Wednesday, December 28, 2011

Review: Sweetly - Jackson Pearce


Dua belas tahun lalu, Gretchen, saudari kembarnya, dan Ansel, abangnya berjalan-jalan ke hutan. Mereka bertemu dengan makhluk mengerikan. Entah penyihir atau monster mereka tidak tahu. Mereka tunggang langgang melarikan diri dari kejaran si makhluk. Gretchen dan Ansel selamat, tetapi saudari kembarnya lenyap.

Beberapa tahun kemudian, mereka pindah ke Live Oak, sebuah kota yang nyaris ditinggalkan penduduknya. Keduanya tinggal di rumah Sophia Kelly, pemilik toko cokelat yang jelita. Gretchen dan Ansel mulai melupakan masa lalu mereka yang kelam, hingga Gretchen bertemu Samuel. Dia berkata kalau penyihir masih bersembunyi, mengintai dari hutan, memangsa para gadis setiap kali Sophia menggelar festival cokelat.

Gretchen memutuskan untuk melawan. Dia ingin tahu kenapa saudari kembarnya yang lenyap sementara dia selamat. Dan dia meyakini satu hal: monster itu akan datang lagi, dan ia takkan pergi sebelum kenyang. (Goodreads)
~~~

Tak Semua Hal Semanis Kelihatannya

Setelah menulis Sisters Red yang bercerita tentang kakak beradik Scarlett dan Rosie berburu serigala jadi-jadian, Jackson Pearce kembali dengan Sweetly. Kalau di buku sebelumnya ia memilih Red Riding Hood, di Sweetly Jackson Pearce menulis cerita berdasarkan kisah Hansel, Gretel dan penyihir lengkap dengan rumah kue jahenya.

Awalnya saya berpikir akan kembali menemukan  sosok Scarlet, Rosie dan Silas. Namun petualangan berburu Fenris kali ini membawa saya ke karakter-karakter baru. Jadi bagi yang belum membaca Sisters Red, tidak perlu khawatir. Cerita Sisters Red dan Sweetly berdiri sendiri. Walau keduanya masih terhubung dengan makhluk mengerikan, Fenris.

Ansel, Gretchen, Sophia dan Sam adalah empat karakter penting di buku ini. Semua cerita dilihat dari sudut pandang Gretchen. Rasanya tidak ada yang istimewa dengan karakter yang kerap bercerita bagaimana kesedihan yang ia alami.  Rasa takut dan trauma terhadap hutan juga tidak tampak. Sosok Gretcehn menjadi lebih hidup ketika ia bertemu Sam dan terlibat dalam perburuan Fenris. Terlebih ketika ia berusaha untuk mengungkap rahasia yang disembunyikan Sophia. Sosok Ansel, kakak laki-laki Gretchen, karakter yang diciptakan nyaris tanpa emosi sama sekali. Karena itu juga, kakak beradik rasanya menjadi kata yang tidak pantas diberikan pada Ansel dan Gretchen. Karena sejak halaman pertama mereka tidak nampak seperti kakak beradik. Walau Gretchen berkali-kali menyebut Ansel sebagai kakaknya di setiap kesempatan.  Kesan yang saya tangkap, mereka lebih mirip teman seperjalanan. Tidak lebih.

Dibanding ikatan kakak beradik itu ataupun jalinan kasih antara Sophia dan Ansel, setiap bab yang menceritakan bagaimana hubungan Gretchen dan Sam jauh lebih menarik. Senang rasanya membaca  semua hal yang terjadi pada keduanya. Sam jugalah yang membuat keberadaan Gretchen lebih terasa.

Sophia, perempuan cantik pemilik toko cokelat yang punya segudang rahasia. Satu-satunya yang membuat saya sangat penasaran. Dari cokelat-cokelat yang ia buat sampai semua hal yang ia tutup-tutupi. Dugaan demi dugaan bermunculan. Semua kebaikan dan sikap ramahnya menimbulkan sedikit ketakutan. Kalau-kalau semua hanya topeng. Saya sempat bertanya-tanya kapan ia akan membuka kedok dan mulai melakukan hal-hal jahat pada Ansel dan Gretchen. Sikap Sophia yang misterius nyaris membuat saya percaya dengan semua tuduhan yang terlontar dari Sam ataupun beberapa warga Live Oak yang tersisa. Hal itu juga yang membuat saya tidak sabar untuk sampai ke halaman akhir

Fenris tidak mendapat banyak peran di sini. Hanya terdapat beberapa bab yang menceritakan pertarungan yang melibatkan makhluk jadi-jadian ini. Kesan seram, buas, licik dan kejam masih terasa. Sayangnya mereka terlihat jauh lebih lemah dan sangat mudah dilumpuhkan. Walau tidak sering muncul, namun kehadiran mereka di bab-bab terakhir cukup seru.


Cover
Walau ada perbedaan warna dengan cover aslinya, tetap suka ngeliatnya. Desain sampul aslinya emang keren.

4/5

Judul: Sweetly
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Atria
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 408 halaman

Monday, December 26, 2011

Review: Sisters Red - Jackson Pearce

SERIGALA ITU MEMBUKA RAHANGNYA YANG PANJANG.
DERETAN GIGI TAJAM MENDEKAT KE ARAHNYA.
SEBUAH PIKIRAN BERKECAMUK DI DALAM BENAK SCARLETT:
CUMA TINGGAL AKU SENDIRI YANG TERSISA UNTUK BERTEMPUR.
JADI, SEKARANG AKU HARUS MEMBUNUHMU.

Scarlett March hidup untuk berburu Fenris, manusia serigala yang telah mengambil matanya ketika gadis itu berusaha melindungi adiknya, Rosie, dari sebuah serangan brutal. Dengan bersenjatakan sebilah kapak dan tudung merah darah, Scarlett merupakan ahli dalam hal memancing dan membasmi para serigala jadi-jadian. Dia bertekad untuk melindungi para gadis muda lainnya dari kematian yang mengerikan. Jantungnya yang berdegup kencang tidak akan pernah berhenti berpacu sebelum seluruh manusia serigala tewas.

Rosie March dulu mengira hubungan dirinya dengan sang kakak tidak akan pernah retak. Karena merasa berutang nyawa pada Scarlett, Rosie pun ikut berburu dengan ganas di samping kakaknya itu. Namun, bahkan ketika jumlah gadis muda yang menjadi korban semakin meningkat dan ketika kekuatan para Fenris terasa semakin bertambah, Rosie memimpikan sebuah kehidupan yang tidak melibatkan para manusia serigala. Dia mendapati dirinya tertarik pada satu-satunya sahabat Scarlett, Silas, seorang pandai kayu yang sangat mematikan dalam menggunakan kapak. Namun, apakah mencintai pria itu berarti mengkhianati kakaknya serta segala hal yang selama ini mereka perjuangkan? (Goodreads)
~~~

Kalau bukan karena Sweetly, buku kedua dari seri Fairytale Retelling, mungkin Sisters Red akan tetap berada di tumpukan.

Kata-kata "Dua Saudari Bertudung Merah" yang tertera di sampul depan ternyata tidak serta merta membuat saya teringat akan salah satu dongeng legendaris yang ditulis ulang oleh Grimm Bersaudara. Bahkan ketika akhirnya memutuskan untuk membaca sinopsis di belakang buku. Yang ada malah dugaan tentang cerita perburuan serigala jadi-jadian biasa. Semua lebih dikarenakan Jackson Pearce, sang penulis, membuat cerita baru yang seru dan tidak kalah menarik dengan dongeng aslinya. Saya baru dapat menarik garis merah setelah memulai petualangan Scarlett dan Rosie dan bertemu dengan Oma March, tukang kayu, pemburu dan Fenris, sang serigala jadi-jadian.

Scarlett dan Rosie, dari sudut pandang merekalah cerita Sisters Red yang berplot lambat, bergulir. Jackson Pearce menghidupkan keduanya dengan sangat baik. Tidak ada kesulitan untuk membedakan keduanya. Sifat,karakter, emosi keduanya dengan mudah dapat dipahami. Bagaimana protektifnya Scarlett ataupun kesalnya Rosie saat mengetahui dirinya tidak diikutsertakan dalam perburuan Fenris, semua dipaparkan dengan jelas. Bahkan obsesi Scarlett terhadap makhluk yang berbahaya ini pun sekali waktu membuat saya sedikit kesal.

