Wednesday, December 28, 2011

Review: Sweetly - Jackson Pearce


Dua belas tahun lalu, Gretchen, saudari kembarnya, dan Ansel, abangnya berjalan-jalan ke hutan. Mereka bertemu dengan makhluk mengerikan. Entah penyihir atau monster mereka tidak tahu. Mereka tunggang langgang melarikan diri dari kejaran si makhluk. Gretchen dan Ansel selamat, tetapi saudari kembarnya lenyap.

Beberapa tahun kemudian, mereka pindah ke Live Oak, sebuah kota yang nyaris ditinggalkan penduduknya. Keduanya tinggal di rumah Sophia Kelly, pemilik toko cokelat yang jelita. Gretchen dan Ansel mulai melupakan masa lalu mereka yang kelam, hingga Gretchen bertemu Samuel. Dia berkata kalau penyihir masih bersembunyi, mengintai dari hutan, memangsa para gadis setiap kali Sophia menggelar festival cokelat.

Gretchen memutuskan untuk melawan. Dia ingin tahu kenapa saudari kembarnya yang lenyap sementara dia selamat. Dan dia meyakini satu hal: monster itu akan datang lagi, dan ia takkan pergi sebelum kenyang. (Goodreads)
~~~

Tak Semua Hal Semanis Kelihatannya

Setelah menulis Sisters Red yang bercerita tentang kakak beradik Scarlett dan Rosie berburu serigala jadi-jadian, Jackson Pearce kembali dengan Sweetly. Kalau di buku sebelumnya ia memilih Red Riding Hood, di Sweetly Jackson Pearce menulis cerita berdasarkan kisah Hansel, Gretel dan penyihir lengkap dengan rumah kue jahenya.

Awalnya saya berpikir akan kembali menemukan  sosok Scarlet, Rosie dan Silas. Namun petualangan berburu Fenris kali ini membawa saya ke karakter-karakter baru. Jadi bagi yang belum membaca Sisters Red, tidak perlu khawatir. Cerita Sisters Red dan Sweetly berdiri sendiri. Walau keduanya masih terhubung dengan makhluk mengerikan, Fenris.

Ansel, Gretchen, Sophia dan Sam adalah empat karakter penting di buku ini. Semua cerita dilihat dari sudut pandang Gretchen. Rasanya tidak ada yang istimewa dengan karakter yang kerap bercerita bagaimana kesedihan yang ia alami.  Rasa takut dan trauma terhadap hutan juga tidak tampak. Sosok Gretcehn menjadi lebih hidup ketika ia bertemu Sam dan terlibat dalam perburuan Fenris. Terlebih ketika ia berusaha untuk mengungkap rahasia yang disembunyikan Sophia. Sosok Ansel, kakak laki-laki Gretchen, karakter yang diciptakan nyaris tanpa emosi sama sekali. Karena itu juga, kakak beradik rasanya menjadi kata yang tidak pantas diberikan pada Ansel dan Gretchen. Karena sejak halaman pertama mereka tidak nampak seperti kakak beradik. Walau Gretchen berkali-kali menyebut Ansel sebagai kakaknya di setiap kesempatan.  Kesan yang saya tangkap, mereka lebih mirip teman seperjalanan. Tidak lebih.

Dibanding ikatan kakak beradik itu ataupun jalinan kasih antara Sophia dan Ansel, setiap bab yang menceritakan bagaimana hubungan Gretchen dan Sam jauh lebih menarik. Senang rasanya membaca  semua hal yang terjadi pada keduanya. Sam jugalah yang membuat keberadaan Gretchen lebih terasa.

Sophia, perempuan cantik pemilik toko cokelat yang punya segudang rahasia. Satu-satunya yang membuat saya sangat penasaran. Dari cokelat-cokelat yang ia buat sampai semua hal yang ia tutup-tutupi. Dugaan demi dugaan bermunculan. Semua kebaikan dan sikap ramahnya menimbulkan sedikit ketakutan. Kalau-kalau semua hanya topeng. Saya sempat bertanya-tanya kapan ia akan membuka kedok dan mulai melakukan hal-hal jahat pada Ansel dan Gretchen. Sikap Sophia yang misterius nyaris membuat saya percaya dengan semua tuduhan yang terlontar dari Sam ataupun beberapa warga Live Oak yang tersisa. Hal itu juga yang membuat saya tidak sabar untuk sampai ke halaman akhir

Fenris tidak mendapat banyak peran di sini. Hanya terdapat beberapa bab yang menceritakan pertarungan yang melibatkan makhluk jadi-jadian ini. Kesan seram, buas, licik dan kejam masih terasa. Sayangnya mereka terlihat jauh lebih lemah dan sangat mudah dilumpuhkan. Walau tidak sering muncul, namun kehadiran mereka di bab-bab terakhir cukup seru.


Cover
Walau ada perbedaan warna dengan cover aslinya, tetap suka ngeliatnya. Desain sampul aslinya emang keren.

4/5

Judul: Sweetly
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Atria
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 408 halaman

Monday, December 26, 2011

Review: Sisters Red - Jackson Pearce

SERIGALA ITU MEMBUKA RAHANGNYA YANG PANJANG.
DERETAN GIGI TAJAM MENDEKAT KE ARAHNYA.
SEBUAH PIKIRAN BERKECAMUK DI DALAM BENAK SCARLETT:
CUMA TINGGAL AKU SENDIRI YANG TERSISA UNTUK BERTEMPUR.
JADI, SEKARANG AKU HARUS MEMBUNUHMU.

Scarlett March hidup untuk berburu Fenris, manusia serigala yang telah mengambil matanya ketika gadis itu berusaha melindungi adiknya, Rosie, dari sebuah serangan brutal. Dengan bersenjatakan sebilah kapak dan tudung merah darah, Scarlett merupakan ahli dalam hal memancing dan membasmi para serigala jadi-jadian. Dia bertekad untuk melindungi para gadis muda lainnya dari kematian yang mengerikan. Jantungnya yang berdegup kencang tidak akan pernah berhenti berpacu sebelum seluruh manusia serigala tewas.

Rosie March dulu mengira hubungan dirinya dengan sang kakak tidak akan pernah retak. Karena merasa berutang nyawa pada Scarlett, Rosie pun ikut berburu dengan ganas di samping kakaknya itu. Namun, bahkan ketika jumlah gadis muda yang menjadi korban semakin meningkat dan ketika kekuatan para Fenris terasa semakin bertambah, Rosie memimpikan sebuah kehidupan yang tidak melibatkan para manusia serigala. Dia mendapati dirinya tertarik pada satu-satunya sahabat Scarlett, Silas, seorang pandai kayu yang sangat mematikan dalam menggunakan kapak. Namun, apakah mencintai pria itu berarti mengkhianati kakaknya serta segala hal yang selama ini mereka perjuangkan? (Goodreads)
~~~

