Friday, April 27, 2012

And The Winner is...

Terima kasih untuk semua yang telah berpartisipasi di BBI 1st giveaway. Seperti yang kujanjikan satu follower yang beruntung akan mendapatkan buku karya Tere Liye berikut ini :


Dari 608 entri yang dicatat oleh Rafflecopter,  Random generator memilih: 

A.S. Dewi


Selamat. Pemenang akan kuhubungi lewat email atau twitter untuk alamat pengiriman. Waktu yang kuberikan kurang lebih 48 jam untuk konfirmasi. Jika tidak, aku akan memilih pemenang baru. 

Bagi yang belum beruntung, Insya Allah bulan depan akan ada giveaway lagi. Dengan buku yang berbeda tentu saja ;)


Tuesday, April 17, 2012

Review: Clara's Medal - Feby Indirani



"Saya kira tidak adil, Pak, kalau Bagas tetap bisa ikut Olimpiade," tiba-tiba Meddy dengan lantang angkat bicara.
"Memangnya relevan, ya?" ganti Clara angkat bicara. "Bukannya tim Olimpiade adalah siapa pun yang lulus seleksi? Kalau kasus Bagas dikait-kaitkan dengan FUSI, itu kan media yang melakukannya."
"Sangat relevan, Ra," tukas Meddy menyambung Angga. Nada suaranya agak keras. "Ketika kita semua bekerja keras untuk mewakili negara ini, Bagas malah melakukan tindakan melanggar undang-undang. Itu kan kontradiktif!"

Di tengah panasnya persaingan para peserta pelatihan untuk menjadi anggota tim Olimpiade Fisika, kasus hacking yang dilakukan salah satu peserta pelatihan, Bagas, muncul ke permukaan. Lembaga pelatihan FUSI—Fisika untuk Siswa Indonesia—kini menjadi sorotan.

Para sponsor mulai menarik dananya untuk lembaga tersebut. Keberangkatan tim ke ajang Olimpiade Fisika Internasional pun terancam gagal. Padahal merekalah putra-putri terbaik dari berbagai daerah di Indonesia yang akan berjuang mengharumkan nama bangsa di ajang internasional itu. Bagi mereka gagal berangkat ke Olimpiade membuat kerja keras mereka selama ini menjadi sia-sia.

Dengan didorong semangat Mestakung, akankah para peserta pelatihan itu mampu mengubah keadaan dan tetap berangkat untuk mengharumkan nama bangsa?(Goodreads)
Olimpiade Fisika. Mengucapkan dua kata tersebut yang terlintas adalah kumpulan soal-soal yang sangat rumit yang penyelesaiannya membutuhkan analisa yang tidak sederhana. Bahkan ketika tidak setaraf olimpiade sekalipun,  menyelesaikan soal-soal fisika bukan perkara yang gampang. Sebuah rumus tidak serta merta digunakan untuk mendapatkan hasil akhir. Setidaknya itu kesimpulan yang saya dapatkan setelah mempelajarinya selama bertahun-tahun.

Namun pemikiran semacam itu tidak berlaku bagi enam belas siswa SMU pilihan yang berhasil masuk  dalam seleksi FUSI – Fisika untuk Siswa Indonesia.  Dari buku ini tergambar dengan jelas bagaimana kecintaan setiap tokoh akan pelajaran Fisika, yang tidak lagi sekedar mata pelajaran biasa di sekolah. Setidaknya terbukti dari berbagai seleksi yang telah mereka lewati yang tentunya terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang tentunya tidak mudah.  Sampai akhirnya kegemaran mereka itu membuka jalan ke sebuah lembaga pelatihan yang menawarkan  tiket emas untuk mengikuti Olimpiade Fisika Internasional. Ditempat itulah hampir sebagaian besar adegan di buku ini terjadi.

Kasus hacking yang dilakukan salah satu peserta  dan menyebabkan nama FUSI tercoreng dan membawa beberapa masalah besar menjadi pembuka yang menarik. Sayangnya insiden yang mempengaruhi mental hampir semua peserta seleksi ini tidak digarap dengan baik. Awalnya memang mengikat rasa penasaran saya untuk terus membaca buku ini sampai akhir. Namun pada akhirnya berakhir dengan begitu saja. Sangat saya sayangkan. Yah, saya memang tidak seharusnya berharap lebih. Karena Clara's Medal ,yang ditulis oleh Feby Indirani,  punya banyak hal lain untuk disajikan kepada para pembacanya. Insiden hacking ini hanyalah sebagai pembuka. Beberapa bagian saya akui disajikan dengan menarik. Seperti bagaimana berdirinya Fusi ataupun masalah-masalah yang dihadapinya. Tidak ketinggalan bab yang khusus membahas cerita pribadi beberapa karakter. Yang menjadi favorit saya adalah semua bagian yang menceritakan tentang Bram Wibisono dan keterkaitannya dengan FUSI.

