Showing posts with label Nonfiksi. Show all posts
Showing posts with label Nonfiksi. Show all posts

Monday, 10 September 2012

Review I Love Monday


Hari Senin sering kali dilukiskan sebagai hari yang penuh depresi dan kecemasan. Berbagai lagu menggambarkan hari Senin sebagai hari yang suram dan penuh kegalauan, seperti “Rainy Days and Mondays” dari Carpenters dan terutama lagu “I Don’t Like Mondays” dari Bob Geldof & The Boomtown Rats.

Lagu-lagu seperti ini tanpa disadari telah membentuk stigma kita mengenai hari Senin sebagai hari yang berat dan penuh penderitaan (yang bahkan sudah mulai kita rasakan sejak Minggu malam). Ini sangat berbeda dengan hari Jumat yang selalu ditunggu-tunggu. Slogan “Thanks God it’s Friday” sesungguhnya juga semakin mengukuhkan paradigma yang membenci hari Senin. Karena itu, tidak aneh, berbagai penyakit muncul sebagai efek hari Senin. British Medical Journal, misalnya, melaporkan serangan jantung yang meningkat 20% pada hari Senin. Berbagai perusahaan pun harus menanggung biaya yang sangat besar karena gangguan kesehatan karyawan yang meningkat di hari Senin.

Apakah Anda sering merasakan hal yang serupa, malas dan berat datang ke kantor pada hari Senin? Bila jawabanya “Ya”, maka buku ini sungguh tepat untuk Anda. Dalam buku ini, Arvan Pradiansyah memaparkan dengan gamblang mengapa kita sering menderita sindrom “Monday Morning Blues” ini. Arvan mengajak kita menempuh perjalanan ke dalam diri sendiri dan menemukan akarnya, yaitu paradigma kita mengenai pekerjaan. Bagaimana Anda melihat pekerjaan Anda saat ini? Apakah Anda melihatnya hanya sebagai setumpuk tugas (job)? Sebuah karier (career)? Atau sebuah panggilan (calling)?

Buku ini akan mengajak kita menemukan panggilan jiwa kita dan menghidupkan semangat yang sempat hilang. Di dalamnya, Anda akan menemukan resep yang sungguh berharga untuk membuat Anda bersemangat setiap pagi, berangkat ke kantor dengan gembira dan bekerja dengan penuh cinta (Goodreads)

Dulu saya menolak untuk disamakan dengan orang-orang yang kerap mengeluh bagaimana mereka membenci hari Senin. Karena dibanding hari Senin, sejak kecil saya jauh lebih membenci hari Minggu. Terutama ketika hari beranjak gelap. Alasannya sederhana. Hari Minggu sore dengan jelas mengingatkan saya bahwa liburan yang singkat sebentar lagi berakhir dan besok saya harus kembali ke sekolah dan mengikuti upacara bendera di bawah sinar matahari yang terik. Hampir 12 tahun lamanya saya membiarkan perasaan-perasaan negatif seperti gelisah ataupun gundah gulana tumbuh. Tanpa pernah tahu bahwa perasaan yang demikian adalah gejala awal dari sindrom I Hate Monday, sampai saya membaca beberapa artikel terkait yang lengkap dengan tips bagaimana mengatasi ataupun mengusir gejalanya. Sangat disayangkan, saran-saran yang ada tidak efektif. Karena sindrom tersebut tidak hilang sepenuhnya. Bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, "Gejala Minggu sore" masih kerap saya rasakan. Apalagi kalau mengingat masih ada setumpuk pekerjaan yang harus saya selesaikan.

Melalui buku setebal lebih kurang 302 halaman ini, Arvan Pradiansyah tidak memberi saran seperti artikel kebanyakan. Namun lebih jauh mengenalkan saya lebih jauh pada sindrom I Don't Like Monday dan mengungkapkan  bagaimana suatu paradigma terhadap segala sesuatu yang kita kerjakan adalah penyebab utamanya. Dipaparkan dengan jelas bagaimana sebuah mindset membuat segala sesuatunya menjadi sangat berat untuk dikerjakan ketika hari senin tiba.

Hampir seluruh halaman awal buku I Love Monday membuat saya tersenyum simpul. Kkarena melihat kondisi saya yang sekarang. Beberapa bab awal bahkan membuat saya merasa sangat malu. Tidak lain karena motivasi dan prinsip yang saya pegang selama ini. Sadar bahwa ada yang salah dengan cara saya melihat pekerjaan yang saya tekuni selama beberapa tahun ini. Bagaimana setiap jam yang saya habiskan di kantor tidak lain hanya untuk menyelesaikan apa yang tertulis di uraian pekerjaan, lain tidak. Pembahasan awal juga membuat saya berpikir tentang hal-hal lain yang telah lakukan selama 8 tahun dan sampai pada satu kesimpulan. Money Oriented, that's me.

Beberapa peristiwa yang terjadi dalam hidup sang penulis dan disisipkan sebagai awal beberapa bab menjadikan buku ini lebih mudah dipahami. I Love Monday  yang saya selesaikan hanya dalam beberapa jam meninggalkan banyak kesan dan sungguh membuka mata. Saya mendapatkan hal-hal baru yang kemudian menjadi bahan pemikiran. Yang menyenangkan adalah bagaimana Arvan Pradiansyah menulis bab demi bab tanpa maksud untuk menghakimi sedikit pun. Seperti saat mendapati hal-hal yang saya sebut di paragraf sebelumnya mengkategori orang-orang yang memiliki paradigma pertama yaitu yang memandang pekerjaan hanya sebagai job, yang oleh Arvan Pradiansyah sang penulis dijadikan dalam satu bab khusus. Pembahasan tersebut berlanjut dengan paradigma kedua yaitu melihat pekerjaan sebagai karier  dan yang terakhir, paradigma yang mengajak para pembaca merevolusi semua pemikirannya dan melihat pekerjaan sebagai panggilan hidup.  Bagian inilah yang lebih dalam dibahas di bab-bab berikutnya. 

Dengan gamblang, Arvan Pradiansyah menjelaskan bagaimana melihat pekerjaan sebagai suatu panggilan hidup yang berarti tidak lagi menjalankan skenario orang lain ataupun diri sendiri. Bagaimana paradigma ini mampu membuat semuanya terasa ringan, bahkan sindrom yang muncul setiap Senin akan hilang dengan sendirinya. Karena paradigma yang satu ini jauh lebih indah. Karena skenario yang ada adalah skenario Tuhan. Pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai suatu cara untuk mencari nafkah ataupun mengumpulkan keuntungan lebih banyak namun bagaimana pekerjaan dipandang sebagai jalan untuk membantu sesama manusia. Lebih ditekankan lagi untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat yang lebih besar bagi orang lain.  Bukan hal mudah, namun tidak mustahil untuk dilakukan.

Membaca I Love Monday, membuat saya ingin membaca buku-buku Arvan Pradiansyah lainnya. 



Tentang Penulis
Arvan Pradiansyah adalah pembicara publik, konsultan, fasilitator dan kolumnis di Majalah SWA,dan harian Bisnis Indonesia. Ia juga mengasuh rubrik konsultasi “Life is Beautiful” di tabloid Bintang Indonesia. Arvan juga telah menulis 5 buku inspiratif yang menjadi best seller yaitu “YouAre A Leader!” “Life is Beautiful” , “Cherish Every Moment” , “The 7 Laws of Happiness” dan“You Are Not Alone.” Tak hanya menulis, Arvan pun senantiasa menyebarkan inspirasi dan motivasi melalui radio. Ia adalah nara sumber tetap untuk talkshow Smart Happiness yang disiarkan di Smart FM Network setiap Jum’at pk. 7 – 8 pagi WIB dan disiarkan ke 25 kota di Indonesia.

Selain itu Arvan -- yang pernah menjadi Dosen di FISIP UI selama 13 tahun -- saat ini adalah Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM), sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi di bidang sumber daya manusia, kepemimpinan dan life management yang berpusat di Jakarta. Sejak mendirikan perusahaannya di tahun 2005 hingga kini, Arvan telah memotivasi lebih dari 40 ribu orang di lebih dari 200 perusahaan Swasta, BUMN dan kampus. Klien yang pernah dan sedang dilayaninya diantaranya Telkom, XL, Medco, Astra Agro Lestari, BRI, BNI, Bank Mandiri Bank Mega,CIMB Niaga, Pos Indonesia, Abbot Indonesia, Darya Varia, Otsuka, Pertamina, Prudential Life, Pamapersada Nusantara, Total E&P Indonesie, Trimegah Securities, Bina Sarana Informatika, dan sebagainya.

