Friday, December 31, 2010

Follow Friday(5) - New Years Book Resolutions


Every week Parasjunkee's View hosts this Follow My Book Blog Friday.

This week question
What are your new years book blogging resolutions?

1. Update my blog weekly means write more review. Recently, writing book review is not as easy as in my first and second year. I kept leave it as a draft and not continued it :(

2. Read at least 111 books and do all the reading challenge

3. Read more book reviews and leave meaningful comments.

4. Write some book review in English. Actually I have put the translator gadget in my blog. It can translate Indonesia to English. Unfortunately the result is not good.

Hope 2011 will be a great year for all of us.

Tuesday, November 23, 2010

Review: Uglies - Scott Westerfeld



Semua kaum buruk rupa di Uglyville harus menunggu hingga berusia 16 tahun sebelum akhirnya diubah menjadi rupawan.Dari penampilan fisik, mereka akan terlihat sangat sempurna. Mata yang indah, senyum menawan, kulit halus dan bersih, bentuk wajah yang simetris dan berbagai perubahan lainnya. Yang pasti berubah menjadi rupawan berarti banyak hal. Menjadi rupawan akan membawa dampak positif pada siapa pun. Itu yang mereka percaya.

Masalahnya menunggu hingga perubahan itu terjadi sungguh menyiksa. Bahkan ketika itu hanya tiga bulan lagi. Seperti yang dialami Tally Youngblood. Sebenarnya dulu ia tak seresah ini, ketika Peris, sahabatnya dari kecil,masih tinggal di Uglyville dan belum menjalani operasi. Namun begitu Peris menjadi bagian dari Kota Rupawan, Tally merasa hari-harinya menjadi sangat membosankan dan parahnya ia sungguh merasa kesepian. Membayangkan percakapan dengan Peris setiap harinya hanya akan membuatnya menjadi gila. Itulah mengapa suatu malam, Tally nekad untuk menyusup ke Kota Rupawan untuk menemui Peris.

Menyusup ke kota tempat tinggal para Rupawan sebenarnya sudah sering ia lakukan bersama Peris. Sehingga tak perlu heran jika ia dengan mudah dapat menyebrang dari Uglyvilleke kota Rupawan tanpa ketahuan. Namun ketika memutuskan untuk kembali ke asrama, Tally mendapat sedikit masalah. Beruntung ia bertemu Shay, seorang gadis buruk rupa dan juga tak jarang secara diam-diam mendatangi Kota Rupawan.

Dalam waktu singkat, Tally dan Shay menjadi sangat akrab. Mereka banyak melakukan banyak hal yang seru. Tally belajar cara mengendarai Hoverboard dan memodifikasinya. Ia sungguh menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama. Ia berharap semua ini akan bertahan bahkan ketika operasi selesai. Sayang harapannya tak pernah terwujud. Karena ternyata Shay menolak untuk menjadi rupawan.

Dari Shay, ia tahu di luar sana banyak orang-orang yang menolak operasi dan memutuskan untuk menjadi buruk rupa selamanya. Mereka melarikan diri dan menetap di Smoke. Shay akan melakukan hal yang sama dan berharap Tally akan ikut dengannya. Sayangnya Tally memutuskan untuk tetap tinggal dan menjadi rupawan.

Rasa sedih karena kehilangan Shay masih tersisa bahkan di hari yang telah lama ditunggunya. Namun hari itu ternyata bukanlah hari besar bagi Tally. Karena tak ada operasi sama sekali. Kecuali ia mengungkapkan semua yang ia tahu tentang kaum buruk rupa yang melarikan diri. Tally harus memilih satu, melanggar janjinya pada Shay atau menjadi buruk rupa selamanya.

Seru, itu kata yang saya pilih untuk mengambarkan seluruh isi novel ini. Dari setting kota dengan konsep yang sangat aneh, sejarah masa lalu yang suram dan tentu saja teknologi yang dipakai. Kata Hoverboard adalah kata yang menarik perhatian saya dan menjadi pemicu untuk terus membaca buku ini hingga tuntas. Kalau pernah nonton Back to The Future III, benda yang bentuknya mirip skateboard itu tentu tidak asing lagi. Saya sempat berpikir ketika Marty McFly berada di masa yang sama dengan Tally.

Ide operasi plastik untuk menjadi rupawan, alasan orang-orang yang memegang kuasa untuk tetap menjaga semua tetap pada rel yang telah mereka tetapkan dan berbagai rahasia dibelakangnya juga menjadi daya tarik di buku ini. Tak sabar rasanya membaca kelanjutan buku ini.

Dari wikipedia, 20th Century Fox mengadaptasi novel ini ke layar lebar dan direncanakan tayang tahun depan. Semoga aja hasilnya keren.

Uglies
Penulis: Scott Westerfeld
Penerjemah: Yunita Chandra S.
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, April 2010
Tebal: 432 hal

Saturday, November 20, 2010

Review: Diary Seorang Calon "Putri Raja" - Jessica Green


“Jika ingin menjadi penulis yang andal, kau harus:
Menulis, Menulis, Menulis, Menulis,
Menulis, Menulis, Menulis
Menulis, Menulis! “

Kalimat di atas adalah kata-kata Mrs. Bright, wali kelas Jillian James. Ia dan teman-teman sekelasnya diberikan sebuah jurnal untuk diisi dengan tulisan tentang apa saja. Mereka juga diperbolehkan untuk menggambari setiap lembarnya. Yang menjadi masalah adalah mereka harus menulisnya setiap hari dan hanya boleh melakukannya pada jam bebas. Satu hal yang agak berat dilakukan oleh Jillian yang menggunakan hampir semua waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas Mate-matika, pelajaran yang agak sulit dikuasainya.

