Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Friday, 23 December 2011

Review: Presiden Prawiranegara - Akmal Nasery Basral


19 Desember 1948. Agresi Militer II Belanda terhadap Ibu Kota Yogyakarta menyebabkan Presiden Sukarno ditangkap. Wakil Presiden Mohammad Hatta yang cemas dengan kondisi itu segera mengirimkan tlegram kepada Menteri Kemakmuran RI, Syafrudin Prawiranegara, yang sedang berada di Bukittinggi untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Ternyata benar, tak lama kemudian Sukarno-Hatta pun ditangkap Belanda, mereka diasingkan ke Bangka. Pemerintahan resmi lumpuh. Di sebuah dangau kecil yang belakangan dikenal sebagai "Dangau Yaya", Syafruddin mengumumkan berdirinya PDRI, pada Rabu 22 Desember 1948.

Dari sudut pandang seorang pemuda pengikutnya, Kamil Koto, mengalirlah kisah Presiden Syafruddin Prawiranegara, yang selama 207 hari nyaris melanjutkan kemudi kapal besar bernama Indonesia yang sedang oleng, dan nyaris karam. Sebuah perjuangan yang mungkin terlupakan, tetapi sangat krusial dalam memastikan keberlangsungan Indonesia.
(Goodreads)
 ~~~

Presiden Prawiranegara, dua kata yang sangat mengelitik keingintahuan saya.  Bagaimana tidak, dari apa yang saya pelajari di bangku sekolah, urutan Presiden sejak kemerdekaan sampai hari ini, nama Prawiranegara tidak pernah tercatat.  Inilah yang menjadi alasan mengapa bulan Agustus kemarin saya memilih buku ini sebagai bahan bacaan.

Nama Akmal Nasery Basral yang tertulis jelas di sampul buku, juga sangat berpengaruh dalam pemilihan buku ini.  Saya sangat penasaran bagaimana cara sang penulis, yang pernah membuat saya berdecak kagum beberapa tahun lalu saat membaca Imperia, meramu semua fakta dan  dan sedikit rekaan cerita dan kemudian menyungguhkannya dalam bentuk sebuah novel sejarah. Dan sekali lagi, kepiawaiannya merajut kata-kata terbukti di buku ini. Buku yang membuka mata saya akan sebuah peristiwa yang tidak dijelaskan secara gamblang di buku sejarah yang saya pelajari selama sekolah.

Presiden Prawiranegara. Kalau tidak membacanya, saya tidak akan pernah tahu siapa Syafruddin Prawiranegara. Sebagai seseorang yang dulu menempatkan Sejarah sebagai salah satu pelajaran favorit, buku ini membuat saya malu. Apa yang saya pelajari tentang Agresi Militer II Belanda di sekolah dulu tidak bersisa kecuali tanggal dan tempat terjadinya insiden. Saya sama sekai tidak ingat keberadaan PDRI. Nama Syafruddin Prawiranegara pun tidak melekat di benak. Padahal pemimpin PDRI memiliki banyak peranan penting baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Menelusuri bab demi bab buku ini , saya seperti kembali duduk di kelas sejarah. Semua penuturan sang narator, Kamil Koto, mengingatkan pada apa-apa yang nyaris saya lupakan. Tidak hanya apa yang sesungguhnya terjadi saat serangan mendadak tersebut, tapi juga sampai pada dampak yang ditimbulkan. Peristiwa yang terjadi Saya pun diingatkan lagi bagaimana sampai bangsa ini terlibat perundingan demi perundingan. Yang tidak kalah penting adalah pengenalan lebih dalam tentang sosok Syafruddin Prawiranegara, sang pemimpin PDRI.

Satu hal yang saya sayangkan, buku ini tidak menjelaskan dengan detail bagaimana proses penyerahan kembali kekuasaan dari PDRI. Rasanya tidak imbang. Karena di bagian awal, dipaparkan dengan jelas bagaimana kondisi pemerintahan saat agresi terjadi sampai pembentukan PDRI di Bukittinggi.

Yang membuat miris adalah ketika membaca fakta tentang bagaimana kehidupan Syafruddin Prawiranegara di pemerintahan yang baru. Sedih rasanya ketika mengetahui semua yang dialami oleh tokoh yang telah berjuang mempertahankan dan menyelamatkan Republik yang saat itu berada di ujung tanduk.

