Wednesday, November 19, 2008

Review: Half of A Yellow Sun- Chimamanda Ngozi Adichie


Half of A Yellow Sun
Penulis: Chimamanda Ngozi Adichie
Penerjemah: Rika Iffati
Penerbit: Hikmah
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 765 hlm

Spoiler Alert!!!

Nigeria, tidak banyak yang saya ketahui tentang negara ini, kecuali bahwa negara tersebut berawalan dengan huruf N dan terletak di salah satu benua Afrika, lain tidak. Sehingga Half of A Yellow Sun benar – benar membuka mata saya. Walau disajikan dalam bentuk fiksi namun latar belakang kejadiannya sungguh pernah terjadi. Dulu ada satu perang antara suku yang menelan begitu banyak korban. Seakan nyawa seseorang tak berarti sama sekali. Kelaparan dan ketakutan tak berhenti menyelimuti mereka yang tersisa.mereka bertahan hidup melindungi orang – orang yang mereka sayangi, dengan sedikit harapan bahwa semua pertikaian akan segera berakhir. Setidaknya itu yang saya lihat Ugwu, salah satu tokoh di buku ini.

Siapa Ugwu?
Sebelum perang terjadi, Ugwu hanyalah anak laki – laki berusia tiga belas tahun yang memutuskan untuk mengambil tawaran bibinya untuk bekerja sebagai pelayan di sebuah rumah seorang profesor universitas.

Dari cerita bibinya, Ugwu mengetahui bahwa Tuan, pria yang membutuhkan pelayan laki – laki untuk bersih – bersih ini, agak sedikit sinting, sering berbicara sendiri di kantornya, tak pernah menjawab ketika di sapa karena tenggelam dengan tumpukan buku di hadapannya. Namun begitu berdiri langsung di hadapan Tuan, Ugwu tahu ia akan menyukai pria yang memaksa untuk dipanggil dengan namanya, Odenigbo. Tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa Tuan adalah pria yang baik seperti yang dikatakan bibinya. setidaknya dari perlakuan istimewa terhadap dirinya tidak didapatkan oleh para pelayan di rumah lain.

Berminggu – minggu Ugwu mempelajari ritme kehidupan Tuan dengan cermatnya. Mengambil Daily Times dan Rennaissance yang ditaruh disebelah teh dan roti tuan, mencuci kendaraan sebelum Tuan berangkat dan pergi ke lapangan tennis, memastikan bahwa air panas tersedia untuk membuat teh, menyikat lantai, bahkan berusaha untuk menyajikan makanan lezat setiap harinya. Ugwu benar – benar menikmati kehidupannya melayani Tuan. Ia bahkan bertekad untuk berbuat lebih, sehingga Tuan akan merasa punya alasan kuat untuk terus mempekerjakannya. Termasuk menyimak setiap obrolan teman – teman Tuan yang berkunjung pada akhir pekan. Walau awalnya tak pernah benar – benar mengerti apa yang mereka diskusikan. Dari obrolan demi obrolan setiap pekannya, Ugwu mulai mempelajari karakter mereka. Sehingga ia tahu bahwa tak perlu khawatir akan ada yang menggeser kedudukannya.

Sayang perasaan aman itu hanya berlangsung singkat, karena empat bulan kemudian, seorang wanita hadir dalam kehidupan Tuan. Ollana begitu wanita yang namanya, namun Tuan lebih sering memanggilnya nkem,milikku.Dari panggilan itupun Ugwu tahu bahwa Ollana tidak hanya menguasai pikiran Tuan, tapi juga menguasai daerah kekuasaannya selama ini dan harus siap diperintah untuk melakukan ini itu. Rasa sedih segera mengerubungi Ugwu, karena ia tak pernah berpikir untuk membagi tugas melayani an mengurus Tuan. Namun itu hanya terjadi dalam waktu singkat. Karena ia segera tahu bahwa Ollana tak pernah berniat menyingkirkan dirinya. Bahkan banyak hal yang baru yang dipelajari dari nyonya yang baru ini. Tak butuh waktu lama untuk melihat kebaikan hati Ollana.

Beberapa tahun berlalu, bertiga bersama Tuan dan Ollana, yang kemudian disusul dengan kehadiran Baby, anak perempuan lucu, Ugwu semakin menyukai kehidupannya baru bersama mereka. Sampai hari itu datang. TV dan Radio tak henti – hentinya mengabarkan berita tentang Kudeta. Situasi di pemerintahan berangsur menjadi morat-marit. Bandara dan bebrapa kantor pemeritahan mendadak ditutup. Ketegangan menyebar di hampir setiap sudut. Tak terkecuali di rumah Tuan. Tak hanya dari diskusi kerabat Tuan, bahkan Ollana pun semakin gusar memikirkan paman, bibi dan sepupunya di Kano ataupun ayah, ibu dan saudara kembarnya, Kainene bersama suaminya Richard, di Lagos. Apalagi setelah kudeta kedua yang beberapa minggu berlalu, korban – korban mulai berjatuhan. Pembantaian seakan serentak dilakukan di beberapa tempat.


Tuan, Ollana, Ugwu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kekerasan yang tak mengenal rasa kemanusiaan itu terjadi. Bahkan trauma nyaris melumpuhkan Ollana dalam waktu lama. Ketakutan terus menghantuinya, bahkan saat orang – orang yang menguasai Nigeria Timur mendeklarasikan Republik Biafra. Karena seperti dugaan banyak orang, ini adalah awal sebuah perang.

Ironis memang, walaupun Biafra telah berdiri, namun orang – orang harus tetap mengungsi karena kenyataannya tentara Biafra tak sanggup menghalau gempuran balik dari pihak militer Nigeria. Tak terkecuali Tuan, Ollana, dan Ugwu. Mereka harus meninggalkan Nsukka. Meninggalkan rumah mereka untuk lari menyelamatkan diri. Mengungsi dari satu tempat ke tempat lain. Karena saat itu, seakan tak ada tempat yang aman untuk berlindung dari pembantaian. Korban – korban baru terus berjatuhan. Seakan peperangan itu tak akan pernah berhenti. Bahkan kelaparan menjadi momok yang yang menakutkan untuk setiap orang yang bertahan di Biafra.

Dengan tertatih – tatih, masing-masing dari mereka berusaha untuk saling melindungi dan menjaga. Sambil terus berharap keadaan akan menjadi lebih baik. Walau hanya tidak banyak yang selamat, namun tak sedikit yang akhirnya berhasil melewati tiga tahun yang sungguh melelahkan itu.

Tak heran jika buku ini menerima Orange Priza di tahun 2007. Setiap bab didalamnya memiliki sesuatu yang menarik perhatian. Tak hanya mengenai hubungan setiap tokoh namun juga mengenai latar belakang Perang Biafra- Nigeria tahun 1967-1970.
Adichie, sang penulis, memiliki cara yang unik untuk membelah – belah cerita. Walau begitu para pembaca tidak akan kehilangan track bahkan ada sedikit sisipan yang membuat semuanya mengerti apa yang sebenarnya terjadi di Nigeria. Bahkan saat sebelum perang saudara itu terjadi.

Sata tak perlu banyak komentar lagi, yang jelas satu lagi buku yang pantas dan seharusnya ada di salah satu rak buku di rumah.