Showing posts with label 2012. Show all posts
Showing posts with label 2012. Show all posts

Friday, 28 December 2012

Review: Lelaki Terindah - Andrei Aksana

Gebrakan baru Andrei Aksana!
Setelah menerbitkan tiga novel yang menjadi bestseller, Andrei Aksana kembali dengan karya masterpiece-nya, Lelaki Terindah. Bukan sekadar novel biasa, karena Andrei Aksana juga memasukkan sejumlah puisi sebagai bagian cerita.

Kisah tentang cinta antara dua lelaki, Valent dan Rafky. Cinta yang menghadapi berbagai rintangan dan halangan dari keluarga dan masyarakat, dan terutama dari diri mereka sendiri. Apakah salah bila cinta tumbuh di hati dua lelaki?

Apa yg harus dilakukan saat cinta telanjur mekar dan bersemi? Sanggupkah mereka menghadapinya?
(Goodreads)
~~

Tidak banyak buku LGBT yang saya lahap. Lelaki Terindah adalah buku ketiga setelah Gerhana Kembar karya Clara NG dan Boyfriends With Girlfriends milik Alex Sanche. Seperti para pendahulunya, buku ini juga gagal membuat saya mengerti bagaimana kisah cinta semacam ini terjadi.

Agak susah untuk merasakan emosi Rafki dan Valent ataupun sosok Aku. Bahkan ketika buku ini dipenuhi banyak kalimat yang ditulis dengan indah. Hampir semuanya terucap begitu saja tanpa ada ruh di dalamnya. Puisi singkat juga berserakan di mana-mana seakan kalimat-kalimat yang ada tidak cukup. Saking banyaknya, saya memilih untuk melewatinya begitu saja.Terasa mengganggu.

Mindset awal tentang tema yang diangkat sebenarnya menjadi faktor lain mengapa saya tidak bisa menikmati buku ini. Saya tidak bisa begitu saja membuang apa yang telah tertanam dalam benak. Walau sudah membaca dua buku dengan genre yang sama, tapi dahi saya masih berkerut. Akibatnya susah untuk menikmati buku yang saya selesaikan hanya dalam beberapa jam ini. Alurnya cepat banget. Jadi ingat buku-buku romance terjemahan.

Dibanding para karakter utama, saya lebih paham bagaimana reaksi Janita, ibu Valent ataupun bagaimana putus asanya dan berlebihannya reaksi Rhea. Kalimat favorit saya malah keluar dari mulutnKinan. Padahal tidak sekali dua kali Rafky dan Valent mengucapkan sesuatu yang indah banget, tapi ya tanpa ada emosinya. Tapi setidaknya karakter Rafky dan Valent digambarkan dengan jelas. Sehingga Tidak sulit untuk membayangkan sosok mereka. Bagian lain yang juga menjadi hal yang saya sukai dari buku ini adalah cerita masa lalu setiap karakter.

Kota Bangkok dipilih menjadi salah satu setting di buku dengan alur maju mundur ini. Tapi deskripsinya tidak cukup banyak untuk menyakinkan saya bahwa Rafky dan Valent sedang berada di sana. Walau bukan buku travelling, tapi menurutku setting dari sebuah buku tuh tidak hanya dijadikan tempelan gitu aja.

Sebagian dari akhir cerita berjalan seperti yang saya harapkan. Walau tidak pernah menyangka sosok Aku turut mengambil bagian dan membuat hubungan Rafky dan Valent yang tidak nampak kuat seperti yang digambarkan di bab-bab sebelumnya.

Kapok? nggak tuh. Lelaki Terindah membuat saya jadi makin penasaran terhadap buku dengan genre serupa. Pengen nemu buku yang bisa membuat saya mengerti dengan hubungan semacam ini.

Cover
Bukan cover yang bakal kutaruh di rak favorit.   

Lelaki Terindah
Penulis: Andrei Aksana
Editor: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2004
Tebal: 224 hal

Thursday, 27 December 2012

Not a Review: A Letter from SS



Ally,

Hari ini aku menemukan buku itu Wonder, oleh R.J Palacio. Awalnya aku ingin membeli The Girl with Glass Feet. Aku telah membacanya, Ally, dan mungkin buku yang pas untuk kamu baca.