Sebagian besar cerita di dalam buku ini dikisahkan dari sudut pandang Clara, salah satu peserta asal dari Jakarta. Dari awal, Clara berusaha untuk mengenalkan peserta lain. Walau tetap berusaha untuk membedakan peserta yang satu dengan yang lainnya, hanya sebagian kecil yang dapat dikenali dengan mudah. Pada akhirnya memang hanya beberapa yang ditonjolkan. Sebut saja Angga, Sandhy, Krisna, ataupun George. Sangat disayangkan dari semua nama-nama itu, tidak satupun yang meninggalkan kesan mendalam. Sebenarnya tidak ada masalah besar dengan karakter yang coba dihidupkan sang penulis. Saya menikmati beberapa bab yang menceritakan percakapan dan senda gurau mereka. Namun serasa masih ada penghalang yang membuat saya sulit untuk menyukai mereka.

Namun setidaknya dari buku ini saya mendapat gambaran bagaimana pola belajar para peserta olimpiade fisika. Bahkan apa saja yang mereka pelajari. Seperti yang dikatakan beberapa orang, yang mereka pelajari jauh lebih rumit dan kebanyakan dari materinya tidak yang dipelajari di sekolah lanjutan. Misalnya saja Fisika Kuantum, Termodinamika ataupun Fisika Molekuler. Yang jelas bukan masalah bagi mereka yang telah menghabiskan berjam-jam berkutat dengan tumpukan soal-soal Fisika yang kerap muncul  di Olimpiade. Setidaknya terbukti dari prestasi nyata yang diperoleh oleh para pelajar yang tergabung di TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia), yang menjadi inspirasi bagi Feby Indirani untuk menciptakan FUSI dan beserta rangkaian ceritanya.

Cover
Menurutku covernya akan lebih keren dan menarik jika yang ditampilkan tuh sesuatu yang berhubungan dengan fisika.

Clara's Medal
Penulis: Feby Indirani 
Penerbit: Qanita
Tebal: 484 Hal
Cetakan: I, September 2011
Challenge: Name in A Book  Challenge


Monday, April 16, 2012

Book Review: The Bremen Town Musician by Brian Wildsmith


A retelling of the Grimm Brothers’ beloved tale about an old donkey who leaves the farm to travel to Bremen where he hopes to join a band. On the way, he meets a dog, a cat, and a rooster. With a bray, a bark, a meow, and a cock-a-doodle-doo, they become fast friends and decide to travel together to Bremen—getting there leads to great unexpected results. (Goodreads)

~~~

Once upon a time there was a donkey who decided to leave the farm where he had worked for many years. He knew that he grew old and could not work anymore. He was so upset when he found out that the farmer planned to sell him. Bremen is the city that he chose. He thought that he could sing with the town band. In his way to Bremen, he met a dog, cat and rooster who agreed to go along and sing together.  When night fell they decided to take rest. Some of them were about to close their eyes when Rooster saw a lighted house. They looked inside and saw many food and five fierce robbers who gathered around it. Looking at the food on the table made them created one big plan.

The Town Musicians of Bremen is one of the fairytales that was written by the Grimm Brothers. I have read the translation. Now Brian Wildsmith retells the story with colorful illustrations. It was nice to see the donkey, dog, cat and rooster. I like the way he drew them complete with the background. Unfortunately I could not really see the delicious food.  I saw the bread and some meat. But they were just plain pictures.  

From 40 pages, my favorite is the illustration where the dog climbed onto donkey’s back, cat was on dog and rooster perched on the cat. It reminds me to the bronze statue of the Town Musician. The statue surprised me when I saw it for the first time. Just like the story, it was located in Bremen, Germany. I want to touch the hooves. 

I recommend this book for children who love illustration book.  I hope they can enjoy it as I do.

Image source: Wikipedia

Author: Brian Wildsmith
Hardcover: 40 pages
Publisher: Star Bright Books |
Blog  
Publication Date: April 15, 2012
Language: English
ISBN-10: 1595723455
ISBN-13: 978-1595723451


Friday, April 13, 2012

BBI 1st Giveaway Hop

Happy Birthday, BBI! \(^o^)/

Ternyata udah setahun sejak dikumpulkannya puluhan link blog buku.

Sebagai salah satu anggota BBI untuk memeriahkan ulang tahun yang pertama, aku ikut BBI 1st giveaway hop. Terima kasih untuk Fanda's Historical Fiction, Kumpulan Sinopsis dari Okeyzz dan Dear Readers yang jadi host giveaway.


Nah untuk hadiahnya, aku pilih buku Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah-nya Tere Liye.


Kalian cukup isi form rafflecopter di bawah ini:

Tuesday, April 3, 2012

Review: Life Traveler - Windy Ariestanty


‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya.

‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.

‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’

Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’



(Satu Malam di O’Hare)


***

Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.

Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…

… because travelers never think that they are foreigners.
(Goodreads)
  ~~~

