Saturday, January 31, 2009

Review: Tetangga Culun - Colin Thompson



“Kalau kamu belum membaca ketiga buku Keluarga Flood yang pertama, kamu mungkin merasa seperti pencundang sejati, yang tentu saja memang benar. Namun, hari ini merupakan hari keberuntunganmu karena ada cara untuk berhenti menjadi pecundang dan mulai menjalani hidup secara utuh serta fantastis. Yang perlu kamu lakukan hanyalah membaca ketiga buku Keluarga Flood yang pertama.”
(Colin Thompson –Tetangga Culun hlm 1)

Dari ke empat buku Keluarga Flood yang telah terbit, ini adalah seri favorit saya. Ceritanya tidak segelap buku - buku sebelumnya. Di sini juga tidak lagi menggambarkan sisi gelap Keluarga Flood. Malah sebaliknya. Lihat saja bagaimana sikap Morodonna dan Betty pada tetangga baru mereka.

Keluarga baru itu pindah ke Acacaia Avenue nomor 19. Keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dua orang anak. Dari hasil pengamatan Mordonna dan Betty dari jauh maupun dekat mereka terlihat sangat culun dan membosankan. Namun begitu mengetahui bahwa salah satu anak perempuan itu seusia dengan Betty, keluarga itu tiba – tiba menjadi sangat menarik. Betty memang telah lama menunggu seseorang yang seusianya yang dapat diajak bermain

Setelah puas melakukan pengamatan diam – diam, Mordonna dan Betty pun memulai kunjungan pertama mereka ke rumah tetangga baru mereka. Keluarga baru itu bernama Keluarga Hulbert. Sedangkan anak perempuan yang seusia dengan Betty bernama Ffiona. Dari hasil penjelasan Mrs Hulbert, ternyata ada sejarah dibalik nama Ffiona. Untuk saja hal yang sama tidak terjadi pada Claude, adik bayi laki – lakinya.

Sementara Mordonna menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan Mrs Hulbert, Ffiona mengajak Betty bermain di kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk menjadi akrab. Cerita demi cerita bahkan yang rahasia sekali pun mengalir dari keduanya.

Dari cerita Ffiona, Betty tahu alasan mengapa keluarga mereka pindah ke Acacia Avenue. Salah satunya adalah hal – hal buruk yang terjadi pada Ffiona di sekolahnya dulu. Bukan hanya sekali tapi berkali – kali. Sedangkan dari cerita Betty, ia tahu bahwa Keluarga Flood adalah keluarga penyihir.

Hari demi hari mereka berdua semakin akrab. Tidak hanya menunjukkan kekuatan sihir yang sayangnya lebih banyak gagal, Ffiona pun diajak berkenalan dengan seluruh anggota Keluarga Flood yang lain. Ffiona benar- benar disambut dengan baik. Bahkan menarik perhatian dua anak kembar Flood.

Sampai ketika waktu masuk sekolah tiba. Hari pertama yang selalu menyisakan trauma bagi Ffiona. Betty yang merasakan ketakutan sahabatnya, berjanji tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuhnya.
Di lain pihak, hari pertama sekolah ternyata disambut baik biang kerok yang paling terkenal di Sekolah Sunnyview, Bridie McTart, mulai bertingkah. Bridie Mc Tart memang tak mengganggu Betty, tapi sayangnya tidak benar – benar membuka matanya, korban yang dipilihnya kali ini adalah Ffiona. Sehingga saat Bridie mulai bertindak, balasan setimpal pun dalam sekejap didapatkannya.

Tidak hanya Ffiona, masalah –masalah yang dihadapi Mr dan mrs Hulbert pun diatasi dengan mudah. Tentu saja dengan sedikit bantuan sihir Keluarga Flood. Sehingga kini tidak ada lagi kata culun ataupun membosankan. Bagaimana perubahan Keluara Hulbert? Tentunya hanya bisa terjawab ketika membaca buku ini dari awal sampai akhir.

Seperti warna sampul yang sangat cerah, buku ini juga berakhir dengan hal – hal yang menyenangkan. Senang rasanya membaca buku Keluarga Flood kali ini.