Kalau bukan karena Sweetly, buku kedua dari seri Fairytale Retelling, mungkin Sisters Red akan tetap berada di tumpukan.

Kata-kata "Dua Saudari Bertudung Merah" yang tertera di sampul depan ternyata tidak serta merta membuat saya teringat akan salah satu dongeng legendaris yang ditulis ulang oleh Grimm Bersaudara. Bahkan ketika akhirnya memutuskan untuk membaca sinopsis di belakang buku. Yang ada malah dugaan tentang cerita perburuan serigala jadi-jadian biasa. Semua lebih dikarenakan Jackson Pearce, sang penulis, membuat cerita baru yang seru dan tidak kalah menarik dengan dongeng aslinya. Saya baru dapat menarik garis merah setelah memulai petualangan Scarlett dan Rosie dan bertemu dengan Oma March, tukang kayu, pemburu dan Fenris, sang serigala jadi-jadian.

Scarlett dan Rosie, dari sudut pandang merekalah cerita Sisters Red yang berplot lambat, bergulir. Jackson Pearce menghidupkan keduanya dengan sangat baik. Tidak ada kesulitan untuk membedakan keduanya. Sifat,karakter, emosi keduanya dengan mudah dapat dipahami. Bagaimana protektifnya Scarlett ataupun kesalnya Rosie saat mengetahui dirinya tidak diikutsertakan dalam perburuan Fenris, semua dipaparkan dengan jelas. Bahkan obsesi Scarlett terhadap makhluk yang berbahaya ini pun sekali waktu membuat saya sedikit kesal.

