Showing posts with label YA. Show all posts
Showing posts with label YA. Show all posts

Thursday, 9 August 2012

Review: Flipped - Wendelin van Draanen


Juli: Pertama kali bertemu Bryce Loski, aku jungkir balik. Sungguh, seperti orang gila. Pasti karena matanya. Ada sesuatu di matanya
Bryce: Apa ya cara yang tepat mengusir Juli? Bagaimana cara terbaik mengatakan padanya, “Juli, kamu tuh bukan tipeku?” 
***
Juli Baker sangat yakin akan tiga hal: keajaiban pohon—terutama pohon sikamor kesayangannya, kebaikan telur ayam, dan suatu saat ia dapat mencuri hati Bryce Loski. Sayangnya, Bryce tidak memiliki perasaan yang sama. Baginya, Juli adalah gadis yang aneh. Kalau bukan aneh, gadis macam apakah yang sangat gemar memelihara ayam dan duduk berlama-lama di atas pohon? 
Namun, keadaan terbalik saat mereka menapak remaja. Bryce mulai melihat keanehan dan kebanggaan Juli terhadap keluarganya sebagai hal yang hebat. Sebaliknya, Juli berpikir mata Bryce yang dikaguminya itu kosong dan tak berarti apapun lagi. 
Flipped bukan sekadar kisah cinta yang manis, tapi juga kisah tentang memandang orang dari sisi siapa mereka sesungguhnya, bukan dari sisi bagaimana penampilan mereka. (Goodreads)
~~~

Kalau bukan karena rating dan review di Goodreads, saya tidak akan pernah membaca buku ini. Alasannya sederhana, saya nggak suka dengan desain covernya. Namun setelah melahap habis buku ini sampai halaman terakhir, untuk kesekian kalinya saya harus merapal mantera lama "Don't judge book by its cover". Karena kisah yang ditulis Wendelin van Draanen ini bukan cerita biasa. 

Flipped ditulis dengan dua sudut pandang Juli Baker dan Bryce Loski. Mereka menceritakan banyak hal secara bergantian. Jadi terdapat dua versi yang berbeda untuk satu kejadian.  Mulai hari pertama mereka bertemu yang kemudian berpindah ke masa-masa mereka di SMP. Walaupun adegannya berulang, ceritanya tetap seru untuk diikuti. Setidaknya jadi tahu bagaimana pikiran dan perasaan Juli dan Bryce. 

Di bab awal, tergambar jelas bagaimana Juli sangat memuja Bryce. Bisa dibilang anak perempuan yang suka banget manjat pohon sikamor saat menunggu bus sekolah datang ini terobsesi dengan sosok Bryce. Dua tahun tahun pertama, Juli selalu membuntutinya. Di kelas empat dan tahun-tahun berikutnya, Juli bisa belajar untuk mengendalikan diri namun tetap memperhatikan Bryce dari jauh sambil berkhayal. Juli memutuskan  menyimpan semua perasaannya dan tetap berharap suatu hari Bryce akan merasakan hal yang sama. Sayangnya, bagi Bryce, Juli adalah tamu yang tak diinginkan sekaligus bahaya yang tak bisa dihindarinya. Sejauh dan sekuat apapun dia berusaha untuk menjauh, Juli selalu ada di sana. Karena itu juga Bryce selalu merasa jengah dan terganggu dengan kehadiran dan tingkah Juli. Anehnya, Bryce tak pernah punya keberanian untuk mengatakan semua hal tersebut.
Semua tetap berjalan seperti itu, sampai insiden pohon sikamor dan telur-telur yang berakhir di tempat sampah membalikkan keadaan. Baik Juli dan Bryce masing-masing menyadari satu hal penting yang akhirnya mengubah semua pemikiran mereka selama enam tahun belakangan.

Cerita yang ringan namun tetap syarat dengan pesan yang mengena di hati. Nggak nyesel belinya. Lihat saja  semua bab saat Juli bercakap-cakap dengan ayahnya, termasuk bab yang membahas insiden pohon sikamor. Satu bab tentang ayah Juli cukup untuk memutuskan bahwa karakter yang sangat bijak ini paling banyak meninggalkan kesan. Hubungan ayah yang anak yang membuat saya jadi iri. Tidak hanya Ayah, Ibu Juli pun sama menyenangkannya. Walau terlihat sangat sempurna namun kedua karakter tersebut dibuat sangat hidup. Setelah Juli, Mr dan Mrs Baker adalah karakter yang saya sukai Saya pikir  Van Draanen sungguh berhasil menciptakan semua karakter yang ada. Bahkan ayah Bryce yang dangkal itu. Tingkahnya benar-benar mengesalkan. Bahkan ketika cerita baru saja dimulai dalam beberapa halaman. 

Mengenai terjemahan, saya rasa tidak ada masalah. Walau awalnya agak aneh dengan kalimat-kalimatnya yang terasa penuh dengan partikel lho dan sih. Namun setidaknya bisa saya pahami. Sampai akhirnya terbiasa dengan gaya bahasa yang digunakan, saya mulai menikmatinya. 

Kutipan-kutipan yang dihasil terjemahan pun banyak menarik. Salah satunya adalah kalimat yang diucapkan oleh Kakek Bryce saat membantu Juli memperbaiki halaman depan rumahnya.  
" ...banyak orang yang melihat permukaannya saja hingga akhirnya semua sudah terlambat."
Untuk cerita yang keren, tidak heran kalau Flipped mendapat 4 penghargaan. Saya pikir tidak perlu ragu lagi untuk baca buku ini, lihat saja bagaimana cerita ringan ini di tahun 2010 diadaptasi jadi film dengan judul yang sama . Dengan durasi 90 menit itu, setiap adegan film nggak kalah keren. Total rating dari para reviewer di IMDB sendiri 7.6/10. Kalau ngebandingin dengan bukunya, tidak ada bagian penting yang terlewatkan. Lihat sendiri deh trailernya. Lihat trailernya deh. Pemeran Juli kecil imut banget. 


Cover
Beneran kecewa banget dengan sampul depannya. Padahal kisah Jill dan Bryce keren banget. Pertama kali lihat di toko buku jelas nggak tertarik. Walau cover asli yang menjadikan anak ayam terbalik juga tidak menjadi pilihan. Dari Goodreads, aku nemu buku yang covernya diambil dari poster film. Aku pilih yang ini.




5/5

Flipped

Penulis: Wendelin van Draanen
Penerjemah: Sylvia L'Namira
Penerbit: Orange Books
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 272 hlm

Wednesday, 7 March 2012

Book Review: The Secret Year by Jennifer R. Hubbard


How do you get over someone who was never really yours to begin with?

Julia  and Colt were together for a year, but nobody knew of their secret love. Then Julia dies, and Colt's life spirals out of control. He is haunted by her memory, and things only intensify when her journal falls into his hands. Can Colt bring himself to read Julia's diary. Or will he live without answers to his burning questions about a romance that changed him forever? 