I Love Monday: Mengubah Paradigma dalam Bekerja dan Bisnis
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa
Cetakan: II, Juni 2012
Tebal: xxx + 302 hlm


Tuesday, 3 April 2012

Review: Life Traveler - Windy Ariestanty


‘Where are you going to go?’ tanyanya sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja saya.

‘Going home.’ Saya menjawab singkat sambil mengamati landasan pacu yang tampak jelas dari balik dinding-dinding kaca restoran ini.

‘Going home?’ Ia berkerut. ‘You do not look like someone who will be going home.’

Kalimat inilah yang membuat saya mengalihkan perhatian dari bulir-bulir hujan yang menggurat kaca. ‘Sorry. What do you mean?’



(Satu Malam di O’Hare)


***

Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. Menemukan teman, sahabat, saudara. Mungkin juga cinta. Mereka-mereka yang memberikan ‘rumah’ itu untuk kita, apa pun bentuknya.

Tapi yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri: sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…

… because travelers never think that they are foreigners.
(Goodreads)
  ~~~

Kalau melihat deretan buku koleksi yang ada, akan sangat sulit menemukan buku yang bercerita tentang perjalanan. Ada beberapa alasan mengapa buku semacam itu tidak mendapat banyak perhatian. Saat berada di toko buku pun, saya menempatkan buku serupa di urutan paling bawah untuk dibawa pulang dan dijadikan  penghuni rak. Semua tidak lain dikarenakan rasa iri yang kerap timbul setelah melahap lembaran-lembaran berisi cerita perjalanan sang penulis. Tidak hanya dari perjalanan ke negara dengan tempat-tempat yang mengagumkan, namun juga pengalaman yang tidak ternilai harganya. Yang terakhir, saya kerap dibuat bosan setelah membaca beberapa bab terutama ketika menemukan gaya cerita yang monoton. Pikiran yang sama sempat terbersit ketika menemukan Life Traveler di meja kerja. Namun kali ini saya salah, karena buku yang ditulis Windy Ariestanty ini bukan rangkuman cerita perjalanan biasa. Berawal dari Vietnam sampai Chicago, banyak di antaranya yang meninggalkan kesan yang mendalam. Tidak hanya bagi sang penulis, namun saya sebagai pembaca. Bahkan ketika belum menapakkan kaki ke tempat-tempat tersebut ataupun bertemu langsung dengan orang-orang yang disebutkannya.

Windy awalnya memang menceritakan hal-hal yang kerap saya temukan di buku-buku lain. Seperti penjelasan tempat-tempat yang menarik dan wajib dikunjungi ketika berada di satu negara. Dilengkapi dengan penjelesan singkat  mengenai transportasi yang bisa digunakan. Tak lupa list to do and don't. Untung saja itu hanya ada di beberapa bagian awal. Ketika saya nyaris menutup buku ini, meletakkannya di meja dan mengganti dengan buku lain, Windy ternyata telah menyiapkan cerita yang kembali menarik perhatian. 

Dan beberapa bab yang berkesan dan menjadi bagian yang saya sukai adalah cerita saat Windy berada di Hanoi. Tidak ketinggalan cerita di beberapa tempat di Eropa. Sebut saja Frankfrut, Praha ataupun perjalanannya menuju Paris. Yang istimewa dari bab-bab itu bukan hanya cerita tentang tempat yang dikunjungi namun lebih kepada cerita orang-orang yang terlibat di dalamnya. Sebagai contoh, cerita yang melibatkan Miss Hang, Pak Mula, Pietr, Mirek ataupun Marjolein sang guide. Satu Malam di O'Hare pun menjadi salah satu bab yang meninggalkan kesan yang  dalam. Tidak salah jika dipilih sebagai cerita penutup. Saya sangat menyukai percakapan singkat yang dituliskan di dalamnya. 

Sebuah buku berisi tentang perjalanan tentunya tidak akan lengkap tanpa gambar. Life Traveler pun tidak ketinggalan. Terdapat banyak gambar yang cukup memuaskan mata. Namun satu hal yang saya sayangkan dari buku ini adalah banyaknya ilustrasi cat air yang digunakan untuk menggambarkan suatu tempat. Walau digambar sebaik mungkin, namun saya lebih memilih untuk melihat bagaimana penampakan aslinya. Ilustrasi menurut saya cukup diletakkan di halaman awal setiap bab. Tidak untuk menggantikan gambar-gambar yang seharusnya ditampilkan apa adanya. 

Terlepas dari ilustrasi yang saya maksudkan, buku ini tetap istimewa.

4/5

Life Traveler
Penulis: Windy Ariestanty
Editor: Alit T. Palupi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: I, 2011
Tebal: 382 hal + x


Thursday, 19 January 2012

Book Review: Kucing Bernama Dickens - CallieSmith Grant


Kisah Memikat tentang Kucing yang Membuat Kita Jatuh Cinta 
Kucing bukan sekadar hewan piaraan. Kucing adalah sahabat kita dalam melewati masa-masa sulit, teman ketika kita sedang kesepian, bantal sewaktu kita sedang bersedih. Kucing mengulurkan persahabatan, membuat kita merasa geli, dan membawa misteri ke dalam kehidupan kita dengan cara yang tak tertandingi oleh hewan piaraan lain. Dengkurannya yang lembut atau suara mengeongnya dapat mengubah suasana hati dan menghangatkan perasaan. 
Dalam buku berisi kumpulan kisah nyata yang menawan ini, Anda akan bertemu dengan kucing-kucing dari berbagai jenis, ukuran, dan tingkah laku. Tiap-tiap kucing memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia pemiliknya. 
Anda akan berjumpa dengan anak kucing kurus kering yang membantu penyembuhan seorang gadis kecil pengidap anoreksia, induk kucing yang merelakan anaknya untuk dimiliki bocah lelaki yang membutuhkan teman, kucing yang berperan sebagai sahabat dalam menempuh jalan panjang nan sunyi menuju kesembuhan penyakit kanker, dan masih banyak lagi kisah tentang kucing-kucing yang luar biasa. 
Jadi, siapkanlah secangkir teh atau kopi, duduklah di kursi yang nyaman, bergelunglah bersama kucing istimewa dalam kehidupan Anda, dan nikmatilah kisah-kisah yang menyentuh dan membangkitkan inspirasi ini. (Goodreads)
~~~

Awalnya saya mengira buku ini  akan utuh bercerita tentang Dickens si kucing. Namun begitu membuka dan melihat daftar isi, ternyata Dickens tidak sendirian. Ada 23 kucing lain yang akan saya temui. Walau kisah mereka masing-masing hanya tertulis dalam beberapa halaman, saya tidak keberatan. Karena di sampul depan sudah ada jaminan. Para narator tidak akan pernah mengecewakan saya dengan membuat cerita-cerita dengan akhirnya menggantung. Lagipula semua lembaran akan berbicara tentang kucing, kucing dan kucing, binatang peliharaan paling menggemaskan yang pernah ada.

Perjalanan menemui para kucing dari rumahke rumah tidak semulus yang saya kira. Setiap kisah selalu menyisakan rasa iri dan membuat dahi berkerut bahkan ketika saya baru saja menapakkan kaki di beranda rumah mereka. Tidak hanya satu, dua atau tiga, tapi hampir semua tokoh di buku ini tidak perlu repot untuk menjinakkan sang kucing. Mereka tidak harus membujuk Dickens, Monk, Kit Kat,Mocha untuk masuk dan menjadi bagian dari rumah. Mereka juga tidak harus bersusah-susah melakukan apa saja agar makhluk imut itu bersedia dielus. Karena Mittens, Ollie, Angel-lah yang mendekat. Seakan-akan ada magnet yang tidak terlihat. Yang jelas Morris dan Frankie menjadi jinak bukan karena dipancing oleh makanan seperti yang biasa saya lakukan untuk membuat kucing-kucing liar itu mendekat. Yang menyedihkan cara itupun jarang berhasil bahkan.

