Friday, September 28, 2012

Review: The Tokyo Zodiac Murders - Soji Shimada



Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman
Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai—astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri—ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka—dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.
Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.

~~~

Tidak banyak novel karya penulis Jepang yang telah saya lahap. Namun saya tidak ragu untuk menaruh The Tokyo Zodiac Murders di rak favorit. 

Pertama kali melihat dan membaca judulnya, tidak terpikir sama sekali cerita seperti apa yang disajikan oleh Soji Shimada. Bahkan ketika saya telah berkali-kali mengamati sampul depan. Setelah membaca bagian awal, barulah saya menyadari bahwa sebagian besar cerita telah di gambarkan dengan jelas di sana. 

Bagian awal buku sungguh menarik perhatian. Wasiat sang seniman yang membahas tentang Azoth membuat saya tidak bisa meletakkan buku ini. Sampai akhirnya menemukan detail yang terjadi pada para korban. Terlebih ketika melihat ilustrasi yang ada. Tidak butuh waktu lama untuk tahu siapa pelaku pembunuhan. Namun hal itu tidak membuat ketertarikan saya akan buku setebal 360 halaman ini serta merta hilang. The Tokyo Zodiac Murders tetap membuat saya penasaran. Apalagi kalau bukan motif sang pelaku. Penantian tidak sia-sia. Saya sangat menikmati bagaimana Soji Shimada mengakhir cerita.

Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah catatan pribadi  yang disertakan dalam buku. Karena semua catatan itu mengungkap titik terang baru dari kisah pembunuhan yang tak terpecahkan selama hampir 40 tahun. 

Tidak ada masalah dengan terjemahan, saya dapat menikmati dan mendapat gambaran dengan jelas cerita detektif ini. Bahkan merasakan emosi tiap karakter. Bahkan sang pelaku pembunuhan sekalipun, yang muncul belakangan.

Untuk semua yang suka cerita detektif, saya merekomendasikan buku The Tokyo 
Zodiac Murder.

4/5

The Tokyo Zodiac Murders
Judul Indonesia: Pembunuhan Zodiac Tokyo
Penulis: Soji Shimada
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 360 hal
Cetakan: I, 26 Juni 2012


Monday, September 10, 2012

Review: I Love Monday - Arvan Pradiansyah


Hari Senin sering kali dilukiskan sebagai hari yang penuh depresi dan kecemasan. Berbagai lagu menggambarkan hari Senin sebagai hari yang suram dan penuh kegalauan, seperti “Rainy Days and Mondays” dari Carpenters dan terutama lagu “I Don’t Like Mondays” dari Bob Geldof & The Boomtown Rats.


Lagu-lagu seperti ini tanpa disadari telah membentuk stigma kita mengenai hari Senin sebagai hari yang berat dan penuh penderitaan (yang bahkan sudah mulai kita rasakan sejak Minggu malam). Ini sangat berbeda dengan hari Jumat yang selalu ditunggu-tunggu. Slogan “Thanks God it’s Friday” sesungguhnya juga semakin mengukuhkan paradigma yang membenci hari Senin. Karena itu, tidak aneh, berbagai penyakit muncul sebagai efek hari Senin. British Medical Journal, misalnya, melaporkan serangan jantung yang meningkat 20% pada hari Senin. Berbagai perusahaan pun harus menanggung biaya yang sangat besar karena gangguan kesehatan karyawan yang meningkat di hari Senin.


Apakah Anda sering merasakan hal yang serupa, malas dan berat datang ke kantor pada hari Senin? Bila jawabanya “Ya”, maka buku ini sungguh tepat untuk Anda. Dalam buku ini, Arvan Pradiansyah memaparkan dengan gamblang mengapa kita sering menderita sindrom “Monday Morning Blues” ini. Arvan mengajak kita menempuh perjalanan ke dalam diri sendiri dan menemukan akarnya, yaitu paradigma kita mengenai pekerjaan. Bagaimana Anda melihat pekerjaan Anda saat ini? Apakah Anda melihatnya hanya sebagai setumpuk tugas (job)? Sebuah karier (career)? Atau sebuah panggilan (calling)?


Buku ini akan mengajak kita menemukan panggilan jiwa kita dan menghidupkan semangat yang sempat hilang. Di dalamnya, Anda akan menemukan resep yang sungguh berharga untuk membuat Anda bersemangat setiap pagi, berangkat ke kantor dengan gembira dan bekerja dengan penuh cinta (Goodreads)

Dulu saya menolak untuk disamakan dengan orang-orang yang kerap mengeluh bagaimana mereka membenci hari Senin. Karena dibanding hari Senin, sejak kecil saya jauh lebih membenci hari Minggu. Terutama ketika hari beranjak gelap. Alasannya sederhana. Hari Minggu sore dengan jelas mengingatkan saya bahwa liburan yang singkat sebentar lagi berakhir dan besok saya harus kembali ke sekolah dan mengikuti upacara bendera di bawah sinar matahari yang terik. Hampir 12 tahun lamanya saya membiarkan perasaan-perasaan negatif seperti gelisah ataupun gundah gulana tumbuh. Tanpa pernah tahu bahwa perasaan yang demikian adalah gejala awal dari sindrom I Hate Monday, sampai saya membaca beberapa artikel terkait yang lengkap dengan tips bagaimana mengatasi ataupun mengusir gejalanya. Sangat disayangkan, saran-saran yang ada tidak efektif. Karena sindrom tersebut tidak hilang sepenuhnya. Bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, "Gejala Minggu sore" masih kerap saya rasakan. Apalagi kalau mengingat masih ada setumpuk pekerjaan yang harus saya selesaikan.