Sebelumnya membaca lebih lanjut tentang Jurnal Jillian, jangan tertipu dengan kata “Putri Raja” yang menjadi judul buku ini. Karena tak ada cerita tentang Putri, Pangeran, Raja, kerajaan atau hal-hal semacam itu. Karena Jillian, benar-benar anak perempuan biasa, murid kelas 5B, Sekolah Dasar Flora Heights. Tapi bukan berarti kata “putri raja” di sini tidak berarti apa-apa. Dua kata, yang dipilih oleh Jillian untuk menyebut Geng yang terdiri dari beberapa anak perempuan teman sekelasnya. Sebut saja Skye, Megan , Kirrily, Sarah, dan Karlie. Mereka masuk dalam kelompok populer di sekolah. Dari apa yang dituliskannya di jurnal, besar harapan Jillian untuk bisa masuk dan bergabung dalam kelompok itu.

Sayangnya, oleh anak-anak Geng Putri Raja, Jillian tidak cukup keren untuk bersama mereka. Oleh mereka, Jillian dianggap terlalu culun. Semua usaha Jillian untuk mendekat tidak digubris sama sekali. Alih-alih mendapat perhatian dari anak-anak perempuan, Jillian malah didekati oleh anak-anak yang tergabung dalam Geng Culun. Lagi-lagi itu adalah nama yang diciptakan Jillian untuk Nigel. Bukannya senang, Jillian merasa sedikit terganggu dengan semua tingkah Nigel. Ia tak peduli niat baik Nigel. Bagi Jillian, kehadiran Nigel hanya menimbulkan masalah baru. Semuanya semakin diperparah ketika Geng Kepala Batu mengambil langkah yang sama. Padahal sebelumnya, mereka terlibat dalam masalah yang tidak menyenangkan. Jillian semakin pusing dibuatnya. Karena itu berarti kesempatan untuk menjadi bagian Geng Putri Raja semakin jauh. Mengingat, Geng Putri Raja tak pernah akur dengan keduanya.

Nampaknya trisemester pertama ini bukan milik Jillian James.

Apa yang saya ceritakan di atas adalah satu dari sekian banyak hal yang ditulis Jillian di jurnalnya. Di lembar-lembar berikutnya masih banyak masalah yang harus diselesaikan Jillian. Semua mungkin terlihat simpel tapi sangat menarik untuk dibaca. Saya suka cara berpikir Jillian dan hampir semua hal yang ada dalam dirinya. Tak jarang dari kalimat-kalimat yang dituliskan membuat saya tertawa kecil. Saya sedikit menyesal karena mengapa baru sekarang saya membeli buku yang versi terjemahannya terbit tahun 2007 ini. Namun tak pernah ada kata terlambat untuk melahap buku keren.

Membaca diary orang lain memang menyenangkan, namun tidak berlaku untuk hal sebaliknya. Dan hal itu membuat saya sempat bertanya-tanya begitu sampai di halaman terakhir, jika seandainya Jillian dan teman-teman sekelasnya benar-benar nyata, bagaimana perasaan Jillian ketika tahu bahwa jurnal pribadi yang hanya diketahuinya dan Mrs. Bright, diterbitkan dan dibaca banyak orang. Dalam waktu yang bersamaan saya juga dapat membayangkan gimana reaksi Jillian.

Setelah buku ini, Atria menerbitkan satu lagi buku tentang Jillian James, Diary Si Musuh Geng Kodok, yang masih dalam bentuk format jurnal dan bercerita tentang kehidupan Jillian di sd Flora Height, yang tidak kalau lucu dan seru.


Diary Seorang Calon “ Putri Raja”
Judul Asli: Diary of A Would-Be Princess
Penulis: Jessica Green
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Desember 2007
Tebal: 246 hlm

Monday, November 15, 2010

Review: Botchan - Natsume Soseki



Dalam bahasa jepang, Botchan merupakan panggilan sopan untuk anak laki-laki, terutama ketika mereka masih kanak-kanak dan berasal dari keluarga terpadang. Botchan,yang juga berarti tuan muda, adalah tokoh utama dalam buku ini. Panggilan ini ia dapatkan dari Kiyo, wanita yang menjadi pengasuhnya sejak kecil.

Sepeninggalan ibunya, Kiyolah satu-satunya yang peduli pada Botchan. Ayahnya memilih untuk tidak menghiraukannya. Botchan yang nakal dan selalu membuat dan membawa masalah itu dianggapnya tak pantas mendapat kasih sayang. Apalagi yang kerap mencoreng nama baik keluarga dengan semua tingkah lakunya yang menurutnya berada di luar batas kewajaran. Lihat saja ketika ia memutuskan untuk memotong ibu jarinya,berkelahi, merusak kebun wortel ataupun menyumbat sumur sawah

Botchan sendiri tak pernah menganggap hal tersebut sebagai masalah besar. Ia bahkan terkesan tidak peduli. Baginya keberadaan Kiyo sudah cukup. Ia akui bahwa semua masalah yang timbul lebih karena kecerobahnya dan spontanitas belaks. lebih menuruti apa kata hatinya. Sikap dan watak ini nampaknya berakar hingga dewasa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Ilmu Alam Tokyo, Botchan dewasa mendapatkan tawaran mengajar di sekolah menengah di Shikoku. Botchan menyanggupi tanpa pikir panjang dan segera disesalinya, mengingat ia sebenarnya tak memiliki keinginan menjadi guru, tambahan lagi ia sama sekali tak punya bayangan kota seperti apa itu Shikoku. Walau pada akhirnya Botchan meninggalkan Tokyo.

