Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Thursday, 26 January 2012

Book Review: Alice-Miranda At School - Jacqueline Harvey





“Dadah, Mama. Tolong kuatkan hati Mama.” Ibunya menanggapi dengan isak tangis keras. “Selamat bermain golf, Papa. Kita bertemu di liburan akhir semester.” Ayahnya membuang ingus ke saputangannya.

Sebelum kedua orangtuanya sempat mengucapkan selamat tinggal, Alice-Miranda sudah berjingkrak-jingkrak menyusuri jalan setapak yang diapit pagar tanaman, menuju rumah barunya.

Akademi Winchesterfield-Downsfordvale, itulah rumah baru Alice-Miranda. Dan sejak kedatangan Alice-Miranda, tempat itu berubah drastis. Semua terasa lebih hidup dan menyenangkan. Namun, tidak semua orang senang dengan perubahan itu. Termasuk kepala sekolah, Miss Grim, dan kepala prefeknya, Alethea.

Gadis 7 tahun itu diberi berbagai tantangan seperti tes tulis semua pelajaran, lomba berlayar melawan Alethea dan kawan-kawannya, sampai harus berkemah di hutan sendirian selama beberapa hari. Akankah Alice-Miranda mampu melewati semua tantangan itu? Juga, bisakah dia membuat Miss Grim keluar menemui para muridnya setelah 10 tahun mengurung diri dalam kantor? (Goodreads)


~~~


Karakter yang diciptakan dengan banyak kelebihan hingga nyaris sempurna sering kali membuat dahi berkerut. Gambaran betapa istimewa dan beruntungnya mereka kerap kali membuat saya tidak dapat menikmati kisah yang tertuang dalam buku tersebut. Bukannya iri tapi lebih karena keberadaan mereka terlalu indah untuk menjadi kenyaatan. Bahkan di buku sekalipun. Namun pengecualian untuk Alice-Miranda At School. Buku yang bercerita tentang anak perempuan yang berusia tujuh tahun di Sekolah Akademi Winchesterfield-Downsfordvale Untuk Perempuan Muda Baik-Baik bisa saya lahap dengan mudah, tanpa sekali pun memutar mata karena kesempurnaan yang dimilikinya.

Namun kalau dipikir-pikir lagi, sempurna bukan kata yang tepat.Semua sikap dan kebiasaan Alice- Miranda cenderung masuk kekategori janggal untuk anak sesuainya. Lihat saja bagaimana keputusan Alice-Miranda untuk memulai kehidupannya di sekolah berasrama di usianya yang belum genap delapan tahun. Belum lagi sikap mandiri dan rasa optimis yang dimilikinya. Anak perempuan yang menghabiskan liburan bersama orang tuanya di banyak tempat terkenal ini tidak mengenal kata egois. Ia tak sekalipun merasa terganggu ketika mendapat reaksi yang tidak menyenangkan dari orang-orang yang baru dikenalnya ketika ia mencoba bersikap ramah. Alice-Miranda juga tidak sekalipun menyimpan dendam untuk semua perlakuan yang tidak pantas.

Berbicara masalah kecerdasan, jangan menganggapnya sepele. Di usinya yang baru tujuh seperempat tahun ,ia dengan mudah menglafalkan keenak nama istri Raja Henry VIII dan mengerjakan pembagian yang panjang dan rumit. Bahkan diceritakan ia paham Sejarah Romawi dan Mesir Kuno bahkan Perang Dunia Kedua sekalipun. Mengertikan mengapa saya menyebutnya sempurna? Namun seperti yang saya sebut sebelumnya, kesempurnaan anak perempuan yang tidak mengenal kata menyerah, tidak menjadi penghalang untuk menikmati kisah yang ditulis sangat ringan. Setidaknya konflik di buku ini masih membuat saya penasaran. Alice-Miranda sepertinya memang punya magnet, sehingga semua hal itu tidak menjadi masalah besar. Magnet itu juga yang mungkin menjadikan tokoh-tokoh lain menyukainya. Kecuali Miss Grimm dan Alethea tentunya.

Masih seputar karakter di buku ini,terkecuali Alice-Miranda, Jacqueline Harvey menciptakan katakter-karakter lain dengan sangat baik. Semua karakter punya ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan yang lain. Sebut saja Miss Higgins sang Sekretaris sekolah, Jacinta-tukang ngamuk terhebat nomor dua sesekolah, Millie-teman sekamarnya Alice-Miranda, Mr Charles si tukang kebun, Mrs Oliver ataupun Mrs Smith yang menjadi juru masak. Alethea dan Miss Grimm yang menjadi tokoh antagonis pun masuk hitungan. Mereka berdua memainkan peran dengan sangat baik.

Beralih ke hal-hal yang sedikit menganggu sehingga buku ini hanya saya beri empat bintang. Pertama, pemilihan nama untuk Alice-Miranda. Mengapa harus menyandingkan dua nama dan menjadikannya panggilan untuk sang karakter utama? Mengapa tidak memilih satu nama saja? Memanggilnya dengan Alice menurut saya cukup. Kedua, mengenai tes menjelajahi alam bebas, yang selanjutnya disebut hutan, selama lima hari lamanya. Semua juga tahu hutan bukan tempat yang aman untuk anak-anak. Terlebih lagi tanpa pengawasan orang dewasa. Bahkan ketika kawasan hutan itu terletak disekitar asrama. Anehnya tidak ada protes dari ayah dan ibu Alice-Miranda yang dari awal terlihat sangat memanjakan anaknya.

Namun terlepas dari semua keanehan itu, saya memutuskan untuk tetap membaca kelanjutan seri Alice-Miranda. Saya juga merekomendasikan buku ini sebagai bacaan untuk anak-anak usia sekolah dasar ataupun pendidikan menengah. Alice-Miranda dicetak dengan font yang cukup besar rasanya cocok untuk pembaca pemula.

Cover dan Ilustrasi
Tidak ada perbedaan besar antara cover asli dan cover terbitan Little K. Alice-Miranda terlihat lucu di sampul depan. Untuk ilistrasi yang ada di dalam buku, menurut saya kurang banyak. Apalagi jika buku ini ditujukan sebagai bacaan Middle-Grade.


4/5

Alice-Miranda At School
Penulis: Jacqueline Harvey
Penerjemah: Reni Indardini
Editor: Herlina Sitorus
Penerbit: Little K
Cetakan: I, Juni 2011

Reading Challenge: Name in a Book Challenge

ang

Thursday, 22 December 2011

Review: Please Look After Mom - Kyung Sook Shin


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.
(Goodreads)
~~~

That you don't know what you've got til it's gone.
~Counting Crows~

Tidak perlu membaca sinopsis di belakang buku untuk tahu tema apa yang diusung buku ini. Dari judul yang tertera di sampul depan, saya dengan mudah bisa menebaknya. Dan tidak perlu berpikir lama untuk membawa pulang buku ini dan menjadikannya salah satu penghuni rak buku di rumah. Yah, semua buku yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya seperti For One More Day yang ditulis Mitch Albom, memang selalu punya tempat khusus. Seperti halnya fantasi dan fiksi sejarah, mereka punya daya tarik tersendiri.

