untuk mematenkan semua kekacauan yang menyebabkan kemacetan luar biasa adalah miliknya seorang.
Belum juga sembuh dari kejutan menyakitkan dan rasa kesal karena belum juga mendapatkan orang dibalik sosok Mason, Edgar & Ellen harus menelan pil pahit ketika mengetahui bahwa rencana Walikota Knightleigh tetap menjalankan rencananya membangun Hotel di atas tanah Tempat Pembuangan Sampah.
Penyelidikan demi penyelidikan pun dimulai. Saluran pembuangan bawah tanah yang gelap dan kotor pun mereka susuri. Tak disangka, saluran – saluran yang berabad-abad lalu selalu bersih, terang dan terawat itu memiliki banyak cabang yang cukup membingungkan. Namun itu tak mematahkan semangat keduanya untuk mencari sang biang kerok yang berulang kali mencuri ide milik Edgar & Ellen.
Penyusuran mereka tak sia-sia. Beberapa barang bukti berhasil ditemukan. Sampai kesimpulan mengarah pada seseorang yang tak pernah mereka duka. Seseorang yang mereka takuti. Jebakan pun dibuat untuk menangkap sang pengkhianat. Namun pada saat mengetahui bahwa kekacauan lain terjadi. Mereka sadar bahwa orang yang mereka tangkap bukanlah Mason. Di luar sana Mason yang asli masih berkeliaran dan dengan bebas menjalankan satu lagi ide milik mereka.
Tak hanya Edgar dan Ellen, semua orang pun akan merasa geram jika mengalami hal yang sama. Pencurian ide oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab merupakan gangguan pada semboyan Schadenfreude mereka. Gangguan yang lebih tepat disebut sebagai ancaman. Karena kini ada satu warga kota Nod’s Limbs yang mengetahui rahasia kelam mereka. Entah apakah ini akan menjadi hal yang mempengaruhi langkah mereka berikutnya. Semuanya hanya akan terjawab diseri Edgar & Ellen berikutnya.
Berbeda dengan buku – buku sebelumnya, buku ini terasa sedikit menyedihkan. Selain itu di buku ini terdapat misteri yang tidak kunjung terjawab sampai di akhir halaman.
Berbicara tentang terjemahan, ada penamaan yang berubah. Kuburan Perkakas, dua kata yang pada buku pertama dan kedua digunakan oleh Edgar dan Ellen untuk menyebut tempat pembuangan sampah kini berubah menjadi Pemakaman Gadget. Sesuatu yang mungkin luput dari perhatian penerjemah dan editor. Walaupun tidak mempengaruhi jalannya cerita, ada baiknya tidak ada perubahan apaun terhadap nama tempat. 

Edgar & Ellen: Under Town
Penulis: Charles Ogden
Penerjemah: Theresia dewi
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal:176 hlm

Alice Alone


Alice Alone
Judul Indonesia: Sendiri Lagi Deh
Penulis: Phyllis Reynolds Naylor
Alih Bahasa: Vina Damajanti
Editor: Primadonna Angel
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2008
Tebal: 224 hlm


Bulan September kali, Alice harus menghadapi banyak perubahan. Pertama, Alice sekarang duduk di bangku SMA yang berarti membuatnya harus mengeluarkan sedikit energi untuk beradaptasi. Memang sebagian besar temannya termasuk Elizabeth dan Pamela melanjutkan ke sekolah yang sama, namun tak sedikit teman – teman baru yang mau tidak mau diajaknya ngobrol. Belum lagi dengan pelajaran aljabar yang membuatnya kewalahan ditambah dengan tumpukan tugas yang membuatnya nyaris gila.



Perubahan kedua tak hanya membuat Alice sedih dan kecewa namun tak pernah terlintas dalam benaknya. Patrick, cowoknya dua tahun ini menunjukan gejala yang aneh. Dari laporan pamela dan teman – temannya yang lain bahkan lewat mata kepalanya sendiri, Alice tahu ada seseorang yang mencoba menarik perhatian Patrick. Yang anehnya Patrick pun tak tampak keberatan ataupun mengambil jarak. Semua hal itu sangat mengganggu Alice.