Hubungan Scarlet dan Rosie sebagai dua kakak beradik adalah bagian yang paling saya suka. Keduanya seakan terikat satu sama lain. Terlihat bagaimana mereka seakan bisa "membaca" perasaan dan pikiran satu sama lain. Walau semakin lama, kedekatan mereka itu membuat saya cemas. Setiap babnya menyisipkan kekhwatiran akan adanya bagian dari cerita perjalanan berburu Fenris yang nantinya memporak-porandakan hubungan mereka berdua. Salah satunya saat Silas, seorang pemburu yang juga teman masa kecil mereka, muncul. Untungnya hal yang paling saya takutkan tidak terjadi. Mengenai Silas sendiri, saya tidak begitu terkesan dengan karakter pria yang satu ini.

Fenris, serigala jadi-jadian, mendapat porsi perhatian saya setelah kakak beradik bertudung merah. Deskripsi yang diberikan untuk Fenris oleh Jackson Pearce lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa mereka adalah makhluk kejam, penuh tipu daya, buas dengan rasa lapar yan tak pernah terpuaskan. Walaupun mereka tetaplah sosok yang misterius. Kawanan serigala jadi-jadian yang membuat saya penasaran. Gemas rasanya ketika hasil pencarian Scarlet, Silas dan Rosie ternyata tidak mampu mengungkap seluruh cerita dibalik sosok yang tak mengenal belas kasihan ini. Saya berharap ada penjelasan lebih lanjut mengenai mereka,termasuk pembagian kelompok mereka berdasarkan tato yang terdapat pada pergelangan tangan mereka. Sayangnya, hingga kisah Scarlett dan Rosie berakhir, hal-hal mengenai Fenris tidak terungkap dengan detail.

Satu hal yang paling seru dari buku ini adalah bab-bab yang menuliskan pertarungan antara Scarlett, Silas ataupun Rosie dengan para serigala. Jackson Pearce nampaknya tidak kesulitan untuk menuliskan setiap adegannya dengan detail. Begitu pula dengan sang penerjemah. Saat membaca semua kalimat yang menceritakan perkelahian, rasanya seperti melihatnya dengan mata kepala sendiri. Seru!

Namun dari semua hal yang saya ungkapkan di atas, ada sedikit menganjal. Yaitu tidak terdapatnya bagian yang menceritakan adanya keterlibatan serius dari pihak berwajib. Mengingat banyaknya korban yang berjatuhan karena Fenris yang lapar dan tersebar di seluruh penjuru kota. Seakan semua korban yang hilang dan tewas karena mahkluk jadi-jadian bukan masalah besar.

Cover
Penerbit Atria menggunakan cover yang sama dengan cover buku aslinya. Keren. Saya suka dengan perpaduan warna hitam dan merahnya. Baru sadar kalau di cover juga ada penampakan si rakus Fenris.

Judul Indonesia: Dua Saudari Bertudung Merah
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Ferry Halim
Editor: Ida Wadji
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 324 hlm

Friday, December 23, 2011

Review: Presiden Prawiranegara - Akmal Nasery Basral


19 Desember 1948. Agresi Militer II Belanda terhadap Ibu Kota Yogyakarta menyebabkan Presiden Sukarno ditangkap. Wakil Presiden Mohammad Hatta yang cemas dengan kondisi itu segera mengirimkan tlegram kepada Menteri Kemakmuran RI, Syafrudin Prawiranegara, yang sedang berada di Bukittinggi untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Ternyata benar, tak lama kemudian Sukarno-Hatta pun ditangkap Belanda, mereka diasingkan ke Bangka. Pemerintahan resmi lumpuh. Di sebuah dangau kecil yang belakangan dikenal sebagai "Dangau Yaya", Syafruddin mengumumkan berdirinya PDRI, pada Rabu 22 Desember 1948.

