Showing posts with label Thriller. Show all posts
Showing posts with label Thriller. Show all posts

Thursday, 19 May 2011

Review: Bec - Darren Shan



Seakan tak pernah habis, iblis-iblis bertampang mengerikan terus bermunculan dengan rasa lapar mereka tak pernah terpuaskan. Mereka mendatangi pemukiman penduduk dan menyebarkan mimpi buruk. Menyerang dan membunuh mereka yang lengah. Ribuan korban berjatuhan. Anak-anak, perempuan bahkan pria dewasa sekalipun. Satu demi satu klan musnah. Banyak di antaranya yang hanya menyisakan rumah-rumah tak berpenghuni yang sebagian besar porak-poranda. Hanya mereka yang memiliki persenjataan, kemampuan bela diri, dan sedikit sihir yang nampaknya mampu bertahan. Setidaknya bisa hidup lebih lama.

Adalah Bec, anak perempuan yang dididik menjadi penyihir wanita. Ia diharapkan akan tumbuh besar sebagai peyihir yang cakap yang mampu membantu klan. Daya serap Bec sangat cepat, ia dengan mudah menghapalkan mantera, menyembuhkan mereka yang terluka ataupun memperdaya satu dua iblis dengan sihirnya. Sayangnya, tidak seperti Banba, gurunya, kemampuan sihirnya masih dangkal dan lemah. Sihir yang ia miliki sekarang tidak mampu melindungi seluruh anggota klan.

Suatu hari, klan kedatangan anak laki-laki yang sangat gesit dan mampu berlari sangat kencang. Tak banyak kata-kata yang dapat diucapkannya. Semua pertanyaan hanya dijawabnya dengan cengiran ataupun satu dua patah kata yang diucapkan berulang-ulang. Walau aneh anak ini lah yang mempertemukan anggota kawanan Klan termasuk Bec bertemu dengan pria bernama Drust, seorang druit.

Di bawah pimpinan Drust, Bec banyak belajar mantera baru. Walau mengalami banyak kesusahan, Bec bisa mengasah dan meningkatkan kemampuan sihirnya. Setelah menghabiskan beberapa hari bersama,Bec dan kawanan Klan sepakat untuk memulai petualangan bersama sang druit. Perjalanan menelusuri daerah-daerah berbahaya ini sangat melelahkan. Para iblis pun setiap saat menghantui di setiap kesempatan. Mereka tahu betul bahwa misi yang mereka emban sangat berat. Namun mereka tidak dapat berhenti dan kembali pulang. Karena hanya inilah satu-satunya kesempatan untuk menghalau para iblis, melindungi klan yang tersisa dan mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Dan yang jauh lebih penting, menggagalkan tujuan para Demonata.

Sebelum membaca buku ini, sempat terpikir saya akan menemukan beberapa tokoh dari seri sebelumnya. Sayangnya saya tidak menemukan siapa-siapa kecuali sang Demonata dan familiarnya, Vein. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya mengenai setting waktu dan tempat. Ternyata ini,telah dipikirkan oleh sang penulis.Di halam terakhir, Darren Shan menjelaskan semuanya. Menjadi alasan mengapa Grubbs, Dervis ataupun Kernel sama sekali tidak disebut-sebut.

Seperti buku-buku sebelumnya, buku keempat ini juga memberikan banyak kejutan. Darren Shan tidak memberi petunjuk sama sekali, kemana ceritanya mengalir. Namun dibandingkan buku yang lain, Bec benar-benar menguras emosi. Saya tidak pernah menyangka akan akhir cerita yang membuat saya menitikan air mata. Untuk pertama kalinya Lord Loss membuat saya patah hati. Dari buku ini juga terlihat dengan jelas, sejak dulu master iblis yang penuh intrik dan licik ini punya ratusan rencana yang telah disusun sangat rapi.

Bec, anak perempuan pertama yang menjadi tokoh utama di buku Darren Shan menjadi tokoh yang paling saya sukai. Tingkah laku dan pemikirannya menjadi salah satu alasan. Seperti ikatan Grubbs dan keluarganya, penggambaran Bec dengan tokoh-tokoh lain juga diceritakan dengan sempurna. Saya dengan mudah bisa merasakan emosi yang terjalin antara mereka.

