Monday, February 22, 2010

Review: Glubbslyme - Jacqueline Wilson



Musim liburan kali ini tiba-tiba menjadi tidak seru. Jauh dari yang direncanakan Rebecca. Sarah, teman dekatnya ternyata lebih memilih untuk menghabiskan masa liburan bersama Mandy, anak perempuan yang tinggal tepat disamping rumah Sarah. Awalnya Rebecca berpikir mereka bertiga akan menjadi teman bermain yang mengasyikkan. Sayangnya, Mandy hanya ingin bermain bersama Sarah, tidak dengan anak perempuan yang dianggapnya hanya mengganggu mereka dengan ocehannya yang tidak penting.

Lihat saja ketika mereka bertiga mencoba berpiknik bersama sambil makan sandwich stroberi di taman yang berada dekat dengan sebuah kolam. Mandy dan Sarah sedang asyik mencoba lipstik pink. Rebecca yang tidak diijinkan untuk ikut mencoba menjadi bosan dibuatnya. Ia akhirnya berusaha untuk mengalihkan perhatian sarah dengan mulai bercerita bahwa kolam yang airnya keruh itu dulunya adalah kolam penyihir. Saat itu banyak orang-orang yang membenci para penyihir. Penyihir yang berhasil mereka tangkap dibenamkan di kolam tersebut. Alih-alih membuat Sarah percaya pada ceritanya, Rebecca malah mendapat cemooh dari Mandy bahkan dianggap konyol oleh Sarah. Oleh keduanya, Rebecca ditinggal sendirian, di saat ia mencoba untuk membuktikan kebenaran ceritanya dengan masuk ke dalam kolam.

Rebecca yang malang. Tidak hanya kehilangan Sarah, ia juga akhirnya terjebak di keruhnya air kolam. Air kolam yang awalnya hanya berada dibawah lutut, ternyata bertambah menjadi sepinggang ketika ia mulai melangkah lebih jauh. Mungkin kolam itu benar-benar dalam seperti yang diceritakan ayahnya. Dengan langkah tergesa, Rebecca berusaha mencapai pinggiran kolam. Ketika mencoba melangkah, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berlendir dan mencakar-cakar mencengkram kakinya.

Dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai tepian kola dan akhirnya sadar sesuatu yang melekat dengan kuat dipergelangan kakinya tidak lain adalah seekor kodok bangkong. Sekali lihat setiap orang pasti akan bergindik. Kulitnya yang berbintil terlihat sangat menjijikan belum lagi dua mata yang melotot, ditambah dengan kemampuannya berbicara layaknya manusia. Glubbslyme, begitu ia menyebut namanya. Tak lupa ia menjelaskan kepada Rebecca bahwa ia dulunya adalah familiar seorang penyihir sungguhan yang hidupnya berakhir dengan menggenaskan di kolam tersebut.

Tak dinyana, Rebecca tak memiliki ketakutan sedikitpun terhadap Glubbslyme. Ia bahkan membawanya pulang. Bukan karena ketertarikan pada kemampuan sihir Glub.Kodok itulah yang meminta Rebecca untuk membawanya pulang. Awalnya sempat terbersit keraguan, namun mengingat ia telah melihat dengan mata kepala sendiri, kodok itu pasti bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengeringkan pakaiannya yang basah saat nyaris terbenam tadi. Setidaknya ia mendapatkan teman bicara dan tak akan merasa sepi. Selain itu ia juga bisa sedikit bermain-main dengan sihir yang dimiliki Glub. Sayangnya ia tak pernah tahu, Glub tak pernah main – main dengan sihir yang dimilikinya.
Seperti buku-buku Jacqueline Wilson yang bergenre fantasi, kisah ini juga terkesan ringan. Tidak perlu mengernyitkan kening untuk mengikuti alur dan setting yang rumit seperti banyak buku fantasi kebanyakan. Itu memang menjadi ciri khas Jacqueline. Tapi tetap asyik untuk dibaca. Tokoh Glubbslyme sang kodok adalah salah satu alasannya. Ia bisa sombong, angkuh dan lucu bahkan terkesan konyol dalam waktu yang bersamaan.

Keistimewaan lain dari buku ini adalah ilustrasi yang dipakai Jacqueline Wilson berbeda. Setelah mengecek di datanya tentang bukunya, illustratornya ternyata memang beda. Kalau buku-buku yang lain menggunakan gambar yang dibuat oleh Nick Sharratt, kali ini goresan tangan Jane Cope yang dipilih. Nick sendiri hanya kebagian menggambar sampul.