Dari sudut pandang seorang pemuda pengikutnya, Kamil Koto, mengalirlah kisah Presiden Syafruddin Prawiranegara, yang selama 207 hari nyaris melanjutkan kemudi kapal besar bernama Indonesia yang sedang oleng, dan nyaris karam. Sebuah perjuangan yang mungkin terlupakan, tetapi sangat krusial dalam memastikan keberlangsungan Indonesia.
(Goodreads)
 ~~~

Presiden Prawiranegara, dua kata yang sangat mengelitik keingintahuan saya.  Bagaimana tidak, dari apa yang saya pelajari di bangku sekolah, urutan Presiden sejak kemerdekaan sampai hari ini, nama Prawiranegara tidak pernah tercatat.  Inilah yang menjadi alasan mengapa bulan Agustus kemarin saya memilih buku ini sebagai bahan bacaan.

Nama Akmal Nasery Basral yang tertulis jelas di sampul buku, juga sangat berpengaruh dalam pemilihan buku ini.  Saya sangat penasaran bagaimana cara sang penulis, yang pernah membuat saya berdecak kagum beberapa tahun lalu saat membaca Imperia, meramu semua fakta dan  dan sedikit rekaan cerita dan kemudian menyungguhkannya dalam bentuk sebuah novel sejarah. Dan sekali lagi, kepiawaiannya merajut kata-kata terbukti di buku ini. Buku yang membuka mata saya akan sebuah peristiwa yang tidak dijelaskan secara gamblang di buku sejarah yang saya pelajari selama sekolah.

Presiden Prawiranegara. Kalau tidak membacanya, saya tidak akan pernah tahu siapa Syafruddin Prawiranegara. Sebagai seseorang yang dulu menempatkan Sejarah sebagai salah satu pelajaran favorit, buku ini membuat saya malu. Apa yang saya pelajari tentang Agresi Militer II Belanda di sekolah dulu tidak bersisa kecuali tanggal dan tempat terjadinya insiden. Saya sama sekai tidak ingat keberadaan PDRI. Nama Syafruddin Prawiranegara pun tidak melekat di benak. Padahal pemimpin PDRI memiliki banyak peranan penting baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Menelusuri bab demi bab buku ini , saya seperti kembali duduk di kelas sejarah. Semua penuturan sang narator, Kamil Koto, mengingatkan pada apa-apa yang nyaris saya lupakan. Tidak hanya apa yang sesungguhnya terjadi saat serangan mendadak tersebut, tapi juga sampai pada dampak yang ditimbulkan. Peristiwa yang terjadi Saya pun diingatkan lagi bagaimana sampai bangsa ini terlibat perundingan demi perundingan. Yang tidak kalah penting adalah pengenalan lebih dalam tentang sosok Syafruddin Prawiranegara, sang pemimpin PDRI.

Satu hal yang saya sayangkan, buku ini tidak menjelaskan dengan detail bagaimana proses penyerahan kembali kekuasaan dari PDRI. Rasanya tidak imbang. Karena di bagian awal, dipaparkan dengan jelas bagaimana kondisi pemerintahan saat agresi terjadi sampai pembentukan PDRI di Bukittinggi.

Yang membuat miris adalah ketika membaca fakta tentang bagaimana kehidupan Syafruddin Prawiranegara di pemerintahan yang baru. Sedih rasanya ketika mengetahui semua yang dialami oleh tokoh yang telah berjuang mempertahankan dan menyelamatkan Republik yang saat itu berada di ujung tanduk.

Saya berharap di tahun-tahun mendatang, akan lebih banyak buku-buku seperti ini. Sehingga genre fiksi sejarah tidak hanya didominasi oleh buku-buku terjemahan.

Cover
Warna dan desain sampul bukan dua hal yang membuat saya memilih buku ini.


Judul: Presiden Prawiranegara; Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: 370 halaman

Thursday, December 22, 2011

Review: Please Look After Mom - Kyung Sook Shin


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.
(Goodreads)
~~~

That you don't know what you've got til it's gone.
~Counting Crows~

Tidak perlu membaca sinopsis di belakang buku untuk tahu tema apa yang diusung buku ini. Dari judul yang tertera di sampul depan, saya dengan mudah bisa menebaknya. Dan tidak perlu berpikir lama untuk membawa pulang buku ini dan menjadikannya salah satu penghuni rak buku di rumah. Yah, semua buku yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya seperti For One More Day yang ditulis Mitch Albom, memang selalu punya tempat khusus. Seperti halnya fantasi dan fiksi sejarah, mereka punya daya tarik tersendiri.

Park So-Nyo, wanita berusia 69 tahun, hilang. Terakhir ia terlihat di stasiun kereta Seoul. Ibu, istri sekaligus adiki ipar ini tak dapat ditemukan di mana pun. Ratusan selebaran telah dicetak dan  disebar. Beberapa orang yang mengaku telah melihat wanita paruh baya tersebut. Namun hasilnya nihil. Park So-Nyo tak juga ditemukan. Tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar melihat wanita, dengan baju warna biru, jaket putih, dan rok lipit krem, ataukah hanya mengincar imbalan yang dijanjikan.

