Monday, November 7, 2011

Review: Size 12 Is Not Fat - Meg Cabot

Heather Wells, mantan penyanyi pop idola remaja, telah sampai pada titik jenuh: bosan menyanyikan lirik lagu ciptaan orang lain, tapi produsernya tidak mau menandatangani kontrak baru untuk lagu-lagu ciptaannya sendiri. Keadaannya diperparah dengan ayahnya dipenjara, ibunya kabur ke Buenos Aires bersama seluruh isi tabungan putri satu-satunya itu, dan Heather tampaknya tidak bisa berhenti membenamkan diri dalam kesedihannya dengan melahap cokelat KitKat. Puncaknya, tunangannya Jordan Cartwright telah menggesernya---dari tangga lagu maupun dari ranjangnya---dan menggantikannya dengan bintang pop nomor satu terbaru Amerika, Tania Trace.

Heather lalu mendapatkan pekerjaan di asrama
New York College
---tak jauh dari tempat tinggal sementaranya di rumah Copper---temannya sekaligus kakak mantan tunangannya yang sangat baik kepadanya. Kelihatannya keadaan mulai membaik... setidaknya sampai gadis-gadis di asrama tewas satu per satu dalam waktu berdekatan. Selancar lift merupakan penjelasan resmi dari administrasi kampus mengenai penyebab kematian para gadis itu, tapi Heather punya kecurigaan lain. Dengan bantuan setengah hati dari Cooper, Heather berusaha menyelidiki kematian-kematian tersebut, tanpa menyadari itu bukan hanya sekadar untuk menjawab rasa ingin tahunya, melainkan mungkin akan menjadi pekerjaannya seumur hidup.~Sinopsis dari Goodreads~

~~~

Ketika pertama kali melihatnya di deretan buku baru, saya sungguh tak menyangka karya Meg Cabot ini bercerita tentang misteri pembunuhan. Dari judulnya, saya mengira buku ini akan berkisah tentang kehidupan seorang wanita yang bermasalah dengan berat badan. Sempat terbersit pertanyaan segemuk apa wanita yang berukuran 12, sebelum akhirnya mendapatkan jawabannya melalui mesin pencari.

Heather Wells, wanita yang menjadi karakter utama di buku ini. Butuh waktu untuk mengumpulkan keping demi keping yang berkaitan dengan dirinya dan menyusunnya menjadi sosok yang utuh. Dari perubahan postur tubuh karena kebiasaan makan yang tidak teratur dan rambutnya yang pirang. Sampai  akhirnya pilihan jatuh pada sosok Britney Spears. Sehingga tidak ada kesulitan untuk membayangkan masa lalu Heathers sebagai penyanyi pop yang menjadi idola banyak gadis remaja.

Banyak hal yang membuat saya menyukai Heather. Bukan hanya caranya menuturkan cerita yang kadang membuat saya tergelak, tetapi juga karena Heather adalah sosok wanita yang kuat. Ia tak pernah benar-benar peduli akan perkataan orang lain akan masa lalunya. Bahkan ketika mereka menjadikannya lelucon. Ia memang tak menyangkal, banyak bagian dari masa lalunya yang tidak menyenangkan, namun hal tersebut tidak serta merta membuatnya dendam. Bahkan di luar dugaan, ia memaafkan ibu kandung yang kabur meninggalkannya begitu saja dengan semua uang tabungan yang dihasilkannnya sebagai penyanyi. Meg Cabot memang tidak pernah gagal menciptakan dan membuat karakter utama yang menarik dan menjadinya benar-benar hidup. Selain Heather, saya juga menyukai Sarah dan Magda, yang menjadi rekan kerja Heather di New York College. Sangat disayangkan, tidak ada yang istimewa dari karakter Cooper ataupun Jordan.

Berbicara mengenai dua insiden yang terjadi di asrama, saya tak dapat menahan untuk tidak mengeryitkan alis. Sebagai penggemar serial CSI dan cerita detektif, saya merasa banyak hal aneh. Pertama, tidak ditutupnya lift yang menjadi tempat kejadian perkara. Semua penghuni asrama bisa kembali menggunakan lift begitu mayat disingkirkan. Padahal dua kecelakaan yang sama terjadi dalam waktu yang berdekatan. Kedua kasus yang membuat Heather khawatir ini juga sepertinya tidak mendapat porsi penyelidikan yang lebih dari pihak kepolisian. Kemungkinan besar wawancara mendalam juga tidak dilakukan terhadap orang-orang tertentu. Bahkan ketika tidak ditemukannya alasan kuat bagi kedua mahasiswi tersebut untuk melakukan bunuh diri, sama sekali tidak ada penetapan tersangka. Lebih anehnya lagi, tim investigasi sama sekali tidak memeriksa kamar dan barang-barang korban. Saya menjadi sangar gusar karenanya. Sepertinya hal-hal demikian luput dari riset Meg Cabot. Bahkan ketika ia bermaksud untuk menulis sebuah cerita misteri yang ringan dan sederhana sekalipun.

Terlepas dari semua hal ganjil di atas, saya tetap dibuat penasaran siapa yang menjadi dalang atas dua kejadian tragis tersebut. Ini juga yang menjadi alasan mengapa saya mampu melahap buku ini hingga halaman terakhir. Menjadi sangat menyenangkan ketika menemukan sang pelaku kejahatan tidak terdapat dalam daftar tersangka beserta motif yang saya buat.

Walau tidak begitu terkesan dengan buku ini, saya akan tetap membaca Size 14 is Not Fat Either. Saya ingin tahu apakah Heather berhasil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.

Cover
Sampul depan menjadi salah satu alasan mengapa saya membeli buku ini.


Size 12 is not Fat
Judul Indonesia: Ukuran 12 Tidak Gemuk
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Barokah Ruziati
Editor: Widi Lugina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 416 hlm