Satu yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah kalimat – kalimat Pak Colin mengenai Belgia. Banyak di dalam bab – bab di buku ke empat ini yang menuliskan betapa ia tidak menyukai negara yang satu ini. sayangnya hingga saat ini tidak ada keterangan yang dapat menceritakan mengapa penulis nyentrik ini membenci neara yang beribu kota Brussel itu. Sebenarnya bukan kali ini saja, di buku – buku sebelumnya juga seperti itu. Sayang di website miliknya juga tidak ada keterangan apapun. Mungkin ada alasan tertentu yang tidak dapat diungkap ke publik. Entahlah. 

Keluarga Flood: Tetangga Culun
Judul Asli: Te Floods #4:
Penulis: Colin Thompson
Penerjemah: Ferry halim
Penyunting: Indah Nurchaidah
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Januari 2009
Tebal: 218 hlm

Review: Asal Usul Keluarga Flood - Colin Thompson



 Keluarga Flood melarikan diri!

Mari kita pergi ke masa lalu dan berkunjung ke Transylvania Waters untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjaid ketika seorang pembersih saluran air rendahan bernama Merlin Flood jatuh cinta kepada seorang putri raja bernama Mordonna. Apakah keduanya mampu melarikan diri dari Raja Quatorze yang murka, dari kejaran para mata-mata paling kejam di dunia, dan dari prospek untuk hidup di bawah kakus?

Mengapa anak sulung mereka, Valla gemar minum darah? Benarkah Satanella benar-benar menjadi seekor anjing karena kecelakaan yang melibatkan seekor udang dan tongkat sihir yang rusak?

Inilah kesempatanmu untuk mencari tahu cara anak-anak Flood dilahirkan -- atau diciptakan.
Kali ini Pak Collin, sang penulis sekaligus narator mengajak kita ke masa lalu Keluarga Flood. Dari latar belakang kehidupan Mordonna dan Nerlin, bagaimana mereka bertemu , jatuh cinta, menikah , memiliki anak-anak yang aneh sampai akhirnya pindah ke Acacia Avenue nomor 13.

Walau hidup sebagai ibu rumah tangga di lingkungan yang biasa – biasa saja, ternyata dulunya Mordonna adalah seorang putri dari kerajaan Transylvania Waters. Ayahnya adalah seorang Raja yang sangat berkuasa. Tidak seorang pun yang berani menentang perintah Raja Nombre – Sept-A-Quatorze kecuali kalau mereka mau kehilangan nyawa.

Hidup sebagai putri ternyata tidak menyenangkan bagi Mordonna. Tidak ada kebebasan baginya. Oleh Raja Quatorze, Mordonna ditawan di sebuah kastil yang seluruh gerbangnya dikunci dan dijaga dua Cyclops (raksasa bermata satu). Mordonna menjadi sangat kesepian.

Mengapa sampai ayahnyasendiri tega melakukan hal tersebut? Tidak lain karena Raja Quatorze tidak ingin Mordonna bertemu dengan pria-pria yang tidak memiliki apa – apa. Raja Quatorze memang serakah. Ia hanya menginginkan harta milik menantinya. Sehingga wajar saja kalau Raja menyewa banyak agen untuk menemukan Pangeran kaya raya. Mordonna dibuat kesal karenanya. Sayang ibunya, Ratu Scratchrot tidak dapat berbuat banyak untuk menghentikan ambisi suaminya.

Tidak banyak yang dilakukan oleh Mordonna untuk lepas dari semua belenggu itu, sampai suatu hari. Dengan bantuan Leach, burung bangkai raksasa yang peliharaannya sejak kecil, Mordonna dibawanya keluar istana menuju sebuah jalan setapak di belakang sederetan gubuk. Disuruhnya Mordonna menggali tanah. Awalnya mordonna menolak, namun karena tahu bahwa itu satu – satunya jalan untuk melarikan diri, tanpa mempedulikan kukunya, Mordonna pun memulai penggalian.

Entah berapa lama waktu yang dihabiskan Mordonna untuk menggali. Yang jelas tanah di bawah kakinya tiba – tib aruntuh dan ia jatuh ke lubang gelap dan dalam. Bukan kebetulan, di dasar lubang yang sama, ternyata Nerlin muda sedang membersihkan saluran air. Tak butuh waktu lama untuk membuat Nerlin jatuh cinta pada Mordonna yang saat itu adalah penyihir paling cantik di Transylvania Waters.Bak gayung bersambut, Mordonna pun ternyata merasakan hal yang sama.