~~~

" How do you get over someone who was never yours in the first place ?"

Those words above were the first reason why I was dying to read this book. It was written in the synopsis of hardcover version. It did not take hours to grab my attention. They had such charms.

The story was told from Colt's point of view. It was nice to have a boy as the main character. I was kinda excited in the beginning. I liked the way he told the story. It was easy for me to distinguish the characters that he mentioned, except his male friends. There are too many of them. The description about the school, the flat, Black Mountain, the river were clear enough. I also liked how Colt told me the situation in his family.  I could follow the line that he drew from the beginning till the last page. The whole pictures could be captured.

I enjoyed the words options. They were combined became beautiful passages. I also found some nice quotes.

Nevertheless, Colt was not my favorite character. I hated him for being so cool. Whereas he was burnt inside. Julia did not have right to play such games. He deserved better. Unfortunately his eyes were closed. Colt could not see anything but Julia. 

I also got the problem with his emotional state. In the book, they were well-explained. From the first meeting till their fights and how they got back together. But I did not sense them all. I could not feel how sad Colt was when he knew about the accident. I barely knew what Colt felt when he got the journal.  But one thing for sure, I was tickled when I knew he let Julia treated him that way. 

Julia, a rich girl who made Colt's life like a roller coaster. Colt might like her  but not me. Julia was just another selfish character. She made thousand promises but fulfill none of them. I just did not understand all things that crossed her mind. One thing that I liked from Julia was  her journal. 
  
Although The Secret Year is not my favorite book, I still want to read another book of Jennifer R. Hubbart.

3/5 
 
Author: Jennifer R. Hubbart
Paperback: 192 pages;
Published Date: February 17th 2011
Publisher: Viking Juvenile
Language: English
ISBN-10: 0670011533

Wednesday, 28 December 2011

Review: Sweetly - Jackson Pearce


Dua belas tahun lalu, Gretchen, saudari kembarnya, dan Ansel, abangnya berjalan-jalan ke hutan. Mereka bertemu dengan makhluk mengerikan. Entah penyihir atau monster mereka tidak tahu. Mereka tunggang langgang melarikan diri dari kejaran si makhluk. Gretchen dan Ansel selamat, tetapi saudari kembarnya lenyap.

Beberapa tahun kemudian, mereka pindah ke Live Oak, sebuah kota yang nyaris ditinggalkan penduduknya. Keduanya tinggal di rumah Sophia Kelly, pemilik toko cokelat yang jelita. Gretchen dan Ansel mulai melupakan masa lalu mereka yang kelam, hingga Gretchen bertemu Samuel. Dia berkata kalau penyihir masih bersembunyi, mengintai dari hutan, memangsa para gadis setiap kali Sophia menggelar festival cokelat.