Keistimewaan Dickens dan teman-temannya tidak berhenti sampai di situ. Kehadiran mereka sangat berarti bagi kehidupan para narator. Clover muncul di kehidupan Twila dan suaminya, Dan, bukan sebagai peliharaan biasa. Kekhawatiran, rasa kehilangan, tertekan ataupun diabaikan seakan menjadi hal kecil. Clover mengingatkannya pada satu lengan yang mengulurkan persahabatan dan pangkuan yang hangat. Yang mengherankan itu tidak hanya Clover. Hampir semua kucing di buku ini melakukan hal yang sama.

Cerita-cerita mereka sempat membuat saya curiga, jangan-jangan ini hanyalah rekayasa semata. Karena hal yang sama rasanya tidak pernah terjadi untuk beberapa tahun yang saya habiskan bersama banyak kucing. Namun para kontributor tentunya tidak akan pernah berbohong untuk hal-hal yang seperti ini.

Pada akhirnya buku ini juga mengingatkan saya akan satu hal. Walau Gigi, Lala,Ling-Ling, Newton, Einstein, Pandu, Panda,ataupun Godai tidak sehebat Dickens dan teman-temannya, mereka tetap menyisakan kenangan yang tidak akan pernah tergantikan. Seperti halnya Dickens, Godai pun istimewa.  Walau hanya kucing kampung, Godai, dengan caranya sendiri, sempat membuat hari-hari saya punya warna yang berbeda.

Untuk pencinta kucing, saya merekomendasikan buku ini.

Cover
Dibanding buku aslinya, cover yang dipilih oleh pihak Serambi jauh lebih bagus. Foto kucing yang dipilih pun lebih menggemaskan . Saya juga suka dengan foto-foto kucing yang ada di setiap bab. Pastinya lebih menarik kalau mereka dicetak penuh warna seperti kucing di bawah ini. 


Image Credit: Silverhammer - His lost cat


Judul Asli: A Dickens of a Cat
Disusun oleh: Callie Smith Grant
Penerjemah: Istiani Prajoko
Editor: Adi Toha
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I: Juli 2011