Sayangnya Nerlin bukanlah pangeran yang dicari-cari oleh Raja Quatorze. Sehingga Mordonna tahu bahwa kisah cinta mereka tidak akan pernah mendapat restu dari beliau. Sehingga satu – satunya cara adalah melarikan diri ke suatu tempat yang jauh.. Walau tahu penuh resiko, namun keduanya sepakat untuk menjalani kehidupan mereka berdua. Perjalanan jauh yang benar- benar melelahkan.

Mengetahui semua hal yang dilakukan Mordonna, Raja Quatorze menjadi sangat murka. Mata –mata paling kejam di dunia pun dipanggilnya untuk memulai pengejaran.

Rasanya menyenangkan membaca rahasia – rahasia masa lalu Keluarga Flood.Bahkan proses kelahiran Valla sampai Betty terungkap di sini. Sampai pemilihan tempat tinggal mereka di Acacia Avenue pun ternyata memiliki alasan tertentu.

Satu hal yang baru dibuku ini adalah saya mulai bisa tersenyum bahkan tertawa kecil ketika membaca bab – bab di buku ini. selera humor Pak Collin kali ini sedikit lebih baik. 

Keluarga Flood: Asal Usul Keluarga Flood
Judul Asli: The Floods#3: Home & Away
Penulis: Colin Thompson
Penerjemah: Ferry Salim
Penerbit: Atria
Cetakan: II, Agustus 2007
Tebal: 246 hlm

Review: Sekolah Sihir - Colin Thompson




Setelah berkenalan dengan Keluarga Flood di buku pertama. Sekarang saatnya untuk mengetahui sekolah sihir di mana kelima anak Keluarga Flood, Satanella, Merlinmary, Wincflat, Morbit dan Silent, belajar. Valla sebagai anak tertua telah menyelesaikan masa pendidikannya dan sekarang berprofesi sebagai Manajer Bank Darah. Sedangkan yang lain,kecuali Betty, menghabiskan hari – hari mereka di Quiclime College. Betty sendiri belajar di sekolah biasa.

Quicklime College, jangan pernah membandingkan dengan Hogwarts. Walau sama – sama sekolah sihir namun keduanya sangat jauh berbeda. Dari masalah pelajaran, guru bahkan sampai turnamen olahraga yang diadakan. Bahkan murid – murid di sana tidak perlu menghabiskan waktu untuk belajar bagaimana menaiki sapu terbang. Satu yang pasti, Quicklime jauh lebih gelap dan mengerikan.

Sekolah yang terletak di sebuah lembah dan tinggi di atas patagonia ternyata tak pernah ada dalam peta manapun. Sehingga manusia biasa tidak akan pernah menemukan keberadaan para penyihir. Dengan menara- menara runcing dan 365 gargles “indah” pda bagian puncaknya membuat sekolah sihir ini terlihat sangat megah.
Tidak seperti sekolah biasa yang memiliki banyak murid dengan kecenderungan bolos, hanya sedikit murid Quicklime yang ingin melakukan hal tidak terpuji tersebut. bahkan jika mereka sakit, mereka lebh suka berdiam diri di Unit Kesehatan Sekolah daripada pulang ke rumah.

Keistimewaan lain dari sekolah sihir ini juga terdapat pada bus sekolahnya. Bukan kendaraan roda empat atau kereta api. Tapi naga ang dilengkapi dengan tempat duduk dan toilet. Kemampuan terbangnya luar biasa. Dapat dipastikan tidak akan terjadi keonaran. Karena Winchflat sebagai ketua dewan siswa Quicklime dengan mudah mencopot ataupun mengubah bentuk kepala setiap anak yang berani berbuat onar.

Pelajaran sihir di Quicklime sama anehnya dengan para pengajarnya. Menghilangkan Diri yang diberikan oleh guru dengan kebiasaan menghilang tanpa ada pemberitahuan dan selalu muncul tiba - tiba, ada pelajaran Keturunan Istimewa untuk Satanela, Teknik Rekayasa Genetika yang menjadi pelajaran favorit Winchflat. Ada pula Pelajaran Ekonomi dan Bentuk – Bentuk Lain Perampokan, yang menjadikan si kembar sebagai bintang kelas. Merlinmary sendiri sangat menyukai pelajaran Elokusi dan Melolong. Anak – anak Flood memang memiliki keistimewaan masing – masing. Sebenarnya masih banyak lagi pelajaran lainnya. namun lebih baik membacanya sendiri.

