Wednesday, February 4, 2009

Review: Abarat: Days of Magic, Night of War - Clive Barket



Di dunia fantasy semua hal bisa terjadi, bahkan sesuatu yang tidak mungkin sekalipun. Tidak perlu heran jika banyak hal – hal aneh di Kepulauan Abarat yang terdiri atas pulau – pulau yang masing – masing memiliki keajaiban tersendiri.

Setidaknya itulah yang terjadi pada petualangan Candy. Walau kata yang lebih tepat untuk menggambarkan semuanya, mengerikan. Siapapun yang telah membaca buku pertama, tahu betul bagaimana perjalanan – perjalanan Candy dari satu pulau ke pulau yang lain. Di kejar – kejar oleh mahkluk – makhluk mengerikan yang ternyata suruhan Christoper Carrion, sang Penguasa Tengah Malam dan disekap oleh penyihir jahat yang tidak segan menganyunkan tongkat untuk memukul.

Beruntung nasib baik masih berpihak padanya. Bersama Malingo, Candy bisa lepas dari tangan – tangan para pengejar. Walau tahu itu tidak akan lama, pengejarnya akan terus mengejar. Sehingga satu – satunya cara adala dengan berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Dari pulau Qualm Hah, Jam sembilan Pagi, tak lama kemudian mereka berpindah ke Pulau Orlando’s Cap, pulau yang didalamnya terdapat rumah saki jiwa. Di pulau inilah, Otto Houlihan, sang pengejar, kembali mendapati jejak mereka.

Mengetahui sang pengejar telah kembali, tidak ada hal lain yang dilakukan Candy dan Malingo selain mengambil langkah seribu. Beruntung ada kapal nelayan yang mau memberikan tumpangan. Walau sempat diganggu oleh Burung – Burung Pemakan Bangkai, toh akhirnya mereka sampai ke Babilonium yang dikenal sebagi Pulau Karnaval. Tempat yang pas untuk beristirahat sekaligus bersembunyi. Ya, pulau ini penuh sesak. Di jalan – jalan dipenuhi dengan mahkluk Abarat, baik dari dalam maupun luar Babilonium, yang berlalu – lalang yang hendak menikmati puluhan pertunjukan fantastis yang tidak pernah ada habisnya.

Namun mereka ternyata kalah cepat dengan kejelian Houlihan, si Criss – Cross Man, kini berada di belakang mereka. Candy memutusan mereka harus berpencar untuk mengecoh sang pemburu yang semakin mendekat. Sayangnya, ke sudut mana pun Candy lari dengam mudah Houlihan menemukannya. Satu – satunya cara adalah meninggalkan pulau karnaval.

Di lain pihak, Christoper Carrion bersama kaki tangannya yang lain telah sampai di Piramida – Piramida XUXUX. Tempat yang penuh misteri dan tragedi. Dengan kunci piramida yang telah diperolehnya kembali, dengan mudah ia bersama pasukannya memasuki tempat tersebut. Rahasia yang ia sembunyikan selama ini adalah sekawanan lebah berbahaya yang akan menjadi bagian dalam rencana – rencana mereka menguasai Abarat. 

Dibandingkan di buku sebelumnya, perjalanan Candy kali ini jauh lebih mengerikan. Rasanya nyaris putus asa menunggu kapan pengejaran itu berakhir. Korban demi korban berjatuhan di mana – mana. Untungnya semua itu terbayar dengan banyaknya rahasia yang terungkap. Walau masalah tidak sepenuhnya selesai ketika sampai pada halaman terakhir. Setidaknya bisa bernafas lega barang sejenak.

Ilustrasi – ilustrasi yang menakjubkan masih ada dalam buku ini. sayangnya ada beberapa di antara gambar itu yang membuat saja merasa jijik. Terutama ilustrasi salah satu kaki tangan Christopher Carrian.
Seperti buku sebelumnya, makhluk – makhluk baru terus bermunculan. Sedikit pusing dibuatnya.

Sekarang tinggal menunggu buku ketiga, Absolute Midnight dan Buku ke empat, Dynasty of Dreamers. Abarat: The Eternal diberitakan sebagai judul buku kelima yang direncanakan oleh penulis. Semoga saja buku-buku selanjutnya akan kembali diterbitkan. Entah sekelam apa petualangan Candy selanjutnya. 

Abarat: Days of Magic, Night of War
Judul Indonesia: Siang – Siang Magis, Malam – Malam Perang
Penulis: Clive Barket
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2007
Tebal: 508 hlm

2 comments:

Penikmat Buku said...

dari covernya dah keliatan buku ini serem...dan ternyata, memang menyeramkan :D

peni astiti said...

lima buku, al? LIMA? *pingsan*