Sayangnya,Aku tidak menemukan buku itu di toko buku kesayanganku. Aku punya banyak sekali toko buku favorit. Aku akui, aku hanya mencari di tiga toko, tapi rasanya buku itu hilang. Tidak mungkin aku memberi punyaku, kan? Di salah satu toko, aku melihat novel oleh Robert Harris, Conspirata. Aku ingat pernah melihat buku ini dalam rak "SS" di website Goodreads. Tapi setelah aku mengecek, buku itu sudah tidak ada. Mungkin aku salah lihat, atau mungkin kamu sudah tidak menginginkannya lagi, Ally.

Maafkan aku, kamu pasti ingin tahu siapa aku. Aku memang tidak sopan, tidak mengenalkan diri kepadamu terlebih dahulu Ally, cobalah pergi ke Barat, mengikuti burung-burung yang terbang.

Ally, kamu harus menjadi seorang pemberani. Cobalah untuk tidak takut kepada hantu karena mereka tidak akan menyakiti.

Selamat membaca, Ally. Aku tidak sabar menunggu tulisanmu tentang buku ini

Salam, 
Santa

~~~

Dear my SS,

Terima kasih ya~~~. *hugs hugs hugs*
Senang banget pas tahu kalau aku dapat Wonder. Beneran ngga sabar pengen baca. Tapi karena harus ngejar 2012 Goodreads Reading Challenge yang masih ketinggalan jauh (masih kurang 20 buku nih), jadinya kusimpan dulu. Semoga dirimu pun dapat buku sesuai harapan.

Agak heran kenapa kamu ngirim Wonder jauh-jauh hari, bahkan sebelum jadwal yang tentukan oleh Ndari dan Oky. Aku ngga mungkin lupa, kamu jadi khawatir karena aku blom juga laporan. *puk-puk* Seharusnya ketika ngelink rak SS-ku di grup, aku juga ngasih tahu kalau pengiriman ke Manado tuh memakan waktu yang lumayan lama. Sekalian ngasih tahu jasa pengiriman mana yang cepat nyampenya. Maaf ya, baru terpikir sekarang.

Hhmmm...aku pun udah lama nggak ngeliat buku The Girl with Glass Feet. Dulu, setiap kali ke Gramedia, bukunya selaku kutimang. Tapi selalu ada keraguan untuk membawanya pulang dan menjadikannya bagian dari rak bukuku. Andai saja kita bertemu di BBI lebih awal, mungkin kamu bisa bercerita lebih banyak tentang buku itu.

Soal Conspirata, aku memang pernah naruh di rak SS. Tapi nyadar kalau Imperium aja blom kelar kulahap. Jadi kukeluarkan dari list. Maaf banget kalau jadi bingung.

Untuk riddle, beneran pusing mikirinnya. Udah nanya teman kantor trus cerita ke beberapa member BBI. Tapi ga ada yang pas. Saking bingungnya, sampai males ngutak-ngatik lagi. Tapi kalau yang member lain aja bisa nebak siapa SSnya. Masa iya aku nggak. Jadi suratmu kubaca lagi. Tiba-tiba sadar kalau aku mikirnya terlalu jauh dan sedikit maksa. Padahal jelas banget kamu dah ngasih banyak banget petunjuk. Fuuuhh...nyaris jadi X yang abai. Seharusnya emang baca suratmu pelan-pelan aja. 

Sebelum akhirnya yakin kamu itu siapa, sempat loh milih dua orang dan mengaitkan ini itu. Tapi setelah ngecek ini dan itu, semua petunjuk memang hanya mengarah padamu. hehe.

Sayangnya, panitia SS 2012 tidak mengijinkan untuk menuliskan namamu sekarang. Jadi bersabarlah. Tanggal 31 Januari tahun depan, kupastikan tidak akan ada huruf yang salah.
*winked*


Sampai Nanti,
~Ally~

PS: Saking penasarannya dan pengen mecahin riddle yang kamu tulis, sampai nggak nyadar gelas yang kupegang, isinya netes. Jadilah ada bercak di surat yang kamu tulis. Ah iya, butuh perjuangan lho untuk ngupload fotonya. Sinyal di rumahku kacrut, cuman dapat sinyal GPRS trus bluetooth bermasalah.

PSS: aku lupa ngambil gambar Wonder beserta pembungkus cokelatnya. Yang kepikiran cuman surat yang berisi riddle yang buat aku bingung berhari-hari. Harus nunggu balik ke Manado dulu untuk ngambil gambar aslinya. Untuk sementara, kupikir cukup dengan gambar cover dari penerbit. Makasih untuk sampul plastiknya.




Wonder
Penulis: R.J. Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Atria
Cetakan: I, 2012
Tebal: 430 hlm

Friday, 7 December 2012

Review Cupcake Queen


Kylie Jean needs money, so she decides to start selling cupcakes. But her doggie cupcakes can fund a really important cause helping orphan dogs at the shelter!
~~~
My name is Kylie Jean Carter. Here are some of the things you need to know about me: I live in Texas. My color is pink. I have two brothers, but one of the is a dog. And my number-one dream is to be a beauty Queen!.