Saya berharap di tahun-tahun mendatang, akan lebih banyak buku-buku seperti ini. Sehingga genre fiksi sejarah tidak hanya didominasi oleh buku-buku terjemahan.

Cover
Warna dan desain sampul bukan dua hal yang membuat saya memilih buku ini.


Judul: Presiden Prawiranegara; Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: 370 halaman

Thursday, 12 February 2009

Review: The Historian - Elizabeth Kostova



Setelah membiarkan buku ini di rak buku nyaris 2 tahun lamanya, akhirnya beberapa minggu yang lalu saya memutuskan untuk membuka halaman pertamanya. Saya punya alasan kuat mengapa tidak langsung melahapnya begitu buku ini resmi menjadi penguni rak buku. Pertama, masalah ketebalan yang tidak diragukan lagi, belum lagi ditambah buku ini dikemas dalam bentuk hardcover. Kedua, tentu saja masih banyak buku yang lebih tipis lainnya. Namun sampai di halaman terakhir, saya sedikit menyesal kenapa tidak membacanya sejak dulu. Karena buku ini ternyata menarik. hhhmmm...satu pelajaran lagi Don’t Judge the book by its thickness.
Dari judul dan Catatan Untuk Pembaca yang ditulis dibagian awal oleh narator, yang sampai akhir buku ini tak juga disebutkan namanya, buku ini bercerita tentang penelusuran, pencarian sesuatu di masa lalu yang terjadi beratus tahun yang lalu, jauh sebelum ia lahir. Pencarian yang membuatnya berpindah dari satu negara ke negara lain. Membaca dokumen demi dokumen. Selama bertahun – tahun tak terhitung lagi berapa banyak riset dan pengumpulan fakta yang ia lakukan. Semua itu membuat saya semakin penasaran dan bertanya-tanya sejarah dan fakta apa yang dibicarakan oleh sang narator. Karena semua riset ini juga berkaitan dengan pencarian ayahnya dan masa lalunya, bagaimana ayahnya pergi mencari gurunya dan sejarah yang melatar belakangi kehidupannya.

Nampaknya sang narator tidak ingin berlama-lama membuat saya penasaran. Hanya dalam beberapa menit pertanyaan itu terjawab dan hanya dengan tiga kata. Bram Stoker, Dracula.
Karena tiga kata itu juga yang akhirnya membuat saya kembali meninggalkan buku ini. Sebelum tenggelam di buku dengan ketebalan 768 halaman ini saya pikir sebaiknya mengenal sosok Dracula ciptaan Bram Stoker terlebih dahulu. Dari buku itu, yang saya dapatkan adalah sesosok pria penghisap darah dengan kekuatan magis dari Transylvania yang sangat keji dan hanya mengejar para wanita sebagai korbannya.

Ketika akhirnya kembali ke buku ini, sosok Dracula yang saya temui di buku ini jauh berbeda. Yang mengejutkan pria ini ternyata benar- benar ada. Vlad Dracula yang juga dikenal sebagai Vlad si Penyula. Tidak perlu heran mengapa diberikan julukan seperti itu. Karena semasa hidupnya pria ini memang sangat kejam. Tidak tanggung – tanggung ia memerintahkan semua bawahannya untuk mengakhiri hidup setiap orang yang dianggapnya musuh dengan cara di sula. Tak peduli bayi, anak-anak pria ataupun wanita. Hal itu membuat saya bergindik ngeri.

Semua itu ada di catatan- catan sang narator yang juga didapatkannya dari semua cerita, catatan, surat milik ayahnya ataupun buku – buku dari perpustakaan yang dikunjunginya. Yang mengejutkan, semua catatan-catatan itu mengantarnya pada satu hal. Vlad si Penyula masih hidup dan berkeliaran. Kesimpulan itulah yang membuat mereka, para sejarawan, berpacu bersama waktu untuk mencari kebenaran di balik semua misteri ini.

Sehingga tidak mengherankan jika penulusuran yang dilakukan menjadi sangat panjang. Sangat melelahkan memang. Namun saya menikmati setiap perjalanan dari satu negara ke negara lain di benua Eropa. Keindahan setiap kota setidaknya memberi sedikit warna pada pencarian, yang menghabiskan waktu bertahun – tahun, yang sangat gelap dan penuh dengan hal – hal berbahaya.