Begitu tiba di Shikoku, Botchan sama sekali tidak terkesan. Bukan hanya karena cuaca musim panas yang terik, tetapi lebih kepada sambutan orang-orang yang bisa dibilang tidak menarik simpati Botchan sama sekali.Pelayanan yang buruk dari pihak penginapan sampai tingkah pemilik rumah yang memberinya kamar untuk disewa. Kekecewaab Botchan tidak berhenti sampai disitu. Karena di sekolah tempat ia mengajar pun dipenuhi oleh bebreapa orang dengan peringai yang tidak kalah buruk. Belum lagi dengan sistem yang diterapkan di sekolah. Botchan sungguh dibuat penat karenanya.

Namun bukan Botchan jika berdiam diri atas dan mengikuti arus. Benturan demi benturan pun terjadi. Tidak peduli kepala sekolah, teman sejawat atau murid-murid sekalipun. Tak butuh waktu lama baginya untuk tahu siapa serigala-serigala berbulu domba. Sampai pada akhirnya Botchan pun memutuskan untuk mengambil jalan yang sekali lagi berdasarkan kata hatinya tanpa peduli apa yang mungkin dipikirkan orang di sekitarnya.

~~~

Tokoh dengan karakter yang unik yang menjadi daya tarik dari buku ini. Buku yang dikemas dengan penuturan yang tidak rumit membuat saya dapat menikmati semua perjalanan dari awalai sampai akhir. Desain sampul buku ini juga tidak biasa dan menjadi salah satu alasan kenapa saya memilihnya menjadi salah satu penghuni di rak

3/5

Botchan
Penulis: Natsume Soseki
Penerjemah: Indah Santi Pratidina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Februari 2009
Tebal: 224 hal

Tuesday, June 1, 2010

Review: Captain Underpants And The Invasion Of The Incredibly Naughty Cafeteria Ladies From Outer Space



Di suatu malam yang tak berawan, sebuah benda berpijar membelah langit Piqua, Ohio. Selama beberapa detik benda itu bersinar sangat terang. Sampai akhirnya lenyap. Anehnya tak satupun tertangkap oleh warga sekitar. Bahkan keesokan harinya , tak satu pun dari murid-murid SD Jerome Horwitz yang memperhatikan. Padahal benda yang mirip pesawat luar angkasa itu berada di atap sekolah. Mungkin saja dikarenakan mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing . Termasuk George dan Harold yang sepagi itu memikirkan hal apa saja yang bisa mereka lalukan untuk membuat sesuatu yang disebut para guru sebagai kegaduhan

Lihat saja kekacauan yang mereka timbulkan di kelas Mr Fyde, sang guru IPA. Ruang kelas dipenuhi oleh suara kucing yang mengeong dan geraman anjing. Siapa lagi kalau bukan ulah George dan Harold. Awalnya Mr Fyde berhasil meneruskan pelajaran dan berusaha untuk tidak memperdulikan suara yang dibuat oleh kedua anak itu. Namun semakin kuat Mr Fyde menutup telinga, suara yang mengganggu itu kembali terdengar. Sampai akhirnya Mr Fyde dibuat sangat senewen dan memutuskan untuk meninggalkan kelas dan menyudahi pelajaran lebih cepat dari biasanya. Bukannya kesal, seluruh isi kelas nampaknya menyukai apa yang dilakukan oleh George dan Harold. Satu hal yang membuat kedua anak ini memikirkan rencana lain yang mereka anggap lucu untuk dilakukan.

Sementara itu, di atap sekolah,benda yang akhirnya semakin jelas adalah sebuah pesawat luar angkasa ternyata berisi makhluk planet paling seram, paling jahat dan paling tak kenal ampun. Mereka adalah Zorx, Klax, dan Jeniffer. Tujuan mereka ke bumi tak lain tak bukan adalah untuk menguasai bumi. Sementara menyusun rencana, hal yang pertama mereka lakukan adalah mengamati semua hal yang terjadi di SD Jerome Horwitz.

Kesempatan dating ketika Ibu-ibu pengurus kafetaria sekolah mengundurkan diri. Tanpa membuang waktu mereka segera menyamar menjadi pengganti. Begitu mereka melamar sebagai pengurus kafetaria, Mr Krupp, kepala sekolah, yang saat itu sangat kebingungan segera mengiyakan. Mr Krupp tak sadar, ia baru saja member jalan bagi para monster untuk melakukan kekacauan. Dan lihat saja apa yang terjadi selanjutnya. Semua anak dan guru yang memakan masakan mereka dalam sekejap berubah menjadi Zombie kutu buku yang jahat.

Beruntung George dan Harold tidak termasuk dalam orang-orang yang berada dalam pengaruh mereka. Sehingga mereka bisa menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui rencana busuk para monster. George dan Harold berusaha memberitahu Mr Krupp yang juga tidak berada dalam pengaruh sang monster. Sayang Mr Krupp menganggap semua kata-kata kedua anak itu hanya lelucon belaka. Sampai para monster mulai membuka kedok mereka.

George dan Harold benar-benar membutuhkan kehadiran Kapten Kolor.

