Saturday, April 24, 2010

Review: Joshua Joshua Tango - Robert Wolfe



Hidup Marcel Groen beberapa tahun belakangan memang bisa dibilang tidak menyenangkan. Sejak ditinggal ibunya ke india, ia harus hidup dengan kasih sayang seorang ayah yang sangat sibuk dengan penelitiannya. Semua makin parah dengan kedatangan Meurouw Kramps. Awalnya wanita yang berprofesi sebagai pekerja sosial itu datang untuk memberi konsultasi. Namun akhirnya ia lebih sering ikut campur dalam kehidupan Marcel dan ayahnya. Yang mengesalkan, Kramps sering sekali menyudutkan Marcel. Bahkan untuk hal kecil sekalipun. Tak heran jika Marcel tak menyukai wanita yang semakin lama semakin sering berkeliaran di rumah Marcel.

Di sekolah, ternyata tidak kalah buruknya. Marcel selalu jadi bulan-bulanan. Nampaknya tak seorang pun yang mau jadi temannya. Yang membuatnya sangat sedih, ia tak pernah sekalipun diajak untuk bermain. Bahkan ketika tim sepakbola sekolahnya kekurangan orang. Marcel jadi sakit hati dibuatnya. Selama ini ia memang hanya sering mencobanya lewat game di komputer. Tapi Marcel sungguh-sungguh ingin bermain.

Tak berhenti sampai di situ,ada dua anak laki-laki yang selalu mengerjai Marcel setiap pulang sekolah menjadikan dunia semakin tidak ramah. Bagi Ed dan Luc, Marcel adalah mangsa empuk untuk ditonjok dan dihajar dengan pitingan judo yang mereka ciptakan sendiri. Pernah suatu kali, mereka berhasil melemparkan Marcel ke sungai. Kemalangan yang membuat Marcel harus menghindari kedua bersaudara penuh racun itu.

Sampai suatu hari, Professor Groen, Ayah Joshua, membawa pulang seekor kura-kura raksasa, yang panjangnya lebih dari 1 meter. Tidak hanya dari ukurannya yang membuat Marcel terkejut namun juga karena mengetahui bahwa kura-kura Brasil itu diam-diam bisa berbicara. Walau hanya kepada dirinya.

Namun tak butuh waktu lama untuk menyingkirkan rasa canggung. Dalam waktu singkat, Marcel dan Joshua menjadi sangat akrab. Tak ada lagi Marcel yang kesepian karena kini hari-harinya menjadi lebih menyenangkan. Bersama Joshua, Marcel melakukan banyak hal seru. Ia juga belajar banyak hal dari binatang yang sangat menyukai milkshake cacing. Walau mereka harus melakukannya secara diam-diam. Karena setiap gerak-gerik Joshua diamati oleh sang Professor.

Tak tanggung-tanggung, sebuah Neuromatascanner, sebuah sensor, di gunakan untuk mengetahui aktivitas otak kura-kura yang ditubuhnya dipenuhi warna hijau, cokleat, garis kuning di mana-mana serta titik – titik berwarna biru muda. Namun itu bukan masalah besar yang menghalangi Joshua dan Marcel untuk bersenang-senang.

~~

Menyesal rasanya baru membaca buku ini sekarang. Padahal saya telah memilikinya sejak dua tahun silam.Buku ini memang diperuntukan untuk anak-anak, namun tetap seru untuk dinikmati oleh siapa pun, tak terkecuali orang dewasa. Bahkan ketika buku ini dipenuhi dengan begitu banyak typo, saya tidak merasa terganggu sama sekali. Karena kesalahan yang satu ini juga yang menjadi daya tarik tersendiri.

Walau agak sedikit bingung ketika berhadapan dengan bab yang membahas tentang pertandingan sepak bola yang diikuti oleh Marcel,banyak hal yang membuat saya memilih untuk menuntaskannya sampai akhir. Salah satunya adalah tingkah dan ucapan Joshua yang lucu, yang membuat saya tak dapat menahan tawa. Padahal awalnya kura-kura yang satu ini terlihat sangat konyol. Tak hanya lucu, terkadang ada kata-kata Joshua yang membuat saya terenyuh.Tidak salah menjadi buku ini jadi salah satu koleksi.