Terlepas apakah fakta ataupun fiksi, banyak dari catatan-catatan itu yang membingungkan. Bahkan begitu sampai di halaman terakhir, saya masih dibuat pusing dengan hubungan antara Vlad Dracula, Ottoman dan Mehmen II. Mungkin karena saya lebih menyukai cerita tentang masa lalu keluarga sang narator, Paul, ayahnya ataupun kisah sang professor Rossi, guru sekaligus pembimbing ayahnya. Sehingga tidak ada cara lain menulusuri kembali beberapa halaman dan mencari fakta lainnya di Wikipedia. Karena pertanyaan – pertanyaan baru juga muncul ketika semua halaman itu selesai saya lahap.

Untuk sebuah buku yang menggabungkan fakta, fiksi dan sejarah, buku ini benar-benar menarik. 

The Historian
Judul Indonesia: Sang Sejarawan
Penulis: Elizabeth Kostova
Penerjemah: Andang H. Soetopo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Januari 2007
Tebal: 768 hlm

Monday, 29 December 2008

The Last Concubine


The Last Concubine
Penulis:Lesley Downer
Penerjemah: Yusliani Zendrato
Editor: Nadya Andwiani
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, November 2008
Tebal: 658 hlm


Buku yang menceritakan sejarah Jepang selalu menarik perhatian saya. Kebanyakan dari lembaran – lembaran itu berisi kisah yang dituturkan melalui sudut pandang seorang pria. Bagaimana tingkah laku dan pola pikir seorang samurai menghadapi perselisihan kecil ataupun pertempuran besar seperti perang tidak lagi menjadi hal yang asing. Sehingga ketika tahu The Last Concubine berisi kisah yang diceritakan oleh seorang perempuan, tak perlu berpikir dua kali untuk segera melahapnya. Terlebih lagi ketika perempuan itu menjadi bagian dari kehidupan sang seorang shogun.

Memang bukan buku pertama yang memberitahu saya bagaimana kisah seorang wanita Jepang di masa lalu. Namun inilah buku yang membuka pintu istana sang shogun lebih lebar sehingga semua bisa melangkahkan kaki ke dalam lingkungan yang selama ini dibatasi tembok yang tebal. Bahkan merasakan apa yang dirasakan para penghuninya.

Sachi, begitulah nama perempuan yang beruntung itu. Melalui matanyalah, semua terungkap dengan jelas. Segala hal yang terjadi pada klan Tokugawa sebelum dan sesudah pemberontakan terjadi.

Tak sekalipun pernah terlintas dibenak Sachi, suatu hari ia akan menjalani kehidupan istana di Edo. Karena awalnya ia adalah seorang gadis desa yang dibesarkan oleh keluarga petani di lembah Kiso. Hidup bersama Jiroemon dan Otama, Ayah-ibunya, sudah lebih dari cukup. Ia tak punya waktu untuk merajut satupun mimpi untuk masuk ke lingkaran orang – orang terhormat itu. Tak hanya disibukkan bersama teman sepermainannya dengan hal – hal yang menyenangkan, namun juga karena sibuk membantu ayah-ibunya mengurusi penginapan yang selama ini selalu digunakan oleh para bangsawan saat menelusuri jalur Nakasendo, jalan yang menghubungkan Edo dan Kyoto.

Sehingga iring – iringan orang terhormat dengan ratusan pasukan pengiring tidak lagi menjadi hal asing bagi Sachi. Puluhan aturan dipahaminya dengan baik. Termasuik ritual berlutut dan menundukkan pandangan sedalam mungkin ,menghadap tanah, ketika rombongan itu melintas tak pernah sekalipun diabaikan.seperti yang lain, Sachi tak mau mengambil resiko kehilangan nyawa hanya karena melanggar aturan itu.

Namun semua aturan itu segera saja dilupakannya ketika yang melintas adalah iring –iringan Yang Mulia Putri Kazu. Rasa penasaran memang telah lama menggelitiknya sejak pertama kali mendengar berita bahwa mereka adik sang kaisar itu akan melewati jalan Nakasendo terlebih lagi beristirahat di penginapan ayahnya. Ia tak pernah meohat seorang putri pun seumur hidupnya. Dari hari ke hari menjelang kedatangan sang putri, rasa penasaran Sachi pun semakin besar. Terlebih karena cerita demi cerita tentang sang putri yang rasanya tidak berhenti dibicarakan orang-orang disekitarnya.

