Showing posts with label Penerbit Matahati. Show all posts
Showing posts with label Penerbit Matahati. Show all posts

Thursday, 30 June 2011

Review: Prophecy Of The Sisters - Michelle Zink



Satu ramalan kuno dan dua saudara kembar terangkum menjadi satu dalam kisah gelap dan misterius. 

Lia dan Alice Milthrope terlahir sebagai dua saudara kembar. Walau berasal dari sel telur yang sama, lahir pada hari yang sama, berparas yang nyaris tak dapat dibedakan, tidak menjadikan keduanya memiliki ikatan yang kuat. Entah sejak kapan. Namun mereka bukan dua saudara yang betah menghabiskan waktu bersama. Tidak hanya di rumah, bahkan di Wycliffe, sekolah yang mereka datangi setiap dua kali seminggu pun, semua terlihat dengan jelas. Alice terlihat lebih sering menarik diri dan menjauh dari Lia. Bahkan ia lebih memilih orang lain untuk dijadikan teman. 

Hubungan mereka pun semakin renggang sejak sang ayah meninggal. Perubahan dalam sikap Alice juga semakin terlihat. Suatu kali Lia mendapati saudara kembarnya berada di Kamar Gelap. Tak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa Alice sedang melakukan sebuah upacara  aneh. Duduk di atas lingkaran yang terpahat di lantai sambil terus mengucapkan sesuatu yang sama sekali tak dipahami Lia. Walaupun penasaran namun Lia tak sekalipun menanyakan hal itu pada Alice. 

Rentetan kejanggalan pun terjadi.  Tanda di lengan Lia semakin jelas. Tanda yang berupa lingkaran itu didapatkan beberapa hari setelah kematian ayahnya yang misterius. Yang paling mengejutkan adalah ketika The Book of Chaos - Buku Kekacauan ditemukan. Walau sempat diterjemahkan oleh James, namun semuanya masih membingungkan. Untung saja, waktu segera mempertemukannya dengan Sonia dan Luiasa. Satu demi satu terungkap. Semua petunjuk mengungkapkan keberadaan ramalan kuno. Di dalamnya tersirat dua peran, Gerbang dan Garda, yang memiliki pengaruh besar  dan penting atas malapetaka yang akan terjadi. Terungkapnya ramalan ini juga membuat garis yang jelas bahwa kini Alice dan Lia berada di pihak yang bersebrangan. Ramalan kuno ini ternyata tidak hanya melibatkan Lia ataupun Alice. Namun masih ada empat orang lainnya yang harus segera ditemukan sebelum semuanya terlambat. Pencarian harus segera dimulai!.

Prophecy of the Sisters telah lama saya tunggu sejak buku ini untuk pertama kalinya disebut oleh Matahati. Tidak hanya sinopsis, covernya juga bikin penasaran. Oleh beberapa blogger buku luar, mereka memberi rating yang lumayan untuk buku ini. Rekomendasi memang tidak salah. Bagi penggemar genre fantasi, Prophecy of the Sisters tidak boleh dilewatkan begitu saja. 

Walau sempat bingung dengan isi ramalan begitu pula dengan istilah Gerbang, Garda, dan proses mengembara di atas Daratan, namun semakin lama arah ceritanya makin jelas. Banyaknya rahasia di dalam buku  yang gelap dan suram ini juga jadi bagian yang paling menarik. Saya berharap buku ini ditulis tidak hanya mengambil dari sudut pandang Lia namun juga saudara kembarnya. Sosok Alice yang misterius sungguh buat saya gemas dan geram bersamaan. 

Sayangnya semua pembaca harus menunggu kelanjutan kisah Lia dan Alice yang ditulis Michelle Zank ini di buku Guardian of the Gate dan Circle of Fire. Semoga oleh Matahati kedua buku ini akan segera di terbitkan. 

Cover
Suka banget ngeliat cover yang dipilih Matahati kali ini. Cover yang sama juga dipake untuk paperback di US. Modelnya yang dipilih pun pantas untuk mewakili Lia dan Alice. Walau kesan gelap yang ditinggalkan oleh versi hardcover menurut saya lebih terasa.