Hubungan Scarlet dan Rosie sebagai dua kakak beradik adalah bagian yang paling saya suka. Keduanya seakan terikat satu sama lain. Terlihat bagaimana mereka seakan bisa "membaca" perasaan dan pikiran satu sama lain. Walau semakin lama, kedekatan mereka itu membuat saya cemas. Setiap babnya menyisipkan kekhwatiran akan adanya bagian dari cerita perjalanan berburu Fenris yang nantinya memporak-porandakan hubungan mereka berdua. Salah satunya saat Silas, seorang pemburu yang juga teman masa kecil mereka, muncul. Untungnya hal yang paling saya takutkan tidak terjadi. Mengenai Silas sendiri, saya tidak begitu terkesan dengan karakter pria yang satu ini.

Fenris, serigala jadi-jadian, mendapat porsi perhatian saya setelah kakak beradik bertudung merah. Deskripsi yang diberikan untuk Fenris oleh Jackson Pearce lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa mereka adalah makhluk kejam, penuh tipu daya, buas dengan rasa lapar yan tak pernah terpuaskan. Walaupun mereka tetaplah sosok yang misterius. Kawanan serigala jadi-jadian yang membuat saya penasaran. Gemas rasanya ketika hasil pencarian Scarlet, Silas dan Rosie ternyata tidak mampu mengungkap seluruh cerita dibalik sosok yang tak mengenal belas kasihan ini. Saya berharap ada penjelasan lebih lanjut mengenai mereka,termasuk pembagian kelompok mereka berdasarkan tato yang terdapat pada pergelangan tangan mereka. Sayangnya, hingga kisah Scarlett dan Rosie berakhir, hal-hal mengenai Fenris tidak terungkap dengan detail.

Satu hal yang paling seru dari buku ini adalah bab-bab yang menuliskan pertarungan antara Scarlett, Silas ataupun Rosie dengan para serigala. Jackson Pearce nampaknya tidak kesulitan untuk menuliskan setiap adegannya dengan detail. Begitu pula dengan sang penerjemah. Saat membaca semua kalimat yang menceritakan perkelahian, rasanya seperti melihatnya dengan mata kepala sendiri. Seru!

Namun dari semua hal yang saya ungkapkan di atas, ada sedikit menganjal. Yaitu tidak terdapatnya bagian yang menceritakan adanya keterlibatan serius dari pihak berwajib. Mengingat banyaknya korban yang berjatuhan karena Fenris yang lapar dan tersebar di seluruh penjuru kota. Seakan semua korban yang hilang dan tewas karena mahkluk jadi-jadian bukan masalah besar.

Cover
Penerbit Atria menggunakan cover yang sama dengan cover buku aslinya. Keren. Saya suka dengan perpaduan warna hitam dan merahnya. Baru sadar kalau di cover juga ada penampakan si rakus Fenris.

Judul Indonesia: Dua Saudari Bertudung Merah
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Ferry Halim
Editor: Ida Wadji
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 324 hlm

Friday, December 23, 2011

Review: Presiden Prawiranegara - Akmal Nasery Basral


19 Desember 1948. Agresi Militer II Belanda terhadap Ibu Kota Yogyakarta menyebabkan Presiden Sukarno ditangkap. Wakil Presiden Mohammad Hatta yang cemas dengan kondisi itu segera mengirimkan tlegram kepada Menteri Kemakmuran RI, Syafrudin Prawiranegara, yang sedang berada di Bukittinggi untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Ternyata benar, tak lama kemudian Sukarno-Hatta pun ditangkap Belanda, mereka diasingkan ke Bangka. Pemerintahan resmi lumpuh. Di sebuah dangau kecil yang belakangan dikenal sebagai "Dangau Yaya", Syafruddin mengumumkan berdirinya PDRI, pada Rabu 22 Desember 1948.

Dari sudut pandang seorang pemuda pengikutnya, Kamil Koto, mengalirlah kisah Presiden Syafruddin Prawiranegara, yang selama 207 hari nyaris melanjutkan kemudi kapal besar bernama Indonesia yang sedang oleng, dan nyaris karam. Sebuah perjuangan yang mungkin terlupakan, tetapi sangat krusial dalam memastikan keberlangsungan Indonesia.
(Goodreads)
 ~~~

Presiden Prawiranegara, dua kata yang sangat mengelitik keingintahuan saya.  Bagaimana tidak, dari apa yang saya pelajari di bangku sekolah, urutan Presiden sejak kemerdekaan sampai hari ini, nama Prawiranegara tidak pernah tercatat.  Inilah yang menjadi alasan mengapa bulan Agustus kemarin saya memilih buku ini sebagai bahan bacaan.

Nama Akmal Nasery Basral yang tertulis jelas di sampul buku, juga sangat berpengaruh dalam pemilihan buku ini.  Saya sangat penasaran bagaimana cara sang penulis, yang pernah membuat saya berdecak kagum beberapa tahun lalu saat membaca Imperia, meramu semua fakta dan  dan sedikit rekaan cerita dan kemudian menyungguhkannya dalam bentuk sebuah novel sejarah. Dan sekali lagi, kepiawaiannya merajut kata-kata terbukti di buku ini. Buku yang membuka mata saya akan sebuah peristiwa yang tidak dijelaskan secara gamblang di buku sejarah yang saya pelajari selama sekolah.

Presiden Prawiranegara. Kalau tidak membacanya, saya tidak akan pernah tahu siapa Syafruddin Prawiranegara. Sebagai seseorang yang dulu menempatkan Sejarah sebagai salah satu pelajaran favorit, buku ini membuat saya malu. Apa yang saya pelajari tentang Agresi Militer II Belanda di sekolah dulu tidak bersisa kecuali tanggal dan tempat terjadinya insiden. Saya sama sekai tidak ingat keberadaan PDRI. Nama Syafruddin Prawiranegara pun tidak melekat di benak. Padahal pemimpin PDRI memiliki banyak peranan penting baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Menelusuri bab demi bab buku ini , saya seperti kembali duduk di kelas sejarah. Semua penuturan sang narator, Kamil Koto, mengingatkan pada apa-apa yang nyaris saya lupakan. Tidak hanya apa yang sesungguhnya terjadi saat serangan mendadak tersebut, tapi juga sampai pada dampak yang ditimbulkan. Peristiwa yang terjadi Saya pun diingatkan lagi bagaimana sampai bangsa ini terlibat perundingan demi perundingan. Yang tidak kalah penting adalah pengenalan lebih dalam tentang sosok Syafruddin Prawiranegara, sang pemimpin PDRI.

Satu hal yang saya sayangkan, buku ini tidak menjelaskan dengan detail bagaimana proses penyerahan kembali kekuasaan dari PDRI. Rasanya tidak imbang. Karena di bagian awal, dipaparkan dengan jelas bagaimana kondisi pemerintahan saat agresi terjadi sampai pembentukan PDRI di Bukittinggi.

Yang membuat miris adalah ketika membaca fakta tentang bagaimana kehidupan Syafruddin Prawiranegara di pemerintahan yang baru. Sedih rasanya ketika mengetahui semua yang dialami oleh tokoh yang telah berjuang mempertahankan dan menyelamatkan Republik yang saat itu berada di ujung tanduk.

Saya berharap di tahun-tahun mendatang, akan lebih banyak buku-buku seperti ini. Sehingga genre fiksi sejarah tidak hanya didominasi oleh buku-buku terjemahan.

Cover
Warna dan desain sampul bukan dua hal yang membuat saya memilih buku ini.


Judul: Presiden Prawiranegara; Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: 370 halaman

Thursday, December 22, 2011

Review: Please Look After Mom - Kyung Sook Shin


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.
(Goodreads)
~~~

That you don't know what you've got til it's gone.
~Counting Crows~

Tidak perlu membaca sinopsis di belakang buku untuk tahu tema apa yang diusung buku ini. Dari judul yang tertera di sampul depan, saya dengan mudah bisa menebaknya. Dan tidak perlu berpikir lama untuk membawa pulang buku ini dan menjadikannya salah satu penghuni rak buku di rumah. Yah, semua buku yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya seperti For One More Day yang ditulis Mitch Albom, memang selalu punya tempat khusus. Seperti halnya fantasi dan fiksi sejarah, mereka punya daya tarik tersendiri.