Park So-Nyo, wanita berusia 69 tahun, hilang. Terakhir ia terlihat di stasiun kereta Seoul. Ibu, istri sekaligus adiki ipar ini tak dapat ditemukan di mana pun. Ratusan selebaran telah dicetak dan  disebar. Beberapa orang yang mengaku telah melihat wanita paruh baya tersebut. Namun hasilnya nihil. Park So-Nyo tak juga ditemukan. Tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar melihat wanita, dengan baju warna biru, jaket putih, dan rok lipit krem, ataukah hanya mengincar imbalan yang dijanjikan.

Kesedihan membayangi setiap anggota keluarga. Satu demi satu kenangan akan sosok Park So-Nya pun berkelebat di benak mereka. Perasaan bersalah mulai menghantui dan pada akhirnya menyisakan rasa kehilangan dan penyesalan yang mendalam. Dari penggalan ingatan mereka,  sosok Park So-Nyo menjadi semakin jelas. Tidak hanya sifat dan kebiasaan namun bagaimana keinginan dan mimpinya terungkap dengan jelas.

Dari Chi-hon, Hyong-chol dan anak perempuan yang tak disebut namanya, Park So-Nyo adalah ibu yang kuat dan tak pernah mengenal kata lelah.  Pekerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya tidak membuatnya mengeluh. Dari dua bab pertama, tergambar dengan jelas betapa besar kasih sayang yang diberikan Park So-Nyo kepada semua anak-anaknya. Bahkan ketika mereka semua telah meninggalkan rumah. Perhatian yang diberikan sama sekali tidak berkurang. Suami, kakak dan adik ipar pun mendapatkan hal yang sama walau dengan cara yang berbeda. Seakan tak peduli apa yang telah dan tengah terjadi. 

Dari semua potongan kisah itu, bagian yang paling saya sukai adalah bagian yang menceritakan bagaimana kedekatan Park So-Nyo dengan adik ipar yang seakan dianggap sebagai anaknya sendiri. Bab yang menceritakan sisi lain dari Park So-Nyo yang tidak mengejutkan suami dan anak-anaknya, namun saya sebagai pembaca,  juga menjadi salah satu bagian yang terbaik dari buku ini.

Awalnya saya sempat bingung dari sudut pandang siapa buku ini bercerita. Terutama di bab satu dan dua. Namun ketika beralih ke bab tiga dan seterusnya, semakin jelas siapa sang narator. Salut atas kepiawaian Kyung Sook Shin, sang penulis. Tidak hanya cara ia menyusun  semua cerita, tapi juga bagaimana menciptakan dan menghidupkan karakter demi karakter dan yang paling penting adalah ia mampu menyisipkan emosi demi emosi di setiap babnya. Walau telah menyelesaikan buku ini beberapa hari yang lalu, buku ini masih menyisakan banyak kesan.  Saya masih ingat bagaimana kecemasan dan keputusaaan Hyong-chol ataupun rasa bersalah Chi-hon. Untuk sebuah buku fiksi - drama keluarga, buku ini benar-benar menguras emosi.

Tidak perlu khawatir untuk masalah terjemahan. Saya sama sekali tidak merasa kesulitan untuk memahami setiap kalimat. Kalau buku ini bebas typo, pasti akan  lebih menyenangkan membacanya.

Cover
Di Goodreads, saya menemukan beragam sampul. Desain cover yang dipilih pihak Gramedia tidak kalah dengan yang diterbitkan di negara-negara lain. Namun dari semua cover yang ada, saya paling suka cover yang diterbitkan di China.




5/5

Judul Indonesia: Ibu Tercinta
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 296 hlm

Monday, 7 November 2011

Review: Size 12 Is Not Fat - Meg Cabot

Heather Wells, mantan penyanyi pop idola remaja, telah sampai pada titik jenuh: bosan menyanyikan lirik lagu ciptaan orang lain, tapi produsernya tidak mau menandatangani kontrak baru untuk lagu-lagu ciptaannya sendiri. Keadaannya diperparah dengan ayahnya dipenjara, ibunya kabur ke Buenos Aires bersama seluruh isi tabungan putri satu-satunya itu, dan Heather tampaknya tidak bisa berhenti membenamkan diri dalam kesedihannya dengan melahap cokelat KitKat. Puncaknya, tunangannya Jordan Cartwright telah menggesernya---dari tangga lagu maupun dari ranjangnya---dan menggantikannya dengan bintang pop nomor satu terbaru Amerika, Tania Trace.

