Thursday, February 12, 2009

Review: Lord of The Shadows - Darren Shan



Spoiler Alert!!!

Delapan belas tahun berlalu sejak Darren meninggalkan rumah dengan identitas kematian palsunya dengan darah vampir yang dialirkan oleh Mr Crepsley. Selama itu pula, kejadian demi kejadian terjadi dan mengubah banyak hal. Tidak hanya Darren ataupun orang – orang disekitarnya, karena sejak kepergian Darren, perubahan drastis pun terjadi pada teman – temannya di masal lalu dan tentu saja keluarganya.

Rumah masa kecil Darren masih ada. Namun orang tuanya telah lama pindah sejak ayahnya pensiun. Rumah yang terlihat lebih suram dibandingkan sejak Darren terakir kali melihatnya kini ditempati oleh adiknya Anhie. Satu kejutan baru adalah ketika mengetahui bahwa Anhie memiliki anak dan membesarkannya tanpa seorang suami. Begitu melihat sosok adik perempuan satu – satunya, Darren nyaris kehilangan kendali. Keinginan untuk muncul di hadapan Anhie, berbicara, memeluknya, tertawa dan menangis bersama ataupun membicarakan masa lalu begitu besar. Namun akhirnya Darren mengurungkan niatnya. Ia kembali ke kota tempat ia menghabiskan masa kecil bukan untuk membongkar masa lalunya. Masih ada misi yang lebih penting dari sekedar mengenang masa lalu.

Seperti yang diramalkan oleh Evanna sang penyihir, Steve atau Darren akan bangkit menjadi Penguasa Kegelapan yang akan meluluhlantahkan dunia. Rasanya sulit untuk menerima semua semua perkataan penyihir perempuan itu. namun ia tidak mungkin berdia diri dan membiarkan klan Vampaneze merajalela dan mengambil alih semuanya. karen atidak hanya klan vampir yang akan hancur, namun seluruh umat manusia di bumi ini juga dipastikan akan musnah.

Masalahnya sekarang adalah menemukan keberadaan Steve dan pengikutnya. Walau sebenarnya Darren tak perlu pusing, karena cepat atau lambat mereka akan muncul dengan sendirinya

Benar saja. Morgan James dan R.V muncul di hadapan Darren. Tanpa segan – segan melukai orang – orang di sekeliling Darren. Termasuk beberapa diantaranya teman-teman Darren di Cirque Du Freak.

Perasaan Darren benar- benar hancur dibuatnya. balas dendam dengan melakukan hal yang sama adalah satu – satunya yang ada di pikiran Darren yang saat itu telah mengalami fase lanjutan dari seorang vampir. Jalan menuju Penguasa Kegelapan kini terbuka sangat lebar.

Seperti buku buku serial Darren Shan sebelumnya, buku kai ini juga membuat saya menjadi gemas karenanya. Semuanya karena kejutan demi kejutan yang muncul begitu mendadak. Seharusnya saya tidak begitu naif sehingga rasa kesal itu tidak perlu muncul.

Semoga saja kisah yang akan berakhir di nomor 12 ini akan memberi ending yang menyenangkan. Walau sebenarnya tak banyak berharap. Apalagi jika berpatokan dengan buku – buku sebelumnya. Tapi siapa yang tahu kejutan apalagi yang akan di berikan oleh Darren Shan kepada pembacanya. 

Darren Shan $11: Lord of The Shadows
Judul Indonesia: Penguasa Kegelapan
Penulis: Darren Shan
Penerjemah: Dharmawati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 208 hlm