~~~

Judul buku yang paling panjang yang pernah saya baca.

Rasanya ini pertama kali saya memiliki buku dengan judul yang sangat panjang. Membacanya membuat saya sedikit tergelitik. Sayangnya jika dibanding buku sebelumnya, kisah George dan Harold kali ini kurang mengigit. Bahkan sampai di halaman terakhir saya tidak merasakan satu pun hal yang dapat membuat saya tertawa. Walau begitu ilustrasi di buku ini masih menjadi favorit saya. Apalagi kalau melihat ekspresi dari setiap tokoh terutama kedua anak laki-laki yang nampaknya tak pernah kehilangan ide untuk membuat hari-hari mereka di sekolah. Two thumbs up for Dav Pilkey.

PS: Ada kejutan baru dari Kapten Kolor


Captain Underpants And The Invasion Of The Incredibly Naughty Cafeteria Ladies From Outer Space (And The Subsequent Assault Of The Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds)
Judul Indonesia: Kapten Klor Dan Penyerbuan Ibuibu Kafetaria Luar Angksa Yang Sangat Nakal (Dan Serangan Lanjan Oleh Zombie Kutu Buku Kafetaria Yang Sama Jahatnya)
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi & Lianita
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 144 hlm

Saturday, April 24, 2010

Review: Joshua Joshua Tango - Robert Wolfe



Hidup Marcel Groen beberapa tahun belakangan memang bisa dibilang tidak menyenangkan. Sejak ditinggal ibunya ke india, ia harus hidup dengan kasih sayang seorang ayah yang sangat sibuk dengan penelitiannya. Semua makin parah dengan kedatangan Meurouw Kramps. Awalnya wanita yang berprofesi sebagai pekerja sosial itu datang untuk memberi konsultasi. Namun akhirnya ia lebih sering ikut campur dalam kehidupan Marcel dan ayahnya. Yang mengesalkan, Kramps sering sekali menyudutkan Marcel. Bahkan untuk hal kecil sekalipun. Tak heran jika Marcel tak menyukai wanita yang semakin lama semakin sering berkeliaran di rumah Marcel.

Di sekolah, ternyata tidak kalah buruknya. Marcel selalu jadi bulan-bulanan. Nampaknya tak seorang pun yang mau jadi temannya. Yang membuatnya sangat sedih, ia tak pernah sekalipun diajak untuk bermain. Bahkan ketika tim sepakbola sekolahnya kekurangan orang. Marcel jadi sakit hati dibuatnya. Selama ini ia memang hanya sering mencobanya lewat game di komputer. Tapi Marcel sungguh-sungguh ingin bermain.

Tak berhenti sampai di situ,ada dua anak laki-laki yang selalu mengerjai Marcel setiap pulang sekolah menjadikan dunia semakin tidak ramah. Bagi Ed dan Luc, Marcel adalah mangsa empuk untuk ditonjok dan dihajar dengan pitingan judo yang mereka ciptakan sendiri. Pernah suatu kali, mereka berhasil melemparkan Marcel ke sungai. Kemalangan yang membuat Marcel harus menghindari kedua bersaudara penuh racun itu.

Sampai suatu hari, Professor Groen, Ayah Joshua, membawa pulang seekor kura-kura raksasa, yang panjangnya lebih dari 1 meter. Tidak hanya dari ukurannya yang membuat Marcel terkejut namun juga karena mengetahui bahwa kura-kura Brasil itu diam-diam bisa berbicara. Walau hanya kepada dirinya.

Namun tak butuh waktu lama untuk menyingkirkan rasa canggung. Dalam waktu singkat, Marcel dan Joshua menjadi sangat akrab. Tak ada lagi Marcel yang kesepian karena kini hari-harinya menjadi lebih menyenangkan. Bersama Joshua, Marcel melakukan banyak hal seru. Ia juga belajar banyak hal dari binatang yang sangat menyukai milkshake cacing. Walau mereka harus melakukannya secara diam-diam. Karena setiap gerak-gerik Joshua diamati oleh sang Professor.

Tak tanggung-tanggung, sebuah Neuromatascanner, sebuah sensor, di gunakan untuk mengetahui aktivitas otak kura-kura yang ditubuhnya dipenuhi warna hijau, cokleat, garis kuning di mana-mana serta titik – titik berwarna biru muda. Namun itu bukan masalah besar yang menghalangi Joshua dan Marcel untuk bersenang-senang.

~~

Menyesal rasanya baru membaca buku ini sekarang. Padahal saya telah memilikinya sejak dua tahun silam.Buku ini memang diperuntukan untuk anak-anak, namun tetap seru untuk dinikmati oleh siapa pun, tak terkecuali orang dewasa. Bahkan ketika buku ini dipenuhi dengan begitu banyak typo, saya tidak merasa terganggu sama sekali. Karena kesalahan yang satu ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri.

Walau agak sedikit bingung ketika berhadapan dengan bab yang membahas tentang pertandingan sepak bola yang diikuti oleh Marcel,banyak hal yang membuat saya memilih untuk menuntaskannya sampai akhir. Salah satunya adalah tingkah dan ucapan Joshua yang lucu, yang membuat saya tak dapat menahan tawa. Padahal awalnya kura-kura yang satu ini terlihat sangat konyol. Tak hanya lucu, terkadang ada kata-kata Joshua yang membuat saya terenyuh.Tidak salah menjadi buku ini jadi salah satu koleksi.