4/5

Prophecy of The Sisters
Penulis: Michelle Zink
Penerjemah: Ida Wadji
Penyunting: Aisyah
Penerbit: Matahati
Cetakan : I, Maret 2011
Tebal: 360

Monday, 13 June 2011

Review: The Farseer: Assassin's Apprentice - Robin Hobb



Tidak mudah menjadi seorang anak yang lahir di luar garis pernikahan. Terlebih ketika ia hadir di tengah-tengah kehidupan kerajaan. Lihat saja bagaimana hidup Fitz. Sejak berusia 6 tahun, ia dipisahkan dari ibunya. Oleh sang ayah pun, Pangeran Chivalry ,Fitz tak mendapat perhatian sama sekali. Seingatnya, tak pernah ada pertemuan dengan sang ayah. Bahkan sebelum Fitz menjejakkan kaki di dalam lingkungan kastel, Chivalry telah melepaskan haknya atas takhta kerajaan. Ia mengundurkan diri sebagai calon raja . Bersama istrinya, Lady Patience, Chivalry menjauh dari kastel dan memilih untuk hidup sebagai Lord dan Lady of Withywoods. Gambaran tentang diri Chilvary hanya dilihatnya dari lukisan di dinding Buckkeep.

Kehadiran Fitz segera menjadi pergunjingan di setiap sudut kastel.Semua orang yang melihat wajahnya dengan mudah mengenali Fitz sebagai anak haram sang pangeran. Sayangnya ketenaran itu tidak menjadikan pihak kastel berinisiatif untuk mengambil alih masalah pengurusan Fitz. Semua seakan tidak keberatan bahkan mengiyakan ketika tugas merawat dan membesarkan Fitz dilimpahkan pada Burrich, si penguasa istal kerajaan Enam Duchy.

Burich dulunya memang slah satu abdi Chivalry. Dalam mengurus kuda, anjing ataupun elang, Burichlah ahlinya. Namun hal itu bukan jaminan ia dapat merawat seorang anak laki-laki dengan baik. Selama dalam perawatannya, Fitz dibiarkan dengan bebas berkeliaran di sekitar kastel. Dari hasil pengamatannya, ia belajar dengan cepat. Bagian kastel mana saja yag berbahaya. Fitz tahu siapa yang harus dihindari. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui siapa saja yang tidak menyukai keberadaannya di dalam kastel.

Pengawasaan Burich yang tidak ketat juga memberikannya kesempatan menyusup ingga ke tengah kota Buckkeep dan berteman dengan beberapa anak –anak jalanan. Dari mereka,ia mengetahui kisah tentang bajak laut ataupun tentang bangsa Outisland. Ia bahkan sempat belajar berbagai keahlian seperti memperbaiki jaring ataupun membuat kapal. Burrich tidak terlalu memedulikan apapun yang dilakukan Fitz,asalkan setiap malam ia mendapati Fitz berada di tempat tidur di depan perapian.

Di usia sepuluh tahun, peruntungan Fitz berubah. Dengan perintah Raja Shrewd, Fitz tidak lagi dibiarkan berkeliaran. Setiap harinya ia diharuskan belajar. Dari mengurus dan menguasai kuda bersama Burich, sampai belajar mengenai senjata dan persenjataan bersama Hod. Fitz juga diajari menulis dan membaca. Tak hanya Pakaian-pakaian baru dengan lambang sendiri, Ia bahkan mendapat satu kamar pribadi di dalam kastel. Perubahan besar dalam hidupnya seakan tak berhenti. Secara diam-diam ia juga mempelajari tentang herbal dan banyak hal rahasia lainnya yang sangat berguna untuk kepentingan kerajaan Enam Duchy. Hanya dalam waktu singkat, Fitz masuk dalam hitungan sang raja. Bahkan ia pun segera mendapat misi pertamanya.

Ketika melihat sampul depan dan tak adanya sinopsis, membuat saya tidak berharap banyak dari buku ini. Namun tak butuh banyak bab untuk tahu apa isi buku ini. Dengan mudah sosok Fitz kecil menarik perhatian. Tidak hanya pribadi dan keahlian yang ada dalam dirinya, petualangan-petualangan yang ia ceritakan juga menjadi daya tarik utama dari buku ini. Setiap babnya mengikat rasa penasaran saya.

Apa yang saya utarakan di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah Fitz. Buku setebal 532 halaman ini masih menyimpan banyak hal seru yang sayang untuk dilewatkan. Cerita yang ada berkembang menjadi semakin menarik seiring dengan pertumbuhan Fitz. Tidak hanya kisah seputar Fitz, masalah – masalah yang terjadi di luar kastel juga menjadi “bumbu penyedap”. Salah satunya adalah teror yang dihembuskan oleh Perompak Kapal Merah.

Saya sangat menyukai cerita tentang hubungan Fitz dengan Burrich, Chade, Lady Patience ataupun Pangeran Verity. Selain Fitz, keempat karakter ini juga cukup menyita perhatian. Saya menikmati setiap bab yang menceritakan tentang kisah mereka.