Review: The Historian - Elizabeth Kostova



Setelah membiarkan buku ini di rak buku nyaris 2 tahun lamanya, akhirnya beberapa minggu yang lalu saya memutuskan untuk membuka halaman pertamanya. Saya punya alasan kuat mengapa tidak langsung melahapnya begitu buku ini resmi menjadi penguni rak buku. Pertama, masalah ketebalan yang tidak diragukan lagi, belum lagi ditambah buku ini dikemas dalam bentuk hardcover. Kedua, tentu saja masih banyak buku yang lebih tipis lainnya. Namun sampai di halaman terakhir, saya sedikit menyesal kenapa tidak membacanya sejak dulu. Karena buku ini ternyata menarik. hhhmmm...satu pelajaran lagi Don’t Judge the book by its thickness.
Dari judul dan Catatan Untuk Pembaca yang ditulis dibagian awal oleh narator, yang sampai akhir buku ini tak juga disebutkan namanya, buku ini bercerita tentang penelusuran, pencarian sesuatu di masa lalu yang terjadi beratus tahun yang lalu, jauh sebelum ia lahir. Pencarian yang membuatnya berpindah dari satu negara ke negara lain. Membaca dokumen demi dokumen. Selama bertahun – tahun tak terhitung lagi berapa banyak riset dan pengumpulan fakta yang ia lakukan. Semua itu membuat saya semakin penasaran dan bertanya-tanya sejarah dan fakta apa yang dibicarakan oleh sang narator. Karena semua riset ini juga berkaitan dengan pencarian ayahnya dan masa lalunya, bagaimana ayahnya pergi mencari gurunya dan sejarah yang melatar belakangi kehidupannya.

Nampaknya sang narator tidak ingin berlama-lama membuat saya penasaran. Hanya dalam beberapa menit pertanyaan itu terjawab dan hanya dengan tiga kata. Bram Stoker, Dracula.
Karena tiga kata itu juga yang akhirnya membuat saya kembali meninggalkan buku ini. Sebelum tenggelam di buku dengan ketebalan 768 halaman ini saya pikir sebaiknya mengenal sosok Dracula ciptaan Bram Stoker terlebih dahulu. Dari buku itu, yang saya dapatkan adalah sesosok pria penghisap darah dengan kekuatan magis dari Transylvania yang sangat keji dan hanya mengejar para wanita sebagai korbannya.

Ketika akhirnya kembali ke buku ini, sosok Dracula yang saya temui di buku ini jauh berbeda. Yang mengejutkan pria ini ternyata benar- benar ada. Vlad Dracula yang juga dikenal sebagai Vlad si Penyula. Tidak perlu heran mengapa diberikan julukan seperti itu. Karena semasa hidupnya pria ini memang sangat kejam. Tidak tanggung – tanggung ia memerintahkan semua bawahannya untuk mengakhiri hidup setiap orang yang dianggapnya musuh dengan cara di sula. Tak peduli bayi, anak-anak pria ataupun wanita. Hal itu membuat saya bergindik ngeri.

Semua itu ada di catatan- catan sang narator yang juga didapatkannya dari semua cerita, catatan, surat milik ayahnya ataupun buku – buku dari perpustakaan yang dikunjunginya. Yang mengejutkan, semua catatan-catatan itu mengantarnya pada satu hal. Vlad si Penyula masih hidup dan berkeliaran. Kesimpulan itulah yang membuat mereka, para sejarawan, berpacu bersama waktu untuk mencari kebenaran di balik semua misteri ini.

Sehingga tidak mengherankan jika penulusuran yang dilakukan menjadi sangat panjang. Sangat melelahkan memang. Namun saya menikmati setiap perjalanan dari satu negara ke negara lain di benua Eropa. Keindahan setiap kota setidaknya memberi sedikit warna pada pencarian, yang menghabiskan waktu bertahun – tahun, yang sangat gelap dan penuh dengan hal – hal berbahaya.

Terlepas apakah fakta ataupun fiksi, banyak dari catatan-catatan itu yang membingungkan. Bahkan begitu sampai di halaman terakhir, saya masih dibuat pusing dengan hubungan antara Vlad Dracula, Ottoman dan Mehmen II. Mungkin karena saya lebih menyukai cerita tentang masa lalu keluarga sang narator, Paul, ayahnya ataupun kisah sang professor Rossi, guru sekaligus pembimbing ayahnya. Sehingga tidak ada cara lain menulusuri kembali beberapa halaman dan mencari fakta lainnya di Wikipedia. Karena pertanyaan – pertanyaan baru juga muncul ketika semua halaman itu selesai saya lahap.

Untuk sebuah buku yang menggabungkan fakta, fiksi dan sejarah, buku ini benar-benar menarik. 

