Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts

Friday, 20 December 2013

Not A Review: Secret Santa 2013


Here we go again!
Ngga terasa 2013 ini jadi tahun ke3 diselenggarakannya Secret Santa, event tahunan BBI. Kalau tahun 2011 kemarin dapat Her Fearful Symmetry dari mba Annisa dan 2013 dapat Wonder dari Aul. Tahun ini aku dapat banyak banget dari SSku. Lihat aja gambar di bawah ini. Banyak ya. Ngiri ngga sih? hehehe. 


Tapi karena satu dan lain hal, kelima buku di atas ngga jadi penghuni rak bukuku. Trus SSku tuh ngirim satu buku lagi. Aku lupa bawa ke kantor. Jadi ngambil dari Goodreads. Reckless yang ditulis ma Cornelia Funke ini udah jadi inceranku sejak terjemahannya pertama kali diterbitkan Gramedia. Kayaknya emang nunggu di kasih ma SS dulu. Terima kasih banget ya SS.

Di balik cermin, ada dunia berisi tokoh-tokoh dongeng yang paling mengerikan...
Selama bertahun-tahun, Jacob Reckless menikmati berbagai rahasia dan harta karun dalam dunia di balik cermin itu.
Tetapi, adik lelakinya lalu menyusulnya.
Sihir gelap akan mengubah pemuda itu menjadi makhluk buas, membuat gadis yang dicintainya patah hati, dan menghancurkan semua yang paling berharga bagi Jacob...
Kecuali ia bisa menemukan cara untuk menghentikannya.
Kalau kau mencari cerita dongeng yang berakhir bahagia selama-lamanya, berarti buku ini bukan untukmu.

(Goodreads)


Soal riddle, SSku nulis banyak banget. Tapi aku cuman posting beberapa aja. Jadi sisanya biar aku, SS dan Allah yang tahu. ^___^




Terlihat jelas ngga?
Aku tulis ulang deh.

To: Ally
From: Secret Santa
Subject: Another Clue!!! :D

Ada Satu persamaan di antara kita yang mungkin belum kamu sadari. Aku pun sebelumnya baru-baru ini menyadari kesamaan kita itu

~~~

To: Ally
From: Secret Santa
Subject: Riddle

Aku anggota baru BBI. Banyak yang bilang aku punya 'Lucky Factor' karena sering menang kuis (berhadiah buku). Om Mitch Albom adalah salah satu penulis favoritku.
Aku juga salah satu temanmu di Goodreads. Bukan teman ngajimu. Ogah juga dibilang pembantumu.
Siapa aku? X))