Joshua Joshua Tango
Penulis: Robert Wolfe
Penerjemah: Monique Soesman dan Maya Sutedja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 384 hlm

Monday, April 19, 2010

Review: Dead Until Dark - Charlaine Harris



Satu lagi buku yang bercerita tentang vampir. Berbeda dengan buku yang juga mengangkat tema yang sama, keberadaan mahkluk malam penghisap darah ini tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Sebaliknya mereka dengan mudah masuk dan berbaur dalam kehidupan manusia. Semua itu dikarenakan satu penemuan muktahir di Jepang berupa darah sintetis. Yang memungkinkan para vampir bertahan hidup tanpa harus menjadikan manusia sebagai mangsa mereka.

4 tahun sudah sejak darah sintetis itu dijual bebas di pasaran. Para vampir bebas berkeliaran. Selama itu pula Sookie Stackhouse kedatangan seorang vampir di kotanya, Bon Temps.

Sookie, wanita muda cantik yang menjadi tokoh utama di buku ini. Ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah dan kini bekerja sebagai pelayan di Bar Merlotte. Dari luar Sookie nampak seperti perempuan berambut pirang lainnya. Walau sebenarnya ia jauh lebih cerdas dari apa yang orang –orang pikirkan. Toh hampir semua orang telah menyisipkan kata “gila” menjadi nama tengahnya.

Semua itu hanya karena kelebihan yang lebih sering disebutnya kelainan yang ia miliki.Sookie dengan mudah mengetahui apa saja yang terlintas dibenak orang lain. Di luar sana mungkin banyak yang berpikir bahwa hal itu merupakan sesuatu yang hebat. Namun tidak demikian dengan Sookie. Ia bahkan berharap tak pernah memilikinya. Karena kelebihan ini lebih sering membuat merasa kelelahan. Bagaimana tidak, Sookie harus berusaha keras untuk menghalangi setiap suara dari pikiran orang lain yang biasanya datang seperti serangan bertubi-tubi.

Tak hanya itu, kemampuannya ini berdampak besar di kehidupan sosialnya. Cap “gila” yang dibubuhkan padanya,jangankan berkencan, teman dekat pun Sookie tak punya. Beruntung masih ada segelintir orang yang tidak berpikiran seperti kebanyakan orang di kota itu. Adalah Adele, neneknya dan Sam, bos pemilik Bar Merlotte’s.
Mimpi yang menjadi nyata

Tak ada pertanda khusus yang didapatkan Sookie, saat seorang pria melangkahkan kakinya di Merlotte’s malam itu. Tak butuh waktu lama bagi Sookie untuk mengetahui bahwa pria berwajah sangat pucat itu adalah vampir.
Keberuntungan nampaknya mengelilingi wanita bermata biru ini. Karena vampir itu memutuskan untuk duduk di meja yang menjadi tanggung jawabnya. Satu hal yang membuatnya nyaris memeking girang adalah ketika mengetahui pikiran pria itu tak dapat dibacanya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus kenyataan yang membuat Sookie ingin mengenal lebih jauh pria yang mengenalkan dirinya sebagai Bill Compton.

Bersamaan dengan itu,peristiwa pembunuhan terjadi di Bon Temps. Tak hanya satu, dua, tiga, tapi empat pembunuhan terjadi. Tak banyak bukti yang membuat para warga Bon Temps menjadi tersangka. Namun Sherrif dan seorang detektif mulai membuat list orang –orang yang patut dicurigai. Yang membuat Sookie sangat terkejut adalah ketika mengetahui orang-orang terdekatnyalah yang masuk dalam list tersebut.