Untuk penggemar Demonata, jangan sampai melewatkan buku ke empat ini. Karena satu demi satu puzzle dari tiga buku sebelumnya mulai tersusun dan membentuk gambar yang lebih jelas. Dari masalah kutukan keluarga sampai permainan catur yang digemari sang Demonata. Di buku ini juga terjawab mengapa dari tahun ke tahun jumlah iblis tak pernah berkurang. Bahkan ketika kawanan mereka telah banyak dibunuh oleh manusia dalam pertarungan mempertahankan hidup.

Tak sabar rasanya membaca buku selanjutnya.

Cover
Rasanya saya harus berhenti berharap akan menemukan cover yang menarik untuk seri Demonata. Mengingat buku pertama hingga ketiga pun tidak jauh beda. Setidaknya seramnya sosok salah satu Iblis digambarkan dengan baik. Namun untuk cerita yang ditulis oleh Darren Shan, tidak peduli disampul dengan cover yang sangat jelek sekalipun, saya pasti membacanya.

4/5

Penulis: Darren Shan
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2011
Tebal: 352 hlm
Sumber: Koleksi Pribadi

Monday, 19 April 2010

Review: Dead Until Dark - Charlaine Harris



Satu lagi buku yang bercerita tentang vampir. Berbeda dengan buku yang juga mengangkat tema yang sama, keberadaan mahkluk malam penghisap darah ini tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Sebaliknya mereka dengan mudah masuk dan berbaur dalam kehidupan manusia. Semua itu dikarenakan satu penemuan muktahir di Jepang berupa darah sintetis. Yang memungkinkan para vampir bertahan hidup tanpa harus menjadikan manusia sebagai mangsa mereka.

4 tahun sudah sejak darah sintetis itu dijual bebas di pasaran. Para vampir bebas berkeliaran. Selama itu pula Sookie Stackhouse kedatangan seorang vampir di kotanya, Bon Temps.

Sookie, wanita muda cantik yang menjadi tokoh utama di buku ini. Ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah dan kini bekerja sebagai pelayan di Bar Merlotte. Dari luar Sookie nampak seperti perempuan berambut pirang lainnya. Walau sebenarnya ia jauh lebih cerdas dari apa yang orang –orang pikirkan. Toh hampir semua orang telah menyisipkan kata “gila” menjadi nama tengahnya.

Semua itu hanya karena kelebihan yang lebih sering disebutnya kelainan yang ia miliki.Sookie dengan mudah mengetahui apa saja yang terlintas dibenak orang lain. Di luar sana mungkin banyak yang berpikir bahwa hal itu merupakan sesuatu yang hebat. Namun tidak demikian dengan Sookie. Ia bahkan berharap tak pernah memilikinya. Karena kelebihan ini lebih sering membuat merasa kelelahan. Bagaimana tidak, Sookie harus berusaha keras untuk menghalangi setiap suara dari pikiran orang lain yang biasanya datang seperti serangan bertubi-tubi.

Tak hanya itu, kemampuannya ini berdampak besar di kehidupan sosialnya. Cap “gila” yang dibubuhkan padanya,jangankan berkencan, teman dekat pun Sookie tak punya. Beruntung masih ada segelintir orang yang tidak berpikiran seperti kebanyakan orang di kota itu. Adalah Adele, neneknya dan Sam, bos pemilik Bar Merlotte’s.
Mimpi yang menjadi nyata

Tak ada pertanda khusus yang didapatkan Sookie, saat seorang pria melangkahkan kakinya di Merlotte’s malam itu. Tak butuh waktu lama bagi Sookie untuk mengetahui bahwa pria berwajah sangat pucat itu adalah vampir.
Keberuntungan nampaknya mengelilingi wanita bermata biru ini. Karena vampir itu memutuskan untuk duduk di meja yang menjadi tanggung jawabnya. Satu hal yang membuatnya nyaris memeking girang adalah ketika mengetahui pikiran pria itu tak dapat dibacanya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus kenyataan yang membuat Sookie ingin mengenal lebih jauh pria yang mengenalkan dirinya sebagai Bill Compton.

Bersamaan dengan itu,peristiwa pembunuhan terjadi di Bon Temps. Tak hanya satu, dua, tiga, tapi empat pembunuhan terjadi. Tak banyak bukti yang membuat para warga Bon Temps menjadi tersangka. Namun Sherrif dan seorang detektif mulai membuat list orang –orang yang patut dicurigai. Yang membuat Sookie sangat terkejut adalah ketika mengetahui orang-orang terdekatnyalah yang masuk dalam list tersebut.