~~~

And Finally....
Selamat membaca ya Al, dan semoga suka buku-bukunya. 

~~~

Nah udah. Bisa nebak ngga, SSku siapa? aku sih udah. Tapi kata Oky bukan sekarang ngasih tahu siapa sosoknya. Jadi harus nunggu tahun depan.


Soal lima buku pertama, niatnya sih pengen aku jadikan giveaway barengan dengan tayangnya review Recklessnya Cornelia Funke. Tapi mau nanya SSku dulu kalau boleh. Semoga beliau setuju. Jadi kalian yang belum punya buku-buku itu bisa dapat kesempatan untuk ngelahap buku-buku tersebut :)

Kalian gimana? Dapat buku apa aja? Aku pengen liat!


Friday, 9 November 2012

Review Gone With The Wind




Set against the dramatic backdrop of the American Civil War, Margaret Mitchell's epic love story is an unforgettable tale of love and loss, of a nation mortally divided and its people forever changed. At the heart of all this chaos is the story of beautiful, ruthless Scarlett 'O' Hara and the dashing soldier of fortune, Rhett Butler.
-- "Gone With The Wind" sold more than 176,000 copies within the first three weeks of its initial publication in 1936. The Warner mass market edition (1993) sold over 330,000 copies. Over 28 million copies of the book have been sold in more than 37 countries. After 60 years, this will be the very first trade paperback edition ever published.

-- In 1991, Warner published Alexandra Ripley's Scarlett: The Sequel to Margaret Mitchell's Gone With The Wind, selling over 4.2 million copies in hardcover and paperback combined and becoming one of the fastest selling novels of the century.

-- "Gone With The Wind," the renowned MGM motion picture, won 10 Academy Awards and has been seen by an international audience of over a quarter of a billion people.Revisit the South and fall under the spell of Scarlett O'Hara and Rhett Butler all over again. After six decades, this sweeping saga set against the backdrop of the war-torn South remains one of the most beloved American novels ever written. (Goodreads)

 

My Thoughts

When I write this review, I still can't believe that I finished this book without skipping any pages. I think this is the thickest book that I ever read. I need to reward myself.

Long before I read Gone with the Wind, I have watched the movie. So I already knew how the ending. But I did not remember the details. What happened between also slipped my mind. What remains is Scarlett O’Hara, the main character, and her Husband. I can see clearly how selfish and stubborn the woman.  I also can recall how the story began.  Then there comes the book which told me everything, especially about Katie Scarlett O’Hara and her life. Thanks to Fanda and Bzee who have hosted the read along. Although I could not follow the schedule as it was, but I am still glad can find out what exactly happened and finally admit that I like this book.

Gone with the Wind consists of five parts. Each of them told the life stage of Katie Scarlett O’Hara. Scarlett was a sixteen reckless young woman when the story began.  She was twenty eight when the story reached the end.  So it is between 1861 and 1873. Most of the story happened in Georgia and Atlanta, southern United States. It was during American Civil War and the years after that. Later I know it is called as Reconstruction Era. This setting make me so excited and become the reason why I joined the read along.

Besides Scarlett, there were Rhett Butler, Ashley Wilkes and Melanie (Hamilton) Wilkes. The story runs round and round with them. There were still tons of minor characters. But I just remember some, like Scarlett’s family, her spouses, the maids, and some people in twelve oaks. The others are really hard to keep in mind. 

Gone with the Wind is indeed a long journey. I think everything happened in the book started in the Barbecue party at Twelve Oaks. I met and knew Rhett Butler, Ashley and Melanie there. It continues to many great things that effect Scarlett’s love life.  I hardly find myself get boring with each stage. I can see the changes in every part.  

Talk about characters, I just give my full attention to Scarlett and Rhett. 

I adore Rhett Butler. No matter what all those people said about his past or what he did. He always looks gorgeous in every chapter. I like the way he talked especially when he was teasing Scarlett. I laughed a lot because of him. The bond that he made with Scarlett is one thing that I like from this book. Although In the end, I feel disappointed with the way he took, it does not make me replace him. I do understand why. 

Scarlett herself gave me many impressions. There are so many words that can be used to describe her.  I changed my mind a lot for this woman.  I hated her in the few first chapters. Then the feeling slowly disappeared when she’s grown up. But I was wrong when I thought she was done with her obsession. It was still there and made the hatred back. When I read the part that told me so, I could not help myself to give her my double face palm. I blamed her for everything happened in the next chapters. The mystery was solved. I finally found the reason and understood why Rhett Butler took such decision. But in the end, she got my all sympathy. I wish for more pages that brought a different ending for her. I think this woman can get one special chair among my remarkable book characters. 

I wonder with Gone with the Wind in English because I read the translation. It does not mean something wrong with it. I just want to check the word that was originally written by Margaret Mitchell. The translation is fine and easy to understand. I can follow all the tracks. It brought back the entire scene that I have seen in the movie. By reading it, I get picture of Tara and the Twelve Oaks. The funny part is when the narrator told me how woman supposed to act and behave that time. How worse the life of all southern during and after the war is also well described. It does open my eyes about American Civil War, the reason why it started and how it ends; the term of Yankees then brought me to the Rebels and Ku Klux Klan.  From this book, I also find out about Abraham Lincoln, who was the president that time, was a republican. One things that remain as mystery (I have not searched it in Google yet) till I publish this review is the slavery part. But still, the previous things are the  great part of the book. Now I declared that Gone with the Wind as one of the best historical fictions in my bookshelves.  