Semua itu membuat salah satu murid Quicklime yang juga anak terjahat menjadi sangat iri. Kebencian Orkward Warlock kepada keluarga Flood sangat besar. Sehingga suatu hari, munculah rencana untuk membunuh seluruh keluarga Flood di Hari Olahraga.

Ilustrasi di buku kedua Keluarga Flood kali ini tidak kalah anehnya dengan sebelumnya. Cerita yang penuh dengan kekuatan sihir ini juga masih mengerikan seperti cerita di buku pertama. Colin Thompson, sang penulis, seakan ingin memberi tahu kepada seluruh pembaca bahwa dunia sihir tempat Keluarga Flood memang gelap.

Keluarga Flood: Sekolah Sihir
Judul Asli: The Floods#2: Playschool
Penulis: Colin Thompson
Penerjemah: Shinta Harini
Penerbit: Atria
Cetakan: II, September 2007
Tebal: 226 hlm

Review: Tetangga Menyebalkan - Colin Thompson




A Neighbor From Hell
Pernah main game petualangan keluaran JoWood itu? Kalau belum, sayang sekali. Tapi kalau sudah tentu setuju, mengapa pria yang nyaris kehilangan semua rambutnya memang pantas di kerjai Woody. Bagaimana tidak, tingkah pria itu sangat menyebalkan.

Dengan alasan yang sama, Keluarga Flood memberi julukan itu pada keluarga yang tepat bersebelahan dengan rumah mereka. Setiap pagi mereka harus berhadapan dengan kebisingan. Suara pertengkaran yang sangat keras dan seakan tidak ada habisnya disertai teriakan yang penuh sumpah serapah yang bertahan sepanjang pagi . Belum lagi suara anjing mereka yang menggong-gong dengan suara menggelegar. Sarapan pagi dengan suara – suara itu tentu bukan hal yang menyenangkan. Padahal sebelumnya Keluarga Flood menjalani pagi dengan tenang. Setidaknya sebelum Keluarga Dent pindah ke rumah sebelah.

Tuesday, January 27, 2009

Sejuta Warna Dunia Mia


Sejuta Warna Dunia Mia

Judul Asli: A Mango Shape Space

Penulis: Wendy Mass

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Cetakan: I, Desember 2008

Tebal: 354 hlm


Spoiler Alert!!!


Semua orang mungkin memiliki keanehan yang tidak disadarinya. Setidaknya aneh menurut orang – orang yang menganggap dirinya normal.


Sebelumnya Mia juga menganggap dirinya normal. Setidaknya Mia tidak mengganti warna rambutnya setiap minggu seperti kakaknya Beth, ataupun Zack yang selalu memiliki gagasan- gagasan aneh seperti menghitung jumlah hamburger McDonalds yang dimakannya seumur hidup, percaya bahwa menaruh kucing di pangkuan akan membawa keberuntungan ataupun beberapa hal takhyul lainnya. Sampai suatu hari, di usia delapan tahun, Mia menyadari ada sesuatu yang aneh pada dirinya.


Namun hal itu tak diceritakan pada siapapun. Karena siapa yang percaya bahwa ada warna – warna yang muncul pada setap angka dan huruf yang dilihatnya ataupun pada suara yang didengarnya. Tidak ada yang percaya bahwa huruf a berwarna sekuning bunga matahari,warna biru seperti selimut bayi yang terpancar dari angka empat, ataupun suara kucingnya Mango yang berwarna soda jeruk. Rahasia itu tetap disimpannya seorang diri. bahkan pada sahabatnya sejak kecil, Jenna.


Sebenarnya Mia pernah menceritakan hal ini pada orang tuanya ketika insiden kecil terjadi di kelas mate-matika. Namun Ayah dan Ibunya menganggap Mia hanya mengarang semua cerita dan hanya berhalusinasi.

Setelah lima tahun berlalu sejak kejadian memalukan di kelas, Mia tidak juga menemukan jawaban untuk misteri warna – warna yang dilihatnya. Sebenarnaya Mia menikmati semua perpaduan warna – warna yang dilihatnya. Walau sering kali Mia merasa dirinya gila.