Kesedihan membayangi setiap anggota keluarga. Satu demi satu kenangan akan sosok Park So-Nya pun berkelebat di benak mereka. Perasaan bersalah mulai menghantui dan pada akhirnya menyisakan rasa kehilangan dan penyesalan yang mendalam. Dari penggalan ingatan mereka,  sosok Park So-Nyo menjadi semakin jelas. Tidak hanya sifat dan kebiasaan namun bagaimana keinginan dan mimpinya terungkap dengan jelas.

Dari Chi-hon, Hyong-chol dan anak perempuan yang tak disebut namanya, Park So-Nyo adalah ibu yang kuat dan tak pernah mengenal kata lelah.  Pekerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya tidak membuatnya mengeluh. Dari dua bab pertama, tergambar dengan jelas betapa besar kasih sayang yang diberikan Park So-Nyo kepada semua anak-anaknya. Bahkan ketika mereka semua telah meninggalkan rumah. Perhatian yang diberikan sama sekali tidak berkurang. Suami, kakak dan adik ipar pun mendapatkan hal yang sama walau dengan cara yang berbeda. Seakan tak peduli apa yang telah dan tengah terjadi. 

Dari semua potongan kisah itu, bagian yang paling saya sukai adalah bagian yang menceritakan bagaimana kedekatan Park So-Nyo dengan adik ipar yang seakan dianggap sebagai anaknya sendiri. Bab yang menceritakan sisi lain dari Park So-Nyo yang tidak mengejutkan suami dan anak-anaknya, namun saya sebagai pembaca,  juga menjadi salah satu bagian yang terbaik dari buku ini.

Awalnya saya sempat bingung dari sudut pandang siapa buku ini bercerita. Terutama di bab satu dan dua. Namun ketika beralih ke bab tiga dan seterusnya, semakin jelas siapa sang narator. Salut atas kepiawaian Kyung Sook Shin, sang penulis. Tidak hanya cara ia menyusun  semua cerita, tapi juga bagaimana menciptakan dan menghidupkan karakter demi karakter dan yang paling penting adalah ia mampu menyisipkan emosi demi emosi di setiap babnya. Walau telah menyelesaikan buku ini beberapa hari yang lalu, buku ini masih menyisakan banyak kesan.  Saya masih ingat bagaimana kecemasan dan keputusaaan Hyong-chol ataupun rasa bersalah Chi-hon. Untuk sebuah buku fiksi - drama keluarga, buku ini benar-benar menguras emosi.

Tidak perlu khawatir untuk masalah terjemahan. Saya sama sekali tidak merasa kesulitan untuk memahami setiap kalimat. Kalau buku ini bebas typo, pasti akan  lebih menyenangkan membacanya.

Cover
Di Goodreads, saya menemukan beragam sampul. Desain cover yang dipilih pihak Gramedia tidak kalah dengan yang diterbitkan di negara-negara lain. Namun dari semua cover yang ada, saya paling suka cover yang diterbitkan di China.




5/5

Judul Indonesia: Ibu Tercinta
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 296 hlm

Wednesday, December 21, 2011

Guest Post: "Make It Or Break It?" by Kelly York

In my writing folder on my computer, I have quite the collection of folders titled "MS - (working title here).” Some of these are nothing more than text documents of ideas. Random character names, notes on world settings, character relationships, or pictures. Some are plots with no characters attached. Some are, in fact, actual stories! They have a beginning! They have action and development!

And I'll probably never touch them again.

I hate saying "I'm abandoning this idea," because I usually don't abandon something entirely. More often than not I abandon the plot, but I bring the characters with me and reuse them elsewhere. (In fact, I've been etching out a story in my head for some time involving two characters. It’s entirely different from the original story and plot I started writing for them. Not even the same time period/setting/genre.)


This probably has to do with the fact that I'm very character-oriented. Plot and stories aren't the easy or fun part for me: the characters are. I never would have finished writing HUSHED if it weren't for the fact that I adored Archer, loved Evan, and loved to hate Vivian. I have to love my characters on some level or nothing will get done.

I've also noticed a trend: I can start a new story and be on a roll with it until I hit around 10,000 words. The 10k mark seems to be my 'make it or break it' line. If I stop there, I'm never going back to that story. If I can move past it, upward to 20,000 words, I'm going to finish it. (I do not have a single ‘abandoned’ MS in those folders over 10k.)

Currently I have not one, but two WIPs both over 10k. One is over 20k, and the other is nearing that mark.