4/5

Gone with the Wind
Author: Margaret Mithcell
Translator: Sutanty Lesmana
Publisher: PT. Gramedia Pustaka Utama
1124 pages


This review is written for Gone with the Wind Read Along that was hosted by Fanda @ Fanda Classiclit and Bzee @ Bacaan Bzee.

Wednesday, 31 October 2012

Review Just So Stories


Just So Stories adalah kumpulan kisah pengantar tidur yang ditulis oleh Rudyard Kipling—penulis novel klasik legendaris The Jungle Book. Dalam kumpulan cerita pendek ini, kisah-kisah lucunya bukan sekadar cerita, tapi juga dihiasi ilustrasi goresan Staven Andersen yang memperkaya kisah-kisah fabel ini.


Walau ditulis lebih dari seratus tahun lalu, cerita-cerita dalam Just So Stories tak lekang oleh zaman karena dipadukan dengan mutiara kebijaksanaan. Di sini kita bisa membaca kisah kenapa unta berpunuk, bagaimana macan mendapat tutulnya, kenapa gajah punya belalai, bagaimana alfabet diciptakan, dll. Semua kisah ini akan membawa Anda menuju petualangan menembus waktu dan imajinasi pengarang peraih nobel sastra, Rudyard Kipling.


Buku ini bisa dibaca oleh semua umur dan terutama bisa menjadi hadiah indah bagi putra-putri tercinta untuk membuka wawasan imajinasi dan kecintaannya terhadap buku. (Goodreads)
Begitu tahu kalau Just So Stories adalah kumpulan cerita pendek, saya sedikit kecewa. Sempat sangsi bakal suka dengan ceritanya. Yang mengkhawatirkan adalah bagaimana jika semua kisah yang ditulis akan dibuat menggantung, seperti banyak cerpen yang saya temui beberapa tahun belakangan. Namun begitu memulai perjalanan di bab yang bercerita mengapa sang paus yang tidak bisa memakan manusia, terungkaplah kalau keraguan saya ternyata tidak beralasan. Setiap cerita selesai tanpa menyisakan banyak pertanyaan. Banyak di antaranya yang membuat saya tersenyum. Hampir semua bab membuat saya kagum terhadap imajinasi Mr. Kipling

Nggak berhenti di kisah tentang paus, Just So Stories berlanjut tentang Bagaimana Unta Mendapat Punuknya, Kenapa Kulit Badak Penuh Lipatan, Dari Mana Macam Mendapat Tutulnya, Kisah si Anak Gajah, Tuntutan Seekor Kangguru, Asal-Muasal Armadilo, Surat Bergambar, Bagaimana Alfabet Dirumuskan, Kepiting dan Lautan Luas, Kucing Penyendiri, dan Entakan Kaki Kupu-Kupu. Temukan sendiri bagaimana imajinasi Mr Kipling disetiap babnya.


Dari dua belas cerita yang ada, saya suka dua cerita terakhir, yang mengisahkan tentang bagaimana beberapa hewan liar bisa dijinakkan oleh manusia dan bab yang berkisah tentang Sulaiman bin Daud. Untuk cerita yang terakhir,kisah Sulaiman bin Daud sangat berkesan. Setelah disuguhi asal-usul ini dan itu yang iramanya hampir sama,  cerita tentang penguasa yang tersohor dengan kemampuannya berbicara dengan binatang dan jin ini membawa satu hal yang berbeda. Jadi ngga sabar pengen baca kisah beliau di buku yang lain. 


Dari Wikipedia, Just So Stories aslinya ternyata terdapat 13 cerita. Jadi selain yang saya sebut di atas, ada satu cerita lagi yang judulnya The Tabu Tale. Setelah bolak-balik nyari di Project Gutenberg dan beberapa web, akhirnya nemu di Wikisource.

Mengenai terjemahan, seingat saya tidak ada masalah. Setelah membaca bahasa aslinya pun, saya lebih memilih terjemahannya. Terlebih ketika membaca bagian puisi yang selalu muncul di bagian akhir cerita. Terima kasih untuk penerjemah, karena hampir semua puisinya bisa dengan mudah saya cerna. 


Ilustrasi
Setiap bab dilengkapi dengan ilustrasi karya Staven Andersen. Hampir semuanya keren. Dari hasil googling, versi Just So Stories asli tuh ilustrasinya dibuat langsung oleh Mr. Kipling. Saya sudah lihat beberapa. Untuk beberapa bab saya lebih memilih karya Staven, untuk bab lain saya memilih ilustrasi yang dibuat oleh Kipling. Misalnya saja ilustrasi di bab Kucing Penyendiri.Ilustrasi yang aku suka juga ada di bab asal mula alfabet. Lucu ngeliatnya. Another Wow for him!


Cover
Nggak bosan ngeliat sampul depan versi Gramedia. Aku suka gambar pausnya termasuk warna latarnya. Kalau ngeliat di Goodreads, Just So Stories punya banyak banget variasi sampulnya. Kebanyakan ngambil gambar gajah yang menjadi bagian dari Kisah si Anak Gajah. Dari ilustrasi yang dibuat oleh Mr Kipling sampai foto gajah beneran. 

Dari banyaknya gambar gajah, aku nemu sampul ini





Awalnya kupikir gambar gajah juga nih, ternyata pas aku perbesar, terlihatlah siapa yang jadi fokus. Setelah paus versi Staven Andersen, aku milih gambar di atas untuk dijadikan sampul alternatif. Andai waktu SD dulu udah ngeliat ilustrasi ini, pasti tidak akan bingung pas disuruh menggambar perspektif.



Tentang Penulis

Rudyard Kipling adalah penulis Inggris yang lahir di Bombay tanggal 30 desember 1865. Just So Stories miliknya diterbitkan tahun 1902. Buku ini dilengkapi dengan puisi dan ilustrasi yang dibuat sendiri. Pria ini juga lah yang menulis  The Jungle Book yang pertama kali terbit tahun 1894. Namun ilustrasi untuk Mowgli dikerjakan oleh sang ayah.


Selain Just So Stories dan The Jungle Book, Kipling telah menulis beberapa cerpen dan novel serta buku kumpulan puisi.

Tahun 1907, Rudyard Kipling menerima Nobel Kesusastraan, membuatnya menyandang gelar penulis Inggris pertama yang menerima penghargaan tersebut. Di nobelprize.org terdapat kata-kata "in consideration of the power of observation, originality of imagination, virility of ideas and remarkable talent for narration which characterize the creations of this world-famous author" yang ditujukan untuk Mr. Kipling. 


Just So StoriesJudul Indonesia: Sekedar Cerita
Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Ilustrator: Staven Andersen
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 160 hlm   
Cetakan: I, Desember 2011 

Friday, 28 September 2012

Review The Tokyo Zodiac Murders



Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth—sang wanita sempurna—dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman
Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai—astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr. Watson versinya sendiri—ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka—dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.
Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.

