Friday, February 10, 2012

Book Review: Mockingjay - Suzanne Collins


Katniss Everdeen selamat dari Hunger Games, dua kali. Tapi dia belum sepenuhnya aman dari ancaman Capitol meskipun kini ia dalam lindungan Distrik 13.

Pemberontakan makin merajalela di distrik-distrik untuk menjatuhkan Capitol. Kini tak ada seorang pun orang-orang yang dicintai Katniss aman karena Presiden Snow ingin menumpas revolusi dengan menghancurkan Mockingjay... bagaimanapun caranya.

"
Buku terakhir dari trilogi Hunger Games ini adalah yang terbaik. Novel yang dirancang indah dan cerdas pada setiap tingkat.."Publishers Weekly

"Memesona, memukau, dan mengerikan."
Los Angeles Times

"Plot cerita ini menegangkan, dramatis, dan seru."
School Library Journal

"Menegangkan... bahkan orang dewasa ingin buru-buru membacanya hingga tamat."
USA Today

"Trilogi ini merangkum gerakan politik dari novel 1984, kekerasan yang tak terlupakan dari buku A Clockwork Orange, nuansa imajinasi The Chronicles of Narnia and daya cipta nan cerdas dari Harry Potter."
New York Times Book Review |  (Goodreads)
~~~
 
Setelah The Hunger Games dan Catching Fire, saya nyaris tidak sanggup mengikuti jejaknya di Mockingjay. Kisah Katniss Everdeen kali ini sangat melelahkan. Secara fisik maupun mental.
 
Tidak seperti dua seri sebelumnya, rasanya banyak hal penting yang hilang dari Mockingjay. Plotnya masih membuat saya membuka lembaran demi lembaran dengan cepat. Buku ini juga tetap menuntut agar saya tidak berkedip saat membacanya agar tidak ketinggalan hal-hal penting. Sayangnya, tidak ada lagi yang membuat saya berdecak kagum. "Keajaiban" yang dulu saya temukan di buku pertama dan kedua seakan menguap begitu saja. Yang paling menyedihkan adalah ketika harus mengakui bahwa saya tidak menikmati buku yang bercerita tentang akhir perjalanan Katniss.

Begitu menjejakkan kaki di Distrik 13, saya nyaris tidak mengenali Katniss. Sosoknya di Mockingjay terasa asing.  Mungkin ini diakibatkan banyaknya insiden-insiden yang tidak menyenangkan yang harus dilaluinya. Sepertinya apa yang dialaminya di buku pertama dan kedua belum cukup. Bahkan di tempat yang jauh dari jangkauan Capitol. Kasihan Katniss. Apa yang saya temukan di Mockingjay, Katniss bukan lagi anak perempuan yang mengikuti Hunger Games dua kali berturut-turut. Emosinya nyaris tidak bisa saya rasakan. Gadis yang terbakar itu tidak lagi ada. Berganti dengan Katniss yang seakan tidak punya pilihan selain mengikuti apapun yang diperintahkan padanya.

Namun perubahan pada Katniss tidak ada apa-apanya jika dibanding  dengan apa yang dilakukan Suzanne Collins pada Peeta. Perubahannya terlalu drastis. Sikap Peeta yang biasanya menyenangkan menguap begitu saja. Tidak hanya Katnis, saya juga kehilangan Peeta. Akhir cerita memang memberi apa yang saya harapkan terjadi pada Katniss dan Peeta, namun rasanya hambar. Sedih.
  
Nasib sial juga menimpa karakter-karakter lain. Lagi-lagi hanya bisa mengela nafas panjang ketika membaca bab-bab tersebut. 

Capitol seakan tidak ingin ketinggalan. Entah karena sangat terpukul dengan adanya pengkhianatan orang dalam, pemberontakan yang muncul di beberapa distrik, ataupun revolusi terang-terangan yang dilakukan  Distrik 13. Yang jelas kota terbesar di Panem ini kehilangan taringnya. Hanya dalam beberapa bulan setelah Quarter Quells, perubahan besar terjadi pada kota paling besar di Panem. Walaupun sempat melakukan gempuran bom pada distirk 12 dan 8 yang nyaris tidak menyisakan apapun, semua itu tidak masuk hitungan. Capitol telah kehilangan taringnya. Apapun yang mereka lakukan tidak lagi membuat saya terpana. Mutt-mutt ataupun halangan lain yang mereka ciptakan tidak meninggalkan kesan sama sekali. Semua itu membuat saya bertanya-tanya kemana perginya semua para desainer yang super jenius. Kemana orang-orang yang merancang dan menciptakan arena Hunger Games yang mengerikan ataupun yang bisa mengubah cuaca, menghadirkan petir dalam hitungan detik. Mereka seakan hilang begitu saja. Semuanya menjadi terlalu mudah. Capitol di akhir kejayaannya sangat mengecewakan.

Walaupun tidak seperti yang saya bayangkan, namun Mockingjay masih menyisakan beberapa hal menarik.  Kehidupan di Distrik 13 adalah salah satunya. Saya menikmati semua bagian yang menceritakan tempat yang menampung banyak pengungsi dari distrik lain ini. Segala yang mereka miliki jauh lebih hebat dari yang saya bayangkan. Sangat disayangkan, dengan persenjataan dan teknologi yang tidak kalah dengan Capitol, mereka harus menunggu lebih dari 75 tahun menyatakan diri mereka siap untuk sekali lagi  melakukan sebuah pemberontakan. Rahasia dan intrik yang ada di dalam distrik ini juga yang membuat saya tetap bersikeras untuk melahap Mockingjay sampai halaman akhir. Beberapa bab terakhir juga banyak menyimpan kejutan. 

Yah, untuk sebuah buku terakhir dari sebuah triologi, Mockingjay jauh dari kata seru. Namun masih menjadi bacaan wajib bagi semua yang telah mengikuti Katniss di The Hunger Games  dan Catching Fire. 

3/5

Mockingjay
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2012
Tebal: 432 hlm