Tuesday, July 10, 2007

Review: Edgar & Ellen : Rare Beasts - Charles Ogden




Di kota Nod’s Limbs tepatnya di persimpangan antara bagian belakang pemakanaman dan jalan Ricketts, terdapat rumah yang sangat tinggi dan kecil berwarna kelabu. Beberapa daun jendela dibiarkan rusak menggelantung. Rumah itu dihinu oleh dua anak kembar yang terkenal dengan kenakalannya,Edgar dan Ellen. Bahkan sejak masih dalam kandungan.


Di dalam rumah yang berdebu dan tak terurus, Edgar dan Ellen yang telah ditinggalkan orang tuannya “berkeliling Dunia” melakukan ritual mereka setiap paginya dengan memulai dengan petak umpet. Setelah beberapa kali memainkan petak umpet yang berbeda dengan yang biasa dilakukan anak anak normal, rasa bosan segera mengudara. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih menarik.


Satu demi satu mereka mengemukakan ide jahat. Dari menyumbat terowongan saluran air dengan bantal, memasukkan berkantong kantong merica putih ke adonan kue di Buffy Muffin sampai mencuri jemuran Bu Haggardly. Sayangnya semua ide itu tertumbuk pada satu masalah, uang. Solusi datang ketika mereka melihat tayangan Berkeliling Dunia Bersama Profesor Paul di TV bersama Pet, binatang peliharaan mereka yang tak kalah anehnya.


Dari situlah timbul gagasan untuk menghasilkan uang yang akan digunakan untuk membiayai semua rencana jahat mereka. Setelah menyiapkan semua bahan bahan yang diperlukan, Edgar dan Ellen mulai mejalankan rencana mereka menjadi kaya raya dengan mencuri semua binatang peliharaan warga kota Nod’s Limbs. Binatang binatang tersebut dicat, ditempeli dengan pernak pernik gemerlap menjadi binatang aneh atau binatang langka menurut kedua kembar ini yang terlihat sangat aneh. Tak lupa pula mereka memberi nama yang tak kalah anehnya


Sementara semua anak anak kalang kabut mencari binatang peliharaan, Edgar dan Ellen mulai memajang Binatang langka Mereka. Sayangnya tak satupun binatang yang laku. Masalahnya hanya satu harga yang mereka pasang terlalu tinggi. Bajkan setelah berpindah pindah dari lokasi satu ke lokasi lain.


Menjelang sore, mereka saling menyalahkan karena tak satupun binatang yang laku. Perkelahian pun tak terelekkan. Mereka tak pernah menyangka akan menemui masalah besar. Mr poo poo, Ular piton milik Peter dan penny, yang mereka curi terbangun karena lapar. Dari sinilah semua rencana sang kembar terbongkar.




***


Tidak terbanyang kalau ketemu dengan anak-anak kembar yang nakal seperti mereka. Julukan Kembar berancun kayaknya memang pantas untuk mereka. Hehehe. *melambai ke Rury*. Padahal kalau mau sedikit melebarkan mata, mereka bisa mendapatkan uang yang jau lebih banyak. hehehe.....


Gambar ilustrasi yang keren membuat buku ini semakin asyik di baca. Can’t hardly wait for the next book. Selesai baca buku ini jadi ingat The Adam’s Family. Jadi ingat ma Wednesday dan adiknya yang tidak kalah nakal. Kenakalan Edgar dan Ellen berdua mungkin tidak lain karena tidak adanya pengawasan orang tua. Terlihat banget tingkah mereka yang aneh. Jadi kasihan pas baca bab terakhir. Mereka harus mendapat balasan yang tidak kalah menyakitkan dari kehilangan binatang peliharaan. Tapi siapa sih yang rela kehilangan binatang binatang lucu.