The Historian
Judul Indonesia: Sang Sejarawan
Penulis: Elizabeth Kostova
Penerjemah: Andang H. Soetopo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2007
Tebal: 768 hlm

Hari – Hari Bahagia Di Bullerbyn


Hari – Hari Bahagia Di Bullerbyn

Judul Asli: Mera OM Oss Barn I Bullerbyn

Penulis: Astrid Lindgren

Penerjemah: Purnawati Olsson

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: II, September 2002

Tebal: 136 hlm


Jika di buku Kami Anak – Anak Bullerbyn, Lisa bercerita tentang Lasse, Bosse, Anna, Britta dan Olle di buku apa saja yang mereka lakukan selama liburan sekolah. Di buku ini, Lisa bercerita tentang kisah anak – anak Bullerbyn di hari – hari istimewa mereka setiap tahunnya. Istimewa karena membuat semua orang yang tinggal di Bullerbyn merasa sangat bahagia.


Hari istimewa pertama adalah saat mereka merayakan natal. Bukan hanya karena di hari itu penuh dengan kue jahe, tumpukan roti hitam, ham, sosis, kembang gula dan makanan – makanan lezat lainnya, ataupun hadiah – hadiah yang akan diantarkan oleh Sinterklas, tapi juga karena kebersamaan yang mereka lewati.


Dari perayaan natal, hari istimewa berikutnya adalah saat merayakan tahun baru. Semua anak – anak Bullerbyn diijinkan untuk tetap terjaga. Bahkan untuk membantu kemeriahan pesta malam tahun baru itu, ibu Lissa menyediakan apel, kacang dan sirop.


Dari pesta natal dan perayaan malam tahun baru yang sederhana, cerita Lisa berpindah pada pesta di rumah Bibi Jenny, perayaan paskah di mana mereka bermain – main dengan telur –telur hias, hari kelahiran adik Olle, sampai pada perayaan ulang tahun kakek Britta dan Anna yang ke 80.


Secara garis besar, hari – hari bahagia itu memang identik dengan perayaan, namun kebahagiaan yang dirasakan oleh anak – anak Bullerbyn nampaknya terjadi setiap hari. Termasuk semua kisah kekonyolan Lasse dan Bosse, ataupun saat mereka menelusuri jejak sang hantu air dan tidak ketinggalan saat mereka mencari harta terpedam bersama – sama. Melihat semua yang dilakukan anak – anak Bullerbyn membuat saya berpikir bahwa untuk menjadi bahagia bukanlah hal yang rumit.

Kami Anak-Anak Bullerbyn


Kami Anak-Anak Bullerbyn

Judul Asli: Alla Vi Barn I Bullerbyn

Penulis: Astrid Lindgren

Penerjemah: Purnawati Olsson

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: II, September 2002

Tebal: 112 hlm


Bullerbyn, yang berarti Desa Ribut adalah sebuah desa yang sangat kecil. Karena di atasnya hanya terdiri dari tiga rumah. Pondok Utara, Pondok Tengah, dan Pondok Selatan.


Di pondok Utara adalah milik dua orang anak perempuan, Anna dan Britta. Tentu saja mereka tidak tinggal sendirian. Karena ada di pondok itu juga ada ibu dan ayah Anna dan Britta termasuk seorang kakek yang kini menghabiskan waktunya di kursi goyang. Di pondok tengah sendiri dihuni oleh sebuah keluarga dengan dua anak laki laki, Lasse dan Bosse serta adiknya Lisa. Sedangkan di pondok utara, anak laki – laki bernama Olle tinggal bersama ayah dan ibunya.


Karena hanya ada tiga rumah, makanya semua anak laki-laki dan perempuan itu menjadi teman sepermainan yang sangat akrab satu sama lain. Walau hanya berenam namun mereka semua bisa membuat desa itu menjadi sangat ribut. Bahkan sering kali mereka membuat para orang tua sedikit pusing karenanya. Terlebih jika Lasse dan Bosse yang terkenal sangat iseng mulai beraksi. Bahkan Lisa pun tidak jarang dibuat menjadi sangat kesal. Beruntung sejak ulang tahunnya yang ke tujuh, Lisa memiliki kamar sendiri sehingga tidak perlu lagi menghabiskan malam dengan cerita-cerita seram yang selalu diceritakan oleh keduanya. Lisa kadang berharap kedua kakaknya bisa sopan seperti Olle.


