Showing posts with label Darren Shan. Show all posts
Showing posts with label Darren Shan. Show all posts

Wednesday, 20 June 2012

Book Review: Blood Beast - Darren Shan

Mengunci diri di ruang kerja Dervish. Napasku pendek-pendek, sesak. Gemetar hebat. Aku masih mual dan pusing, tapi mungkin karena aku ketakutan. Aku memaksa diri untuk menarik napas dengan normal, pelan-pelan. Ketika sudah merasa bisa mengendalikan diri, aku mengamati pantulanku di cermin kecil, mencari tanda-tanda. Apakah aku sedang berubah menjadi serigala siluman?
Aku tidak tahu...


Sejauh ini Grubbs Grady berhasil tidak terjangkit kutukan keluarga, tapi ketika dia mulai mengalami gejala-gejala mengejutkan selagi bulan sedang purnama, dia takut rahang-rahang takdir tengah terbuka dan hendak menelannya bulat-bulat.


Dia telah mengelabui kematian, mengalahkan iblis, melanjutkan hidupnya. Tapi Grubbs tercabik antara dunia sihir dan gen serigalanya. Mampukah dia melawan binatang dalam dirinya atau dia akan menjadi korban berikutnya dari darah keturunan yang ternoda?

~~~

Lycanthtopy, kutukan yang menimpa garis darah keluarga Grubss. Entah sejak kapan. Tak ada yang dapat mengingatnya. Yang pasti, banyak di antara mereka yang berubah menjadi manusia serigala. Hal tersebut telah berlangsung dari generasi ke generasi. Ketika itu terjadi, mereka akan kehilangan kewarasan dan menjadi binatang liar yang hidup untuk membunuh.

Tidak seperti serigala siluman di film-film, yang dapat kembali ke wujud normal, siluman serigala di keluarga Grubbs akan tetap seperti itu selamanya. Mereka hanya memiliki beberapa bulan sebelum perubahan total. Ketika bulan purnama tiba , mereka seketika akan berubah menjadi makhluk mengerikan. Dan tak ada jalan kembali.

Grubbs tahu betul bahwa tak ada cara untuk menghilangkan kutukan kecuali satu dengan satu cara. Meminta "bantuan" dari Lord Loss, sang master iblis yang kejam dan licik. Dalam sekejap, Lord Loss mampu menghilangkan kutukan. Namun hal itu terjadi setelah menempuh pertandingan catur lima set sekaligus. Hal semacam ini telah ditempuh oleh ayah dan ibu Grubbs ketika hendak menghilangkan kutukan pada Gret, kakak perempuan Grubbs. Sayangnya mereka kalah dalam permainan yang berakibat sangat fatal.

Sekedar catatan, penyakit turun temurun ini menyerang di usia remaja. Ada yang mencapai usia dua belas, tiga belas bahkan tujuh belas atau delapan belas. Hal ini yang membuat Grubbs gelisah. Karena kemungkinan untuk berubah menjadi siluman serigala masih sangat besar. Rasa tersebut semakin menjadi ketika mimpi-mimpi buruk mulai menghantuinya. Mimpi di setiap malamnya semakin parah. Sampai akhirnya Grubbs sadar, semua gelaja yang dirasakan dan dialaminya bukan sekedar mimpi. Nampaknya kutukan turun temurun tak dapat dihindari.

Grubbs yang malang. Setelah kejadian yang menimpa ayah, ibu dan Gret, hidupnya tidak pernah menyenangkan. Bahkan ketika ia berada dalam lindungan Dervish, pamannya. Di buku kelima seri Demonata ini, tergambar jelas bagaimana lelahnya Grubbs menghadapi malam-malam yang dipenuhi hal yang menyeramkan. Sangat disayangkan, proses pengambaran yang demikian nyaris memenuhi hampir sebagian besar cerita. Saya nyaris bosan dibuat.