Heather lalu mendapatkan pekerjaan di asrama
New York College
---tak jauh dari tempat tinggal sementaranya di rumah Copper---temannya sekaligus kakak mantan tunangannya yang sangat baik kepadanya. Kelihatannya keadaan mulai membaik... setidaknya sampai gadis-gadis di asrama tewas satu per satu dalam waktu berdekatan. Selancar lift merupakan penjelasan resmi dari administrasi kampus mengenai penyebab kematian para gadis itu, tapi Heather punya kecurigaan lain. Dengan bantuan setengah hati dari Cooper, Heather berusaha menyelidiki kematian-kematian tersebut, tanpa menyadari itu bukan hanya sekadar untuk menjawab rasa ingin tahunya, melainkan mungkin akan menjadi pekerjaannya seumur hidup.~Sinopsis dari Goodreads~

~~~

Ketika pertama kali melihatnya di deretan buku baru, saya sungguh tak menyangka karya Meg Cabot ini bercerita tentang misteri pembunuhan. Dari judulnya, saya mengira buku ini akan berkisah tentang kehidupan seorang wanita yang bermasalah dengan berat badan. Sempat terbersit pertanyaan segemuk apa wanita yang berukuran 12, sebelum akhirnya mendapatkan jawabannya melalui mesin pencari.

Heather Wells, wanita yang menjadi karakter utama di buku ini. Butuh waktu untuk mengumpulkan keping demi keping yang berkaitan dengan dirinya dan menyusunnya menjadi sosok yang utuh. Dari perubahan postur tubuh karena kebiasaan makan yang tidak teratur dan rambutnya yang pirang. Sampai  akhirnya pilihan jatuh pada sosok Britney Spears. Sehingga tidak ada kesulitan untuk membayangkan masa lalu Heathers sebagai penyanyi pop yang menjadi idola banyak gadis remaja.

Banyak hal yang membuat saya menyukai Heather. Bukan hanya caranya menuturkan cerita yang kadang membuat saya tergelak, tetapi juga karena Heather adalah sosok wanita yang kuat. Ia tak pernah benar-benar peduli akan perkataan orang lain akan masa lalunya. Bahkan ketika mereka menjadikannya lelucon. Ia memang tak menyangkal, banyak bagian dari masa lalunya yang tidak menyenangkan, namun hal tersebut tidak serta merta membuatnya dendam. Bahkan di luar dugaan, ia memaafkan ibu kandung yang kabur meninggalkannya begitu saja dengan semua uang tabungan yang dihasilkannnya sebagai penyanyi. Meg Cabot memang tidak pernah gagal menciptakan dan membuat karakter utama yang menarik dan menjadinya benar-benar hidup. Selain Heather, saya juga menyukai Sarah dan Magda, yang menjadi rekan kerja Heather di New York College. Sangat disayangkan, tidak ada yang istimewa dari karakter Cooper ataupun Jordan.

Berbicara mengenai dua insiden yang terjadi di asrama, saya tak dapat menahan untuk tidak mengeryitkan alis. Sebagai penggemar serial CSI dan cerita detektif, saya merasa banyak hal aneh. Pertama, tidak ditutupnya lift yang menjadi tempat kejadian perkara. Semua penghuni asrama bisa kembali menggunakan lift begitu mayat disingkirkan. Padahal dua kecelakaan yang sama terjadi dalam waktu yang berdekatan. Kedua kasus yang membuat Heather khawatir ini juga sepertinya tidak mendapat porsi penyelidikan yang lebih dari pihak kepolisian. Kemungkinan besar wawancara mendalam juga tidak dilakukan terhadap orang-orang tertentu. Bahkan ketika tidak ditemukannya alasan kuat bagi kedua mahasiswi tersebut untuk melakukan bunuh diri, sama sekali tidak ada penetapan tersangka. Lebih anehnya lagi, tim investigasi sama sekali tidak memeriksa kamar dan barang-barang korban. Saya menjadi sangar gusar karenanya. Sepertinya hal-hal demikian luput dari riset Meg Cabot. Bahkan ketika ia bermaksud untuk menulis sebuah cerita misteri yang ringan dan sederhana sekalipun.

Terlepas dari semua hal ganjil di atas, saya tetap dibuat penasaran siapa yang menjadi dalang atas dua kejadian tragis tersebut. Ini juga yang menjadi alasan mengapa saya mampu melahap buku ini hingga halaman terakhir. Menjadi sangat menyenangkan ketika menemukan sang pelaku kejahatan tidak terdapat dalam daftar tersangka beserta motif yang saya buat.

Walau tidak begitu terkesan dengan buku ini, saya akan tetap membaca Size 14 is Not Fat Either. Saya ingin tahu apakah Heather berhasil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.

Cover
Sampul depan menjadi salah satu alasan mengapa saya membeli buku ini.


Size 12 is not Fat
Judul Indonesia: Ukuran 12 Tidak Gemuk
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Barokah Ruziati
Editor: Widi Lugina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 416 hlm

Tuesday, 31 May 2011

Review: Wuthering Heights - Emily Brontë



Wuthering Height, buku yang ditulis oleh Emily Brontë dan diterbitkan untuk pertama kalinya tahun 1847 ini sempat membuat saya penasaran. Tidak hanya disebut-sebut di tiga buku berbeda yang telah saya baca sebelumnya ( Daddy Long Legs, Twilight series, Evermore), kisah tentang Catherine dan Heathcliff ini juga ternyata ada di Topeng Kaca, manga karya Suzue Miuchi. Tidak seperti di tiga buku yang hanya menyebutkan Wuthering Height sepintas lalu, di Topeng Kaca saya mendapatkan sedikit gambaran bagaimana kisah buku ini dimulai. Sayangnya di sana hanya memberikan penggalan kisah Heathcliff dan Catherine di masa kanak-kanak. Jadi saya tidak pernah mengetahui bagaimana kelanjutannya. Beruntung beberapa bulan kemudian versi novel pun diterbitkan. Dari buku ini lah saya akhirnya tahu bagaimana kelanjutan cerita klasik yang membuat perasaan saya bercampur aduk saat membacanya.

Kisah Wuthering Heights awalnya dinarasikan dari Ellen Dean (Nelly) yang bekerja sebagai pengurus rumah keluarga Earnshaw dan Linton. Cerita kemudian dilanjutkan oleh Mr Lockwood berdasarkan penuturan Nelly.

Semua kisah berawal dari kedatangan Heathcliff di tengah-tengah keluarga Earnshaw. Mr Earnshaw memutuskan untuk membawa anak laki-laki yang identitas tak jelas itu untuk tinggal bersama. Kehadiran Heathcliff yang mendadak tentu tidak mendapat sambutan yang hangat dari anggota keluarga yang lain. Walaupun akhirnya oleh Catherine Earnshaw memutuskan untuk menerima Heathcliff, namun tidak demikian dengan Hidley Earnshaw. Kebencian anak laki-laki keluarga Earnshaw seakan tak pernah padam sejak pertama kali Heathcliff menginjakkan kaki di Wuthering Heights. Bertahun – tahun Heathcliff mendapat perlakuan yang kasar. Dan semua itu semakin menjadi ketika Hidley menjadi kepala keluarga Earnshaw. Keberadaan Catherine di sisinya lah yang mampu membuat Heathcliff bertahan. Sayang suatu hari Heathcliff memutuskan untuk meninggalkan Wuthering Heights. Semua itu dikarenakan Catherine, wanita yang dicintainya sejak kecil, memilih untuk menikah dengan Edgar Linton. Bertahun-tahun yang mereka lalui bersama seakan tak berarti apa-apa. Heathcliff yang sangat terluka akhirnya memutuskan pergi.