Belum juga selesai dengan satu masalah, Alice kembali dipusingkan dengan hubungan Ayahnya dan Miss Summers. Dari Karen, teman sekelasnya, Alice tahu bahwa Mr Sorringer akan mengunjungi Miss Summers dan itu bukan kunjungan biasa. Entah mengapa prasangka buruk tiba-tiba saja muncul. Tak dapat dicegah, kemarahan Alice ditumpahkan pada foto milik Miss Summers.



Semester pertama di SMA memang tak begitu menyenangkan. Tak mudah bagi Alice untuk membuat dirinya sedikit santai menghadapi semua hal tersebut. Beruntung ia memiliki Lester dan Ayahnya. Kedua pria itu selalu punya cara untuk membuat satu-satunya perempuan di rumah menjadi sedikit lebih tenang walau dengan cara yang sedikit aneh. rasanya menyenangkan menjadi Alice dengan ayah dan abang laki-laki seperti Lester.



Walaupun banyak hal yang membuatnya senewen, ternyata Alice masih sempat melakukan hal-hal konyol. Lihat saja tingkahnya saat perayaan Thanksgiving. Ia mengundang tak hanya satu tapi tiga wanita sekaligus. Mereka bukan wanita yang dikenal oleh Lester dan ayahnya bahkan Alice sekalipun. Tak ada yang tahu apa yang merasuki Alice sehingga memutuskan untuk mengundang wanita –wanita yang dulunya pernah berurusan dengan pihak kepolisian karena kejahatan yang mereka lakukan.



Tak kalah penting adalah ketika salah satu sahabat dekat Alice menceritakan suatu rahasia kelam.



Seperti yang tertulis di resensi pada sampul belakang, serial Alice kali ini benar benar membuat para pembacanya berpikir. Banyak hal yang dialami Alice akhirnya bisa dijadikan pelajaran. Hal – hal seperti inilah yang membuat saya selalu menunggu kisah Alice berikutnya. Selain karena tertarik pada sosok Lester yang selalu menolong Alice dengan caranya sendiri.



Dari Wikipedia, ternyata ada beberapa buku Alice yang tidak diterbitkan dan kisah. Penerbit GPU pastinya punya beberapa alasan mengapa beberapa serial itu tak mereka terbitkan. Alice berikutnya juga masih berlanjut hingga beberapa buku. Semoga saja semua bisa diterbitkan. Masih dari wikipedia, tak lama lagi film yang diangkat dari salah satu serial Alice ini akan segera diluncurkan. Beberapa pemain dilibatkan di dalamnya. yang mengejutkan, bintang yang terkenal dari serial BH 90210, Luke Perry akan memerankan tokoh Dad. Untuk tokoh lester diperankan oleh salah satu aktor yang juga berepran di High School Musical. Sayangnya terlihat kurang cocok. Namun entah bagaimana jadinya saat film ini benar – benar di rilis. Semoga saja tidak mengecewakan.

Review: Tourist Trap - Charles Ogden




Tak banyak yang mengetahui sejarah Nod’s Limbs, kota kecil tempat Edgar dan Ellen tinggal. Bertahun – tahun berlalu ketika seorang lelaki bernama Nod untuk pertama kalinya membangun sebuah pabrik lilin. Puluhan orang berdatangan untuk bekerja di pabrik miliknya. Entah berapa lama yang dibutuhkan sehingga pabrik milik Nod menjadi penyedia lilin tervesar di wilayah tersebut. berita kesuksesannya mendatangkan lebih banyak pendatang. Satu demi satu pekerja memilih tinggal dibanding bolak balik ke daerah asal mereka. Sehingga munculah pemukiman di tepian Sungai Deras yang akhirnya berubah menjadi kota kecil Nod’s Limbs.

Walau dianggap memiliki jasa besar dalam sejarah kota kecil tersebut, tak sedikitpun Mr Nod berniat untuk menjadi mengurus kota tersebut. Karena yang ada dipikirannya hanya satu, bagaimana memperluas dan mengembangkan pabrik lilin miliknya. Sehingga penduduk memutuskan untuk memilih Thadeus Knightleigh, pemiliki kedai yang pintar bergaul sebagai walikotaa., yang nampaknya dijadikan sebagai warisan keluarga. Hingga tak heran jika saat ini walikota yang menjabat masih keturunan Knightleigh, yang juga tak lain adalah Ayah Stephanie, musuh bebuyutan Ellen sejak TK.

