Tuesday, January 20, 2009

Review: Dracula - Bram Stoker



Vampir, siapa yang tidak mengenal sosok misterius sekaligus mengerikan ini. Wajah dengan seringai kejam dan buas .Kehidupannya yang abadi. Taringnya yang tajam yang setiap saat mengincar darah segar para korbannya dengan meninggalkan luka berupa dua lubang kecil sebagai tanda bahwa ia pernah ada di sana. Belum lagi kekuatannya yang tak terkalahkan kecuali dengan sebuah pancang kayu, salib, bawang putih dan peluru perak.

Di luar sana mungkin terdapat beragam kisah makluk penghisap darah yang ditulisakan menjadi sebuah buku. Namun bagi seorang kutu buku, saya yakin kisah Dracula milik Bram Stoker yang diterbitkan tahun 1897 adalah salah satu yang paling terkenal. Namun walau telah mendengar nama besarnya, dan memiliki bukunya pertengah tahun 2007, saya baru menyentuh lembaran demi lembarannya di awal tahun 2009 ini.

Sampul yang gelap dan suram seakan ingin meneriakkan kepada semua orang bahwa setiap catatan dan surat –surat didalamnya yang membentuk cerita tentang Count Drakula ini sama suramnya.

Kisahnya pun ternyata berasal dari kumpulan catatan – catatann pribadi, surat, telegram bahkan potongan – potongan artikel yang saling terkait dan membentuk satu cerita tragis.

Catatan pertama berasal dari seorang pengacara, Jonathan Harker, yang diutus untuk membantu Count Dracula untuk beberapa urusan di purinya di Transylvania. Melalui catatannya, sosok dingin, kejam, bengis dan licik Count Dracula tergambar dengan jelas. Bagaimana ia nyaris dibuat gila oleh pria yang memiliki puri yang tidak kalah mengerikan. Siapa pun pasti akan merasakan hal yang sama jika dijadikan tawanan rumah oleh pria yang nyaris tak dikenalnya ini, tanpa tahu maksud dan tujuannya. Apalagi nyaris mati di tangan tiga wanita yang sama culasnya dengan Count Dracula. Untung saja, sata itu nyawa Mr Harker tidak ditakdirkan untuk berakhir di tangan kawanan penghisap darah itu. Walaupun untuk lepas dari rasa takut dan trauma atas semua

Satu hal penting dari catatan – catatan itu adalah saat ia dirundung rasa putus asa mencari jalan keluar dari puri , Mr Harker sempat masuk ke sebuah ruangan yang berisi banyak peti. Di salah satu peti itu ia mendapati Count berbaring dengan tenangnya.

Cerita kemudian beralih pada catatan seorang wanita bernama Mina Murray, yang tidak lain adalah tunangan Jonatan Harker. Di dalamnya terdapat sebuah potongan artikel surat kabar yang menuliskan berita mengenai kejadian mengerikan yang menimpa seluruh awak Kapal Demeter, sebuah kapal Russia, yang berlabuh di pelabuhan Whitby, Inggris. Tak satupun yang selamat. Yang ada hanyalah seekor anjing yang melompat ke darat ketika kapal itu kandas. Sayangnya anjing iutpun menghilang begitu saja. Ia tak ditemukan di sudut mana pun.

Dari catatan terakhir sang nahkoda kapal yaang ditemukan dalam botol, seorang anak buah kapal melihat ada seorang pria asing yang tinggi, kurus dan pucat pasi. Sayangnya tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai pria asing itu. kini yang tersisa adalah peti – peti yang berisi tanah liat yang harus di antarkan ke suatu alamat. Tidak salah lagi, itu adalah peti yang sama yang ditemukan Mr Harker di puri suram. Namun tentu saja tak seorang pun dari para pengangkut itu yang mengetahuinya. Tugas mereka hanyalah mengantar semua barang – barang itu sampai ke tujuan. Dari catatan – catatan itu ternyata tak hanya menyebrang melalui kapal laut, ada beberapa dari peti yang juga di kirim melalui kereta api dan ditujukan ke alamat yang berbeda.

Tak lama berselang, kejadian aneh pun menimpa sahabat dekat Mina, Lucy Westerna. Suatu malam, untuk kesekian kalinya Mina tidak menemukan Lucy di tempat tidurnya. Mina yang tahu bahwa Lucy suka tidur berjalan pun bergegas keluar rumah, setelah yakin bahwa sahabtnya itu tak berada di ruangan mana pun di rumah. Beruntung Lucy di temukan masih bernafas walau kondisi tubuhnya sangat lemah.