Do any of you have a collection of unfinished stories you can't bring yourself to just...delete? Do you reuse and recycle bits and pieces from old stories no one will ever see into new ones, or do you have to start completely fresh every time? And what is your make-or-break point (if you have one)?

~~~

Hushed - by Kelley York
Title: Hushed
Author: Kelley York
Genre: YA Thriller
Length: Novel
Launch Date: December 2011
ePub ISBN: 978‐1‐937044‐73‐2 | Print ISBN: 978‐1‐937044‐74‐9

Published December 6th 2011 by Entangled Publishing 



He’s saved her. He’s loved her. He’s killed for her.

Eighteen-year-old Archer couldn’t protect his best friend, Vivian, from what happened when they were kids, so he’s never stopped trying to protect her from everything else. It doesn’t matter that Vivian only uses him when hopping from one toxic relationship to another—Archer is always there, waiting to be noticed.

Then along comes Evan, the only person who’s ever cared about Archer without a single string attached. The harder he falls for Evan, the more Archer sees Vivian for the manipulative hot-mess she really is.

But Viv has her hooks in deep, and when she finds out about the murders Archer’s committed and his relationship with Evan, she threatens to turn him in if she doesn’t get what she wants… And what she wants is Evan’s death, and for Archer to forfeit his last chance at redemption.



Grab the book at Amazon or  Barnes & Nobel

~~~

About the Author

Kelley was born and raised in central California, where she sRll resides with her lovely
wife, daughter, and an abundance of pets. (Although she does fantasize about moving
across the globe to Ireland.) She has a fascinaRon with bells, adores all things furry – be
them squeaky, barky or meow‐y – is a lover of video games, manga and anime, and likes to pretend she’s a decent photographer. Her life goal is to find a real unicorn. Or maybe
a mermaid.
Within young adult, she enjoys wriRng and reading a variety of genres from
contemporary with a unique twist, psychological thrillers, paranormal/urban fantasy
and horror. She loves stories where character development takes center stage.





Thursday, December 15, 2011

Review: The Graveyard Book by Neil Gaiman

After the grisly murder of his entire family, a toddler wanders into a graveyard where the ghosts and other supernatural residents agree to raise him as one of their own.

Nobody Owens, known to his friends as Bod, is a normal boy. He would be completely normal if he didn't live in a sprawling graveyard, being raised and educated by ghosts, with a solitary guardian who belongs to neither the world of the living nor of the dead. There are dangers and adventures in the graveyard for a boy. But if Bod leaves the graveyard, then he will come under attack from the man Jack—who has already killed Bod's family . . .