~~~

Tidak banyak novel karya penulis Jepang yang telah saya lahap. Namun saya tidak ragu untuk menaruh The Tokyo Zodiac Murders di rak favorit. 

Pertama kali melihat dan membaca judulnya, tidak terpikir sama sekali cerita seperti apa yang disajikan oleh Soji Shimada. Bahkan ketika saya telah berkali-kali mengamati sampul depan. Setelah membaca bagian awal, barulah saya menyadari bahwa sebagian besar cerita telah di gambarkan dengan jelas di sana. 

Bagian awal buku sungguh menarik perhatian. Wasiat sang seniman yang membahas tentang Azoth membuat saya tidak bisa meletakkan buku ini. Sampai akhirnya menemukan detail yang terjadi pada para korban. Terlebih ketika melihat ilustrasi yang ada. Tidak butuh waktu lama untuk tahu siapa pelaku pembunuhan. Namun hal itu tidak membuat ketertarikan saya akan buku setebal 360 halaman ini serta merta hilang. The Tokyo Zodiac Murders tetap membuat saya penasaran. Apalagi kalau bukan motif sang pelaku. Penantian tidak sia-sia. Saya sangat menikmati bagaimana Soji Shimada mengakhir cerita.

Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah catatan pribadi  yang disertakan dalam buku. Karena semua catatan itu mengungkap titik terang baru dari kisah pembunuhan yang tak terpecahkan selama hampir 40 tahun. 

Tidak ada masalah dengan terjemahan, saya dapat menikmati dan mendapat gambaran dengan jelas cerita detektif ini. Bahkan merasakan emosi tiap karakter. Bahkan sang pelaku pembunuhan sekalipun, yang muncul belakangan.

Untuk semua yang suka cerita detektif, saya merekomendasikan buku The Tokyo 
Zodiac Murder.