Sampai akhirnya iring – iringan besar itu datang. Sachi yang saat itu memakai kimono berwarna biru-nila telah mengambil tempat dan duduk membungkuk bersama yang lain. Awalnya Sachi melihat dari sudut matanya, joli demi joli indah yang membawa para perempuan terhormat terus berdatangan. Namun tak lama kemudian,Sachi benar –benar tak dapat menahan untuk tidak mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sang putri. Mendadak tatapan seorang perempuan muda bertemu dengan tatapannya. Tak butuh waktu lama untuk membuat para perempuan lain menoleh ke arahnya. Suasana yang awalnya sunyi mendadak menjadi ribut. Sedetik kemudian bayang – bayang kematian membayangi pikiran Sachi karena satu pelanggaran yang fatal.

Namun suratan takdir berbicara lain. Alih- alih mendapat hukuman mati atas kelancangannya, Sachi mendapat kesempatan untuk melangkahkan kaki di kastel Edo. Sejak hari itu. Sachi belajar banyak hal, sebagai dayang-dayang pengiring putri Kazu, ia harus mengerti cara berjalan sampai berbicara layaknya perempuan terhormat, menulis puisi, membaca, seni bela diri dan tentunya beratus aturan istana.

Tak hanya itu, Sachi juga mempelajari ritme kehidupan di Istana Para Perempuan, yang seakan memiliki dunianya sendiri. Sachi tahu benar bagaimana persaingan antar satu dengan yang lain tak lagi dianggap sebagai hal yang aneh, bahkan jika satu pembunuhan terjadi sekali pun. Sehingga tak heran jika ia diingatkan untuk tetap waspada. Terlebih ketika akhirnya ia diangkat menjadi selir sang shogun. Sekali lagi perubahan besar terjadi pada hidup Sachi. Kini statusnya berganti menjadi Nyonya Rumah Samping. Para pelayan mengerumuninya dan siap untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Kimono – kimono yang digunakannya kini jauh lebih indah dari sebelumnya. Ditambah lagi setiap bulannya, ia menerima ryo emas yang dapat digunakan untuk membiayai kehidupannya yang baru sebagai selir berikut fasilitas lain untuk keluarganya. Rasanya seumur hidup, tak ada yang lebih baik dari ini. terutama ketika ia mendapat perhatian khusus dari sang shogun.

Sayangnya kehidupan menyenangkan itu tak berlangsung lama. Semua berawal dari kejadian buruk yang menimpa sang shogun. Pemberontakan pecah. Keadaan menjadi sangat kacau. Pertumpahan darah tak terelakkan. Seakan tak ada tempat bagi siapa saja yang dicurigai sebagai pendukung shogun. Semua menjadi porak poranda. Bahkan di benteng pertahanan terakhir klan Tokugawa, tak terkecuali Istana Para Perempuan. Tak satu pun tempat yang aman bagi mereka sekarang dan satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah meninggalkan istana. Sachi tak punya pilihan lain. Karena ia juga tahu bahwa tak pernah ada jaminan bahwa kehidupan di luar akan lebih baik selama perang masih berkecamuk.

Perjalanan baru dimulai. Sekali lagi melalui mata Sachi, peristiwa demi peristiwa menjelang runtuhnya Kastel Edo terekam dengan jelas.

Tidak seperti buku – buku yang juga mengambil sejarah jepang di dalam lembarannya, buku ini memberikan kepuasan tersendiri. Setiap fakta yang ada di dalam buku ini memberikan jawaban – jawaban atas beberapa pertanyaan saya.Dari berakhirnya pemerintahan shogun yang erat kaitannya dengan Restorasi Meiji, dua kata yang sebelumnya tak pernah saya pahami, sampai bagaimana kekaisaran jepang mengambil alih kekuasaan. Yang tak kalah menarik, tentu saja fakta seputar kehidupan para wanita yang mengelilingi sang shogun. Ini benar – benar hal baru buat saya. Suatu kejutan begitu tahu bahwa nyaris semua yang dituliskan oleh sang penulis adalah sesuatu yang benar- benar terjadi di masa lalu. Tentunya bagi penggemar fiksi sejarah, buku ini tak boleh dilewatkan.

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...