Park So-Nyo, wanita berusia 69 tahun, hilang. Terakhir ia terlihat di stasiun kereta Seoul. Ibu, istri sekaligus adiki ipar ini tak dapat ditemukan di mana pun. Ratusan selebaran telah dicetak dan  disebar. Beberapa orang yang mengaku telah melihat wanita paruh baya tersebut. Namun hasilnya nihil. Park So-Nyo tak juga ditemukan. Tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar melihat wanita, dengan baju warna biru, jaket putih, dan rok lipit krem, ataukah hanya mengincar imbalan yang dijanjikan.

Kesedihan membayangi setiap anggota keluarga. Satu demi satu kenangan akan sosok Park So-Nya pun berkelebat di benak mereka. Perasaan bersalah mulai menghantui dan pada akhirnya menyisakan rasa kehilangan dan penyesalan yang mendalam. Dari penggalan ingatan mereka,  sosok Park So-Nyo menjadi semakin jelas. Tidak hanya sifat dan kebiasaan namun bagaimana keinginan dan mimpinya terungkap dengan jelas.

Dari Chi-hon, Hyong-chol dan anak perempuan yang tak disebut namanya, Park So-Nyo adalah ibu yang kuat dan tak pernah mengenal kata lelah.  Pekerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya tidak membuatnya mengeluh. Dari dua bab pertama, tergambar dengan jelas betapa besar kasih sayang yang diberikan Park So-Nyo kepada semua anak-anaknya. Bahkan ketika mereka semua telah meninggalkan rumah. Perhatian yang diberikan sama sekali tidak berkurang. Suami, kakak dan adik ipar pun mendapatkan hal yang sama walau dengan cara yang berbeda. Seakan tak peduli apa yang telah dan tengah terjadi. 

Dari semua potongan kisah itu, bagian yang paling saya sukai adalah bagian yang menceritakan bagaimana kedekatan Park So-Nyo dengan adik ipar yang seakan dianggap sebagai anaknya sendiri. Bab yang menceritakan sisi lain dari Park So-Nyo yang tidak mengejutkan suami dan anak-anaknya, namun saya sebagai pembaca,  juga menjadi salah satu bagian yang terbaik dari buku ini.

Awalnya saya sempat bingung dari sudut pandang siapa buku ini bercerita. Terutama di bab satu dan dua. Namun ketika beralih ke bab tiga dan seterusnya, semakin jelas siapa sang narator. Salut atas kepiawaian Kyung Sook Shin, sang penulis. Tidak hanya cara ia menyusun  semua cerita, tapi juga bagaimana menciptakan dan menghidupkan karakter demi karakter dan yang paling penting adalah ia mampu menyisipkan emosi demi emosi di setiap babnya. Walau telah menyelesaikan buku ini beberapa hari yang lalu, buku ini masih menyisakan banyak kesan.  Saya masih ingat bagaimana kecemasan dan keputusaaan Hyong-chol ataupun rasa bersalah Chi-hon. Untuk sebuah buku fiksi - drama keluarga, buku ini benar-benar menguras emosi.

Tidak perlu khawatir untuk masalah terjemahan. Saya sama sekali tidak merasa kesulitan untuk memahami setiap kalimat. Kalau buku ini bebas typo, pasti akan  lebih menyenangkan membacanya.

Cover
Di Goodreads, saya menemukan beragam sampul. Desain cover yang dipilih pihak Gramedia tidak kalah dengan yang diterbitkan di negara-negara lain. Namun dari semua cover yang ada, saya paling suka cover yang diterbitkan di China.




5/5

Judul Indonesia: Ibu Tercinta
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 296 hlm

Wednesday, December 21, 2011

Guest Post: "Make It Or Break It?" by Kelly York

In my writing folder on my computer, I have quite the collection of folders titled "MS - (working title here).” Some of these are nothing more than text documents of ideas. Random character names, notes on world settings, character relationships, or pictures. Some are plots with no characters attached. Some are, in fact, actual stories! They have a beginning! They have action and development!

And I'll probably never touch them again.

I hate saying "I'm abandoning this idea," because I usually don't abandon something entirely. More often than not I abandon the plot, but I bring the characters with me and reuse them elsewhere. (In fact, I've been etching out a story in my head for some time involving two characters. It’s entirely different from the original story and plot I started writing for them. Not even the same time period/setting/genre.)


This probably has to do with the fact that I'm very character-oriented. Plot and stories aren't the easy or fun part for me: the characters are. I never would have finished writing HUSHED if it weren't for the fact that I adored Archer, loved Evan, and loved to hate Vivian. I have to love my characters on some level or nothing will get done.

I've also noticed a trend: I can start a new story and be on a roll with it until I hit around 10,000 words. The 10k mark seems to be my 'make it or break it' line. If I stop there, I'm never going back to that story. If I can move past it, upward to 20,000 words, I'm going to finish it. (I do not have a single ‘abandoned’ MS in those folders over 10k.)

Currently I have not one, but two WIPs both over 10k. One is over 20k, and the other is nearing that mark.

Do any of you have a collection of unfinished stories you can't bring yourself to just...delete? Do you reuse and recycle bits and pieces from old stories no one will ever see into new ones, or do you have to start completely fresh every time? And what is your make-or-break point (if you have one)?

~~~

Hushed - by Kelley York
Title: Hushed
Author: Kelley York
Genre: YA Thriller
Length: Novel
Launch Date: December 2011
ePub ISBN: 978‐1‐937044‐73‐2 | Print ISBN: 978‐1‐937044‐74‐9

Published December 6th 2011 by Entangled Publishing 



He’s saved her. He’s loved her. He’s killed for her.

Eighteen-year-old Archer couldn’t protect his best friend, Vivian, from what happened when they were kids, so he’s never stopped trying to protect her from everything else. It doesn’t matter that Vivian only uses him when hopping from one toxic relationship to another—Archer is always there, waiting to be noticed.

Then along comes Evan, the only person who’s ever cared about Archer without a single string attached. The harder he falls for Evan, the more Archer sees Vivian for the manipulative hot-mess she really is.

But Viv has her hooks in deep, and when she finds out about the murders Archer’s committed and his relationship with Evan, she threatens to turn him in if she doesn’t get what she wants… And what she wants is Evan’s death, and for Archer to forfeit his last chance at redemption.



Grab the book at Amazon or  Barnes & Nobel

~~~

About the Author

Kelley was born and raised in central California, where she sRll resides with her lovely
wife, daughter, and an abundance of pets. (Although she does fantasize about moving
across the globe to Ireland.) She has a fascinaRon with bells, adores all things furry – be
them squeaky, barky or meow‐y – is a lover of video games, manga and anime, and likes to pretend she’s a decent photographer. Her life goal is to find a real unicorn. Or maybe
a mermaid.
Within young adult, she enjoys wriRng and reading a variety of genres from
contemporary with a unique twist, psychological thrillers, paranormal/urban fantasy
and horror. She loves stories where character development takes center stage.





Thursday, December 15, 2011

Review: The Graveyard Book by Neil Gaiman

After the grisly murder of his entire family, a toddler wanders into a graveyard where the ghosts and other supernatural residents agree to raise him as one of their own.

Nobody Owens, known to his friends as Bod, is a normal boy. He would be completely normal if he didn't live in a sprawling graveyard, being raised and educated by ghosts, with a solitary guardian who belongs to neither the world of the living nor of the dead. There are dangers and adventures in the graveyard for a boy. But if Bod leaves the graveyard, then he will come under attack from the man Jack—who has already killed Bod's family . . .

