Showing posts with label GagasMedia. Show all posts
Showing posts with label GagasMedia. Show all posts

Tuesday, 3 April 2012

Review: Life Traveler - Windy Ariestanty


‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya.

‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.

‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’

Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’



(Satu Malam di O’Hare)


***

Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.

Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…

… because travelers never think that they are foreigners.
(Goodreads)
  ~~~

Kalau melihat deretan buku koleksi yang ada, akan sangat sulit menemukan buku yang bercerita tentang perjalanan. Ada beberapa alasan mengapa buku semacam itu tidak mendapat banyak perhatian. Saat berada di toko buku pun, saya menempatkan buku serupa di urutan paling bawah untuk dibawa pulang dan dijadikan  penghuni rak. Semua tidak lain dikarenakan rasa iri yang kerap timbul setelah melahap lembaran-lembaran berisi cerita perjalanan sang penulis. Tidak hanya dari perjalanan ke negara dengan tempat-tempat yang mengagumkan, namun juga pengalaman yang tidak ternilai harganya. Yang terakhir, saya kerap dibuat bosan setelah membaca beberapa bab terutama ketika menemukan gaya cerita yang monoton. Pikiran yang sama sempat terbersit ketika menemukan Life Traveler di meja kerja. Namun kali ini saya salah, karena buku yang ditulis Windy Ariestanty ini bukan rangkuman cerita perjalanan biasa. Berawal dari Vietnam sampai Chicago, banyak di antaranya yang meninggalkan kesan yang mendalam. Tidak hanya bagi sang penulis, namun saya sebagai pembaca. Bahkan ketika belum menapakkan kaki ke tempat-tempat tersebut ataupun bertemu langsung dengan orang-orang yang disebutkannya.

Windy awalnya memang menceritakan hal-hal yang kerap saya temukan di buku-buku lain. Seperti penjelasan tempat-tempat yang menarik dan wajib dikunjungi ketika berada di satu negara. Dilengkapi dengan penjelesan singkat  mengenai transportasi yang bisa digunakan. Tak lupa list to do and don't. Untung saja itu hanya ada di beberapa bagian awal. Ketika saya nyaris menutup buku ini, meletakkannya di meja dan mengganti dengan buku lain, Windy ternyata telah menyiapkan cerita yang kembali menarik perhatian. 

Dan beberapa bab yang berkesan dan menjadi bagian yang saya sukai adalah cerita saat Windy berada di Hanoi. Tidak ketinggalan cerita di beberapa tempat di Eropa. Sebut saja Frankfrut, Praha ataupun perjalanannya menuju Paris. Yang istimewa dari bab-bab itu bukan hanya cerita tentang tempat yang dikunjungi namun lebih kepada cerita orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh, cerita yang melibatkan Miss Hang, Pak Mula, Pietr, Mirek ataupun Marjolein sang guide. Satu Malam di O'Hare pun menjadi salah satu bab yang meninggalkan kesan yang  dalam. Tidak salah jika dipilih sebagai cerita penutup. Saya sangat menyukai percakapan singkat yang dituliskan di dalamnya. 

Sebuah buku berisi tentang perjalanan tentunya tidak akan lengkap tanpa gambar. Life Traveler pun tidak ketinggalan. Terdapat banyak gambar yang cukup memuaskan mata. Namun satu hal yang saya sayangkan dari buku ini adalah banyaknya ilustrasi cat air yang digunakan untuk menggambarkan suatu tempat. Walau digambar sebaik mungkin, namun saya lebih memilih untuk melihat bagaimana penampakan aslinya. Ilustrasi menurut saya cukup diletakkan di halaman awal setiap bab. Tidak untuk menggantikan gambar-gambar yang seharusnya ditampilkan apa adanya. 

Terlepas dari ilustrasi yang saya maksudkan, buku ini tetap istimewa.

4/5

Life Traveler
Penulis: Windy Ariestanty
Editor: Alit T. Palupi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: I, 2011
Tebal: 382 hal + x


Friday, 30 September 2011

Review: Blue Bloods (Darah Biru) - Melissa de la Cruz


Spoiler Alert!!!

Blue Bloods, buku ini diceritakan dari sudut pandang Madelaine “Mimi Force, Bliss Llewellyn, dan Schuyler Van Alen. Mereka membawa saya menulusuri beberapa tempat penting di Manhattan, New York. Dari The Bank, sebuah gedung tua yang disulap menjadi klab malam sampa Duchesne, sebuah sekolah swasta tempat mereka belajar. Sejarah keluarga pun tak lupa mereka ungkapkan. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengenal tiganya.

Mimi Force, seorang gadis enam belas tahun yang sangat populer.. Ketenarannya tidak hanya di sekolah. Bagi para wartawan New York, wajahnya yang cantik dan menarik tidak lagi asing. Ayah dan ibunya,  Charles Force dan Trinity Burden,  dua tokoh penting dalam dunia media dan masyarakat kelas atas di New York, membuat hal itu menjadi mungkin. Kepopuleran itu juga membuat hampir semua siswa perempuan di Duchesne ingin menjadi dayang-dayangnya. Seakan tak pernah ada masalah dengan sikapnya yang angkuh.

Bliss sendiri adalah murid pindahan. Seperti halnya Mimi, ayah Bliss juga memiliki pengaruh penting. Keadaan ini pula yang membuat ia mengenal Mimi  dan menjadi bagian dari kehidupannya yang glamor. Sayangnya itu tidak membuatnya betah.  Bahkan setelah berbulan-bulan sejak kepindahannya ke Duchesne, ia masih tetap saja tidak menyukai kehidupannya yang baru.

