Showing posts with label Matahati. Show all posts
Showing posts with label Matahati. Show all posts

Monday, 11 August 2008

Review: Wolf Brother- Michelle Paver



Hutan yang dipenuhi dengan ribuan pohon dan semak tentunya bukanlah tempat yang aman untuk ditinggali. Apalagi ditambah dengan keberadaan binatang – binatang liar dan buas. Tak akan pernah tahu kapan kita tersesat di dalam rimbunan pepohonan dan bertemu dengan salah satu dari mereka. Terlebih lagi jika hutan itu seperti yang dijelajahi oleh Torak. Lebih tepatnya lagi hutan yang menjadi tempat tinggalnya sejak kecil.

Sejak kecil ia tinggal bersama Fa, ayahnya. Bersama Fa, Torak tak pernah kekurangan satu apapun. Walau benar- benar hannya berdua di tengah pekatnya hutan. Tak ada yang perlu ditakuti selama ada Fa. Sampai suatu hari ada seekor beruang liar yang tiba – tiba saja menyerang merek berdua dan akhirnya membuat Fa tewas. Untungnya sebelum menjadi korban berikutnya, Torak berhasil melarikan diri.

Tak ada pilihan lain bagi anak laki-laki yang berusia tiga belas musim panas itu. Tak peduli bahwa kehidupannya dunia di hutan berubah menjadi begitu kejam dan mengerikan. Yang ia tahu hanyalah menjalankan janji yang diikrarkannya sebelum Fa menghembuskan nafas terakhir.

Petualangan mencari sesuatu yang tidak diketahuinya pun dimulai. Bahaya demi bahaya yang sanggup merenggut nyawanya telah menunggu. Ia pula harus berpacu bersama waktu sebelum Beruang yang konon di rasuki oleh setan menemukan dan membunuhnya.

Butuh waktu lebih dari setahun untuk mengetahui bahwa buku ini punya cerita yang menarik. Selain karena kecepatan membaca yang lambat saya juga dikaenakan saya tergoda dengan buku –buku yang lain. ^_^V Sehingga saya harus mengejar ketinggalan. Karena kisah Torak di Wolf Brother kembali berlanjut di Spirit Walker, Soul Eater dan Outcast. Bahkan di lembar pertama buku ini juga

Tidak seperti buku petualangan lain, Torak mengajak semua pembaca mundur ke tahun – tahun ketika manusia hidup berkelompok dan memilih untuk tinggal dihutan. Berburu menjadi satu –satunya cara bertahan hidup. Bau zaman prasejarah tercium dibagian ini.

Setiap kaln juga memiliki dukun. Mereka dipercaya punya kekuatan gaib dan dianggap bagian penting bahkan kepala suku pun menaruh kepercayaan pada apa yang mereka katakan. Walau begitu kepala suku tentu saja masih menjadi pemegang kekuasaan tertinggi.

Senjata ataupun perlengkapan mempertahankan diri, mereka buat dari macam – macam batuan dan tulang. Menjadi ciri kedua yang membuat saya teringat pelajaran Sejarah terutama yang membahas zaman prasejarah. Untung saja di lembar terakhir terdapat penjelasan bahwa torak serta tokoh – tokoh manusia berperawakan seperti manusia pada umumnya. Sehingga bayangan awal saya tentang manusia purba terpaksa harus disingkirkan sejauh – jauhnya

Walau telah berperawakan seperti manusia lainnya, namun tetap saja ada satu hal yang tak dapat lepas dari mereka. Kepercayaan bahwa setiap benda memiliki roh masih tetap bagian dari kehidupan setiap klan. Animisme, begitu yang tertulis di buku sejarah.

Yang mengagumkan adalah kemampuan mereka berkomunikasi dengan para binatang. Setidaknya itu yang dimiliki oleh Torak. Entah apakah itu hanya kemampuan khusus yang dimiliki oleh torak ataukah setiap klan memang memiliki orang –orang yang mengerti bahasa setiap hewan yang mereka jadikan bagian yang tak terpisahkan dari klan mereka.