4/5

The Tokyo Zodiac Murders
Judul Indonesia: Pembunuhan Zodiac Tokyo
Penulis: Soji Shimada
Penerjemah: Barokah Ruziati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 360 hal
Cetakan: I, 26 Juni 2012

Monday, 13 August 2012

Review: 8 Kisah Indah tentang Sakura - Renny Vaniar


Buku ini berisi beragam kisah yang diinspirasi oleh keindahan bunga sakura.

Mari kita bertualang ke dunia yang indah, di mana Pangeran Musim Semi dan Putri Musim Gugur membuat keajaiban. (Pangeran Musim Semi dan Putri Musim Gugur)

Kisah hangatnya hati Putri Bunga Pagi menyambut kawan-kawan barunya dari belahan dunia yang lain. (Negeri Seribu Musim Semi)

Cerita tentang bukit berbunga pelipur lara. (Bukit Merah Muda)

Dongeng tentang rumah tua yang berkisah tentang sahabatnya, pohon tercantik di dunia. (Rumah Cantik dan Pohon Sakura)

Kisah seorang nenek dan kucingnya yang menjadi saksi keindahan empat musim, di taman tempat tinggal mereka. (Taman Segala Musim)

Cerita perjalanan seorang masinis di hari-hari indah penuh bunga. (Lorong Sakura)

Juga kesedihan seekor anjing di hari nan indah dan ceria. (Anjing Berwajah Sedih)

Semua kisah dalam buku ini dihiasi banyak ilustrasi yang indah dan foto-foto cantik bunga sakura.
Nah, semoga dengan membaca dan melihat gambar-gambarnya, kita pun akan bahagia.
~~~

Di negeri Seribu Musim Semi, terdapat sebuah puri tua namun sangat indah, yang ditempati oleh Raja, Ratu dan putri mereka, Putri Bunga Pagi. Sejak kecil Putri telah belajar banyak hal. Sehingga tidak perlu heran ketika Putri Bunga Pagi padai berbahasa asing dan tahu tempat-tempat lain di dunia. Semua tidak lain adalah kerja keras Nona Kate, guru yang  telah mengajarnya bertahun-tahun. Putri hormat dan sangat sayang pada Nona Kare, demikian juga sebaliknya.

Suatu hari di musim dingin, Nona Kate mengabarkan sesuatu yang membuat Putri menjadi sangat sedih. Nona Kate yang berasal dari negeri yang jauh di utara akan menikah dan bermaksud untuk pulang ke negerinya. Di awal musim semi, Peter, calon suami Nona Kate, datang menjemput. Sebelum berpisah, Nona Kate menghadiahkan semua bukunya pada Putri. Kesedihan Putri Bunga Pagi semakin memuncak saat mengantar Nona Kate di pelabuhan. Namun Putri mengerti dan tahu benar, pernikahan dengan Peter membuat Nona Kate bahagia. Maka Putri pun harus bahagia karenanya.

Sepeninggalan gurunya, kesepian melanda Putri. Setiap hari, Putri mengurung diri di kamar dan menyibukkan diri dengan membaca buku-buku pemberian Nona Kate. Hal in membuat Raja dan Ratu menjadi sangat khawatir. Sampai suatu pagi, rasa khawatir tersebut menguap ketika mereka melihat Putri berjalan di antara sakura yang bermekaran. Bahkan sempat bermain bersama anak-anak di sekitar puri. Perubahan itu ternyata disebabkan satu rencana yang telah dipersiapkannya. Putri telah menulis tujuh surat yang sama sebanyak lembar yang ditujukan kepada tujuh orang dan menyebarkannya ke laut, balon gas dan meminta bantuan seorang pengelana dengan balon udara. Putri berharap akan ada yang menjawab surat-suratnya. Musim panas dan musim gugur berlalu tanpa ada satupun balasan. Sampai akhirnya musim dingin datang dan penantian Putri Bunga Pagi pun berakhir.

Penggalan cerita di atas adalah satu dari  delapan cerita tentang sakura yang ditulis oleh Renny Vaniar. Setiap halaman dari setiap cerita dilengkapi dengan ilustrasi yang sangat indah. Penuh warna.  Sampai-sampai beberapa kali membolak-balik halamannya hanya untuk melihat gambar yang dibuat oleh para ilustrator. Dari lima ilustrator, gambar yang dihasilkan oleh Evelyn Ghozali dan tentu saja ilustrator favoritku, Ella Elviana. Cerita yang dibuat sang penulis menjadi semakin hidup dengan ilustrasi yang mereka hasilkan.Walau yang agak kontras ketika membuka cerita yang ilustrasinya dibuat oleh Adit dan Aria. Tapi secara keseluruhan, buku ini tetap menyenangkan untuk dibaca. Yang juga istimewa dari buku ini adalah beberapa bonus berupa foto - foto bunga sakura yang asli. Memang cantik.

Dari halaman belakang buku ini, Renny Yaniar, sang penulis,  ternyata udah menulis ratusan cerita baik itu cerpen maupun cerita bergambar seperti ini. Hebat. Kalau dibandingkan dengan cerita bergambar milik penerbit luar, karya Renny Yaniar pun nggak kalah.Untuk anak-anak yang baru belajar membaca, saya merekomendasikan buku ini.

Cover
Kalau boleh pilih, saya inginnya yang muncul di sampul depan adalah sosok sang pohon sakura dari cerita Rumah Cantik dan Pohon Sakura.


8 Kisah Indah tentang Sakura
Penulis: Renny Yaniar
Ukuran : 21 x 27.5 cm
Tebal : 96 halaman
Terbit : Maret 2012
Cover : Softcover
ISBN : 978-979-22-7353-3
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Wednesday, 20 June 2012

Book Review: Blood Beast - Darren Shan

Mengunci diri di ruang kerja Dervish. Napasku pendek-pendek, sesak. Gemetar hebat. Aku masih mual dan pusing, tapi mungkin karena aku ketakutan. Aku memaksa diri untuk menarik napas dengan normal, pelan-pelan. Ketika sudah merasa bisa mengendalikan diri, aku mengamati pantulanku di cermin kecil, mencari tanda-tanda. Apakah aku sedang berubah menjadi serigala siluman?
Aku tidak tahu...


Sejauh ini Grubbs Grady berhasil tidak terjangkit kutukan keluarga, tapi ketika dia mulai mengalami gejala-gejala mengejutkan selagi bulan sedang purnama, dia takut rahang-rahang takdir tengah terbuka dan hendak menelannya bulat-bulat.


Dia telah mengelabui kematian, mengalahkan iblis, melanjutkan hidupnya. Tapi Grubbs tercabik antara dunia sihir dan gen serigalanya. Mampukah dia melawan binatang dalam dirinya atau dia akan menjadi korban berikutnya dari darah keturunan yang ternoda?