I'm starting my own business! Momma and I will be making dozens of yummalicious cupcakes and selling them at garage sales. At first I plan to keep the money and get rich, but when I find out that the Puppy Place animal shelter might close, I come up with the perfect plan for my cupcakes to help save those puppies....

Just you wait and see!(Goodreads)

My Thought
Cupcake Queen is another book of Kylie Jean series that's up on NetGalley. Thanks to the publisher who has accepted my request. The printed version will be out on February 1, 2013. 

This is the third book of Kylie Jean series that I read. Before Cupcake Queen, I have finished Blueberry Queen and Dancing Queen. There are still many books in this series. Although I read the book not in the sequence number, I miss nothing. Because in the beginning there is one chapter where she tells me anything that I need to know. Like she does in the previous book. There is nothing change from this confidence girl.  She is still the same girl who loves pink and stuff, who lives in yellow house on Peachtree Lane in Jacksonville, Texas. Something that she never forget to tell is her beauty queen dream. She also tell me about her family including the bulldog, her pet, Ugly Brother. 

In this newest  story, Kylie told me about a garage sale, where she got the idea to start a cupcake business to get more money. She was so excited and could not wait any longer to start it. Something unique was she made not only a regular cupcake, she also made it for dogs.  She thought it would make her own business run better. With her momma help, all things are done smoothly. 

It is not difficult to guess where the story of this light book run. I like some parts of the book that show me another side of Kylie. However it makes she looks completely spotless. But I guess fans of this series will not mind about it.

The illustration is still awesome. I like it. 

The extra pages is also great. One glossary page and recipe of cupcake are there.