Semuanya tersimpan rapat sampai nilai mate-matika Mia di kelas delapan semakin buruk. Tidak hanya mate-matika sebenarnya, ia juga menemui kesulitan yang sama di pelajaran bahasa Spanyol. Semua terlihat begitu sulit baginya. Mia sadar ia tak dapat menyimpan keanehannya lebih lama. Ia harus menceritakan pada Ayah dan Ibunya, walau tahu mereka berdua pasti akan sulit untuk menerima semua kenyataan ini.


Seperti yang diduga Mia, kedua orang tuanya terkejut mendengar semua pengakuan Mia. Tanpa menunggu lama, mereka pun mengunjungi dokter keluarga, Psikiater sampai akhirnya seorang ahli syaraf Berita baiknya Mia dan keluarganya tidak perlu terlalu khawatir karena Mia tidak mengidap tumor otak seperti yang dicurigai ibunya. Sayangnya, hal buruk terjadi ketika akhirnya Mia menceritakan semuanya pada Jenna, yang juga akhirnya menceritakan kepada orang lain sampai akhirnya seluruh sekolah tahu tentang warna – warna yang dilihat Mia. Tidak menutup kemungkinan gelak tawa mengejek yang didengarnya di kelas tiga akan terulang.

Keanehan pada Mia, Beth ataupun Zack membuat saya teringat masa kecil. Tepatnya pada koleksi – koleksi aneh yang hanya dianggap sampah oleh mama. Setiap orang mungkin memang punya keanehan masing – masing.

Satu hal yang paling menarik dari kisah Mia adalah kemampuan melihat warna- warna itu nyata. Di luar sana, benar- benar ada orang yang bisa melihat warna- warna dari angka, huruf, suara. Walau warna- warna yang dilihat setiap orang akan berbeda.


Rasa tidak tepat untuk menyebutnya sebagai kelainan. Sebaliknya saya malah cenderung menyebutnya kelebihan. Karena diantara mereka bisa melihat aura yang ada disekitar tubuh seseorang. Hal ini yang membuat saya sedikit iri. Karena sampai sekarang, warna – warna itu tidak juga terlihat. Walaupun saya telah mencoba berkali – kali dengan berpatokan pada dua buku panduan sekaligus. Namun hasilnya nihil. Padahal semua penulisnya memastikan cara yang mereka ajarkan ini adalah cara paling jitu. Atau mungkin saja saya memang tidak berbakat. Tapi setidaknya harus tetap bersyukur karena bisa menikmati dunia yang penuh warna ini.


Sebenarnya ada istilah ilmiah untuk kelainan(baca:kelebihan) yang dialami Mia dan beberapa orang di luar sana. Namun saya sengaja tidak mau menuliskannya di sini. Ingin tahu apa itu? Buka bukunya dan temukan jawabannya di sana.


Walau tidak sekeren Anastasia Krupnik, seunik Grace Aja, selugu Alice McKinley, kelainan Mia bisa dibilang menarik. 3.5/5

Review: Cosmo and The Magic Sneeze - Gwyneth Rees




Satu lagi buku yang bercerita tentang kucing. Kali ini sedikit istimewa karena kucing kali ini adalah kucing penyihir. Kucing penyihir yang tidak hanya mendampingi para penyihir saat naik di sapu terbang, tapi kucing yang membantu mereka menyiapkan ramuan ajaib. Ramuan yang dibuat para penyihir kwbanyakan membuukan bersin kucing untuk membuatnya berkhasiat. Sayangnya tidak semua kucing memiliki darah penyihir didalam tubuhnya. Untuk mengetahuinya, ia harus dites terlebih dahulu

Adalah Cosmo, anak kucing yang berusia enam bulan, menjadi sangat gugup karenanya. Ya, hari itu Cosmo akan menjalani satu tes yang menentukan apakah dirinya adalah seekor kucing penyihir seperti ayahnya,Mephisto. Sebenarnya ia tidak perlu serisau itu jika ibunya adalah seorang penyihir. Sayangnya India, ibu Cosmo, hanyalah seekor kucing putih biasa, yang saat itu juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan anaknya. Ia tidak ingin mengecewakan suaminya.