~~~

Lycanthtopy, kutukan yang menimpa garis darah keluarga Grubss. Entah sejak kapan. Tak ada yang dapat mengingatnya. Yang pasti, banyak di antara mereka yang berubah menjadi manusia serigala. Hal tersebut telah berlangsung dari generasi ke generasi. Ketika itu terjadi, mereka akan kehilangan kewarasan dan menjadi binatang liar yang hidup untuk membunuh.

Tidak seperti serigala siluman di film-film, yang dapat kembali ke wujud normal, siluman serigala di keluarga Grubbs akan tetap seperti itu selamanya. Mereka hanya memiliki beberapa bulan sebelum perubahan total. Ketika bulan purnama tiba , mereka seketika akan berubah menjadi makhluk mengerikan. Dan tak ada jalan kembali.

Grubbs tahu betul bahwa tak ada cara untuk menghilangkan kutukan kecuali satu dengan satu cara. Meminta "bantuan" dari Lord Loss, sang master iblis yang kejam dan licik. Dalam sekejap, Lord Loss mampu menghilangkan kutukan. Namun hal itu terjadi setelah menempuh pertandingan catur lima set sekaligus. Hal semacam ini telah ditempuh oleh ayah dan ibu Grubbs ketika hendak menghilangkan kutukan pada Gret, kakak perempuan Grubbs. Sayangnya mereka kalah dalam permainan yang berakibat sangat fatal.