Walaupun kecil, Nod’s Limbs memiliki beberapa tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Itu semua karena dari tahun ke tahun para Walikot Knightleigh tidak pernah berhenti mengadakan pembangunan. Tahun ini pun walikota telah merencanakan sesuatu untuk membuat Nod’s Limbs dan tentu saja dirinya dikenal oleh dunia luar.

Sebelum mengumumkan rencananya ke semua wara kota, Walikota Knightleigh bersama kedua anaknya, Stephanie dan Miles, mengunjungi lokasi yang akan diubahnya menjadi tempat yang lebih menarik. Mengejutkan! Tempat yang mereka pilih adalah tempat pembuangan sampah yang berada tak jauh dari kediaman Edgar dan Ellen.

Tentu saja hal ini membuat Edgar dan Ellen menjadi sedikit gusar dan bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan dengan Kuburan Perkakas. Tempat Pembuangan sampah sangat berarti bagi kedua anak kembar. Di sana mereka bisa memperoleh semua perangkat yang mereka butuhkan dalam menjalankan misi Schadenfreude yang berarti “kesenangan datang dari penderitaan orang lain”.

Keesokan harinya, bertepatan dengan berkumpulnya seluruh warga kota di Balai Kota, Edgar dan Ellen menyusup ke dalam kantor Walikota. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan apa yang mereka cari. Lembaran demi lembaran yang berisi rencana sang walikota tak satu pun yang mereka lewatkan. Tempat Pembuangan Sampah atau Kuburan Perkakas mereka akan segera direkonstruksi menjadi Hotel Knightleigh. Beberapa orang – orang penting dari luar juga akan diundang ke Nod’s Limbs. Mereka nantinya akan membantu sang walikota untuk menjalankan rencananya. Parade besar – besaran juga akan diadakan untuk membuat semua orang penting tersebut terkesan. Termasuk mengunjungi tempat – tempat bersejarah Nod’s Limb. Yang diakui kepada seluruh warga kota sebagai usaha untuk memajukan pariwisata Nod’s Limbs

Berang! Itulah yang dirasakan oleh Edgar dan Ellen. Karena tak hanya akan kehilangan Kuburan Perkakas namun mereka juga akan kehilangan Berenice, tanaman pemakan serangga kesayangan Ellen. Sehingga tak ada cara lain kecuali menggagalkan semua rencana sang walikota. Kedua kembar beracun kembali beraksi dengan rencana gila mereka.

Buku kedua dari serial Edgar & Ellen ini tak kalah menarik dengan buku pertama mereka The Rare Beast. Jauh lebih seru malah. Ilustrasi yang keren juga turut melengkapinya membuat saya ingin membaca kisah – kisah mereka berikutnya. Dari buku kedua ini juga makin banyak hal yang baru yang terungkap tentang Edgar dan Ellen.

Yang mengherankan buku ini tetap terdapat beberapa endorsement yang jumlahnya malah bertambah banyak dibandingkan buku pertama. Semua edorsement menurut saya tidak perlu lagi ditampilkan. Karena saya yakin orang – orang yang telah mengetahui keberadaan kembar beracun di buku pertama tidak akan melewatkan seri – seri mereka berikutnya. Kecuali mata mereka memang tak dapat melihat sesuatu yang sangat menarik dari ceritanya. Setidaknya keyakinan saya beralasan. Baik Rare Beast maupun Tourist Trap yang saya dapatkan merupakan buku cetakan ke II. Ya mungkin saja, Penerbit Matahati pasti punya alasan kuat dibalik pencantuman semua endorsement tersebut.

Walau demikian semua endorsement yang mengambil jatah resensi singkat buku itu tidak mengurangi asyiknya buku yang satu ini. bahkan rasanya tak sabar untuk melahap buku berikutnya.