This book is so perfect book for young  reader ages 6-8 and a reluctant reader or the one who are learning English. The word choice is simple enough for a beginner. 

~~~

About the Author
Marci Bales Peschke was born in Indiana, grew up in Florida, and now lives in Texas, where she is a librarian. She has lived in three haunted houses, but now lives with her husband, two children, and a feisty black and white cat named Phoebe. She loves reading and watching movies.


About the Illustrator
When Tuesday Mourning was a little girl, she knew she wanted to be an artist when she grew up. Now, she is an illustrator who lives in South Pasadena, CA. She especially loves illustrating books for kids and teenagers. When she isn't illustrating, Tuesday loves spending time with her husband, who is an actor, and their two sons. 

Preorder Cupcake Queen (Kylie Jean)https://www.assoc-amazon.com/e/ir?t=itsalabbo-20&l=as2&o=1&a=1404881026 at Amazon.

Cupcake Queen
Author: Marci Peschke
Ilustrator: Tuesday Mourning 
Hardcover: 112 pages
Publisher: Picture Window Books (February 1, 2013)
Language: English
ISBN-10: 1404881026
ISBN-13: 978-1404881020
Source: NetGalley


Friday, 9 November 2012

Review Gone With The Wind




Set against the dramatic backdrop of the American Civil War, Margaret Mitchell's epic love story is an unforgettable tale of love and loss, of a nation mortally divided and its people forever changed. At the heart of all this chaos is the story of beautiful, ruthless Scarlett 'O' Hara and the dashing soldier of fortune, Rhett Butler.
-- "Gone With The Wind" sold more than 176,000 copies within the first three weeks of its initial publication in 1936. The Warner mass market edition (1993) sold over 330,000 copies. Over 28 million copies of the book have been sold in more than 37 countries. After 60 years, this will be the very first trade paperback edition ever published.

-- In 1991, Warner published Alexandra Ripley's Scarlett: The Sequel to Margaret Mitchell's Gone With The Wind, selling over 4.2 million copies in hardcover and paperback combined and becoming one of the fastest selling novels of the century.

-- "Gone With The Wind," the renowned MGM motion picture, won 10 Academy Awards and has been seen by an international audience of over a quarter of a billion people.Revisit the South and fall under the spell of Scarlett O'Hara and Rhett Butler all over again. After six decades, this sweeping saga set against the backdrop of the war-torn South remains one of the most beloved American novels ever written. (Goodreads)

 

My Thoughts

When I write this review, I still can't believe that I finished this book without skipping any pages. I think this is the thickest book that I ever read. I need to reward myself.

Long before I read Gone with the Wind, I have watched the movie. So I already knew how the ending. But I did not remember the details. What happened between also slipped my mind. What remains is Scarlett O’Hara, the main character, and her Husband. I can see clearly how selfish and stubborn the woman.  I also can recall how the story began.  Then there comes the book which told me everything, especially about Katie Scarlett O’Hara and her life. Thanks to Fanda and Bzee who have hosted the read along. Although I could not follow the schedule as it was, but I am still glad can find out what exactly happened and finally admit that I like this book.

Gone with the Wind consists of five parts. Each of them told the life stage of Katie Scarlett O’Hara. Scarlett was a sixteen reckless young woman when the story began.  She was twenty eight when the story reached the end.  So it is between 1861 and 1873. Most of the story happened in Georgia and Atlanta, southern United States. It was during American Civil War and the years after that. Later I know it is called as Reconstruction Era. This setting make me so excited and become the reason why I joined the read along.

Besides Scarlett, there were Rhett Butler, Ashley Wilkes and Melanie (Hamilton) Wilkes. The story runs round and round with them. There were still tons of minor characters. But I just remember some, like Scarlett’s family, her spouses, the maids, and some people in twelve oaks. The others are really hard to keep in mind. 

Gone with the Wind is indeed a long journey. I think everything happened in the book started in the Barbecue party at Twelve Oaks. I met and knew Rhett Butler, Ashley and Melanie there. It continues to many great things that effect Scarlett’s love life.  I hardly find myself get boring with each stage. I can see the changes in every part.  

Talk about characters, I just give my full attention to Scarlett and Rhett. 

I adore Rhett Butler. No matter what all those people said about his past or what he did. He always looks gorgeous in every chapter. I like the way he talked especially when he was teasing Scarlett. I laughed a lot because of him. The bond that he made with Scarlett is one thing that I like from this book. Although In the end, I feel disappointed with the way he took, it does not make me replace him. I do understand why. 

Scarlett herself gave me many impressions. There are so many words that can be used to describe her.  I changed my mind a lot for this woman.  I hated her in the few first chapters. Then the feeling slowly disappeared when she’s grown up. But I was wrong when I thought she was done with her obsession. It was still there and made the hatred back. When I read the part that told me so, I could not help myself to give her my double face palm. I blamed her for everything happened in the next chapters. The mystery was solved. I finally found the reason and understood why Rhett Butler took such decision. But in the end, she got my all sympathy. I wish for more pages that brought a different ending for her. I think this woman can get one special chair among my remarkable book characters. 

I wonder with Gone with the Wind in English because I read the translation. It does not mean something wrong with it. I just want to check the word that was originally written by Margaret Mitchell. The translation is fine and easy to understand. I can follow all the tracks. It brought back the entire scene that I have seen in the movie. By reading it, I get picture of Tara and the Twelve Oaks. The funny part is when the narrator told me how woman supposed to act and behave that time. How worse the life of all southern during and after the war is also well described. It does open my eyes about American Civil War, the reason why it started and how it ends; the term of Yankees then brought me to the Rebels and Ku Klux Klan.  From this book, I also find out about Abraham Lincoln, who was the president that time, was a republican. One things that remain as mystery (I have not searched it in Google yet) till I publish this review is the slavery part. But still, the previous things are the  great part of the book. Now I declared that Gone with the Wind as one of the best historical fictions in my bookshelves.  

4/5

Gone with the Wind
Author: Margaret Mithcell
Translator: Sutanty Lesmana
Publisher: PT. Gramedia Pustaka Utama
1124 pages


This review is written for Gone with the Wind Read Along that was hosted by Fanda @ Fanda Classiclit and Bzee @ Bacaan Bzee.

Friday, 28 September 2012

Review The Tokyo Zodiac Murders



Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman
Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai—astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri—ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka—dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.
Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.