Sekedar catatan, penyakit turun temurun ini menyerang di usia remaja. Ada yang mencapai usia dua belas, tiga belas bahkan tujuh belas atau delapan belas. Hal ini yang membuat Grubbs gelisah. Karena kemungkinan untuk berubah menjadi siluman serigala masih sangat besar. Rasa tersebut semakin menjadi ketika mimpi-mimpi buruk mulai menghantuinya. Mimpi di setiap malamnya semakin parah. Sampai akhirnya Grubbs sadar, semua gelaja yang dirasakan dan dialaminya bukan sekedar mimpi. Nampaknya kutukan turun temurun tak dapat dihindari.

Grubbs yang malang. Setelah kejadian yang menimpa ayah, ibu dan Gret, hidupnya tidak pernah menyenangkan. Bahkan ketika ia berada dalam lindungan Dervish, pamannya. Di buku kelima seri Demonata ini, tergambar jelas bagaimana lelahnya Grubbs menghadapi malam-malam yang dipenuhi hal yang menyeramkan. Sangat disayangkan, proses pengambaran yang demikian nyaris memenuhi hampir sebagian besar cerita. Saya nyaris bosan dibuat.

Setelah Kernel, Slawter dan berlanjut dengan petualangan Bec, saya memang sangat berharap akan menemukan petualangan yang lebih seru. Apalagi setelah mengetahui buku ini diceritakan dari sudut pandang Grubbs. Sayangnya bagian paling ditunggu hanya mendapat jatah beberapa lembar. Selebihnya, cerita Grubbs hanya berputar di bagian itu-itu saja. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa masalah ini baru diangkat permukaan, setelah banyaknya hal yang terjadi.

Mengenai perkembangan karakter, terlihat perubahan yang cukup mencolok dalam diri Grubbs. Tidak hanya dari kehidupan sosialnya di sekolah, namun juga kemampuan sihir. Sayangnya yang terakhir itu tidak banyak menolong di saat-saat genting. Sungguh membuat saya gemas karennya.

Pindah ke Dervish, paman Grubbs masih tetap keren dengan sihirnya. Sedikit bocoran, terdapat beberapa gangguan yang menyebabkan perubahan sikap Dervish maupun Grubbs. Sedih melihat bagaimana hubungan mereka di akhir cerita.

Beberapa lembar terakhir yang menimbulkan banyak pertanyaan, membuat saya semakin tidak sabar untuk membaca buku keenam. Semoga bisa cepat terbit. Besar harapan di buku berikutnya, ada titik terang untuk semua karakter yang muncul di buku-buku sebelumnya.

Bagi yang belum pernah membaca satu pun seri Demonata, buku ini bisa dilahap tanpa harus membaca seri sebelumnya. Karena setiap bukunya berdiri sendiri. Namun sebagai pencinta buku-buku Darren Shan, setiap buku tentunya akan sayang untuk dilewatkan.

Untuk masalah kesalahan cetak, dibanding buku-buku sebelumnya, Blood Beast terasa lebih bersih.

Cover

Lagi-lagi kecewa dengan sampulnya. Kemungkinan adanya perubahan, semakin kecil. Yah tidak dapat sepenuhnya menyalahkan sang desainer sampul, karena sampul aslinya pun tidak jauh beda. Namun kalau hanya untuk menggambarkan isi buku keseluruhan yang menyeramkan, saya yakin masih banyak pilihan yang menarik. Mengingat di luar sana masih banyak pembaca yang memilih buku berdasarkan sampul depannya. Jangan sampai hanya karena sampul, mereka jadi semakin jauh dari buku-buku yang ditulis oleh Darren Shan.

Blood Beast
Judul Indonesia: Haus Darah
Penulis: Darren Shan
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 312 hlm

Thursday, 31 May 2012

Review: Hetty Feather - Jacqueline Wilson


PERHATIAN! PERHATIAN!