Gretchen memutuskan untuk melawan. Dia ingin tahu kenapa saudari kembarnya yang lenyap sementara dia selamat. Dan dia meyakini satu hal: monster itu akan datang lagi, dan ia takkan pergi sebelum kenyang. (Goodreads)
~~~

Tak Semua Hal Semanis Kelihatannya

Setelah menulis Sisters Red yang bercerita tentang kakak beradik Scarlett dan Rosie berburu serigala jadi-jadian, Jackson Pearce kembali dengan Sweetly. Kalau di buku sebelumnya ia memilih Red Riding Hood, di Sweetly Jackson Pearce menulis cerita berdasarkan kisah Hansel, Gretel dan penyihir lengkap dengan rumah kue jahenya.

Awalnya saya berpikir akan kembali menemukan  sosok Scarlet, Rosie dan Silas. Namun petualangan berburu Fenris kali ini membawa saya ke karakter-karakter baru. Jadi bagi yang belum membaca Sisters Red, tidak perlu khawatir. Cerita Sisters Red dan Sweetly berdiri sendiri. Walau keduanya masih terhubung dengan makhluk mengerikan, Fenris.

Ansel, Gretchen, Sophia dan Sam adalah empat karakter penting di buku ini. Semua cerita dilihat dari sudut pandang Gretchen. Rasanya tidak ada yang istimewa dengan karakter yang kerap bercerita bagaimana kesedihan yang ia alami.  Rasa takut dan trauma terhadap hutan juga tidak tampak. Sosok Gretcehn menjadi lebih hidup ketika ia bertemu Sam dan terlibat dalam perburuan Fenris. Terlebih ketika ia berusaha untuk mengungkap rahasia yang disembunyikan Sophia. Sosok Ansel, kakak laki-laki Gretchen, karakter yang diciptakan nyaris tanpa emosi sama sekali. Karena itu juga, kakak beradik rasanya menjadi kata yang tidak pantas diberikan pada Ansel dan Gretchen. Karena sejak halaman pertama mereka tidak nampak seperti kakak beradik. Walau Gretchen berkali-kali menyebut Ansel sebagai kakaknya di setiap kesempatan.  Kesan yang saya tangkap, mereka lebih mirip teman seperjalanan. Tidak lebih.

Dibanding ikatan kakak beradik itu ataupun jalinan kasih antara Sophia dan Ansel, setiap bab yang menceritakan bagaimana hubungan Gretchen dan Sam jauh lebih menarik. Senang rasanya membaca  semua hal yang terjadi pada keduanya. Sam jugalah yang membuat keberadaan Gretchen lebih terasa.

Sophia, perempuan cantik pemilik toko cokelat yang punya segudang rahasia. Satu-satunya yang membuat saya sangat penasaran. Dari cokelat-cokelat yang ia buat sampai semua hal yang ia tutup-tutupi. Dugaan demi dugaan bermunculan. Semua kebaikan dan sikap ramahnya menimbulkan sedikit ketakutan. Kalau-kalau semua hanya topeng. Saya sempat bertanya-tanya kapan ia akan membuka kedok dan mulai melakukan hal-hal jahat pada Ansel dan Gretchen. Sikap Sophia yang misterius nyaris membuat saya percaya dengan semua tuduhan yang terlontar dari Sam ataupun beberapa warga Live Oak yang tersisa. Hal itu juga yang membuat saya tidak sabar untuk sampai ke halaman akhir

Fenris tidak mendapat banyak peran di sini. Hanya terdapat beberapa bab yang menceritakan pertarungan yang melibatkan makhluk jadi-jadian ini. Kesan seram, buas, licik dan kejam masih terasa. Sayangnya mereka terlihat jauh lebih lemah dan sangat mudah dilumpuhkan. Walau tidak sering muncul, namun kehadiran mereka di bab-bab terakhir cukup seru.


Cover
Walau ada perbedaan warna dengan cover aslinya, tetap suka ngeliatnya. Desain sampul aslinya emang keren.

4/5

Judul: Sweetly
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Atria
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 408 halaman

Monday, 26 December 2011

Review: Sisters Red - Jackson Pearce

SERIGALA ITU MEMBUKA RAHANGNYA YANG PANJANG.
DERETAN GIGI TAJAM MENDEKAT KE ARAHNYA.
SEBUAH PIKIRAN BERKECAMUK DI DALAM BENAK SCARLETT:
CUMA TINGGAL AKU SENDIRI YANG TERSISA UNTUK BERTEMPUR.
JADI, SEKARANG AKU HARUS MEMBUNUHMU.

Scarlett March hidup untuk berburu Fenris, manusia serigala yang telah mengambil matanya ketika gadis itu berusaha melindungi adiknya, Rosie, dari sebuah serangan brutal. Dengan bersenjatakan sebilah kapak dan tudung merah darah, Scarlett merupakan ahli dalam hal memancing dan membasmi para serigala jadi-jadian. Dia bertekad untuk melindungi para gadis muda lainnya dari kematian yang mengerikan. Jantungnya yang berdegup kencang tidak akan pernah berhenti berpacu sebelum seluruh manusia serigala tewas.

Rosie March dulu mengira hubungan dirinya dengan sang kakak tidak akan pernah retak. Karena merasa berutang nyawa pada Scarlett, Rosie pun ikut berburu dengan ganas di samping kakaknya itu. Namun, bahkan ketika jumlah gadis muda yang menjadi korban semakin meningkat dan ketika kekuatan para Fenris terasa semakin bertambah, Rosie memimpikan sebuah kehidupan yang tidak melibatkan para manusia serigala. Dia mendapati dirinya tertarik pada satu-satunya sahabat Scarlett, Silas, seorang pandai kayu yang sangat mematikan dalam menggunakan kapak. Namun, apakah mencintai pria itu berarti mengkhianati kakaknya serta segala hal yang selama ini mereka perjuangkan? (Goodreads)
~~~

Kalau bukan karena Sweetly, buku kedua dari seri Fairytale Retelling, mungkin Sisters Red akan tetap berada di tumpukan.