Monday, 16 January 2012

Book Review: Pak Harto The Untold Stories



"Piye to kok ora bisa ditulung (bagaimana sih kok tidak bisa ditolong)?" adalah pertanyaan Pak Harto ketika ia merasa limbung menghadapi kenyataan baru saja kehilangan belahan jiwanya, Ibu Tien Soeharto-istri tercinta yang puluhan tahun menemaninya mengarungi suka dan duka, istri yang selalu mengobarkan semangatnya, menuangkan kasih sayang, serta menguatkan hati. 
Setetes air mata Pak Harto menandai kehilangan besar yang harus diikhlaskannya hari itu, disaksikan Profesor Dr. Satyanegara yang selanjutnya menjadi lebih sering menjaga kesehatan Pak Harto. Demikian pula perjalanan hidup Pak Harto sejak muda yang terekam dengan baik dalam ingatan keluarga besar, sesama kepala negara, para menteri, ajudan, serta orang-orang yang bekerja bersamanya, menjelaskan sisi-sisi lain karakter Pak Harto yang sangat jarang dipublikasikan, yang selama ini tersimpan sebagai the untold stories seorang Pak Harto. 
Masih dalam kenangan mesra Pak Harto bersama Ibu Tien, Brigjen TNI (Purn) Eddie Nalapraya, yang berpangkat kapten ketika menjadi pengawal pribadi Pak Harto di tahun-tahun awal menjabat Presiden RI, pernah mendapat pesan jenaka dari Ibu Tien. Ibu Negara itu mengetuk-ngetuk jendela mobil sesaat sebelum Eddie berangkat mengawal Pak Harto memancing ke laut lepas, "Jangan memancing ikan yang berambut panjang ya...." Pesan canda buat sang pengawal itu membuat Pak Harto tersenyum mendengarnya. 
Sementara Profesor Dr. Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pada masa pemerintahan Pak Harto, menuturkan kisah yang mengharukan ketika sepasukan tentara disiapkan untuk menembaki serombongan gajah yang dilaporkan memorakporandakan kebun-kebun warga desa transmigrasi di Lampung. Rupanya hewan-hewan besar itu keluar dari hutan karena setiap enam bulan sekali mereka perlu berendam di laut untuk mendapatkan garam. 
"Mendengar rencana itu, Pak Harto segera memerintahkan agar para tentara tidak menembaki kelompok gajah pada saat mereka pulang nanti, melainkan menggiringnya melalui jalan yang berbeda, dengan menggunakan peralatan yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian seperti genderang dan terompet. Maka pada perjalanan kembali ke habitatnya di atas bukit, gajah-gajah itu tidak lagi menghancurkan kebun dan rumah di desa transmigrasi," cerita Pak Emil. 
Ide sederhana Pak Harto ini berakhir tidak sederhana. "Setelah berhari-hari mengawal kawanan gajah pulang ke hutan tempat tinggalnya di atas bukit, beberapa tentara meneteskan air mata haru karena dapat merasakan terbitnya kasih sayang di hati mereka terhadap hewan-hewan itu. Presiden Soeharto lantas mengundang semua tentara yang bertugas dari yang berpangkat terendah ke rumahnya di Jalan Cendana. Dengan riang Pak Harto menyalami mereka satu per satu sebagai tanda terima kasih," cerita Pak Emil. 
Buku ini memang sarat bermuatan kisah-kisah human interest sebagai bagian dari keseharian Pak Harto sejak muda hingga akhir hayatnya. Kisah tentang seekor burung beo di halaman belakang yang akhirnya menjadi salah bicara setelah Pak Harto berhenti dari jabatan presiden, isyarat dari alam semesta mengenai akan terjadinya suatu peristiwa duka terhadap diri Pak Harto melalui burung-burung camar yang merontokkan bulu-bulunya memenuhi geladak kapal pada saat Pak Harto sedang bermalam di tengah laut, bahkan kisah tentang rumor yang tidak bertanggung jawab di seputar wafatnya Ibu Tien Soeharto, semua terpapar gamblang apa adanya di dalam buku ini melalui penuturan 113 narasumber yang mengalami dari dekat berbagai peristiwa suka duka di sepanjang hidup Pak Harto. (Goodreads)


~~~

"History is written by the victors"

Tidak banyak buku yang menarik perhatian saya hanya dengan membaca judulnya. Karena saya lebih cenderung memilih bacaan berdasarkan rekomendasi dari teman. Namun kata-kata The Untold Stories punya daya tarik yang sangat kuat. Saya penasaran dibuatnya.

Sebelumnya saya tidak pernah membaca satupun biografi tentang Presiden Indonesia yang kedua ataupun buku-buku yang berkaitan dengan kepemimpinan beliau. Jadi saya sangat berharap buku ini akan memberikan jawaban untuk beberapa pertanyaan yang sempat terlintas di benak. Mengenai kesimpangsiuran Supersemar, insiden Tanjung Priuk tahun 1984 silam, cerita dibalik banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi selama pemerintahan pak Harto, ataupun hal-hal yang selama ini tidak pernah tertulis dalam buku sejarah dan tersimpan rapat dari publik.

Sayangnya, harapan saya terlalu tinggi. Karena buku setebal 604 halaman ini sama sekali tidak memberikan jawaban yang saya cari. Kecewa? tentu saja.  Namun pada akhirnya saya hanya bisa tertawa. Sebagai pembaca, saya terlalu lugu. Kata Pengantar, Sekapur Sirih ataupun Catatan Editor yang ditempatkan di bagian awal, seharusnya sudah bisa membuka mata saya. Buku yang berisi tentang kenangan 113 narasumber bersama Pak Harto diterbitkan tidak untuk menghilangkan rasa dahaga akan apa yang sebenarnya terjadi dengan sejarah bangsa ini.

Terlepas dari  semua hal di atas, setidaknya dari buku yang terbagi menjadi delapan bab, saya bisa tahu sosok Pak Harto, baik saat masih menjabat sebagai presiden maupun kehidupan beliau setelah mengundurkan diri tanggal 21 Mei 1998 lalu.


Jangan heran ketika nanti mendapati kalimat-kalimat yang seakan berulang. Karena banyak di antara mereka menyuarakan hal yang sama. Sebagai contoh pembawaan Pak Harto yang tegas dan berwibawa saat masih menjabat sebagai Presiden. Mereka juga bercerita tentang ekspresi wajah Pak Harto yang nyaris tak terbaca. Tidak jarang pula saya mendapati  kekecewaan mereka terhadap orang - orang yang dulunya dekat dengan Pak Harto namun akhirnya menusuk dari belakang. Mereka juga menyayangkan cacian, fitnah dan hujatan yang dilontarkan kepada Pak Harto. Seakan-akan lupa bagaimana kerja keras Pak Harto selama bertahun-tahun. Sejarah berulang? Mungkin.

Tidak hanya dari keluarga, kerabat dekat, ajudan, sederetan menteri ataupun pemimpin-pemimpin negara lain, buku ini juga memuat penuturan tokoh-tokoh yang dulunya bersuara lantang mengkritisi kebijakan pemerintahan Pak Harto. Sebut saja lembaran yang memuat penurutan A.M Fatwa. Bagian yang juga cukup berkesan juga terdapat pada kisah yang diceritakan oleh Teguh Juwarno dan Fadli Zon. Sebagai orang - orang yang mengkritisi pemerintahan Pak Harto, ternyata mereka diterima dengan baik di keluarga Cendana. Dialog dengan orang nomor satu Indonesia saat itu pun berjalan dengan baik. Saya jadi bertanya-tanya mengapa hal yang sama tidak terjadi pada orang lain.

Puluhan foto Pak Harto yang dilampirkan dalam setiap bab adalah bagian yang paling saya sukai dari buku yang harganya cukup mahal ini.

3/5


Pak Harto The Untold Stories
Penulis: Anita Dewi Ambarsari, Bakarudin, Donna Sita Indria, Dwitri Waluyo, Mahpudi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2011
Tebal: 604 Hal
Sumber: Koleksi Pribadi Annisa Anggiana 

Thursday, 14 August 2008

Ciao Italia; Catatan Petualangan Empat Musim




Jalan – jalan keluar negeri ataupun mengunjungi kotakota lain di Indonesia adalah satu dari sekian banyak mimpi yang saya tulis di jurnal sejak kecil. Bahkan saya telah menjadikan satu kota dan satu negera menjadi resolusi seumur hidup. Sayangnya sampai usia yang setahun lagi memasuki seperempat abad ini, Kesempatan dan kemampuan memang belum datang menghampiri. Jadi wajar saja kalau sampai umur segini saya hanya bisa menikmati cerita –cerita orang lain melalui artikel mereka di koran, buku, blog maupun TV. Walaupun tidak bisa melihat langsung, namun seakan ada rasa haus yang terpuaskan setelah melahap semua artikel dan tayangan tersebut. Sambil terus bertanya pada diri sendiri, kapan saya akan melakukan petualangan sendiri.
Ciao Italia; Catatan Petualangan Empat Musim, begitu judul buku yang ditulis Oleh Gama Harjono. Dari kata empat musim, saya mengambil kesimpulan bahwa Gama tidak menjadi turis. Sebenarnya saya bisa saja langsung melihat resensi yang ada di belakang buku ini. Namun tidak saya lakukan, semua kalimat – kalimat itu hanya akan menghancurkan petualangan baru saya.