Beruntung, ketika tes dilakukan oleh Sybil, penyihir yang selama ini menjual ramuan dengan bantuan Mephisto, menunjukan bahwa Cosmo adalah kucing penyihir dengan persentase delapan puluh persen. Tidak hanya Cosmo dan India, Mephisto pun ega mengetahui hasilnya. Terlebih lagi Sybil, ia bakan bersorak gembira. Karena kini ia tidak hanya punya satu kucing tapi dua kucing penyihiri sekaligus.

Walau telah resmi menjadi kucing yang akan membantu Sybil dengan bersinnya, namun Cosmo tidak merasakan rasa nyaman ketika berada di dekat wanita yang penampilannya memang mengerikan. Setidaknya ia ingin bisa bekerja seperti ayahnya yang dengan tenangnya mengerjakan semua yang diinginkan Sybil.

Sebenarnya, yang dirasakan oleh Cosmo ada benarnya. Karena Sybil memang bukan penyihir yang baik. Sebaliknya Sybil adalah penyihir yang jahat, kejam, culas dan licik. Tidak jarang, ramuan yang dibuatnya digunakan untuk menipu para pelanggannya. Beruntung ada para penyihir pengawas yang selalu memperhatikan tindak tanduk Sybil sehingga semua kecurangannya bisa ditekan.

Suatu hari kekhawatiran Cosmo semakin besar, ketika ia mengetahui bahwa Sybil sedang membuat ramuan rahasia berdasarkan petunjuk yang didapatkan dari ibunya, Euphemia, penyihir yang jauh lebih jahat. Cosmo dibantu oleh ibunya dan sahabatnya Mia mencoba menyelidiki apa yang hendak dibuat oleh Sybil. Semuanya benar- benar membuatnya bingung sampai suatu hari ia melihat kardus yang berisi banyak anak kucing.

Pertanyaan demi pertanyaan Cosmo kini terjawab. Sybil ternyata akan menggunakan anak kucing dalam ramuan rahasianya. Bahkan Sybil pun dengan lantang mengatakan tidak akan segan – segan menggunakan Cosmo. Anak kucing kecil itu mulai panik. Bagaiman amungkin Sybil berkata demikian, padahal semua orang tahu bahwa para penyihir tidak diperbolehkan menyakiti kucing penyihir, jika tidak ingin lenyap menjadi asap.

Walau bukan buku pertama yang menuliskan tentang kucing penyihir, namun ini pertama kalinya sang kucing penyihir dijadikan karakter utama. Ilustrasinya juga lucu. Melihat ilustrasi itu, saya dibuatnya rindu untuk mengelus kucing lagi. Punya kucing memang menyenangkan, walau mereka bukan kucing penyihir sekalipun. Di buku ini ternyata untuk memahami bahasa kucing, penyihir juga harus belajar. Tidak seperti Sabrina, The Teenage Witch, yang sejak pertama kali sadar bahwa ia penyihir bisa langsung mengerti bahasa kucing. Apa karena kucingnya yang pintar sampai ia bisa bicara bahasa manusia? Entahlah. Yang jelas kucing – kucing penyihir di buku ini jauh lebih pintar dari kucing ungu milik Hermione, Crookhanks. Yang hanya diam seribu bahasa. Hihihi...
Rasanya tidak sabar memiliki buku – buku yang bercerita tentang kucing lagi. 

Cosmo and The Magic Sneeze
Judul Indonesia: Cosmo dan Bersin Ajaib
Penulis: Gwyneth Rees
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 192 hlm

Saturday, January 24, 2009

Review: The Book of Lost Things - John Connolly




Dongeng ini diperuntukkan bagi orang dewasa,
terutama yang masih ingat saat – saat ketika masa kanak – kanak mulai berlalu
dan jalan menuju kedewasaaan telah terbentang
(resensi di sampul belakang)

David, anak laki - laki yang menjadi tokoh utama di buku ini. Berbagai macam ritual dilakukan demi kesembuhan ibunya. Berdoa, tidak berisik saat melakukan segala sesuatu, mendahulukan kaki kiri saat turun dari tempat tidur, menghitung sampai dua puluh kali saat menggosok gigi, sampai menyentuh keran – keran di kamar mandi ataupun gagang pintu dilakukan agar ibunya bisa bertahan lebih lama. Sayangnya kekuatan penyakit yang telah lama bersarang di tubuh ibunya jauh lebih kuat. David hanya bisa menangis tersedu ketika kehidupan perempuan cantik yang sangat disayanginya itu berakhir.