Kata-kata "Dua Saudari Bertudung Merah" yang tertera di sampul depan ternyata tidak serta merta membuat saya teringat akan salah satu dongeng legendaris yang ditulis ulang oleh Grimm Bersaudara. Bahkan ketika akhirnya memutuskan untuk membaca sinopsis di belakang buku. Yang ada malah dugaan tentang cerita perburuan serigala jadi-jadian biasa. Semua lebih dikarenakan Jackson Pearce, sang penulis, membuat cerita baru yang seru dan tidak kalah menarik dengan dongeng aslinya. Saya baru dapat menarik garis merah setelah memulai petualangan Scarlett dan Rosie dan bertemu dengan Oma March, tukang kayu, pemburu dan Fenris, sang serigala jadi-jadian.

Scarlett dan Rosie, dari sudut pandang merekalah cerita Sisters Red yang berplot lambat, bergulir. Jackson Pearce menghidupkan keduanya dengan sangat baik. Tidak ada kesulitan untuk membedakan keduanya. Sifat,karakter, emosi keduanya dengan mudah dapat dipahami. Bagaimana protektifnya Scarlett ataupun kesalnya Rosie saat mengetahui dirinya tidak diikutsertakan dalam perburuan Fenris, semua dipaparkan dengan jelas. Bahkan obsesi Scarlett terhadap makhluk yang berbahaya ini pun sekali waktu membuat saya sedikit kesal.

Hubungan Scarlet dan Rosie sebagai dua kakak beradik adalah bagian yang paling saya suka. Keduanya seakan terikat satu sama lain. Terlihat bagaimana mereka seakan bisa "membaca" perasaan dan pikiran satu sama lain. Walau semakin lama, kedekatan mereka itu membuat saya cemas. Setiap babnya menyisipkan kekhwatiran akan adanya bagian dari cerita perjalanan berburu Fenris yang nantinya memporak-porandakan hubungan mereka berdua. Salah satunya saat Silas, seorang pemburu yang juga teman masa kecil mereka, muncul. Untungnya hal yang paling saya takutkan tidak terjadi. Mengenai Silas sendiri, saya tidak begitu terkesan dengan karakter pria yang satu ini.

Fenris, serigala jadi-jadian, mendapat porsi perhatian saya setelah kakak beradik bertudung merah. Deskripsi yang diberikan untuk Fenris oleh Jackson Pearce lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa mereka adalah makhluk kejam, penuh tipu daya, buas dengan rasa lapar yan tak pernah terpuaskan. Walaupun mereka tetaplah sosok yang misterius. Kawanan serigala jadi-jadian yang membuat saya penasaran. Gemas rasanya ketika hasil pencarian Scarlet, Silas dan Rosie ternyata tidak mampu mengungkap seluruh cerita dibalik sosok yang tak mengenal belas kasihan ini. Saya berharap ada penjelasan lebih lanjut mengenai mereka,termasuk pembagian kelompok mereka berdasarkan tato yang terdapat pada pergelangan tangan mereka. Sayangnya, hingga kisah Scarlett dan Rosie berakhir, hal-hal mengenai Fenris tidak terungkap dengan detail.

Satu hal yang paling seru dari buku ini adalah bab-bab yang menuliskan pertarungan antara Scarlett, Silas ataupun Rosie dengan para serigala. Jackson Pearce nampaknya tidak kesulitan untuk menuliskan setiap adegannya dengan detail. Begitu pula dengan sang penerjemah. Saat membaca semua kalimat yang menceritakan perkelahian, rasanya seperti melihatnya dengan mata kepala sendiri. Seru!

Namun dari semua hal yang saya ungkapkan di atas, ada sedikit menganjal. Yaitu tidak terdapatnya bagian yang menceritakan adanya keterlibatan serius dari pihak berwajib. Mengingat banyaknya korban yang berjatuhan karena Fenris yang lapar dan tersebar di seluruh penjuru kota. Seakan semua korban yang hilang dan tewas karena mahkluk jadi-jadian bukan masalah besar.

Cover
Penerbit Atria menggunakan cover yang sama dengan cover buku aslinya. Keren. Saya suka dengan perpaduan warna hitam dan merahnya. Baru sadar kalau di cover juga ada penampakan si rakus Fenris.

Judul Indonesia: Dua Saudari Bertudung Merah
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Ferry Halim
Editor: Ida Wadji
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 324 hlm

Thursday, 15 December 2011

Review: The Graveyard Book by Neil Gaiman

After the grisly murder of his entire family, a toddler wanders into a graveyard where the ghosts and other supernatural residents agree to raise him as one of their own.