~~~

Tidak banyak novel karya penulis Jepang yang telah saya lahap. Namun saya tidak ragu untuk menaruh The Tokyo Zodiac Murders di rak favorit. 

Pertama kali melihat dan membaca judulnya, tidak terpikir sama sekali cerita seperti apa yang disajikan oleh Soji Shimada. Bahkan ketika saya telah berkali-kali mengamati sampul depan. Setelah membaca bagian awal, barulah saya menyadari bahwa sebagian besar cerita telah di gambarkan dengan jelas di sana. 

Bagian awal buku sungguh menarik perhatian. Wasiat sang seniman yang membahas tentang Azoth membuat saya tidak bisa meletakkan buku ini. Sampai akhirnya menemukan detail yang terjadi pada para korban. Terlebih ketika melihat ilustrasi yang ada. Tidak butuh waktu lama untuk tahu siapa pelaku pembunuhan. Namun hal itu tidak membuat ketertarikan saya akan buku setebal 360 halaman ini serta merta hilang. The Tokyo Zodiac Murders tetap membuat saya penasaran. Apalagi kalau bukan motif sang pelaku. Penantian tidak sia-sia. Saya sangat menikmati bagaimana Soji Shimada mengakhir cerita.

Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah catatan pribadi  yang disertakan dalam buku. Karena semua catatan itu mengungkap titik terang baru dari kisah pembunuhan yang tak terpecahkan selama hampir 40 tahun. 

Tidak ada masalah dengan terjemahan, saya dapat menikmati dan mendapat gambaran dengan jelas cerita detektif ini. Bahkan merasakan emosi tiap karakter. Bahkan sang pelaku pembunuhan sekalipun, yang muncul belakangan.

Untuk semua yang suka cerita detektif, saya merekomendasikan buku The Tokyo 
Zodiac Murder.

4/5

The Tokyo Zodiac Murders
Judul Indonesia: Pembunuhan Zodiac Tokyo
Penulis: Soji Shimada
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 360 hal
Cetakan: I, 26 Juni 2012

Monday, 10 September 2012

Review I Love Monday


Hari Senin sering kali dilukiskan sebagai hari yang penuh depresi dan kecemasan. Berbagai lagu menggambarkan hari Senin sebagai hari yang suram dan penuh kegalauan, seperti “Rainy Days and Mondays” dari Carpenters dan terutama lagu “I Don’t Like Mondays” dari Bob Geldof & The Boomtown Rats.

