Showing posts with label Bentang. Show all posts
Showing posts with label Bentang. Show all posts

Thursday, 30 June 2011

Review: The Count of Monte Cristo - Alexandre Dumas



The Count of Monte Cristo, buku setebal 568 halaman ini dimulai dengan kisah hidup seorang kelasi Kapal Pharon, Edmond Dantes. Tanggal 24 Februari 1819, bersama kru kapal lainnya, ia mendarat di Marseilles. Setelah tiga bulan melaut, pertemuan kembali dengan orang-orang terkasih adalah hal yang paling dinantikannya. Pesta pertunangan dengan kekasihnya, Mercedes pun dilangsungkan keesokan harinya. Pada hari yang sama, oleh sang pemilik kapal, Monsieur Morrel, Dantes diangkat menjadi kapten kapal menggantikan kapten yang sebelumnya mangkat. Namun takdir berkata lain, kebahagiaan itu hanya berlangsung dalam waktu singkat. Seorang komisaris polisi dengan surat perintah penahanan menerobos masuk ke dalam pesta. Edmond Dantes ditahan.

Ada yang salah dalam penahanan ini karena kelasi berumur sembilan belas tahun itu tidak melakukan satu kesalahan apapun seperti yang dituduhkan oleh sebuah surat misterius tanpa nama. Ia sama sekali tidak terlibat ataupun turut mengambil bagian dari Bonapartis. Tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa ada komplotan jahat yang tak senang melihatnya hidup bahagia.

Sebenarnya hari itu juga ia dapat menghirup udara bebas dan kembali berkumpul bersama ayah dan Mercedes. Bahkan sang penuntut umum, Monsieur de Vildefort, pun sebenarnya tidak punya alasan kuat untuk menahan Dantes. Namun keserakahan telah menutup mata dan hati nurani sang penegak hukum. Bukannya mengembalikan Dantes ke pesta yang ditinggalkan begitu saja seperti yang ia janjikan sebelumnya, Vildefort malah mengirim sang kapten kapal ke Chateau d'If, rumah tahanan yang berdiri diatas sebuah pulau, yang diperuntukan bagi tahanan politik.

Oleh sang sipir, ia ditempatkan di sebuah sel bawah tanah yang gelap dan lembab. Ruangan sempit itu hanya diterangi lampu yang sumbunya terendam minyak kental. Bertahun-tahun mendekam di tempat yang mengerikan itu sempat membuat semangat Dantes pupus. Harapan untuk bertemu dengan ayah dan Mercedes dikuburnya dalam-dalam. Ia bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Sampai suatu hari ia bertemu dengan penghuni sel lain yang berencana untuk melarikan diri dengan menggali sebuah terowongan. Abbe Faria, begitu ia menyebut namanya. Terowongan yang dibuatnya selama empat tahun itu jauh dari selesai. Namun setidaknya menghubungkan sel mereka berdua. Mereka memanfaatkan semua waktu untuk bertemu, bertukar cerita sampai meneruskan misi pelarian saat penjaga penjara tak berkeliaran di bawah tanah. Bersama Faria, sang pria renta, Dantes belajar banyak hal. Dalam waktu enam bulan ia menguasai beberapa bahasa baru. Di bulan ke lima belas terowongan yang mereka buat pun selesai. Sayangnya hasil kerja mereka tak dapat digunakan. Faria sekarat. Sebelum menjemput ajal, sebuah rahasia besar ia diceritakan kepada Dantes. Sebuah rahasia besar yang membuat hidupnya sang kapten berubah. Rahasia yang memberinya kekuatan untuk keluar dari penjara yang didiaminya selama 14 tahun dan memulai rencana demi rencana untuk membalas sakit hatinya. Rahasia yang sama juga memulai petualangan sang Count of Monte Cristo.

Suka! Awalnya saya sangsi dapat melahap buku ini. Tidak hanya ketebalan dan ukuran font yang sangat kecil. Namun semua itu tidak menjadi masalah, karena kisah yang ditawarkan ternyata mampu menarik perhatian saya. Hanya dengan membaca beberapa halaman awal saya yakin buku ini tidak akan mengecewakan. Dan itu memang terbukti. Sampai beberapa bab terakhir pun, saya tidak kehilangan antusias untuk mengetahui bagaimana sang penulis mengakhiri cerita Count of Monte Cristo ini. Banyaknya tokoh baru yang bermunculan ditengah-tengah cerita disertai dengan nama yang agak susah untuk dilafalkan tidak menjadi gangguan yang berarti.

Tokoh yang paling menjadi favorit saya dalam buku ini tentu saja Count of Monte Cristo. Kemampuannya menarik simpati membuat saya terpana. Terutama di semua bab yang mengisahkan pertemanan yang coba dijalinnya. Pembawaannya yang tenang membuat rasa dendam dan kebencian yang disimpan jauh di dalam hatinya bahkan tak terlihat. Kecerdasaannya pun membuat saya kagum. Lihat saja bagaimana semua rencana yang disusun dengan matang. Perlahan namun pasti. Musuh-musuh Dantes juga memainkan peran mereka dengan baik. Kelicikan dan keserakahan yang ada dalam diri mereka menjadi bagian dari bumbu penyedap di buku ini. Namun tidak ada yang lebih menyenangkan menyimak bagaimana mereka akhirnya jatuh satu demi satu. Salut untuk kepiawaian Alexandre Dumas, sang penulis.