Tak tinggal diam, Sookie berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang membuat teror berkepanjangan bagi setiap warga Bon Temps ini. Walau membuatnya harus melibatkan diri ke tempat-tempat yang cukup berbahaya. Tidak hanya harus berpacu dengan waktu, ia juga harus ekstra hati-hati, karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga mengincar dirinya.

~~~

Seru! Satu kata untuk buku ini. Tak terasa buku dengan jumlah 402 halaman itu selesai begitu saja. Walau cover buku ini sedikit membuat saya kecewa begitu melihatnya pertama kali, tapi tidak mengurangi asyiknya kisah buku tentang vampire yang satu ini. Tak heran jika HBO akhirnya mengadaptasinya menjadi serial tv dengan judul True Blood.

Rasanya tak sabar menunggu buku kedua. Walau tidak lagi diterbitkan oleh penerbit Kantera, saya berharap hasil terjemahan buku berikutnya tidak kalah dengan buku pertama.

3/5

Dead Until Dark
Penulis: Charlaine Harris
Penerjemah: Pujia Pernami
Editor: Alika Chandra & Ary Nilandari
Penerbit: Kantera
Cetakan: I, 2010
Tebal: 402 hlm

Thursday, 12 February 2009

Review: Lord of The Shadows - Darren Shan



Spoiler Alert!!!

Delapan belas tahun berlalu sejak Darren meninggalkan rumah dengan identitas kematian palsunya dengan darah vampir yang dialirkan oleh Mr Crepsley. Selama itu pula, kejadian demi kejadian terjadi dan mengubah banyak hal. Tidak hanya Darren ataupun orang – orang disekitarnya, karena sejak kepergian Darren, perubahan drastis pun terjadi pada teman – temannya di masal lalu dan tentu saja keluarganya.

Rumah masa kecil Darren masih ada. Namun orang tuanya telah lama pindah sejak ayahnya pensiun. Rumah yang terlihat lebih suram dibandingkan sejak Darren terakir kali melihatnya kini ditempati oleh adiknya Anhie. Satu kejutan baru adalah ketika mengetahui bahwa Anhie memiliki anak dan membesarkannya tanpa seorang suami. Begitu melihat sosok adik perempuan satu – satunya, Darren nyaris kehilangan kendali. Keinginan untuk muncul di hadapan Anhie, berbicara, memeluknya, tertawa dan menangis bersama ataupun membicarakan masa lalu begitu besar. Namun akhirnya Darren mengurungkan niatnya. Ia kembali ke kota tempat ia menghabiskan masa kecil bukan untuk membongkar masa lalunya. Masih ada misi yang lebih penting dari sekedar mengenang masa lalu.

Seperti yang diramalkan oleh Evanna sang penyihir, Steve atau Darren akan bangkit menjadi Penguasa Kegelapan yang akan meluluhlantahkan dunia. Rasanya sulit untuk menerima semua semua perkataan penyihir perempuan itu. namun ia tidak mungkin berdia diri dan membiarkan klan Vampaneze merajalela dan mengambil alih semuanya. karen atidak hanya klan vampir yang akan hancur, namun seluruh umat manusia di bumi ini juga dipastikan akan musnah.

Masalahnya sekarang adalah menemukan keberadaan Steve dan pengikutnya. Walau sebenarnya Darren tak perlu pusing, karena cepat atau lambat mereka akan muncul dengan sendirinya

Benar saja. Morgan James dan R.V muncul di hadapan Darren. Tanpa segan – segan melukai orang – orang di sekeliling Darren. Termasuk beberapa diantaranya teman-teman Darren di Cirque Du Freak.

Perasaan Darren benar- benar hancur dibuatnya. balas dendam dengan melakukan hal yang sama adalah satu – satunya yang ada di pikiran Darren yang saat itu telah mengalami fase lanjutan dari seorang vampir. Jalan menuju Penguasa Kegelapan kini terbuka sangat lebar.

Seperti buku buku serial Darren Shan sebelumnya, buku kai ini juga membuat saya menjadi gemas karenanya. Semuanya karena kejutan demi kejutan yang muncul begitu mendadak. Seharusnya saya tidak begitu naif sehingga rasa kesal itu tidak perlu muncul.

Semoga saja kisah yang akan berakhir di nomor 12 ini akan memberi ending yang menyenangkan. Walau sebenarnya tak banyak berharap. Apalagi jika berpatokan dengan buku – buku sebelumnya. Tapi siapa yang tahu kejutan apalagi yang akan di berikan oleh Darren Shan kepada pembacanya. 

Darren Shan $11: Lord of The Shadows