Berbicara tentang karakter yang ada didalam buku ini, Torak bukanlah tokoh favorit saya. Walau tidak menempati tempat utama namun karakter yang saya sukai ini menjadi juga bagian yang tak kalah penting.

Dari segi alur, bab-bab awal dapat saya selesaikan dengan cepat. Sayangnya, dipertengahan saya nyaris merasa kebosanan. Namun begitu masuk ke bagian akhir, petualangan Torak menjadi menarik.

Seakan mengerti bahwa sebuah buku petualangan tak mungkin bisa sukses tanpa sisipan peta, Michelle Paver menyediakannya dengan lengkap di mana saja satu kejadian penting terjadi. Sayang diletakkan dibagian belakang. Saya yang telah terbiasa menengok peta di bagian depan sedikit kesusahan kali ini. Walaupun sebenarnya bisa saja melakukannya namun faktor kebiasaan tentu susah untuk dihilangkan.

Namun semua itu tak mengurangi nilai serunya bertualang bersama Torak walau tempat yang ia tuju penuh bahaya.

Chronicles of Ancient Darkness: Wolf Brother
Penulis: Michelle Paver
Ilustrator: Geoff Taylor
Penerjemah: Utti Susilawati
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, April 2006
Tebal:330 hlm

Thursday, 24 July 2008

Review: Tourist Trap - Charles Ogden




Tak banyak yang mengetahui sejarah Nod’s Limbs, kota kecil tempat Edgar dan Ellen tinggal. Bertahun – tahun berlalu ketika seorang lelaki bernama Nod untuk pertama kalinya membangun sebuah pabrik lilin. Puluhan orang berdatangan untuk bekerja di pabrik miliknya. Entah berapa lama yang dibutuhkan sehingga pabrik milik Nod menjadi penyedia lilin tervesar di wilayah tersebut. berita kesuksesannya mendatangkan lebih banyak pendatang. Satu demi satu pekerja memilih tinggal dibanding bolak balik ke daerah asal mereka. Sehingga munculah pemukiman di tepian Sungai Deras yang akhirnya berubah menjadi kota kecil Nod’s Limbs.

Walau dianggap memiliki jasa besar dalam sejarah kota kecil tersebut, tak sedikitpun Mr Nod berniat untuk menjadi mengurus kota tersebut. Karena yang ada dipikirannya hanya satu, bagaimana memperluas dan mengembangkan pabrik lilin miliknya. Sehingga penduduk memutuskan untuk memilih Thadeus Knightleigh, pemiliki kedai yang pintar bergaul sebagai walikotaa., yang nampaknya dijadikan sebagai warisan keluarga. Hingga tak heran jika saat ini walikota yang menjabat masih keturunan Knightleigh, yang juga tak lain adalah Ayah Stephanie, musuh bebuyutan Ellen sejak TK.

Walaupun kecil, Nod’s Limbs memiliki beberapa tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Itu semua karena dari tahun ke tahun para Walikot Knightleigh tidak pernah berhenti mengadakan pembangunan. Tahun ini pun walikota telah merencanakan sesuatu untuk membuat Nod’s Limbs dan tentu saja dirinya dikenal oleh dunia luar.

Sebelum mengumumkan rencananya ke semua wara kota, Walikota Knightleigh bersama kedua anaknya, Stephanie dan Miles, mengunjungi lokasi yang akan diubahnya menjadi tempat yang lebih menarik. Mengejutkan! Tempat yang mereka pilih adalah tempat pembuangan sampah yang berada tak jauh dari kediaman Edgar dan Ellen.

Tentu saja hal ini membuat Edgar dan Ellen menjadi sedikit gusar dan bertanya-tanya apa yang akan mereka lakukan dengan Kuburan Perkakas. Tempat Pembuangan sampah sangat berarti bagi kedua anak kembar. Di sana mereka bisa memperoleh semua perangkat yang mereka butuhkan dalam menjalankan misi Schadenfreude yang berarti “kesenangan datang dari penderitaan orang lain”.