Setelah kehilangan ibu, David tidak mau mengambil resiko kehilangan ayahnya. Rutinitas yang sama terus dijalankannya. Walau tidak sedisiplin dulu. Sayang, seperti saat mengusahakan hal yang sama untuk nyawa ibunya, semua rutinitas itu ternyata juga tidak bekerja untuk ayahnya. Hanya dalam lima bulan, tiga minggu dan empat hari setelah ibunya meninggal, kini hadir wanita lain dalam kehidupan ayahnya, Rose, Bahkan ketika David belum siap menghadapi semua yang ada di depan mata. Seakan ingin kemalangan David, sejak mengetahui Rose akan menggantikan posisi ibunya, suara – suara aneh yang berasal dari buku miliknya mulai muncul di kepala David

Hal buruk berikutny adalah ketika mengetahui bahwa ayahnya akan menikahi Rose.
Seakan tak cukup mengalihkan perhatian ayahnya dari kenangan ibunya, kini Rose hadir bersama bayi laki-laki yang diberi nama Georgie. Sehingga tidak perlu heran jika tidak sekalipun David mencoba untuk bersikap ramah pada Rose. Hubungan mereka tak kunjung membaik, bahkan ketika pindah ke rumah Rose, David di beri kamar yang berisi penuh dengan beragam macam buku. Tentu saja David menyukainya, walau itu berarti suara bising di kepalanya akan bertambah dan erang dingin dengan Rose tak juga berakhir.

David tahu bahwa percuma saja jika harus menghabiskan waktu untuk memikirkan Rose dan George. Maka buku – buku yang tua dan aneh menjadi pilihan David untuk melupakan mereka berdua. Dibandingkan buku koleksinya, Dongeng – dongeng di buku – buku tua itu jauh lebih mengerikan. Bahkan tak jarang David sampai memimpikannya. Mengherankan ketika ternyata David semakin tertarik dan bertanya – tanya siapakah Jonathan Tulvey, yang namanya ada dibalik dua sampul buku.

Satu – satunya jalan untuk mendapatkan jawaban tentu saja dengan bertanya pada Rose,yang juga berarti ia harus mengenyampingkan rasa tak sukanya. Dari penjelasan Rose, Jonathan Tulvey ternyata adalah paman Rose yang menghilang begitu saja ketika ia berumur empat belas tahun bersama seorang anak perempuan kecil bernama Anna.

Hari demi hari sejak itu, keanehan demi keanehan terjadi.Seperti munculnya seorang pria pendek dan bungkuk dengan penampilan yang sangat mengerikan, munculnya suara perempuan yang mirip dengan suara ibunya yang membuatnya sampai tersesat ke dalam hutan. Hutan yang ternyata menghubungkannya dengan dunia lain. Dunia di mana semua dongeng- dongeng yang pernah dibacanya berubah drastis. Dari kisah si Tudung Merah dan serigala jahat, Snow White dan 7 kurcaci, Putri Tidur, Hassel dan Gratel dan masih banyak dongeng lannya menjadi cerita berbeda. Sebagian cerita itu diperoleh dari seorang tukang kayu yang sempat menyelamatkan jiwanya

Dari cerita seorang tukang kayu jugalah, David negeri ini dipimpin oleh seorang Raja tua dan satu – satunya cara untuk menemukan jalan pulang adalah dengan menghadap kepadanya. Sayangnya perjalanan menuju istana sang raja tidak mudah. David harus berhadapan dengan makhluk – makhluk mengerikan yang tidak segan – segan melukai bahkan membunuhnya.

Awalnya saya tak pernah menyangka kalau buku ini akan menjadi buku fantasy yang penuh dengan kejutan. Bagian yang paling menarik tentu saja lembaran – lembaran yang menuliskan dongeng – dongeng yang isinya benar-benar aneh. Membuat saya tidak sabar untuk mengetahui bagaimana dongeng berikutnya setelah membaca bagian pertama yang diceritakan oleh tukang kayu. Bahkan ketika cerita telah habis, saya masih berharap akan mendapat yang lain. Hingga akhirnya terpikir untuk membuat cerita sejenis namun diangkat dari dongeng dari negeri sendiri. Pastinya tidak kalah seru.