Nobody Owens, known to his friends as Bod, is a normal boy. He would be completely normal if he didn't live in a sprawling graveyard, being raised and educated by ghosts, with a solitary guardian who belongs to neither the world of the living nor of the dead. There are dangers and adventures in the graveyard for a boy. But if Bod leaves the graveyard, then he will come under attack from the man Jack—who has already killed Bod's family . . .

Beloved master storyteller Neil Gaiman returns with a luminous new novel for the audience that embraced his New York Times bestselling modern classic Coraline. Magical, terrifying, and filled with breathtaking adventures, The Graveyard Book is sure to enthrall readers of all ages. (Goodreads)

~~~
My Thought
The Graveyard Book brought me to Nobody Owens. Yeah, he got a weird name. But no need to wonder why. Graveyard was the place where he grew up and lived since he was toddler. Nobody Owens, Bod, was also raised by the dead. He even had Silas, a guardian. Bod almost had no friend but them. Since he was young, he has been warned for many things, from the ghouls till the world outside. Bod was fined with all the rules. Afterwards, the curiosity inside him was getting bigger. There was nothing that could stop him even his guardian. He would only quit till he got the answer why. Bod did not understand that her foster parents, guardian, and teachers were trying to protect him. He just did not get it till he faced the man Jack, the fiercest man ever.

I was excited and worried in a same time when The Graveyard Book was in my hand. First, I had been waiting this book for so long. Second, I have never read Neil Gaiman's book in English. Some of his books that I have in my shelves had been translated. Reading some of them (The Anansi Boys and Stardust) made me think that Gaiman has his own writing style that was not easy to understand. I was not sure if I could get what he wrote. You have no idea, how relief I was when I found out that all the words were not that confusing as I thought before.

Bod, the main character in this book, would never become my favorite, if the other characters were not there. Let's say Silas, Mr and Mrs Owen, Elizabeth Hempstock, Scarlett, even the villain, the man Jack. All of them have their own way to make Bod become special. From all them, I loved the connection between Bod and Silas. I saw father and son relationship there. The chapter which involved Bod and Elizabeth Hempstock, the witch, was also a part that I adored. This chapter was also published in anthology Wizards: Magical Tales From the Masters of Modern Fantasy. Scarlett, she was also nice. She impressed me. I felt so bad when I found out what happened between Bod and her. I wish something better happened between them.

Every chapter has its own magnet. The development of the story and characters were also written very well. It was nice to see how Bod grew older.  There were mixed up feelings and it started even when I was in first chapter. The ending made me feel little bit lost and sad.  I wish Neil would write another ending for Bod.

The Graveyard Book makes me want to read more of Neil's works. I think I am going to read this book again next year.

Cover and Illustration
I love all the illustration inside. I spent more time to stare and look at them before I turn to the next page.  It is as good as what he put in Coraline. I wish all of Neil Gaiman's books were completed with Dave McKean's scratches. But it seems that they are only for children's books.

4/5

Author: Neil Gaiman
Illustrator: Dave McKean
Reading level: Ages 10 and up
Paperback: 336 pages
Publisher: HarperCollins; Reprint edition (September 28, 2010)
Language: English
ISBN-10: 0060530944
ISBN-13: 978-0060530945
Product Dimensions: 7.6 x 5.3 x 1 inches

Wednesday, 10 August 2011

Review: Senyum - Raina Telgemeier



Senyum, novel grafis yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama bulan Juni lalu, bercerita tentang Raina selama beberapa tahun. Dimulai dari kelas 6 sampai pertengahan kelas 9. Cerita Raina berawal dari kunjungannya ke dokter gigi dan orthodontis bersama ibunya. Setelah diperiksa, akhirnya diputuskan Raina harus menggunakan kawat gigi dikarenakan struktur giginya yang overbite. Keputusan orthodontis membuatnya menjadi sedikit gelisah dan bingung. Menurut Raina tak ada yang salah dengan gigi-geliginya. Kawat gigi akan sangat merepotkan. Menurut teman pramuka yang telah lebih dulu menggunakan kawat gigi, ia harus menghindari beberapa jenis makanan. 


Belum juga siap dengan kawat yang akan digunakannya, Raina ternyata harus mengalami kecelakaan yang cukup parah. Di hari yang sama, di perjalanan pulang menuju rumah setelah selesai dengan kegiatan pramuka bersama teman-temannya, Raina jatuh tersandung. Insiden ini menyebabkan dua gigi depannya rusak. Yang mengerikan, salah satu gigi depannya tanggal dan gigi lainnya terdorong masuk ke gusi. Malam itu juga, ia dibawa ke ruang praktek dr Golden. Oleh pria yang telah menjadi dokter gigi keluarga, gigi Raina yang copot dipasang kembali dan menarik keluar gigi yang masuk ke gusi. Intinya kedua gigi Raina digips. Sayangnya usaha itu tidak mengembalikan kedua gigi depannya seperti semula. Menurut dr. Golden, terdapat kerusakan saraf pada empat gigi depan. Meraka harus melakukan perbaikan lain. Dibantu oleh dr. Dragoni, dokter orthodentis, perawatan dua gigi depan Raina pun di mulai. 