Judul Indonesia: Penguasa Kegelapan
Penulis: Darren Shan
Penerjemah: Dharmawati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 208 hlm

Sunday, 3 August 2008

Vienna Blood


Vienna Blood
Penulis: Frank Tallis
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Juli 2007
Tebal: 592

Setelah A Death In Vienna, serial yang ditulis Frank Tallis kembali lagi dengan Vienna Blood. Judul yang memiliki bau yang “sama”. Sehingga dapat dipastikan, seperti sebelumnya, di buku ini juga terdapat beberapa kejadian yang menelan korban dan bersama sahabatnya, Inspektur Detektif Oskar Rheinhardt, sang dokter dengan psikoanalisisnya kembali beraksi memecahkan misteri.

Insiden berdarah dibuka dengan ditemukannya anakonda yang tidak bernyawa di Tiergarten. Yang mengerikan, binatang dengan ukuran raksasa itu terpotong menjadi beberapa bagian. Tak ada barang bukti yang terdapat disekitar lokasi kejadian. Sang pawang juga tak dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena ia dipukul oleh sang pelaku hingga kehilangan ingatan.

Belum juga berhasil mendapatkan motif maupun tersangka dari insiden di kebun binatang, kejadian yang menelan korban kembali terjadi. Tak hanya satu namun empat sekaligus. Semua daerah kejadian disisir tanpa sisa oleh Inspektur Rheinhardt beserta asistennya. Beberapa nama masuk dalam catatannya.

Tak dinyana, saat sibuk dengan interogasi yang dilakukannya, korban- korban lain kembali berjatuhan. Geram, tentu saja. Karena tak hanya dibuat pusing oleh tingkah sang pelaku. Inspektur Rheinhardt juga harus berhadapan dengan tuntutan atasan untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut, seakan tak mengerti kesulitan yang dihadapinya

Tentu saja bantuan Maxim Liebermann sangat berarti, walau tetap tak yakin pada beberapa teori yang diungkap oleh sahabatnya. Seperti kasus sebelumnya, Miss Lydgate, wanita kenalan Liebermann kembali dilibatkan. Berpacu dengan waktu, ketiganya berusaha keras untuk mengumpulakn bukti – bukti sebelum lebih banyak korban yang berjatuhan. Butuh beberapa lama untuk menyadari bahwa ada satu hal yang menghubungkan semua rentetan pembunuhan yang terjadi.

Kisah kali ini sungguh menarik. tak hanya dari kasus yang ditangani oleh sang inspektur. Bahkan kehidupan pribadi Maxin Liebermann pun rasanya sayang untuk dilewatkan. Sayangnya ketika buku ini sampai ada halaman terakhir, kisah Lieberman masih sedikit menggantung. Semoga saja dibuku berikutnya semua rasa penasaran ini bisa terjawab.

Beberapa pertanyaan berkisar pakaian transportasi, hingga konser-konser musik semua terjawab di buku ini. Walau beberapa hal masih harus mengandalkan Wikipedia. Terlebih untuk mengerti keadaan kota Vienna beserta gedung – gedung yang digunakan Frank Tallis sebagai setting. Rasanya menyenangkan melihat tmpilah depan gedung – gedung yang dikunjungi Lieberman, terlebih ketika akhirnya isa melihat makanan yang digambarkan sangat lezat oleh Inspektur Rheinhardt

Yang tak kalah mengejutkan adalah Liebermann hidup dimasa yang sama dengan salah satu tokoh besar dalam sejarah dunia. Beberapa teori yang diungkapkan dalam buku ini sedikit membuat bingung. Namun setidaknya bagaimana prinsip dasar psikoanalisis dengan jelas tergambar dalam buku ini.

Sedikit membuat saya kewalahan adalah nama- nama tokoh – tokoh tambahan yang membingungkan. Mungkin dikarenakan penggabungan huruf – huruf itu bukan hal yang lazim digunakan. Butuh waktu lama bagi saya untuk dapat membedakan satu toko dengan tokoh lainnya.

Musik juga mengambil bagian besar dalam buku ini, baik dari piano yang dimainkan Liebermann ataupun dalam konser juga tak dapat saya nikmati. Saya menyukai lagu klasik namun tidak sampai membuat saya hapal luar dalam. Apalagi jumlah mereka ribuan.

Namun diluar dari kekurangan-kekurangan itu, buku ini layak dibaca bagi pencinta novel detektif. Semoga buku berikutnya dapat segera diterbitkan.

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...