Kalau melihat deretan buku koleksi yang ada, akan sangat sulit menemukan buku yang bercerita tentang perjalanan. Ada beberapa alasan mengapa buku semacam itu tidak mendapat banyak perhatian. Saat berada di toko buku pun, saya menempatkan buku serupa di urutan paling bawah untuk dibawa pulang dan dijadikan  penghuni rak. Semua tidak lain dikarenakan rasa iri yang kerap timbul setelah melahap lembaran-lembaran berisi cerita perjalanan sang penulis. Tidak hanya dari perjalanan ke negara dengan tempat-tempat yang mengagumkan, namun juga pengalaman yang tidak ternilai harganya. Yang terakhir, saya kerap dibuat bosan setelah membaca beberapa bab terutama ketika menemukan gaya cerita yang monoton. Pikiran yang sama sempat terbersit ketika menemukan Life Traveler di meja kerja. Namun kali ini saya salah, karena buku yang ditulis Windy Ariestanty ini bukan rangkuman cerita perjalanan biasa. Berawal dari Vietnam sampai Chicago, banyak di antaranya yang meninggalkan kesan yang mendalam. Tidak hanya bagi sang penulis, namun saya sebagai pembaca. Bahkan ketika belum menapakkan kaki ke tempat-tempat tersebut ataupun bertemu langsung dengan orang-orang yang disebutkannya.

Windy awalnya memang menceritakan hal-hal yang kerap saya temukan di buku-buku lain. Seperti penjelasan tempat-tempat yang menarik dan wajib dikunjungi ketika berada di satu negara. Dilengkapi dengan penjelesan singkat  mengenai transportasi yang bisa digunakan. Tak lupa list to do and don't. Untung saja itu hanya ada di beberapa bagian awal. Ketika saya nyaris menutup buku ini, meletakkannya di meja dan mengganti dengan buku lain, Windy ternyata telah menyiapkan cerita yang kembali menarik perhatian. 

Dan beberapa bab yang berkesan dan menjadi bagian yang saya sukai adalah cerita saat Windy berada di Hanoi. Tidak ketinggalan cerita di beberapa tempat di Eropa. Sebut saja Frankfrut, Praha ataupun perjalanannya menuju Paris. Yang istimewa dari bab-bab itu bukan hanya cerita tentang tempat yang dikunjungi namun lebih kepada cerita orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh, cerita yang melibatkan Miss Hang, Pak Mula, Pietr, Mirek ataupun Marjolein sang guide. Satu Malam di O'Hare pun menjadi salah satu bab yang meninggalkan kesan yang  dalam. Tidak salah jika dipilih sebagai cerita penutup. Saya sangat menyukai percakapan singkat yang dituliskan di dalamnya. 

Sebuah buku berisi tentang perjalanan tentunya tidak akan lengkap tanpa gambar. Life Traveler pun tidak ketinggalan. Terdapat banyak gambar yang cukup memuaskan mata. Namun satu hal yang saya sayangkan dari buku ini adalah banyaknya ilustrasi cat air yang digunakan untuk menggambarkan suatu tempat. Walau digambar sebaik mungkin, namun saya lebih memilih untuk melihat bagaimana penampakan aslinya. Ilustrasi menurut saya cukup diletakkan di halaman awal setiap bab. Tidak untuk menggantikan gambar-gambar yang seharusnya ditampilkan apa adanya. 

Terlepas dari ilustrasi yang saya maksudkan, buku ini tetap istimewa.

4/5

Life Traveler
Penulis: Windy Ariestanty
Editor: Alit T. Palupi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: I, 2011
Tebal: 382 hal + x