Thursday, December 22, 2011

Review: Please Look After Mom - Kyung Sook Shin


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.
(Goodreads)
~~~

That you don't know what you've got til it's gone.
~Counting Crows~

Tidak perlu membaca sinopsis di belakang buku untuk tahu tema apa yang diusung buku ini. Dari judul yang tertera di sampul depan, saya dengan mudah bisa menebaknya. Dan tidak perlu berpikir lama untuk membawa pulang buku ini dan menjadikannya salah satu penghuni rak buku di rumah. Yah, semua buku yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya seperti For One More Day yang ditulis Mitch Albom, memang selalu punya tempat khusus. Seperti halnya fantasi dan fiksi sejarah, mereka punya daya tarik tersendiri.

Park So-Nyo, wanita berusia 69 tahun, hilang. Terakhir ia terlihat di stasiun kereta Seoul. Ibu, istri sekaligus adiki ipar ini tak dapat ditemukan di mana pun. Ratusan selebaran telah dicetak dan  disebar. Beberapa orang yang mengaku telah melihat wanita paruh baya tersebut. Namun hasilnya nihil. Park So-Nyo tak juga ditemukan. Tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar melihat wanita, dengan baju warna biru, jaket putih, dan rok lipit krem, ataukah hanya mengincar imbalan yang dijanjikan.

Kesedihan membayangi setiap anggota keluarga. Satu demi satu kenangan akan sosok Park So-Nya pun berkelebat di benak mereka. Perasaan bersalah mulai menghantui dan pada akhirnya menyisakan rasa kehilangan dan penyesalan yang mendalam. Dari penggalan ingatan mereka,  sosok Park So-Nyo menjadi semakin jelas. Tidak hanya sifat dan kebiasaan namun bagaimana keinginan dan mimpinya terungkap dengan jelas.

Dari Chi-hon, Hyong-chol dan anak perempuan yang tak disebut namanya, Park So-Nyo adalah ibu yang kuat dan tak pernah mengenal kata lelah.  Pekerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya tidak membuatnya mengeluh. Dari dua bab pertama, tergambar dengan jelas betapa besar kasih sayang yang diberikan Park So-Nyo kepada semua anak-anaknya. Bahkan ketika mereka semua telah meninggalkan rumah. Perhatian yang diberikan sama sekali tidak berkurang. Suami, kakak dan adik ipar pun mendapatkan hal yang sama walau dengan cara yang berbeda. Seakan tak peduli apa yang telah dan tengah terjadi. 

Dari semua potongan kisah itu, bagian yang paling saya sukai adalah bagian yang menceritakan bagaimana kedekatan Park So-Nyo dengan adik ipar yang seakan dianggap sebagai anaknya sendiri. Bab yang menceritakan sisi lain dari Park So-Nyo yang tidak mengejutkan suami dan anak-anaknya, namun saya sebagai pembaca,  juga menjadi salah satu bagian yang terbaik dari buku ini.

Awalnya saya sempat bingung dari sudut pandang siapa buku ini bercerita. Terutama di bab satu dan dua. Namun ketika beralih ke bab tiga dan seterusnya, semakin jelas siapa sang narator. Salut atas kepiawaian Kyung Sook Shin, sang penulis. Tidak hanya cara ia menyusun  semua cerita, tapi juga bagaimana menciptakan dan menghidupkan karakter demi karakter dan yang paling penting adalah ia mampu menyisipkan emosi demi emosi di setiap babnya. Walau telah menyelesaikan buku ini beberapa hari yang lalu, buku ini masih menyisakan banyak kesan.  Saya masih ingat bagaimana kecemasan dan keputusaaan Hyong-chol ataupun rasa bersalah Chi-hon. Untuk sebuah buku fiksi - drama keluarga, buku ini benar-benar menguras emosi.

Tidak perlu khawatir untuk masalah terjemahan. Saya sama sekali tidak merasa kesulitan untuk memahami setiap kalimat. Kalau buku ini bebas typo, pasti akan  lebih menyenangkan membacanya.

Cover
Di Goodreads, saya menemukan beragam sampul. Desain cover yang dipilih pihak Gramedia tidak kalah dengan yang diterbitkan di negara-negara lain. Namun dari semua cover yang ada, saya paling suka cover yang diterbitkan di China.




5/5

Judul Indonesia: Ibu Tercinta
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 296 hlm