Tiga tahun kemudian, dendam dan cinta yang tersisa membawa Heathcliff kembali ke Wuthering Heights. Tiga tahun ternyata cukup untuk mengubah peruntungan Heathcliff. Ia berubah menjadi pria kaya. Sayangnya bukanlah waktu yang cukup untuk menghapus lukanya di masa lalu. Namun waktu sesingkat itu, Heathcliff berubah menjadi pribadi yang kejam dan tanpa belas kasih. Segala macam cara ditempuh hanya untuk membalas sakit hatinya.Hanya dalam waktu singkat, dengan keculasannya, Heathcliff berhasil membalikan keadaan. Seakan tak pernah puas, hal itu terus ia lakukan terhadap generasi-generasi selanjutnya.

Wuthering heights adalah buku yang benar-benar menguras emosi. Sering kali saya menjadi marah hanya karena membaca setiap kalimat yang diucapkan oleh para tokoh. Tidak jarang saya ingin membungkam Heathcliff, Catherine ataupun para pelayan di Wuthering Heights karena kata-kata mereka yang tajam dan tidak sopan. Amarah saya juga tersulut melihat semua perlakuan tidak pantas yang diterima oleh Mr Linton ataupun Isabelle dan tokoh-tokoh lain. Hal ini juga yang membuat saya kadang berpikir untuk berhenti membaca buku setebal 487 halaman ini. Namun tingkah laku mereka pula yang membuat saya akhirnya mengambil buku kembali. Cerita gelap yang penuh kebencian ini sungguh membuat saya penasaran.

Tokoh favorit saya jelas bukan Heathcliff ataupun Catherine. Walau awalnya saya sempat menikmati kisah masa kecil mereka. Sosok Catherine Earnshaw kecil juga sangat menyenangkan. Tidak jarang saya dibuat tersenyum karena tingkah lakunya. Namun begitu beranjak dewasa dan mulai mengenal perasaan satu sama lain, baik Heathcliff maupun Catherine berubah menjadi tokoh yang tidak mengundang simpati sama sekali. Lihat saja bagaimana keegoisan Catherine ketika dihadapkan dengan lamaran Mr Linton. Saya tidak heran jika akhirnya Heathcliff memutuskan untuk pergi dan akhirnya kembali dengan membawa tumpukan luka dan sebersit dendam yang ternyata bertahan bertahun-tahun. Bahkan kisah cinta yang terjalin antara mereka berdua pun tidak dapat saya rasakan. Pertemuan-pertemuan yang kerap mereka lakukan bahkan saya anggap sebagai pengkhianatan terhadap Mr Linton.

Tokoh yang juga membuat saya kesal adalah Joseph. Berkali-kali saya mengharapkan, akan ada perubahan pada karakter ini. Sayangnya hingga di akhir buku, harapan saya tidak juga terwujud. Bahkan tingkahnya semakin mengesalkan. Kata-kata kasar tak ada henti-hentinya terucap dari pria yang nampaknya tak pernah tersenyum ini. Buku yang kerap dibacanya setiap minggu ternyata tidak mampu menjadikannya sebagai pribadi yang menyenangkan.

Untungnya tiga karakter itu tidak lantas membuat saya melupakan Nelly, Mr Linton dan Cathy. Masih ada bagian yang membuat emosi negatif akhirnya mereda. Terutama ketika membaca bab-bab yang menceritakan bagaimana perhatian dan kasih sayang Edgar Linton pada anak perempuannya. Pertumbuhan Cathy Linton dari kecil hingga menjelang remaja juga menarik untuk disimak. Dan yang menjadi bab favorit saya adalah ketika buku ini mulai bercerita tentang hubungan Cathy dan Hareton, yang juga menjadi akhir dari buku ini. Saya sungguh tak menyangka, Emily Bronte akan menulis akhir yang indah untuk Wuthering Heights yang kelam. Setelah melewati tahun – tahun yang suram, mereka yang tersisa memang pantas mendapatkannya.

Satu hal yang juga menarik perhatian adalah penamaan kediaman keluarga Earnshaw dan Linton. Saya jadi bertanya-tanya apakah setiap rumah di masa itu memang memiliki julukan seperti halnya Wuthering Heights ataupun Thrushcross Grange.

Cover
Saya suka pilihan warnanya. Gelapnya cerita di Wuthering Heights tergambar dengan jelas. Kalaupun ilustrasi yang mungkin dimaksudkan untuk menggambarkan Heathcliff dan Catherine tak ada di cover depan, menurut saya tidak akan mengurangi kesan yang ditinggalkan.

4/5

Penulis: Emily Brontë
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2011
Tebal: 488 hlm
ISBN: 978-979-22-6278-9

Tuesday, 23 November 2010

Review: Uglies - Scott Westerfeld



Semua kaum buruk rupa di Uglyville harus menunggu hingga berusia 16 tahun sebelum akhirnya diubah menjadi rupawan.Dari penampilan fisik, mereka akan terlihat sangat sempurna. Mata yang indah, senyum menawan, kulit halus dan bersih, bentuk wajah yang simetris dan berbagai perubahan lainnya. Yang pasti berubah menjadi rupawan berarti banyak hal. Menjadi rupawan akan membawa dampak positif pada siapa pun. Itu yang mereka percaya.

Masalahnya menunggu hingga perubahan itu terjadi sungguh menyiksa. Bahkan ketika itu hanya tiga bulan lagi. Seperti yang dialami Tally Youngblood. Sebenarnya dulu ia tak seresah ini, ketika Peris, sahabatnya dari kecil,masih tinggal di Uglyville dan belum menjalani operasi. Namun begitu Peris menjadi bagian dari Kota Rupawan, Tally merasa hari-harinya menjadi sangat membosankan dan parahnya ia sungguh merasa kesepian. Membayangkan percakapan dengan Peris setiap harinya hanya akan membuatnya menjadi gila. Itulah mengapa suatu malam, Tally nekad untuk menyusup ke Kota Rupawan untuk menemui Peris.

Menyusup ke kota tempat tinggal para Rupawan sebenarnya sudah sering ia lakukan bersama Peris. Sehingga tak perlu heran jika ia dengan mudah dapat menyebrang dari Uglyvilleke kota Rupawan tanpa ketahuan. Namun ketika memutuskan untuk kembali ke asrama, Tally mendapat sedikit masalah. Beruntung ia bertemu Shay, seorang gadis buruk rupa dan juga tak jarang secara diam-diam mendatangi Kota Rupawan.

Dalam waktu singkat, Tally dan Shay menjadi sangat akrab. Mereka banyak melakukan banyak hal yang seru. Tally belajar cara mengendarai Hoverboard dan memodifikasinya. Ia sungguh menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama. Ia berharap semua ini akan bertahan bahkan ketika operasi selesai. Sayang harapannya tak pernah terwujud. Karena ternyata Shay menolak untuk menjadi rupawan.

Dari Shay, ia tahu di luar sana banyak orang-orang yang menolak operasi dan memutuskan untuk menjadi buruk rupa selamanya. Mereka melarikan diri dan menetap di Smoke. Shay akan melakukan hal yang sama dan berharap Tally akan ikut dengannya. Sayangnya Tally memutuskan untuk tetap tinggal dan menjadi rupawan.

Rasa sedih karena kehilangan Shay masih tersisa bahkan di hari yang telah lama ditunggunya. Namun hari itu ternyata bukanlah hari besar bagi Tally. Karena tak ada operasi sama sekali. Kecuali ia mengungkapkan semua yang ia tahu tentang kaum buruk rupa yang melarikan diri. Tally harus memilih satu, melanggar janjinya pada Shay atau menjadi buruk rupa selamanya.

Seru, itu kata yang saya pilih untuk mengambarkan seluruh isi novel ini. Dari setting kota dengan konsep yang sangat aneh, sejarah masa lalu yang suram dan tentu saja teknologi yang dipakai. Kata Hoverboard adalah kata yang menarik perhatian saya dan menjadi pemicu untuk terus membaca buku ini hingga tuntas. Kalau pernah nonton Back to The Future III, benda yang bentuknya mirip skateboard itu tentu tidak asing lagi. Saya sempat berpikir ketika Marty McFly berada di masa yang sama dengan Tally.