Tak tinggal diam, Sookie berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang membuat teror berkepanjangan bagi setiap warga Bon Temps ini. Walau membuatnya harus melibatkan diri ke tempat-tempat yang cukup berbahaya. Tidak hanya harus berpacu dengan waktu, ia juga harus ekstra hati-hati, karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga mengincar dirinya.

~~~

Seru! Satu kata untuk buku ini. Tak terasa buku dengan jumlah 402 halaman itu selesai begitu saja. Walau cover buku ini sedikit membuat saya kecewa begitu melihatnya pertama kali, tapi tidak mengurangi asyiknya kisah buku tentang vampire yang satu ini. Tak heran jika HBO akhirnya mengadaptasinya menjadi serial tv dengan judul True Blood.

Rasanya tak sabar menunggu buku kedua. Walau tidak lagi diterbitkan oleh penerbit Kantera, saya berharap hasil terjemahan buku berikutnya tidak kalah dengan buku pertama.

3/5

Dead Until Dark
Penulis: Charlaine Harris
Penerjemah: Pujia Pernami
Editor: Alika Chandra & Ary Nilandari
Penerbit: Kantera
Cetakan: I, 2010
Tebal: 402 hlm

Wednesday, April 14, 2010

Review: Sebastian Darke: Prince of Fools - Philip Caveney


Alexander adalah seorang pelawak kawakan di kerajaan Cletus. Semua lelucon, sindiran dan ceritanya mampu membuat ruangan istana penuh dengan ledakan tawa. Tak heran dengan kemampuannya itu, ia sanggup member kemewahan kepada istri dan Sebastian,anak laki-lakinya.

Sayangnya keadaan itu hanya terjadi beberapa tahun. Raja Cletus mangka dan diganti dengan putranya Daniel yang ternyata tak mewarisi sedikitpun selera humor ayahnya. Sehingga tak perlu heran jika Alexander kehilangan pekerjaan dan semua kemewahan yang didapatkannya selama ini. Kehidupan keluarga kecil itu pun berubah drastis. Walau telah mencoba untuk memulai peruntungan di kedai-kedai minuman ataupun di gedung teater music, ternyata pendapatannya tak cukup untuk menghidupi keluarganya.

Sampai suatu hari, ia mendengar kabar tentang kebaikan Raja Septimus, pemimpin tertinggi kota Keladon. Alexander tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia berniat untuk menawarkan jasanya. Tak peduli jarak yang akan ditempuhnya. Segala sesuatu pun dipersiapkan. Termasuk berlatih berhari-hari tanpa henti, siang dan malam. Saking seriusnya, Alexander lupa akan kesehatannya sendiri. Suatu pagi, ia ditemukan oleh istrinya tergeletak pingsan.Pria yang menikahi seoran peri itu teresang demam tinggi. Malang bagi ketiganya, demam itu tak kunjung sembuh dan parahnya membawa Alexander pada kematian.

Sepeninggalan sang ayahnya, Sebastian merasa tanggung jawab akan keberlangsungan keluarga berasa di tangannya. Tak ada profesi yang terpikir selain mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang pelawak. Sayang, tak sedikitpun bakat sang ayang yang mengalir dalam daram Sebastian. Bukannya lucu, lelucon yang dilontarkannya cenderung membosankan. Tak peduli kemampuannya menghafalkan semua lelucon-lelucon dengan sangat baik. Dan Sebastian sadar betul akan hal itu.

Namun keadaanlah yang membuat Sebastian nekat untuk melanjutkan rencana ayahnya untuk mengadu nasib di kota Keladon. Walau tahu bahwa perjalanan ini sangat berbahaya. Bersama Max, Buffalope miliknya, ia pun memulai perjalanan.

Perjalanan yang mereka tempuh terasa sangat melelahkan. Bekal persediaan yang dibawanya semakin menipis. Dan sialnya mereka diserang kawanan Luper liar yang nyaris membuat nyawa mereka melayang. Beruntung, mereka di tolong oleh Golmra Corlnelius , kesatria ahli tempur, yang ternyata juga hendak mengadu nasib di kota yang sama.

Setelah saling mengenal, akhirnya mereka sepakat untuk menempuh perjalanan dan menjemput mimpi. Dengan harapan akan terjadi perubahan nasib. Sayangnya, mereka tak tahu bahwa bahaya yang tak sesungguhnya sedang menunggu di sana.

~~
Untuk buku yang mengkategorikan dirinya dalam genre fantasi, buku ini kekurangan banyak bumbu. Terlepas dari mahkluk-makhluk ajaib sang Bufaloppe, buku ini sangat miskin akan unsur magis. Jadi pembaca yang benar-benar menyukai buku fantasi tak bisa berharap banyak

Namun satu kelebihan buku yang telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa asing dan mendapat beberapa penghargaan seperti Waterstone Children’s Book, Stockholm Prize dan Coventry Inspiration Book award adalah sisi humor yang sangat tebal. Saya benar-benar terhibur setiap kali membaca semua percakapan yang melibatkan Max di dalamnya. Binatang peliharaan Sebastian ini sungguh kocak. Bahkan sempat terpikir seharusnya Max lah yang berdiri di atas panggung.

Sebastian Darke: Prince of Fools
Penulis: Philip Caveney
Penerjemah: Aan
Editor: Fransisca Goenarso
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 356 hlm

Thursday, March 18, 2010

Review: Captain Underpants And The Attack of The Talking Toilets - Dav Pilkey


Setiap ada kejadian aneh di sekolah, tak perlu berpikir keras untuk mengetahui siapa biang keladinya. Karena dapat dipastikan George dan Harold-lah yang bertanggung jawab. Begitulah anggapan Miss Ribble, Mr Meaner, Miss Anthrope, para guru mereka di SD Jerome Horwitz dan tak ketinggalan Mr. Krupp sang kepala sekolah. Mereka bahkan punya julukan untuk kedua anak laki-laki itu. Biang kerok , licik, bandit kriminal, dan beberapa kata yang tidak rasanya tidak pantas untuk ditulis dan diucapkan. Mereka memang benar-benar dibuat gemas oleh kelakuan George dan Harold.

