Saturday, November 20, 2010

Review: Diary Seorang Calon "Putri Raja" - Jessica Green


“Jika ingin menjadi penulis yang andal, kau harus:
Menulis, Menulis, Menulis, Menulis,
Menulis, Menulis, Menulis
Menulis, Menulis! “

Kalimat di atas adalah kata-kata Mrs. Bright, wali kelas Jillian James. Ia dan teman-teman sekelasnya diberikan sebuah jurnal untuk diisi dengan tulisan tentang apa saja. Mereka juga diperbolehkan untuk menggambari setiap lembarnya. Yang menjadi masalah adalah mereka harus menulisnya setiap hari dan hanya boleh melakukannya pada jam bebas. Satu hal yang agak berat dilakukan oleh Jillian yang menggunakan hampir semua waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas Mate-matika, pelajaran yang agak sulit dikuasainya.

Sebelumnya membaca lebih lanjut tentang Jurnal Jillian, jangan tertipu dengan kata “Putri Raja” yang menjadi judul buku ini. Karena tak ada cerita tentang Putri, Pangeran, Raja, kerajaan atau hal-hal semacam itu. Karena Jillian, benar-benar anak perempuan biasa, murid kelas 5B, Sekolah Dasar Flora Heights. Tapi bukan berarti kata “putri raja” di sini tidak berarti apa-apa. Dua kata, yang dipilih oleh Jillian untuk menyebut Geng yang terdiri dari beberapa anak perempuan teman sekelasnya. Sebut saja Skye, Megan , Kirrily, Sarah, dan Karlie. Mereka masuk dalam kelompok populer di sekolah. Dari apa yang dituliskannya di jurnal, besar harapan Jillian untuk bisa masuk dan bergabung dalam kelompok itu.

Sayangnya, oleh anak-anak Geng Putri Raja, Jillian tidak cukup keren untuk bersama mereka. Oleh mereka, Jillian dianggap terlalu culun. Semua usaha Jillian untuk mendekat tidak digubris sama sekali. Alih-alih mendapat perhatian dari anak-anak perempuan, Jillian malah didekati oleh anak-anak yang tergabung dalam Geng Culun. Lagi-lagi itu adalah nama yang diciptakan Jillian untuk Nigel. Bukannya senang, Jillian merasa sedikit terganggu dengan semua tingkah Nigel. Ia tak peduli niat baik Nigel. Bagi Jillian, kehadiran Nigel hanya menimbulkan masalah baru. Semuanya semakin diperparah ketika Geng Kepala Batu mengambil langkah yang sama. Padahal sebelumnya, mereka terlibat dalam masalah yang tidak menyenangkan. Jillian semakin pusing dibuatnya. Karena itu berarti kesempatan untuk menjadi bagian Geng Putri Raja semakin jauh. Mengingat, Geng Putri Raja tak pernah akur dengan keduanya.

Nampaknya trisemester pertama ini bukan milik Jillian James.

Apa yang saya ceritakan di atas adalah satu dari sekian banyak hal yang ditulis Jillian di jurnalnya. Di lembar-lembar berikutnya masih banyak masalah yang harus diselesaikan Jillian. Semua mungkin terlihat simpel tapi sangat menarik untuk dibaca. Saya suka cara berpikir Jillian dan hampir semua hal yang ada dalam dirinya. Tak jarang dari kalimat-kalimat yang dituliskan membuat saya tertawa kecil. Saya sedikit menyesal karena mengapa baru sekarang saya membeli buku yang versi terjemahannya terbit tahun 2007 ini. Namun tak pernah ada kata terlambat untuk melahap buku keren.

Membaca diary orang lain memang menyenangkan, namun tidak berlaku untuk hal sebaliknya. Dan hal itu membuat saya sempat bertanya-tanya begitu sampai di halaman terakhir, jika seandainya Jillian dan teman-teman sekelasnya benar-benar nyata, bagaimana perasaan Jillian ketika tahu bahwa jurnal pribadi yang hanya diketahuinya dan Mrs. Bright, diterbitkan dan dibaca banyak orang. Dalam waktu yang bersamaan saya juga dapat membayangkan gimana reaksi Jillian.

Setelah buku ini, Atria menerbitkan satu lagi buku tentang Jillian James, Diary Si Musuh Geng Kodok, yang masih dalam bentuk format jurnal dan bercerita tentang kehidupan Jillian di sd Flora Height, yang tidak kalau lucu dan seru.


Diary Seorang Calon “ Putri Raja”
Judul Asli: Diary of A Would-Be Princess
Penulis: Jessica Green
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Desember 2007
Tebal: 246 hlm