Ide operasi plastik untuk menjadi rupawan, alasan orang-orang yang memegang kuasa untuk tetap menjaga semua tetap pada rel yang telah mereka tetapkan dan berbagai rahasia dibelakangnya juga menjadi daya tarik di buku ini. Tak sabar rasanya membaca kelanjutan buku ini.

Dari wikipedia, 20th Century Fox mengadaptasi novel ini ke layar lebar dan direncanakan tayang tahun depan. Semoga aja hasilnya keren.

Uglies
Penulis: Scott Westerfeld
Penerjemah: Yunita Chandra S.
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, April 2010
Tebal: 432 hal

Saturday, 20 November 2010

Review: Diary Seorang Calon "Putri Raja" - Jessica Green


“Jika ingin menjadi penulis yang andal, kau harus:
Menulis, Menulis, Menulis, Menulis,
Menulis, Menulis, Menulis
Menulis, Menulis! “

Kalimat di atas adalah kata-kata Mrs. Bright, wali kelas Jillian James. Ia dan teman-teman sekelasnya diberikan sebuah jurnal untuk diisi dengan tulisan tentang apa saja. Mereka juga diperbolehkan untuk menggambari setiap lembarnya. Yang menjadi masalah adalah mereka harus menulisnya setiap hari dan hanya boleh melakukannya pada jam bebas. Satu hal yang agak berat dilakukan oleh Jillian yang menggunakan hampir semua waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas Mate-matika, pelajaran yang agak sulit dikuasainya.

Sebelumnya membaca lebih lanjut tentang Jurnal Jillian, jangan tertipu dengan kata “Putri Raja” yang menjadi judul buku ini. Karena tak ada cerita tentang Putri, Pangeran, Raja, kerajaan atau hal-hal semacam itu. Karena Jillian, benar-benar anak perempuan biasa, murid kelas 5B, Sekolah Dasar Flora Heights. Tapi bukan berarti kata “putri raja” di sini tidak berarti apa-apa. Dua kata, yang dipilih oleh Jillian untuk menyebut Geng yang terdiri dari beberapa anak perempuan teman sekelasnya. Sebut saja Skye, Megan , Kirrily, Sarah, dan Karlie. Mereka masuk dalam kelompok populer di sekolah. Dari apa yang dituliskannya di jurnal, besar harapan Jillian untuk bisa masuk dan bergabung dalam kelompok itu.

Sayangnya, oleh anak-anak Geng Putri Raja, Jillian tidak cukup keren untuk bersama mereka. Oleh mereka, Jillian dianggap terlalu culun. Semua usaha Jillian untuk mendekat tidak digubris sama sekali. Alih-alih mendapat perhatian dari anak-anak perempuan, Jillian malah didekati oleh anak-anak yang tergabung dalam Geng Culun. Lagi-lagi itu adalah nama yang diciptakan Jillian untuk Nigel. Bukannya senang, Jillian merasa sedikit terganggu dengan semua tingkah Nigel. Ia tak peduli niat baik Nigel. Bagi Jillian, kehadiran Nigel hanya menimbulkan masalah baru. Semuanya semakin diperparah ketika Geng Kepala Batu mengambil langkah yang sama. Padahal sebelumnya, mereka terlibat dalam masalah yang tidak menyenangkan. Jillian semakin pusing dibuatnya. Karena itu berarti kesempatan untuk menjadi bagian Geng Putri Raja semakin jauh. Mengingat, Geng Putri Raja tak pernah akur dengan keduanya.

Nampaknya trisemester pertama ini bukan milik Jillian James.

Apa yang saya ceritakan di atas adalah satu dari sekian banyak hal yang ditulis Jillian di jurnalnya. Di lembar-lembar berikutnya masih banyak masalah yang harus diselesaikan Jillian. Semua mungkin terlihat simpel tapi sangat menarik untuk dibaca. Saya suka cara berpikir Jillian dan hampir semua hal yang ada dalam dirinya. Tak jarang dari kalimat-kalimat yang dituliskan membuat saya tertawa kecil. Saya sedikit menyesal karena mengapa baru sekarang saya membeli buku yang versi terjemahannya terbit tahun 2007 ini. Namun tak pernah ada kata terlambat untuk melahap buku keren.

Membaca diary orang lain memang menyenangkan, namun tidak berlaku untuk hal sebaliknya. Dan hal itu membuat saya sempat bertanya-tanya begitu sampai di halaman terakhir, jika seandainya Jillian dan teman-teman sekelasnya benar-benar nyata, bagaimana perasaan Jillian ketika tahu bahwa jurnal pribadi yang hanya diketahuinya dan Mrs. Bright, diterbitkan dan dibaca banyak orang. Dalam waktu yang bersamaan saya juga dapat membayangkan gimana reaksi Jillian.

Setelah buku ini, Atria menerbitkan satu lagi buku tentang Jillian James, Diary Si Musuh Geng Kodok, yang masih dalam bentuk format jurnal dan bercerita tentang kehidupan Jillian di sd Flora Height, yang tidak kalau lucu dan seru.


Diary Seorang Calon “ Putri Raja”
Judul Asli: Diary of A Would-Be Princess
Penulis: Jessica Green
Penerjemah: Maria Masniari Lubis
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Desember 2007
Tebal: 246 hlm

Monday, 15 November 2010

Review: Botchan - Natsume Soseki



Dalam bahasa jepang, Botchan merupakan panggilan sopan untuk anak laki-laki, terutama ketika mereka masih kanak-kanak dan berasal dari keluarga terpadang. Botchan,yang juga berarti tuan muda, adalah tokoh utama dalam buku ini. Panggilan ini ia dapatkan dari Kiyo, wanita yang menjadi pengasuhnya sejak kecil.

Sepeninggalan ibunya, Kiyolah satu-satunya yang peduli pada Botchan. Ayahnya memilih untuk tidak menghiraukannya. Botchan yang nakal dan selalu membuat dan membawa masalah itu dianggapnya tak pantas mendapat kasih sayang. Apalagi yang kerap mencoreng nama baik keluarga dengan semua tingkah lakunya yang menurutnya berada di luar batas kewajaran. Lihat saja ketika ia memutuskan untuk memotong ibu jarinya,berkelahi, merusak kebun wortel ataupun menyumbat sumur sawah

Botchan sendiri tak pernah menganggap hal tersebut sebagai masalah besar. Ia bahkan terkesan tidak peduli. Baginya keberadaan Kiyo sudah cukup. Ia akui bahwa semua masalah yang timbul lebih karena kecerobahnya dan spontanitas belaks. lebih menuruti apa kata hatinya. Sikap dan watak ini nampaknya berakar hingga dewasa.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Ilmu Alam Tokyo, Botchan dewasa mendapatkan tawaran mengajar di sekolah menengah di Shikoku. Botchan menyanggupi tanpa pikir panjang dan segera disesalinya, mengingat ia sebenarnya tak memiliki keinginan menjadi guru, tambahan lagi ia sama sekali tak punya bayangan kota seperti apa itu Shikoku. Walau pada akhirnya Botchan meninggalkan Tokyo.

Begitu tiba di Shikoku, Botchan sama sekali tidak terkesan. Bukan hanya karena cuaca musim panas yang terik, tetapi lebih kepada sambutan orang-orang yang bisa dibilang tidak menarik simpati Botchan sama sekali.Pelayanan yang buruk dari pihak penginapan sampai tingkah pemilik rumah yang memberinya kamar untuk disewa. Kekecewaab Botchan tidak berhenti sampai disitu. Karena di sekolah tempat ia mengajar pun dipenuhi oleh bebreapa orang dengan peringai yang tidak kalah buruk. Belum lagi dengan sistem yang diterapkan di sekolah. Botchan sungguh dibuat penat karenanya.

Namun bukan Botchan jika berdiam diri atas dan mengikuti arus. Benturan demi benturan pun terjadi. Tidak peduli kepala sekolah, teman sejawat atau murid-murid sekalipun. Tak butuh waktu lama baginya untuk tahu siapa serigala-serigala berbulu domba. Sampai pada akhirnya Botchan pun memutuskan untuk mengambil jalan yang sekali lagi berdasarkan kata hatinya tanpa peduli apa yang mungkin dipikirkan orang di sekitarnya.