Beloved master storyteller Neil Gaiman returns with a luminous new novel for the audience that embraced his New York Times bestselling modern classic Coraline. Magical, terrifying, and filled with breathtaking adventures, The Graveyard Book is sure to enthrall readers of all ages. (Goodreads)

~~~
My Thought
The Graveyard Book brought me to Nobody Owens. Yeah, he got a weird name. But no need to wonder why. Graveyard was the place where he grew up and lived since he was toddler. Nobody Owens, Bod, was also raised by the dead. He even had Silas, a guardian. Bod almost had no friend but them. Since he was young, he has been warned for many things, from the ghouls till the world outside. Bod was fined with all the rules. Afterwards, the curiosity inside him was getting bigger. There was nothing that could stop him even his guardian. He would only quit till he got the answer why. Bod did not understand that her foster parents, guardian, and teachers were trying to protect him. He just did not get it till he faced the man Jack, the fiercest man ever.

I was excited and worried in a same time when The Graveyard Book was in my hand. First, I had been waiting this book for so long. Second, I have never read Neil Gaiman's book in English. Some of his books that I have in my shelves had been translated. Reading some of them (The Anansi Boys and Stardust) made me think that Gaiman has his own writing style that was not easy to understand. I was not sure if I could get what he wrote. You have no idea, how relief I was when I found out that all the words were not that confusing as I thought before.

Bod, the main character in this book, would never become my favorite, if the other characters were not there. Let's say Silas, Mr and Mrs Owen, Elizabeth Hempstock, Scarlett, even the villain, the man Jack. All of them have their own way to make Bod become special. From all them, I loved the connection between Bod and Silas. I saw father and son relationship there. The chapter which involved Bod and Elizabeth Hempstock, the witch, was also a part that I adored. This chapter was also published in anthology Wizards: Magical Tales From the Masters of Modern Fantasy. Scarlett, she was also nice. She impressed me. I felt so bad when I found out what happened between Bod and her. I wish something better happened between them.

Every chapter has its own magnet. The development of the story and characters were also written very well. It was nice to see how Bod grew older.  There were mixed up feelings and it started even when I was in first chapter. The ending made me feel little bit lost and sad.  I wish Neil would write another ending for Bod.

The Graveyard Book makes me want to read more of Neil's works. I think I am going to read this book again next year.

Cover and Illustration
I love all the illustration inside. I spent more time to stare and look at them before I turn to the next page.  It is as good as what he put in Coraline. I wish all of Neil Gaiman's books were completed with Dave McKean's scratches. But it seems that they are only for children's books.

4/5

Author: Neil Gaiman
Illustrator: Dave McKean
Reading level: Ages 10 and up
Paperback: 336 pages
Publisher: HarperCollins; Reprint edition (September 28, 2010)
Language: English
ISBN-10: 0060530944
ISBN-13: 978-0060530945
Product Dimensions: 7.6 x 5.3 x 1 inches

Monday, December 12, 2011

Review: Water for Elephants by Sara Gruen

Though he may not speak of them, the memories still dwell inside Jacob Jankowski's ninety-something-year-old mind. Memories of himself as a young man, tossed by fate onto a rickety train that was home to the Benzini Brothers Most Spectacular Show on Earth. Memories of a world filled with freaks and clowns, with wonder and pain and anger and passion; a world with its own narrow, irrational rules, its own way of life, and its own way of death. The world of the circus: to Jacob it was both salvation and a living hell.

Jacob was there because his luck had run out - orphaned and penniless, he had no direction until he landed on this locomotive 'ship of fools'. It was the early part of the Great Depression, and everyone in this third-rate circus was lucky to have any job at all. Marlena, the star of the equestrian act, was there because she fell in love with the wrong man, a handsome circus boss with a wide mean streak. And Rosie the elephant was there because she was the great gray hope, the new act that was going to be the salvation of the circus; the only problem was, Rosie didn't have an act - in fact, she couldn't even follow instructions. The bond that grew among this unlikely trio was one of love and trust, and ultimately, it was their only hope for survival.(Goodreads)

~~~

My Thought
Water for Elephants was one of books in my wishlist. I was so excited when this historical fiction book finally arrived. Big thanks to Bukumoo Satu Dua Tiga. Since I saw the rating and read many good things about it, I could not wait any longer to read it on my own. Most of my friends said that Water for Elephants was one of the best book ever. Unfortunately, same words did not come out of my mouth.

To my surprise, it was not as great as I thought.
I was little bit disappointed with what I got. I think I expect too much.  There was nothing wrong with the book actually. It was well written. But It was hard for me to find the ties with the plot, setting nor the characters. All of them were flat for me.

Jacob Jankowski is the main character and narrator. In his nineties, he stayed in nursing home. He could barely remember things. But when it was about 
circus, he was able to summon it into mind with its details. Jacob was just twenty three when he left final exams in Cornell University and joined Benzini Brothers Most Spectacular Show on Earth. In this place, the new chapter of his life began.

I liked the old Jacob. He became one reason why I finished reading its last page. From all the chapters, my favorite was his part. Althought he was not a nice old man, but he got his own charm.  I liked the way he talked and communicated to Rosemary,the nurse who took care of him. I enjoyed all their chit chats. Unfortunately, there was only few of them.

About the young Jacob and other characters, there was almost no emotional bond. Although Jacob in circus was lovely and kind-hearted, but I could not get him. His relationship with Marlene was not interesting enough to hook me. The antagonist character such August and Uncle Al also did not leave any impression. Even when I have given more chances by reading it till the last pages, I felt nothing for them.

Before reading Water for Elephants, I have read some books which took circus as its setting. But through Jacob's eyes, I found many new things about circus life in the past. All those things make me wonder which one that really happened in the past and the one that was just added by Sara Gruen, the author. I was also curios about the "red-lighted" and stampede.

Cover
I am not really interested with that kind of cover. I like the color choice. 

3/5

Author: Sara Gruen
Paperback: 355 pages
Publisher: Algonquin Books (April 9, 2007)
Language: English
ISBN-10: 1565125606
ISBN-13: 978-1565125605
Product Dimensions: 8.3 x 5.6 x 1 inches


Wednesday, November 30, 2011

Review: Sarah's Key - Tatiana De Rosnay

 
" PARIS, JULI 1942: Sarah, seorang gadis berumur sepuluh tahun, ditangkap bersama orangtuanya oleh polisi Prancis yang menggeledah rumah demi rumah untuk menangkapi keluarga-keluarga Yahudi di tengah malam buta.

Berusaha mati-matian untuk melindungi adik lelakinya, Sarah menguncinya dalam lemari di kamar tidur--tempat persembunyian rahasia mereka--dan berjanji akan kembali begitu mereka dibebaskan.

ENAM PULUH TAHUN KEMUDIAN: Kisah Sarah terjalin dengan kisah Julia Jarmond, seorang wartawan Amerika yang menyelidiki peristiwa penangkapan itu.