Keesokan harinya, bertepatan dengan berkumpulnya seluruh warga kota di Balai Kota, Edgar dan Ellen menyusup ke dalam kantor Walikota. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan apa yang mereka cari. Lembaran demi lembaran yang berisi rencana sang walikota tak satu pun yang mereka lewatkan. Tempat Pembuangan Sampah atau Kuburan Perkakas mereka akan segera direkonstruksi menjadi Hotel Knightleigh. Beberapa orang – orang penting dari luar juga akan diundang ke Nod’s Limbs. Mereka nantinya akan membantu sang walikota untuk menjalankan rencananya. Parade besar – besaran juga akan diadakan untuk membuat semua orang penting tersebut terkesan. Termasuk mengunjungi tempat – tempat bersejarah Nod’s Limb. Yang diakui kepada seluruh warga kota sebagai usaha untuk memajukan pariwisata Nod’s Limbs

Berang! Itulah yang dirasakan oleh Edgar dan Ellen. Karena tak hanya akan kehilangan Kuburan Perkakas namun mereka juga akan kehilangan Berenice, tanaman pemakan serangga kesayangan Ellen. Sehingga tak ada cara lain kecuali menggagalkan semua rencana sang walikota. Kedua kembar beracun kembali beraksi dengan rencana gila mereka.

Buku kedua dari serial Edgar & Ellen ini tak kalah menarik dengan buku pertama mereka The Rare Beast. Jauh lebih seru malah. Ilustrasi yang keren juga turut melengkapinya membuat saya ingin membaca kisah – kisah mereka berikutnya. Dari buku kedua ini juga makin banyak hal yang baru yang terungkap tentang Edgar dan Ellen.

Yang mengherankan buku ini tetap terdapat beberapa endorsement yang jumlahnya malah bertambah banyak dibandingkan buku pertama. Semua edorsement menurut saya tidak perlu lagi ditampilkan. Karena saya yakin orang – orang yang telah mengetahui keberadaan kembar beracun di buku pertama tidak akan melewatkan seri – seri mereka berikutnya. Kecuali mata mereka memang tak dapat melihat sesuatu yang sangat menarik dari ceritanya. Setidaknya keyakinan saya beralasan. Baik Rare Beast maupun Tourist Trap yang saya dapatkan merupakan buku cetakan ke II. Ya mungkin saja, Penerbit Matahati pasti punya alasan kuat dibalik pencantuman semua endorsement tersebut.

Walau demikian semua endorsement yang mengambil jatah resensi singkat buku itu tidak mengurangi asyiknya buku yang satu ini. bahkan rasanya tak sabar untuk melahap buku berikutnya.

Edgar & Ellen: Tourist Trap
Penulis: Charles Ogden
Penerjemah: Eka Santi Sasoni
Penerbit: Matahati
Cetakan: II, November 2007
Tebal: 208 hlm

Friday, 18 July 2008

Review: Mitsuko-Kara Dalkey



Fujiwara No Mitsuko adalah gadis berusia tiga belas tahun di Jepang abad kedua belas. Seperti gadis bangsawan lainnya di istana kekaisaran, Mitsuko hidup di balik tirai kesopanan, memakai kimono berlapis-lapis untuk menutup bentuk tubuhnya dan — bila di hadapan umum — menyembunyikan wajahnya di balik lengan kimono.

Tetapi Mitsuko bukan gadis biasa. Ketika desanya diserang bandit, kakak ipar laki-lakinya terbunuh, dan keluarganya dibawa pergi seorang pemimpin militer, Mitsuko mendapatkan keberanian untuk memasuki dunia bawah. Dengan bantuan tengu — makhluk berwujud burung gagak — dan makhluk-makhluk fantastik lainnya, Mitsuko melakukan perjalanan demi memulihkan harta dan kehormatan keluarganya

Novel yang mengambil Jepang sebagai settingnya selalu punya daya tarik tersendiri. Tidak heran begitu melihat judul buku dengan seorang gadis mengunakan kimono sebagai covernya, saya segera memasukkannya ke keranjang belajaan tanpa sempat melihat lagi resensi di belakangnya.