Yang saya takutkan juga terjadi di dalam buku ini. Seharusnya saya tidak perlu terkejut ketika itu terjadi. Pengkhianatan ataupun segala macam intrik dalam perebutan kekuasaan memang tak dapat dipisahkan dari kisah sebuah kerajaan.

Robin Hobb, sang penulis, merangkum semua hal tersebut dan menuliskannya dengan piawai. Yang menyenangkan buku ini diterjemahkan dengan baik. Saya dengan mudah dapat mengikuti alur dan mengerti jalan ceritanya. Termasuk merasakan emosi yang mengalir dalam buku ini.

Mengingat Assassin’s Apprentice adalah buku pertama dari triologi Farseer, saya jadi bertanya-tanya kisah apa lagi yang dituliskan di dua buku berikutnya.

Cover
Dibandingkan dengan sampul depan yang dipilih Matahati, saya lebih menyukai cover aslinya. Namun jangan sampai tertipu dengan kulit luar dan membuat kalian melewatkan petualangan Fitz yang seru.

4/5

Penulis: Robin Hobb
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penyunting: Lulu Fitri Rahman
Korektor: Tendy Yulianes
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Juni 2011
Tebal: 532 hlm
Sumber: Penerbit untuk direview

Sunday, 6 March 2011

In My Mailbox #6

This week I did not buy any book due to my March Resolution not to buy any books.
But those books keep coming to my shelf
:D

Here they are.
I have posted Ghostgirl #3; Lovesick in my Waiting on Wednesday and now I have it



Before she can rest in peace, Charlotte Usher must return to the tragic site of her death: high school. Once there, her assignment is to help a designated teen solve a personal problem in time for the all-important prom. But no one explained what happens if you fall in love with your class project. Charlotte would die (again) for love but facing the all-too-familiar feeling of invisibility may be too much for her to swallow

I won that book above from a giveaway that was held by Penerbit Atria in twitter.

It's going to be a long, hard, cruel winter. And there couldn't be a worse place to spend it than up on Anglezarke.
Thomas Ward is the apprentice for the local Spook, who captures witches and drives away ghosts. As the weather gets colder and the nights draw in, the Spook receives an unexpected visitor. Tom doesn't know who the stranger is or what he wants, but the Spook suddenly decides it's time to travel to his winter house, Anglezarke. Tom has heard it will be a bleak, forbidding place, and that menacing creatures are starting to stir somewhere on the moors nearby.
Can anything prepare Tom for what he finds there? What if the rumors about the evil beast called the Golgoth are true? And how much danger will Tom be in if the secrets the Spook has been trying to hide from the world are revealed?
Thanks to Penerbit Matahati who sent me this book.
It is the third book of the series. I have had the first one but not the second. It's been on my shelf FOREVER. I think I am going to read it soon, buy the second book then move to the third. I love the cover. It's lovely, isn't it?

I still have two more books Dragon Hatcher by Bruce Collive and Pretties by Scott Westerfeld. But I can not find the cover with good resolution.

So what do you have in your mailbox?
Feel free to leave the link of your post. I am going to visit you back.

In My Mailbox is hosted by Story Siren

Sunday, 16 January 2011

The Evolution of Calpurnia Tate


Synopsis From Goodreads
The summer of 1899 is hot in Calpurnia Virginia Tate's sleepy Texas town, and there aren't a lot of good ways to stay cool. Her mother has a new wind machine from town, but Callie might just have to resort to stealthily cutting off her hair, one sneaky inch at a time. She also spends a lot time at the river with her notoriously cantankerous grandfather, an avid naturalist. It turns out that every drop of river water is teeming with life - all you have to do is look through a microscope!

As Callie explores the natural world around her, she develops a close relationship with her grandfather, navigates the dangers of living with six brothers, and comes up against just what it means to be a girl at the turn of the century

Review
The story is about a girl named Calpurnia Tate. Before reading the synopsis and remembered one characther in To Kill A Mockingbirf, I would never know that Calpurnia was a name of a girl. It was too weird for me. I would love to question her parents for the reason. Particularly same thought was in Callie's mind. Lucky us, her grandfather had the answer

As stated in the synopsis, the Whole story took a place in Fentress, Texas 1899 during summer till the beginning of winter. I have no pictures but all scenes in The Little House on Prairie. From their dress, school, even the horse cart. It helped me a lot to get what Callie try to describe.

Thanks to the translator. It was easy for me to connect with this smart young girl who could not stop observing something. She was not another ordinary girl. She was not interested in kniting or cooking. I enjoyed all her words and felt amazed with her thoughts. She had many ways to make me giggle with it. I felt something missing when I was in the last page of this delightful novel and found there was no more to read.

What I also loved from this book with 28 chapters inside was the paragraph that told me Callie's relationship with older and younger brothers. Most of them were so touching. I was looking forward to read it in every chapters.