Karena keisengan itu jugalah yang membuat Lisa lebih suka menghabiskan waktunya bersama Britta dan Anna. Bermain boneka ataupun rumah – rumahan.


Kisah sederhana namun dikemas menjadi rangkaian kisah yang cukup menarik. Hanya mengandalkan semua yang mereka miliki ternyata bisa membuat anak – anak itu menjadi bahagia karenanya. Lihat saja semua anak – anak itu membuat markas di tumpukan jerami ataupun sekedar merahasiakan tempat tumbuhnya arbei liar. Belum lagi rencana konyol mereka untuk melarikan diri dari rumah.


Semua cerita mereka membuat saya teringat dengan masa kecil yang juga tidak kalah konyolnya. Rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghabiskan waktu untuk bermain dan bermain.

Wednesday, February 4, 2009

Review: Abarat: Days of Magic, Night of War - Clive Barket



Di dunia fantasy semua hal bisa terjadi, bahkan sesuatu yang tidak mungkin sekalipun. Tidak perlu heran jika banyak hal – hal aneh di Kepulauan Abarat yang terdiri atas pulau – pulau yang masing – masing memiliki keajaiban tersendiri.

Setidaknya itulah yang terjadi pada petualangan Candy. Walau kata yang lebih tepat untuk menggambarkan semuanya, mengerikan. Siapapun yang telah membaca buku pertama, tahu betul bagaimana perjalanan – perjalanan Candy dari satu pulau ke pulau yang lain. Di kejar – kejar oleh mahkluk – makhluk mengerikan yang ternyata suruhan Christoper Carrion, sang Penguasa Tengah Malam dan disekap oleh penyihir jahat yang tidak segan menganyunkan tongkat untuk memukul.

Beruntung nasib baik masih berpihak padanya. Bersama Malingo, Candy bisa lepas dari tangan – tangan para pengejar. Walau tahu itu tidak akan lama, pengejarnya akan terus mengejar. Sehingga satu – satunya cara adala dengan berpindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Dari pulau Qualm Hah, Jam sembilan Pagi, tak lama kemudian mereka berpindah ke Pulau Orlando’s Cap, pulau yang didalamnya terdapat rumah saki jiwa. Di pulau inilah, Otto Houlihan, sang pengejar, kembali mendapati jejak mereka.

Mengetahui sang pengejar telah kembali, tidak ada hal lain yang dilakukan Candy dan Malingo selain mengambil langkah seribu. Beruntung ada kapal nelayan yang mau memberikan tumpangan. Walau sempat diganggu oleh Burung – Burung Pemakan Bangkai, toh akhirnya mereka sampai ke Babilonium yang dikenal sebagi Pulau Karnaval. Tempat yang pas untuk beristirahat sekaligus bersembunyi. Ya, pulau ini penuh sesak. Di jalan – jalan dipenuhi dengan mahkluk Abarat, baik dari dalam maupun luar Babilonium, yang berlalu – lalang yang hendak menikmati puluhan pertunjukan fantastis yang tidak pernah ada habisnya.

Namun mereka ternyata kalah cepat dengan kejelian Houlihan, si Criss – Cross Man, kini berada di belakang mereka. Candy memutusan mereka harus berpencar untuk mengecoh sang pemburu yang semakin mendekat. Sayangnya, ke sudut mana pun Candy lari dengam mudah Houlihan menemukannya. Satu – satunya cara adalah meninggalkan pulau karnaval.

Di lain pihak, Christoper Carrion bersama kaki tangannya yang lain telah sampai di Piramida – Piramida XUXUX. Tempat yang penuh misteri dan tragedi. Dengan kunci piramida yang telah diperolehnya kembali, dengan mudah ia bersama pasukannya memasuki tempat tersebut. Rahasia yang ia sembunyikan selama ini adalah sekawanan lebah berbahaya yang akan menjadi bagian dalam rencana – rencana mereka menguasai Abarat. 

Dibandingkan di buku sebelumnya, perjalanan Candy kali ini jauh lebih mengerikan. Rasanya nyaris putus asa menunggu kapan pengejaran itu berakhir. Korban demi korban berjatuhan di mana – mana. Untungnya semua itu terbayar dengan banyaknya rahasia yang terungkap. Walau masalah tidak sepenuhnya selesai ketika sampai pada halaman terakhir. Setidaknya bisa bernafas lega barang sejenak.