Joshua Joshua Tango
Penulis: Robert Wolfe
Penerjemah: Monique Soesman dan Maya Sutedja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 384 hlm

Monday, April 19, 2010

Review: Dead Until Dark - Charlaine Harris



Satu lagi buku yang bercerita tentang vampir. Berbeda dengan buku yang juga mengangkat tema yang sama, keberadaan mahkluk malam penghisap darah ini tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Sebaliknya mereka dengan mudah masuk dan berbaur dalam kehidupan manusia. Semua itu dikarenakan satu penemuan muktahir di Jepang berupa darah sintetis. Yang memungkinkan para vampir bertahan hidup tanpa harus menjadikan manusia sebagai mangsa mereka.

4 tahun sudah sejak darah sintetis itu dijual bebas di pasaran. Para vampir bebas berkeliaran. Selama itu pula Sookie Stackhouse kedatangan seorang vampir di kotanya, Bon Temps.

Sookie, wanita muda cantik yang menjadi tokoh utama di buku ini. Ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah dan kini bekerja sebagai pelayan di Bar Merlotte. Dari luar Sookie nampak seperti perempuan berambut pirang lainnya. Walau sebenarnya ia jauh lebih cerdas dari apa yang orang –orang pikirkan. Toh hampir semua orang telah menyisipkan kata “gila” menjadi nama tengahnya.

Semua itu hanya karena kelebihan yang lebih sering disebutnya kelainan yang ia miliki.Sookie dengan mudah mengetahui apa saja yang terlintas dibenak orang lain. Di luar sana mungkin banyak yang berpikir bahwa hal itu merupakan sesuatu yang hebat. Namun tidak demikian dengan Sookie. Ia bahkan berharap tak pernah memilikinya. Karena kelebihan ini lebih sering membuat merasa kelelahan. Bagaimana tidak, Sookie harus berusaha keras untuk menghalangi setiap suara dari pikiran orang lain yang biasanya datang seperti serangan bertubi-tubi.

Tak hanya itu, kemampuannya ini berdampak besar di kehidupan sosialnya. Cap “gila” yang dibubuhkan padanya,jangankan berkencan, teman dekat pun Sookie tak punya. Beruntung masih ada segelintir orang yang tidak berpikiran seperti kebanyakan orang di kota itu. Adalah Adele, neneknya dan Sam, bos pemilik Bar Merlotte’s.
Mimpi yang menjadi nyata

Tak ada pertanda khusus yang didapatkan Sookie, saat seorang pria melangkahkan kakinya di Merlotte’s malam itu. Tak butuh waktu lama bagi Sookie untuk mengetahui bahwa pria berwajah sangat pucat itu adalah vampir.
Keberuntungan nampaknya mengelilingi wanita bermata biru ini. Karena vampir itu memutuskan untuk duduk di meja yang menjadi tanggung jawabnya. Satu hal yang membuatnya nyaris memeking girang adalah ketika mengetahui pikiran pria itu tak dapat dibacanya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus kenyataan yang membuat Sookie ingin mengenal lebih jauh pria yang mengenalkan dirinya sebagai Bill Compton.

Bersamaan dengan itu,peristiwa pembunuhan terjadi di Bon Temps. Tak hanya satu, dua, tiga, tapi empat pembunuhan terjadi. Tak banyak bukti yang membuat para warga Bon Temps menjadi tersangka. Namun Sherrif dan seorang detektif mulai membuat list orang –orang yang patut dicurigai. Yang membuat Sookie sangat terkejut adalah ketika mengetahui orang-orang terdekatnyalah yang masuk dalam list tersebut.