Tidak menyesal rasanya membaca buku yang menjadi salah satu pilihan Blogger Buku Indonesia untuk bulan Juni ini.

Cover
Warna gelap dan kelam sebagai latar belakang rasanya cukup mewakili apa yang ada di dalam buku ini. Sosok Dantes yang digambarkan juga rasanya pas. Yang membuat penasaran adalah bangunan yang berdiri di atas tumpukan karang. Untuk mewakili rumah tahanan Chateau d'If rasanya terlalu mewah.

Di wikipedia, terdapat diagram yang menggambarkan hubungan setiap karakter yang ada di buku ini. Bahkan yang hanya disebut beberapa kali pun tertuang di diagram ini. Untuk lebih lanjutnya silahkan lihat di sini

4/5

The Count of Monte Cristo
Penulis: Alexandre Dumas
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: iv + 568 hlm


Saturday, 4 August 2007

Review: Sang Pemimpi - Andrea Hirata





Sang pemimpi, buku yang menceritakan kehidupan Ikal di masa SMA. Ikal harus meninggalkan kampung karena SMA hanya ada di Magai. Dengan nilai NEM yang memadai, Ikal berhasil menjadi salah satu muridnya. Bersama Arai dan Jimbron, Ikal menjalani hari hari di daerah yang berjarak 30 Km dari rumahnya.

Arai, tak lain adalah saudara sepupu yang tumbuh bersama Ikal sejak kecil. Arai telah kehilangan kedua orang tuanya.Yang dijuluki oleh ikal sebagai Lone Ranger. Pria yang selalu memberikannya kejutan kecil yang terasa sangat manis.Arai adalah seseorang selalu berdiri disebelah Ikal dan tak henti memberi dukungan ketika seluruh dunia mencemooh bahkan memusuhinya. Tak jarang tingkah Arai membuat Ikal terkagum kagum, termasuk ketika Ikal menyerahkan semua uang hasi kerja merek auntuk membantu mak Cik Maryamah. Bahkan terpingkal-pingjal ketika mengetahui bahwa Arai berhasil mengelabui Taikong Hamim, Imam masjid yang terkenal sangar, dengan melafakan amin dengan seringan serigala. Arai adalah salah satu rangkaian mozaik dalam kehidupan Ikal.

Adapun Jimbron, laki laki yang tak jauh beda dengan Arai.Jika Ikal mengidolakan Bang Rhoma dan Arai dengan keinginan untuk menemui Jim Morrison walau hanya pusaranya, pria tambun ini lebih memilih Kuda. Semua jenis Kuda dihapalnya luar kepala. Tak satupun yang terlewatkan. Yang anehnya, dirinya tak kunjung melihat sosok binatang itu secara langsung. Tak ada hari tanpa membicarakan binatang kesayangannya. Hingga kadang membuat Ikal merasa muak.

Bersama dua laki laki ini, Ikal mengalami suka duka yang tak akan pernah dilupakannya. Seperti lari dari kejaran wakil kepala sekolah,pak Mustamar yang sangar akibat datang terlambat, hingga membuat kekacauan di pasar ikan milik nyonya pho. Ataukan ketika mendapat hukuman berat dari pria yang sama akibat melanggar aturan saat itu, yaitu mendekati gedung bioskop yang saat itu menayangkan film yang tak senonoh. Bahkan ketika membantu Arai untuk menyampaikan perasaannya kepada Zakiah Nurmala, perempuan yang telah membuat Arai mabuk kepalang selama beberapa tahun. Ataupun membantu usaha Jimbron membuat Yasmin, gadis pujaannya, tersenyum.

Di masa SMA ini pula, mimpi mereka mulai terajut. Terinsipirasi dari Pak Balia, Kepala sekolah sekaligus guru kesastraan, mereka pun bertekad untuk menjelajahi Eropa sampai ke Afrika, bahkan melangkahkan kaki di atas altar suci almaamater terhebat tiad tara : Sorbornne. Walau sempat pesimis dan terpuruk, akhirnya ikal berhasil menyelesaikan pendidikannya. Bersama Arai, Ikal nekat mengadu nasib ke Jakarta dengan berbekal uang yang telah dikumpulkannya dengan bekerja sampingan tak kenal lelah.

Kehidupannya di Jakarta ternyata tak begitu ramah menyambut mereka. Kehidupan mereka sempat terlunta –lunta walaupun telah berkali kali berganti pekerjaan. Dari pekerja pabrik, Salesman, kerja serabutan di tempat fotokopi Titik terang mulai terlihat ketika Ikal mendapat pekerjaan di Kantor Pos sedangkan Arai berkelana di kalimantan. Dengan gaji yang dimilikinya, Ikal berhasil menyelesaikan kuliah di fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Namun mimpi belum juga terwujud. Sobornne masih jauh dari jangkauan.

***

Buku kedua Andrea Hirata yang tak kalah kocak jika dibandingkan dengan laskar Pelangi. Tak jarang saya tiba tiba tertawa terbahak membaca setiap kalimat ada didalamnya.


Buku ini juga yang membuat saya percaya akan kekuatan mimpi. Percaya bahwa mimpi tak hanya boleh berakhir dengan tumpukan angan, tetapi harus diwujudkan. Semua itu terlihat dari kegigihan dan pengorbanan yang dilakukan Ikal dan Arai.


Japan, wait for me…!!!!


Sang Pemimpi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit:  Bentang Pustaka
Tebal : 292 hal

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...