Setelah Kernel, Slawter dan berlanjut dengan petualangan Bec, saya memang sangat berharap akan menemukan petualangan yang lebih seru. Apalagi setelah mengetahui buku ini diceritakan dari sudut pandang Grubbs. Sayangnya bagian paling ditunggu hanya mendapat jatah beberapa lembar. Selebihnya, cerita Grubbs hanya berputar di bagian itu-itu saja. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa masalah ini baru diangkat permukaan, setelah banyaknya hal yang terjadi.

Mengenai perkembangan karakter, terlihat perubahan yang cukup mencolok dalam diri Grubbs. Tidak hanya dari kehidupan sosialnya di sekolah, namun juga kemampuan sihir. Sayangnya yang terakhir itu tidak banyak menolong di saat-saat genting. Sungguh membuat saya gemas karennya.

Pindah ke Dervish, paman Grubbs masih tetap keren dengan sihirnya. Sedikit bocoran, terdapat beberapa gangguan yang menyebabkan perubahan sikap Dervish maupun Grubbs. Sedih melihat bagaimana hubungan mereka di akhir cerita.

Beberapa lembar terakhir yang menimbulkan banyak pertanyaan, membuat saya semakin tidak sabar untuk membaca buku keenam. Semoga bisa cepat terbit. Besar harapan di buku berikutnya, ada titik terang untuk semua karakter yang muncul di buku-buku sebelumnya.

Bagi yang belum pernah membaca satu pun seri Demonata, buku ini bisa dilahap tanpa harus membaca seri sebelumnya. Karena setiap bukunya berdiri sendiri. Namun sebagai pencinta buku-buku Darren Shan, setiap buku tentunya akan sayang untuk dilewatkan.

Untuk masalah kesalahan cetak, dibanding buku-buku sebelumnya, Blood Beast terasa lebih bersih.

Cover

Lagi-lagi kecewa dengan sampulnya. Kemungkinan adanya perubahan, semakin kecil. Yah tidak dapat sepenuhnya menyalahkan sang desainer sampul, karena sampul aslinya pun tidak jauh beda. Namun kalau hanya untuk menggambarkan isi buku keseluruhan yang menyeramkan, saya yakin masih banyak pilihan yang menarik. Mengingat di luar sana masih banyak pembaca yang memilih buku berdasarkan sampul depannya. Jangan sampai hanya karena sampul, mereka jadi semakin jauh dari buku-buku yang ditulis oleh Darren Shan.

Blood Beast
Judul Indonesia: Haus Darah
Penulis: Darren Shan
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Desember 2011
Tebal: 312 hlm

Thursday, 19 May 2011

Review: Bec - Darren Shan



Seakan tak pernah habis, iblis-iblis bertampang mengerikan terus bermunculan dengan rasa lapar mereka tak pernah terpuaskan. Mereka mendatangi pemukiman penduduk dan menyebarkan mimpi buruk. Menyerang dan membunuh mereka yang lengah. Ribuan korban berjatuhan. Anak-anak, perempuan bahkan pria dewasa sekalipun. Satu demi satu klan musnah. Banyak di antaranya yang hanya menyisakan rumah-rumah tak berpenghuni yang sebagian besar porak-poranda. Hanya mereka yang memiliki persenjataan, kemampuan bela diri, dan sedikit sihir yang nampaknya mampu bertahan. Setidaknya bisa hidup lebih lama.

Adalah Bec, anak perempuan yang dididik menjadi penyihir wanita. Ia diharapkan akan tumbuh besar sebagai peyihir yang cakap yang mampu membantu klan. Daya serap Bec sangat cepat, ia dengan mudah menghapalkan mantera, menyembuhkan mereka yang terluka ataupun memperdaya satu dua iblis dengan sihirnya. Sayangnya, tidak seperti Banba, gurunya, kemampuan sihirnya masih dangkal dan lemah. Sihir yang ia miliki sekarang tidak mampu melindungi seluruh anggota klan.