Not only with her brothers, but "quality time" with her mother was also counted. I was completely entertained and laughed couple of times reading those parts. Her mother could read Callie's mind easily. That might what people called as mother's instinct. Callie and also all her brothers had no option but obeyed all her rules.

Actually I really want to give 5 but 4 stars is enough. I enjoyed when Jacqueline wrote about the exploration and observation stuff but I thought it was too much. For those of you who enjoy all things about evolution, spices of plants or animals, I highly recommend this book.

Cover
I like Indonesian cover but the US print is much better.

Author
The Evolution of Calpurnia Tate is Jacqueline Kelly's Debut Novel. IRA Children's Book Award; IRA Teachers' Choices; Newbery Honor Book; CPL: Chicago Public Library Best of the Best; Texas Lone Star Reading List; Vermont Dorothy Canfield Fisher Award Master List are the award for her books. I just found her website. There is Callie's pages. I wish I have seen it in advance. So no need to take all that old movie series.

4/5

The Evolution of Calpurnia Tate
Author: Jacqueline Kelly
Translator: Berliani M. Nugrahani
Editor: Nadya Andwiani
Publisher: Matahati
Fisrt Published: November 2010, 384 pages

Tuesday, 23 November 2010

Review: Uglies - Scott Westerfeld



Semua kaum buruk rupa di Uglyville harus menunggu hingga berusia 16 tahun sebelum akhirnya diubah menjadi rupawan.Dari penampilan fisik, mereka akan terlihat sangat sempurna. Mata yang indah, senyum menawan, kulit halus dan bersih, bentuk wajah yang simetris dan berbagai perubahan lainnya. Yang pasti berubah menjadi rupawan berarti banyak hal. Menjadi rupawan akan membawa dampak positif pada siapa pun. Itu yang mereka percaya.

Masalahnya menunggu hingga perubahan itu terjadi sungguh menyiksa. Bahkan ketika itu hanya tiga bulan lagi. Seperti yang dialami Tally Youngblood. Sebenarnya dulu ia tak seresah ini, ketika Peris, sahabatnya dari kecil,masih tinggal di Uglyville dan belum menjalani operasi. Namun begitu Peris menjadi bagian dari Kota Rupawan, Tally merasa hari-harinya menjadi sangat membosankan dan parahnya ia sungguh merasa kesepian. Membayangkan percakapan dengan Peris setiap harinya hanya akan membuatnya menjadi gila. Itulah mengapa suatu malam, Tally nekad untuk menyusup ke Kota Rupawan untuk menemui Peris.

Menyusup ke kota tempat tinggal para Rupawan sebenarnya sudah sering ia lakukan bersama Peris. Sehingga tak perlu heran jika ia dengan mudah dapat menyebrang dari Uglyvilleke kota Rupawan tanpa ketahuan. Namun ketika memutuskan untuk kembali ke asrama, Tally mendapat sedikit masalah. Beruntung ia bertemu Shay, seorang gadis buruk rupa dan juga tak jarang secara diam-diam mendatangi Kota Rupawan.

Dalam waktu singkat, Tally dan Shay menjadi sangat akrab. Mereka banyak melakukan banyak hal yang seru. Tally belajar cara mengendarai Hoverboard dan memodifikasinya. Ia sungguh menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama. Ia berharap semua ini akan bertahan bahkan ketika operasi selesai. Sayang harapannya tak pernah terwujud. Karena ternyata Shay menolak untuk menjadi rupawan.

Dari Shay, ia tahu di luar sana banyak orang-orang yang menolak operasi dan memutuskan untuk menjadi buruk rupa selamanya. Mereka melarikan diri dan menetap di Smoke. Shay akan melakukan hal yang sama dan berharap Tally akan ikut dengannya. Sayangnya Tally memutuskan untuk tetap tinggal dan menjadi rupawan.

Rasa sedih karena kehilangan Shay masih tersisa bahkan di hari yang telah lama ditunggunya. Namun hari itu ternyata bukanlah hari besar bagi Tally. Karena tak ada operasi sama sekali. Kecuali ia mengungkapkan semua yang ia tahu tentang kaum buruk rupa yang melarikan diri. Tally harus memilih satu, melanggar janjinya pada Shay atau menjadi buruk rupa selamanya.

Seru, itu kata yang saya pilih untuk mengambarkan seluruh isi novel ini. Dari setting kota dengan konsep yang sangat aneh, sejarah masa lalu yang suram dan tentu saja teknologi yang dipakai. Kata Hoverboard adalah kata yang menarik perhatian saya dan menjadi pemicu untuk terus membaca buku ini hingga tuntas. Kalau pernah nonton Back to The Future III, benda yang bentuknya mirip skateboard itu tentu tidak asing lagi. Saya sempat berpikir ketika Marty McFly berada di masa yang sama dengan Tally.