Begitu membuka buku ini, saya langsung disuguhkan beberapa foto-foto berwarna. Dari banyak foto bangunan, hanya satu yang saya tahu, Colloseum. Malah Menara Pisa yang terkenal itu tidak tampak. Saya akui hanya dua bangunan itulah yang saya ketahui jika berbicara tentang Itali. Selebihnya pasti saya hubungkan dengan Pizza, Keju, Spaghetti, Gondola beserta sungai yang tidak jernih. (itu yang terlihat di tv dan di ceritakan di salah satu novel anak - anak). Tentunya tak lupa dengan Liga Itali yang dulu sempat membuat saya betah berjam – jam duduk di depan TV. Ternyata yang saya ketahui hanya sebagian kecil dari ribuan hal yang diceritakan Gama di bukunya.
Yang membuat saya tergelak adalah karena Lira tidak lagi disebut – sebut sebagai mata uang negara ini. Mata uang Euro telah menggantikannya. Padahal sebelumnya dengan bangga saya akan mengucapkan Lira ketika ditanya tentang Itali. Dari cerita Gama juga, saya baru tahu bahwa patung David yang terkenal dan sempat muncul di salah satu episode Sponge Bob ini ternyata ada di Italia. Ampun dah.
Kembali ke petualangan Gama, seakan tak ingin menyia-nyiakan satu detik pun, semua waktu luang digunakan untuk menjelajahi setiap sudut kota. Tak hanya bercerita tentang bangunan- bangunan bersejarah termasuk Museum Seni, Gama juga tak pernah lupa melampirkan semua biaya yang dikeluarkan untuk transportasi. Sehingga buku ini terkadang menjelma menjadi buku panduan. Dan alasan saya mampu melahap setiap lembaran di buku ini karena foto – foto yang turut mendukung cerita tentang keindahan kotakota di Itali. Saya jadi sedikit mengerti kenapa Gama sampai melakukan banyak pengorbanan hanya untuk bisa menetap di negara ini.
Dari semua kota, yang paling membekas adalah Naples. Dari cerita tentang segala jenis Coffee dan rasa pizza yang katanya enak banget . Dari tulisan Gama, saya bisa ngambil kesimpulan rasa pizza yang beredar di indonesia nggak ada apa-apanya. Tak hanya dari Coffee dan Pizza, yang mengejutkan ternyata gerbong Mafia ternyata bukan hanya ada di Godfather ataupun Man on Fire-nya Denzel Wasington. Di Naples, mereka masih beraksi. Jangan tanya berapa banyak korban yang berjatuhan. Nampaknya sampai saat ini pihak kepolisian juga tak mampu berbuat banyak.
Dari Naples, bagian yang menyenangkan adalah mengikuti kunjungan Gama ke perayaan – perayaan hari besar di Italia. Dari sana saya bisa tahu bagaimana gaya hidup orang italia yang sesungguhnya. Ada beberapa hal yang sama seperti yang terlihat di film. Tak kalah penting adalah sajian makanan – makanan khas yang tentu saja tidak hanya berupa Spaghetti dan Pizza. Yang mengejutkan, di beberapa lembar terakhir, ada sisipan resep.
Yang jelas tak ada habisnya kalau mau mengomentari satu demi satu hal yang dituliskan Gama dalam bukunya. Banyak hal yang saya pelajari dari buku ini.
Sayangnya di buku ini tidak ada peta yang menggambarkan semua perjalanan yang telah di tempuh Gama.Sehingga sekali lagi saya mengandalkan Wikipedia untuk mengetahui letak kotakota tersebut. Ironisnya, tak satupun nama Perugia, kota tempat tinggal Gama selama setahun belajar di itali, yang tertera di peta. Tak salah kalau Gama menuliskannya sebagai kota kecil.
Namun lepas dari hal di atas, buku ini tetap menarik untuk dilahap. Setidaknya bisa jadi panduan baik bagi orang – orang yang sebentar lagi akan melakukan perjalanan ke sana ataupun yang masih berjuang untuk mewujudkan mimpi jalan – jalan ke negara lain. Memang tak salah kalau ada pepatah yang mengatakan, “Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan” karena semua kata itu terbukti di buku ini.

Ciao Italia; Catatan Petualangan Empat Musim
Penulis: Gama Harjono
Penerbit: GagasMedia
Cetakan: I, 2008
Tebal: 288 hlm


Tuesday, 15 July 2008

Review: Chicken Soup for The Writer Soul - Harga Sebuah Impian



Sewaktu kecil, saya tidak pernah memasukkan kegiatan menulis dalam list hal – hal yang menyenangkan untuk dilakukan dalam hidup.Alasan pertama karena kata-kata yang saya tulis di kertas tidak begitu bagus untuk dipandang. Walau masih jauh lebih baik dari cakar ayam. Yang kedua tugas – tugas menulis, yang dulunya selalu tugas mengarang, bukanlah hal yang asyik untuk diselesaiakan. Semua murid harus menulis berdasarkan tema dan kerangka karangan yang telah ditetapkan. Yang paling menjengkelkan adalah karena tema itu terlalu berat untuk seorang anak SD. Kalau tidak salah salah satunya adalah tentang Keluarga Berancana. Jangan Gila Dong!!!


Tak hanya masalah tugas di sekolah, saya juga kadang memberikan pandangan geli kepada semua teman – teman yang mulai menggunakan journal untuk menuliskan apa saja yang terlintas di kepala dan hati mereka. Saat itu bagi saya menulis di sebuah buku yang terkenal dengan nama Diary adalah hal yang konyol.


Mengapa menulis seperti menjadi sebegitu hina? Semua kesulitan menulis yang saya rasakan tidak lain disebabkan karena kurangnya bahan bacaan. Di rumah, kami tidak memiliki perpustakaan pribadi. Kalaupun ada buku, itu juga hanya kumpulan buku cetak pelajaran dan buku – buku koleksi bapak yang berkaitan dengan urusan pekerjaannya. Selain itu yang banyak hanyalah kumpulan tabloid dan majalah milik mama, dan majalah ananda ataupun bobo untuk anak – anak.


Namun beranjak dewasa, menulis perlahan – lahan masuk menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari keseharian saya. Di mulai dari menulis surat untuk teman-teman yang sungguh saya nikmati sampai menulis hal – hal konyol yang terjadi setiap harinya. Bahkan kini jumlah jurnal yang saya habiskan untuk menulis segala sesuatu kini lebih dari lima buah. Sesuatu yang awalnya saya anggap konyol kini menjadi sebuah rutinitas yang sangat membantu menguraikan semua pertanyaan, perasaan ataupun pikiran yang entah kapan dan dimana saja melintas. Saya kini benar- benar menikmatinya.


Sehingga tidak begitu sulit untuk memahami setiap kata yang tertulis di buku ini. ketika ada yang bercerita bahwa menulis itu seperti obat yang paling mujarab untuk mengenyahkan segala kegalauan ataupun ketika mereka bercerita bagaimana menulis membantu mereka memahami lebih dalam apa yang sebenarnya mereka inginkan. Walaupun buku yang saya baca adalah hasil terjemahan, dengan mudah semua rasa yang mereka tuliskan berpindah ke kepala dan hati saya. Senang, gembira bahkan rasa kehilangan yang mendalam sekalipun.


Hampir semua cerita di buku ini juga menceritakan awal dari karir sebagai penulis dengan puluhan surat penolakkan atas karya-karya mereka, sampai bagaimana akhirnya cek yang bernilai dengan ratusan ribu dollar bahkan lebih mengalir ke rekening milik mereka yang mengfantarkan mereka sebagai penulis yang terkenal.
Benar-benar menggiurkan yah. Tidak saya pungkiri bahwa sempat terbersit untuk menempuh hal yang sama. Menulis sesuatu yang bisa membuat semua mata menyukainya dan yang paling penting menjadi seseorang yang terkenal. Namun saya tahu untuk mencapai posisi seperti mereka tidak terjadi dalam satu dua hari. Bahkan ada penulis yang arus bernunggu bertahun – tahun lamanya untuk menunggu seorang penerbit yang yakin bahwa bukunya layak untuk diterbitkan. bahkan dalam artikelnya, Dan Poynter menyatalan bahwa tak ada yang lebih sering menerima penolakan dibanding seorang pengarang. Oleh penulis lain saya diberitahu bahwa selalu ada harga yang harus dibayar untuk semua mimpi. Mimpi hanya akan tetap jadi mimpi jika tak dibarengi oleh tekad, kerja keras dan disiplin. Yang tidak kalah penting adalah ketekunan untuk terus berlatih, berlatih dan berlatih.


Buku ini benar-benar memberi pencerahan bagi saya yang selama ini hanya menulis hal- hal yang hanya setaraf dengan cerita- cerita di diary ataupun jurnal harian. Di folder – folder saya memang tak pernah tersimpan satu draft dari cerita pun. Buakn berarti tak ada ide yang terlintas. Asal tahu saja, jumah mereka lebih dari ratusan. Sayangnya tak pernah sekalipun saya membiarkan mereka melihat matahari pagi. Karena selalu terbersit dalam bahwa tulisan – tulisan saya tidak akan pernah semenarik penulis – penulis terkenal yang bukunya telah dicetak berulang – ulang.


Untungnya buku ini punya kekuatan untuk menghapuskan kepercayaan – kepercayaan yang menyesatkan seperti ini. Sejak saat ini saya bertekad untuk memelihara setiap ide – ide yang entah kapan munculnya. Karena tidak menutup kemungkinan saya akan mengikuti jejak mereka. Memang bukan sesuatu yang mudah untuk diwujudkan, tapi bukan hal yang mustahil. You’ll Never Know Until You Try, Will You?