Glubbslyme
Judul Indonesia: Kodok Ajaib
Penulis: Jacqueline Wilson
Ilustrasi: Jane Cope
Ilustrasi Sampul: Nick Sharratt
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 152 hlm

Friday, February 19, 2010

Review: The Highest Tide - Jim Lynch



Seperti malam-malam sebelumnya, Miles O’Malley melakukan ritualnya menyusuri paya asin. Kegiatan yang kerap ia lakukan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Miles menyelinap keluar setelah memastikan keduanya terlelap. Sekop kecil, ransel dan kantong plastik tak pernah lupa dibawanya. Benda-benda itulah yang membantu Miles mengumpulkan dan menampung binatang –binatang laut yang ia temukan. Dengan kayak miliknya, dengan leluasa Miles menjelajahi perairan Puget Sound.

Kegiatan mengumpulkan binatang laut yang membuat insomnianya semakin parah bukan tanpa tujuan. Beberapa lembar dollar adalah bayaran yang akan ia terima begitu bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk lain berpindah tangan. Makelar aquarium dan salah satu restoran di Olympia adalah pelanggan tetap yang siap menadah semua tangkapan Miles. Jadi tak perlu heran jika Miles berhasil mengalahkan ketakutan akan gelapnya malam ataupun bahaya lain yang mungkin mengincarnya. Apalagi saat itu bulan sedang bersinar dengan terang, tangkapannya akan lebih banyak dari biasanya.

Siapa sangka, malam itu yang ditemukannya lebih dari sekedar remis ataupun tiram. Tak tanggung-tanggung, yang dilihat Miles adalah sebuah cumi raksasa yang terdampar. Tak butuh waktu lama sehingga berita itu menyebar ke seluruh warga sekitar. Dari para ilmuan, warga sekitar dan tentu tak ketinggalan para wartawan,dari media cetak sampai televisi, yang selalu haus akan berita-berita semacam ini. Sebagai orang yang menemukannya pertama kali, Miles tak luput dari serbuan pertanyaan – pertanyaan mereka.

Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya seadanya. Ia tak ingin para pemburu berita ataupun seluruh penduduk sekitar bahkan kedua orang tuanya tahu bahwa ia mengetahui dengan sangat baik hampir seluruh mahkluk –makhluk laut yang berkeliaran di teluk kecil itu.Ia tak pernah tahu bahwa begitu kalimat “ Mungkin bumi ingin mengatakan sesuatu pada kita” terucap dari mulutnya, kehidupan anak laki laki berusiua 13 tahun, Miles O’ Malley, berubah. Bahkan beberapa minggu setelah kejadian penemuan cumi-cumi raksasa itu berlangsung.

Buku ini telah lama saya incar. Namun ketika pertama kali terbit, hati saya tak tergerak untuk segera membawanya pulang. Tiga tahun setelah buku ini diterbitkan, saya kembali menemukannya di deretan buku yang diberi diskon 30%. Bahkan begitu menjadi milik saya, tidak serta merta membuka plastik pembungkus dan membacanya. Karena ia harus masuk dalam antrian. Selama itu pula, saya tak pernah tahu bahwa buku ini sangat menarik.

Ceritanya juga menghibur. Terlepas dari banyak makhluk laut dengan sangat detail dan cukup membuat saya bingung seakan membaca satu bab di pelajaran biologi. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak juga tergerak untuk meletakkan buku ini. Adalah pembawaan, ucapan, tingkah Miles sebagai tokoh utama, yang lucu dan cerdas dalam waktu yang bersamaan. Siapa sangka dengan usia semuda itu, Miles mengetahui banyak hal yang belum tentu diketahui oleh anak-anak yang sebaya dengannya. Bukan hal yang mustahil, ketika kegemarannya melahap buku menjadi kunci dibalik semuanya.

Selain tingkah laku Miles, percakapan antar tokoh juga menjadi daya tarik tersendiri di buku ini. Banyak obrolan mereka yang membuat saya tersenyum bahkan nyaris terpingkal-pingkal. Kisah kehidupan pribadi Miles pun jadi satu hal yang layak mendapat perhatian. Diluar dari pengetahuannya yang mendalam tentang laut beserta isinya, ia tetaplah anak-anak.

Andai saja buku ini dilengkapi dengan ilustrasi tentang semua makhluk yang disebut dengan detail oleh Miles, tentu akan menjadikannya menjadi sangat sempurna. Namun bagi para juri, ternyata tanpa ilustrasi sekalipun, buku ini pantas untuk memenangkan Pasific Northwest Bookselless Book Award 2006.

The Highest Tide
Judul Indonesia: Pasang Laut
Penulis: Jim Lynch
Penerjemah: Arif Subiyanto 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan: I, Desember 2006

Tebal: 328 hlm

Thursday, February 11, 2010

Review: The Adventure of Captain Underpants - Dav Pilkey



Kalau menyebut nama George Beard dan Harold Hutchins, setiap murid dan guru di SD Jerome Horwitz pasti langsung teringat dengan dua anak laki laki paling iseng dan konyol. Tak satu pun yang lilos dari pandangan mata mereka. Teman sekelas, pemandu sorak, anggota marching band, para pemain football bahkan guru sekalipin menjadi sasaran keusilan mereka. Sehingga jika terjadi sesuatu dapat dipastikan dua anak laki-laki yang bersahabat sejak kecil itu yang bertanggung jawab. Setidaknya seperti itulah anggapan Mr Krupp, kepala sekolah mereka yang galak.