Ilustrasi – ilustrasi yang menakjubkan masih ada dalam buku ini. sayangnya ada beberapa di antara gambar itu yang membuat saja merasa jijik. Terutama ilustrasi salah satu kaki tangan Christopher Carrian.
Seperti buku sebelumnya, makhluk – makhluk baru terus bermunculan. Sedikit pusing dibuatnya.

Sekarang tinggal menunggu buku ketiga, Absolute Midnight dan Buku ke empat, Dynasty of Dreamers. Abarat: The Eternal diberitakan sebagai judul buku kelima yang direncanakan oleh penulis. Semoga saja buku-buku selanjutnya akan kembali diterbitkan. Entah sekelam apa petualangan Candy selanjutnya. 

Abarat: Days of Magic, Night of War
Judul Indonesia: Siang – Siang Magis, Malam – Malam Perang
Penulis: Clive Barket
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2007
Tebal: 508 hlm

Lagi – Lagi Grace Aja


Lagi – Lagi Grace Aja

Judul Asli: Still Just Grace

Penulis: Charise Mericle Harper

Penerjemah: Maria M. Lubis

Penerbit: Atria

Cetakan: I, September 2008

Tebal: 110 hlm


Setahun berlalu sejak kejadian “Grace Aja” yang menyebalkan. Tahun ini semuanya masih sama. Karena nama itu tetap melekat pada dirinya. Apa lagi ia masih sekelas dengan ke tiga Grace lainnya. Jadi wajar saja kalau tahun ajaran baru di kelas empat ini ia masih kesal. Terlebih lagi ada guru praktik baru, yang ternyata memanggil Grace F hanya dengan Grace.


Masalah berikutnya datang ketika seorang anak laki – laki bernama Max pindah ke sebelah rumah Mimi. Awalnya Grace memang sempat khawatir kalau – kalau Mimi, sahabat terbaiknya itu akan menjadi lebih akrab dengan Max. Namun semua kekhawatiran itu tak sempat lagi dipikirkannya saat ia menghabiskan liburan bersama neneknya di Chicago. Sehingga ketika kembali dari liburan, Grace menjadi sangat kaget ketika tahu bahwa kini Mimi menjadi lebih akrab dengan Max. Bahkan sekarang Sammy Stringer, anak laki – laki yang dulu sangat dibenci Grace telah bergabung bersama mereka.


Namun semua itu tak diungkapkan kepada Mimi. Karena secara mendadak Mim menjadi bersin – bersin begitu Grace mendekat. Selidik punya selikid, ternyata semua itu diakibatkan bulu – bulu kucing yang menempel pada baju Grace.

Hubungan Mimi dan Grace pun semakin renggang. Terlebih saat proyek kelas, mereka tidak berada berada dalam kelompok yang sama. Grace akan mengerjakan tugas itu bersama ketiga grace lainnya. Mimi sendiri ternyata memilih Max dan Sammy. Grace semakin sedih dibuatnya.


Beruntung, ada satu hal besar yang menarik perhatian Grace. Yaitu ketika tahu bahwa ada seseorang yang membutuhkan bantuannya. Orang itu tidak lain adalah Mr Frank, guru praktik, yang ide-idenya selalu ditolak oleh Miss Lois, sang wali kelas. Dengan kekuatan empatinya, Grace yakin kali ini misinya akan berhasil. Apalagi mengetahui bahwa ke tiga Grace lainnya, terutama Grace F, ternyata tidak seburuk apa yang dipikirnya selama ini.


Dibanding buku yang pertama, saya lebih menyukai buku ini. cerita kali ini benar – benar menyentuh. Rasa empati Grace membuat saya sangat tersentuh. Grace menjadi sangat keren karenanya. Tidak banyak anak – anak seperti itu.


Rasanya tidak sabar untuk membaca kisah Grace lainnya.Dari official websitenya, serial Grace setelah ini ada Is Grace Ready For A Real Dog of Her Own? dan Just Grace Goes Green. Semoga akan diterbitkan lagi