Dalam penelitiannya, Julia tersandung pada serangkaian jejak rahasia yang menghubungkannya dengan Sarah, dan mempertanyakan masa depan romantisnya sendiri.
(Goodreads)
~~~

Zakhor. Altichkah

Paris, dini hari, 16 Juli 1942, lebih dari tiga belas ribu lelaki, perempuan dan anak-anak Yahudi ditangkap. Oleh polisi Prancis di bawah perintah Gestapo Jerman, mereka dipaksa keluar dari rumah. Banyak dari mereka yang langsung dikirim ke kamp Drancy, sementara orang tua yang memiliki anak dikirim ke Vel'd'Hiv, sebuah stadion tertutup yang dipakai untuk lomba balap sepeda. Tak ada fasilitas toilet di sana. Selama enam hari lamanya mereka dikurung dalam ruangan yang panas, nyaris tanpa makanan. Semua itu hanyalah awal dari perjalanan panjang yang harus mereka lalui, sebelum semuanya berakhir di Auschwitz.

Berangkat dari sejarah di atas, Tatiana De Rosnay menulis buku ini. Buku yang mampu menguras banyak emosi hanya dalam beberapa lembar pertama.

Senang rasanya saat mengetahui buku ini telah diterjemahkan oleh Elexmedia. Walau sempat terbersit sedikit rasa ragu dengan hasil terjemahannya. Mengingat novel terbitan Elex yang terakhir saya baca sukses membuat kepala saya pusing dengan permainan kata yang tertulis di dalamnya. Namun semua keraguan saya menguap ketika membaca kata demi kata di bab-bab awal.

Sarah's Key mengantarkan saya pada gadis kecil bernama Sarah dan seorang wartawan Amerika, Julia Jarmond. Keduanya terpisah oleh waktu, namun peringatan ke enam puluh tahun Vel' d' Hiv, sebuah  apartemen dan rahasia keluarga yang disimpan rapat selama puluhan tahun menghubungkan keduanya.

Hanya dalam waktu singkat, Sarah dan Julia mampu menarik perhatian dan rasa simpati dengan cara yang berbeda. Tidak butuh waktu lama untuk paham apa yang terlintas di benak Sarah dan semua yang ia rasakan. Ketakutan dan kalut yang menyelimuti Sarah kecil di hari pengumpulan. Bagaimana ketika ia akhirnya mengerti arti bintang kuning yang selalu ia kenakan. Belum lagi kekhawatiran yang terus menghantuinya setelah meninggalkan apartemen. Yang selanjutnya berubah menjadi rasa bersalah berkepanjangan yang ditanggungnya seumur hidup. Sehingga tidak ada keterkejutan ketika menemukan apa yang terjadi selanjutnya.

Seperti halnya Sarah, bukan hal yang sulit untuk memahami Julia. Saya mengerti benar semua rasa penasaran akan peristiwa tragis yang terjadi di Paris puluhan tahun lalu, begitupula dengan rahasia yang selama ini ditutup rapat oleh keluarga suaminya. Bahkan ketika ia akhirnya terobsesi dengan Sarah.

Buku ini awalnya ditulis dari dua sudut pandang. Kisah Sarah dan Julia ditulis dalam bab terpisah secara bergantian. Kegetiran selalu muncul setiap kali membaca bab yang menceritakan Sarah. Hal itu juga menyebabkan saya lebih memilih bab-bab milik sang wartawan. Walau demikian, keduanya tetap membuat saya penasaran. Bagaimana nasib Sarah selanjutnya, bagaimana dengan hasil pencarian Julia ataupun penyelesaian masalah dengan suami dan anak-anaknya. Yang jelas kedua mampu membuat mencampur aduk emosi saya. 



Saya tidak mendapatkan masalah dengan hasil terjemahannya. Terima kasih untuk sang alih bahasa. Sayangnya masih terdapat typo di beberapa tempat. Mengenai ending, saya menyukai cara Tatianan de Rosnay, sang penulis, mengakhir semuanya.

Sarah's Key meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan sekali lagi membuka mata saya akan fakta tragis yang menimpa ribuan keluarga Yahudi di masa lalu. Saya sempat malu dibuatnya. Karena kalau bukan buku ini, saya tidak akan pernah tahu bahwa kota Paris pun tidak luput dari cengkraman para Gestapo. Untuk kesekian kalinya, rasa iba dan sedih menyerubungi. Namun buku ini tidak serta merta menutup mata saya untuk apa yang terjadi di Palestina. Zakhor. Altichkah. Ingat. Jangan pernah lupa.

Cover
Saya lebih suka sampul aslinya.

5/5

Sarah's Key
Penulis: Tatiana De Rosnay
Penerjemah: Lily Endang Joelani
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2011


Buku yang pertama kali terbit tahun 2006 ini ternyata telah diadaptasi ke layar lebar tahun 2010. Jadi penasaran, pengen nonton. >.<



Source: Wikipedia

Monday, November 7, 2011

Review: Size 12 Is Not Fat - Meg Cabot

Heather Wells, mantan penyanyi pop idola remaja, telah sampai pada titik jenuh: bosan menyanyikan lirik lagu ciptaan orang lain, tapi produsernya tidak mau menandatangani kontrak baru untuk lagu-lagu ciptaannya sendiri. Keadaannya diperparah dengan ayahnya dipenjara, ibunya kabur ke Buenos Aires bersama seluruh isi tabungan putri satu-satunya itu, dan Heather tampaknya tidak bisa berhenti membenamkan diri dalam kesedihannya dengan melahap cokelat KitKat. Puncaknya, tunangannya Jordan Cartwright telah menggesernya---dari tangga lagu maupun dari ranjangnya---dan menggantikannya dengan bintang pop nomor satu terbaru Amerika, Tania Trace.

Heather lalu mendapatkan pekerjaan di asrama
New York College
---tak jauh dari tempat tinggal sementaranya di rumah Copper---temannya sekaligus kakak mantan tunangannya yang sangat baik kepadanya. Kelihatannya keadaan mulai membaik... setidaknya sampai gadis-gadis di asrama tewas satu per satu dalam waktu berdekatan. Selancar lift merupakan penjelasan resmi dari administrasi kampus mengenai penyebab kematian para gadis itu, tapi Heather punya kecurigaan lain. Dengan bantuan setengah hati dari Cooper, Heather berusaha menyelidiki kematian-kematian tersebut, tanpa menyadari itu bukan hanya sekadar untuk menjawab rasa ingin tahunya, melainkan mungkin akan menjadi pekerjaannya seumur hidup.~Sinopsis dari Goodreads~

~~~

Ketika pertama kali melihatnya di deretan buku baru, saya sungguh tak menyangka karya Meg Cabot ini bercerita tentang misteri pembunuhan. Dari judulnya, saya mengira buku ini akan berkisah tentang kehidupan seorang wanita yang bermasalah dengan berat badan. Sempat terbersit pertanyaan segemuk apa wanita yang berukuran 12, sebelum akhirnya mendapatkan jawabannya melalui mesin pencari.

Heather Wells, wanita yang menjadi karakter utama di buku ini. Butuh waktu untuk mengumpulkan keping demi keping yang berkaitan dengan dirinya dan menyusunnya menjadi sosok yang utuh. Dari perubahan postur tubuh karena kebiasaan makan yang tidak teratur dan rambutnya yang pirang. Sampai  akhirnya pilihan jatuh pada sosok Britney Spears. Sehingga tidak ada kesulitan untuk membayangkan masa lalu Heathers sebagai penyanyi pop yang menjadi idola banyak gadis remaja.

Banyak hal yang membuat saya menyukai Heather. Bukan hanya caranya menuturkan cerita yang kadang membuat saya tergelak, tetapi juga karena Heather adalah sosok wanita yang kuat. Ia tak pernah benar-benar peduli akan perkataan orang lain akan masa lalunya. Bahkan ketika mereka menjadikannya lelucon. Ia memang tak menyangkal, banyak bagian dari masa lalunya yang tidak menyenangkan, namun hal tersebut tidak serta merta membuatnya dendam. Bahkan di luar dugaan, ia memaafkan ibu kandung yang kabur meninggalkannya begitu saja dengan semua uang tabungan yang dihasilkannnya sebagai penyanyi. Meg Cabot memang tidak pernah gagal menciptakan dan membuat karakter utama yang menarik dan menjadinya benar-benar hidup. Selain Heather, saya juga menyukai Sarah dan Magda, yang menjadi rekan kerja Heather di New York College. Sangat disayangkan, tidak ada yang istimewa dari karakter Cooper ataupun Jordan.

Berbicara mengenai dua insiden yang terjadi di asrama, saya tak dapat menahan untuk tidak mengeryitkan alis. Sebagai penggemar serial CSI dan cerita detektif, saya merasa banyak hal aneh. Pertama, tidak ditutupnya lift yang menjadi tempat kejadian perkara. Semua penghuni asrama bisa kembali menggunakan lift begitu mayat disingkirkan. Padahal dua kecelakaan yang sama terjadi dalam waktu yang berdekatan. Kedua kasus yang membuat Heather khawatir ini juga sepertinya tidak mendapat porsi penyelidikan yang lebih dari pihak kepolisian. Kemungkinan besar wawancara mendalam juga tidak dilakukan terhadap orang-orang tertentu. Bahkan ketika tidak ditemukannya alasan kuat bagi kedua mahasiswi tersebut untuk melakukan bunuh diri, sama sekali tidak ada penetapan tersangka. Lebih anehnya lagi, tim investigasi sama sekali tidak memeriksa kamar dan barang-barang korban. Saya menjadi sangar gusar karenanya. Sepertinya hal-hal demikian luput dari riset Meg Cabot. Bahkan ketika ia bermaksud untuk menulis sebuah cerita misteri yang ringan dan sederhana sekalipun.