Satu hal yang menjadi satu catatan ketika sampai di halaman terakhir buku ini adalah bagaimana membuka mata, telinga dan hati lebih lebar. Sehingga semua hal bisa menjadi lebih jelas. 

The Book of Lost Things
Judul Indonesia: Kitab Tentang Yang Telah Hilang
Penulis: John Connolly
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 472 hlm

Review: Life On The Refrigerator Door - Alice Kuipers



Another Teenlit!!!!
Entah sejak kapan menulis pesan di pintu kulkas itu menjadi kebiasaan Claire dan ibunya. Dari daftar barang yang harus dibeli, saling bertukar kabar, atau sekedar bercerita bagaimana hari yang telah mereka lalui di sekolah ataupun rumah sakit. Sebagai dokter, ibu Claire memang sangat sibuk. Sehingga untuk bertatap muka dengan anak perempuan satu – satunya adalah hal yang langka.

Sering kali, karena tugas, ia juga harus menghabiskan liburan akhir pekan di rumah sakit. Untung saja Claire punya segudang kegiatan yang harus dikerjakannya. Baik itu tugas dari sekolah, menghabiskan waktu bersama Emma. sahabatnya, sampai akhirnya memutuskan untuk kerja paruh waktu sebagai babysitter. Sehingga ia tak perlu meratapi rumah mereka yang kosong. Walau jauh di dalam hatinya, ia tetap berharap bisa memiliki ibu yang “normal”. Setidaknya seperti ibu Emma yang bisa memasak untuknya. Bukan sebaliknya.

Claire sebenarnya tahu betul bahwa ia tak dapat menyalahkan ibunya sepenuhnya untuk semua waktu yang tidak lagi tersisa untuk dirinya. Karena membesarkan seorang anak perempuan sendirian bukanlah hal yang mudah. Apalagi sejak bercerai dengan ayahnya, semua kebutuhan harus mereka tanggung sendiri. Walau tak dapat menghabiskan waktu bersama, mereka toh masih bisa berbagi semua hal di pintu kulkas.

Semakin lama, pesan – pesan di pintu kulkas tidak hanya berisi kata – kata singkat. Kini semuanya berkembang menjadi beberapa paragraf. Sehingga terasa bahwa pesan- pesan itu menjadi satu – satunya cara untuk berkomunikasi. Bahkan pertengkaran mereka terjadi lewat lembaran kertas- kertas itu. Dari masalah uang saku, pekerjaan rumah tangga, pakaian di mesin cuci, bahkan hal hal sepele lainnya.

Semua terlihat semakin ironis. Berita penting sekalipun ternyata tak sempat lagi disampaikan secara langsung. Bahkan untuk hal sepenting hasil diagnosis dokter mengenai benjolan pada payudara ibunya. Semakin banyak emosi yang tertuang di dalamnya. Namun seburuk apapun hubungan Claire dan ibunya, dari pesan-pesan itu terlihat mereka saling menyayangi.

Satu lagi teenlit yang benar- benar saya suka. Dari desain cover yang manis sampai ceritanya yang menyentuh. Buku ini berhasil membuat saya terharu.

Cerita yang ditulis dalam bentuk yang nggak biasa. Seperti judulnya dan yang saya tulis di atas, buku ini memuat pesan – pesan yang mereka tulis. Jadi kadang satu halaman hanya ada kalimat- kalimat yang sangat singkat. Itu juga jadi satu point yang menarik dalam buku ini. Bacanya jadi cepat banget.

Sayang pesan – pesan yang mereka tulis tuh nggak ada tanggalnya. Jadi agak susah mengetahui kapan tulisan itu di tulis. Walaupun sebenarnya itu tidak begitu mengganggu jalan cerita.

Nah satu lagi buku yang membuktikan kalau cerita teeenlit itu tidak selamanya dangkal. Pengen bukti? Baca buku ini. 

Life On The Refrigerator Door
Judul Indonesia: Kehidupan di Pintu Kulkas
Penulis: Alice Kuipers
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I,November 2008
Tebal: 240 hlm