Edgar & Ellen: Tourist Trap
Penulis: Charles Ogden
Penerjemah: Eka Santi Sasoni
Penerbit: Matahati
Cetakan: II, November 2007
Tebal: 208 hlm

Tuesday, July 22, 2008

Review: Chasing Vermeer-Blue Balliett




Beberapa tahun belakangan ini saya berusaha untuk mengapuskan kata” kebetulan “ dalam kamus pribadi saya. Seminimal mungkin saya menggunakan kata tersebut dalam berkomunikasi dengan orang lain.Karena saya percaya bahwa di dunia ini tidak ada yang kebetulan dan semua yang terjadi dalam dunia ini memang sudah digariskan dalam buku-Nya.

Seperti itulah yang juga terjadi pada Petra dan Calder. Mereka adalah teman sekelas, rumah mereka hanya berjarak beberapa rumah namun mereka bertegur sapa. Keduanya memang tidak punya alasan untuk memulai satu percakapan yang panjang. Walau tanpa diketahui oleh keduanya, mereka telah saling mengamati. Petra tahu bahwa Calder sangat menyukai pentomino, mainan yang selalu di bawa calder kemanapun. Calder juga tahu bahwa Perta adalah anak perempuan yang pendiam, yang selalu sendirian di sekolah dan tampak tak peduli dengan sekitarnya. Tentu saja rambut Petra yang berbentuk segi tiga menambah daftar keanehannya.

Sampai akhirnya nasiblah yang membuat mereka akrab. Dari tabrakan di trotoar sampai insiden yang sedikit memalukan di Institut Seni. Kunjungan untuk melihat – lihat lukisan di jam pelajaran ini adalah ide Miss Hussey. Guru mereka yang juga tak kalah aneh dengan semua tugas yang diberikan kepada murid-muridnya. Semua itu juga bukan suatu kebetulan.

Bukan pula sebuah kebetulan ketika Petra menemukan sebuah buku berjudul Lo! di kotak sumbangan di depan Toko Buku Bekas Powwell’s, begitu juga dengan mimpinya tentang seorang wanita yang ternyata sama dengan wanita yang berada di sebuah lukisan A Lady Writing mahakarya Johannes Vermer terkenal yang saat ini di curi oleh seseorang dengan cara yang aneh. Sang pencuri menulis surat ke sebuah surat kabar nasional tentang keberadaannya dan tak lupa mencantumkan ancaman yang dilakukannya.

Tak hanya Petra dan Calder yang bereaksi saat tahu semua hal tersebut. Seluruh penduduk kota bahkan mengadakan aksi unjuk rasa yang menuntut agar pencuri itu segera mengembalikan A Lady Writing.

Satu demis satu penyelidikan pun mulai dilakukan Petra dan Calder. Dari hal – hal yang berkaitan tentang Vermeer sampai menjelajahi beberepa tempat yang mereka curigai. Sampai berdiskusi dengan Mrs Sharpe, wanita yang nampaknya tahu banyak tentang A Lady Writing. Mereka tahu menemukan lukisan itu bukanlah hal mudah. sayangnya ada satu yang tidka mereka ketahui, pencuri aneh itu benar- benar berbahaya.

Petualangan yang menarik. Walau sedikit memusingkan. Setidaknya itu juga yang menjadi alasan mengapa buku yang ini memakan waktu lama untuk dilahap. Saya harus mengumpulkan banyak mood untuk menyelesaikannya. entah karena pengaruh terjemahan atau karena memang begitu cara Balliett Helquist memulai ceritanya.

Awalnya memang sedikit membosankan namun begitu masuk ke dalam dunia Petra dan Calder semuanya tiba-tiba berubah menjadi menarik. Balliett Helquist benar – benar bekerja keras dalam mengumpulkan data sebelum kahirnya menggunakan kesemua yang didapatkannya menjadi sebuah cerita. Membuat rasa penasaran muncul ke permukaan. Buku – buku menggunakan data – data sesungguhan memang dengan mudah menarik perhatian saya. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui bahwa Balliet Helquist jatuh cinta pada seni. Sehingga tak hanya pentomino yang membuat saya ingin mencobanya, namun begitu menyelesaikan buku ini saya juga ingin melihat lukisan yang menjadi tema sentral di buku ini. saya bukan pengagum seni. Tapi buku ini benar- benar membuat saya ingin melihat warna – warna cantik pada lukisan wanita yang sempat hadir di mimpi Petra.