Ide operasi plastik untuk menjadi rupawan, alasan orang-orang yang memegang kuasa untuk tetap menjaga semua tetap pada rel yang telah mereka tetapkan dan berbagai rahasia dibelakangnya juga menjadi daya tarik di buku ini. Tak sabar rasanya membaca kelanjutan buku ini.

Dari wikipedia, 20th Century Fox mengadaptasi novel ini ke layar lebar dan direncanakan tayang tahun depan. Semoga aja hasilnya keren.

Uglies
Penulis: Scott Westerfeld
Penerjemah: Yunita Chandra S.
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, April 2010
Tebal: 432 hal

Thursday, 24 July 2008

Review: Children Of The Lamp: The Akhenaten Adventure - P.B Keirr

Semua hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata dengan mudah terwujud di dunia fantasi. Tidak heran jika ratusan cerita bahkan mungkin saja kini jumlahnya mencapai ribuan bermunculan. Imajinasi setiap orang dengan dibiarkan bebas menciptakan karakter demi karakter yang dilengkapi dengan keistimewaan yang mengundang decak kagum.

Setidaknya semua yang saya tuliskan diatas ada pada karakter di buku ini. Lihat saja Layla, wanita cantik yang menikahi Edward Gaunt, seorang pria baik hati dan kaya rayaserta memiliki anak –anak yang cerdas dan sehat, John dan Philipa. Seakan ingin melengkapi keberuntungan yang dimilikinya, di rumah ia memilii dua ekor anjing yang benar- benar luar biasa. Saya pikir tak satupun orang di dunia ini yang sepandai Alan dan Neil, yang bisa memahami keinginan tuannya untuk mengganti saluran televisi, pergi ke toko kue dan mengambilkan sekantong bagel tanpa memakannya, mengisi meteran parkir, dan yang pergi sendiri ke dokter hewan. Dari semua anggota keluarga,hanya Mrs gauntlah yang dengan mudah membuat keduanya patuh. Rasanya akan membuat paragraf ini menjadi lebih panjang jika membahas kelebihan – kelebihannya yang lain. Fuh...

Hal ini tak hanya membuat saya bertanya-tanya. Bahkan John dan Philipa, anak-anaknya,  kadang – kadang tak habis pikir dengan keistimewaan yang dimiliki ibunya itu. Namun rasa bangga yang  jauh lebih besar dibandingkan  rasa penasaran membuat mereka lama kelamaan menganggap semua itu adalah hal yang wajar.

Berbicara tentang John dan Philipha, mereka adalah dua anak kembar yang berusia dua belas tahun. walau kembar, tak satupun kemiripan yang tampak dari wajah keduanya. Hal – hal yang mereka sukai pun berlainan. Dari postur tubuh, warna sampai hobby yang mereka geluti pun berbeda. Walau Yang anehnya, walau memiliki begitu banyak perbedaan, mereka sering memikirkan hal yang sama dan keduanya juga mengidap Claustrophobia, ketakutan berada di ruang kecil yang tertutup. Tak heran mereka selalu menghindari lift.

Selain lift, John dan Philipa juga tak pernah suka dengan kunjungan rutin mereka ke dokter gigi di awal musim panas. Tak seperti kunjungan sebelumnya, kali ini ada sesuatu yang cukup membuat keduanya khawatir. Mister Larr, dokter gigi mereka, menemukan beberapa geraham bungsu di gusi mereka. Hal ini tidak wajar bagi anak seusia mereka. Karena dianggap membahayakan, maka diputuskan bawa John dan Philipha harus menjalani operasi dengan bius total.

Keanehan yang terjadi karena memiliki geraham bungsu ternyata berlanjut ketika operasi berlangsung. Baik John maupun Philipa mengalami mimpi yang sama. Mereka bertemu seorang pria aneh yang mengenalkan dirinya sebagai Nimrod, paman yang sengaja tak pernah dikenalkan oleh ibu mereka karena suatu alasan. Sebelum berakhir ia berpesan agar meminta kedua orang tuanya mengirim mereka ke London untuk menghabiskan liburan musim panas, bukannya ke Alembic House seperti yang direncanakan sebelumnya.