Lihat saja tingkah mereka tahun lalu di Konvensi Invensi Tahun Pertama. Lomba karya ilmiah yang seharusnya jadi ajang unjuk kebolehan setiap siswa itu menjadi berantakan dengan insiden kursi lengket. Setiap kursi mereka olesi dengan lem jenis baru yang mereka ciptakan dari campuran semen karet dan jus jeruk murni tanpa air. Tidak hanya kepala sekolah namun semua orang di ruangan olah raga mendidih oleh amarah karenanya. Semua menjadi sangat kacau saat itu.

Sehingga tak heran kalau Konvensi Invensi Tahun Kedua kali ini George dan Harold tidak ijinkan untuk mengikuti perlombaan. Tak tanggung-tanggung, Mr Krupp menuliskan catatan kecil di poster pengumuman “ Perlombaan ini terbuka bagi semua murid kelas tiga dan empat, Kecuali George Beard dan Harold Hutchins”. Padahal hadiah untuk juara pertama kali ini adalah menjadi kepsek sehari. Hadiah yang sangat menggiurkan. Setidaknya bagi kedua anak laki-laki itu. Sayang, kesempatan tertutup bahkan sebelum mereka mencoba. Tidak hanya tak diijinkan untuk ikut perlombaan, saat perlombaan pun mereka dilarang keras untuk mendekati ruang olahraga. Oleh Mr Krupp mereka diharuskan berada di ruang belajar seharian penuh.

Mr Krupp berpikir tindakannya kali ini bisa membuat Konvensi kali ini berjalan lancar. Namun nampaknya kepala sekolah ini belum benar-benar mengenal George dan Harold. Karena mereka yang disebutnya bandit criminal ini tentu tidak pernah akan diam saja karena kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang. Rencana demi rencana telah tersusun rapi dalam benak mereka. Sayang George dan Harold sendiri tak pernah berpikir bahwa kekacauan yang mereka timbulkan kali ini sungguh berbahaya. Bukan hanya pasukan toilet cerewet yang siap menelan siapapun dihadapan mereka namun juga kemunculan sang Kapten Kolor.

~~

Masih dengan ilustrasi yang keren, George dan Harold kembali dengan cerita kenakalan mereka yang tidak kalah dengan buku sebelumnya. Bahkan dibanding buku mereka yang pertama, menurut saya buku kali ini jauh lebih seru dan lucu. Rasanya tidak sabar untuk melihat aksi mereka di buku berikutnya. Yang pastinya tidak kalah aneh.

Satu hal yang menarik dari buku ini adalah hasil penemuan-penemuan para siswa SD Jerome Horwitz yang membuat saya sungguh ingin memilikinya. Patsy 2000, nama yang diberikan sang penemu untuk alat yang ia buat. Tentu saja tidak akan saya tuliskan lebih jauh, alat seperti apa itu. Semua detail dalam buku akan lebih seru jika dibaca sendiri. 

Captain Underpants And The Attack od The Talking Toilets
Judul Indonesia: Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 144 hlm


Monday, February 22, 2010

Review: Glubbslyme - Jacqueline Wilson



Musim liburan kali ini tiba-tiba menjadi tidak seru. Jauh dari yang direncanakan Rebecca. Sarah, teman dekatnya ternyata lebih memilih untuk menghabiskan masa liburan bersama Mandy, anak perempuan yang tinggal tepat disamping rumah Sarah. Awalnya Rebecca berpikir mereka bertiga akan menjadi teman bermain yang mengasyikkan. Sayangnya, Mandy hanya ingin bermain bersama Sarah, tidak dengan anak perempuan yang dianggapnya hanya mengganggu mereka dengan ocehannya yang tidak penting.

Lihat saja ketika mereka bertiga mencoba berpiknik bersama sambil makan sandwich stroberi di taman yang berada dekat dengan sebuah kolam. Mandy dan Sarah sedang asyik mencoba lipstik pink. Rebecca yang tidak diijinkan untuk ikut mencoba menjadi bosan dibuatnya. Ia akhirnya berusaha untuk mengalihkan perhatian sarah dengan mulai bercerita bahwa kolam yang airnya keruh itu dulunya adalah kolam penyihir. Saat itu banyak orang-orang yang membenci para penyihir. Penyihir yang berhasil mereka tangkap dibenamkan di kolam tersebut. Alih-alih membuat Sarah percaya pada ceritanya, Rebecca malah mendapat cemooh dari Mandy bahkan dianggap konyol oleh Sarah. Oleh keduanya, Rebecca ditinggal sendirian, di saat ia mencoba untuk membuktikan kebenaran ceritanya dengan masuk ke dalam kolam.

Rebecca yang malang. Tidak hanya kehilangan Sarah, ia juga akhirnya terjebak di keruhnya air kolam. Air kolam yang awalnya hanya berada dibawah lutut, ternyata bertambah menjadi sepinggang ketika ia mulai melangkah lebih jauh. Mungkin kolam itu benar-benar dalam seperti yang diceritakan ayahnya. Dengan langkah tergesa, Rebecca berusaha mencapai pinggiran kolam. Ketika mencoba melangkah, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berlendir dan mencakar-cakar mencengkram kakinya.

Dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai tepian kola dan akhirnya sadar sesuatu yang melekat dengan kuat dipergelangan kakinya tidak lain adalah seekor kodok bangkong. Sekali lihat setiap orang pasti akan bergindik. Kulitnya yang berbintil terlihat sangat menjijikan belum lagi dua mata yang melotot, ditambah dengan kemampuannya berbicara layaknya manusia. Glubbslyme, begitu ia menyebut namanya. Tak lupa ia menjelaskan kepada Rebecca bahwa ia dulunya adalah familiar seorang penyihir sungguhan yang hidupnya berakhir dengan menggenaskan di kolam tersebut.