~~~

Tokoh dengan karakter yang unik yang menjadi daya tarik dari buku ini. Buku yang dikemas dengan penuturan yang tidak rumit membuat saya dapat menikmati semua perjalanan dari awalai sampai akhir. Desain sampul buku ini juga tidak biasa dan menjadi salah satu alasan kenapa saya memilihnya menjadi salah satu penghuni di rak

3/5

Botchan
Penulis: Natsume Soseki
Penerjemah: Indah Santi Pratidina
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Februari 2009
Tebal: 224 hal

Saturday, 24 April 2010

Review: Joshua Joshua Tango - Robert Wolfe



Hidup Marcel Groen beberapa tahun belakangan memang bisa dibilang tidak menyenangkan. Sejak ditinggal ibunya ke india, ia harus hidup dengan kasih sayang seorang ayah yang sangat sibuk dengan penelitiannya. Semua makin parah dengan kedatangan Meurouw Kramps. Awalnya wanita yang berprofesi sebagai pekerja sosial itu datang untuk memberi konsultasi. Namun akhirnya ia lebih sering ikut campur dalam kehidupan Marcel dan ayahnya. Yang mengesalkan, Kramps sering sekali menyudutkan Marcel. Bahkan untuk hal kecil sekalipun. Tak heran jika Marcel tak menyukai wanita yang semakin lama semakin sering berkeliaran di rumah Marcel.

Di sekolah, ternyata tidak kalah buruknya. Marcel selalu jadi bulan-bulanan. Nampaknya tak seorang pun yang mau jadi temannya. Yang membuatnya sangat sedih, ia tak pernah sekalipun diajak untuk bermain. Bahkan ketika tim sepakbola sekolahnya kekurangan orang. Marcel jadi sakit hati dibuatnya. Selama ini ia memang hanya sering mencobanya lewat game di komputer. Tapi Marcel sungguh-sungguh ingin bermain.

Tak berhenti sampai di situ,ada dua anak laki-laki yang selalu mengerjai Marcel setiap pulang sekolah menjadikan dunia semakin tidak ramah. Bagi Ed dan Luc, Marcel adalah mangsa empuk untuk ditonjok dan dihajar dengan pitingan judo yang mereka ciptakan sendiri. Pernah suatu kali, mereka berhasil melemparkan Marcel ke sungai. Kemalangan yang membuat Marcel harus menghindari kedua bersaudara penuh racun itu.

Sampai suatu hari, Professor Groen, Ayah Joshua, membawa pulang seekor kura-kura raksasa, yang panjangnya lebih dari 1 meter. Tidak hanya dari ukurannya yang membuat Marcel terkejut namun juga karena mengetahui bahwa kura-kura Brasil itu diam-diam bisa berbicara. Walau hanya kepada dirinya.

Namun tak butuh waktu lama untuk menyingkirkan rasa canggung. Dalam waktu singkat, Marcel dan Joshua menjadi sangat akrab. Tak ada lagi Marcel yang kesepian karena kini hari-harinya menjadi lebih menyenangkan. Bersama Joshua, Marcel melakukan banyak hal seru. Ia juga belajar banyak hal dari binatang yang sangat menyukai milkshake cacing. Walau mereka harus melakukannya secara diam-diam. Karena setiap gerak-gerik Joshua diamati oleh sang Professor.

Tak tanggung-tanggung, sebuah Neuromatascanner, sebuah sensor, di gunakan untuk mengetahui aktivitas otak kura-kura yang ditubuhnya dipenuhi warna hijau, cokleat, garis kuning di mana-mana serta titik – titik berwarna biru muda. Namun itu bukan masalah besar yang menghalangi Joshua dan Marcel untuk bersenang-senang.

~~

Menyesal rasanya baru membaca buku ini sekarang. Padahal saya telah memilikinya sejak dua tahun silam.Buku ini memang diperuntukan untuk anak-anak, namun tetap seru untuk dinikmati oleh siapa pun, tak terkecuali orang dewasa. Bahkan ketika buku ini dipenuhi dengan begitu banyak typo, saya tidak merasa terganggu sama sekali. Karena kesalahan yang satu ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri.

Walau agak sedikit bingung ketika berhadapan dengan bab yang membahas tentang pertandingan sepak bola yang diikuti oleh Marcel,banyak hal yang membuat saya memilih untuk menuntaskannya sampai akhir. Salah satunya adalah tingkah dan ucapan Joshua yang lucu, yang membuat saya tak dapat menahan tawa. Padahal awalnya kura-kura yang satu ini terlihat sangat konyol. Tak hanya lucu, terkadang ada kata-kata Joshua yang membuat saya terenyuh.Tidak salah menjadi buku ini jadi salah satu koleksi.

Joshua Joshua Tango
Penulis: Robert Wolfe
Penerjemah: Monique Soesman dan Maya Sutedja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 384 hlm

Monday, 19 April 2010

Review: Dead Until Dark - Charlaine Harris



Satu lagi buku yang bercerita tentang vampir. Berbeda dengan buku yang juga mengangkat tema yang sama, keberadaan mahkluk malam penghisap darah ini tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Sebaliknya mereka dengan mudah masuk dan berbaur dalam kehidupan manusia. Semua itu dikarenakan satu penemuan muktahir di Jepang berupa darah sintetis. Yang memungkinkan para vampir bertahan hidup tanpa harus menjadikan manusia sebagai mangsa mereka.

4 tahun sudah sejak darah sintetis itu dijual bebas di pasaran. Para vampir bebas berkeliaran. Selama itu pula Sookie Stackhouse kedatangan seorang vampir di kotanya, Bon Temps.

Sookie, wanita muda cantik yang menjadi tokoh utama di buku ini. Ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah dan kini bekerja sebagai pelayan di Bar Merlotte. Dari luar Sookie nampak seperti perempuan berambut pirang lainnya. Walau sebenarnya ia jauh lebih cerdas dari apa yang orang –orang pikirkan. Toh hampir semua orang telah menyisipkan kata “gila” menjadi nama tengahnya.