Bersiaplah
Membaca Kisah Menakjubkan 

HETTY 
FEATHER

*****************************************************

TERKESIAP 
waktu ia ditelantarkan saat masih bayi

TERBELALAK
dengan keberaniannya
mewujudkan mimpi

KAGUM
pada perjuangannya 
mencari ibu kandung

******************************************************

MENAMPILKAN:

Perayaan Emas Ratu Victoria • Sirkus Keliling Tanglefield 
Matron Bottomly Bau • Ida pelayan dapur baik hati
Saudara-saudara Hetty tersayang: Jem dan Gideon

~~~

Hetty Feather, satu lagi buku Jacqueline Wilson yang diterjemahkan oleh Gramedia.  Jangka waktu penerbitannya tidak begitu jauh dari Cookie, buku yang diterbitkan akhir tahun lalu. Senang rasanya tidak perlu menunggu terlalu lama. Namun yang paling menyenangkan, buku kali ini jauh lebih tebal dibandingkan Cookie. 

Banyak hal yang menarik dari Hetty Feather. Dari segi karakter, cerita ataupun ilustrasinya. Membaca buku ini membuat saya seakan tidak pernah menemukan hal-hal menarik dari buku-buku Jacqueline Wilson yang lain. Sehingga nyaris mengucapkan bahwa Hetty Feather adalah buku terbaik yang pernah ditulis oleh Jacqueline Wilson.

Hetty Feather adalah nama sang karakter utama. Semua cerita di buku ini diambil dari sudut pandangnya anak perempuan yang ditinggalkan ibunya sejak baik di Founding Hospital. Hetty tumbuh dengan daya imajinasi yang sangat tinggi, tidak perlu heran jika anak perempuan dengan rambut kemerahan ini bisa bercerita dengan sangat detail bahkan ketika ia masih bayi. Kehidupan tidak begitu menyenangkan di panti asuhan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan yang setiap tahunnya semakin menjadi. Dengan khayalannya, Hetty bisa merubah semua hal menjadi lebih baik atau sebaliknya. Walau tidak semua orang menyukai keahliannya yang satu itu, namun tidak sedikit teman-teman yang menyukai ketika Hetty mulai menceritakan kisah yang dikarangnya sendiri. Pembawaan Hetty yang seperti itu, menarik perhatian beberapa orang di panti. Sebut saja Ida, pelayan dapur.

Saya sebagai pembaca pun menyukainya. Walau sebelumya saya telah bertemu dengan Tracy Beaker, anak perempuan yang juga memiliki khayalan yang sama tingginya dengan Hetty, namun kesan yang ditinggal kan Hetty jauh lebih dalam. Hetty juga kadang bertingkah melebihi batas, namun tidak sampai membuat saya kesal dan benci, seperti halnya yang saya rasakan pada Tracy Beaker. 

Mengenai hubungan yang terjalin antara Hetty dan karakter-karakter lain juga menjadi hal yang saya sukai dari buku ini. Lihat saja bab yang bercerita tentang persahabatannya dengan Polly ataupun hubungannya dengan Harriet. Namun dari semuanya bab favorit saya adalah ketika Hetty bercerita tentang tahun-tahun yang dilewatinya Peg, ibu asuhnya,dan Jem, kakak angkatnya. Sayangnya sampai buku ini berakhir, tidak ada kisah lagi tentang mereka. Dari website resmi, Jacqueline Wilson ternyata telah menulis sequel kisah Hetty Feather, yang diberi judul Sapphire Battersea. Semoga saja Jem dan Ibunya ada dibuku itu. Yang paling penting, semoga pihak Gramedia juga menerbitkan buku ini. Amiin. 

Seperti yang saya utarakan sebelumnya, ilustrasi buku ini juga istimewa. Ilustratornya masih sama, namun karyanya kali ini berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Seberapa jauh bedanya, lihat saja sendiri. 

Nyaris lupa, buku ini mengambil latar belakang London di masa Victoria. Terlihat perbedaan bagaimana para guru mengajar anak-anak di kelas. Bukannya mendorong bagaimana para murid mengetahui dan belajar lebih banyak, guru-guru itu malah melakukan hal yang sebaliknya. Aneh.

Tidak ada masalah dengan terjemahan. Saya bisa mengerti dan menikmati kisah Hetty Feather dengan baik. Terima kasih untuk penerjemah dan editornya. Sayangnya masih ada typo di beberapa halaman. 

Di bawah ini trailer buku Hetty Feather. Suka.


 4/5

Hetty Feather
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Deci Natalia
Editor: Reita Ariyanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Maret 2012
Tebal: 464 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...