Selain kawat gigi, Raina juga harus menggunakan headgear. Untung saja benda yang terakhir itu bisa digunakannya pada malam hari. Sayangnya, kunjungan demi kunjungan ke kantor dr. Dragoni juga tidak membuahkan kemajuan berarti. Akhirnya para dokter gigi dan orthodontis sampai pada satu keputusan. Kedua gigi Raina yang bermasalah itu harus dicabut. Tak ada pilihan lain.


Tak butuh waktu lama untuk menuntaskan kisah Raina dan gigi-geliginya. Cerita yang dituangkan gambar ini sangat ringan. Walau demikian, tidak membuat saya membacanya sepintas lalu. Karena berbagai emosi tetap mengalir di setiap lembarnya. Terutama ketika membaca insiden demi insiden yang dilalui Raina. Selain kisah yang ringan, Artwork yang keren dan halaman penuh warna menjadi bagian yang menarik dari novel grafis ini. Saya bahkan berkali-kali membuka kembali halaman demi halaman untuk melihat gambar-gambar tersebut. 


Ekspresi-eskpresi di wajah Raina digambarkan dengan sangat baik. Sehingga tidak sulit untuk merasakan apa yang ia rasakan. Ketika jatuh ataupun saat menjalani perawatan. Rasa sakitnya bisa saya bayangkan. Bahkan sempat membuat saya berpikir kembali tentang niat untuk memasang kawat gigi. Tak hanya itu anak perempuan berambut cokelat ini membuat saya tersenyum ataupun terpingkal untuk beberapa hal konyol yang ia lakukan. Raina memang karakter yang menarik. Saya menyukai semua perubahan yang terjadi pada diri anak perempuan yang akhirnya mengerti apa yang harus ia lakukan. Saya sempat dibuatnya berdecak kagum ketika akhirnya ia berani memutuskan untuk meninggalkan teman-teman yang selalu menjadikannya bahan lelucon. 


Bisa dibilang saya menikmati cerita ini. Walau ada satu hal yang sedikit mengganjal. Ada beberapa istilah yang tidak diterjemahkan. Entah apakah memang tidak terdapat padanan kata dalam bahasa Indonesia. Salah satunya Overbite. Saya harus menggunakan mesin pencari untuk tahu dan mengerti apa maksud dari kata tersebut. 


Cover 
Cover yang diterbitkan oleh Gramedia ternyata tidak ada perubahan dari cover aslinya. Kecuali beberapa perubahan font. Covernya menurutku terlalu simple untuk sebuah novel grafis yang setiap halamannya penuh warna-warni menarik. Jika tidak membaca review Senyum di blog Mia dan hanya melihat sampul depan, saya mungkin tidak akan pernah tahu kalau buku ini adalah novel grafis. Terlepas dari desain yang sederhana, saya suka warna yang dipilih sebagai background.


4/5


Senyum 
Judul Asli: Smile
Penulis: Raina Telgemeier |Website | Twitter| Facebook 1 - 2
Penerjemah: Indah S. Pratidina 
Editor: Dini Pandia 
Cetakan: Juni 2011 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Tebal: 224 Hlm


Friday, 17 June 2011

Review: Cinder and Ella by Melissa Lemon


After their father’s disappearance, Cinder leaves home for a servant job at the castle. But it isn’t long before her sister Ella is brought to the castle herself—the most dangerous place in all the kingdom for both her and Cinder. Cinder and Ella is a Cinderella story like no other and one you'll never forget. (Goodreads)
My Thought
When someone mentions Cinderella, I will straightly remember about her wicked step mother and sisters, a fairy godmother, the glass shoes, a great ball, and a prince charming with his castle. It is so easy to retell the story. But when I saw Cinder and Ella, I got no clue. I wondered what the author brought to the surface. How much it was related to the original story was the main question.

In the beginning Mellisa Lemon, the author, has warned the reader that in Cinder and Ella, there would not be any fairy godmother who could grant any wishes. There was not any prince charming. She told us to left the entire tale behind. Cinder and Ella brought a different story. It’s about two sisters who used to have a happy life with their parents and two other sisters in Willow Top. But everything changed when the prince came and met their father. Few days after, their father disappeared. A comfortable dwelling suddenly turned into hell. Quarrelling between the siblings happened almost everyday. Nasty words were in the air. Two of them just could not stop screaming or whining. If Katrina was the most demanding, Beatrice, the youngest, become much more spoiled. Adelle, their mother did not do anything but sat at an spinning wheel. She could no longer care her four daughters. So all things related to household was run by the remaining one, Cinder and Ella.

Cinder did everything without any complaint. Ella, herself, stayed in the house because Cinder was there. So when her sister decided to work at castle to get more money for the family, Ella chose to leave the house. Because she found no more reason to stay with her family who has totally forgotten her. After sometimes, the destiny brought Ella to the castle. Not only met Cinder, but she also found some revealed facts about her long lost father. She had nothing with her but she knew that she had to move fast or the evil prince would win everything.