Bagian yang tak kalah menarik adalah ilustrasi yang ada di dalam buku ini. Mengejutkan! Karena Brett Helquist tidak lain adalah ilustrator yang juga menghiasi seial A Series Unfortunate Event(ASUE) milik Lemony Snicket. Sedikit mengherankan karena saya tidak mengenali satu pun goresan miliknya. Mungkin karena pengaruh gelapnya semua ilustrasi dibuatnya kali ini. Tidak seperti di ASUE yang gambarnya jauh lebih menarik.

Petualangan Petra dan Calder ternyata tak berakhir. Karena Qanita kembali menerbitkan The Wright 3-Tiga Sekawan Wright ,buku Balliet Helquist berikutnya. Yang tak lama lagi akan saya posting reviewnya.

Chasing Vermeer
Judul Indonesia: Misteri Lukisan Vermeer
Penulis: Blue Balliett
Ilustrasi: Brett Helquist
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: Little K
Cetakan: I, Juni 2006
Tebal: 316 hlm

Friday, July 18, 2008

Review: Mitsuko-Kara Dalkey



Fujiwara No Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Seperti gadis bangsawan lainnya di istana kekaisaran, Mitsuko hidup di balik tirai kesopanan, memakai kimono berlapis-lapis untuk menutup bentuk tubuhnya dan — bila di hadapan umum — menyembunyikan wajahnya di balik lengan kimono.

Tetapi Mitsuko bukan gadis biasa. Ketika desanya diserang bandit, kakak ipar laki-lakinya terbunuh, dan keluarganya dibawa pergi seorang pemimpin militer, Mitsuko mendapatkan keberanian untuk memasuki dunia bawah. Dengan bantuan tengu — makhluk berwujud burung gagak — dan makhluk-makhluk fantastik lainnya, Mitsuko melakukan perjalanan demi memulihkan harta dan kehormatan keluarganya

Novel yang mengambil Jepang sebagai settingnya selalu punya daya tarik tersendiri. Tidak heran begitu melihat judul buku dengan seorang gadis mengunakan kimono sebagai covernya, saya segera memasukkannya ke keranjang belajaan tanpa sempat melihat lagi resensi di belakangnya.

Mitsuko, kata yang menjadi judul buku, yang juga adalah nama seorang gadis bangsawan yang menjadi tokoh sentral dan sebagai narator yang mengisahkan perjuangannya untuk bebas dari bencana yang nyaris membuat keluarganya hancur berantakan.

Sungguh disayangkan memang. Karena sebelumnya kehidupan keluarga Mitsuko sangat menyenangkan. Bersama ayah, ibu, ketiga kakak peremuan serta adik laki-lakinya, mitsuko sungguh menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama. kehidupan sebagai gadis bangsawan dirasakannya sangat nyaman.nyaris tidak ada keluhan di dalamnya. semua kebutuhan mereka dengan mudah terpenuhi. Terlebih ketika ayah Mitsuko mendapat jabatan tinggi dalam pangkat kekaisaran. Rentetan keberuntungan mulai memasuki keluarganya. Salah satunya adalah ketika kakak sulungnya, Amaiko menikah dengan Yugiri, seorang pria terhormat yang punya masa depan yang gemilang.

Namun layaknya roda, kehidupan juga berputar ke atas dan ke bawah. Keadaan menyenangkan yang terjadi di keluarga Mitsuko mendadak berganti dengan sebuat traged. Biarawan dari gunung Hiei dan Kuil Chizuko adalah penyebabnya. Dari seorang gadis penjaja mochi,Mitsuko mengetaui bahwa para biarawan masuk ke kota dan mulai membakar rumah para bangsawan. Tak perlu menunggu lama hingga akhirnya ibu Mitsuko memutuskan untuk membawa anak-anaknya meninggalkan kediaman mereka yang entah kapan akan menjadi sasaran pembakaran berikutnya. Ayah mitsuko sendiri tak jelas keberadaannya.

Sayangnya, malang tak dapat di tolak, mujur tak dapat diraih. Di tengah perjalanan menuju tempat pengungsian, kereta mereka dicegat oleh sekelompok biarawan. Perkelahian tak dapat dielakkan. Biarawan memang berhasil diusir. Namun Yugiri, suami Amaiko tewas karenanya.