Semua itu hanya karena kelebihan yang lebih sering disebutnya kelainan yang ia miliki.Sookie dengan mudah mengetahui apa saja yang terlintas dibenak orang lain. Di luar sana mungkin banyak yang berpikir bahwa hal itu merupakan sesuatu yang hebat. Namun tidak demikian dengan Sookie. Ia bahkan berharap tak pernah memilikinya. Karena kelebihan ini lebih sering membuat merasa kelelahan. Bagaimana tidak, Sookie harus berusaha keras untuk menghalangi setiap suara dari pikiran orang lain yang biasanya datang seperti serangan bertubi-tubi.

Tak hanya itu, kemampuannya ini berdampak besar di kehidupan sosialnya. Cap “gila” yang dibubuhkan padanya,jangankan berkencan, teman dekat pun Sookie tak punya. Beruntung masih ada segelintir orang yang tidak berpikiran seperti kebanyakan orang di kota itu. Adalah Adele, neneknya dan Sam, bos pemilik Bar Merlotte’s.
Mimpi yang menjadi nyata

Tak ada pertanda khusus yang didapatkan Sookie, saat seorang pria melangkahkan kakinya di Merlotte’s malam itu. Tak butuh waktu lama bagi Sookie untuk mengetahui bahwa pria berwajah sangat pucat itu adalah vampir.
Keberuntungan nampaknya mengelilingi wanita bermata biru ini. Karena vampir itu memutuskan untuk duduk di meja yang menjadi tanggung jawabnya. Satu hal yang membuatnya nyaris memeking girang adalah ketika mengetahui pikiran pria itu tak dapat dibacanya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus kenyataan yang membuat Sookie ingin mengenal lebih jauh pria yang mengenalkan dirinya sebagai Bill Compton.

Bersamaan dengan itu,peristiwa pembunuhan terjadi di Bon Temps. Tak hanya satu, dua, tiga, tapi empat pembunuhan terjadi. Tak banyak bukti yang membuat para warga Bon Temps menjadi tersangka. Namun Sherrif dan seorang detektif mulai membuat list orang –orang yang patut dicurigai. Yang membuat Sookie sangat terkejut adalah ketika mengetahui orang-orang terdekatnyalah yang masuk dalam list tersebut.