Tak tinggal diam, Sookie berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang membuat teror berkepanjangan bagi setiap warga Bon Temps ini. Walau membuatnya harus melibatkan diri ke tempat-tempat yang cukup berbahaya. Tidak hanya harus berpacu dengan waktu, ia juga harus ekstra hati-hati, karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga mengincar dirinya.

~~~

Seru! Satu kata untuk buku ini. Tak terasa buku dengan jumlah 402 halaman itu selesai begitu saja. Walau cover buku ini sedikit membuat saya kecewa begitu melihatnya pertama kali, tapi tidak mengurangi asyiknya kisah buku tentang vampire yang satu ini. Tak heran jika HBO akhirnya mengadaptasinya menjadi serial tv dengan judul True Blood.

Rasanya tak sabar menunggu buku kedua. Walau tidak lagi diterbitkan oleh penerbit Kantera, saya berharap hasil terjemahan buku berikutnya tidak kalah dengan buku pertama.

3/5

Dead Until Dark
Penulis: Charlaine Harris
Penerjemah: Pujia Pernami
Editor: Alika Chandra & Ary Nilandari
Penerbit: Kantera
Cetakan: I, 2010
Tebal: 402 hlm

Wednesday, April 14, 2010

Review: Sebastian Darke: Prince of Fools - Philip Caveney


Alexander adalah seorang pelawak kawakan di kerajaan Cletus. Semua lelucon, sindiran dan ceritanya mampu membuat ruangan istana penuh dengan ledakan tawa. Tak heran dengan kemampuannya itu, ia sanggup member kemewahan kepada istri dan Sebastian,anak laki-lakinya.

Sayangnya keadaan itu hanya terjadi beberapa tahun. Raja Cletus mangka dan diganti dengan putranya Daniel yang ternyata tak mewarisi sedikitpun selera humor ayahnya. Sehingga tak perlu heran jika Alexander kehilangan pekerjaan dan semua kemewahan yang didapatkannya selama ini. Kehidupan keluarga kecil itu pun berubah drastis. Walau telah mencoba untuk memulai peruntungan di kedai-kedai minuman ataupun di gedung teater music, ternyata pendapatannya tak cukup untuk menghidupi keluarganya.

Sampai suatu hari, ia mendengar kabar tentang kebaikan Raja Septimus, pemimpin tertinggi kota Keladon. Alexander tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia berniat untuk menawarkan jasanya. Tak peduli jarak yang akan ditempuhnya. Segala sesuatu pun dipersiapkan. Termasuk berlatih berhari-hari tanpa henti, siang dan malam. Saking seriusnya, Alexander lupa akan kesehatannya sendiri. Suatu pagi, ia ditemukan oleh istrinya tergeletak pingsan.Pria yang menikahi seoran peri itu teresang demam tinggi. Malang bagi ketiganya, demam itu tak kunjung sembuh dan parahnya membawa Alexander pada kematian.

Sepeninggalan sang ayahnya, Sebastian merasa tanggung jawab akan keberlangsungan keluarga berasa di tangannya. Tak ada profesi yang terpikir selain mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang pelawak. Sayang, tak sedikitpun bakat sang ayang yang mengalir dalam daram Sebastian. Bukannya lucu, lelucon yang dilontarkannya cenderung membosankan. Tak peduli kemampuannya menghafalkan semua lelucon-lelucon dengan sangat baik. Dan Sebastian sadar betul akan hal itu.

Namun keadaanlah yang membuat Sebastian nekat untuk melanjutkan rencana ayahnya untuk mengadu nasib di kota Keladon. Walau tahu bahwa perjalanan ini sangat berbahaya. Bersama Max, Buffalope miliknya, ia pun memulai perjalanan.

Perjalanan yang mereka tempuh terasa sangat melelahkan. Bekal persediaan yang dibawanya semakin menipis. Dan sialnya mereka diserang kawanan Luper liar yang nyaris membuat nyawa mereka melayang. Beruntung, mereka di tolong oleh Golmra Corlnelius , kesatria ahli tempur, yang ternyata juga hendak mengadu nasib di kota yang sama.

Setelah saling mengenal, akhirnya mereka sepakat untuk menempuh perjalanan dan menjemput mimpi. Dengan harapan akan terjadi perubahan nasib. Sayangnya, mereka tak tahu bahwa bahaya yang tak sesungguhnya sedang menunggu di sana.

~~
Untuk buku yang mengkategorikan dirinya dalam genre fantasi, buku ini kekurangan banyak bumbu. Terlepas dari mahkluk-makhluk ajaib sang Bufaloppe, buku ini sangat miskin akan unsur magis. Jadi pembaca yang benar-benar menyukai buku fantasi tak bisa berharap banyak

Namun satu kelebihan buku yang telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa asing dan mendapat beberapa penghargaan seperti Waterstone Children’s Book, Stockholm Prize dan Coventry Inspiration Book award adalah sisi humor yang sangat tebal. Saya benar-benar terhibur setiap kali membaca semua percakapan yang melibatkan Max di dalamnya. Binatang peliharaan Sebastian ini sungguh kocak. Bahkan sempat terpikir seharusnya Max lah yang berdiri di atas panggung.

Sebastian Darke: Prince of Fools
Penulis: Philip Caveney
Penerjemah: Aan
Editor: Fransisca Goenarso
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 356 hlm