Kesedihan yang mereka rasakan kini semakin bertambah. Semakin menumpuk ketika tahu bahwa tempat mengungsi yang disediakan bagi mereka tidak layakuntuk ditempati. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka pun memilih untuk tinggal.

Masalah seakan tidak berhenti. Kehilangan suaminya ternyata memberi pukulan yang amat dalam bagi Amaiko. Kakak perempuan yang dulu selalu dibanggakan oleh Mitsuko kini layaknya mayat hidup. tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terpancar di kedua matanya.
Karena tak ingin kehilang satu anggota keluarga lagi, Mitsuko akhirnya memutuskan untuk menyembuhkan kakaknya. Walaupun itu berarti harus meninggalkan anggota keluarga lainnya.

Tanpa rencana matang dah arah tujuan yang jelas, keraguan mulai melanda mitsuko. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang Tengu – manusia gagak- dan makluk lain dalam mitos jepang di sebuah kuil. Beruntung salah satu tengu bersedia membantunya. Walau bersama seseorang dengan kemampuan di atas rata- rata manusia biasa, perjalanan menyelamatkan Amaiko bukanlah hal yang mudah.

Petualangan yang cukup menarik. Tempat – tempat yang disinggahi oleh Mitsuko membuat saya teringat dengan beberapa tokoh yang perna muncul di serial Monkey King. Sehingga tidak ada kesusahan untuk membayangkan perawakan mereka. Tapi satu hal yang membuat saya tetap penasaran adalah sosok sang Tengu. Karena buku inilah yang pertama kali membahas tentang tengu. Pernah sih sekali melihatnya di komik tapi itu juga tidak hanya sebagai tokoh yang numpang lewat. Bahkan di serial manapun tidak ada yang membahas manusia gagak ini. Semoga di Search Engine Google nanti akan mudah mendapatkannya.


Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Juni 2007
Tebal: 247 hlm

Tuesday, July 15, 2008

Review: Chicken Soup for The Writer Soul - Harga Sebuah Impian



Sewaktu kecil, saya tidak pernah memasukkan kegiatan menulis dalam list hal – hal yang menyenangkan untuk dilakukan dalam hidup.Alasan pertama karena kata-kata yang saya tulis di kertas tidak begitu bagus untuk dipandang. Walau masih jauh lebih baik dari cakar ayam. Yang kedua tugas – tugas menulis, yang dulunya selalu tugas mengarang, bukanlah hal yang asyik untuk diselesaiakan. Semua murid harus menulis berdasarkan tema dan kerangka karangan yang telah ditetapkan. Yang paling menjengkelkan adalah karena tema itu terlalu berat untuk seorang anak SD. Kalau tidak salah salah satunya adalah tentang Keluarga Berancana. Jangan Gila Dong!!!


Tak hanya masalah tugas di sekolah, saya juga kadang memberikan pandangan geli kepada semua teman – teman yang mulai menggunakan journal untuk menuliskan apa saja yang terlintas di kepala dan hati mereka. Saat itu bagi saya menulis di sebuah buku yang terkenal dengan nama Diary adalah hal yang konyol.


Mengapa menulis seperti menjadi sebegitu hina? Semua kesulitan menulis yang saya rasakan tidak lain disebabkan karena kurangnya bahan bacaan. Di rumah, kami tidak memiliki perpustakaan pribadi. Kalaupun ada buku, itu juga hanya kumpulan buku cetak pelajaran dan buku – buku koleksi bapak yang berkaitan dengan urusan pekerjaannya. Selain itu yang banyak hanyalah kumpulan tabloid dan majalah milik mama, dan majalah ananda ataupun bobo untuk anak – anak.


Namun beranjak dewasa, menulis perlahan – lahan masuk menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari keseharian saya. Di mulai dari menulis surat untuk teman-teman yang sungguh saya nikmati sampai menulis hal – hal konyol yang terjadi setiap harinya. Bahkan kini jumlah jurnal yang saya habiskan untuk menulis segala sesuatu kini lebih dari lima buah. Sesuatu yang awalnya saya anggap konyol kini menjadi sebuah rutinitas yang sangat membantu menguraikan semua pertanyaan, perasaan ataupun pikiran yang entah kapan dan dimana saja melintas. Saya kini benar- benar menikmatinya.