Lagu-lagu seperti ini tanpa disadari telah membentuk stigma kita mengenai hari Senin sebagai hari yang berat dan penuh penderitaan (yang bahkan sudah mulai kita rasakan sejak Minggu malam). Ini sangat berbeda dengan hari Jumat yang selalu ditunggu-tunggu. Slogan “Thanks God it’s Friday” sesungguhnya juga semakin mengukuhkan paradigma yang membenci hari Senin. Karena itu, tidak aneh, berbagai penyakit muncul sebagai efek hari Senin. British Medical Journal, misalnya, melaporkan serangan jantung yang meningkat 20% pada hari Senin. Berbagai perusahaan pun harus menanggung biaya yang sangat besar karena gangguan kesehatan karyawan yang meningkat di hari Senin.

Apakah Anda sering merasakan hal yang serupa, malas dan berat datang ke kantor pada hari Senin? Bila jawabanya “Ya”, maka buku ini sungguh tepat untuk Anda. Dalam buku ini, Arvan Pradiansyah memaparkan dengan gamblang mengapa kita sering menderita sindrom “Monday Morning Blues” ini. Arvan mengajak kita menempuh perjalanan ke dalam diri sendiri dan menemukan akarnya, yaitu paradigma kita mengenai pekerjaan. Bagaimana Anda melihat pekerjaan Anda saat ini? Apakah Anda melihatnya hanya sebagai setumpuk tugas (job)? Sebuah karier (career)? Atau sebuah panggilan (calling)?

Buku ini akan mengajak kita menemukan panggilan jiwa kita dan menghidupkan semangat yang sempat hilang. Di dalamnya, Anda akan menemukan resep yang sungguh berharga untuk membuat Anda bersemangat setiap pagi, berangkat ke kantor dengan gembira dan bekerja dengan penuh cinta (Goodreads)

Dulu saya menolak untuk disamakan dengan orang-orang yang kerap mengeluh bagaimana mereka membenci hari Senin. Karena dibanding hari Senin, sejak kecil saya jauh lebih membenci hari Minggu. Terutama ketika hari beranjak gelap. Alasannya sederhana. Hari Minggu sore dengan jelas mengingatkan saya bahwa liburan yang singkat sebentar lagi berakhir dan besok saya harus kembali ke sekolah dan mengikuti upacara bendera di bawah sinar matahari yang terik. Hampir 12 tahun lamanya saya membiarkan perasaan-perasaan negatif seperti gelisah ataupun gundah gulana tumbuh. Tanpa pernah tahu bahwa perasaan yang demikian adalah gejala awal dari sindrom I Hate Monday, sampai saya membaca beberapa artikel terkait yang lengkap dengan tips bagaimana mengatasi ataupun mengusir gejalanya. Sangat disayangkan, saran-saran yang ada tidak efektif. Karena sindrom tersebut tidak hilang sepenuhnya. Bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, "Gejala Minggu sore" masih kerap saya rasakan. Apalagi kalau mengingat masih ada setumpuk pekerjaan yang harus saya selesaikan.

Melalui buku setebal lebih kurang 302 halaman ini, Arvan Pradiansyah tidak memberi saran seperti artikel kebanyakan. Namun lebih jauh mengenalkan saya lebih jauh pada sindrom I Don't Like Monday dan mengungkapkan  bagaimana suatu paradigma terhadap segala sesuatu yang kita kerjakan adalah penyebab utamanya. Dipaparkan dengan jelas bagaimana sebuah mindset membuat segala sesuatunya menjadi sangat berat untuk dikerjakan ketika hari senin tiba.

Hampir seluruh halaman awal buku I Love Monday membuat saya tersenyum simpul. Kkarena melihat kondisi saya yang sekarang. Beberapa bab awal bahkan membuat saya merasa sangat malu. Tidak lain karena motivasi dan prinsip yang saya pegang selama ini. Sadar bahwa ada yang salah dengan cara saya melihat pekerjaan yang saya tekuni selama beberapa tahun ini. Bagaimana setiap jam yang saya habiskan di kantor tidak lain hanya untuk menyelesaikan apa yang tertulis di uraian pekerjaan, lain tidak. Pembahasan awal juga membuat saya berpikir tentang hal-hal lain yang telah lakukan selama 8 tahun dan sampai pada satu kesimpulan. Money Oriented, that's me.