The idea in Cinder and Ella was unique. I like the adventure inside. Almost all characters were  interesting.  Ella was my favorite. Her strength made me like her. Although they were so annoying, Katrina and Beatrice played a good role. Some knights were also in a great shape. The plain Cinder even took a part that made this book become special.

However I did not enjoy all of the part of the story.  I almost lost my interest in the end of the book. Especially when it connected to the vicious prince. I was glad that  I was not lost and could finish the book. But I still recommend this book to anyone.

Cover
If you have read the book, you will understand why they put the tree in the front. But I wish I could see Cinder or Ella, even both of them. 

3/5

Author: Mellisa Lemon| Facebook fan page | Twitter |  Blog |  Goodreads
Paperback: 208 pages
Publisher: Cedar Fort, Inc. (November 8, 2011)
Language: English
ISBN-10: 1599559064
ISBN-13: 978-1599559063
Source: Net Galley

Buy Cinder and Ella at Amazon



Check the blog tour schedule, to read another reviews and Melissa's Guest Post

Monday, 30 May 2011

Review: Firelight - Sophie Jordan


Buku fantasi adalah salah satu genre yang paling saya sukai. Terlebih ketika sang naga menjadi bagian dalam ceritanya. Ketika mengetahui bahwa buku yang ditulis oleh Sophie Jordan ini juga menuturkan kisah tentang si mahluk mitologi, saya sontak memasukkan buku ini ke dalam wishlist. Dari Goodreads dan Amazon, hampir semua blogger buku luar negeri menyukai buku ini. Terlihat jelas dari rating yang mereka berikan. Membaca beberapa review buku ini dan excerpt membuat saya semakin penasaran. Saat itu, akhir tahun 2010, saya belum mengetahui bahwa Firelight akan diterjemahkan oleh Penerbit Atria. Jadi, sempat terbersit keinginan untuk membeli buku yang diterbitan HarperTeen. Beruntung saya tidak terburu-buru melakukannya. Karena akhir Maret 2011, sang editor mengatakan buku ini sedang dalam proses pengeditan. Senang rasanya. Apalagi ketika buku ini dikirimkan langsung oleh penerbit untuk direview. Saya tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui bagaimana kisah Jacinda, gadis keturunan naga.

Tidak seperti kawanan Draki- manusia keturunan naga- lainnya, Jacinda adalah jenis draki yang tidak biasa. Dia adalah satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk menyembur api. Keberadaan Jacinda menjadi sangat berarti. Ia menjadi tumpuan harapan. Karena draki penyembur api akhirnya muncul setelah menunggu selama empat ratus tahun. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Severin,ketua kelompok bersikeras untuk menikahkan Jacinda dengan pewarisnya, Cassian. Diharapkan, mereka berdua akan menghasilkan draki-draki penyembur api lainnya.

Namun ide itu ditentang keras oleh ibu Jacinda. Ia keberatan kalau anak perempuannya dijadikan induk pembiak untuk para penyembur api cilik. Malam itu juga , setelah kejadian yang nyaris merenggut nyawa Jacinda, bersama Tamra, saudara kembar Jacinda, mereka meninggalkan rumah secara diam-diam. Memilih kota yang cukup jauh dari jangkauan para draki. Tidak tanggung-tanggung, padang gurun adalah lokasi yang dipilih untuk menetap. Ibu Jacinda tahu benar, di tempat ini, anaknya akan kesusahan untuk berubah wujud. Dengan begitu, secara perlahan, naluri draki Jacinda akan padam. Dan itulah yang diharapkan ibunya.

Sayangnya tidak semudah itu membunuh naluri draki dalam diri Jacinda. Secara diam-diam ia menyusup keluar rumah untuk berubah wujud. Jacinda tahu resiko yang harus ditanggungnya jika ketahuan. Namun ia tak punya pilihan lain. Dorongan naluri draki dalam dirinya terlalu besar untuk dilawan. Masalah lain muncul ketika ia harus beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang tidak semuanya ramah. Jacinda kembali bertemu dengan Will, salah satu kawanan pemburu yang dulu pernah ditemuinya saat insiden. Tak hanya Will, pemburu lain juga berada di sekitar Jacinda. Dari aura yang terpancar, mereka seakan siap untuk mengoyak tubuh para draki setiap saat.

Suka!!!. Saya menikmati semua hal yang diceritakan Jacinda. Dari cerita tentang jenis-jenis Draki, bagaimana mereka berubah wujud, semua fakta yang mengejutkan dari penuturan ibu Jancida ataupun cerita tentang kejam para pemburu. Kisah yang terjalin antara Jacinda dan Will juga sebagai pelengkap yang manis. Semua menjadi semakin menarik ketika fakta mengenai Will terungkap. Akhir yang dibuat oleh Sophie Jordan, sang penulis, membuat saya tidak sabar ingin membaca Vanish, buku selanjutnya yang akan dirilis September tahun ini.

Karakter-karakter di buku ini menarik.Walau banyak diantaranya membuat saya kesal. Nama - nama yang dipilih Sophie untuk para Draki dan keluarganya juga unik. Jacinda, Tamra,ataupun Cassian. Nama mereka tidak pernah saya temui sebelumnya. Saya jadi penasaran dari mana nama-nama itu berasal.

Jacinda menjadi satu-satunya karakter yang saya sukai selain Will. Semua hal yang dirasakan draki penyembur api ini dengan mudah saya mengerti. Bahkan Ibu Jacinda ataupun saudara kembarnya Tamra dengan cepat menyulut emosi saya. Bahkan keberadaan sepupu-sepupu Will juga sempat membuat saya takut.