Tak tinggal diam, Sookie berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang membuat teror berkepanjangan bagi setiap warga Bon Temps ini. Walau membuatnya harus melibatkan diri ke tempat-tempat yang cukup berbahaya. Tidak hanya harus berpacu dengan waktu, ia juga harus ekstra hati-hati, karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga mengincar dirinya.

~~~

Seru! Satu kata untuk buku ini. Tak terasa buku dengan jumlah 402 halaman itu selesai begitu saja. Walau cover buku ini sedikit membuat saya kecewa begitu melihatnya pertama kali, tapi tidak mengurangi asyiknya kisah buku tentang vampire yang satu ini. Tak heran jika HBO akhirnya mengadaptasinya menjadi serial tv dengan judul True Blood.

Rasanya tak sabar menunggu buku kedua. Walau tidak lagi diterbitkan oleh penerbit Kantera, saya berharap hasil terjemahan buku berikutnya tidak kalah dengan buku pertama.

3/5

Dead Until Dark
Penulis: Charlaine Harris
Penerjemah: Pujia Pernami
Editor: Alika Chandra & Ary Nilandari
Penerbit: Kantera
Cetakan: I, 2010
Tebal: 402 hlm

Wednesday, 14 April 2010

Review: Sebastian Darke: Prince of Fools - Philip Caveney


Alexander adalah seorang pelawak kawakan di kerajaan Cletus. Semua lelucon, sindiran dan ceritanya mampu membuat ruangan istana penuh dengan ledakan tawa. Tak heran dengan kemampuannya itu, ia sanggup member kemewahan kepada istri dan Sebastian,anak laki-lakinya.

Sayangnya keadaan itu hanya terjadi beberapa tahun. Raja Cletus mangka dan diganti dengan putranya Daniel yang ternyata tak mewarisi sedikitpun selera humor ayahnya. Sehingga tak perlu heran jika Alexander kehilangan pekerjaan dan semua kemewahan yang didapatkannya selama ini. Kehidupan keluarga kecil itu pun berubah drastis. Walau telah mencoba untuk memulai peruntungan di kedai-kedai minuman ataupun di gedung teater music, ternyata pendapatannya tak cukup untuk menghidupi keluarganya.

Sampai suatu hari, ia mendengar kabar tentang kebaikan Raja Septimus, pemimpin tertinggi kota Keladon. Alexander tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia berniat untuk menawarkan jasanya. Tak peduli jarak yang akan ditempuhnya. Segala sesuatu pun dipersiapkan. Termasuk berlatih berhari-hari tanpa henti, siang dan malam. Saking seriusnya, Alexander lupa akan kesehatannya sendiri. Suatu pagi, ia ditemukan oleh istrinya tergeletak pingsan.Pria yang menikahi seoran peri itu teresang demam tinggi. Malang bagi ketiganya, demam itu tak kunjung sembuh dan parahnya membawa Alexander pada kematian.

Sepeninggalan sang ayahnya, Sebastian merasa tanggung jawab akan keberlangsungan keluarga berasa di tangannya. Tak ada profesi yang terpikir selain mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang pelawak. Sayang, tak sedikitpun bakat sang ayang yang mengalir dalam daram Sebastian. Bukannya lucu, lelucon yang dilontarkannya cenderung membosankan. Tak peduli kemampuannya menghafalkan semua lelucon-lelucon dengan sangat baik. Dan Sebastian sadar betul akan hal itu.

Namun keadaanlah yang membuat Sebastian nekat untuk melanjutkan rencana ayahnya untuk mengadu nasib di kota Keladon. Walau tahu bahwa perjalanan ini sangat berbahaya. Bersama Max, Buffalope miliknya, ia pun memulai perjalanan.

Perjalanan yang mereka tempuh terasa sangat melelahkan. Bekal persediaan yang dibawanya semakin menipis. Dan sialnya mereka diserang kawanan Luper liar yang nyaris membuat nyawa mereka melayang. Beruntung, mereka di tolong oleh Golmra Corlnelius , kesatria ahli tempur, yang ternyata juga hendak mengadu nasib di kota yang sama.

Setelah saling mengenal, akhirnya mereka sepakat untuk menempuh perjalanan dan menjemput mimpi. Dengan harapan akan terjadi perubahan nasib. Sayangnya, mereka tak tahu bahwa bahaya yang tak sesungguhnya sedang menunggu di sana.

~~
Untuk buku yang mengkategorikan dirinya dalam genre fantasi, buku ini kekurangan banyak bumbu. Terlepas dari mahkluk-makhluk ajaib sang Bufaloppe, buku ini sangat miskin akan unsur magis. Jadi pembaca yang benar-benar menyukai buku fantasi tak bisa berharap banyak

Namun satu kelebihan buku yang telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa asing dan mendapat beberapa penghargaan seperti Waterstone Children’s Book, Stockholm Prize dan Coventry Inspiration Book award adalah sisi humor yang sangat tebal. Saya benar-benar terhibur setiap kali membaca semua percakapan yang melibatkan Max di dalamnya. Binatang peliharaan Sebastian ini sungguh kocak. Bahkan sempat terpikir seharusnya Max lah yang berdiri di atas panggung.

Sebastian Darke: Prince of Fools
Penulis: Philip Caveney
Penerjemah: Aan
Editor: Fransisca Goenarso
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 356 hlm

Thursday, 11 February 2010

Review: The Adventure of Captain Underpants - Dav Pilkey



Kalau menyebut nama George Beard dan Harold Hutchins, setiap murid dan guru di SD Jerome Horwitz pasti langsung teringat dengan dua anak laki laki paling iseng dan konyol. Tak satu pun yang lilos dari pandangan mata mereka. Teman sekelas, pemandu sorak, anggota marching band, para pemain football bahkan guru sekalipin menjadi sasaran keusilan mereka. Sehingga jika terjadi sesuatu dapat dipastikan dua anak laki-laki yang bersahabat sejak kecil itu yang bertanggung jawab. Setidaknya seperti itulah anggapan Mr Krupp, kepala sekolah mereka yang galak.

Tidak ada keinginan terbesar dari Mr Krupp selain menangkap basah kedua anak bandel itu. Apalagi ketika tahu bahwa George dan Harold mulai memperdagangkan komik-komik buatan mereka yang diberi judul Kapten Kolor. Sebenarnya Mr Krupp tidak hanya membenci George dan Harold karena pada dasarnya pria ini memang tak menyukai anak – anak. Teriakan mereka membuatnya gerah.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang. Mr Krupp berhasil memergoki mereka saat keduanya tengah beraksi. George dan Harold tak dapat mengelak, karena semuanya terekan dengan rapi dalam sebuah kaset video. Ternyata Mr Krupp telah menyiapkan beberapa kamera tersembunyi di beberapa tempat.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Mr Krupp pun mulai melancarkan aturan demi aturan. Dengan ancaman akan menyebarkan rekaman itu bila keduanya mangkir. Tidak ada pilihan lain bagi kedua anak itu selain memulai rutinitas baru dengan membersihkan apapu di rumah Mr Krupp, ruang kerjanya di sekolah sampai menghabiskan setumpuk buku yang harus mereka baca setelah pulang sekolah.

Namun bukan George dan Harold jika kehabisan ide. Dengan sebuah cincin hipnotis 3-D yang dipesannya di toko Perhiasan Si Cebol Sok Tahu. Segera setelah benda itu berada di tangan, mereka berhasil membalikan keadaan. Tak hanya berhasil merebut rekaman, namun mereka tak menyia-nyiakan ketika Mr Krupp berada dalam keadaan terhipnotis. Tak ayal, mereka menyuruh Mr Krupp meniru Kapten Kolor, tokoh utama komik buatan mereka. Sayangnya mereka membuat kecerobohan, Mr Krupp yang masih berkostum sang Kapten ternyata kabur keluar sekolah saat mereka lengah. Kenakalan mereka kali ini sungguh mendatangkan masalah yang jauh lebih besar

Buku yang dilengkapi dengan ilustrasi memang punya daya tarik tersendiri. Itu yang membuat saya menyukai buku ini. Kenakalan George dan Harold jadi lebih nyata.

The Adventure of Captain Underpants
Judul Indonesia : Petualangan Kapten Kolor
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi L Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 128 hal

Thursday, 12 February 2009

Review: Lord of The Shadows - Darren Shan



Spoiler Alert!!!

Delapan belas tahun berlalu sejak Darren meninggalkan rumah dengan identitas kematian palsunya dengan darah vampir yang dialirkan oleh Mr Crepsley. Selama itu pula, kejadian demi kejadian terjadi dan mengubah banyak hal. Tidak hanya Darren ataupun orang – orang disekitarnya, karena sejak kepergian Darren, perubahan drastis pun terjadi pada teman – temannya di masal lalu dan tentu saja keluarganya.

Rumah masa kecil Darren masih ada. Namun orang tuanya telah lama pindah sejak ayahnya pensiun. Rumah yang terlihat lebih suram dibandingkan sejak Darren terakir kali melihatnya kini ditempati oleh adiknya Anhie. Satu kejutan baru adalah ketika mengetahui bahwa Anhie memiliki anak dan membesarkannya tanpa seorang suami. Begitu melihat sosok adik perempuan satu – satunya, Darren nyaris kehilangan kendali. Keinginan untuk muncul di hadapan Anhie, berbicara, memeluknya, tertawa dan menangis bersama ataupun membicarakan masa lalu begitu besar. Namun akhirnya Darren mengurungkan niatnya. Ia kembali ke kota tempat ia menghabiskan masa kecil bukan untuk membongkar masa lalunya. Masih ada misi yang lebih penting dari sekedar mengenang masa lalu.

Seperti yang diramalkan oleh Evanna sang penyihir, Steve atau Darren akan bangkit menjadi Penguasa Kegelapan yang akan meluluhlantahkan dunia. Rasanya sulit untuk menerima semua semua perkataan penyihir perempuan itu. namun ia tidak mungkin berdia diri dan membiarkan klan Vampaneze merajalela dan mengambil alih semuanya. karen atidak hanya klan vampir yang akan hancur, namun seluruh umat manusia di bumi ini juga dipastikan akan musnah.

Masalahnya sekarang adalah menemukan keberadaan Steve dan pengikutnya. Walau sebenarnya Darren tak perlu pusing, karena cepat atau lambat mereka akan muncul dengan sendirinya

Benar saja. Morgan James dan R.V muncul di hadapan Darren. Tanpa segan – segan melukai orang – orang di sekeliling Darren. Termasuk beberapa diantaranya teman-teman Darren di Cirque Du Freak.

Perasaan Darren benar- benar hancur dibuatnya. balas dendam dengan melakukan hal yang sama adalah satu – satunya yang ada di pikiran Darren yang saat itu telah mengalami fase lanjutan dari seorang vampir. Jalan menuju Penguasa Kegelapan kini terbuka sangat lebar.

Seperti buku buku serial Darren Shan sebelumnya, buku kai ini juga membuat saya menjadi gemas karenanya. Semuanya karena kejutan demi kejutan yang muncul begitu mendadak. Seharusnya saya tidak begitu naif sehingga rasa kesal itu tidak perlu muncul.

Semoga saja kisah yang akan berakhir di nomor 12 ini akan memberi ending yang menyenangkan. Walau sebenarnya tak banyak berharap. Apalagi jika berpatokan dengan buku – buku sebelumnya. Tapi siapa yang tahu kejutan apalagi yang akan di berikan oleh Darren Shan kepada pembacanya. 

Darren Shan $11: Lord of The Shadows
Judul Indonesia: Penguasa Kegelapan
Penulis: Darren Shan
Penerjemah: Dharmawati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 208 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...