Tak dinyana, Rebecca tak memiliki ketakutan sedikitpun terhadap Glubbslyme. Ia bahkan membawanya pulang. Bukan karena ketertarikan pada kemampuan sihir Glub.Kodok itulah yang meminta Rebecca untuk membawanya pulang. Awalnya sempat terbersit keraguan, namun mengingat ia telah melihat dengan mata kepala sendiri, kodok itu pasti bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengeringkan pakaiannya yang basah saat nyaris terbenam tadi. Setidaknya ia mendapatkan teman bicara dan tak akan merasa sepi. Selain itu ia juga bisa sedikit bermain-main dengan sihir yang dimiliki Glub. Sayangnya ia tak pernah tahu, Glub tak pernah main – main dengan sihir yang dimilikinya.
Seperti buku-buku Jacqueline Wilson yang bergenre fantasi, kisah ini juga terkesan ringan. Tidak perlu mengernyitkan kening untuk mengikuti alur dan setting yang rumit seperti banyak buku fantasi kebanyakan. Itu memang menjadi ciri khas Jacqueline. Tapi tetap asyik untuk dibaca. Tokoh Glubbslyme sang kodok adalah salah satu alasannya. Ia bisa sombong, angkuh dan lucu bahkan terkesan konyol dalam waktu yang bersamaan.

Keistimewaan lain dari buku ini adalah ilustrasi yang dipakai Jacqueline Wilson berbeda. Setelah mengecek di datanya tentang bukunya, illustratornya ternyata memang beda. Kalau buku-buku yang lain menggunakan gambar yang dibuat oleh Nick Sharratt, kali ini goresan tangan Jane Cope yang dipilih. Nick sendiri hanya kebagian menggambar sampul.

Glubbslyme
Judul Indonesia: Kodok Ajaib
Penulis: Jacqueline Wilson
Ilustrasi: Jane Cope
Ilustrasi Sampul: Nick Sharratt
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 152 hlm

Friday, February 19, 2010

Review: The Highest Tide - Jim Lynch



Seperti malam-malam sebelumnya, Miles O’Malley melakukan ritualnya menyusuri paya asin. Kegiatan yang kerap ia lakukan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Miles menyelinap keluar setelah memastikan keduanya terlelap. Sekop kecil, ransel dan kantong plastik tak pernah lupa dibawanya. Benda-benda itulah yang membantu Miles mengumpulkan dan menampung binatang –binatang laut yang ia temukan. Dengan kayak miliknya, dengan leluasa Miles menjelajahi perairan Puget Sound.

Kegiatan mengumpulkan binatang laut yang membuat insomnianya semakin parah bukan tanpa tujuan. Beberapa lembar dollar adalah bayaran yang akan ia terima begitu bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk lain berpindah tangan. Makelar aquarium dan salah satu restoran di Olympia adalah pelanggan tetap yang siap menadah semua tangkapan Miles. Jadi tak perlu heran jika Miles berhasil mengalahkan ketakutan akan gelapnya malam ataupun bahaya lain yang mungkin mengincarnya. Apalagi saat itu bulan sedang bersinar dengan terang, tangkapannya akan lebih banyak dari biasanya.

Siapa sangka, malam itu yang ditemukannya lebih dari sekedar remis ataupun tiram. Tak tanggung-tanggung, yang dilihat Miles adalah sebuah cumi raksasa yang terdampar. Tak butuh waktu lama sehingga berita itu menyebar ke seluruh warga sekitar. Dari para ilmuan, warga sekitar dan tentu tak ketinggalan para wartawan,dari media cetak sampai televisi, yang selalu haus akan berita-berita semacam ini. Sebagai orang yang menemukannya pertama kali, Miles tak luput dari serbuan pertanyaan – pertanyaan mereka.

Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya seadanya. Ia tak ingin para pemburu berita ataupun seluruh penduduk sekitar bahkan kedua orang tuanya tahu bahwa ia mengetahui dengan sangat baik hampir seluruh mahkluk –makhluk laut yang berkeliaran di teluk kecil itu.Ia tak pernah tahu bahwa begitu kalimat “ Mungkin bumi ingin mengatakan sesuatu pada kita” terucap dari mulutnya, kehidupan anak laki laki berusiua 13 tahun, Miles O’ Malley, berubah. Bahkan beberapa minggu setelah kejadian penemuan cumi-cumi raksasa itu berlangsung.

Buku ini telah lama saya incar. Namun ketika pertama kali terbit, hati saya tak tergerak untuk segera membawanya pulang. Tiga tahun setelah buku ini diterbitkan, saya kembali menemukannya di deretan buku yang diberi diskon 30%. Bahkan begitu menjadi milik saya, tidak serta merta membuka plastik pembungkus dan membacanya. Karena ia harus masuk dalam antrian. Selama itu pula, saya tak pernah tahu bahwa buku ini sangat menarik.

Ceritanya juga menghibur. Terlepas dari banyak makhluk laut dengan sangat detail dan cukup membuat saya bingung seakan membaca satu bab di pelajaran biologi. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak juga tergerak untuk meletakkan buku ini. Adalah pembawaan, ucapan, tingkah Miles sebagai tokoh utama, yang lucu dan cerdas dalam waktu yang bersamaan. Siapa sangka dengan usia semuda itu, Miles mengetahui banyak hal yang belum tentu diketahui oleh anak-anak yang sebaya dengannya. Bukan hal yang mustahil, ketika kegemarannya melahap buku menjadi kunci dibalik semuanya.

Selain tingkah laku Miles, percakapan antar tokoh juga menjadi daya tarik tersendiri di buku ini. Banyak obrolan mereka yang membuat saya tersenyum bahkan nyaris terpingkal-pingkal. Kisah kehidupan pribadi Miles pun jadi satu hal yang layak mendapat perhatian. Diluar dari pengetahuannya yang mendalam tentang laut beserta isinya, ia tetaplah anak-anak.

Andai saja buku ini dilengkapi dengan ilustrasi tentang semua makhluk yang disebut dengan detail oleh Miles, tentu akan menjadikannya menjadi sangat sempurna. Namun bagi para juri, ternyata tanpa ilustrasi sekalipun, buku ini pantas untuk memenangkan Pasific Northwest Bookselless Book Award 2006.

The Highest Tide
Judul Indonesia: Pasang Laut
Penulis: Jim Lynch
Penerjemah: Arif Subiyanto 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan: I, Desember 2006

Tebal: 328 hlm