Walau masih menemukan beberapa typo di beberapa bab, saya tetap salut pada kerja keras penerjemah dan editor. Karena mereka mampu menyajikan Firelight dengan sangat baik.

Untuk semua yang suka dengan cerita tentang naga yang tidak biasa, saya merekomendasikan Firelight menjadi salah satu bacaan kalian.

Cover
Dibandingkan dengan cover aslinya, design versi Atria nggak kalah keren. Namun kalau disuruh memilih, cover yang diterbitkan oleh HarperTeen akan menjadi pilihan pertama.

4/5

Sumber: Penerbit untuk direview
Penulis: Sophie Jordan
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wadji
Penerbit: Atria
Cetakan: I, April 2011
ISBN: 978-979-024-475-7

Friday, 20 May 2011

Review: Scenarios 4 : Making Waves by Nicole O'Dell


Kate Walker joins the swim team and becomes obsessed with practice and making it through the championships with flying colors. What will Kate do when she s faced with pressure from her teammates to take an illegal substance that will help her swim multiple events in their championship meet? Girls ages 10 to 15 make the choice in this interactive story and see how the consequences change Kate s life. Includes a contract and prayer to remind the reader of the importance of making godly decisions.
My Thought
This is one of the first books that I received through Net Galley. The other book is Magna. You can find my review about Magna here. The publisher combined these two books and put Risky Business as the title. I think I prefer to review it one by one.

In Making Waves, I met Kate Walker. She was left by many people she loved. One of them is Julia, her best friend, who moved to another town. So she has no friend to talk to and shared everything. She still has a great and lovely mother. But it would be different. And that explained why she felt so lonely.

Then one day, Kate decided to join the swim team to ease the pain. Just in one training season, she directly become the stars. In few day, she was already become a part of the team. Her couch prepared her to participate in State competition. No need to wonder why. Kate was a great and avid swimmer. Since then, her schedule become so tight. It made her really exhausted. Then, one offer that sound promising was approached. It made her become so confused. In one side, it could help her get more energy. In other side, she knew it so well, it was illegal. What a dilemma!

I liked many things from this book. It has simple word choice, nice plot and also sweet ending for everyone. There was one scene that touched my heart. My eyes were teary because of it. From all the characters. Kate's mother was my favorite.


Just like in Magna, you can get two different endings in one book. They let you choose. But I did not do it. Because I was just too curious. So I read both of them. I wanted to know how the plot ran for each options.

Cover
The setting is drawn well in the cover. The color combination is also nice. I liked it. But in my imagination, Kate is more beautiful than the model above. However it's not stated in the book.

3/5

Author: Nicole O'dell | Website | Twitter | Goodreads
Reading level: Young Adult
Paperback: 192 pages
Publisher: Barbour Publishing, Inc.; Original edition (April 1, 2010)
Language: English
ISBN-10: 9781602608450
ISBN-13: 978-1602608450
ASIN: 1602608458
Product Dimensions: 8 x 5.5 x 0.5 inches

Wednesday, 11 May 2011

Waiting on Wednesday: Sisterhood Everlasting by Ann Brashares


From #1 New York Times bestselling author Ann Brashares comes the welcome return of the characters whose friendship became a touchstone for a generation. Now Tibby, Lena, Carmen, and Bridget have grown up, starting their lives on their own. And though the jeans they shared are long gone, the sisterhood is everlasting.
Despite having jobs and men that they love, each knows that something is missing: the closeness that once sustained them. Carmen is a successful actress in New York, engaged to be married, but misses her friends. Lena finds solace in her art, teaching in Rhode Island, but still thinks of Kostos and the road she didn’t take. Bridget lives with her longtime boyfriend, Eric, in San Francisco, and though a part of her wants to settle down, a bigger part can’t seem to shed her old restlessness.
Then Tibby reaches out to bridge the distance, sending the others plane tickets for a reunion that they all breathlessly await. And indeed, it will change their lives forever—but in ways that none of them could ever have expected.
As moving and life-changing as an encounter with long-lost best friends, Sisterhood Everlasting is a powerful story about growing up, losing your way, and finding the courage to create a new one. (Goodreads)


For those of you who have read The Sisterhood of the Traveling Pants, you might have recognized this books. Yes, Tibby, Lena, Carmen, and Bridget are back.!!!

Hardcover: 368 pages
Publisher: Random House (June 14, 2011)
Language: English
ISBN-10: 0385521227
ISBN-13: 978-0385521222
Product Dimensions: 8.3 x 5.7 x 1.1 inches
Pre order Sisterhood Everlasting: A Novel (The Sisterhood of the Traveling Pants) at Amazon

~~~

"Waiting" On Wednesday is a weekly meme that hosted by Breaking The Spine

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...