Beloved master storyteller Neil Gaiman returns with a luminous new novel for the audience that embraced his New York Times bestselling modern classic Coraline. Magical, terrifying, and filled with breathtaking adventures, The Graveyard Book is sure to enthrall readers of all ages. (Goodreads)

~~~
My Thought
The Graveyard Book brought me to Nobody Owens. Yeah, he got a weird name. But no need to wonder why. Graveyard was the place where he grew up and lived since he was toddler. Nobody Owens, Bod, was also raised by the dead. He even had Silas, a guardian. Bod almost had no friend but them. Since he was young, he has been warned for many things, from the ghouls till the world outside. Bod was fined with all the rules. Afterwards, the curiosity inside him was getting bigger. There was nothing that could stop him even his guardian. He would only quit till he got the answer why. Bod did not understand that her foster parents, guardian, and teachers were trying to protect him. He just did not get it till he faced the man Jack, the fiercest man ever.

I was excited and worried in a same time when The Graveyard Book was in my hand. First, I had been waiting this book for so long. Second, I have never read Neil Gaiman's book in English. Some of his books that I have in my shelves had been translated. Reading some of them (The Anansi Boys and Stardust) made me think that Gaiman has his own writing style that was not easy to understand. I was not sure if I could get what he wrote. You have no idea, how relief I was when I found out that all the words were not that confusing as I thought before.

Bod, the main character in this book, would never become my favorite, if the other characters were not there. Let's say Silas, Mr and Mrs Owen, Elizabeth Hempstock, Scarlett, even the villain, the man Jack. All of them have their own way to make Bod become special. From all them, I loved the connection between Bod and Silas. I saw father and son relationship there. The chapter which involved Bod and Elizabeth Hempstock, the witch, was also a part that I adored. This chapter was also published in anthology Wizards: Magical Tales From the Masters of Modern Fantasy. Scarlett, she was also nice. She impressed me. I felt so bad when I found out what happened between Bod and her. I wish something better happened between them.

Every chapter has its own magnet. The development of the story and characters were also written very well. It was nice to see how Bod grew older.  There were mixed up feelings and it started even when I was in first chapter. The ending made me feel little bit lost and sad.  I wish Neil would write another ending for Bod.

The Graveyard Book makes me want to read more of Neil's works. I think I am going to read this book again next year.

Cover and Illustration
I love all the illustration inside. I spent more time to stare and look at them before I turn to the next page.  It is as good as what he put in Coraline. I wish all of Neil Gaiman's books were completed with Dave McKean's scratches. But it seems that they are only for children's books.

4/5

Author: Neil Gaiman
Illustrator: Dave McKean
Reading level: Ages 10 and up
Paperback: 336 pages
Publisher: HarperCollins; Reprint edition (September 28, 2010)
Language: English
ISBN-10: 0060530944
ISBN-13: 978-0060530945
Product Dimensions: 7.6 x 5.3 x 1 inches

Monday, December 12, 2011

Review: Water for Elephants by Sara Gruen

Though he may not speak of them, the memories still dwell inside Jacob Jankowski's ninety-something-year-old mind. Memories of himself as a young man, tossed by fate onto a rickety train that was home to the Benzini Brothers Most Spectacular Show on Earth. Memories of a world filled with freaks and clowns, with wonder and pain and anger and passion; a world with its own narrow, irrational rules, its own way of life, and its own way of death. The world of the circus: to Jacob it was both salvation and a living hell.

Jacob was there because his luck had run out - orphaned and penniless, he had no direction until he landed on this locomotive 'ship of fools'. It was the early part of the Great Depression, and everyone in this third-rate circus was lucky to have any job at all. Marlena, the star of the equestrian act, was there because she fell in love with the wrong man, a handsome circus boss with a wide mean streak. And Rosie the elephant was there because she was the great gray hope, the new act that was going to be the salvation of the circus; the only problem was, Rosie didn't have an act - in fact, she couldn't even follow instructions. The bond that grew among this unlikely trio was one of love and trust, and ultimately, it was their only hope for survival.(Goodreads)

~~~

My Thought
Water for Elephants was one of books in my wishlist. I was so excited when this historical fiction book finally arrived. Big thanks to Bukumoo Satu Dua Tiga. Since I saw the rating and read many good things about it, I could not wait any longer to read it on my own. Most of my friends said that Water for Elephants was one of the best book ever. Unfortunately, same words did not come out of my mouth.

To my surprise, it was not as great as I thought.
I was little bit disappointed with what I got. I think I expect too much.  There was nothing wrong with the book actually. It was well written. But It was hard for me to find the ties with the plot, setting nor the characters. All of them were flat for me.

Jacob Jankowski is the main character and narrator. In his nineties, he stayed in nursing home. He could barely remember things. But when it was about 
circus, he was able to summon it into mind with its details. Jacob was just twenty three when he left final exams in Cornell University and joined Benzini Brothers Most Spectacular Show on Earth. In this place, the new chapter of his life began.

I liked the old Jacob. He became one reason why I finished reading its last page. From all the chapters, my favorite was his part. Althought he was not a nice old man, but he got his own charm.  I liked the way he talked and communicated to Rosemary,the nurse who took care of him. I enjoyed all their chit chats. Unfortunately, there was only few of them.

About the young Jacob and other characters, there was almost no emotional bond. Although Jacob in circus was lovely and kind-hearted, but I could not get him. His relationship with Marlene was not interesting enough to hook me. The antagonist character such August and Uncle Al also did not leave any impression. Even when I have given more chances by reading it till the last pages, I felt nothing for them.

Before reading Water for Elephants, I have read some books which took circus as its setting. But through Jacob's eyes, I found many new things about circus life in the past. All those things make me wonder which one that really happened in the past and the one that was just added by Sara Gruen, the author. I was also curios about the "red-lighted" and stampede.

Cover
I am not really interested with that kind of cover. I like the color choice. 

3/5

Author: Sara Gruen
Paperback: 355 pages
Publisher: Algonquin Books (April 9, 2007)
Language: English
ISBN-10: 1565125606
ISBN-13: 978-1565125605
Product Dimensions: 8.3 x 5.6 x 1 inches