Beberapa peristiwa yang terjadi dalam hidup sang penulis dan disisipkan sebagai awal beberapa bab menjadikan buku ini lebih mudah dipahami. I Love Monday  yang saya selesaikan hanya dalam beberapa jam meninggalkan banyak kesan dan sungguh membuka mata. Saya mendapatkan hal-hal baru yang kemudian menjadi bahan pemikiran. Yang menyenangkan adalah bagaimana Arvan Pradiansyah menulis bab demi bab tanpa maksud untuk menghakimi sedikit pun. Seperti saat mendapati hal-hal yang saya sebut di paragraf sebelumnya mengkategori orang-orang yang memiliki paradigma pertama yaitu yang memandang pekerjaan hanya sebagai job, yang oleh Arvan Pradiansyah sang penulis dijadikan dalam satu bab khusus. Pembahasan tersebut berlanjut dengan paradigma kedua yaitu melihat pekerjaan sebagai karier  dan yang terakhir, paradigma yang mengajak para pembaca merevolusi semua pemikirannya dan melihat pekerjaan sebagai panggilan hidup.  Bagian inilah yang lebih dalam dibahas di bab-bab berikutnya. 

Dengan gamblang, Arvan Pradiansyah menjelaskan bagaimana melihat pekerjaan sebagai suatu panggilan hidup yang berarti tidak lagi menjalankan skenario orang lain ataupun diri sendiri. Bagaimana paradigma ini mampu membuat semuanya terasa ringan, bahkan sindrom yang muncul setiap Senin akan hilang dengan sendirinya. Karena paradigma yang satu ini jauh lebih indah. Karena skenario yang ada adalah skenario Tuhan. Pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai suatu cara untuk mencari nafkah ataupun mengumpulkan keuntungan lebih banyak namun bagaimana pekerjaan dipandang sebagai jalan untuk membantu sesama manusia. Lebih ditekankan lagi untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat yang lebih besar bagi orang lain.  Bukan hal mudah, namun tidak mustahil untuk dilakukan.

Membaca I Love Monday, membuat saya ingin membaca buku-buku Arvan Pradiansyah lainnya. 



Tentang Penulis
Arvan Pradiansyah adalah pembicara publik, konsultan, fasilitator dan kolumnis di Majalah SWA,dan harian Bisnis Indonesia. Ia juga mengasuh rubrik konsultasi “Life is Beautiful” di tabloid Bintang Indonesia. Arvan juga telah menulis 5 buku inspiratif yang menjadi best seller yaitu “YouAre A Leader!” “Life is Beautiful” , “Cherish Every Moment” , “The 7 Laws of Happiness” dan“You Are Not Alone.” Tak hanya menulis, Arvan pun senantiasa menyebarkan inspirasi dan motivasi melalui radio. Ia adalah nara sumber tetap untuk talkshow Smart Happiness yang disiarkan di Smart FM Network setiap Jum’at pk. 7 – 8 pagi WIB dan disiarkan ke 25 kota di Indonesia.

Selain itu Arvan -- yang pernah menjadi Dosen di FISIP UI selama 13 tahun -- saat ini adalah Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM), sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi di bidang sumber daya manusia, kepemimpinan dan life management yang berpusat di Jakarta. Sejak mendirikan perusahaannya di tahun 2005 hingga kini, Arvan telah memotivasi lebih dari 40 ribu orang di lebih dari 200 perusahaan Swasta, BUMN dan kampus. Klien yang pernah dan sedang dilayaninya diantaranya Telkom, XL, Medco, Astra Agro Lestari, BRI, BNI, Bank Mandiri Bank Mega,CIMB Niaga, Pos Indonesia, Abbot Indonesia, Darya Varia, Otsuka, Pertamina, Prudential Life, Pamapersada Nusantara, Total E&P Indonesie, Trimegah Securities, Bina Sarana Informatika, dan sebagainya.

I Love Monday: Mengubah Paradigma dalam Bekerja dan Bisnis
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa
Cetakan: II, Juni 2012
Tebal: xxx + 302 hlm


#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...