Melalui buku setebal lebih kurang 302 halaman ini, Arvan Pradiansyah tidak memberi saran seperti artikel kebanyakan. Namun lebih jauh mengenalkan saya lebih jauh pada sindrom I Don't Like Monday dan mengungkapkan  bagaimana suatu paradigma terhadap segala sesuatu yang kita kerjakan adalah penyebab utamanya. Dipaparkan dengan jelas bagaimana sebuah mindset membuat segala sesuatunya menjadi sangat berat untuk dikerjakan ketika hari senin tiba.

Hampir seluruh halaman awal buku I Love Monday membuat saya tersenyum simpul. Kkarena melihat kondisi saya yang sekarang. Beberapa bab awal bahkan membuat saya merasa sangat malu. Tidak lain karena motivasi dan prinsip yang saya pegang selama ini. Sadar bahwa ada yang salah dengan cara saya melihat pekerjaan yang saya tekuni selama beberapa tahun ini. Bagaimana setiap jam yang saya habiskan di kantor tidak lain hanya untuk menyelesaikan apa yang tertulis di uraian pekerjaan, lain tidak. Pembahasan awal juga membuat saya berpikir tentang hal-hal lain yang telah lakukan selama 8 tahun dan sampai pada satu kesimpulan. Money Oriented, that's me.

Beberapa peristiwa yang terjadi dalam hidup sang penulis dan disisipkan sebagai awal beberapa bab menjadikan buku ini lebih mudah dipahami. I Love Monday  yang saya selesaikan hanya dalam beberapa jam meninggalkan banyak kesan dan sungguh membuka mata. Saya mendapatkan hal-hal baru yang kemudian menjadi bahan pemikiran. Yang menyenangkan adalah bagaimana Arvan Pradiansyah menulis bab demi bab tanpa maksud untuk menghakimi sedikit pun. Seperti saat mendapati hal-hal yang saya sebut di paragraf sebelumnya mengkategori orang-orang yang memiliki paradigma pertama yaitu yang memandang pekerjaan hanya sebagai job, yang oleh Arvan Pradiansyah sang penulis dijadikan dalam satu bab khusus. Pembahasan tersebut berlanjut dengan paradigma kedua yaitu melihat pekerjaan sebagai karier  dan yang terakhir, paradigma yang mengajak para pembaca merevolusi semua pemikirannya dan melihat pekerjaan sebagai panggilan hidup.  Bagian inilah yang lebih dalam dibahas di bab-bab berikutnya. 

Dengan gamblang, Arvan Pradiansyah menjelaskan bagaimana melihat pekerjaan sebagai suatu panggilan hidup yang berarti tidak lagi menjalankan skenario orang lain ataupun diri sendiri. Bagaimana paradigma ini mampu membuat semuanya terasa ringan, bahkan sindrom yang muncul setiap Senin akan hilang dengan sendirinya. Karena paradigma yang satu ini jauh lebih indah. Karena skenario yang ada adalah skenario Tuhan. Pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai suatu cara untuk mencari nafkah ataupun mengumpulkan keuntungan lebih banyak namun bagaimana pekerjaan dipandang sebagai jalan untuk membantu sesama manusia. Lebih ditekankan lagi untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat yang lebih besar bagi orang lain.  Bukan hal mudah, namun tidak mustahil untuk dilakukan.

Membaca I Love Monday, membuat saya ingin membaca buku-buku Arvan Pradiansyah lainnya. 



Tentang Penulis
Arvan Pradiansyah adalah pembicara publik, konsultan, fasilitator dan kolumnis di Majalah SWA,dan harian Bisnis Indonesia. Ia juga mengasuh rubrik konsultasi “Life is Beautiful” di tabloid Bintang Indonesia. Arvan juga telah menulis 5 buku inspiratif yang menjadi best seller yaitu “YouAre A Leader!” “Life is Beautiful” , “Cherish Every Moment” , “The 7 Laws of Happiness” dan“You Are Not Alone.” Tak hanya menulis, Arvan pun senantiasa menyebarkan inspirasi dan motivasi melalui radio. Ia adalah nara sumber tetap untuk talkshow Smart Happiness yang disiarkan di Smart FM Network setiap Jum’at pk. 7 – 8 pagi WIB dan disiarkan ke 25 kota di Indonesia.

Selain itu Arvan -- yang pernah menjadi Dosen di FISIP UI selama 13 tahun -- saat ini adalah Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM), sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi di bidang sumber daya manusia, kepemimpinan dan life management yang berpusat di Jakarta. Sejak mendirikan perusahaannya di tahun 2005 hingga kini, Arvan telah memotivasi lebih dari 40 ribu orang di lebih dari 200 perusahaan Swasta, BUMN dan kampus. Klien yang pernah dan sedang dilayaninya diantaranya Telkom, XL, Medco, Astra Agro Lestari, BRI, BNI, Bank Mandiri Bank Mega,CIMB Niaga, Pos Indonesia, Abbot Indonesia, Darya Varia, Otsuka, Pertamina, Prudential Life, Pamapersada Nusantara, Total E&P Indonesie, Trimegah Securities, Bina Sarana Informatika, dan sebagainya.


I Love Monday: Mengubah Paradigma dalam Bekerja dan Bisnis
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa
Cetakan: II, Juni 2012
Tebal: xxx + 302 hlm