Sayangnya Mina tak dapat terus menemani Lucy. Karena ia sendir harus menemani Mr Harker yang kondisinya tidak kalah menggenaskan. Sehingga keterangan lebih mengenai keadaan Lucy kini beralih ke catatan pribadi milik Dr John Seward, yang tidak lain adalah kerabat dari Arthur Holmwood yang merupakan tunangan Lucy. Di bawah penanganan sang dokter keadaan Lucy ternyata tak lebih baik. Ia tak benar- benar yakin apa penyakit yang bersarang di tubuh Lucy. Sehingga Dr Seward pun meminta bantuan Profesor Van Helsing dari Amsterdam, seorang yang tau banyak tentang penyakit tersembunyi ,yang juga seorang ahli filsafat dan metafisika. Sementara itu keadaan Lucy semakin buruk.

Di tangan Van Helsing, ternyata keadaan Lucy juga tak kunjung membaik. Transfusi yang dilakukan beberapa kali ternyata tak juga membantu. Setelah transfusi dilakukan, Lucy hanya bisa bertahan sejenak sebelum akhirnya kembali lemah. Penelitian demi penelitian juga tak mengarah pada satu jawaban. Semua akhirnya berakhir, ketika suatu malam rumah kamar Lucy diserang serigala. Lucy dan Ibunya ditemukan tewas.

Tak lama setelah pemakaman Lucy, kota mulai digemparkan dengan berita hilangnya anak – anak kecil. Dari beberapa anak yang dapat ditemukan kembali, mereka berkata penculiknya adalah setan wanita yang berpakaian hitam. Tak hanya itu, semua anak yang diculik mendapat bekas luka yang sama di leher mereka berupa dua lubang kecil.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, Van Helsing tiba ada satu satu kesimpulan yang membuat semua terkejut. Lucy telah menjadi vampir. Dari pertemuannya dengan Mina, kesimpulan baru pun muncul. Ia kini tahu bahwa ada makhluk – makhluk kegelapan lainnya yang sedang mengintai kota London. Makhluk yang tidak segan – segan merusak orang yang tak bernoda dan menghancurkan mereka yang tak berdaya. Yang datang dalam setiap mimpi buruk dan tentu saja mengisap semua darah segar untuk mempertahankan kehidupan abadinya.

Dari pertemuan demi pertemuan, Vn Helsing di temani Dr John Seward, Mr Holmwood yang kini bergelar Lord Godalming, Quency Morrif, Jonathan Harker dan istrinya Mina Harker, bertekad untuk memburu dan menghancurkan kejahatan Count Dracula. Mereka tahu keputusan mereka ini sangat berbahaya. Karena setiap saat nyawa mereka bisa melayang. Namun tekad mereka telah bulat. Makhluk penghisap darah itu harus dimusnahkan secepat mungkin sebelum korban – korban berikutnya berjatuhan.

Buku klasik yang sangat terkenal ini, setidaknya di luar sana, akhirnya dengan susah payah bisa saya selesaikan. Tak hanya karena harus bertahan di lambatnya alur, namun juga kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh setiap tokoh yang kadang sangat bertele- tele. Apalagi di bagian awal. Untung saja di pertengahan, cerita ini mulai menarik.

Dari sisi Count Dracula sendiri, walau di bagian awal dan pertengahan saya melihatnya sebagai sosok yang mengerikan,apalagi melihat banyaknya korban yang berjatuhan, namun dibagian akhir ternyata sangat mengecewakan. Ia terkesan sangat mudah dimusnahkan. Bahkan tak ada perlawanan sama sekali. Image Count Dracula yang kuat tiba – tiba menguap begitu saja

Satu hal lagi yang janggal dari buku ini adalah masalah transfusi darah yang dilakukan oeh Van Helsing. Dengan mudahnya ia melakukan hal tersebut. Padahal semua juga tahu bahwa transfusi darah tidak dapat dilakukan begitu saja. Apa mungkin karena saat Bram Stoker menuliskan kisah ini, ilmu kedokteran belum sampai ke masalah tersebut. Entahlah.

Terlepas dari semua hal – hal di atas, rasanya menyenangkan bisa menuntaskan buku ini. setidaknya saja jadi tahu bahwa sosok Van Helsing yang selama ini saya pikir punya kisah tersendiri, ternyata adalah tokoh penting di buku Dracula. Tak hanya itu buku ini juga setidaknya jadi penghantar bagi saya untuk melanjutkan petualangan di The Historian, buku dengan genre yang sama. walau di sana, makhluk kegelapannya jauh lebih mengerikan.

Dracula
Penulis: Bram Stoker
Penerjemah: Ny. Suwarni A.S
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2007
Tebal: 528 hlm