Berbeda dengan Mimi dan Bliss, Schuyler terlahir dari keluarga yang lebih sederhana. Walaupun memiliki sejarah keluarga yang panjang dan penting di masa lalu, ternyata itu tak cukup. Ia tetap saja menjadi kalangan yang tersisih di Duchesne. Tapi itu tak membuatnya kecil hati. Schuyler tidak kesulitan menjalani kehidupannya. Lagipula ia masih memiliki Oliver, sahabatnya sejak kecil. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Walau terlahir dari latar belakang yang berbeda, Darah Biru menjadi benang merah yang menghubungkan ketiganya. Darah Biru adalah istilah yang digunakan para vampir untuk menyebut diri mereka. Sebuah pertemuan Komite mengungkapkan semua hal tersebut. Dari pertemuan untuk kalangan terbatas itu semua terungkap. Tidak seperti Schuyler dan Bliss yang baru mengetahui fakta tersebut, Mimi telah mengetahuinya setahun lalu. Namun ia tak pernah menyangka ketika mengetahui bahwa Schuyler, anak perempuan yang selama ini dipandangnya sebelah mata adalah bagian dari kalangan elite yang selama berabad-abad menetap di New York. Bagi Bliss, apa yang terungkap di pertemuan Komite adalah jawaban dari semua pertanyaan yang membuatnya bingung selama beberapa minggu belakangan. Walau terkejut, ia tak dapat menutupi kelegaan yang luar biasa.

Tak berbeda jauh dengan Bliss, Schuyler nyaris tidak dapat mempercayai apa yang didengarnya. Namun dari penjelasan Mrs. Duppont sang pemimpin Komite, ia akhirnya mengerti akan kejanggalan yang ia rasakan. Rasa Munculnya Beauty, anjing peliharaanya, secara tiba-tiba bukanlah suatu kebetulan. Kemampuannya melihat dalam gelap atau bagaimana badannya tetap kurus kini tak lagi membuatnya heran.

Lebih banyak rahasia terungkap sejak pertemuan Komite berakhir. Tidak hanya dari Neneknya, Oliver, pun ternyata menyimpan rahasia penting. Yang mengejutkan adalah ketika mengetahui banyak hal di balik kematian seorang anak perempuan di sekolahnya.  Insiden yang beberapa minggu lalu membuat gempar  itu bukan hal yang pertama kali menimpa kalangan Darah Biru. Kemungkinan terjadi hal yang sama dan lebih parah sangat besar. Keberadaan mereka terancam.  Walau oleh anggota dewan tertinggi dari kalangan membantah keberadaan berita ini, namun mereka tak dapat menutupi,  bahwa di luar sanaada sekelompok besar yang menamai diri mereka Darah Perak yang siap membunuh mereka kapan saja.



~~


Senang rasanya ketika mengetahui buku ini selesai diterjemahkan. Rating yang tinggi dari beberapa blogger luar membuat saya penasaran dengan cerita di dalamnya. Bintang-bintang yang mereka berikan untuk buku ini pun ternyata tidak bohong. Ide yang dituangkan Melissa dalam setiap babnya sangat menarik. Ia tidak ragu untuk melahirkan tokoh vampir yang berbeda. Di  dunia baru yang ia ciptakan, matahari, bawang putih, ataupun salib hanyalah mitos belaka. Sosok kejam Count Dracula pun hanyalah rekaan semata. Walau pada bagian awal siklus hidup para vampir pun dituliskan Melissa sedikit membingungkan, namun semua semakin jelas ketika saya masuk ke bab-bab berikutnya. Bagian yang paling saya sukai adalah ketika membaca bab yang bercerita tentang Darah Biru, Darah Perak dan Darah Merah

Melissa juga berhasil menghidupkan beberapa karakter dalam buku ini. Salah satunya adalah Mimi. Dari awal sampai akhir, saya dibuat kesal dan jengah dengan semua tingkahnya. Namun peran yang ia mainkan menjadi salah satu bagian yang penting dalam buku ini. Saya juga menyukai persahabatan yang terjalin Oliver dan Schuyler. Sikap misterius para Dewan Darah Biru ataupun Cordelia, nenek Schuyler juga yang membuat saya tetap penasaran.

Yang tidak kalah penting, hasil terjemahan Blue Bloods tidak sekalipun membuat dahi saya berkerut. Melahap Blue Bloods yang diterjemahkan oleh pihak Gagasmedia, membuat saya tidak ragu untuk membaca Masquerade. Buku kedua dari seri ini yang juga telah diterbitkan Gagasmedia. Semoga empat buku berikutnya akan secepatnya menyusul. 

Namun, beberapa catatan kaki yang terdapat di beberapa bab awal membuat saya sedikit terganggu saat membaca buku ini. Ada beberapa hal yang menurut saya tidak membutuhkan penjelasan tambahan. Entah apakah catatan kaki ini memang tertera dalam buku asli ataukah hanya sekedar tambahan yang dibubuhkan sang editor.

Bagi yang menyukai dan tidak pernah bosan dengan buku yang menyajikan sosok vampir, saya merekomendasikan Blue Bloods untuk menjadi bacaan berikutnya.

Cover
Dibanding cover aslinya yang memperlihatkan sebuah leher yang jenjang dengan bekas gigitan vampir, saya jauh lebih suka design dan warna yang dipilih oleh Gagasmedia. Walau saya masih tidak mengerti mengapa ada gambar kunci di sana.


4/5

~~~~

Judul: Blue Bloods 
Judul Indonesia: Darah Biru 
Penulis: Melissa de la Cruz 
Penerjemah: Christine Lianita Tumangkeng 
Editor: Ayuning 
Penerbit: Gagas Media 
Tebal: 351 hal 
Cetakan: I, 30 April 2011

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...