Mitsuko, kata yang menjadi judul buku, yang juga adalah nama seorang gadis bangsawan yang menjadi tokoh sentral dan sebagai narator yang mengisahkan perjuangannya untuk bebas dari bencana yang nyaris membuat keluarganya hancur berantakan.

Sungguh disayangkan memang. Karena sebelumnya kehidupan keluarga Mitsuko sangat menyenangkan. Bersama ayah, ibu, ketiga kakak peremuan serta adik laki-lakinya, mitsuko sungguh menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama. kehidupan sebagai gadis bangsawan dirasakannya sangat nyaman.nyaris tidak ada keluhan di dalamnya. semua kebutuhan mereka dengan mudah terpenuhi. Terlebih ketika ayah Mitsuko mendapat jabatan tinggi dalam pangkat kekaisaran. Rentetan keberuntungan mulai memasuki keluarganya. Salah satunya adalah ketika kakak sulungnya, Amaiko menikah dengan Yugiri, seorang pria terhormat yang punya masa depan yang gemilang.

Namun layaknya roda, kehidupan juga berputar ke atas dan ke bawah. Keadaan menyenangkan yang terjadi di keluarga Mitsuko mendadak berganti dengan sebuat traged. Biarawan dari gunung Hiei dan Kuil Chizuko adalah penyebabnya. Dari seorang gadis penjaja mochi,Mitsuko mengetaui bahwa para biarawan masuk ke kota dan mulai membakar rumah para bangsawan. Tak perlu menunggu lama hingga akhirnya ibu Mitsuko memutuskan untuk membawa anak-anaknya meninggalkan kediaman mereka yang entah kapan akan menjadi sasaran pembakaran berikutnya. Ayah mitsuko sendiri tak jelas keberadaannya.

Sayangnya, malang tak dapat di tolak, mujur tak dapat diraih. Di tengah perjalanan menuju tempat pengungsian, kereta mereka dicegat oleh sekelompok biarawan. Perkelahian tak dapat dielakkan. Biarawan memang berhasil diusir. Namun Yugiri, suami Amaiko tewas karenanya.

Kesedihan yang mereka rasakan kini semakin bertambah. Semakin menumpuk ketika tahu bahwa tempat mengungsi yang disediakan bagi mereka tidak layakuntuk ditempati. Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya mereka pun memilih untuk tinggal.

Masalah seakan tidak berhenti. Kehilangan suaminya ternyata memberi pukulan yang amat dalam bagi Amaiko. Kakak perempuan yang dulu selalu dibanggakan oleh Mitsuko kini layaknya mayat hidup. tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terpancar di kedua matanya.
Karena tak ingin kehilang satu anggota keluarga lagi, Mitsuko akhirnya memutuskan untuk menyembuhkan kakaknya. Walaupun itu berarti harus meninggalkan anggota keluarga lainnya.

Tanpa rencana matang dah arah tujuan yang jelas, keraguan mulai melanda mitsuko. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang Tengu – manusia gagak- dan makluk lain dalam mitos jepang di sebuah kuil. Beruntung salah satu tengu bersedia membantunya. Walau bersama seseorang dengan kemampuan di atas rata- rata manusia biasa, perjalanan menyelamatkan Amaiko bukanlah hal yang mudah.

Petualangan yang cukup menarik. Tempat – tempat yang disinggahi oleh Mitsuko membuat saya teringat dengan beberapa tokoh yang perna muncul di serial Monkey King. Sehingga tidak ada kesusahan untuk membayangkan perawakan mereka. Tapi satu hal yang membuat saya tetap penasaran adalah sosok sang Tengu. Karena buku inilah yang pertama kali membahas tentang tengu. Pernah sih sekali melihatnya di komik tapi itu juga tidak hanya sebagai tokoh yang numpang lewat. Bahkan di serial manapun tidak ada yang membahas manusia gagak ini. Semoga di Search Engine Google nanti akan mudah mendapatkannya.


Mitsuko
Judul Asli: Little Sister
Penulis: Kara Dalkey
Penerjemah: Mohammad H
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Juni 2007
Tebal: 247 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...