Terlepas dari semua hal ganjil di atas, saya tetap dibuat penasaran siapa yang menjadi dalang atas dua kejadian tragis tersebut. Ini juga yang menjadi alasan mengapa saya mampu melahap buku ini hingga halaman terakhir. Menjadi sangat menyenangkan ketika menemukan sang pelaku kejahatan tidak terdapat dalam daftar tersangka beserta motif yang saya buat.

Walau tidak begitu terkesan dengan buku ini, saya akan tetap membaca Size 14 is Not Fat Either. Saya ingin tahu apakah Heather berhasil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.

Cover
Sampul depan menjadi salah satu alasan mengapa saya membeli buku ini.


Size 12 is not Fat
Judul Indonesia: Ukuran 12 Tidak Gemuk
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Barokah Ruziati
Editor: Widi Lugina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 416 hlm

Monday, October 31, 2011

Review: Sweet Misfortune - Kevin Alan Milne

Bagi Sophie Jones, kebahagiaan sama dengan sepotong cokelat: manis, tetapi cepat sekali meleleh dan hilang. Segala macam tragedi sepertinya telah dia alami: Kehilangan orangtua, dicampakkan tunangan, dan sebagainya. Masa lalunya itu membuatnya percaya bahwa di dunia ini tidak ada kebagiaan.
Dia pun menumpahkan kesedihannya dengan menjual Misfortune Cookies - kue-kue yang menyimpan secarik pesan ketidakberuntungan di dalamnya. Kue itu laku keras, dan dia merasa senang.
Di sela-sela itu, Garrett Black, mantan tunangannya yang punya andil dalam semua penderitaannya, tiba-tiba muncul dan memohon untuk kembali padanya. Awalnya, Sophie menolak mentah-mentah. Namun, ketika Garrett terus memohon, Sophie mengajukan tantangan: Garrett harus membuktikan bahwa kebahagiaan sejati memang ada. Bila dia berhasil, Sophie akan mempertimbangkan permintaannya. Akankah Garrett berhasil? Dan dapatkah mereka kembali bersama?  ~Goodreads~
Ketika memutuskan untuk membaca Sweet Misfortune, saya tidak mengharapkan apa-apa. Mengingat genre yang diusung oleh buku ini selalu saya tempatkan sebagai pilihan terakhir. Saya membacanya tidak lebih karena buku romance adalah pilihan BBI bulan Oktober. Di luar dugaan, Sweet Misfortune memberi banyak kejutan yang tidak pernah saya harapkan akan muncul dari sebuah buku romance

Gelas Setengah Kosong

Sulit rasanya untuk menyukai karakter utama yang pesimis seperti Sophie Jones. Tidak sekali dua kali muncul keinginan untuk menutup mulut perempuan yang skeptis ini. Saya heran ketika menemukan orang-orang yang masih saja betah berada satu ruangan bersama pemilik toko cokelat yang tidak pernah kehabisan kata untuk dituliskan di atas kertas untuk kue-kue ketidakberuntungan yang dibuatnya. Butuh ratusan lembar sampai akhirnya paham bagaimana insiden-insiden di masa lalu menutup mata Sophie untuk sebuah kata, kebahagiaan. Walau hal itu tidak juga membuat saya menyukainya

Friend; one who knows all about you and still loves you anyway

Dibanding Sophie, saya lebih menyukai Evalynn, sahabat yang juga saudara angkat Sophie ini nampaknya telah terbiasa dengan pikiran dan ucapan yang negatif. Walau sempat mengernyitkan dahi untuk semua yang dilakukannya untuk Sophie, namun pada akhirnya saya mengerti. Itulah yang disebut sahabat.

Dicari: Kebahagiaan.
Hanya kebahagiaan yang bertahan lama. Bukan yang  hanya bertahan sementara.
Penggalan iklan yang dipasang Garrett inilah yang membuat saya yakin bahwa pria seperti Garrett-lah yang dibutuhkan oleh setiap wanita. Tidak butuh waktu lama untuk menyukai pria yang kembali kehidupan Sophie ini. Bukan karena kata-kata romantis yang terucap dari mulutnya, namun untuk semua hal yang dilakukan untuk menyakinkan Sophie bahwa kebahagian dalam hidup benar adanya. Setidaknya pria seperti Garrett mampu membuat wanita seperti Sophie mampu berucap "...Lelaki sepertimu hanya datang satu kali saat bulan berwarna biru" (h.164)

Some people are lucky in love. You are not one of them
Saya tak dapat menahan tawa ketika membaca kalimat di atas, yang juga tertera di sampul depan. Kata-kata semacam itulah yang ditulis Sophie dan diselipkan dalam kue-kue ketidakberuntungannya. Saya membayangkan puluhan ramalan yang ia buat setiap harinya.Namun dengan cara memandang kehidupan yang demikian sempit,  saya pikir Sophie tidak menemukan kesulitan untuk menuliskan kalimat yang sama pahitnya dengan rasa kue berlapis cokelat yang dibuatnya. Anehnya, kata-kata semacam itulah yang menjadi bagian yang saya tunggu di setiap babnya.

Tidak ada yang istimewa dari hubungan yang terjalin antara Sophie dan Garrett. Seperti buku romance lainnya, akhir kisah mereka dengan mudah bisa ditebak. Namun bagaimana sampai akhirnya hal tersebut terjadi, yang membuatkan buku ini sangat menarik. Banyak bagian yang bisa diambil sebagai pelajaran. Tidak sedikit yang membuat saya terharu. Bagi saya, Buku yang ditulis oleh Kevin Alan Milne lebih dari sekedar cerita romance.

Untuk semua penggemar buku bergenre light romance, Sweet Misfortune seharusnya ada di deretan buku kalian, bahkan ketika buku bergenre romance adalah pilihan terakhir ketika memilih sebuah bacaaan seperti yang selalu saya lakukan. Just give it a try.

Cover
Saya suka warna sampulnya. Namun saya lebih suka cover aslinya. Selain kertas ramalan, saya juga ingin melihat kue ketidakberuntungan yang dibuat Sophie. 


4/5


Sweet Misfortune
Judul Indonesia: Cinta dalam Kue Ke(tidak)beruntungan 
Penulis: Kevin Alan Milne
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Juli 2011
Tebal: 456 hal


Thursday, October 27, 2011

Review Blog : It's All About Books



Tidak terasa sudah empat tahun berlalu...


Awalnya ada keraguan untuk memulai blog yang isinya review buku. Pertama,karena saat itu saya sama sekali belum terbiasa menulis resensi. Takutnya malah tidak terurus karena saya sudah punya blog pribadi. Rasa bingung pun bermunculan. Dari pemilihan template, banner, nama sampai pemilihan alamat blog. 


Namun pada akhirnya, postingan perdana pun muncul juga. Tepatnya tanggal 19 Juni. Walaupun saat itu bukan berupa review. Semuanya tak lepas dari dukungan Kobo -  BukuBukuku,  salah satu teman online pertama yang punya kecepatan membaca yang luar biasa. Oh iya, dari Kobo, saya mendapat Banner yang sampai sekarang masih saya pakai. Alamat blog ini pun atas idenya. Terima kasih, Bo.


Artemis Fowl - Incident Artic terbitan Gramedia adalah buku pertama yang saya review di blog ini. Ketika membaca ulang, postingan itu membuat saya tergelak. Penuh spoiler dan typo. Bahkan keterangan buku tidak satu pun yang  tidak saya cantumkan. Hal yang sama juga terjadi di beberapa postingan awal. Jadi gemes sendiri ngelihatnya. Ada keinginan untuk mengedit postingan-postingan itu. Namun akhirnya saya tidak melakukan perubahan apapun. Untuk sementara, saya anggap sebagai reminder untuk menulis dengan lebih baik dan teliti. 


Eh kalau ada waktu luang sih, masalah typo di postingan lama bisa sedikit demi sedikit saya edit. Tapi kalau spoiler, biarlah apa adanya. Sungguh, saya tidak bermaksud. Semuanya terjadi karena saat itu saya belum paham benar, apa esensi sebuah review buku. Lagipula, saat itu yang terbersit di pikiran saya,  menulis review supaya saya tidak lupa.  