Membaca semua tulisan di buku ini juga membuat saya penasaran dengan karya- karya mereka. Karena tak satupun dari penulis-penulis ini yang akrab di mata saya. Karena selama bertahun – tahun berkeliaran di toko buku , tak satupun judul-judul buku mereka yang saya temukan. Saya memang pernah mendengar kata Malcom X, namun tidak pernah sekalipun tahu isi buku tersebut. Sepertinya saya harus kembali menggunakan jasa ensiklopedia terbesar.


Sebagai penutup, biarkan saya mengutip kata – kata Bud Gardner yang juga ada dalam buku ini.
Ketika Berbicara, Kata-Katamu Hanya Bergaung Ke Seberang Ruangan atau Di Sepanjang Koridor. Tapi Ketika Menulis, Kata - Katamu Bergaung Sepanjang Zaman”



Chicken Soup for The Writer Soul
Harga Sebuah Impian
dan Kisah – Kisah Nyata Lainnya
Alih bahasa: Rina Buntaran
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2007
Tebal: 199 + xix hlm

Friday, 27 June 2008

Lemot; a Diary of Ceweq Gokil


Lemot; a Diary of Ceweq Gokil
Penulis: Pritha Khalida
Desain Sampul: Ellina Wu
Penerbit: Gradien Mediatama
Cetakan: I, 2008
Tebal: 151 hal

Lemot: Lemah otak; sebutan untuk orang yang ga nyambung kalau diajak ngomong, atau lambat nangkap apa yang sedang dibicarakan
- Indah THBB-

Lemot: Lama unuk mengerti maksud dari sesuatu hal
- Tikyut EMO-

Lemot: Julukan untuk seseorang yang susah untuk menangkap atau mengikuti sesuatu, orang yang lamban
-Smartie EMO-

Semua definisi di atas saya kumpulkan melalui sms.

Kenapa harus mengeluarkan pulsa hanya untuk mendapatkan kata – kata tersebut? Karena awalnya saya merasa bahwa isi buku dan judulnya tidak benar - benar relevan satu sama lainsaya merasa sedikit kebingungan. Karena setelah membaca beberapa cerita di dalamnya, Pritha, cewek yang jadi tokoh sentral dalam buku ini, tidak benar- benar lemot. Saat itu pengertian lemot yang saya pegang sama seperti yang diungkapkan Indah, Tikyut dan Smartie. Saya bahkan berhenti membaca hanya karena penasaran dengan arti lemot yang dimaksud oleh buku ini.

SMS dari Arashi sungguh membawa pencerahan.

Lemot: Lambat berpikir dan merespon. Bisa juga untuk panggilan untuk orang yang kurang peduli dengan keadaan sekitar walaupun dia nggak sadar dengan kelemahannya. Contoh: karakter Mili di AADC
-Arashi EMO-

Saya jadi mengerti mengapa semua cerita yang diangkat dari sebuah blog ini diberi cap Lemot. Begitu mendapat yang saya cari, akhirnya buku ini dengan mudah saya lahap dalam satu beberapa jam.

Walau berjudul lemot, menurut saya buku ini malah kebanyakan bercerita tentang keluguan seorang perempuan bernama Pritha. Senyum simpul bahkan rasa geli mencuat ke permukaan begitu membaca beberapa kisah di dalamnya. Lihat saja cerita Pritha tentang insiden yang terjadi dengan rambutnya di salon, di sekitar kampus ITB atau bahkan di bus dan angkot sekalipun.

Kejailan juga ternyata jadi bagian tak terlepaskan dari hidup cewek jebolan Fakultas Psikologi di salah satu universitas di Bandung. Yang bagian ini jelas bukan hal yang patut ditertawakan. Karena dipertengahan cerita, saya jadi kasihan ma Bapak yang dibiarkan kebingungan mencari ruangan. Walau akhirnya dengan senyum penuh kemenangan ketika Pritha juga mengalami hal yang sama. Yah kalau kejadian ini disebut Pritha sebagai karma, saya menyebutnya sebagai sunatullah. Seperti yang dikatakan seseorang di buku yang lain yang kalau tidak salah berkata bahwa Allah tahu dan menunggu.

Kisah mengharukan juga ada di dalam buku ini. Tidak lain tidak bukan tulisan yang terkait dengan cerita tentang Nanda, adiknya Pritha. Saya sontak teringat dengan kakak – kakak yang sekarang tinggal di kota lain. Kenangan dengan mereka berdua memang tidak semuanya indah. Karena perselisihan tak pernah bisa telekaan. Yah namanya juga saudara. Bahkan dari masalah yang sepele sekalipun juga bisa jadi sumber pertengkaran. Tapi begitu jauh, yang tersisa adalah rasa kangen. Kalau dekat, saudara tuh emang bau banget, tapi begitu jauh, yang tercium adalah keharuman yang ngalahin bunga mana pun.

Yang sedikit membuat saya sedikit sedih, ternyata Pritha juga masuk list orang – orang yang nggak suka ma kucing. Hiks... makin banyak saja jumlah orangnya di bumi ini yang merasa bawa kucing tuh nggak ada lucu-lucunya.

Cerita apalagi yah? Yang jelas banyaklah. Ada bonus tracknya gitu(. Haha..ternyata bukan cuman kaset dan CD)

Rasanya tak sopan kalau semua cerita saya beberkan semua disini. Nanti malah nggak jadi beli bukunya. Overall, cerita – cerita Pritha tidak kalah menarik dengan buku – buku yang juga diangkat dari postingan di blog. Koleksi saya sendiri belum begitu banyak sih, namun buku ini pantaslah dijadikan penghuni rak buku di rumah. yang jelas buku Pritha ini dijadikan salah satu buku acuan bagi anggota angingmammiri.org yang ingin menulis cerita gokil. sekarang angingmammiri dan pihak Gradien menerima cerita-cerita konyol karya anak makassar, yang kalau beruntung akan diterbitkan menjadi buku, seperti punya Pritha. ^_^

Sayangnya gambar cewek modis yang dijadikan sampul depan, rasanya kurang pas untuk dijadikan sebagai simbol yang mewakili Pritha. Saya malah memilih gambar cewek yang ditaruh di sampul belakang. Ekspresi wajahnya jauh lebih menggambarkan kata LEMOT yang sempat membuat saya sedikit pusing. entah apa karena ikut ketularan virus lemotnya Pritha. Haha...

Modoc


Modoc
Penulis: Ralph Helfer
Alih Bahasa: Utti Setiawati
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2007
Tebal: 419 hlm

“Tetapi kau tak boleh lupa. Kau harus bertanggung jawab, selamanya, atas apa yang telah kau jinakkan....”
-Rubah, Little Prince”

Seumur hidup baru sekali saya melihat atraksi sirkus secara langsung. Selebihnya hanya melalui layar TV. Tentu saja menyaksikan pertunjukan yang hanya berjarak beberapa meter dari bangku penonton jauh lebih seru. Setiap gerakan yang mereka lakukan, baik itu manusia maupun atraksi hewan-hewan, selalu mengundang decak kagum dan riuhnya tepuk tangan. Karena tidak semua manusia maupun hewan bisa melakukan hal –hal yang demikian. Tentunya tak lepas dari usaha keras para pelatih.

Mungkin karena alasan itulah, mengapa orang tak pernah bosan untuk mendatangi pertunjukan sirkus. Bahkan sampai detik inipun bisnis sirkus masih ada di beberapa negara. Entah bagaimana dengan nasib sirkus indonesia yang saya lihat sewaktu SD dulu.

Modoc, judul buku sekaligus nama seekor gajah yang tinggal di salah satu sirkus kecil di jerman. Bukanlah kebetulan hari lahirnya bersamaan dengan seorang anak bernama Bram di jam, hari dan tempat yang sama. mereka tumbuh dan besar bersama. tak heran jika ikatan antara keduanya terjalin yang semakin lama semakin kuat. Modoc seakan paham takdir telah memilih Bram untuk mendampinginya dan begitu pula sebaliknya.

Dari Josef, sang ayah, Bram belajar bagaimana memperlakukan dan memahami Modoc. Tak hanya soal Modoc, sejak kecil Bram dilatih untuk tidak merasa takut pada binatang-binantang besar lainnya. Karena Josef yakin di masa depan , anak laki-lakinya akan menggantikannya sebagai pelatih gajah yang tangguh. Tak ingin mengecewakan ayahnya, setiap harinya Bram memperlihatkan kemajuan.

Sayangnya semua mimpi Josef dan Bram harus kandas. Karena secara sepihak dan alasan kesehatan, Franz, pemilik sirkus, memutuskan untuk menjual seluruh wan – hewan sirkus miliknya. Tak butuh waktu lama untuk melihat mobil – mobil besar yang digunakan untuk mengangkut semuanya. Sayang pemilik yang baru tidak memperkenankan semua pelatih para hewan untuk ikut.

Keputusan mendadak seperti ini memberi pukulan telak bagi Bram dan ayahnya. Karena untuk berpisah dengan gajah –gajah yang telah menjadi bagian dari hidup mereka adala hal yang mustahil untuk dijalani. Sayangnya pemilik sirkus yang baru adala seseorang yang tak mudah untuk diyakinkan. Bahkan ketika bram memohon untuk diikutkan dalam rombongan sirkusnya.

Tak kehabisan akal, Bram akhirnya nekat untuk mengikuti rombongan sirkus baru secara diam - diam. Tak peduli apapun resiko yang mungkin timbul dan yang juga berarti harus meninggalkan orang –orang yang paling dicintainya. Yah, ikatan dengan Modoc telah begitu kuat melilit hidup Bram. Tidak ada yang pernah menduga bahkan Bram maupun Modoc akan semua peristiwa yang mereka hadapai selanjutnya, yang tak jarang nyaris merenggut nyawa mereka. Keputusan yang diambil Bram bukan sekedar menyelesaikan tanggung jawab pada Modoc ataupun memenuhi janji pada ayahnya. Karena Bram merasa kehadiran Modoc adalah bagian dari takdirnya.