Tak disangka, ketika John dan Philipha menyampaikan keinginan mereka, serta merta Mr Gaunt menyanggupi keinginan mereka. bahkan menawari tiket pesawat British Airways kelas utama. Keanehan kembali berulang. Setidaknya tingkah ayahnya, Mr Graunt menambah daftar keanehan pasca operasi. Itu juga setelah menambah hilangnya jerawat di pipi John dan tinggi badan mereka yang bertambah hanya dalam beberapa hari. Keanehan terus menerus terjadi bahkan ketika mereka berada di atas pesawat sekalipun.

Untunglah segala sesuatunya akhirnya terjawab oleh penjelasan Paman Nimrod. Sebagai tambahan Paman Nimrod juga memberitahukan satu rahasia besar yang merupakan awal dari petualangan yang berbahaya yang kapan saja bisa membahayakan jiwa mereka..

Rahasia apakah itu?
Rahasia yang tentu saja hanya akan diketahui dengan menyelesaikan buku yang ternyata masih memiliki beberapa seri. Setidaknya ada 4 buku yang terlihat di http://www.childrenofthelamp.web.id. Sayangnya website tersebut belum rampung seluruhnya.

Masih penasaran?
Mungkin bisa sedikit terjawab dengan memperhatikan sampul buku ini. Walaupun sebenarnya tak banyak membantu. Lampu yang bentuknya sama dengan lampu ajaib milik aladdin yang didalamnya berisi jin. Lampu, Jin, John dan Philipha? Bagaimana menghubungkan keempatnya? Semua ada di dalam buku ini. Gaya bahasa yang terkadang lucu dan konyol membuat buku dengan ketebalan 416 ini terasa lebih ringan. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskannya. Walau di dalamnya terdapat beberapa lembaran yang cetakannya begitu tebal hingga berpengaruh ke halaman selanjutnya, yang saya akui sedikit menganggu.

Yang jelas buku ini membuat saya semakin mengenal lebih banyak sosok jin, walaupun dalam versi dunia fantasi. Terlebih di halaman terakhir di buat lampiran khusus yang menjelaskan secara mendetail mengenai makhluk yang diciptakan dengan beragam kemampuan yang tak dimiliki manusia. Setidaknya mengingatkan kembali bahwa jin berada di sekitar kita bahkan tak menutup kemungkin hanya berjarak beberapa cm.

Dan yang tak kalah menarik adalah kalimat yang diucapkan oleh salah satu tokoh
“Berhati-hatilah dengan apa yang kau inginkan. Bukan karena kau akan mendapatkannya, tapi karena kau tidak terlalu menginginkannya bila sudah mendapatkannya”, membuat saya berpikir. Entah berapa banyak keinginan yang sebenarnya tak pernah sungguh –sungguh saya butuhkan. Walau semua akhirnya terucap begitu saja.

Sekarang tinggal menunggu kisah John dan Philipha yang berikutnya.

Children Of The Lamp: The Akhenaten Adventure
Penulis: P.B Kerr
Penerjemah: Utti Setiawati
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal: 416 hlm