Sebelum menerbitkan tulisan ini, saya sempat melihat posting demi postingan. Ternyata buku - buku yang saya review cukup beragam. Walau sedikit, ternyata ada beberapa buku nonfiksi. Bahkan ada beberapa buku motivasi. Ketika membaca ulang kalimat demi kalimat, saya hampir tidak percaya saya bisa menulis kalimat demi kalimat seperti itu. Ha!


Dari situ juga, saya sempat memperhatikan kalau pengunjung blog buku ini juga jumlahnya sedikit banget. Terlihat dari jumlah page view untuk setiap postingan. Apalagi komentarnya. Sedih sih. Tapi kalau ingat apa tujuan awal saya membuat blog buku ini, hal semacam itu bukan masalah besar. 


Ah iya, gaya dan bentuk penulisan dari tahun ke tahun pun terus berubah. Namun untuk postingan - postingan berikutnya, saya memutuskan untuk menyeragamkan semuanya. Baik review dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 


Layaknya blog pribadi yang lebih dulu muncul, blog buku juga mengalami pasang surut. Semua terlihat dari jumlah postingan. Tahun 2007, saya bisa menulis sebanyak 49 review. Jumlah tersebut terus meningkat di tahun 2008. Sayangnya, tahun 2009 dan 2010, blog buku ini nyaris mati. Dalam 2 tahun itu, jumlah review yang saya tulis tidak begitu banyak. Semua itu karena saya tidak dapat membagi waktu dengan baik. Saya kebanyakan main game online. Akhirnya menulis review terasa amat berat. Yang menyedihkan, kecepatan membaca saya yang lambat menjadi makin lambat.


Untungnya di tahun 2011, terjadi sedikit perubahan. Terima kasih untuk Dela - Books of Dela   Walau nggak kenal secara pribadi, kalau bukan karena blog bukunya, saya mungkin tidak akan pernah tahu blog-blog buku milik  blogger dari Amerika, Australia, dan Jerman. Yang mengejutkan, mereka blogger buku yang aktif banget. Selain review,  mereka punya banyak jenis postingan yang membantu para penulis mempromosikan buku. Sebut saja, It's Monday, What Are You Reading?, Teaser Tuesday,Waiting on Wednesday, Trailer Tuesday, dll. Bahkan setiap minggunya ada satu postingan khusus untuk mempromosikan sebuah blog buku. Yang kulihat,  tiada hari tanpa postingan. Salut!


Perkenalan dengan blogger luar ini lah yang akhirnya membuat saya kembali melirik blog yang nyaris saya tinggalkan. Sedikit demi sedikit saya kembali menulis review. Dan untuk pertama kalinya saya membuat review dalam bahasa Inggris. 


Saya banyak belajar dari mereka. Tapi tidak akan saya bahas sekarang. Mungkin di postingan akhir tahun nanti. Satu yang pasti, mereka banyak menginspirasi saya. Karena mereka jugalah hingga terbersitlah ide yang mempertemukan saya dengan blogger- blogger buku Indonesia, yang ternyata makin banyak dan tetap konsisten mengupdate blog mereka dengan review buku yang genre sangat beragam.


Entah kapan tepatnya, yang jelas sekarang saya punya komunitas baru. Blogger Buku Indonesia namanya. Senang rasanya menemukan teman-teman baru yang punya hobi yang sama. Kalau pake hastag yang beberapa hari ini muncul di timeline, saya akan menulis #BerkatNgeblog saya ketemu banyak teman dan sahabat  baru. 




Tulisan ini untuk memperingati Hari Blogger Nasional dan sekali lagi untuk membuktikan bahwa blog bukan trend sesaat. :D