Tak perlu diragukan cinta antara Bram pada Modoc. Gajah betina ini pun mengerti akan kasih sayang yang diberikan Bram. Setiap ucapan Bram dengan mudah dimengerti olehnya. Ikatan persahabatan yang kuat antara keduanya jugalah yang membuat mereka sanggup bertahan hidup diantara semua kejadian-kejadian mengerikan.

Beberapa diantara bab-bab yang mengisahkan perjalanan panjang Bram dan Modoc berhasil membuat saya meneteskan air mata. Saya sungguh tak menyangka kalau ikatan antara manusia dan hewan bisa sekuat ini.

Buku yang ditulis oleh Ralph helfer, pelatih binatang terkenal di Hollywood, diangkat dari kisah nyata. Beberapa foto Modoc pun menjadi bagian buku ini. Sayang, tidak ada keterangan gambar. Jadi nggak benar – benar tahu Bram yang mana. Walau itu tak menjadi hal yang mengurangi asyiknya membaca kisah yang mengharukan ini.

Dari hasil perkiraan, kisah Bram dan Modoc mungkin saja terjadi puluhan tahun yang lalu. Karena sekarang tak banyak lagi sirkus yang mempertontonkan keahlian para binatang. Dari wikipedia, dikatakan bahwa pertunjukan sejenis banyak menuai protes dari beberapa kalangan apalagi dari kalangan pencinta binatang. Bahkan beberapa negara sekarang melarang keras sirkus yang masih melibatkan para hewan sebagai bagian dari pertunjukannya. Walau mungkin hingga saat ini masih ada orang –orang yang berprofesi sebagai penjinak sekaligus pelatih hewan. Semoga saja tak hanya ikatan mereka bisa seperti Bram dan Modoc.

Tuesday, 15 April 2008

Review: Drunken Monster - Pidi Baiq




Sejak bisa membaca huruf tanpa terbata - bata , ketertarikan saya terhadap catatan seseorang cukup besar. Tidak peduli catatan berisi pelajaran ataupun tentang kesehariannya. Satu dua kalimat yang ditorekan di bagian paling bawah buku catatan pun tak luput dari pandangan saya. Apalagi kalau sudah bercerita suatu petulangan yang belum pernah saya lakukan maupun rasakan.

Tak heran jika buku yang berisi catatan pak Pidi Baiq ini saya pilih untuk menjadi sala satu penghuni baru rak buku saya di bulan April. Padahal sampul depannya sudah tertera beberapa peringatan seperti Kumpulan Kisah Tidak Teladan ataupun Ini Buku Berbahaya. Bahkan ilustrasi yang dipilih pun seperti gambar anak SD yang baru belajar menggambar. Yah, saya bukan orang yang menilai buku dari sampulnya.
Alasan lain selain paragraf pertama diatas adalah karena semua tulisan di buku ini adalah tulisan yang diposting di multiply.com. Tepatnya, Drunken Moster adalah blog yang dibukukan. Semua buku sejenis ini memang membuat mata saya kalap.

Buku ini selesai saya baca dalam beberapa jam setelah membuka plastik yang tadi membungkusnya. Walau tak mampu membuat saya terpingkal-pingkal ketika seperti membaca buku Raditya Dika, namun dengan mudah saya simpulkan bahwa bapak yang dulunya dekan ini jauh lebih gokil.

Lihat saja tingkah lakunya di semua kisah yang tertulis lengkap dengan ilustrasi yang tak kalah aneh. Tak peduli perempuan ataupun pria, tua maupun muda, tukang becak maupun tukang ojek semua sudah jadi korban kejailannya. Bahkan orang yang sama selalui tidak dikenalnya. Seakan tak pernah kehabisan ide, selalu ada hal baru yang mengejutkan dan membuat saya akhirnya tersenyum simpul bahkan kadang terpingkal tiba-tiba di setiap babnya.

Bayangkan saja, saat itu pak Pidi yang sedang mengendarai motor. Entah apa yang merasuki dirinya, diperjalanan menuju rumah, ia segera meminta seorang tukang becak untuk membawa motornya, sedangkan ia akan mengayuh becak sampai ke rumah. hal – hal seperti itu sepertinya terjadi dengan spontan. Tak ada perencanaan sama sekali.

Di antara kekonyolan-kekonyolan yang sepertinya tak pernah lepas dari diri Pak Pidi, ada satu, dua mungkin tiga yang membuat saya tiba-tiba terenyak dengan perubahan emosi yang begitu tiba – tiba.

Selain gokil, bapak yang satu ini juga sangat pandai berkelit. Ketika kedapatan melakukan hal-hal aneh, dia pasti akan segera mencari alasan apa saja agar semua perbuatan anehnya itu bisa tertutupi. Hanya orang – orang dekat ataupun kawan lama yang mengetahui bahwa pak Pidilah otak dari suatu insiden.

Bahkan ketika jatuh sakit pun, masih saja ada yang konyol yang dilakukannya,seperti menyuruh pembantunya emanggil tetangga hanya untuk mendengarkan ring tone Hpnya sampai membalikkan posisi TV , bahkan menulis surat cinta konyol kepada istrinya.

Dari semua hal-hal aneh yang tertuang dalam buku ini, ada satu yang membuat saya berdecak kagum. Pak Pidi terlihat sangat murah hati. Dengan mudah uang mengalir dari tangannya ke saku orang lain. Seperti hanya kejailan, ia pun tak sungkan untuk memberi rezeki yang dimilikinya kepada orang lain

Yang sedikit mengganggu adalah terkadang saya sedikit bingung dengan cara Pak Pidi bercerita, karena tak ada sensor EYD ataupun mungkin dibiarkan begitu saja oleh sang editor. Sehingga terasa ada keganjilan dalam kalimat-kalimatnya. Hmm...walaupun mungkin ini juga yang menjadi bagian dari keanehan Dan kekonyolan sang penulis itu. Melihat ini, membuat saya berpikir, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak lagi blog-blog yang dibukukan.

Buku ini memang berbahaya, ada virus tak nampak yang disebarkannya. Virus hanya akan bisa dideteksi begitu buku ini berada di tangan. Yah, jangan sampai Anda adalah korban kejailan Pak Pidi berikutnya.

Drunken Monster
Penulis : H. Pidi Baiq
Penerbit: Dar! Mizan
Cetakan: I, Januari 2008
Tebal: 204 hlm



Wednesday, 5 March 2008

Saudagar Buku dari Kabul


Saudagar Buku Dari Kabul
Penulis: Ã…sne Seierstad
(The Bookseller of Kabul)
Penerjemah: Sodia Mansoor
Penerbit : Qanita
Cetakan I : Januari 2005
Tebal: 456 hlm

Pergantian penguasa di Afghanistan memberi banyak perubahan pada peraturan yang berlaku. Dari Pemerintahan Raja Zahir Shah, Komunix, Taliban sampai akhirnya di pimpin oleh Hamid Karzai. Peperangan mewarnai setiap perubahan tersebut yang memakan ribuan korban dan memaksa banyak warga mengungsi ke negara tetangga.

Semua warga yang tetap tinggal di atas tanah yang hampir sepenuhnya kering dan berdebu tak dapat berbuat banyak. Selain mengikuti semua peraturan yang berlaku
Termasuk Sultan Khan, sang Saudagar buku. Selama hampir 20 tahun bergelut dengan toko buku miliknya, tak terhitung berapa kali ia harus menyaksikan para serdadu membakar buku buku miliknya di jalanan..

Pada saat pemerintahan Raja Zahir Shah, tak ada masalah berarti yang dihadapi oleh bisni buku milik Sultan Khan, namun begitu Afghanistan dikuasai komunis, larangan menerbitkan buku berbau teologi diberlakukan. Walaupun demikian, secara sembunyi sembunyi buku –buku terlarang tetap diperjual-belikan. Penjara dan siksaan adalah akibat yang harus ditanggungnya ketika penggerbekan dilakukan.

Peraturan kembali berubah ketika kekuasaan jatuh di tangan Taliban. Semua buku bergambar disita secara paksa dan akhirnya musnah menjadi debu karena jilatan api. Tak hanya mengenai masalah buku bergambar, hampir semua karya seni yang dianggap bertentangan dengan hukum islam hancur lebur, rata dengan tanah.
Namun itu tak membuat kecintaannya pada buku surut. Ia terus berjuang membangun bisnis yang menghidupi diri dan keluarganya.

Tak hanya Sultan Khan yang terkena imbas dari pergantian pemerintahan itu. Wanita dalam keluarganya pun tak luput semua perubahan tersebut. Sejumlah aturan yang sangat ketat membuat mereka harus membawa burqa yang menggelembung ketika mereka meninggalkan rumah. Walaupun pemakaian burqa telah dilakukan sejak dulu oleh beberapa wanita namun begitu taliban berkuasa semua wanita wajib menutupi wajahnya dengan enda tersebut. Pada saat yang sama mereka juga harus ditemani oleh muhrim mereka. Berpakaian seronok tentunya akan membuahkan hukuman berat. Selain itu para wanita dilarangkeras untuk bekerja di luar rumah. Bahkan untuk mengecap pendidikan sekali pun. Kewajiban wanita hanyalah mengurus rumah, menyediakan makanan dan pakaian.

Aturan dalam keluarga yang telah menjadi tradisi turun temurun pun sama ketatnya dengan pemakaian burqa. Anak perempuan layaknya benda yang dibarter ataupun dijual. Mereka tidak dibenarkan memilih jodoh mereka sendiri. Pernikahan mereka atur oleh kesepakatan keluarga. Harga mereka dinilai dengan sejumlah barang seperti beras, daging, minyak dll, yang mampu dibayar oleh keluarga calon suami. Itu hanya sebagian cerita dari hal –hal yang harus dialami oleh wanita wanita di sekeliling Sultan Khan. Yang mungkin menjadi gambaran bagi seluruh wanita yang berada di Afghanistan saat itu.