Review: Edgar & Ellen: Under Town _ Charles Ogden

Seakan tak pernah merasa lelah ataupun puas, Edgar & Ellen kembali menyusun rencana yang tak kalah gelap dibanding semua kekacauan yang telah mereka timbulkan saat parade besar-besaran dilaksanakan di Nod’s Limbs beberapa waktu lalu. Mengandalkan Pemakaman Gadget, mereka selalu menemukan benda yang berguna yang dibutuhkan dalam merealisasikan ide-ide gila yang dituliskan Edgar dalam beberapa lembar kertas.
Rasa bersalah tak sekalipun muncul diwajah keduanya. Yang ada hanyalah senyum pertanda rasa puas ketika berhasil membuat orang –orang menggerutu. Sampai suatu hari tibalah giliran si kembar, yang selalu mengenakan piama kemanapun mereka pergi, merasakan hal yang sama. ide – ide kenakalan mereka telah diwujudkan oleh seseorang. Tak berhenti sampai disitu, rencana yang seharusnya hanya diketahui oleh Edgar dan Ellen ini juga membubuhkan nama Mason. Seakan digunakan untuk mematenkan semua kekacauan yang menyebabkan kemacetan luar biasa adalah miliknya seorang.
Belum juga sembuh dari kejutan menyakitkan dan rasa kesal karena belum juga mendapatkan orang dibalik sosok Mason, Edgar & Ellen harus menelan pil pahit ketika mengetahui bahwa rencana Walikota Knightleigh tetap menjalankan rencananya membangun Hotel di atas tanah Tempat Pembuangan Sampah.
Penyelidikan demi penyelidikan pun dimulai. Saluran pembuangan bawah tanah yang gelap dan kotor pun mereka susuri. Tak disangka, saluran – saluran yang berabad-abad lalu selalu bersih, terang dan terawat itu memiliki banyak cabang yang cukup membingungkan. Namun itu tak mematahkan semangat keduanya untuk mencari sang biang kerok yang berulang kali mencuri ide milik Edgar & Ellen.
Penyusuran mereka tak sia-sia. Beberapa barang bukti berhasil ditemukan. Sampai kesimpulan mengarah pada seseorang yang tak pernah mereka duka. Seseorang yang mereka takuti. Jebakan pun dibuat untuk menangkap sang pengkhianat. Namun pada saat mengetahui bahwa kekacauan lain terjadi. Mereka sadar bahwa orang yang mereka tangkap bukanlah Mason. Di luar sana Mason yang asli masih berkeliaran dan dengan bebas menjalankan satu lagi ide milik mereka.
Tak hanya Edgar dan Ellen, semua orang pun akan merasa geram jika mengalami hal yang sama. Pencurian ide oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab merupakan gangguan pada semboyan Schadenfreude mereka. Gangguan yang lebih tepat disebut sebagai ancaman. Karena kini ada satu warga kota Nod’s Limbs yang mengetahui rahasia kelam mereka. Entah apakah ini akan menjadi hal yang mempengaruhi langkah mereka berikutnya. Semuanya hanya akan terjawab diseri Edgar & Ellen berikutnya.
Berbeda dengan buku – buku sebelumnya, buku ini terasa sedikit menyedihkan. Selain itu di buku ini terdapat misteri yang tidak kunjung terjawab sampai di akhir halaman.
Berbicara tentang terjemahan, ada penamaan yang berubah. Kuburan Perkakas, dua kata yang pada buku pertama dan kedua digunakan oleh Edgar dan Ellen untuk menyebut tempat pembuangan sampah kini berubah menjadi Pemakaman Gadget. Sesuatu yang mungkin luput dari perhatian penerjemah dan editor. Walaupun tidak mempengaruhi jalannya cerita, ada baiknya tidak ada perubahan apaun terhadap nama tempat. 

Edgar & Ellen: Under Town
Penulis: Charles Ogden
Penerjemah: Theresia dewi
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, Maret 2008
Tebal:176 hlm

Friday, 7 March 2008

Review: The Edge Chronicles :Beyond the Deepwoods





Hutan Deepwood adalah dalah wilayah dari Negeri Edge. Wilayah ini sangat gelap, seselimuti misteri dan tentu saja bahaya membanyangi di setiap sudut. Makhluk-makhuk yang hidup di dalamnya tidak hanya menyeramkan, tetapi juga siap meremukkan korbannya yang tidak mawas diri dalam sekejap. Dari binatang besar maupun kecil samai pepohonan sanggup melakukannya.

Di salah satu sisi hutan inilah Twig menghabiskan hampir 13 tahun bersama keluarganya. Awalnya Twig sangat menikmati kehidupannya, namun begitu beranjak remaja, ia menyadari ada yng salah dengan dirinya. Bentuk badannya jauh berbeda dengan kelompoknya, para woodtroll. Sehingga tak jarang ia menjadi bulan-bulanan teman temannya. Walaupun ayah dan ibunya berusaha menyemangatinya namun ia tetap saja merasa berbeda

Sampai suatu hari tibalah waktu bagi Twig untuk memulai petualanganya sendiri. meninggalkan rumah, ibu dan ayahnya sesuai dengan tradisi bagi keluarga woodtroll. Tak ada bekal yang dipersiapkan Twig. Ibunya hanya berpesan agar tidak keluar dari jalur karena tak pernah ada yang bisa mengetahui kapan makhluk-makhluk ganas itu muncul.

Petualangan pun dimulai!
Satu persatu makhluk di Deepwoods muncul. Tak hanya ingin melukai Twig mereka juga berniat menjadikan anak laki-laki itu sebagai mangsa yang dilumat ataupun ditelan bulat-bulat. Cacing terbang, pohon Hammelhorn dan Rotsucker hanyalah sebagian dari para pemangsa yang mengincar Twig.

Petualangan ini mengajarkan banyak hal pada Twig. Menggunakan pisau yang dibawanya sejak meninggalkan rumah sampai lari sekencang-kencangnya. Walau tak berlangsung lama, perjalanan ini menuntun Twig bertemu beberapa penghuni Deepwoods yang menjadi teman perjalanannya. Banderbear adalah salah satunya.

Jarak yang ditempuh ole Twig benar benar panjang. Saya jadi sering membolak balik peta yang ditempatkan di halaman depan memastikan bahwa Deepwoods benar-benar luas. Dari ilustrasi yang ada, makhluk –makhluk mengerikan yang ditemui Twig dalam hitungan beberapa detik, membuat saya terus berharap agar Twig segera keluar dari wilayah yang sangat sepertinya tak pernah berujung dan bertemu dengan orang –orang normal. Setidaknya yang tidak punya niat untuk menyantap setiap benda yang nampak di depan mata mereka.