**Big Hugs to all BBI-ers | you know who you are ;)


Tuesday, October 25, 2011

Review: Girls Under Pressure - Jacqueline Wilson



Aku pusing dengan berat badanku. Tubuhku bulat berisi dan pipiku tembam. Kata orang-orang aku tidak gemuk, tetapi cermin kan tidak pernah bohong!
 Jadi kuputuskan untuk berdiet gila-gilaan. Aku keranjingan berenang dan aerobik. Coba bayangkan! Ellie-Elephant berolahraga! Namun, aku merasa diet dan olahraga saja tidak cukup. Aku butuh cara lain untuk bisa kurus dengan cepat.
 ~~~
Kalau saja mereka tidak mencantumkan nama sang penulis di sampul depan, saya tidak akan pernah tahu kalau Girls Under Pressure adalah salah satu karya Jacqueline Wilson. Karena mata saya sudah akrab dengan Ilustrasi yang dibuat Nick Sharrat. Begitu pula bentuk font yang dipilih sebagai judul buku. Buku ini sama sekali tidak menyisakan sedikit pun sentuhan yang biasanya saya temukan di semua buku Jacqueline Wilson yang telah saya baca. Di beberapa halaman awal saya merasa ada yang hilang.

Girls Under Pressure adalah buku kedua dari serial Girls. Isu yang diangkat oleh Jacqueline Wilson di buku ini adalah Anoreksia dan Bulimia, dua kelainan pola makan yang tidak jarang terjadi pada perempuan, remaja maupun dewasa.  Mereka merasa dirinya sangat gemuk sehingga memutusakan untuk diet berlebihan bahkan tidak menyentuh  makanan sama sekali. Kalaupun akhirnya mereka makan, pada akhirnya semua yang telah ditelan akan mereka paksa untuk keluar lagi. Seperti masalah-masalah serius lainnya,  masalah berat badan dan diet berlebihan ini berhasil dikemas oleh Jacqueline Wilson dalam cerita sederhana. Sehingga para pembaca terutama target pembaca  tidak akan mengalami kesulitan untuk memahami pesan yang disampaikan. Itu juga yang menjadi alasan mengapa saya tidak pernah bosan dengan buku-buku yang ditulisnya

Buku ini ditulis dari sudut pandang Ellie, seorang siswa SMP. Awalnya tidak mudah untuk membedakan Ellie dan kedua sahabatnya, Nadien dan Magda. Saya seharusnya lebih dulu membaca seri yang pertama. Sehingga tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk masalah yang satu ini. Tidak hanya ketiga gadis remaja itu,  di bab awal saya sempat menyangka kalau Eggs, adik Ellie, sebagai binatang peliharaan keluarga mereka.Untung saja hal ini tidak berlangsung lama. Karena pada akhirnya semua karakter dipaparkan dengan jelas. Kecuali Eggs. Kalau bukan karena Wikipedia, saya akan tetap menganggap Eggs sebagai anak perempuan

Sekalipun menjadi karakter utama, Ellie tidak lantas menjadi karakter yang saya sukai. Anak perempuan yang memiliki bakat di bidang seni ini justru membuat saya kesal sejak awal. Salah satunya karena sifatnya yang keras kepala. Tak seorang pun yang dapat membuatnya yakin bahwa tak ada yang salah dari dirinya sampai satu insiden besar terjadi. Namun sifatnya itu juga yang membuat saya penasaran sampai kapan ia akan bertahan. Karena ketika saya berpikir ia telah sadar akan kekeliruannya, ternyata ia masih saja melakukan diet gila-gilaan. Terlepas dari semua itu, saya menikmati saat Ellie menghabiskan waktu bersama Nadine dan Magda ataupun saat ia  berada di kelas seni.

Mengenai karakter lain,  saya tertarik pada sosok Eggs. Sayangnya hubungan Ellie dan Eggs tidak begitu menyenangkan. Ellie kerap menganggap Eggs sebagai pengganggu kecil. Sering kali komentar-komentar adik kecilnya itu membuat Ellie merasa kesal. Namun kalimat-kalimat itulah yang membuat saya jadi ingin membaca buku ini  dalam bahasa aslinya. Oh iya, Kalau bukan dari Wikipedia, saya akan tetap berpikir kalau Eggs itu anak perempuan.

Dari Wikipedia, tahun 2003 buku-buku yang bercerita tentang kisah Ellie ini ternyata diangkat menjadi drama seri dan telah tayang dalam dua musim. Satu hal yang sangat disayangkan, sosok Ellie tidak dibuat seperti halnya di buku. Walau begitu saya tetap ingin nonton satu episode. Penasaran ingin lihat celoteh Eggs.

Cover
Tidak ada masalah dengan pilihan warna, font ataupun ilustrasi yang dipilih Atria. Ilustrasi yang ada di dalam buku pun digambarkan dengan baik. Saya tidak bisa menahan untuk tidak tertawa kecil setiap kalu melihat gambar yang dibuat oleh Ony Marga, sang ilustator,  untuk mengilustrasikan Ellie. Namun kalau boleh memilih, saya lebih suka tidak ada satu pun ciri khas yang hilang dari buku-buku karya Jacqueline Wilson.

4/5


Girls Under Pressure
Judul Indonesia: Tekanan Batin
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerbit: Atria
Tebal: 271 hal
Cetakan: I, Oktober 2009



Friday, September 30, 2011

Review: Blue Bloods (Darah Biru) - Melissa de la Cruz


Spoiler Alert!!!

Blue Bloods, buku ini diceritakan dari sudut pandang Madelaine “Mimi Force, Bliss Llewellyn, dan Schuyler Van Alen. Mereka membawa saya menulusuri beberapa tempat penting di Manhattan, New York. Dari The Bank, sebuah gedung tua yang disulap menjadi klab malam sampa Duchesne, sebuah sekolah swasta tempat mereka belajar. Sejarah keluarga pun tak lupa mereka ungkapkan. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengenal tiganya.

Mimi Force, seorang gadis enam belas tahun yang sangat populer.. Ketenarannya tidak hanya di sekolah. Bagi para wartawan New York, wajahnya yang cantik dan menarik tidak lagi asing. Ayah dan ibunya,  Charles Force dan Trinity Burden,  dua tokoh penting dalam dunia media dan masyarakat kelas atas di New York, membuat hal itu menjadi mungkin. Kepopuleran itu juga membuat hampir semua siswa perempuan di Duchesne ingin menjadi dayang-dayangnya. Seakan tak pernah ada masalah dengan sikapnya yang angkuh.

Bliss sendiri adalah murid pindahan. Seperti halnya Mimi, ayah Bliss juga memiliki pengaruh penting. Keadaan ini pula yang membuat ia mengenal Mimi  dan menjadi bagian dari kehidupannya yang glamor. Sayangnya itu tidak membuatnya betah.  Bahkan setelah berbulan-bulan sejak kepindahannya ke Duchesne, ia masih tetap saja tidak menyukai kehidupannya yang baru.

Berbeda dengan Mimi dan Bliss, Schuyler terlahir dari keluarga yang lebih sederhana. Walaupun memiliki sejarah keluarga yang panjang dan penting di masa lalu, ternyata itu tak cukup. Ia tetap saja menjadi kalangan yang tersisih di Duchesne. Tapi itu tak membuatnya kecil hati. Schuyler tidak kesulitan menjalani kehidupannya. Lagipula ia masih memiliki Oliver, sahabatnya sejak kecil. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Walau terlahir dari latar belakang yang berbeda, Darah Biru menjadi benang merah yang menghubungkan ketiganya. Darah Biru adalah istilah yang digunakan para vampir untuk menyebut diri mereka. Sebuah pertemuan Komite mengungkapkan semua hal tersebut. Dari pertemuan untuk kalangan terbatas itu semua terungkap. Tidak seperti Schuyler dan Bliss yang baru mengetahui fakta tersebut, Mimi telah mengetahuinya setahun lalu. Namun ia tak pernah menyangka ketika mengetahui bahwa Schuyler, anak perempuan yang selama ini dipandangnya sebelah mata adalah bagian dari kalangan elite yang selama berabad-abad menetap di New York. Bagi Bliss, apa yang terungkap di pertemuan Komite adalah jawaban dari semua pertanyaan yang membuatnya bingung selama beberapa minggu belakangan. Walau terkejut, ia tak dapat menutupi kelegaan yang luar biasa.

Tak berbeda jauh dengan Bliss, Schuyler nyaris tidak dapat mempercayai apa yang didengarnya. Namun dari penjelasan Mrs. Duppont sang pemimpin Komite, ia akhirnya mengerti akan kejanggalan yang ia rasakan. Rasa Munculnya Beauty, anjing peliharaanya, secara tiba-tiba bukanlah suatu kebetulan. Kemampuannya melihat dalam gelap atau bagaimana badannya tetap kurus kini tak lagi membuatnya heran.

Lebih banyak rahasia terungkap sejak pertemuan Komite berakhir. Tidak hanya dari Neneknya, Oliver, pun ternyata menyimpan rahasia penting. Yang mengejutkan adalah ketika mengetahui banyak hal di balik kematian seorang anak perempuan di sekolahnya.  Insiden yang beberapa minggu lalu membuat gempar  itu bukan hal yang pertama kali menimpa kalangan Darah Biru. Kemungkinan terjadi hal yang sama dan lebih parah sangat besar. Keberadaan mereka terancam.  Walau oleh anggota dewan tertinggi dari kalangan membantah keberadaan berita ini, namun mereka tak dapat menutupi,  bahwa di luar sanaada sekelompok besar yang menamai diri mereka Darah Perak yang siap membunuh mereka kapan saja.



~~


Senang rasanya ketika mengetahui buku ini selesai diterjemahkan. Rating yang tinggi dari beberapa blogger luar membuat saya penasaran dengan cerita di dalamnya. Bintang-bintang yang mereka berikan untuk buku ini pun ternyata tidak bohong. Ide yang dituangkan Melissa dalam setiap babnya sangat menarik. Ia tidak ragu untuk melahirkan tokoh vampir yang berbeda. Di  dunia baru yang ia ciptakan, matahari, bawang putih, ataupun salib hanyalah mitos belaka. Sosok kejam Count Dracula pun hanyalah rekaan semata. Walau pada bagian awal siklus hidup para vampir pun dituliskan Melissa sedikit membingungkan, namun semua semakin jelas ketika saya masuk ke bab-bab berikutnya. Bagian yang paling saya sukai adalah ketika membaca bab yang bercerita tentang Darah Biru, Darah Perak dan Darah Merah

Melissa juga berhasil menghidupkan beberapa karakter dalam buku ini. Salah satunya adalah Mimi. Dari awal sampai akhir, saya dibuat kesal dan jengah dengan semua tingkahnya. Namun peran yang ia mainkan menjadi salah satu bagian yang penting dalam buku ini. Saya juga menyukai persahabatan yang terjalin Oliver dan Schuyler. Sikap misterius para Dewan Darah Biru ataupun Cordelia, nenek Schuyler juga yang membuat saya tetap penasaran.

Yang tidak kalah penting, hasil terjemahan Blue Bloods tidak sekalipun membuat dahi saya berkerut. Melahap Blue Bloods yang diterjemahkan oleh pihak Gagasmedia, membuat saya tidak ragu untuk membaca Masquerade. Buku kedua dari seri ini yang juga telah diterbitkan Gagasmedia. Semoga empat buku berikutnya akan secepatnya menyusul. 

Namun, beberapa catatan kaki yang terdapat di beberapa bab awal membuat saya sedikit terganggu saat membaca buku ini. Ada beberapa hal yang menurut saya tidak membutuhkan penjelasan tambahan. Entah apakah catatan kaki ini memang tertera dalam buku asli ataukah hanya sekedar tambahan yang dibubuhkan sang editor.

Bagi yang menyukai dan tidak pernah bosan dengan buku yang menyajikan sosok vampir, saya merekomendasikan Blue Bloods untuk menjadi bacaan berikutnya.

Cover
Dibanding cover aslinya yang memperlihatkan sebuah leher yang jenjang dengan bekas gigitan vampir, saya jauh lebih suka design dan warna yang dipilih oleh Gagasmedia. Walau saya masih tidak mengerti mengapa ada gambar kunci di sana.


4/5

~~~~

Judul: Blue Bloods 
Judul Indonesia: Darah Biru 
Penulis: Melissa de la Cruz 
Penerjemah: Christine Lianita Tumangkeng 
Editor: Ayuning 
Penerbit: Gagas Media 
Tebal: 351 hal 
Cetakan: I, 30 April 2011