Suatu hari, klan kedatangan anak laki-laki yang sangat gesit dan mampu berlari sangat kencang. Tak banyak kata-kata yang dapat diucapkannya. Semua pertanyaan hanya dijawabnya dengan cengiran ataupun satu dua patah kata yang diucapkan berulang-ulang. Walau aneh anak ini lah yang mempertemukan anggota kawanan Klan termasuk Bec bertemu dengan pria bernama Drust, seorang druit.

Di bawah pimpinan Drust, Bec banyak belajar mantera baru. Walau mengalami banyak kesusahan, Bec bisa mengasah dan meningkatkan kemampuan sihirnya. Setelah menghabiskan beberapa hari bersama,Bec dan kawanan Klan sepakat untuk memulai petualangan bersama sang druit. Perjalanan menelusuri daerah-daerah berbahaya ini sangat melelahkan. Para iblis pun setiap saat menghantui di setiap kesempatan. Mereka tahu betul bahwa misi yang mereka emban sangat berat. Namun mereka tidak dapat berhenti dan kembali pulang. Karena hanya inilah satu-satunya kesempatan untuk menghalau para iblis, melindungi klan yang tersisa dan mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Dan yang jauh lebih penting, menggagalkan tujuan para Demonata.

Sebelum membaca buku ini, sempat terpikir saya akan menemukan beberapa tokoh dari seri sebelumnya. Sayangnya saya tidak menemukan siapa-siapa kecuali sang Demonata dan familiarnya, Vein. Saya sempat bingung dan bertanya-tanya mengenai setting waktu dan tempat. Ternyata ini,telah dipikirkan oleh sang penulis.Di halam terakhir, Darren Shan menjelaskan semuanya. Menjadi alasan mengapa Grubbs, Dervis ataupun Kernel sama sekali tidak disebut-sebut.

Seperti buku-buku sebelumnya, buku keempat ini juga memberikan banyak kejutan. Darren Shan tidak memberi petunjuk sama sekali, kemana ceritanya mengalir. Namun dibandingkan buku yang lain, Bec benar-benar menguras emosi. Saya tidak pernah menyangka akan akhir cerita yang membuat saya menitikan air mata. Untuk pertama kalinya Lord Loss membuat saya patah hati. Dari buku ini juga terlihat dengan jelas, sejak dulu master iblis yang penuh intrik dan licik ini punya ratusan rencana yang telah disusun sangat rapi.

Bec, anak perempuan pertama yang menjadi tokoh utama di buku Darren Shan menjadi tokoh yang paling saya sukai. Tingkah laku dan pemikirannya menjadi salah satu alasan. Seperti ikatan Grubbs dan keluarganya, penggambaran Bec dengan tokoh-tokoh lain juga diceritakan dengan sempurna. Saya dengan mudah bisa merasakan emosi yang terjalin antara mereka.

Untuk penggemar Demonata, jangan sampai melewatkan buku ke empat ini. Karena satu demi satu puzzle dari tiga buku sebelumnya mulai tersusun dan membentuk gambar yang lebih jelas. Dari masalah kutukan keluarga sampai permainan catur yang digemari sang Demonata. Di buku ini juga terjawab mengapa dari tahun ke tahun jumlah iblis tak pernah berkurang. Bahkan ketika kawanan mereka telah banyak dibunuh oleh manusia dalam pertarungan mempertahankan hidup.

Tak sabar rasanya membaca buku selanjutnya.

Cover
Rasanya saya harus berhenti berharap akan menemukan cover yang menarik untuk seri Demonata. Mengingat buku pertama hingga ketiga pun tidak jauh beda. Setidaknya seramnya sosok salah satu Iblis digambarkan dengan baik. Namun untuk cerita yang ditulis oleh Darren Shan, tidak peduli disampul dengan cover yang sangat jelek sekalipun, saya pasti membacanya.

4/5

Penulis: Darren Shan
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2011
Tebal: 352 hlm
Sumber: Koleksi Pribadi

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...