Tidak ada keinginan terbesar dari Mr Krupp selain menangkap basah kedua anak bandel itu. Apalagi ketika tahu bahwa George dan Harold mulai memperdagangkan komik-komik buatan mereka yang diberi judul Kapten Kolor. Sebenarnya Mr Krupp tidak hanya membenci George dan Harold karena pada dasarnya pria ini memang tak menyukai anak – anak. Teriakan mereka membuatnya gerah.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang. Mr Krupp berhasil memergoki mereka saat keduanya tengah beraksi. George dan Harold tak dapat mengelak, karena semuanya terekan dengan rapi dalam sebuah kaset video. Ternyata Mr Krupp telah menyiapkan beberapa kamera tersembunyi di beberapa tempat.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Mr Krupp pun mulai melancarkan aturan demi aturan. Dengan ancaman akan menyebarkan rekaman itu bila keduanya mangkir. Tidak ada pilihan lain bagi kedua anak itu selain memulai rutinitas baru dengan membersihkan apapu di rumah Mr Krupp, ruang kerjanya di sekolah sampai menghabiskan setumpuk buku yang harus mereka baca setelah pulang sekolah.

Namun bukan George dan Harold jika kehabisan ide. Dengan sebuah cincin hipnotis 3-D yang dipesannya di toko Perhiasan Si Cebol Sok Tahu. Segera setelah benda itu berada di tangan, mereka berhasil membalikan keadaan. Tak hanya berhasil merebut rekaman, namun mereka tak menyia-nyiakan ketika Mr Krupp berada dalam keadaan terhipnotis. Tak ayal, mereka menyuruh Mr Krupp meniru Kapten Kolor, tokoh utama komik buatan mereka. Sayangnya mereka membuat kecerobohan, Mr Krupp yang masih berkostum sang Kapten ternyata kabur keluar sekolah saat mereka lengah. Kenakalan mereka kali ini sungguh mendatangkan masalah yang jauh lebih besar

Buku yang dilengkapi dengan ilustrasi memang punya daya tarik tersendiri. Itu yang membuat saya menyukai buku ini. Kenakalan George dan Harold jadi lebih nyata.

The Adventure of Captain Underpants
Judul Indonesia : Petualangan Kapten Kolor
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi L Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 128 hal

Monday, February 1, 2010

Review: Nod’s Limbs - Charles Ogden




Pet sekarat!. Gigitan Morella ternyata berdampak sangat buruk. Rambut-rambut Pet mulai berjatuhan. Pergerakannya semakin lemah. Sayangnya, balsam sebagai satu-satunya obat penawar tertimbun jauh di dalam tanah berlapis tebal akibat ledakan yang terjadi akibat ketidaksengajaan Edgar.

Tak ada balsam berarti selamat tinggal bagi Pet. Menggali timbunan menjadi satu-satunya cara untuk mencapai sumber balsam. Sayang usaha Edgar dan Ellen tak membuahkan hasil. Timbunan tanah terlalu tebal. Tenaga mereka berdua tak cukup besar untuk menembusnya. Padahal waktu yang tersisa semakin sedikit. Mereka nyaris dibuat putus asa karenanya sampai ketika terdengar kabar ditemukannya surat wasiat August Nod.

Di carikan kertas itu, pendiri kota akan memberikan potongan tubuh patung emas kepada siapa pun yang bisa menemukannya. Potongan tubuh itu terletak di suatu tempat yang hanya diketahui oleh Augustus Nod. Warga kota Nod’s Limbs petunjuk yang yang sangat minim. Tapi itu tak menyurutkan semangat mereka memulai pemburuan. Kesempatan yang bisa membuat semua orang menjadi kaya mendadak ini tak dilewatkan oleh siapa pun termasuk si kembar beracun. Patung emas yang mereka temukan tidak hanya untuk menyelamatkan Pet namun juga rumah mereka.

Edgar dan Ellen harus bergegas karena Pet tak dapat menunggu lebih lama. 

Bukunya lumayan seru. Di buku ini terungkap beberapa rahasia kelam kota Nod’s Limbs, karena beberapa kejutan besar. Belum lagi akhirnya yang menyenangkan. Walau tetap saja masih banyak pertanyaan – pertanyaan yang tidak terjawab. Buku-buku baru yang berisi petualangan Edgar dan Ellen sebenarnya masih ada beberapa, seperti Hot Air, Frost Bite, Splint Ends bahkan ada Mischief Manual, buku yang menjadikan Edgar dan Ellen sebagai narator. Sayangnya tidak ada kabar dari penerbit Matahati. 

Penulis :Charles Ogden
Penerjemah: Gunawan Wijaya
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, April 2009
Tebal : 262 hlm