**

Untuk pertama kalinya saya membaca buku yang tidak hanya berfokus pada satu tokoh. Buku ini mengangkat beberapa tokoh sekaligus. Sehingga dengan membacanya saya bisa melihat dari banyak sisi.

Setelah Kite Runner yang membuat saya terisak saat membacanya, ini adalah buku kedua yang mengambil setting Afghanistan, negara yang selama ini mendapat perhatian dari seluruh dunia sejak insiden11 September.
Tak seperti Kite Runner, buku ini membuat saya sedikit marah mengetahui semua perlakuan yang didapatkan para wanita di sana saat . Apalagi mengetahui bahwa banyak di antara mereka yang tidak diperkenankan bersekolah. Allah dan Rasulullah sama sekali tidak melarang wanita untuk mengecap pendidikan. Bahkan Rasulullah tidak membatasi perkataan “Tuntutlah Ilmu Sampai Ke Negeri China” hanya untuk kaum pria.

Paad saat yang sama para wanita juga harus terkungkung dalam burqa yang membuat mereka kesulitan untuk berjalan. Hukum islam memang mengharuskan wanita untuk menutupi auratnya. Namun tidak ada larangan untuk memperlihatkan wajah dan telapak tangan. Semua itu jelas dipaparkan dalam hadis Rasulullah saw. “Wahai Asma’, seseungguhnya seorang wanita, apabila telah balig, tidak layak tanpak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya)” (HR Abu Dawud).

Sampai sekarang saya masih tidak mengerti alasan apa yang menyebabkan Taliban memberlakukan aturan yang membuat para wanita Afghanistan diselimuti kebodohan.
Ilmu saya mungkin belum sampai ke sana. Saya memang masih harus banyak membaca tentang masalah yang satu ini.

Thursday, 22 November 2007

Review: Quantum Ikhlas - Erbe Sentanu



Kebahagiaan, setiap orang mempunyai interpretasi tersendiri untuk mendefinisikan kata ini. Tak peduli apakah ia muda, tua, wanita, pria, semua berusaha dengan keras mengorbankan apapun untuk meraih satu kata yang memiliki makna yang sangat berarti itu.

Namun mengapa tak jarang usaha yang dilakukan tidak juga kunjung membuahkan hasil? Yang ada malah kelelahan yang tak berujung, pengorbanan yang sia-sia, waktu yang terbuang percuma karena untuk menghirup bau dari kebahagian saja demikian sulitnya.

Padahal di dalam Al- Quran dengan jelas memaparkan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan kesempurnaan. Ketika dilahirkan ke dunia ini manusia dilengkapi dengan potensi yang sangat besar dengan jumlahnya begitu banyak. Bukan kah sebagai ciptaan yang paling sempurna itu manusia seharusnya memiliki kehidupan yang lebih hebat, lebih sukses dalam segala hal baik karier, finansial, keluarga, kesehatan dan hubungan dengan orang lain? Mengapa kebahagian yang dicari tak juga kunjung datang?

Semua itu disebabkan karena manusia telah melupakan fitrahnya, yang selalu terfokus pada semua hal yang kita tuju. Yang selalu bahagia, yang selalu ikhlas dan berprasangka baik terhadap yang lain. Yang selalu bersyukur terhdapa apa yang didapatkannya. Sayangnya manusia membiarkan lingkungan telah membutakan mata dan hati mereka. Manusia cenderung mempercayai bahwa hidup susah dan penuh penderitaan, rezeki itu susah dan selalu tidak cukup, percaya bahwa di luar sana lebih banyak orang jahat daripada orang baik, hidup itu seperrti “judi” dan kita lebih sering kalah, dan yang paling parah, menganggap ikhlas itu susah dan sangat sulit untuk dilakukan.

So How?

Ibarat Komputer, diri manusia terdiri dari beberapa perangkat penting. Otak sebagai hardware, pikiran dan perasaan sebagai software, sementara hati nurani adalah operating system. Seperti komputer yang rentan terhadap virus, perangkat-perangkat dalam manusia pun harus diupgrade. Karena virus yang berupa ketakutan, kesedihan, keputus-asaan, kemarahan, kekurangan, kekecewaan dan ketidakpercayaan dapat menyerang kapan saja.
Melihat lebih jauh ke dalam software yaitu pikiran dan perasaan, dua perangkat inilah yang merupakan magnet yang menarik segala sesuatu dan membawanya ke dalam kehidupan kita. Segala sesuatu di sini adalah semua hal yang terlintas di pikiran dan perasaan kita. Ia tak peduli apakah itu hal yang kita inginkan ataukah kita tidak sukai mapun kita hindari. Maka hendaknya lah kita memperhatikan semua hal yang kita pikirkan termasuk semua kata yang terucap. Jadi, pikirkanlah hanya yang benar – benar kita inginkan.

Namun mengapa keinginan kita berbeda dengan yang kita dapatkan?

Ternyata semua itu karena dalam diri kita masih terdapat kecenderungan untuk berfokus pada hal-hal yang tidak kita inginkan. Berhentiah mengeluh dan berfokuslah hanya kepada semua yang kita inginkan. Jika ingin kaya, maka berfokuslah pada keberlimpahan. Jika ingin sembuh, berfokuslah pada kesehatan.

Memang tidak mudah untuk mengubah kebiasaan tersebut. Namun tidak berarti tak ada jalan keluar. Buku yang tercetak dengan tinta hijau ini memperkenalkan teknologi Ikhlas. Tuntunan yang akan membawa kita mengenal lebih jauh tentang jati diri kita sendiri.
Bagaimana meraih tingkat keikhlasan?

Melalui sebuah alat yang disebut sebagai Elektro- Ensefalogram (EEG), terdeteksi 4 gelombang otak. Salah satunya adalah Aplha. Gelombang ini dideteksi pada orang yang sedang rileks, merenung ataupun berkhayal. Gelombang otak ini memudahkan kita untuk menciptakan rasa ikhlas di hati. Semakin mudah masuk ke gelombang Alpha, maka semakin mudah pula hidup kita. Baikdari urusan bisnis, karier, percepatan proses belajar, penyembuhan diri sendiri, ataupun hubungan dengan orang lain. Tentu saja yang paling utama adalah memudahkan kita untuk berdoa dan berdzikir.

Gelombang otak ini pula yang membuka pintu masuk ke alam bawah sadar. Diungkapkan di banyak buku, alam bawah sadar memiliki kekuatan yang jauh lebih besar yaitu sekitar 88 % dibanding dengan alam sadar kita yang hanya sebesar 12 %.

Alam bawah sadarlah yang memiliki peranan penting. Alam bawah sadarlah yang sebenarnya mengendalikan hidup kita. Apa yang kita tanamkan di alam bawa sadar itulah yang nantinya akan kita tuai dalam kehidupannnya nyata.

Sayangnya, lebih banyak orang yang membiarkan otaknya memancarkan gelombang betha (alam sadar) yang membuatnya tak jarang merasakan rasa cemas, was-was, khawatir, bahkan stress. Hal itu juga disebabkan karena tidak seimbangnya kerja antara dua belahan otak pada neo-cortex. Otak kiri mendapat bagian untuk berpikir analitis dan logis sedangkan otak kanan melingkupi kemampuan spasial, melukis, bermusik. Kerja otak kiri dan otak kanan berbeda pada setiap orang. Ada yang didominasi oleh otak kirinya atau yang menonjol adalah otak kanannya.Dan tak jarang jika seseorang menonjolkan salah satu bagian otaknya, maka belahan otak yang lain pun terabaikan Tak heran mengapa perasaan negatif, prasangka buruk selalu muncul dipermukaan. Sehingga menyeimbangkan kedua fungsi otak menjadi sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang.

Dengan bantuan CD digital Player yang disisipkan pada buku ini, menggeser gelombang otak betha menuju alpha akan terasa sangat mudah.

Ketika alam sadar dan bawah sadar menjadi sinkron, meraih apapun yang kita inginkan bukan lagi menjadi angan –angan semata karena pikiran , perasaan dan perbuatan telah selaras dan seirama. Membuat rasa ikhlas tidak lagi menjadi sesuatu yang sulit untuk diraih. Dengan mencapai keihklasan, hijab antara kita dengan Sang Pencipta tidak akan terasa lagi.

***

Sebelum selesai melahap buku ini, perdebatan demi perdebatan tentang peran pikiran dan perasaan tak pernah berhenti. Namun setelah semua selesai akhirnya saya bisa mengerti pendapat-pendapat yang dikemukan oleh teman saya. Maklum saja saat itu saya baru saja selesai membaca buku Rhonda Byrne, The Secret.

Kendala membaca buku ini hanya satu, digital prayer-alphamatic brainwavenya harus ikut. Setelah berkali kali nyoba, akhirnya bisa saya dengar dari HP. Terima kasih kakak Ephie.

Walau masih ada yang mengganjal mengenai pembahasan Erbe Sentanu mengenai peran jantung. Saya masih belum bisa terima. Karena jantung tidak lain hanya organ,tidak lebih

Quantum Ikhlas - Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati
Penulis: Erbe Sentanu
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan: IV, Juli 2007

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...