Sehingga tidak begitu sulit untuk memahami setiap kata yang tertulis di buku ini. ketika ada yang bercerita bahwa menulis itu seperti obat yang paling mujarab untuk mengenyahkan segala kegalauan ataupun ketika mereka bercerita bagaimana menulis membantu mereka memahami lebih dalam apa yang sebenarnya mereka inginkan. Walaupun buku yang saya baca adalah hasil terjemahan, dengan mudah semua rasa yang mereka tuliskan berpindah ke kepala dan hati saya. Senang, gembira bahkan rasa kehilangan yang mendalam sekalipun.


Hampir semua cerita di buku ini juga menceritakan awal dari karir sebagai penulis dengan puluhan surat penolakkan atas karya-karya mereka, sampai bagaimana akhirnya cek yang bernilai dengan ratusan ribu dollar bahkan lebih mengalir ke rekening milik mereka yang mengfantarkan mereka sebagai penulis yang terkenal.
Benar-benar menggiurkan yah. Tidak saya pungkiri bahwa sempat terbersit untuk menempuh hal yang sama. Menulis sesuatu yang bisa membuat semua mata menyukainya dan yang paling penting menjadi seseorang yang terkenal. Namun saya tahu untuk mencapai posisi seperti mereka tidak terjadi dalam satu dua hari. Bahkan ada penulis yang arus bernunggu bertahun – tahun lamanya untuk menunggu seorang penerbit yang yakin bahwa bukunya layak untuk diterbitkan. bahkan dalam artikelnya, Dan Poynter menyatalan bahwa tak ada yang lebih sering menerima penolakan dibanding seorang pengarang. Oleh penulis lain saya diberitahu bahwa selalu ada harga yang harus dibayar untuk semua mimpi. Mimpi hanya akan tetap jadi mimpi jika tak dibarengi oleh tekad, kerja keras dan disiplin. Yang tidak kalah penting adalah ketekunan untuk terus berlatih, berlatih dan berlatih.


Buku ini benar-benar memberi pencerahan bagi saya yang selama ini hanya menulis hal- hal yang hanya setaraf dengan cerita- cerita di diary ataupun jurnal harian. Di folder – folder saya memang tak pernah tersimpan satu draft dari cerita pun. Buakn berarti tak ada ide yang terlintas. Asal tahu saja, jumah mereka lebih dari ratusan. Sayangnya tak pernah sekalipun saya membiarkan mereka melihat matahari pagi. Karena selalu terbersit dalam bahwa tulisan – tulisan saya tidak akan pernah semenarik penulis – penulis terkenal yang bukunya telah dicetak berulang – ulang.


Untungnya buku ini punya kekuatan untuk menghapuskan kepercayaan – kepercayaan yang menyesatkan seperti ini. Sejak saat ini saya bertekad untuk memelihara setiap ide – ide yang entah kapan munculnya. Karena tidak menutup kemungkinan saya akan mengikuti jejak mereka. Memang bukan sesuatu yang mudah untuk diwujudkan, tapi bukan hal yang mustahil. You’ll Never Know Until You Try, Will You?


Membaca semua tulisan di buku ini juga membuat saya penasaran dengan karya- karya mereka. Karena tak satupun dari penulis-penulis ini yang akrab di mata saya. Karena selama bertahun – tahun berkeliaran di toko buku , tak satupun judul-judul buku mereka yang saya temukan. Saya memang pernah mendengar kata Malcom X, namun tidak pernah sekalipun tahu isi buku tersebut. Sepertinya saya harus kembali menggunakan jasa ensiklopedia terbesar.


Sebagai penutup, biarkan saya mengutip kata – kata Bud Gardner yang juga ada dalam buku ini.
Ketika Berbicara, Kata-Katamu Hanya Bergaung Ke Seberang Ruangan atau Di Sepanjang Koridor. Tapi Ketika Menulis, Kata - Katamu Bergaung Sepanjang Zaman”



Chicken Soup for The Writer Soul
Harga Sebuah Impian
dan Kisah – Kisah Nyata Lainnya
Alih bahasa: Rina Buntaran
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2007
Tebal: 199 + xix hlm