Sungguh melelahkan mengikuti petualangan yang mengerikan sekaligus seru ini. Tak pernah ada buku seperti ini sebelumnya yang menyajikan begitu banyak makhluk tak berperasaan. Dari bentuk yang kecil sampai yang paling besar. Jika dibandingkan, mungkin Amazon saja kalah.

The Edge Chronicles :Beyond the Deepwoods
Teks dan Ilustrasi: Paul Steward & Chriss Riddell
Penerjemah: Meithya Rose Prasetya
Penerbit: Penerbit Matahari
Cetakan I: Mei 2007
Tebal: 502 hlm

Tuesday, 10 July 2007

Review: Edgar & Ellen : Rare Beasts - Charles Ogden




Di kota Nod’s Limbs tepatnya di persimpangan antara bagian belakang pemakanaman dan jalan Ricketts, terdapat rumah yang sangat tinggi dan kecil berwarna kelabu. Beberapa daun jendela dibiarkan rusak menggelantung. Rumah itu dihinu oleh dua anak kembar yang terkenal dengan kenakalannya,Edgar dan Ellen. Bahkan sejak masih dalam kandungan.


Di dalam rumah yang berdebu dan tak terurus, Edgar dan Ellen yang telah ditinggalkan orang tuannya “berkeliling Dunia” melakukan ritual mereka setiap paginya dengan memulai dengan petak umpet. Setelah beberapa kali memainkan petak umpet yang berbeda dengan yang biasa dilakukan anak anak normal, rasa bosan segera mengudara. Mereka membutuhkan sesuatu yang lebih menarik.


Satu demi satu mereka mengemukakan ide jahat. Dari menyumbat terowongan saluran air dengan bantal, memasukkan berkantong kantong merica putih ke adonan kue di Buffy Muffin sampai mencuri jemuran Bu Haggardly. Sayangnya semua ide itu tertumbuk pada satu masalah, uang. Solusi datang ketika mereka melihat tayangan Berkeliling Dunia Bersama Profesor Paul di TV bersama Pet, binatang peliharaan mereka yang tak kalah anehnya.


Dari situlah timbul gagasan untuk menghasilkan uang yang akan digunakan untuk membiayai semua rencana jahat mereka. Setelah menyiapkan semua bahan bahan yang diperlukan, Edgar dan Ellen mulai mejalankan rencana mereka menjadi kaya raya dengan mencuri semua binatang peliharaan warga kota Nod’s Limbs. Binatang binatang tersebut dicat, ditempeli dengan pernak pernik gemerlap menjadi binatang aneh atau binatang langka menurut kedua kembar ini yang terlihat sangat aneh. Tak lupa pula mereka memberi nama yang tak kalah anehnya


Sementara semua anak anak kalang kabut mencari binatang peliharaan, Edgar dan Ellen mulai memajang Binatang langka Mereka. Sayangnya tak satupun binatang yang laku. Masalahnya hanya satu harga yang mereka pasang terlalu tinggi. Bajkan setelah berpindah pindah dari lokasi satu ke lokasi lain.


Menjelang sore, mereka saling menyalahkan karena tak satupun binatang yang laku. Perkelahian pun tak terelekkan. Mereka tak pernah menyangka akan menemui masalah besar. Mr poo poo, Ular piton milik Peter dan penny, yang mereka curi terbangun karena lapar. Dari sinilah semua rencana sang kembar terbongkar.




***


Tidak terbanyang kalau ketemu dengan anak-anak kembar yang nakal seperti mereka. Julukan Kembar berancun kayaknya memang pantas untuk mereka. Hehehe. *melambai ke Rury*. Padahal kalau mau sedikit melebarkan mata, mereka bisa mendapatkan uang yang jau lebih banyak. hehehe.....


Gambar ilustrasi yang keren membuat buku ini semakin asyik di baca. Can’t hardly wait for the next book. Selesai baca buku ini jadi ingat The Adam’s Family. Jadi ingat ma Wednesday dan adiknya yang tidak kalah nakal. Kenakalan Edgar dan Ellen berdua mungkin tidak lain karena tidak adanya pengawasan orang tua. Terlihat banget tingkah mereka yang aneh. Jadi kasihan pas baca bab terakhir. Mereka harus mendapat balasan yang tidak kalah menyakitkan dari kehilangan binatang peliharaan. Tapi siapa sih yang rela kehilangan binatang binatang lucu.

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...